Anda di halaman 1dari 108

SKENARIO 3

Aaaggghhhh.....aduuh....lengan dan
kaki tanganku ndak bisa
digerakkan...!!!

Seorang mahasiswa UMM wanita usia 20th, dibawa


oleh teman
temannya pakai mobil ke UGD RS UMM sambil
merintih kesakitan di kaki atas dan lengan atas
kanannya. Dari anamnesis singkat oleh dokter jaga
UGD diperoleh keterangan bahwa 2 jam sebelum
MRS saat pasien mau kuliah dikampus 3, diserempet
mobil box. Pasien mengeluh kesakitan kaki kanan
dan lengan kanannya susah digerakkan. Riwayat
pingsan (-), nausea dan vomiting (-), GCS 15, tensi
110/80 mmHg, nadi 100x/menit, RR 26x/menit, akral
hangat, deformitas brachii dekstra (+), shortening
ekstremitas superior dekstra (+), tampak luka
terbuka ukuran 3 cm di 1/3 tengah humerus dekstra,
capillary refill 1 detik, tenderness (++) di brachii

Deformitas femur dekstra (+), shortening


ekstremitas inferior dekstra (+), luka (-),
capillary refill 1 detik, tenderness (++) di
femur dekstra, dan pulsasi arteri dorsalis pedis
dekstra teraba kuat.

KLARIFIKASI
ISTILAH

Nausea : sensasi tidak menyenangkan yang


samar pada epigastrium dan abdomen, dengan
kecenderungan untuk muntah. (Dorland edisi
28, 2012)
Deformitas : distorsi atau keadaan terpuntir dari
bentuk atau posisi yang normal pada salah satu
atau seluruh bagian tubuh. (Dorland edisi
28,2012)
Capillary refill time : tes yang dilakukan cepat
pada daerah dasar kuku untuk memonitor
dehidrasi dan jumlah aliran darah ke jaringan.
(Dafid, 2009)
Tenderness : kepekaan abnormal terhadap
sentuhan atau tekanan. (Dorland edisi 28,2012)

RUMUSAN MASALAH
1. Mengapa pasien mengalami shortening pada
ekstremitas?
2. Mengapa pulsasi arteri radialis dekstra dan
arteri dorsalis pedis dekstra teraba kuat?
3. Bagaimana gambaran keadaan umum pasien?
4. Mengapa akral pasien terasa hangat?
5. Pemeriksaan apa saja yang dilakukan untuk
menentukan diagnosis?
6. Apa saja diagnosis yang bisa ditegakkan pada
pasien?
7. Bagaimana penatalaksanaan awal dokter umum
untuk kasus tersebut?
8. Kemungkinan komplikasi apa saja yang mungkin
terjadi pada pasien apabila tidak segera
dilakukan penanganan?

HIPOTESIS
1. Mengapa pasien mengalami shortening
pada ekstremitas?
Pasien mengalami deformitas tulang tidak
pada tempatnya dan ada kontraksi otot
disekitar tulang tulang menjadi pendek
Terdapat dislokasi pada humerus
Terdapat fraktur pada tulangnya
Kompensasi terhadap sakit menahan dan
fleksi tulang terlihat pendek

2. Mengapa pulsasi arteri radialis dekstra


dan arteri dorsalis pedis dekstra teraba
kuat?
Karena arteri tidak ruptur pulsasi teraba kuat
dan akral hangat
Teraba kuat karena arteri tidak ruptur dan
perlu dilakukan allen test, cek arteri ulnaris
ruptur atau tidak
Karena peningkatan aktivitas simpatis pompa
darah ke ekstremitas lebih kuat

3. Bagaimana gambaran keadaan


umum pasien?
Keadaan umum : sadar, baik, bisa
berkomunikasi, tidak ada penurunan tekanan
darah, vital sign normal dan tidak ada tandatanda TIK meningkat

4. Mengapa akral pasien terasa


hangat?

5. Pemeriksaan fisik dan penunjang apa


saja yang dilakukan untuk menentukan
diagnosis?
Look, feel, move
Allen test
Pengukuran true length, apparent length
Foto polos
Darah lengkap

6. Apa saja diagnosis yang bisa


ditegakkan pada pasien?

