Anda di halaman 1dari 10

MANAJEMEN PENGELUARAN PUBLIK

ANDIKA SABILLA
1206275660

DEPARTEMEN ILMU ADMINISTRASI


UNIVERSITAS INDONESIA
Depok, Mei 2014

PENDAHULUAN
Sebagai salah satu agenda penting dalam perwujudan good governance, pertanggungjawaban
publik (public accountability) memerlukan berbagai tindakan lanjutan dalam berbagai praktek
penyelenggaraan pemerintahan. Salah satu sasaran pertanggungjawaban publik tersebut adalah sektor
keuangan publik. Pembaharuan utama dalam sektor keuangan ini difokuskan pada sistem
penganggaran dengan budgeting reform-nya yaitu perubahan dari anggaran tradisianal ke pengeluaran
modern. Secara spesifik telah dilakukan beberapa pembaharuan dalam manajemen keuangan publik
sebagai akibat dari penerapan anggaran berbasis kinerja tersebut
Dalam pertanggungjawaban layanan publik memberikan fasilitas kepada masyarakat, pastilah
adanya suatu pengeluaran yang akan dianggarkan untuk kepentingan negara. Namun tiada pengeluaran
yang dapat diatur sesuai dengan prinsip yang sebenarnya, maka tidak mungkin suatu output
pengeluaran dapat dialokasikan secara efektif, efisien, dan akuntanbilitas. Oleh karena itu, adanya
suatu perubahan sistem penganggaran dari sistem penganggaran konvensional atau tradisonal menjadi
sisitem manajemen pengeluaran publik. Perubahan sistem penganggaran yang disebutkan diharapkan
agar penganggaran di negara Indonesia dapat berjalan secara efektif dan efisien sehingga dapat
dialokasikan secara tepat, dan pendapatan yang didistribusikan merata.

PEMBAHASAN

Public Expenditure Management atau lebih dikenal dengan manajemen pengeluaran publik
adalah suatu pendekatan baru dalam permasalahan pengalokasian uang negara yang ditujukan pada
sumber daya publik melalui pilihan-pilihan tertentu yang telah tersedia secara kolektif. Dalam hal
mekanisme kebijakan anggaran, terdapat 3 signifikansi perbedaan antara Manajemen Pengeluaran
Publik dengan penganggaran konvensional atau tradisional.

Pertama, manajemen pengeluaran publik berfokus pada hasil dan melihat pengeluaran sebagai
sarana untuk menghasilkan output yang dibutuhkan untuk mencapai hasil yang diinginkan,
sedangkan penganggaran konvensional berfokus pada pengeluaran pada input sehingga
menekankan instansi pemerintah dengan setiap rincian pengeluaran dari input hingga output
tertentu dengan hanya memperhatikan tangensial untuk hasil yang sebenarnya bahwa anggaran
yang seharusnya untuk mempromosikan dan dukungan.

Kedua, manajemen pengeluaran publik menyoroti pentingnya memiliki proses yang tepat,
yaitu mereka yang mengarah pada hasil yang diinginkan. Di dalam penganggaran konvensional
perlu adanya kepastian bahwa anggaran instansi telah disusun dan dilaksanakan sesuai dengan
aturan dan prosedur yang ditentukan, sehingga dari perspektif penekankan hasil menurut
penganggaran konvensional, anggaran yang baik adalah salah satu yang mengikuti aturan dan
prosedur yang sesuai. Sebaliknya, pada manajemen pengeluaran publik, anggaran yang baik
adalah anggaran yang menghasilkan output sesuai dengan peningkatan hasil yang diinginkan.
Jika implementasi yang tepat dari aturan dan prosedur mengarah ke hasil yang buruk maka
aturan dan prosedur yang dianggap cacat harus direformasi berdasarkan perspektif penekanan
hasil menurut manajemen pengeluaran publik.

Ketiga, di bawah manajemen pengeluaran publik, perlunya keseimbangan antara otonomi dan
fleksibilitas bagi organisasi atau lembaga dalam menghasilkan output yang diperlukan untuk
mencapai hasil yang diinginkan dan akuntabilitas sesuai yang ditargetkan organisasi atau
lembaga tersebut untuk memproduksi output. Di bawah penganggaran konvensional,
penekanan fokus antara Kementerian Keuangan sebagai badan anggaran dan badan-badan
lainnya berdasar pada alokasi anggaran untuk baris (input) item dan adanya akuntabilitas

lembaga untuk disposisi yang tepat dana sesuai dengan disepakati alokasi. Akibatnya,
akuntabilitas badan-badan diencerkan. Bahkan jika sebuah instansi yang terhubung pada suatu
lini hubungan gagal memenuhi mandatnya, asalkan sudah disepakati alokasinya, umumnya
tidak bertanggungjawab atas kegagalan ini.

