Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA I

PERCOBAAN VIII
PENENTUAN KEKUATAN IKATAN HIDROGEN

DISUSUN OLEH :
NAMA

STAMBUK

MUHAMMAD RISDIANTO
:

KELOMPOK

NAMA ASISTEN

F1C1 14 083

VII (TUJUH)
:

SYARFINA

JURURSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2015
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ikatan hidrogen adalah sejenis gaya tarik antar molekul yang terjadi antara
dua muatan listrik parsial dengan polaritas yang berlawanan walaupun lebih kuat
dari kebanyakan gaya antar molekul. Ikatan hidrogen jauh lebih lemah dari ikatan
kovalen dan ikatan ion. Dalam makro molekul seperti protein dan asam nukleat.
Ikatan ini dapat terjadi antara dua bagian dari molekul yang sama dan berperan
sebagai penentu bentuk molekul keseluruhan.
Ikatan hidrogen terjadi ketika sebuah molekul memiliki atom N, O atau F
yang mempunyai pasangan elektron bebas (lone pair electron). Hidrogen dari
molekul lain akan berinteraksi dengan pasangan elektron bebas ini membentuk
suatu ikatan hidrogen dengan besar ikatan bervariasi, nilai dari yang lemah (1-2
kJ/mol) hingga tinggi (7155 kJ/mol). Kekuatan ikatan hidrogen ini dipengaruhi
oleh perbedaan keelektronegativitas antara atom-atom dalam molekul tersebut.
Semakin besar perbedaannya, semakin besar ikatan hidrogen yang terbentuk.
Ikatan hidrogen mempengaruhi titik didih suatu senyawa.
Oleh karena itu praktikum ini dilakukan agar praktikan dapat mengetahui
besar ikatan hidrogen yang terjadi pada reaksi dengan menggunakan kalorimeter.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada praktikum ini adalah :
1. Bagaimana cara mengetahui bahwa ikatan hidrogen lebih kecil dari ikatan
kovalen ?
2. Bagaimana cara mengukur kekuatan ikatan yang terjadi dari suatu reaksi ?

C. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah :
1. Untuk memperlihatkan bahwa ikatan hidrogen lebih kecil daripada ikatan
kovalen.
2. Untuk memperlihatkan bahwa ikatan yang terjadi dari suatu reaksi dapat diukur
kekuatannya.
D. Manfaat
Manfaat yang diperoleh setelah mengikuti praktikum ini adalah :
1. dapat mengetahui bahwa ikatan hidrogen lebih kecil dari pada ikatan kovalen.
2. Dapat mengetahui bahwa ikatan yang terjadi dari suatu reaksi dapat diukur
kekuatannya.

II. TINJAUAN PUSTAKA


Adanya ikatan hidrogen pada penggunaan pelarut air mengakibatkan
kelarutan molekul non polar rendah. Pernyataan ini didukung oleh sifat senyawa
fitosterol (stigmasterol) yang tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut
organik dan sebagian besar pelarut yang memiliki satu gugus fungsi alkohol
(Kanimozhi.D et al, 2012).
Derajat asosiasi molekul meningkat dengan turunnya temperatur.
Perbedaan gaya-gaya tarik antara molekul-molekul zat murni dicerminkan oleh
titik leleh dan titik didih zat-zat ini. Pada umumnya, gaya tarik yang kuat dan
ukuran