Fraktur
Dislokasi

7. Bagaimana penatalaksanaan awal


dokter umum untuk kasus tersebut?

Cek Airway, breathing, circulation


Hentikan perdarahan setelah berhenti
perdarahannya lakukan desinfeksi pada luka
Imobilisasi dengan splinting sebelum dirujuk ke
dokter orthopaedi
Rekognisi, reduksi (manipulasi/reposisi), retensi
(imobilisasi), rehabilitasi
Anti nyeri untuk mengurangi rasa nyeri

8. Kemungkinan komplikasi apa saja yang


mungkin terjadi pada pasien apabila tidak
segera dilakukan penanganan?

sepsis
Syok jika perdarahan tidak dihentikan
Osteomielitis
Non union, delayed union, malunion, atrofi
sudeck
Necrosis vascular

LEARNING OBJECTIVE
Fraktur tertutup dan terbuka :
Anatomi muskuloskeletal
ekstremitas superior dan inferior
Klasifikasi fraktur
Jenis fraktur
Etiologi fraktur
Patofisiologi fraktur
Gejala fraktur
Pemeriksaan penunjang
Prognosis
Penatalaksanaan

Anatomi Muskuloskeletal
Ekstremitas Superior
Caprisia Tiaravicka Hasanah
201310330311154

Anatomi Muskuloskeletal
Ekstremitas Inferior
Nur Indah Septiani
201310330311116

TIPE DAN KLASIFIKASI


FRAKTUR
Muhammad Tholhah Azam
2013103303111

TIPE TIPE FRAKTUR


1. Complete fraktur (fraktur komplet),
patah pada seluruh garis tengah
tulang,luas dan melintang. Biasanya
disertai dengan perpindahan posisi
tulang.

2. Closed fracture (simple fracture), tidak


menyebabkan robeknya kulit, integritas
kulit masih utuh.
3. Open fracture (compound frakture /
komplikata/ kompleks), merupakan
fraktur dengan luka pada kulit (integritas
kulit rusak dan ujung tulang menonjol
sampai menembus kulit) atau membran
mukosa sampai ke patahan tulang.
Fraktur terbuka digradasi menjadi:

4. Greenstick, fraktur dimana salah


satu sisi tulang patah sedang sisi
lainnya membengkok.
5. Transversal, fraktur sepanjang garis
tengah tulang.
6. Oblik, fraktur membentuk sudut
dengan garis tengah tulang.

7. Spiral, fraktur memuntir seputar


batang tulang.
8. Komunitif, fraktur dengan tulang
pecah menjadi beberapa fragmen.
9. Depresi, fraktur dengan frakmen
patahan terdorong ke dalam (sering
terjadi pada tulang tengkorak dan
wajah).

10.Kompresi, fraktur dimana tulang


mengalami kompresi (terjadi pada
tulang belakang).
11.Patologik, fraktur yang terjadi pada
daerah tulang berpenyakit (kista
tulang, paget, metastasis tulang,
tumor).
12.Avulsi, tertariknya fragmen tulang
oleh ligamen atau tendo pada
prlekatannya.

Fraktur Patologis

13.Epifisial, fraktur melalui epifisis.


14.Impaksi, fraktur dimana fragmen
tulang terdorong ke fragmen tulang
lainnya.

Klasifikasi

Grade I : luka < 1 cm, bersih, fraktur sederhana


Grade II
: luka > 1 cm, kulit terbuka, fraktur kominutif sedang
Grade III : luka > 10 cm, kerusakan luas kulit, jaringan lunak
dan neurovaskular, kontaminasi luka

III A
III B
III C

: tulang dapat ditutup dengan jaringan lunak


: tulang tidak dapat ditutup dan terdapat pelepasan
periosteum
: terdapat cedera vaskular yang perlu diperbaiki

Jenis fraktur
Hiolda LO

jenis

Hubungan
dengan dunia
luar
Garis patah
tulang
Kedudukan
fragmen

A.Fraktur berdasarkan
hubungan dengan dunia luar,
meliputi:

