Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang Masalah


Saat
ini,
banyak

sekali

orientalis-orientalis

yang

bermunculan dengan berbagai macam tujuan. Ada yang memiliki


tujuan untuk mendalami dunia Islam oleh karena rasa keingin
tahuannya, terdapat pula yang bertujuan untuk memenuhi
khasanah keilmuan dalam bidang keagamaan bahkan ada pula
yang berniat untuk mengetahui seluk beluk Islam guna mencari
kelemahan dan cara untuk melemahkan Islam. Sehingga Islam di
mata orang-orang Barat masih simpang siur.
Seiring dengan semakin banyaknya orientalis yang mengkaji
tentang keislaman dan ketimuran, tidak dapat disangkal bahwa
pemikiran yang berkembang juga merambah ke dunia islam.
Banyak intelektual-sarjana muslim yang mulai tergugah untuk
mengkaji lebih jauh tentang pemikiran mereka. Sebagian mereka
memiliki tujuan untuk mengkaji dan mengkritisi pemikiran
orientalis dan sebagian yang lain ada yang terjebak dalam
lingkar kerja (doktrin) mereka. Diantara para peneliti-intelektual
muslim yang ikut menggeluti pemikiran orientalis yang menurut
sebagian orang terpengaruh dengan para orientalis tersebut
adalah Prof. Dr. Ahmad Amin.
Tulisan ini berusaha mengulas pemikiran baru Prof. Dr.
Ahmad Amin (selanjutnya disebut Amin) tentang studi-kajian
hadis melalui kitabnya fajrul islam dan dhuha al islam. Kedua
kitab tersebut menjadi salah satu daya tarik tulisan ini, karena di
samping kandungannya yang begitu mempesona pembaca.
Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui hal-hal apa saja yang
dianggap oleh Amin sebagai suatu kelemahan metodologis
dalam penelitian hadits yang dilakukan oleh para muhadditsin,

dan bagaimana respon para ulama dalam menolak pendapat


Amin tersebut.

B.

Rumusan Masalah
1. Bagaimana Biografi Ahmad Amin ?
2. Apa saja karya-karya Ahmad Amin ?
3. Bagaimana peran Ahmad Amin dalam menulis hadits ?
4. Bagaimana isi dari kitab Dhuha al-Islam ?

BAB II
PEMBAHASAN
A. Biografi Ahmad Amin
Ahmad Amin merupakan seorang ahli sejarah kontemporer
Mesir.

Ia

juga

salah

seorang

pemimpin

(leader)

gerakan

pencerahan Islam (the leaders of the Islamic enlightenment


movement). Mengenai sejarah asalnya, ia lahir di

Kairo

seorang putra dari Syeh Al-Azhar. Ia menerima pendidikan dasar


di kuttab kiemudian masuk Universitas Al-Azhar kairo Mesir
dalam bidang hukum1, ia juga pernah menimba ilmu sastra
Inggris di salah satu universitas di Inggris2. Ia kemudian menjadi
guru, hakim, professor ;universitas dan menjadi dekan faculty of
literature di universitas Kairo. Ia juga diangkat menjadi consultan
cultural (budaya) untuk mentri pendidikan. Dan pada tahun 1946
ia diangkat menjadi manager departemen cultural dari Liga
Arab3.
Bukti bahwa ia seorang penulis dan kademisi yang terkenal,
Ia menulis 8 volume buku dan sekitar 600 artikel, dalam sejarah
peradaban islam. Dan artikel-artikelnya dipublikasikan kembali
1 John Cooper, dkk, Pemikiran Islam dari Sayyid Ahmad Khan Hingga
Hmid Abu Zayd. (Bandung: Erlangga ) Hlm.78
2 David Sagiv, Fundamentalist and Intellectuals in Egypt 1973-1993
(London: 1995) Hlm. 70.
3 John Cooper, dkk, Pemikiran Islam dari Sayyid Ahmad Khan Hingga
Hmid Abu Zayd. Hlm.78.

dalam 10 volume, yang berjudul Fayd al-Khatir atau dalam


Zuamma al Ishlah fi al Asr al Hadits.
Seorang penulis dan peneliti, ia lahir dari seorang sarjana
dari Universitas Al Azhar, Mesir. Ayahnya membawanya melewati
koridor Al-Azhar, di mana ia memakai sorban yang ditandai dia
untuk

seperempat

abad.

