Anda di halaman 1dari 27

KEPERAWATAN DALAM DUNIA YANG BERBEDA SECARA BUDAYA

disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Spiritualitas Karya dan Caring

Oleh
Kelompok 2 :
Diana Loika Sari
Eka Krispandha
Etrine Yuliantini
Maria Nani
Martinus Satrio
Riani Nurmayanti

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SANTO BORROMEUS
PADALARANG
2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha
Kuasa, karena atas rahmat dan karunia yang telah diberikan, kami dapat
menyusun dan menyelesaikan makalah tentang Keperawatan dalam Dunia yang
Berbeda Secara Budaya. Pembuatan makalah ini, dimaksudkan untuk membantu
para mahasiswa dalam mencapai tujuan mata ajar Spiritualitas karya dan Caring
sehingga para mahasiswa mampu meningkatkan wawasan dan pengetahuannya.
Penulisan isi makalah ini masih jauh dari sempurna serta masih perlu
dikembangkan lebih lanjut lagi sebagaimana mestinya, mungkin hal ini
dikarenakan faktor kemampuan dan lain sebagainya yang menghambat proses
pembuatannya, namun untuk memenuhi tugas dengan dosen Sr. Sofie Gusnia CB.,
BSN., M.Kep ini, penulis berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan yang
terbaik. Oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan dari
semua pihak, guna untuk perbaikan dan kesempurnaan isi dari makalah ini.
Semoga makalah ini mampu memberikan konstribusi positif dan bermakna dalam
proses pembelajaran.
Akhir kata kami sebagai penulis mengucapkan terimakasih bagi semua
pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini.

Padalarang, Maret 2014

Penyusun

DAFTAR ISI

Kata Pengantar.......................................................................................................i
Daftar Isi.................................................................................................................ii
BAB I Pendahuluan
Latar Belakang.............................................................................................1
Tujuan Penulisan..........................................................................................2
Metodologi Penulisan...................................................................................3
Sistematika Penulisan...................................................................................3
BAB II Konsep Dasar
Tantangan dan Kesempatan........................................................................4
Konsep Terkait Budaya...............................................................................5
Karakterisktik Budaya...............................................................................12
Budaya dan Perawatan Kesehatan............................................................13
Perawatan yang Sensitive Secara Budaya................................................16
BAB III Penutup
Kesimpulan..............................................................................................19
Daftar Pustaka.....................................................................................................20
Lampiran..............................................................................................................21

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Hingga akhir abad pertengahan,agama, spiritualitas dan ilmu
kedokteran masih bercampur menjadi satu di Barat. Biara berfungsi juga
sebagai rumah sakit dan para dokternya adalah para biarawan/biarawati.
Sebagaimana Matthews (1999) menjelaskan, pada suatu masa, ilmu
kedokteran dan agama begitu berpadu sehingga otomatis seorang dokter
pasti seorang imam. Banyak kebudayaan di seluruh dunia masih
memandang juru sembuh mereka dalam alur pikir ini. Akan tetapi, selama
revolusi ilmu pengetahuan,kedokteran, spiritualitas, budaya dan agama
terpisah. Selama kurun waktu panjang, perawatan spiritualitas tidak
dipergunakan.
Dewasa ini, munculah bukti ilmiah yang menunjukkan hubungan
antar agama, spiritualitas dan kesehatan, (matthew,1999). Karena gerakan
yang cepat ke arah perawatan holisti dan masyarakat multikultural,
profesional perawatan kesehatan yang kompeten harus mengintegrasikan
kepekaan kultural dan spiritual dalam memperhitungkan perawatan
kesehatan bagi pasien.
Setiap manusia sederajad dan layak diperlakukan dengan baik,
bermartabat dan terhormat, tetapi tidak semua memiliki latar belakang
nilai,kepercayaan dan kultural yang sama. Amerika serikat telah
menunjukkan kebenaran pernyataannya melalui perpaduan khas antara
kaum pribumi dan bukan pribumi. Selanjutnya, karena kemajuan di bidang
teknologi, perjalanan dan sistem komunikasi orang dari berbagai latar
belakang budaya masih terus menikmati hubungan yang makin meningkat
satu dengan yang lain (Hithcock, schubert, dan Thomas,1999).

