Anda di halaman 1dari 3

Pendekatan-pendekatan di dalam ilmu politik

Pendekatan Tradisional (Traditional Approaches)


Pendekatan sejarah (Historical Approach)
Pendekatan sejarah mengkhususkan mengkaji politik pada waktu yang
telah ditentukan serta urutan kejadian dalam kurun waktu tertentu. Frederic
Pollock mendefinisikan sebagai: (what institutions are, and are tending to be,
more in the knowledge of what they have been and how they came to be, what
they are than in the analysis of them as they stand).
Pendekatan sejarah percaya bahwa teori politik muncul sebagai hasil dari
krisis sosial-ekonomi dan dampak dari orang-orang yang berpengaruh. Sebagai
contoh, kondisi sosial ekonomi yang terjadi di Yunani menghasilkan teori dari
Aristoteles dan Plato, sementara kondisi Inggris di abad ke-17 menghasilkan teori
oleh Locke dan Hobbes.
Ahli politik dari Italia, Machiavelli menjadikan sejarah sebagai contoh
pengagungan catatan-catatan bangsa Romawi sehingga mendorong rakyatnya
mengembalikan kembali kejayaannya. Pada abad ke-19, ilmu politik menjadi
cabang ilmu terpisah dan sejak ahli politik tradisional telah menganggap sejarah
sebagai sumber dari pengembangan analisis politik. Politik dianggap sebagai
sejarah saat ini dan pendekatan ini jelas menjadi terkenal di abad ke-19.
Pendekatan legal/institusional (Legal/Institutional Approach)
Pendekatan legal/institusional adalah pendekatan di dalam ilmu politik
yang berkembang pada abad ke-19 sebelum masa Perang Dunia II. Pendekatan ini
juga biasa disebut pendekatan normatif (normative approach).
Dalam pendekatan legal/institusional, peneliti ingin meneliti tidak hanya
bagaimana kebijakan, proses dan lembaga-lembaga bekerja, tetapi juga meneliti
sejauh mana hal-hal tersebut berjalan berdasarkan pada moral dan aturan yang
sudah ditetapkan. Mereka meneliti politik dari sudut pandang nilai dan
kepentingan yang ada pada susunan sosial, politik dan ekonomi.

Yang menjadi fokus dalam pendekatan ini adalah negara, terutama segi
konstitusional dan yuridisnya. Bahasan tradisional menyangkut antara lain sifat
undang-undang dasar, masalah kedaulatan, kedudukan dan kekuasaan formal serta
yuridis dari lembaga-lembaga kenegaraan negara. Seandainya kita meneliti
menggunakan pendekatan ini, hal acuan yang utama digunakan adalah naskahnaskah resmi (undang-undang dasar, undang-undang atau peraturan tertulis).
Kriteria yang digunakan untuk membuat sebuah keputusan ditentukan oleh
banyak hal, seperti filosofi negara, logika formal, konstitusi negara, undangundang, kasus pengadilan dan pendapat ahli. Dengan kata lain, pemilihan topik
riset dan metodenya sering berasal dari apa yang peneliti pikir sebagai aspek yang
paling penting.
Pendekatan legal/institusional adalah pendekatan yang bersifat normatif
dengan mengasumsikan norma-norma demokrasi barat., karena antara fakta
(sesuatu yang dapat dibuktikan melalui pengalaman atau pengamatan) kurang
dibedakan dengan norma (ideal atau standar yang harus menjadi pedoman untuk
perilaku). Hubungan antara nilai dan fakta, mahasiswa ilmu poilitik dihadapkan
pada pertanyaan: apakah fakta dan nilai berlawanan (bertolak belakang)? Atau
apakah nilai-nilai selalu memengaruhi cara pandang peneliti melihat kepada
fakta? Jika tidak, bagaimana peneliti memutuskan apa yang akan diteliti?.
Kenyataannya, tidaklah mudah untuk membedakan antara fakta dan
nilai/norma. Apalagi dalam politik, nilai adalah fakta. Kita membawa semua nilainilai pada apapun yang kita lakukan, beberapa fakta mungkin bertolak belakang.
Pada waktu yang sama, bagaimanapun, kita tidak akan mendapatkan kebenaran
jika kita gagal memosisikan nilai yang tinggi kepada fakta. Seperti yang sudah
dijelasjan sekarang, positifisme tidak bisa dituduh merendahkan fakta..
Perkembangan pendekatan normatif muncul di Amerika Serikat pada
pertengahan dawarsa 1930-an. Para sarjana politik di sana pada waktu itu
mengemukakan pandangan yang lebih melihat politik sebagai kegiatan atau
proses, dan negara sebagai sarana perebutan kekuasaan antara berbagai kelompok
dalam masyarakat (tidak lagi hanya sebagai objek pokok). Sarjana-sarjana dari
Mazhab Chicagu antara lain Charles E. Merriam (Political Power: Its

Composition and Incidence) dan Harold D. Laswell (Politics: Who Gets What,
When, How) berpendapat esensi dari politik adalah kekuasaan, tertama kekuasaan
untuk menentukan kebijakan publik. Berbeda dengan pendekatan normatif murni
yang melihat objek politik adalah negara, penganut Mahzab Chicago melihat
bahwa politik itu adalah tentang perebutan kekuasaan (Harold D. Laswell,
Politics : Who Gets What, When, How). Pemikiran seperti ini yang sedikit
banyaknya telah memperlunak kekauan pendekatan tradisional selama ini,
meskipun harus diakui bahwa nuansa baru ini baru terjadi di benua Amerika saja.
Di Amerika, perkembangan ilmu politik dengan gerakan sarjanasarjananya lebih mudah diterima dan berkembang. Kedatangan bangsa Eropa ke
Amerika yang menjadikan ilmu politik lebih berkembang, karena mejadikan para
sarjana lebih terbuka untuk mengembangkan suatu visi yang tidak hanya
membatasi diri pada penelitian lembaga-lembaga formal, melainkan juga
mencakup proses-proses yang terjadi dalam politik praktis.
Akan tetapi, penelitian menguasai kekuasaan dalam praktisnya sangat sulit
dilaksanakan dan kurang dapat berkembang pada waktu itu. Sekalipun demikian,
para sarjana sudah memiliki pemikiran baru bahwa objek pokok kajian politik
tidak hanya negara serta pandangan untuk memusatkan perhatian pada kekuasaan
membuka jalan timbulnya pendekatan lain yang lebih bersifat fungsional dan
pendekatan ini cenderung mendesak konsep kekuasaan dari kedudukan sebagai
satu-satunya faktor penentu, sehingga menjadi hanya salah satu dari sekian
banyaak faktor dalam proses pembuatan dan melaksanakan keputusan.

Sumber
1. Budiardjo, Miriam. 2013. Dasar-Dasar Ilmu Politik. PT Gramedia Pustaka
Utama: Jakarta
2. Magstadt, Thomas M. 2009. Understanding Politics Eight Edition: Ideas,
Institutions and Issues. Cengage Learning: Canada
3. Dogra, Sujata. Approaches to the Study of Political Theory.