Anda di halaman 1dari 6

Dermatitis Seboroik pada Bayi

Definisi
Dermatitis seboroik (DS) merupakan salah satu bentuk dermatosis yang paling
sering ditemukan, khususnya pada bayi. Kondisi ini dikarakterisasi oleh plak
eritema, serta sisik (scaling) yang muncul di area dimana kelenjar sebaseus sangat
aktif, seperti wajah dan kulit kepala, area presternal, serta kulit di area seboroik
(Gambar x.x) (Wolff K, Johnson RA, dan Saavedra AP, 2013).
Perjalanan
patogenesisnya

penyakit

ini

sendiri

belum

melibatkan

inflamasi

sepenuhnya

kronis,

dipahami.

hanya

Beberapa

saja,

peneliti

mempostulasikan bahwa dermatitis seboroik muncul sebagai akibat adanya


kolonisasi spesies jamur dengan genus Malassezia (dahulu, Pitysporum) pada
kulit penderitanya (Berk T dan Scheinfeld N, 2010).
Epidemiologi
Data mengenai prevalensi estimasi DS masih sangat terbatas, mengingat
hingga saat ini, tidak ada kriteria diagnosis ataupun parameter penetuan derajatnya
yang telah divalidasi. Namun demikian, sebagai salah satu penyakit kulit yang
paling sering ditemukan (Gupta AK, Bluhm R, 2004), secara menyeluruh
insidensi perkiraannya adalah sebesar 2 5% dari total populasi (Wolff K,
Johnson RA, dan Saavedra AP, 2013; Berk T dan Scheinfeld N, 2010).
Ditemukan variasi yang unik pada prevalensi dermatitis seboroik bila ditinjau
dari segi kelompok usia. Dermatitis seboroik secara khusus lebih sering
ditemukan pada populasi bayi, dimana prevalensinya diperkirakan sebesar 70%,
dengan puncak insidensi di tiga bulan pertama kehidupan. Insidensi ini menurun
secara acak setiap penambahan 1 tahun usia, dan secara perlahan menurun setelah
usia 4 tahun. Tidak ditemukan perbedaan mencolok antara prevalensi DS pada
anak laki-laki maupun perempuan, dimana jika ditinjau dari jenis kelamin,
prevalensi dermatitis seboroik adalah sebesar 10% pada laki-laki dan 9,5% pada
perempuan. Temuan ini didasarkan pada sebuah survey yang melakukan studi
pada 1,116 anak (Foley P, Zuo Y, Plunkett A et al, 2003). Diperkirakan bahwa
sebanyak 11,6% dari populasi dewasa menderita dermatitis seboroik, dimana

insidensi puncaknya adalah pada dekade ketiga hingga keempat masa kehidupan.
Adapun Estimasi prevalensi untuk populasi lanjut usia secara konsisten lebih
tinggi

dibandingkan

estimasi

prevalensi

pada

populasi

secara

umum

(Mastrolonardo M, Diaferio A, Vendemiale et al, 2004).


Terdapat predileksi etnis terkait DS, di mana hanya sejumlah kecil kasus ini
yang ditemukan pada etnis Afrika-Amerika. Dermatitis seboroik muncul lebih
sering pada penderita penyakit Parkinson dan pasien yang menjalani terapi obatobatan psikotropika seperti haloperidol decanoat, lithiuk, dan klorpromazin (Berk
T dan Scheinfeld N, 2010).
Di antara orang-orang yang mengidap infeksi HIV, khususnya pada mereka
yang hasil perhitungan sel T CD4-nya <400 sel/mm 3, dermatosis seboroik
merupakan wujud dermatosis yang paling sering ditemukan. Kondisi medis
lainnya yang juga dikaitkan dengan kejadian penyakit ini adalah neurolepticinduced parkinsonism, amiloidosis familial dan trisomi (Binder RL, Jonelis FJ,
1983; Rocha N, Velho G, Horta M, et a 2005; Ercis M, Balci S, Atakan N, 1996).
Etiologi
Terlepas dari prevalensinya yang cukup tinggi, etiologi pasti dari dermatitis
seboroik belum sepenuhnya diidentifikasi. Namun demikian, beberapa faktor
seperti infeksi jamur, keseimbangan hormonal, defisit nutrisi serta faktor
neurogenik memiliki hubungan yang signifikan terhadap penyakit ini (Schwartz
RA, Janusz CA, Janniger CK, 2006).
Sejumlah studi mengimplikasikan bahwa hubungan kausal yang lebih kuat ada
antara spesies jamur genus Malassezia furfur (dahulu dikenal dengan sebutan
Pityrosporum ovale) dan dermatosis seboroik (Schwartz, 2004). Jamur dengan
genus tersebut merupakan faktor predominan dan ditemukan di sejumlah regio
seboroik tubuh yang kaya akan kelenjar sebaseus (kepala, badan dan punggung
tubuh bagian belakang atas). Selain itu, DS memberikan respon terhadap terapi
dengan ketokonazol dan selenium sulfida (Wolff K, Johnson RA, dan Saavedra
AP, 2013).