1
2
Dewasa ini profesional perawatan kesehatan di hadapkan pada tantangan
untuk menyelenggarakan suatu taraf perawatan yang menghormati nilai
kultural dan sistem kepercayaan kultural yang berlainan. Upaya memenuhi
kebutuhan yang bervariasi ini dalam masyarakat multi kultural sudah
menjadi bagian yang mutlak dalam perawatan kesehatan. Pemahaman dan
penghormatan akan manusia yang secara kultural berbeda dan berbeda
pula sistem kepercayaan spiritual mereka memungkinkan para profesional
perawatan kesehatan secara efektif memenuhi pasien akan perawatan
kesehatan khusus dan merupakan bagian penting dalam menyelenggarakan
perawatan spiritual dan klinis secara kultural kompeten.
Penyelenggaraan perawatan kesehatan harus mencakup perspektif
yang

lebih

holistik-

suatu

pandangan

yang

mencakup

seluruh

aspekjiwa,tubuh dan roh. Para profesional perawatan kesehatan yang


memahami arti penting integrasi kepekaan kultural dengan spiritualitas
dan efisien (Davidhizar,Bechtel dan jurato Vac,2000)
B. TUJUAN PENULISAN
a. Tujuan Umum
Mahasiswa S1 Keperawatan STIKes Santo Borromeus tingkat tiga
mampu memahami mengenai konsep dasar mengenai Keperawatan
dalam Dunia yang berbeda dari segi budaya.
b. Tujuan Khusus
1. Mahasiswa memahami mengenai pengertian dan konsep
budaya. Mahasiswa memahami adanya perbedaan dalam cara
pemberian perawatan pada pasien dengan budaya yang
berbeda.

3
C. METODOLOGI PENULISAN

Penulisan makalah ini diambil dari buku karangan Blais, Kathleen


Koenig, dkk. Praktik Keperawatan Profesional: Konsep & Perspektif.
Edisi 4 cetakan 1 dan Young, Carolin. Spiritualitas, Kesehatan, Dan
Penyembuhan.
D. SISTEMATIKA PENULISAN
Makalah ini terdiri dari 3 bab. Bab I, pendahuluan berisi tentang
latar belakang , tujuan penulisan, metodologi penulisan dan sistematika
penulisan. Bab kedua, landasan teori, berisi tentang tantangan dan
kesempatan, konsep terkait budaya, karakteristik budaya, perawatan yang
sensitive secara budaya, penyampaian sensitivitas budaya. Bab terakhir,
penutup, berisi tentang kesimpulan.

BAB II
KONSEP DASAR

A. TANTANGAN DAN KESEMPATAN


Tantangan bekerja di lingkungan yang budayanya berbeda menuntut perawat
terbuka terhadap perbedaan keyakinan mengenai sehat dan sakit, jenis tabib
budaya dan perilaku penyembuhan yang berbeda, dan penggunaan penyembuhan
praktik tradisional yang mungkin dianggap tidak teruji oleh praktisi kesehatan
modern. Membina rasa percaya dengan orang-orang yang keyakinannya berbeda
bergantung pada keinginan perawat untuk menerima perbedaan dan bekerja
dengan keyakinan klien yang berbeda untuk memengaruhi suatu hubungan yang
menyembuhkan. Keyakinan spiritual juga memengaruhi keyakinan kesehatan
klien. Apakah penyakit adalah karena kehendak Tuhan? Apakah hukuman karena
melakukan kejahatan? Dapatkah doa menyembuhkan? Dapatkah keyakinan
mencegah penyakit? Penting bagi perawat untuk menghargai keyakinan spiritual
klien dan mengintegrasikannya ke dalam hubungan yang menyembuhkan. Bekerja
dengan klien dari keyakinan budaya dan spiritual yang berbeda memberikan
perawat kesempatan untuk memperkaya kehidupan mereka sendiri melalui
pemahaman adanya perbedaan pada orang lain. Pengobatan tradisional seperti
akupuntur, masase, meditasi, dan beberapa herba semakin menunjukkan memiliki
efek menyembuhkan. Peneliti saat ini meneliti efek doa dan kepercayaan pada
kesehatan dan penyembuhan. Pengetahuan baru yang berasal dari keyakinan dan
praktik tradisional dapat memberikan cara baru dalam menyembuhkan dan
membantu.

4
5
B. KONSEP YANG TERKAIT BUDAYA

Budaya merupakan seluruh gagasan, adat istiadat, keterampilan seni,


dan kemampuan suatu bangsa atau kelompok, walau sebagai keseluruhan, ini
jauh lebih rumit dari pada unsur-unsur itu (Dossey et al., 2000, hal. 284).
Budaya membantu menentukan siapa mereka dan apa yang mereka imani;
budaya mempengaruhi cara manusia menghadapi hidup, sakit, penyakit,
kebiasaan makna, relasi dan perilaku hidup (Hitchcock, et al., 1999). Budaya
juga mempengaruhi cara penyelengaraan layanan kesehatan, pemahaman
tentang penyakit dan sakit dan cara perawatan diselenggarakan.
Perawat perlu memiliki informasi dan sensitif terhadap makna subjektif
sehat, sakit, perawatan, dan praktik penyembuhan yang berbeda secara
budaya dan spritual. suatu perspektif transkultural penting bagi perawat dan
profesional keperawatan agar dapat memberikan perawatan kesehatan yang
berkualitas untuk semua klien.
Profesianal perawatan kesehatan tidak diharapkan untuk mengetahui
dan memahami semua budaya dan agama di dunia akan tetapi,
memungkinkan bagi profesional parawatan kesehatan mengembangkan
kesadaran terhadap sistem keyakinan budaya dan spritual yang lazim di area
tempat mereka berpraktik.
Perawat harus menyadari bahwa meskipun orang dari kelompok suku
bangsa tertentu berbagi keyakinan,nilai,dan pengalaman tertentu, sering kali
juga terdapat banyak sekali diversitas intraetnik. Perbedaan utama sering
dikaitkan

dengan

usia,

jenis

kelamin,

tingkat

pendidikan,

status

sosioekonomi, afiliasi agama, dan daerah asal kampung halaman. Faktor ini
mempengaruhi keyakinan klien mengenai sehat dan sakit, praktik sehat dan
sakit,prilaku sehat,dan harapan profesional kesehatan.