Dia

terpilih

untuk

mengajar

di

Alexandria. Di sana ia bertemu Abdul-Hakeem Mohammed yang


membuatnya cakrawala baru dalam kehidupan dan budaya. Dia
kembali ke Kairo untuk mengajar di sekolah dasar dan tinggal di
sana selama lima belas tahun mengajar studi Islam, hukum,
filsafat dan lain disiplin ilmu pengetahuan modern. Interaksi
dengan Atif Barakat, membuatnya lebih suka menggunakan
metode analisis dalam agama bahkan ketika dihadapkan dengan
data historis menyangkal itu. Keterlibatan baru ini membuatnya
menyadari kebutuhan untuk mempelajari bahasa Barat. Dua
wanita Inggris senang hati membantu ini bertobat menjanjikan
baru

untuk

Orientalisme.

Kemudian,

ia

masuk

ke

dalam

hubungan dengan orang-orang seperti Taha Hussein, Ahmad AlZayyat, Mustafa `Abd al Raziq dan lain-lain. Mereka meluncurkan
Al-Sufur. Dia adalah editor terkemuka Al-Risalah dan 'Budaya'.
Kegiatan jurnalistik ini membuka pintu baru bagi Ahmad
Amin, sehingga memungkinkan dia untuk menghasilkan sastra,
intelektual dan sosial artikel yang, dalam waktu, membentuk
sebuah buku sepuluh volume besar bernama Fayd al-Khaatir.
Buku

ini

menggambarkan

petualangan

pribadi

cinta

yang

disambut tepuk tangan meriah dari banyak penulis kontemporer,


dan dengan demikian memberinya ketenaran belum pernah
terjadi sebelumnya antara kaum liberal. Selama hari-hari, ia
diangkat sebagai hakim. Dia menulis sebuah buku, Kamus Tradisi
Mesir dan Konvensi. Taha Hussein, mengundangnya untuk

mengajar di universitas, di mana ia dipromosikan sampai ia


menjadi kepala College Arts di Universitas Kairo.
Lingkungan

kerja

universitas

memfasilitasi

pencapaian

proyek terbesarnya, yaitu Evolusi peradaban Islam di Generasi


yang berbeda. Dia, Taha Hussein, dan Al-`Abadi setuju untuk
memproduksi sebuah karya baru bersama-sama. Hasilnya adalah
Fajr al-Islam, Dhur al-Islam, dan Yawm al-Islam, yang datang di
sembilan volume, dan yang terutama dilakukan oleh Ahmad
Amin sebagai dua rekannya hampir tidak memberikan kontribusi
apa-apa. Dalam gaya klasifikasi, penamaan dan pengaturan bab
dan analisis, Ahmed Amin sangat dipengaruhi oleh orientalis. Dia
menepis artikel kritis Zaki Mubarak, yaitu Ahmad Ameen
Kejahatan Terhadap Sastra, untuk distorsi yang dia buat dalam
analisisnya. Ahmed Amin juga menargetkan Hijab dan Hadis, Abu
Hurairah, pada pola guru Oriental, sementara, seperti mereka, ia
mengabaikan teks-teks Islam yang jelas. Dia tidak memiliki
kesulitan dalam mengumumkan bahwa ia memiliki kualifikasi
Mujitahideen dari masa lalu dan kini. Dia juga membuat ejekan
dari beberapa ayat Al-Qur'an.
Dia layak untuk dikreditkan untuk banyak pergerakan dalam
amoralitas yang mengikuti tulisan-tulisan anti-Islam di mana ia
memainkan peran utama dalam bagian utara dunia Arab, yang
tidak pernah cukup pulih dari penurunan besar. Ini terlepas dari
kebangkitan Islam di kalangan sebagian kecil dari umat Islam.
Dalam retrospeksi, bagaimanapun, dapat dilihat bahwa hal-hal
berubah banyak setelah pengaruh Ikhwan ul-Muslimoon4.
B. Peran Ahmad Amin
4 John Cooper, dkk, Pemikiran Islam dari Sayyid Ahmad Khan Hingga
Hmid Abu Zayd. Hlm.80-84.