Elemen Utama Pada Manajemen Pengeluaran Publik


Manajemen Pengeluaran Publik memiliki elemen utama, antara lain Agregate Fiscal
Discipline, Allocative Efficienty , dan Operational Efficiency. Agregate Fiscal Discipline mengacu
pada keselarasan dari pengeluaran publik dengan total pendapatan termasuk pendapatan domestik
ditambah pinjaman luar negeri yang berkelanjutan, yang dianggarkan sehingga menjadi hasil yang
eksplisit dan dapat dijadikan keputusan yang tidak hanya mengakomodasi penempatan kebutuhan.
Total anggaran ini harus dibuat sebelum penetapan rinciannya, dan harus bertahan pada jangka waktu
menengah. Allocative Efficienty mengacu pada seberapa tepat alokasi anggaran dengan prioritas
strategis terkait sumber daya anggaran yang dialokasikan untuk program dan kegiatan yang didasarkan
pada prioritas strategis pemerintah dan keefektifan dari program publik yang dijalankan. Sistem
anggran harus mendorong relokasi dana dari program dengan prioritas yang rendah ke priorotas yang
tinggi dan dari program yang keefektifannya rendah sampai yang tinggi. Operational Efficiency
mengacu pada penyediaan layanan publik di kualitas yang wajar dan biaya, sehingga lebih ada
penekanan yang ditujukan pada pihak-pihak layanan publik untuk menghasilkan barang-barang dan
jasa pada tingkat cost untuk mencapai tujuan yang efisien dan pada tingkat biaya yang kompetitif
dengan pasar.
Budgeting dan Manajemen Pengeluaran Publik
Budgeting atau penganggaran ditetapkan sebagai prosedur yang selalu terjadi dalam setiap hal,
dan biasanya dengan perubahan sedikit dari tahun ke tahun dengan menggunakan rasio sumber daya
yang dilimpahkan pada pemerintah dan pengawasan setiap jumlah yang dikeluarkan, sehingga dapat
disimpulkan penganggaran adalah pekerjaan pilihan runtinisasi yang berhubungan dengan pengeluaran
publik. Hal-hal seperti perencanaan nasional dan kebijakan kabinet pasti berpengaruh pada
pengeluaran publik, oleh karena itu perlu adanya penganggaran agar suatu perencanaan nasional dan

kebijakan kabinet dapat berjalan secara efektif, efisiensi, dan akuntabilitas berdasarkan prinsip-prinsip
penganggaran yang telah ditentukan.
Prinsip-prinsip penganggaran ini diterapkan dan dijalankan melalui prosedural yang detail,
mencakup lingkup anggaran, informasi di dalamnya untuk pengambilan tindakan tertentu, otorisasi
dapat diperlukan sebelum dana-dana yang telah dianggarkan akan dikeluarkan untuk kepentingan
masyarakat yang akan dibangun sebagai fasilitas negara. Prinsip dasar dalam penganggaran, terdiri
atas
a) comprehensiveness ; anggaran harus mencakup pendapatan dan pengeluaran),
b) accuracy ; anggaran harus mencerminkan transaksi dan aliran yang aktual,
c) annuality ; anggaran harus mencakup periode waktu yang tetap, biasanya pada satu
waktu fiskal,
d) authoritativeness ; dana publik yang dibelanjakan harus dibawah kuasa hukum),
e) transparency ;pemerintah harus memperlihatkan informasi anggaran baik yang berupa
estimasi maupun pengeluaran yang sebenarnya secara berkala.
. Manajemen pengeluaran publik berhubungan dengan fokus insentif pada aspek informal
penganggaran, sikap partisipan, dan perilaku yang dipengaruhi aturan anggaran. Manajemen
pengeluaran publik juga dipengaruhi oleh informasi pembuat kebijakan dan para manajer yang
mengeluarkan dana publik. Kondisi informasi ini dipengaruhi dari dua faktor yang berkaitan, yaitu (1)
biaya dalam menghasilkan dan menyebarluaskan informasi yang relevan, dan (2) manfaat-manfaat
yang dimiliki lembaga yang memiliki informasi pengguna yang lebih berprinsipil. Manajemen
pengeluaran publik memiliki relevansi peran formal pengawas pusat yang memiliki kewenangan untuk
membuat suatu keputusan yang berhubungan dengan total anggaran hingga berbagai macam
pengeluaran negara yang akan ditujukan untuk pencapaian hasil tertentu, semisal.
Pencapaian hasil yang ditujukan berdasar unsur utama manajemen pengeluaran publik
seringkali terkendala oleh masalah mendasar yang kompleks, sehingga perlu adanya pengaturan yang
dilihat dari lembaga-lembaga tertentu sesuai dengan basis obyektif unsur utama pengeluaran publik
yang telah disebutkan sebelumnya, yakni Agregate Fiscal Discipline, Allocative Efficienty, dan
Operational Efficiency. Agregate Fiscal Discipline. Manajemen pengeluaran publik yang