Pada tahun 1991 American Nurses Association menyatakan bahwa budaya


adalah salah satu konsep mengorganisasi dan keperawatan dilandaskan dan
ditetapkan berdasarkan konsep tersebut. Perawat perlu memahami kelompok
budaya bgaimana mereka mendefinisikan sehat dan sakit, hal mengenai
memelihara kesehatan, hal mengenai penyebab sakit, bagaimana tatib
merawat dan menyembuhkan anggota-anggota kelompok budaya, dan
bagaimana latar belakang budaya perawat mempengaruhi cara perawat
memberikan

perawatan.

Karena

seorang

perawat

diharapkan

untuk

memberikan perawatan individual berdasarkan pengkajian fisiologis,


psikologis, dan status perkembangan klien, perawat harus memahami
bagaimana keyakinan dan praktik budaya klien dapat mempengaruhi
kesehatan dan penyakit klien. Perawat perlu memahami bagaimana keyakinan
spritual individu mempengaruhi pengambilan keputusan kesehatan mereka,
memberikan kekuatan selama sakit dan masa sulit, serta bagaimana
masyarakat beragama mereka dapat memberikan dukungan untuk kesehatan,
penyembuhan, dan akhir kehidupan menjelang ajal.
Semua kelompok orang menghadapi masalah yang sama dalam
beradaptasi dengan lingkungan mereka: penyediaan nutrisi dan tempat
tinggal, merawat dan mendidik anak-anak, pembagian tenaga kerja,
organisasi sosial, pengendalian penyakit, dan pemeliharaan kesehatan.
Pemahaman mengenai dimensi budaya manusia adalah fokus bidang
antropologi. Ahli antropologi budaya berusaha untuk memahami budaya
dengan meneliti persamaan dan perbedaan diantara kelompok manusia.
Perawat menggunakan informasi budaya yang didapat oleh ahli antropologi
budaya untuk memahami dan membantu klien mencapai kesehatan optimum.
Budaya adalah suatu pengalaman universal, tetapi tidak ada dua budaya
yang sama persis. Dua istilah penting mengidentifikasi perbedaan dan
persamaan antara orang-orang dari budaya yang berbeda.
7

Budaya-universal adalah kesamaan nilai, norma prilaku, dan pola hidup


diantara budaya yang berbeda. Budaya-spesifik adalah nilai, keyakinan, dan
pola prilaku yang cenderung unik untuk budaya yang dipilih dan tidak
cenderung dibagi dengan anggota budaya lain.
Ahli antropologi juga membagi budaya secara tradisional menjadi budaya
yang material dan nonmaterial. Budaya material mengacu pada benda (seperti
pakaian, seni, artifak, keagamaan, atau peralatan makan) dan cara bendabenda tersebut digunakan. Budaya nonmaterial mengacu pada keyakinan,
adat-istiadat, bahasa, dan lembaga sosial.
Istilah

budaya,

diversitas,

etnik,

dan

ras

sering

kali

tertukar

penggunaannya, tetapi istilah tersebut tidak sinonim. Budaya didefinisikan


sebagai pembelajaran, pembagian, dan pemindahan nilai, keyakinan, norma,
dan praktik cara hidup dari kelompok tertentu yang memandu pemikiran,
keputusan, dan tindakan dengan cara yang berpola (Leiniinger,1988,hal
158).
Bikultural mengacu integrasi dua budaya dalam individu. Bikulturisme
dapat merupakan integrasi budaya negara asal, atau tanah kelahiran, dengan
budaya negara baru. Nilai, keyakinan, ritual, dan tradisi kedua budaya dapat
dipraktikkan. Sebagai contoh, seorang anak laki-laki yang ayahnya Amerika
asli dan ibunya Amerika eropa dapat mempertahankan warisan tradisi
Amerika asli dan juga terpengaruh oleh nilai budaya ibunya.
Diversitas mengacu pada perbedaan ras, kesukuan, asal bangsa, agama,
usia, jenis kelamin, orientasi seksual, kemampuan/ketidakmampuan, status
sosioekonomi, pendidikan, dan atribut terkait kelompok orang di masyarakat
(Andrews dan Boyle,1999,hal. 5). Oleh karena itu diversitas terjadi tidak
hanya antara kelompok budaya,tetapi juga dalam kelompok etnik.