1)Fraktur tertutup yaitu fraktur tanpa


adanya komplikasi, kulit masih utuh,
tulang tidak keluar melewati kulit.
2)Fraktur terbuka yaitu fraktur yang
merusak jaringan kulit, karena adanya
hubungan dengan lingkungan luar,
maka fraktur terbuka potensial terjadi
infeksi. Fraktur terbuka dibagi menjadi
3 grade yaitu:

a)Grade I : Robekan kulit dengan


kerusakan kulit dan otot.
b)Grade II : Seperti grade I dengan
memar kulit dan otot.
c)Grade III : Luka sebesar 6-8 cm
dengan kerusakan pembuluh darah,
syaraf, otot dan kulit.

B. Fraktur berdasarkan garis


patah tulang, yaitu:
1)linear yaitu garis fraktur berjalan
sejajar dengan sumbu tulang.
2)Transverse yaitu patah melintang
( yang sering terjadi ).
3)Longitudinal yaitu patah
memanjang.
4)Oblique yaitu garis patah miring.
5)Spiral yaitu patah melingkar.

C.Fraktur berdasarkan kedudukan


fragmen yaitu:
1)Tidak ada dislokasi.
2)kominutiva = tulang pecah menjadi
sejumlah potongan kecil.
3) Overriding = fragmen fraktur saling
menumpuk sehingga keseluruan panjang
tulang memendek.
4) Avulsi = fragmen fraktur tertarik dari posisi
normal karena kontraksi otot atau ligamen.
5) Dislokata = fragmen fraktur saling terpisah
dan menimbulkan deformitas.

Definisi & Etiologi


Fraktur Terbuka dan
Tertutup
Erina Nur Mahmudah
201310330311102

Definisi Fraktur
Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh
trauma atau tenaga fisik (Price dan Wilson, 2006)
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan di
tentukan sesuai jenis dan luasnya, fraktur terjadi jika tulang
di kenai stress yang lebih besar dari yang dapat
diabsorbsinya (Smeltzer dan Bare, 2002)
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang, kebanyakan
fraktur akibat dari trauma, beberapa fraktur sekunder
terhadap proses penyakit seperti osteoporosis, yang
menyebabkan fraktur yang patologis (Mansjoer, 2002)
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang yang di tandai
oleh rasa nyeri, pembengkakan, deformitas, gangguan fungsi,
pemendekan , dan krepitasi (Doenges, 2002)

Definisi
Closed Fracture

Open Fracture

Fraktur tertutup adalah


bila tidak ada hubungan
patah tulang dengan dunia
luar. (Sjamsuhidajat, 1999)
Dikatakan tertutup bila
tidak terdapat hubungan
antara fragmen tulang
dengan dunia luar, disebut
dengan fraktur bersih
(karena kulit masih utuh)
tanpa komplikasi.
(Mansoer, 2002)

Fraktur terbuka adalah fragmen


tulang meluas melewati otot dan
kulit, dimana potensial untuk
terjadi infeksi. (Sjamsuhidajat,
1999)
Fraktur terbuka adalah fraktur
dimana terdapat hubungan
fragmen fraktur dengan dunia
luar, baik ujung fragmen fraktur
tersebut yang menembus dari
dalam hingga kepermukaan kulit
atau kulit dipermukaan yang
mengalami penetrasi suatu objek
yang tajam dari luar hingga
kedalam (Salter ,1994).