Fluktuasi hormon juga mungkin terlibat, yang menjelaskan mengapa lesi


dermatitis seboroik lebih sering muncul pada area dimana kelenjar sebaseus aktif
ditemukan dalam densitas tinggi, dan juga mengapa penyakit ini muncul pada
bayi, kemudian menghilang secara spontan lalu muncul kembali setelah usia
pubertas (Schwartz RA, Janusz CA, Janniger CK, 2006).
Dermatitis seboroik juga memiliki hubungan dengan defisiensi nutrisi (asam
lemak), yang melibatkan gangguan pada metabolisme asam lemak esensial.
Menurut studi yang dilakukan oleh Tollesson et al (1993), gangguan pada
metabolisme asam lemak esensial merupakan salah satu faktor yang berperan
penting dalam patogenesis penyakit ini pada bayi. Setelah dilakukan analisis pada
30 bayi yang menderita dermatitis seboroik, kemudian diketahui bahwa fungsi
delta-6 desaturate enzyme cenderung mengalami kerusakan (Tollesson A, Frithz
A, Berg A, Karlman G, 1993). Namun demikian studi yang mengkaji hubungan
tersebut masih sangat terbatas (Schwartz RA, Janusz CA, Janniger CK, 2006). Di
sisi lain, defisiensi zinc dan piridoksin juga dianggap memiliki pengaruh dalam
munculnya dermatitis seboroik, mengingat lesi penyakit ini juga ditemukan pada
kasus-kasus tersebut (Wolff K, Johnson RA, dan Saavedra AP, 2013).
Selain beberapa faktor yang telah disebutkan di atas, faktor neurogenik juga
memegang peranan dalam terbentuknya lesi DS. Sebuah teori yang dikenal
dengan istilah teori neurogenik dermatitis seboroik telah diajukan untuk
menjelaskan keterkaitan penyakit kulit tersebut dengan parkinsonisme dan
gangguan neurologik lainnya seperti post cerebrovascular accident, epilepsi,
trauma sistem saraf pusat, paralisis nervus fascialis, dan siringomelia yang
diinduksi

oleh

obat-obatan

neuroleptik

dengan

efek

ekstrapiramidal

(Mastrolonardo M, Diaferio A, Logroscino G, 2003; Pirard GE, 2003).

Manifestasi Klinis dan Diferensial Diagnosis


Dermatitis seboroik pada bayi umumnya muncul di 3 bulan pertama
kehidupan, dikarakterisasi oleh adanya pruritus, bercak eritematosus yang mudah
mengelupas, dan kulit yang bersisik (sisik berukuran lebar dan berminyak).
Meskipun dapat muncul di berbagai bagian anatomis tubuh, umumnya lesi
tersebut lebih sering ditemukan di area tubuh yang memiliki kelenjar keringat
dalam jumlah banyak, seperti kulit kepala, wajah, leher, dada bagian atas dan
belakang. Dermatitis seboroik pada kulit kepala umumnya bermanifestasi dalam
bentuk dandruff (ketombe), erupsi ringan, dan dikarakterisasi oleh sisik kecil
yang mengelupas (Berk T dan Scheinfeld N, 2010). Lesi eritema cenderung
mendominasi di area lipatan flexural dan intertriginus, sementara sisik di kulit
kepala. Mengingat dermatitis seboroik seringkali menyebar hingga ke area dimana
popok terpasang, sangatlah penting untuk mempertimbangkan dilakukannya
evaluasi diaper dermatitis saat gejala DS ditemukan (OConnor NR dan
McLaughin MR, 2008).
Gambar x.x. Dermatitis Seboroik di Daerah Kulit Kepala, Wajah, Telinga, dan Leher