molekul

meningkat

denganturunnya

teperatur,

keduanya

akan

menyebabkan titik leleh dan titik didih yang tinggi. Molekul non polar saling tarik
menarik oleh dipole imbas sekejap atau gaya london. Molekul gas mulia
mempunyai distribusi elektron bulan sederhana, yang mengembang dan saling
menarik dengan lebih kuat akibatnya titik didih tinggi. Titik didih Yang tinggi
disebabkan oleh ikatan hidrogen yang kuat antara molekul-molekulnya (Keenan,
1984).
Energi disosiasi ikatan hidrogen hanya 5-10 kkal/mol, jauh lebih rendah
daripada energi disosiasi ikatan dari ikatan kovalen yang khas (80-100 kkal/mol),
tetapi jelas lebih kuat daripada kebanyakan tarikan dipol-dipol. Alasan untuk
perbedaan ini adalah ukuran atom yang bersangkutan. Atom hidrogen adalah kecil
dibandingkan terhadap atom lain dan dapat menempati suatu kedudukan yang
sanagat dekat dari elektron menyendiridari atom elektronegatif. Hasilnya ialah
suatu tarikan elektrostatik yang kuat. Atom yang lebih besar daripada hidrogen tak
dapat menempatikedudukan yang demikian dekatnya terhadap yang lain,
akibatnya tarikan dipol-dipol antara atom yang lain lebih lemah.(Fessenden, 1986)
Perubahan massa kain katun dikarenakan adanya sejumlah zat warna yang
diserap atau diadsorpsi oleh kain katun sehingga terjadi peningkatan massa kain
katun. Proses adsorpsi yang terjadi kemungkinan karena gugus OHdari selulosa
yang terdapat dalam serat kain katun mampu membentuk ikatan hidrogen dengan
gugus OHdari zat warna. Berdasarkan literatur ikatan hidrogen yang terbentuk
bersifat lemah dan mudah putus. Ikatan yang lemah dan mudah putus
menunjukkan bahwa ikatan tersebut terbentuk secara fisika (Thomas, 2013).
Chitosan sangat berpotensi untuk dijadikan sebagai bahan pengawet makanan,

karena chitosan memiliki polikation bermuatan positif sehingga dapat


menghambat pertumbuhan mikroba dan mampu berikatan dengan senyawasenyawa yang bermuatan negatif seperti protein, polisakarida, asam nukleat,
logam berat dan lain-lain. Selain itu, molekul chitosan memiliki gugus N yang
mampu membentuk senyawa amino yang merupakan komponen pembentukan
protein dan memiliki atom H pada gugus amina yang memudahkan chitosan
berinteraksi dengan air melalui ikatan hidrogen (Crhisnawati, 2013)
III. METODOLOGI PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Praktikum Kimia Fisika ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 10
Oktober

2015

Pukul

13.00-15.10

WITA

dan

bertempat

di

Laboratorium Riset Terpadu, Fakultas Matematika dan Ilmu


Pengetahuan Alam, Universitas Halu Oleo, Kendari.
B. Alat dan Bahan
1. Alat
Alat

yang

digunakan

pada

praktikum

ini

adalah

kalorimeter, thermometer, gelas ukur 25 mL, statif, klem, batang


pengaduk, stopwatch, & pipet tetes.
2. Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah Aseton
(CH3COCH3), kloroform (CHCl3), Aluminium foil,
C. Prosedur Kerja

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil Pengamatan
1. Gambar Rangkaian Alat

2. Tabel Pengamatan
a. Aseton dalam Kalorimeter
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Waktu ( Detik )
30
60
90
120
150
180
210
240

Suhu ( 0C )
28
29
29
29
29
29
29
29

b. Campuran Kloroform + Aseton dalam kalorimeter ( Suhu 290C )


No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Waktu ( Detik )
30
60
90
120
150
180
210
240

3. Analisis Data
1. Penentuan mol aseton (CH3COCH3)
Diketahui : Vaseton = 20 mL

Suhu ( 0C )
36
34
34
36
34
34
34
34

Paseton = 0,79 gr/ml


Mraseton = 58,1 gr/mol
Ditanyakan : Molaseton =......?
Penyelesaian :
Massa = P x V
= 0.79 gr/ml . 20 ml
= 15,28 gr
naseton

= g/Mr
=

15,28 gr
58,1 gr/mol

= 0,272 mol
2. Penentuan mol kloroform (CHCl3)
Diketahui : Vkloroform = 21, 8 mL
pkloroform = 1,49 gr/ml
Mrkoroform = 119,4 gr/ml
Ditanyakan : molkloroform = .....?
Penyelesaian : Massa = P x V
= 1,49 gr/ml . 21,8 mL
= 32,482 gr
Nkloroform = g/Mr
= 32,482 gr
119,4 gr/mol
= 0,272 mol
3. Penentuan panas yang diterima aseton (CH3COCH3)

Diketahui : maseton = 15,8 gr


Caseton = 2,22 J g-1K-1
T = 290C 280C
= 10C
= 274 K
Ditanyakan : Qaseton = ....?
Penyelesaian : Qaseton = - (m.C. T)
= - (15,8 gr . 2,22 J g-1K-1 . 274 K
= - 9610.824 J
4. penentuan panas yang diserap kloroform (CHCl3)
Diketahui :

mkloroform = 15,8 gr
Ckloroform = 2,22 J g-1. K-1
T = 360C 290C
= 60CB. Pembahasan