Istilah etnik mengacu pada sekelompok orang yang berbagi budaya yang
sama dan tersendiri dan yang merupakan anggota kelompok khusus.
Kelompok etnik adalah suatu subkelompok dari sistem sosial yang lebih besar
yang anggotanya memiliki nenek moyang, ras, karakteristik fisik atau
bangsa yang sama dan memiliki simbol budaya yang sama seperti bahasa,
gaya hidup, agama, dan karakteristik lain yang tidak benar-benar dipahami
atau dimiliki oleh orang luar (Andrews dan Boyle,1999,hal.10).
Ras adalah klasifikasi orang-orang berdasarkan karakteristik biologis, ciri
genetik, atau gambaran yang sama. Kelompok etnik yang berbeda dapat
termasuk dalam ras yang sama, dan budaya yang berbeda dapat ditemukan
pada kelompok etnik yang sama. Penting untuk dipahami bahwa tidak semua
orang dengan ras yang sama memiliki budaya yang sama.budaya sebaiknya
tidak dibingungkan baik oleh ras ataupun kelompok etnik.
Akulturasi adalah proses menjadi partisipan kompeten dalam budaya
dominan (Spector,2000,hal.76). Akulturasi yang disebut juga asimilasi,
adalah integrasi pola budaya yang dominan atau budaya tuan rumah kedalam
cara hidup seseorang, Spector menyatakan bahwa dibutuhkan tiga generasi
bagi keluarga untuk menjadi terasimilasi secara penuh kedalam budaya
Amerika.
Madeleine Leininger, seorang perawat ahli antropologi, menggambarkan
keperawatan traskultural sebagai studi mengenai budaya dan subbudaya yang
berbeda dengan memperhatikan keperawatan dan praktik, keyakinan, dan
nilai perawatan sehat sakit (1978,hal 493). Tujuannya adalah memberikan
asuhan keperawatan budaya-spesifik dan budaya-universal. Kesadaran
budaya dan sensitifitas budaya adalah prasyarat untuk memberikan asuhan
keperawatan yang kompeten secara budaya.

Kesadaran budaya adalah kesadaran dan pengakuan yang diinformasikan


mengenai perbedaan dan persamaan antara kelompok etnik atau budaya yang
berbeda.
Kesadaran budaya bukan pengetahuan yang semata-mata berasal dari mitos
dan stereotip. Sensitifitas budaya adalah penghargaan dan rasa hormat
tentang prilaku budaya berdasarkan pemahaman tentang perspektif orang lain.
Kompetensi budaya adalah memiliki pengetahuan, pemahaman dan
keterampilan terkait budaya yang berbeda yang memungkinkan seseorang
memberikan perawatan yang sesuai dan dapat diterima (Purnell dan
Paulanka,1998,hal.481). Oleh karena itu perawat yang kompeten secara
budaya bekerja dalam sistem keyakinan budaya klien untuk menyelesaikan
masalah kesehatan.
Syok budaya adalah status disorientasi atau tidak mampu berespon
terhadap lingkungan budaya yang berbeda karena keanehan,ketidakfamilieran, dan ketidakcocokan yang tiba-tiba dengan persepsi dan harapan
orang asing (Leininger,1978,hal.490).
Sebagai contoh, ketika imigran pertama kali memasuki Amerika Serikat,
perbedaan bahasa dan prilaku pada awalnya dapat menyebabkan kesulitan
bagi mereka dalam melaksanakan aktifitas normal. Orang-orang juga dapat
mengalami syok budaya ketika mereka secara tiba-tiba didesak kedalam
subbudaya perawatan kesehatan.

Wujud kebudayaan
Para ahli membedakan tiga wujud budaya, yaitu idies, activities, dan
artifacts. Kebudayaan ada tiga wujud yaitu :
a. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide, gagasan, nilainilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya.
10

Merupakan wujud ideal dari kebudayaan, sifatnya abstrak dan tidak


tampak. Merupakan isi dari pemikiran dan perkataan dimana budaya
itu hidup.

b. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan


berpola dari manusia dalam masyarakat. Disebut juga sebagai sistem
sosial (social system), adalah mengenai tindakan berpola manusia itu
sendiri. Sistim sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang
berinteraksi, berhubungan, serta bargaul satu dengan yang lain.
c. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. Disebut
sebagai kebudayaan fisik. Karena berupa seluruh total dan hasil fisik,
perbuatan dan karya manusia dalam masyarakat maka sifatnya paling
konkret.
Sistem kepercayaan kesehatan
Setiap kebudayaan memiliki sistem kepercayaanya sendiri. Sistem
kepercayaan ini menyediakan suatu kerangka kerja yang mempengaruhi
bagaimana manusia memandang dunia, termasuk sebab, pencegahan,
penanganan penyakit, dan promosi dan pemeliharaan kesehatan menentukan
aspek-aspek sistem kepercayaan yang berasal dari keanggotaan seseorang
dalam lembaga keagamaan atau spiritual yang berasal dari warisan budaya
kadang sulit.
Tanpa memperhatikan apakah kepercayaan tentang kesehatan berakar dari
budaya atau spiritualitas, sistem kepercayaan tentang kesehatan dibagi dalam
3 golongan utama: ilmiah atau biomedis, mistis religius, dan holistik (Andrew
dan Boyle, 1995; Dossey et al., 2000; Hitchcock et al., 1999; Leininger dan
McFarland, 1995; Luckmann, 1999; Miller, 1995).