Definisi
Fraktur Femur

Fraktur Humerus

Fraktur femur adalah


terputusnya kontinuitas batang
femur yang bisa terjadi akibat
trauma langsung (kecelakaan
lalu lintas, jatuh dari
ketinggian), dan biasanya lebih
banyak dialami oleh laki-laki
dewasa.
Patah padadaerah ini dapat
menimbulkan perdarahan yang
cukup banyak, mengakibatkan
pendertia jatuh dalam syok
(FKUI, 1995:543)

Fraktur humerus merupakan


diskontinuitas jaringan tulang
humerus.
Fraktur tersebut umumnya
disebabkan oleh trauma.
Selain dapat menimbulkan patah
tulang (fraktur), trauma juga dapat
mengenai jaringan lunak sekitar
tulanghumerus tersebut, misalnya
vulnus (luka), perdarahan, memar
(kontusio),regangan atau robek
parsial (sprain), putus atau robek
(avulsi atau ruptur),gangguan
pembuluh darah, dan gangguan
saraf (neuropraksia,
aksonotmesis,neurolisis)

Fraktur Femur Tertutup

Fraktur Femur Terbuka

Fraktur Humerus

Etiologi Fraktur
Kekerasan tulang

Kekerasan langsung tulang patah


pada titik ditempat terjadinya
kekerasan itu.

Misal tulang kaki terbentur bumper


mobil, maka tulang akan patah tepat
di tempat terjadinya benturan.
Kekerasan tidak langsung

Kekerasan tidak langsung patah


tulang di tempat yang jauh dari
tempat terjadinya kekerasan.

Misal bila seorang jatuh dari


ketinggian dengan tumit kaki terlebih
dahulu. Yang patah selain tulang tumit,
terjadi pula patah tulang pada tibia
dan kemungkinan pula patah
Kekerasan akibat tarikan otot

Kekerasan tarikan otot dislokasi


dan patah tulang.

Misal patah tulang patella dan


olekranom, karena otot triseps dan
biseps mendadak berkontraksi.

Peristiwa Trauma

Peristiwa Patologis
Kelelahan atau stres fraktur
Terjadi pada orang yang melakukan
aktivitas berulang - ulang pada suatu
daerah tulang atau menambah tingkat
aktivitas yang lebih berat dari biasanya.
Tulang mengalami perubahan struktural
akibat pengulangan tekanan pada tempat
yang sama, atau peningkatan beban secara
tiba - tiba pada suatu daerah tulang
terjadi retak tulang.
Kelemahan tulang
Terjadi oleh tekanan yang normal
lemahnya suatu tulang akibat penyakit
infeksi, penyakit metabolisme tulang
misalnya osteoporosis, dan tumor pada
tulang.
Sedikit saja tekanan pada daerah tulang
yang rapuh maka akan terjadi fraktur.

PATOFISIOLOFI FRAKTUR
NUNGKI SAMAHAH

Fraktur terjadi akibat


menurunnya kekuatan tulang
dan terjadinya luka.
Patofisiologi fraktur adalah hal
yang kompleks,
menggabungkan antara
kekuatan tulang (masa tulang,
kualitas tulang, umur, dll) serta
frekuensi dan efek dari luka.

Faktor predisposisi untuk fraktur sama


dengan faktor-faktor yang mungkin
menyebabkan seseorang jatuh, yaitu :
1. Penyakit Parkinson
2. Stroke
3. Kerusakan saraf perifer (sensasi
nyeri)
4. Gangguan fungsi serebellum
5. Gangguann visual
6. Pengobatan psikotropik

Angka fraktur pada dewasa


meningkat dengan bertambahnya
usia.
Fraktur juga dapat dipengaruhi
waktu kejadian dari jatuh yaitu
sering kali terjadi pada dini hari
atau malam hari.

Manifestasi Klinis
Hikmah tri wahyuni
201310330311069

Manifestasi klinis fraktur


Nyeri

Nyeri terus menerus dan bertambah berat sampai fragmen tulang


diimobilisasi.
Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai
alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar
fragmen tulang

Ekstrimitas tidak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal


Hilangnya otot bergantung pada integritas tulang tempat melekatnya otot.

fungsi

pergeseran fraktur menyebabkan deformitas, ekstrimitas yang bias


Deformita di ketahui dengan membandingkan dengan ekstrimitas yang normal

Manifestasi klinis fraktur


Pemendek
an
ekstrimita
s

Krepitus

kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah


tempat fraktur. (pada fraktur tulang panjang)

Saat ekstrimitas di periksa dengan tangan,


teraba adanya derik tulang yang dinamakan
krepitus yang teraba akibat gesekan antara
fragmen satu dengan yang lainya.

