Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI MEDIS

PENGGUNAAN HEWAN COBA


Pelaksanaan

: Rabu. 11 Maret 2015

Asistensi

: Drs. H. Saikhu Akhmad Husen ,M.Kes.

Oleh
Kelompok

Andhi Baskoro

(081411731020)

Hana Zahra Aisyah

(081411733001)

Juliani Nurazizah Setiadiputri

(081411733004)

Maulana Muchammad

(081411733007)

Program Studi Teknobiomedik


Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Airlangga
2015

TUJUAN
Mempelajari dan memahami berbagai prinsp penanganan hewan coba terutama
pemberian perlakuan secara oral, sub cutan, intra peritoneal,dan intra muscular.
DASAR TEORI
Hewan coba adalah hewan yang dapat digunakan untuk tujuan suatu
penelitian, meliputi hewan laboratorium (hewan yang khusus dipelihara di lab.)
hingga ternak. Hewan lab dan ternak telah dipakai untuk berbagai penelitian
toksikologi, nutrisi, mikrobiologi, imunologi, vaksin dan produk khusus (misalnya
kosmetik, shampoo, pasta gigi dsb), serta bedah juga untuk pembelajaran pendidikan.
Hewan coba yang biasa dipakai untuk uji toksisitas suatu bahan aktif atau
bahan toksik adalah mencit (Mus musculus) tikus putih (Rattus norvegicus) ,maupun
kelinci ( Cavia cobaya). Peranan hewan model menjadi sangat bernilai untuk berbagai
riset biomedis, terutama bidang reproduksi dan embriologi, mengingat, hampir 4%
bayi yang lahir menderita berbagai malformasi kongenital dan 1% menderita defek
sistem kardiovaskuler (Moon, 2006)
1. Data Biologik Normal Mencit
- Konsumsi pakan per hari
- Konsumsi air minum per hari

5 g (umur 8 minggu)
6,7 ml (umur 8 minggu)

- Diet protein

20-25%

- Ekskresi urine per hari

0,5-1 ml

- lama hidup

1,5 tahun

- Bobot badan dewasa


-

Jantan

25-40 g

Betina

20-40 g

- Bobot lahir

1-1,5 g

- Dewasa kelamin (jantan=betina)


- Siklus estrus (menstruasi)

28-49 hari
4-5 hari (polyestrus)

- Umur sapih

21 hari

- Mulai makan pakan kering

10 hari

- Rasio kawin
- Jumlah kromosom
- Suhu rektal
- Laju respirasi

1 jantan 3 betina
40
37,5oC
163 x/mn

- Denyut jantung

310 840 x/mn

- Pengambilan darah maksimum

7,7 ml/Kg
8,7 10,5 X 106 / l

- Jumlah sel darah merah


(Erytrocyt)
- Kadar haemoglobin(Hb)

13,4 g/dl

- Pack Cell Volume (PCV)

44%

Jumlah

sel

darah

putih

8,4 X 103 /l

(Leucocyte)
2. Penanganan pada Mencit
Mencit dapat diangkat dengan menggenggam pangkal ekor di antara jari
telunjuk dan ibu jari atau dengan forsep berujung karet. Ini adalah teknik untuk
memindahkan tikus dari satu kandang yang lain. Untuk secara manual menahan
mencit , mencit pertama yang diangkat oleh pangkal ekor, maka kulit longgar di
leher / pundak daerah adalah seseorang ditangkap antara ibu jari dan jari telunjuk. Hal
ini akan lebih mudah dengan mengangkat mencit , yang memungkinkan mencit untuk
memahami sebuah kandang kawat atas atau permukaan lainnya dengan forelimb,
kemudian memegang kulit leher / harus daerah.
Dengan sedikit latihan, mencit dapat diangkat dan ditahan dengan teknik satu
tangan. Ketika tangan memegang, mencit harus terbalik sehingga berat mencit terletak
di telapak tangan. Di ujung ekor, mouse dikendalikan dengan menempatkan penangan
ekor antara keempat dan kelima jari. Memegang dan mengangkat mencit melalui ekor
selain di pangkalnya dapat mengakibatkan selip kulit dan jaringan subkutan, dan
kemudian nekrosis, infeksi, dan peluruhan dari kerangka ekor.
ALAT DAN BAHAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Mencit dewasa jantan atau betina


Spuit tuberculin 1 ml
Alcohol swap
Syringe dengan kanula
Syringe 2,5 ml
Larutan glukosa