11

1. Sistem Ilmiah atau Biomedis


Pendukung sistem kepercayaan akan kesehatan ilmiah atau biomedis
percaya bahwa kesehatan dan penyakit dikendalikan oleh serangkaian
proses fisik dan biomedis yang dapat di analisis dan dimanipulasi oleh
manusia. 4 konsep yang menjadi ciri sistem ini adalah :
a. Determinisme
: pandangan bahwa hubungan sebab akibat terdapat
dalam semua fenomena alami.
b. Mekanisme
: pandangan bahwa hidup serupa dengan struktur
dan fungsi mesin, dan kontrol dapat dilakukan melalui campur tangan
mekanistik dan rekayasa.
c. Reduksionisme : pandangan bahwa hidup dapat dibagi dalam
bagian-bagian yang lebih kecil dan terpisah, seperti pembagian jiwa
dan tubuh, untuk memudahkan studi tentang keseluruhan.
d. Materialisme objektif : pandangan bahwa yang nyata adalah hal yang
dapat diamati dan diukur.
Dalam sistem kepercayaan akan kesehatan ilmiah atau biomedis, penyakit
dipercayai timbul karena gangguan fisiologis. Penanganan tradisional
biasanya

mencakup

isolasi

terhadap

sistem

yang

salah

dan

memperbaikinya dengan menempatkan pasien di lingkungan yang asing,


seperti rumah sakit dan mengobatinya atau melakukan tindakan
pembedahan.
2. Sistem Mistis-religius
Pengikut sistem kepercayaan akan kesehatan mistis religius percaya bahwa
daya supranatural mempengaruhi kesehatan dan penyakit. Mereka percaya
bahwa nasib dunia ada di tangan Tuhan, dewa atau daya supranatural
mereka memandang bahwa penyakit merupakan tanda kelemahan,
hukuman atas perbuatan jahat, peringatan akan perilaku yang memalukan,
12
pelanggaran terhadap tabu, hilangnya jiwa, akibat ilmu sihir, atau akibat
dari kerasukan setan.
Contoh jenis sistem kepercayaan ini mencakup agama Kristen Saintis, dan
beberapa praktik penyembuhan suku hispanik, Afrika dan Karibia.

3. Sistem Holistik
Mereka yang mengikuti sistem kepercayaan holistik percaya bahwa dayadaya alam harus dijaga keseimbangannya, harmoni. Landasan utama dari
sistem ini adalah hukum akan mengatur segalanya dan setiap orang di
alam semesta. Sistem holistik lebih menekankan kesehatan daripada
mengobati penyakit. Kesejahteraan dan kesehatan terjadi ketika manusia
hidup

selaras

dengan

hukum

alam;

penyakit

berasal

dari

ketidakseimbangan atau harmoni yang koyak.

C. KARAKTERISTIK BUDAYA
Budaya menunjukkan beberapa karakteristik.
1. Budaya itu dipelajari. Budaya bukan berdasarkan naluri maupun
warisan. Budaya itu dipelajari melalui pengalaman hidup sejak lahir.
2. Budaya itu diajarkan. Budaya ditransmisikan dari orangtua ke anakanak melalui generasi secara berturut-turut. Semua binatang dapat
belajar tetapi, hanya manusi yang dapat mentransmisikan budaya.
Pola komunikasi verbal dan nonverbal adalah transmiter budaya.
3. Budaya bersifat sosial. Budaya berasal dan berkembang melalui
interaksi orang: keluarga, kelompok, dan komunitas.
4. Budaya bersifat adaptif. Adat istiadat, keyakinan, dan praktik
mengalami perubahan saat orang beradaptasi dengan lingkungan
sosial dan saat kebutuhan biologis dan psikologis orang berubah.
13
Beberapa norma tradisional dalam budaya dapat berhenti untuk
memberikan kepuasan dan dihilangkan.
5. Budaya itu memuaskan. Kebiasaan budaya bertahan hanya sepanjang
kebiasaan budaya tersebut memuaskan kebutuhan orang-orang.
Kepuasan memperkuat kebiasaan dan keyakinan. Ketika kebiasaan
dan keyakinan tidak lagi membawa kepuasan, kebiasaan dan
keyakinan tersebut dapat hilang.