Terjadi di sebelah distal lokasi fraktur akibat


Kerusakan unsur-unsur neurovaskuler terjepit atau tertekan
sensibilita
oleh trauma atau fragmen tulang
s

Manifestasi klinis fraktur

PEMERIKSAAN
Rafika Kartika Putri
201310330311148

PEMERIKSAAN UMUM
Kemungkinan adanya TIK
Vital sign dan keadaan umum pasien
Kemungkinan adanya komplikasi umum

seperti shock pada fraktur multipel


Tanda-tanda sepsis pada fraktur terbuka

PEMERIKSAAN STATUS LOKALIS


(Look)
Gait dan postur tubuh

PEMERIKSAAN STATUS LOKALIS


(Look)
-

Tanda-tanda luka dan inflamasi, seberapa banyak darah


yang keluar
Deformitas

PEMERIKSAAN STATUS LOKALIS


(Look)
Ukur panjang tulang
True length (SIAS-malelous medialis)
Apparent length (umbilikus-malelous medialis)

PEMERIKSAAN STATUS LOKALIS


(Feel)
Apakah ada nyeri tekan
Apakah ada peningkatan suhu dan
tanda-tanda inflamasi
Apakah pulsasi di distal bagian yang
diduga fraktur atau dislokasi masih
teraba; kuat atau lemah

PEMERIKSAAN STATUS LOKALIS


(Move)
Nyeri bila digerakkan, atau terjadi
tahanan, tidak bisa bergerak seperti
keadaan normal, atau adanya
pseudo joint
Range of motion dan kekuatan otot
krepitasi

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Foto Polos

PEMERIKSAAN
PENUNJANG
CT scan, MRI apabila ingin melihat jaringan lunaknya

juga
Ateriogram apabila dicurigai terjadi kerusakan vaskuler
Hitung darah: periksa hematokrit dan leukositnya
Kreatinin : trauma otot meningkatkan beban kreatinin

untuk clearance ginjal


Profil Cogulasi : pada keadaan kehilangan banyak darah

PROGNOSIS FRAKTUR
Nur Rohmat M.S
201310330311134

Jika dilaksanakan penanganan yang


baik tulang dapat kembali menyatu
dengan baik

Tahap Penyembuhan Fraktur


1. Stadium Pembentukan Hematom :
Hematom terbentuk dari darah yang
mengalir yang berasal dari pembuluh
darah yang robek
Hematom dibungkus jaringan lunak
sekitar (periosteum & otot)
Terjadi sekitar 1-2 x 24 jam

2. Stadium Proliferasi Sel / Inflamasi :


Sel-sel berproliferasi dari lapisan dalam
periosteum, sekitar lokasi fraktur
Sel-sel ini menjadi precursor osteoblast
Sel-sel ini aktif tumbuh ke arah fragmen
tulang
Terjadi setelah hari ke-2 kecelakaan
terjadi

3. Stadium Pembentukan Kallus :


Osteoblast membentuk tulang lunak
(kallus)
Kallus memberikan rigiditas pada
fraktur
Jika terlihat massa kallus pada X-ray
berarti fraktur telah menyatu
Terjadi setelah 6-10 hari setelah
kecelakaan terjadi

4. Stadium Konsolidasi :
Kallus mengeras dan terjadi proses
konsolidasi. Fraktur teraba telah
menyatu
Secara bertahap menjadi tulang
mature
Terjadi pada minggu ke 3-10 setelah
kecelakaan

5. Stadium Remodeling :
Lapisan bulbous mengelilingi tulang
khususnya pada lokasi eks fraktur
Tulang yang berlebihan dibuang oleh
osteoklast

Proses Penyembuhan Tulang


1. Fase inflamasi
Berakhir kurang lebih satu hingga dua minggu
yang pada awalnya terjadi reaksi inflamasi.
Peningkatan aliran darah menimbulkan
hematom fraktur yang segera diikuti invasi
dari sel-sel peradangan yaitu netrofil,
makrofag dan sel fagosit.
Sel-sel tersebut termasuk osteoklas berfungsi
untuk membersihkan jaringan nekrotik untuk
menyiapkan fase reparatif.