PROSEDUR KERJA
1. Cara memegang mencit
Untuk memegang mencit yang akan diperlakukan (baik pemberian obat ) maka
diperlukan cara-cara yang khusus sehingga mempermudah cara perlakuannya. Secara
alamiah

mencit

cenderung

menggigit

bila

mendapat

sedikit

perlakuan

kasar.Pengambilan mencit dari kandang dilakukan dengan mengambil ekornya


kemudian mencit ditaruh pada kawat kasa dan ekornya sedikit ditarik. Cubit kulit
bagian belakang kepala dan jepit ekornya (Lihat gambar 1)

Gambar 1. Cara menghandel mencit untuk pemberian obat baik injeksi


maupun peroral
2. Perlakuan Per oral
Perlakuan per-oral dilakukan dengan memasukkan cairan ke dalam mulut hewan
coba. Perlakuan per oral ini di indikasikan berhasil jika air yang dimasukkan dalam
mencit dapat masuk tepat ke kerongkongan.
3. Perlakuan Intra Peritonial
Perlakuan intra peritoneal, hewan coba diinjeksi pada bagian rongga perut bagian
bawah dengan membentuk sudut 30- 40.
4. Perlakuan Intra Muscular
Perlakuan intramuscular merupakan suatu perlakuan menginjeksi mencit pada bagian
otot dengan sudut sekitar 90.
5. Perlakuan Subcutan
Perlakuan subcutan merupakan injeksi dengan menggunakan jarum suntik ke dalam
bagian sejajar bawah kulit (membentuk 0) dari hewan coba.
PEMBAHASAN
Mencit (Mus musculus) adalah anggota Muridae (tikus-tikusan) yang berukuran kecil.
Pada praktikum ini kami menggunakan mencit sebagai hewan coba. Tujuan dari praktikum

ini adalah mempelajari dan memahami berbagai prinsip penanganan hewan coba terutama
pemberian perlakuan secara oral, sub cutan, dan intra muscular.
Pemberian perlakuan pada hewan coba dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain
cara memegang, per oral, per inhalasi, intra vena, intra peritoneal, intra dermal, pengambilan
sampel darah, sub cutan, serta intra muscular. Namun, pada praktikum ini, hanya melakukan
5 perlakuan, yaitu cara memegang mencit, perlakuan per oral, perlakuan intra peritoneal, intra
muscular, dan subcutan.
Praktikum ini diawali dengan melakukan perlakuan pada cara bagaimana memegang
hewan coba (mencit) dengan benar. Mencit diangkat dengan menggenggam pangkal ekor di
antara jari telunjuk dan ibu jari atau dengan forsep berujung karet. Ini adalah teknik untuk
memindahkan tikus dari satu kandang yang lain. Untuk menahan mencit secara manual,
mencit pertama yang diangkat oleh pangkal ekor, maka kulit longgar di leher/pundak daerah
adalah seseorang ditangkap antara ibu jari dan jari telunjuk. Hal ini akan lebih mudah dengan
mengangkat mouse, yang memungkinkan mencit untuk memahami sebuah kandang kawat
atas atau permukaan lainnya dengan forelimb, kemudian memegang kulit leher.
Perlakuan kedua secara per-oral yaitu perlakuan menginjeksikan glukosa pada mulut
hewan coba. Pertama yang harus dilakukan adalah memegang mencit dengan benar kemudian
memasukkan Syringe dengan kanula berisi glukosa ke dalam mulut mencit hingga mencapai
kerongkongan mencit. Pada leher mencit ada dua saluran yaitu kerogkongan dan
tenggorokan. Bagian depan tenggorokan dan bagian belakangnya adalah kerongkongan,
untuk itu pada praktikum ini memasukkan kanula di bagian belakang leher mencit. Namun,
pemberian air ini tidak boleh terlalu berlebih, cukup 0,1 mL tiap perlakuan karena volume air
maksimal yang dapat ditampung lambung mencit adalah 0,5 mL. Perlakuan per oral ini di
indikasikan berhasil jika air yang dimasukkan dalam mencit dapat masuk tepat ke
kerongkongan, jika masuknya air tidak tepat (masuk ke tenggorokan) maka mencit dapat
mengalami kematian karena air yang di masukkan langsung masuk ke paru-paru, dengan
begitu otomatis mencit tidak akan dapat bernafas dan mati.
Perlakuan ketiga intra peritoneal yaitu perlakuan penginjeksian pada rongga perut
bagian bawah hewan coba dengan sudut antara 30 hingga 45. Pertama yang dilakukan
adalah memegang mencit dengan benar kemudian menyiapkan syringe dengan isi infuse.
Syringe kemudian ditusukkan dengan cara diangkatnya bagian kulit rongga perut dengan
mencubitnya, kemudian menusukkan syringe ke bawah kulit membentuk sudut 30 - 45.
Namun sesudah masuk dalam kulit, syringe agak di tegangkan sehingga menembus lapisan
masuk ke dalam daerah peritoneum ( suatu membrana serosa yang tipis, halus). Untuk
melakukan injeksi ini, diperlukan dua orang praktikan, dimana salah satu memegang mencit
dan praktikan lainnya melakukan injeksi.