Ikatan hidrogen adalah sejenis gaya tarik menarik molekul yang terjadi
antara dua muatan listrik parsial dengan polaritas yang berlawanan. Walaupun
lebih kuat dari kebanyakan gaya antar molekul, ikatan hidrogen jauh lebih lemah
dari ikatan kovalen dan ikatan ion. Ikatan hidrrogen terjadi ketika sebuah molekul
memiliki atom N, O, dan F yang mempunyai pasangan elektron bebas (lone pair
elektron). Hidrogen dari molekul lain akan berinteraksi dengan pasangan elektron
bebas ini membentuk suatu ikatan hidrogen dengan besar ikatan bervariasi.
Percobaan menggunakan larutan kloroform 21,8 mL dan 20 mL aseton.
Hal ini dikarnakan pada volume tersebut kedua larutan memiliki jumlah mol yang
sama, yaitu 0,27 mol, sehingga semua larutan dapat bereaksi sempurna dan
didapat suhu maksimum. Namun apabila digunakan 20 ml kloroform maka
jumlah mol kloroform akan lebih kecil dari aseton dan akan terbentuk pereaksi
sisa dan suhu yang didapat kurang maksimum. Percobaan yang dilakukan ini
membutuhkan reaksi kedua zat tersebut dalam jumlah yang sama molnya karena

didasarkan pada perbandingan koefisien reaksinya yaitu 1:1. Disebabkan karena H


dan O memiliki elektronegativan yang lebih besar dibandingkan selisih
keelektronegatifan Cl dan O. Pertama-tama aseton dimasukkan ke dalam
kalorimeter yang sebelumnya telah diukur suhunya sebesar 30C. Di dalam
kalorimeter suhu nya kemudian diukur setiap 30 detik selama 4 menit dan tidak
lupa selalu diaduk. Pada menit ke 4 ini dimasukkan kloroform yang suhu awalnya
28C. Selanjutnya suhu juga diukur setiap 30 detik sampai 8 menit. Setelah reaksi
selesai didapatkan larutan campuran berubah menjadi keruh. Kemudian dari data
yang didapat dimasukkan ke dalam grafik antara suhu dan waktu sehingga
didapatkan suhu maksimum dari reaksi adalah 31C.
Dilakukan perhitungan dari datan yang diperoleh sehingga didapatkan hasil bahwa
Q aseton = -61,38 J dan Q kloroform = 89,65 J serta Q kalorimeter sebesar 151,03
J. Dari jumlah ketiganya didapatkan Q total sebesar 179,3 J. Jadi untuk
mendapatkan besar ikatan hidrogen tiap molnya, maka Q total dibagi dengan
jumlah mol dan didapat H = 664,07 J/mol.
V. KESIMPULAN

Pada percobaan didapat Q kloroform = 89,65 J, Q aseton = -61,38 J dan Q


kalorimeter = 151,03 J. Sehingga didapat Qtotal sebesar 179,3 J tiap 0,027
mol, maka H tiap 1 mol sebesar 664,074 J/mol.
Dari percobaan dapat diketahui suhu maksimum pada reaksi antara aseton
dan kloroform adalah sebesar 31C.
Tetapan kalorimeter adalah sebesar 172,606 J/0C.

DAFTAR PUSTAKA
Fessenden, Ralph J. 1997. Kimia Organik Jilid 1Edisi ketiga. Jakarta: Erlangga.
Kanimozhi, D. and V.Ratha Bai. 2012. Evaluation of Phytochemical Antioxidant
Antimicrobial Activity Determination of Bioactive Components of
Ethanolic Extract of Aerial And Underground Parts of Cynodon
dactylon L. International Journal of Scientific Research and Reviews.
1(2)
Keenan, C W. 1984. Kimia untuk Universitas Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Thomas, Mariance, Manuntun Manurung, and I. A. Raka Astiti Asih. 2013.
"PEMANFAATAN ZAT WARNA ALAM DARI EKSTRAK KULIT

AKAR MENGKUDU (Morinda citrifolia Linn) PADA KAIN


KATUN." Journal of Chemistry. 7(2).
Vega, Crhisnawati, et al. 2013. "REKAYASA CHITOSAN SEBAGAI
PENGAWET DAN MENINGKATKAN KADAR PROTEIN DALAM
TAHU TECHNOLOGI ENGINEERING CHITOSAN AS A
PRESERVATIVE AND ELEVATED LEVELS OF A PROTEIN ON
TOFU." Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan. 5(2).