2. Fase reparatif
Umumnya beriangsung beberapa bulan. Fase
ini ditandai dengan differensiasi dari sel
mesenkim
Mula-mula terbentuk kalus lunak, yang terdiri
dari jaringan fibrosa dan kartilago dengan
sejumlah kecil jaringan tulang.
Osteoblas kemudian yang mengakibatkan
mineralisasi kalus lunak berubah menjadi kalus
keras dan meningkatkan stabilitas fraktur

3. Fase remodeling
Membutuhkan waktu bulanan hingga
tahunan untuk merampungkan
penyembuhan tulang
Meliputi aktifitas osteoblas dan
osteoklas yang menghasilkan
perubahan jaringan immatur menjadi
matur, terbentuknya tulang lamelar
sehingga menambah stabilitas
daerah fraktur

Delayed union
Proses penyembuhan lambat dari
waktu yang dibutuhkan secara
normal.
Pada pemeriksaan radiografi, tidak
akan terlihat bayangan sklerosis
pada ujung-ujung fraktur.

Non union
Dimana secara klinis dan radiologis
tidak terjadi penyambungan.
Beberapa faktor yang menimbulkan
non union seperti disrupsi periosteum
yang luas,hilangnya vaskularisasi
fragmen-fragmen fraktur, waktu
imobilisasi yang tidak memadai,implant
atau gips yang tidak memadai, infeksi
dan penyakit tulang (fraktur patologis)

Mal union
Penyambungan fraktur tidak normal
sehingga menimbukan deformitas.
Tindakan refraktur atau osteotomi
koreksi .

Penatalaksana fraktur
Tiara andini p n

Pertolongan Pertama (First Aid)


1.

Life Saving (Airway, Breathing, Circulation, Disability,


Environment)
Bebaskan jalan nafas
Shock : Perdarahan Interna /External

2. Limb Saving
Penanganan nyeri Splint & analgetic
3. Transportasi penderita

STOP BLEEDING
Direct pressure
Elevation above the
heart
Pressure point
torniquet

Imobilisasi parsial
Bandaging : Membalut/ membebat
area yang terluka menggunakan
elastik perban

Splinting :
1. Buka pakaian pada tubuh yang menutupi
luka
2. Cek status vaskuler, tutup semua luka,
jangan menggerakkan anggota gerak
sbelum dilakukan pembidaian
3. Jika fraktur pada tulang, pembidaian
harus mencakup sendi di sebelah
proksimal dan distal tempat fraktur
4. Bidai diberi bantalan agar tidak terjadi
penekanan setempat dibagian tubuh dan
anggota gerak yang menonjol

fraktur terbuka perhatikan bahaya


terjadi infeksi pada tulang yang
bersangkutan.
Empat hal penting yang perlu adalah
antibiotik profilaksis
debridement urgent pada
fraktur,
stabillisasi fraktur
penutupan luka segera.

luka

dan

Penatalaksanaan di RS
Mengikuti prinsip 4 R

Recognition
Reduction
Retaining
Rehabilitation

R 1 = Recognizing = Diagnosa
Anamnesa, Pemeriksaan fisik &
Penunjang
R 2 = Reduction

= Reposisi

Mengembalikan posisi fraktur keposisi


sebelum fraktur
Idealnya: Kembali ke posisi anatomis
Kontak 100 %
Angulasi tidak ada
Rotasi tidak ada

R 3 = Retaining = Fiksasi /imobilisasi


Mempertahankan hasil fragmen yang direposisi
Cara Retaining :

Isitrahat
Pasang splint / Sling
Casting / Gips
Traksi Kulit atau tulang
Fiksasi pakai inplant

Arm Sling

Casting / Gips

R 4 = Rehabilitation
Mengembalikan fungsi kesemula
Otot agar tidak atropi (mengecil)
Sendi agar tidak kaku
Bentuk latihan
Latihan sendiri
Bantuan orang lain (Fisioterapist)