Sumber : (OConnor NR dan McLaughin MR, 2008)

Sangatlah sulit untuk membedakan dermatitis seboroik dan dermatitis atopik


secara klinis, namun usia saat onset penyakit dan ada atau tidaknya pruritus dapat
membantu membedakan kedua kondisi tersebut. Psoriasis juga memiliki
gambaran klinis menyerupai dermatitis seboroik, namun penyakit kulit tersebut
lebih jarang ditemukan. DS pada bayi seringkali sembuh dengan sendirinya dalam

beberapa minggu atau bulan. Dalam suatu studi prospektif, bayi dengan dermatitis
seboroik diperiksa kembali 10 tahun kemudian. Secara keseluruhan, 85%
dinyatakan bebas penyakit kulit pada saat follow up, 8% lainnya dinyatakan
menderita DS persisten, namun demikian, hubungan antara dermatitis seboroik
pada bayi dan dewasa masih belum jelas hingga saat ini. Sebagai tambahan, 6%
anak

pada

studi

ini

kemudian

didiagosis

dengan

atopik

dermatitis,

mengilustrasikan adanya kesulitan dalam membedakan DS dengan penyakit


tersebut (OConnor NR dan McLaughin MR, 2008). Untuk membedakan
dermatitis seboroik dan atopik dermatitis, tabel berikut dapat digunakan sebagai
acuan.
Tabel x.x. Membedakan Gambaran Dermatitis Seboroik dan Dermatitis
Atopik pada Bayi
Gambaran
Usia saat Onset

Dermatitis Seboroik
Biasanya 3 bulan pertama

Dermatitis Atopik
Setelah 3 bulan pertama

Perjalanan

kehidupan
Sembuh dengan sendirinya,

kehidupan
Berespon terhadap terapi,

penyakit
Distribusi

berespon terhadap terapi


Kulit kepala, wajah, telinga,

namun sering kambuh


Kulit kepala, wajah, batang

leher, area popok

tubuh, ekstremitas, area

popok
Pruritus
Jarang
Biasa muncul
Diadaptasi dari Williams ML. Differential diagnosis of seborrheic dermatitis.
Pediatr Rev. 1986;7(7):205.

Tatalaksana Kedokteran Dermatosis pada Bayi

Tatalaksana untuk dermatitis seboroik pada bayi didasarkan pada usia pasien
dan penyebaran penyakitnya. Pendekatan terapeutik yang dilakukan pada kulit
kepala umumnya konservatif. Pada kasus ringan, emollient seperti petrolatum
putih atau minyak mineral dapat digunakan untuk melembutkan lesi sisik,
sehingga sisik tersebut dapat dilepaskan saat disikat secara lembut. Lapisan kerak
yang terbentuk direndam setiap malam menggunakan minyak hangat, yang
kemudian dicuci di pagi hari. Sampo bayi (sebaiknya yang kandungannya tidak
iritatif) dapat digunakan pada awal terapi, jika menyikat sisik dengan sikat gigi
bayi ingin dilakukan. Jika sampo sejenis itu tidak membantu, dapat digunakan
sampo dengan kandungan ketokonazol 2%. Sampo dengan kandungan coal tar
sebaiknya dihindari mengingat kandungan tersebut memiliki efek karsinogenesis.
Krim pelembab dengan kandungan kortikosteroid dapat digunakan untuk
meringankan lesi eritema pada kulit kepala. Sampo yang mengandung asam salisil
tidak boleh digunakan, mengingat dermatitis seboroik pada anak merupakan
kontraindikasi penggunaan sampo tersebut. Penggunaan sampo ini pada kasus DS
akan meningkatkan absorbsi perkutaneus, dan hal ini dapat memicu asidosis serta
salisilism. Dermatitis seboroik yang terbentuk di area intertriginus sebaiknya
ditangani dengan perawatan kulit secara lembut yang disertai pengobatan topikal.
Penggunaan ketokonazol topikal atau nistatin tergolong aman, khususnya bila
dikombinasikan dengan kortikosteroid topikal (OConnor NR dan McLaughin
MR, 2008; Elish D, Silverberg NB, 2006).