6. Budaya itu sulit diartikulasikan. Anggota kelompok budaya tertentu


seringkali sulit menagrtikulasikan budaya meraka sendiri. Banyak
nilai dan perilaku yang bersifat kebiasaan dan dilakukan tanpa sadar.
7. Budaya ada pada banyak tingkat. Budaya paling mudah diidentifikasi
pada tingkat material. Konsep yang lebih abstrak, seperti nilai,
keyakinan, dan tradisi seringkali lebih sulit untuk dipelajari. Perawat
mungkin perlu mengajukan pertanyaan yang sensitif-budaya pada
klien atau individu pendukung untuk mendapatkan informasi ini.

D. BUDAYA DAN PERAWATAN KESEHATAN


Dua sistem perawatan kesehatan transkultural biasanya ada berdampingan
dengan kesadaran yang terbatas oleh praktisi di kedua sistem: sistem perawatan
kesehatan

asli

dan

sistem

perawatan

kesehatan

profesional((leininger,1993,hlm..36).
Model matahari terbit leininger
Leininger meghasilkan model matahari terbit untuk menggambarkan
teorinya mengenai difersitas dan universaltas perawatan budaya. Model
menekankan bahwa perawatan dan kesehatan dipengaruhi oleh unsur-unsur
struktur sosial seperti teknologi, faktor agama dan filosofi, pertalian keluarga dan
sisttem sosial, nilai budaya, faktor politik dan hukum, faktor ekonomi, dan faktor
penddikan. Faktor sosial ini dibahas dalam konteks lingkungan, ekspresi bahasa,
14
dan etnohistori. Masing-masing sistem ini adalah bagian sturktur sosial setiap
masyarakat; ekspresi, pola dan praktik keperawatan kesehatan juga merupan
bagan integral dari aspek struktur sosial (leininger,1993).

Faktor teknologi, seperti ketersediaan teknologi dan perakatan listrik, sangan


menentukan peralatan kesehatan apa yang digunaka.sistem ekonomi menentukan
kulaitas perawatan kwesehatan dalam budaya.
Sistem politik adalah determinan utama program kesehatan apa yang akan
tersedia dan praktisi kesehatan mana yang dapat memberika layanan kesehatan.
Aspek hukum mengatur peran, fungsi, dan standar profesional kesehatan dalam
budaya. Pertalian keluarga dan sistem sosial seringkali mempengaruhi siapa yang
akan atau tidak akan medapatkan perawatan kesehatan dan seberapa cepat
perawatan kesehatan diberikan. Faktor budaya, pendidikan, agama, dan filosofi
berhubungan erat. Faktor ini mempengaruhi jenis, kualitas, dan kuantitas
perawatan kesehatan yang dianggap diinginkan, tepat, atau dapat diterima oleh
budaya.faktor demografi dan lingkungan yang terkait dengan kebutuhan kesehatan
budaya dan strategi perawatan dapat digunakan di lingkungan tersebut.

15

Sumber :

Andrews, Margaret M & Boyle, Joyceen S. 2008. Transcultural Concepts in


Nursing Care. Lippincott Williams & Wilkins: Wolters Kluwer Health
16

E. PERAWATAN YANG SENSITIVE SECARA BUDAYA


Kitler dan sucher (1990) menggambarkan proses empat langkah untuk
memperbaiki sensitifitas budaya:
a) Menyadari warisan budaya mereka sendri, perawatan sebaiknya
mengidentifikasi nilai dan keyakinan buaya mereka sendiri.
b) Menyadari budaya klien seperti yang digambarkan oleh klien. Penting
untuk menghindari menganggap bahwa semua orang dari latar belakang
etnik yang sama. Ketika perawat memiliki pengetahuan mengenai budaya
klien, saling menghargai antara klien dan perawat lebih besar
kemungkinannya untuk dibina.
c) Menyadari adaptasi klien yang dilakukan untuk hidup dalam budaya.
Selama wawancara ini, perawat dapat juga mengidentifikasi pilihan klien
dalam hal praktik kesehatan, diet, higiene, dan sebagainya.
d) Menyusun rencana asuhan keperawatan dengan klien

yang

menggabungkan budayanya. Dengan cara ini, nilai, praktik, dan


keyakinan budaya dapat digabungkan dengan perawatan dan penilaian.
1. Hambatan Terhadap Sensitifitas Budaya
Banyak faktor yang dapat menjadi barier untuk memberikan
perawatan yang sensitif secara budaya atau perawatan yang sesuai dengan
budaya kepada klien dan indifidu pendukungnya.
Etnosentrisme mengacu pada keyakinan

individu

bahwa

keyakinan dan nilai budayanya lebih unggul dari budaya lain. Dalam
bidang perawatan kesehatan, enosentrisme berarti bahewa satu-satunya
keyakinan dan praktik perawatan kesehatan yang valid dipegang oleh
perawatan kesehatan. Akan tetapi, perawat yang menggunakan pandangan
transkultural atau menghargai keyakinan dan praktik mereka sendiri serta
menghargai keyakinan dan praktik orang lain.
17
Sebagian besar orang secara bertahap terpajan dengan keyakinan,
nilai, dan praktik budaya mereka selama bertahun-tahun yang dimulai
sejak mereka lahir.
Etnosentrisme diperkirakan disebabkan oleh kurangnya pemanjanan atau
kurang pengetahuan mengenai budaya orang lain selain budayanya.