berpatokan pada proses budgeting atau penganggaran karena aturan yang prosedural berpengaruh pada
outcomes (hasil) dari pengeluaran. Pengaturan institusional, ketersediaan informasi untuk membuat
dan menjalankan kebijakan pengeluaran, insentif yang menyediakan cara untuk promosi outcomes,
serta jaminan dan implementasi substanstif telah menjadi berbagai faktor penganggaran yang
mempengaruhi outcome.
1. Aggregate Fiscal Dicipline atau Disiplin Fiskal Agregatif
Perlunya Aggregate Fiscal Dicipline terhadap pengawasan pengumpulan anggaran yang
efektif, baik dalam segmentasi penerimaan total dan pengeluaran serta keseimbangan.
Manajemen Pengeluaran Publik juga dapat menentukan efisiensi alokatif yang merupakan
gabungan pengeluaran yang responsif terhadap perubahan prioritas pemerintah dan juga
temuan evaluatif yang bernilai pada keefektifan pengeluaran alternatif yang komparatif.
Efisiensi alokatif bergantung pada kapasitas dalam perubahan paradigma penggunaan
sumber daya dari berdasarkan program yang lama kemudian diganti oleh program yang
baru, dan inovasi penggunaan produktif menuju yang lebih besar, sesuai dengan perubahan
obyektif kebijakan publik. Pada akhirnya, manajemen pengeluaran public dapat mencari
efisiensi dalam pengoperasian administratif, pengurangan progresif melalui perolehan
produktivitas dalam mengelola biaya agensi pemerintahan dan dalam unit biaya jasa.
Dalam pelaksanaannya, terdapat pengaturan kelembagaan bagi Aggregate Fiscal Dicipline
yang terbagi ke dalam rules, roles, dan information
a.

Rules
Penetapan (pembatasan) pengeluaran total dan sektoral ditetapkan sebelum
pembuatan rinciannya. Pengeluaran total ini harus konsisten dengan batasan yang
telah ditentukan, yakni dalam kerangka waktu jangka menengah antara 3-5 tahun
(Medium-Term Expenditure Framework).

b.

Roles
Peran Departemen Keuangan sebagai suatu lembaga harus kuat dalam penetapan
total anggaran dalam negosiasi dengan departemen teknis dan dalam rapat kabinet.
Dalam tahap implementasi anggaran, Departemen Keuangan dapat melakukan suatu
tindakan tegas jika ternyata terjadi pelanggaran dalam batas total.

c.

Information
Medium Term Expenditure Framework memberikan suatu garis batas untuk
mengukur dampak anggaran dari adanya perubahan kebijakan. Dalam tahap
implementasi anggaran, pengeluaran diawasi untuk memastikan bahwa fiskal
agregat dipenuhi.

2. Allocative Efficiency atau efisiensi alokatif


Efisiensi alokatif dapat dikembangkan bila permintaan informational dapat diatur, konflik
mengenai penganggaran dapat diredam dan para pembuat kebijakan pengeluaran tidak
melakukan sabotase pengaturan prioritas dan proses pengimplementasian anggaran. Dalam
halnya dalam sistem penganggaran realokasi dana disesuaikan dengan pengeluaran harus
didasarkan pada prioritas dan keberhasilan program. Peran pemerintah pusat diperlukan
dalam kapasitas pendifinisian tujuan dan prioritas secara nasional dan melakukan alokasi
antar sektor. Pengaturan Kelembagaan bagi Allocative Efficiency
a.

Rules
Penetapan batas pengeluaran bagi sektor/departemen dan menteri didorong untuk
mere-alokasi dananya pada batas yang telah ditetapkan. Proses realokasi harus
didasarkan pada temuan yang telah dievaluasi terhadap keberhasilan program.

b.

Roles
Pemerintah pusat harus memiliki kapasitas untuk mendefiniskan tujuan dan prioritas
nasional dan melakukan alokasi antar sektor secara konsisten dengan Medium-Term
Expenditure Framework. Menteri teknis yang kuat dengan otoritas yang memadai
untuk merealokasi dana pada area tanggung jawabnya melalui masukan dari kabinet
atau parlemen.

c.