Ahmad Amin penulis serial fajr, Duha, Dzuhr, al Islam,


dianggap sebagai seorang penulis peradaban Islam terbaik yang
dimiliki dunia Arab di Abad ke-20 M. selain sangat detil juga
deskripsinya sangat mengagumkan, pembaca seolah diajak
untuk merasakan keagungan peradaban Islam sejak lahir hingga
masa matangnya5.
Ia sangat menyayangkan penghancuran paham Mutazilah
pada

zaman

Abbasiyah,

di

era

Mutawakil,

seperti

yang

diungkapkan dalam buku Dhuha Al-Islam. Menurutnya bahwa


penghancuran

mutazilah

di

zaman

Mutawakil

merupakan

malapetaka terbesar yang pernah dialami umat Islam, itulah


suatu maksiat yang dilakukan oleh Islam melawan Islam sendiri.
C. Karya-karya Ahmad Amin
Sebagai seorang penulis dan pemikir yang ahli di bidangnya,
ia

banyak

menghasilkan

karya-karya

dalam

bidang

kesejarahan, lebih dari dua puluh buah karya yang pernah ia


hasilkan.6 Diantara karya-karya itu adalah
1. Fajr al Islam

Kitab Fajr al Islam merupakan kitab yang di dalamnya


membahas mengenai kesejarahan islam dari awal munculnya
Islam hingga akhir Daulah Umayyah secara kritis. Di dalam kitab
5 Julie Scott Meisami, Paul Starkey. Encyclopedia of Arabic Literature.
Volume I. (New York:2003). Hlm. 86.
6 Julie Scott Meisami, Paul Starkey. Encyclopedia of Arabic Literature.
Hlm. 87.

juga terdapat satu bab yang membahas secara khusus mengenai


hadits rasul, dari mulai munculnya proses periwayatannya,
dikodifikasikan dan mengenai otentisitasnya7.

2.

Duha al Islam
Buku ini berisikan tentang penulisan sejarah kerajaan Islam, fokus
pada penulisan sejarah ini ialah mengenai pembahasan abad awal
pemerintahan

Abbasiyah,

atau

seratus

tahun

pertama

pemerintahan Abbasiyah
3.

Zuhr al Islam
Buku ini merupakan karya Ahmad Amin mengenai perkembangan
kehidupan intelektual dalam Islam hingga akhir abad ke 4
Hijriyyah.

4.

Yawn al Islam
Dalam buku ini Ahmad Amin menggambarkan kembali hari
kebangkitan Islam. Dalam karya ini ia menyajikan pembahasan
dengan memberikan sebuah konsep mengenai hubungan atau
kaitan Islam dengan dunia non-Islam, terutama pada kurun waktu
ketika Eropa sedang mengalami kemunduran dan krisis kekuatan8.

D. Pokok-pokok Isi Kitab Dhuhril Islam

7 www.cendikiawannusantara.blogspot.com
8 A.M.H. Mazyad. Ahmad Amin (Cairo 1886-1950) Advocate of Social
and Literary Reform In Egypt(Leiden : 1963) Hlm.35.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Setelah apa yang disampaikan Ahmad Amin dalam kitab ini bahwa sejarah
perkembangan dan pertumbuhan pemikiran umat, sejarah agamanya serta
berbagai pemikiran dan ideologi tentang agama. Pada pusat penelitian ini terdapat
masalah-masalah konkret, jelas dan oleh sebab itu terbatas dengan datangnya
kepada umat secara tiba-tiba tentang perubahan fenomena yang tampak.
Oleh sebab itu penulis berusaha untuk bagaimana pemikiran tersebut
tumbuh dan berkembang. Serta penulis juga mengetahui faktor-faktor yang
menguatkan dan melemahkan terhadap pemikiran tersebut. Aliran-liran agama
terkadang menjadi pendorong yang tidak muncul dari ajaran-ajarannya. Dan
terkadang pendorong tersebut menjadi urusan politik, yaitu dalam aspek eksternal
yang tidak terdapat unsur politik sama sekali.
Dalam buku Ahmad Amin terdapat beberapa karya diantaranya:

Fajr al Islam (The Dawn of Islam), 1929 M.

5. Duha al Islam (The Forenoon of Islam) (19331936 M)


6. Zuhr al Islam (The Noon of Islam) (1945-1955
M)

DAFTAR PUSTAKA
John Cooper, dkk, Pemikiran Islam dari Sayyid Ahmad Khan
Hingga Hmid Abu Zayd. (Bandung: Erlangga )
David Sagiv, Fundamentalist and Intellectuals in Egypt 19731993 (London: 1995)
Julie Scott Meisami, Paul Starkey. Encyclopedia of Arabic
Literature. Volume I. (New York:2003).
A.M.H. Mazyad. Ahmad Amin (Cairo 1886-1950) Advocate of
Social and Literary Reform In Egypt(Leiden : 1963)
www.cendikiawannusantara.blogspot.com