Etnorelatifitas adalah kemampuan untuk menghargai dan menghormati


sudut pandang orang lain yang berbeda dari sudut pandang yang
dimilikinya.
Memberi stereotip adalah menganggap bahwa semua anggota
kelompok atau etnik adalah sama. Stereotip dapat dilandaskan pada
generalisasi yang ditemukan didalam penelitian atau dapat juga tidak
dikaitkan kepada realita. Penting bagi perawat untuk menyadari bahwa
tidak semua orang pada kelompok tertentu memiliki keyakinan, praktik,
dan nilai kesehatan yang sama. Persepsi atau gambaran tetap suatu
kelompok yang menolak keberadaan individualitas dalam kelompok
tersebut.
Prasangka adalah pendapat yang dipegang kuat mengenai
beberapa topik atau kelompok orang. Prasangka dapat positif atau negatif.
Prasangka positif yaitu, keyakinan yang dipegang kelompok budaya
seseorang lebih unggul daripada keyakinan yang dipegang oleh kelompok
budaya lain.
Diskriminasi adalah perlakuan yang berbeda dari seseorang atau
kelompok terhadap yang lain berdasarkan ras, kesukuan jenis kelamin,
usia, kelas sosial, disabilitas, preferensi seksual, atau karakteristik
pembeda lainnya.
Rasisme merupakan bentuk diskriminasi yang terkait dengan
etnosentrisme saat meyakini bahwa ras adalah determinan utama sifat
manusia dan kapasitas manusia dan bahwa perbedaan ras menimbulkan
superioritas yang mmelekat pada suatu ras tertentu.
18
2. Penyampaian Sensitifitas Budaya
Penting bagi perawat untuk

sensitif

secara

budaya

dan

menyampaikan sensitifitas ini kepada klien, individu pendukung, dan


personel perawatan kesehatan lain. Beberapa cara untuk melakukannya
adalah sebagai berikut.
a. Selalu panggil klien dengan nama belakangnya sampai mereka
memberi anda ijin untuk mengguanakan nama lain.

b. Ketika bertemu seseorang untuk pertama kalinya, perkenalkan diri


anda dengan menyebutukan nama, dan, apabila tepat, jeaskan posisi
anda.
c. Bersikap jujur tehadap orang dan ceritakan keterbatasan pengetahuan
anda nmengenai budaya mereka.
d. Gunakan bahasa yang sensitif secara budaya
e. Cari tahu apa yang diketahui klien mengenai masalah kesehatn,
penyakit, dan terapinya.
f. Jangan membuat asumsi apapun mengenai klien dan sealu tanyakan
mengenai setiap hal yang anda tidak mengerti.
g. Harga nilai, keyakinan, dan praktik klien walaupun berbeda dari yang
anda miliki atau dari budaya yang dominan.
h. Tunjukan rasa hormat yang mendukung klien dalam beberapa budaya
pria dalam keluarga mengambil keputusan yang mempengaruhi klien
sementara dalam budaya lain wanita yang mengambil keputusan.
i. Lakukan upaya kesepakatan untuk mendapatkan rasa percaya klien,
tetapi jangan terkejut apabila berkembangnya perlahan atau tidak
berkembang sama sekali

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Perawat harus memahami bagaimana keyakinan budaya dan spiritual yang mereka
miliki terkait dengan orang-orang yang keyakinannya berbeda. Profesional
perawatan kesehatan tidak diharapkan untuk mengetahui dan memahami semua
budaya di dunia; akan tetapi, memungkinkan bagi perawat kesehatan untuk

mengembangkan kesadaran terhadap sistem keyakinan budaya di tempat mereka


berpraktik.

19

DAFTAR PUSTAKA

Andrews, Margaret M & Boyle, Joyceen S. 2008. Transcultural Concepts in


Nursing Care. Lippincott Williams &
Wilkins: Wolters Kluwer Health.
Blais, Kathleen Koenig, dkk. 2007. Praktik Keperawatan Profesional: Konsep &
Perspektif. Edisi 4 cetakan 1. Jakarta : EGC.

Sutrisno, Mudji & Putranto, Hendar. 2007. Teori-Teori Kebudayaan. Cetakan 3.


Yogyakarta : Kanisius.
Young, Carolin. Spiritualitas, Kesehatan, Dan Penyembuhan. 2007. Jakarta : Bina
Media Perintis.

20
LAMPIRAN

Role Play Kelompok 2


Pemeran :
1.
2.
3.
4.
5.

Satrio
Nani
Diana
Etrine
Riani

: pasien (budaya sunda)


: pasien ibu hamil (budaya kalimantan)
: pasien (budaya batak)
: perawat
: perawat

6. Eka

: narator

Suatu hari ada 3 pasien yang dirawat di rumah sakit dengan budaya yang berbeda-beda.
Siang hari Seorang perawat masuk ke dalam kamar pasien bed 1.
Riani

: selamat siang, ibu Diana Sirait. Saya suster riani yang akan merawat ibu siang
ini sampai nanti jam 8 malam nanti.