Information
Para menteri dan manager menyiapkan informasi atau menerima informasi
mengenai kebejasilan program yang direncanakan dan yang sesungguhnya dapat

dicapai. Mereka juga menerima informasi mengenai dampak dari pengeluaran yang
dilakukan dalam perspektif medium-term framework.
3.

Operational Efficiency

Salah satu tujuan penganggaran adalah membuat ekonomis suatu pengoperasian


pemerintahan dengan mengendalikan item pengeluaran, yaitu pegawai, suplai, peralatan,
dan seterusnya, yang dibeli oleh agen-agen pemerintah. Pada banyak negara, penganggaran
terus difokuskan pada jumlah input yang beragam. Kendali input ini memperlambat
efisiensi operasional karena tidak memberikan insentif-insentif yang ekonomis yang dibuat
oleh para pembuat kebijakan pengeluaran dan tidak ada hubungannya dengan jumlah yang
telah dikeluarkan pada output yang dihasilkan. Pengaturan Kelembagaan bagi Allocative
Efficiency :
a. Rules
Biaya operasional sangat terbatas karena itu para manajer diberikan diskresi
dalam menggunakan sumber daya. Biaya operasional ini sebisa mungkin
dikurangi secara progrsif untuk meningkatkan efisiensi.
b. Roles
Manajer tingkat menengah berperan menetapkan bagaimana berbagai sumber
daya yang terbatas digunakan. Diskrsi operasional diberikan kepada manajer
berkaitan dengan hal tersebut.
d.

Information
Output anggaran dispesifikkan lebih lanjut dan output actual diperbandingkan
dengan target yang telah ditetapkan sebelumnya. Informasi akan keuangan dan
organisasi yang mengatur anggaran dipublikasikan dalam laporan berkala dan
pada dokumen-dokumen lainnya.

KESIMPULAN

Manajemen pengeluaran publik adalah suatu pendekatan baru dalam permasalahan


pengalokasian uang negara yang ditujukan pada sumber daya publik melalui pilihan-pilihan tertentu
yang telah tersedia secara kolektif. Dapat diketahui 3 perbedaaan antara manajemen pengeluaran
public dan penganggaran konvensional :

manajemen pengeluaran publik berfokus pada hasil dan melihat pengeluaran sebagai sarana
untuk menghasilkan output, sedangkan penganggaran konvensional berfokus pada pengeluaran
pada input sehingga menekankan instansi pemerintah dengan setiap rincian pengeluaran dari
input hingga output tertentu

Perspektif penekankan hasil menurut penganggaran konvensional, anggaran yang baik adalah
salah satu yang mengikuti aturan dan prosedur yang sesuai. Sebaliknya, pada manajemen
pengeluaran publik, anggaran yang baik adalah anggaran yang menghasilkan output sesuai
dengan peningkatan hasil yang diinginkan.

Di bawah manajemen pengeluaran publik, perlunya keseimbangan antara otonomi dan


fleksibilitas bagi organisasi atau lembaga dalam menghasilkan output yang diperlukan untuk
mencapai hasil yang diinginkan dan sesuai yang ditargetkan organisasi atau lembaga tersebut
untuk memproduksi output. Di bawah penganggaran konvensional, penekanan fokus antara
Kementerian Keuangan sebagai badan anggaran dan badan-badan lainnya berdasar pada
alokasi anggaran untuk baris (input) item dan adanya akuntabilitas lembaga untuk disposisi
yang tepat dana sesuai dengan disepakati alokasi
Manajemen pengeluaran publik yang berpatokan pada proses budgeting atau penganggaran

karena aturan yang prosedural berpengaruh pada outcomes (hasil) dari pengeluaran. Pengaturan
institusional, ketersediaan informasi untuk membuat dan menjalankan kebijakan pengeluaran, insentif
yang menyediakan cara untuk promosi outcomes, serta jaminan dan implementasi substanstif telah
menjadi berbagai faktor penganggaran yang mempengaruhi outcome. Perlu adanya pengaturan yang
dilihat dari lembaga-lembaga tertentu sesuai dengan memiliki elemen utama Manajemen Pengeluaran
Publik, antara lain Agregate Fiscal Discipline, Allocative Efficienty , dan Operational Efficiency.
Agregate Fiscal Discipline

Daftar Pustaka :

The World Bank, Public Expenditure Management Handbook, 1998, Washington,


D.C

The Importance of Public Expenduture Management in Modern Budget System,


2009, The Faculty of Economics, University of Ni, Serbia.

The Government Brief, What is Public Expenditure Management?, 2001, ADB.