Perlakuan keempat intra muscular yaitu penginjeksian pada bagian otot hewan coba
khususnya bagian posterior lateral dengan cara penginjeksian sudut 90. Injeksi zat melalui
otot, dilakukan menggunakan Syringe 2,5-3 ml. Pada perlakuan ini dibutuhkan 2 orang
praktikan, praktikan pertama bertugas untuk memegang mencit sehingga posisinya stabil dan
praktikan kedua yang bertugas untuk menyuntikkan cairan infus kedalam otot mencit dengan
syringe. Pada langkah pertama praktikan kesatu melakukan cara memegang mencit yang
benar seperti pada langkah di atas sehingga mencit tidak dapat menggerakkan kepalanya ke
kanan atau kiri. Setelah itu, praktikan kedua menyiapkan syringe yang telah diisi dengan
cairan infus sebanyak 0,1 mL. Kemudian, kami mencari bagian tubuh mencit yang
mengandung otot, biasanya dilakukan pada paha atau pantat mencit, namun dalam hal ini
kami memilih bagian paha. Langkah terakhir, kami menyuntikkan cairan tersebut ke dalam
otot paha mencit. Pada perlakuan ini, penyuntikan jangan terlalu dalam sampai menyentuh
bagian tulang paha. Injeksi ini harus dilakukan secara hati-hati, karena dapat melukai mencit
dan megakibatkan edema ( pembengkakan jaringan akibat kelebihan cairan).
Perlakuan subcutan yaitu penginjeksian dengan menggunakan jarum suntik ke dalam
bagian sejajar bawah kulit (membentuk 0) dari hewan coba. Hal ini dilakukan agar zat yang
diinjeksi lebih mempengaruhi daerah bawah kulit. Perlakuan ini juga membutuhkan dua
orang praktikan, dimana salah satu memegang mencit dan praktikan yang lainnya melakukan
injeksi. Langkah pertama yang dilakukan ialah menyiapkan syringe, lalu syringe tersebut di
isi dengan cairan infus. Langkah selanjutnya yaitu melakukan cara pemegangan mencit yang
benar seperti langkah di atas hingga mencit tidak dapat menggerak-gerakkan kepalanya.
Kemudian, mengangkat bagian kulit dengan mencubitnya, kemudian menusukkan jarum
suntik ke bawah kulit, paralel dengan otot di bawahnya. Pemilihan lokasi penyuntikan tidak
dibatasi

KESIMPULAN

Perlakuan pada hewan coba dalam hal ini mencit, kita harus mengetahui cara
memegang mencit dengan benar yaitu mencit yang kita pegang sudah tidak dapat

menoleh.
Perlakuan per-oral dilakukan dengan memasukkan cairan ke dalam mulut hewan
coba. Perlakuan per oral ini di indikasikan berhasil jika air yang dimasukkan dalam

mencit dapat masuk tepat ke kerongkongan.


Perlakuan intramuscular merupakan suatu perlakuan menginjeksi mencit pada bagian

otot dengan sudut sekitar 90.


Perlakuan intra peritoneal, hewan coba diinjeksi pada bagian rongga perut bagian

bawah dengan membentuk sudut 30- 40.


Perlakuan subcutan merupakan injeksi dengan menggunakan jarum suntik ke dalam
bagian sejajar bawah kulit (membentuk 0) dari hewan coba.

DAFTAR PUSTAKA
-

Husen, Saikhu Akhmad ; Winarni Dwi : Hayati A. 2014. Petunjuk Praktikum Biologi

Medis. Departemen Fisika Fakultas Sains dan Teknologi, Surabaya


Campbell NA, Reece JB, Mitchell, and Taylor MR. 2008. Biologi. 8 th Ed. , Addison
Wesley World Student Series, San Fransisco