Diana : iya siang, suster.


Riani

: bagaimana bu siang ini, apakah ada keluhan?

Diana :masih pusing saja.


Riani

: baik bu, nanti akan saya laporkan ke dokter.

Diana : trimakasih suster, oya tadi teman saya ada yang membawa daging babi untuk
saya, apa boleh saya makan daging babi itu suster?
Riani

: ibu, kemarin dari hasil pemeriksaan kolesterol ibu kan tinggi jadi ibu tidak
boleh mengkonsumsi makanan yang mengandung kolesterol seperti daging babi.

21
22
Diana : tapi, suster saya suka daging babi, dalam seminggu saya harus 3x makan daging
itu.
Riani

: nanti kalau kolesterol ibu bertambah tinggi bagaimana? Nanti pusing nya tidak
hilang-hilang, jadi sebaiknya ibu jangan makan daging babi dulu, lebih baik ibu
mengkonsumsi makanan dari rumah sakit saja.

Diana : oh begitu ya. Baiklah, suster.


Riani

: iya, ibu. Kalau begitu suster tinggal dulu ya, jika ibu butuh bantuan tekan bel
saja ya.

Diana : iya, suster. Terimakasih.


Ibu Diana mau menerima untuk tidak makan daging babi, walaupun ia sangat suka daging
tersebut. Ia mau mengkonsumsi makanan dari rumah sakit agar kondisi nya bertambah
baik.

Di ruangan selanjutnya ada pasien baru yang memiliki budaya dari sunda, ia sudah 4 hari
BAB encer dan ia tidak pergi ke rumah sakit, ia justru pergi ke dukun.
Etrine : selamat siang, pak. Dengan bapak siapa?
Satrio : siang, suster. Saya pak Udin.
Etrine : boleh suster lihat gelangnya?
Pak Udin, saya suster Etrine yang akan merawat bapak dari siang ini sampai
dengan jam 8 malam nanti. Apa keluhan bapak saat ini?
Satrio

: ini suster mules, terus lemes. Udah BAB 4X dari tadi pagi.

Etrine

: sejak kapan bapak merasa seperti itu ?

Satrio

: udah 4 hari yang lalu,suster. Baru ke rumah sakit sekarang.

Etrine

: sebelum ke rumah sakit apa ada obat yang bapak konsumsi?


23

Satrio

: tidak ada, suster. Cuma saya teh sempet pergi ke dukun 3 hari yang lalu, terus
dikasih jamu.

Etrine

: kalau boleh tau kenapa bapak pergi dukun?

Satrio

: di budaya saya mah, kalau sakit teh harus pergi ke dukun dulu baru boleh ke
rumah sakit. Di tempat saya dukun teh hebat bisa nyembuhin segala macam
penyakit.

Etrine

: oh begitu, lalu apa kondisi bapak membaik?

Satrio

: tidak,sus.malah tetap seperti ini makanya saya pergi ke rumah sakit.

Etrine

: baiklah, pak. Nanti saya akan memberikan obat yang sudah diresepkan dari
dokter.

Satrio

: iya, suster terimakasih.

Suster Etrine pun segera menyiapkan obat yang sudah diresepkan oleh dokter untuk
bapak Udin.

Di ruangan lain ada pasien yang sedang hamil, saat jam makan siang suster Riani
mengantarkan makanan ke ruangan ibu tersebut.
Riani

: selamat siang ibu nani, ini makan siangnya.

Nani

: selamat siang, sus. Simpan saja di meja, sus, saya belum mau makan.

Riani

: baik, bu. Suster simpan disini ya, bu.


Kalau begitu suster tinggal ya.

Nani

: iya suster terimakasih.

24
Saat ibu Nani mau makan siang, ibu Nani melihat makanan nya dan langsung memanggil
suster dengan menekan bel. Lalu suster Etrine pun segera datang.
Etrine : iya,bu Nani. Ada yang bisa suster bantu?
Nani

: ini,sus bisa tidak makanan nya diganti? karena saya tidak makan ikan.

Etrine : loh kenapa,bu? Ikan itu kan mengandung protein yang bagus untuk kandungan
ibu.
Nani

: iya, tapi menurut kepercayaan saya kalau lagi hamil saya ga boleh makan ikan,

saya takut anak saya nanti bau amis atau kulitnya nanti bersisik.

Etrine : oh begitu, baik,bu. Suster ganti makanannya ya, bu. Bagaimana kalau diganti
tahu dan tempe?
Nani

: nah, iya itu saja sus. terimakasih ya, sus.

Etrine : sama-sama, bu Nani.

Akhirnya makanan tersebut diganti dengan makanan yang mengandung protein juga
selain ikan. Demikian role play kelompok kami mengenai keperawatan yang berbeda
secara budaya.