Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN HARGA DIRI RENDAH

I. Kasus (Masalah Utama)


Gangguan konsep diri : harga diri rendah
II. Proses Terjadinya Masalah
1.

Pengertian
Gangguan harga diri rendah digambarkan sebagai perasaan yang
negatif terhadap diri sendiri, termasuk hilangnya percaya diri dan harga
diri, merasa gagal mencapai keinginan. (Budi Ana Keliat, 1999).
Individu cenderung untuk menilai dirinya negative dan merasa lebih
rendah dari orang lain (Depkes RI, 2000). Gangguan harga diri atau harga
diri rendah dapat terjadi secara :
a.

Situasional, yaitu terjadi trauma yang tiba-tiba, misal harus operasi,


kecelakaan, dicerai suami, putus sekolah, putus hubungan kerja dll.
Pada klien yang dirawat dapat terjadi harga diri rendah karena privacy
yang kurang diperhatikan : pemeriksaan fisik yang sembarangan,
pemasangan

alat

yang

tidak

sopan

(pemasangan

kateter,

pemeriksaan perianal, dll), harapan akan struktur, bentuk dan ffungsi


tubuh yang tidak tercapai karena dirawat/sakit/penyakit, perlakuan
petugas yang tidak menghargai.
b.

Kronik, yaitu perasaan negatif terhadap diri telah berlangsung lama.


Harga diri rendah kronis adalah evaluasi diri/perasaan tentang diri
atau kemampuan diri yang negative dan dipertahankan dalam waktu
yang lama (NANDA, 2005).

2.

Faktor Predisposisi dan Presipitasi


Faktor predisposisi terjadinya harga diri rendah kronis adalah
penolakan orang tua yang tidak realistis, kegagalan berulang kali, kurang
mempunyai tanggung jawab personal, ketergantungan pada orang lain,
ideal diri yang tidak realistis.
Faktor presipitasi terjadinya harga diri rendah adalah hilangnya
sebagian anggota tubuh, berubahnya penampilan atau bentuk tubuh,

mengalami kegagalan, serta menurunnya produktifitas. Gangguan konsep


diri: harga diri rendah kronis ini dapat terjadi secara situasional maupun
kronik (Direja, 2011).
Menurut

Coopersmith

(1967)

ada

beberapa

faktor

yang

mempengaruhi harga diri, yaitu:


a. Penghargaan dan penerimaan dari orang-orang yang signifikan
Harga diri seseorang dipengaruhi oleh orang yang dianggap penting
dalam kehidupan individu yang bersangkutan (misal, orang tua)
b. Kelas Sosial dan Kesuksesan
Kedudukan kelas sosial dapat dilihat dari pekerjaan, pendapatan dan
tempat tinggal.
c. Nilai dan inspirasi individu dalam menginterpretasi pengalaman
Kesuksesan yang diterima oleh individu tidak mempengaruhi harga diri
secara langsung melainkan disaring terlebih dahulu melalui tujuan dan
nilai yang dipegang oleh individu.
d. Cara individu dalam menghadapi evaluasi
Individu dapat meminimalisasi ancaman berupa evaluasi negatif yang
datang dari luar dirinya. Mereka dapat menolak hak dari orang lain
yang memberikan penilaian negatif terhadap diri mereka.
3.

Proses Terjadinya
Harga diri seseorang diperoleh dari diri sendiri dan orang lain.
Gangguan harga diri rendah akan terjadi jika kehilangan kasih sayang,
perlakuan orang lain yang mengancam dan hubungan interpersonal yang
buruk. Tingkat harga diri seseorang berada dalam rentang tinggi sampai
rendah. Individu yang memiliki harga diri tinggi menghadapi lingkungan
secara aktif dan mampu beradaptasi secara efektif untuk berubah serta
cenderung merasa aman. Individu yang memiliki harga diri rendah melihat
lingkungan dengan cara negative dan menganggap sebagai ancaman
(Direja, 2011).
Harga diri rendah kronis terjadi akibat proses kelanjutan dari harga
diri rendah situasional yang tidak diselesaikan atau dapat juga terjadi
karena individu tidak pernah mendapat feed back dari lingkungan tentang

perilaku klien sebelumnya bahkan mungkin kecenderungan lingkungan


yang selalu memberi respon negative mendorong individu menjadi harga
diri rendah.
Harga diri rendah kronis terjadi disebabkan banyak faktor. Awalnya
individu berada pada suatu situasi yang penuh dengan stressor (krisis),
individu berusaha menyelesaikan krisis tetapi tidak tuntas sehingga timbul
pikiran bahwa diri tidak mampu atau merasa gagal menjalankan fungsi
dan peran. Penilaian individu terhadap diri sendiri karena kegagalan
menjalankan fungsi dan peran adalah kondisi harga diri rendah
situasional, jika lingkungan tidak memberi dukungan positif atau justru
menyalahkan

individu

dan

terjadi

secara

terus

menerus

akan

mengakibatkan individu mengalami harga diri rendah kronis (Direja, 2011).


4.

Rentang Respon

Respon adaptif

Respon

Maladaptif
Aktualisasi
Depersonalisai
Diri

Konsep Diri
Positif

HDR

Kerancuan
Identitas

Harga diri rendah merupakan komponen Episode Depresi Mayor,


dimana aktifitas merupakan bentuk hukuman atau punishment (Stuart &
Laraia, 2005). Depresi adalah emosi normal manusia, tapi secara klinis
dapat bermakna patologik apabila menganggu perilaku sehari-hari,
menjadi pervasive dan muncul bersama penyakit lain.
Menurut NANDA (2005) tanda dan gejala yang dimuculkan sebagai
perilaku telah dipertahankan dalam waktu yang lama atau kronik yang
meliputi mengatakan hal yang negative tentang diri sendiri dalam waktu
lama dan terus-menerus, mengekspresikan sikap malu/minder/rasa
bersalah,

kontak

mata

kurang/tidak

ada,

selalu

mengatakan

ketidakmampuan/kesulitan untuk mencoba sesuatu bergantung pada


orang lain, tidak asertif, pasif dan hipoaktif, bimbang dan ragu-ragu serta
menolak umpan balikpositif dan membesarkan umpan balik mengenai
dirinya
Mekanisme koping jangka pendek yang biasa dilakukan klien harga
diri rendah adalah kegiatan yang dilakukan untuk lari sementara dari
krisis, misalnya pemakaian obat-obatan, kerja keras, nonton TV terus
menerus.

Kegiatan

mengganti

identitas

sementara,

misalnya

ikut

kelompok social, keagamaan dan politik. Kegiatan yang memberi


dukungan sementara, seperti mengikuti suatu kompetisi dan kontes
popularitas. Kegiatan mencoba menghilangkan anti identitas sementara,
seperti penyalahgunaan obat-obatan
Jika mekanisme koping jangka pendek tidak memberi hasil yang
diharapkan individu akan mengembangkan mekanisme koping jangka
pendek, antara lain menutup identitas, dimana klien terlalu cepat
mengadopsi identitas yang disenangi dari orang-orang yang berarti tanpa
mengindahkan hasrat, aspirasi, atau potensi diri sendiri. Identitas
negative, dimana asumsi yang bertentangan dengan nilai dan harapan
masyarakat. Sedangkan mekanisme pertahanan ego yang sering
digunakan

adalah

fantasi,

regresi,

disasosiasi,

isolasi,

proyeksi,

mengalihkan marah berbalik pada diri sendiri dan orang lain. Terjadinya
gangguan konsep harga diri rendah kronis juga di pengaruhi beberapa
faktor presdisposisi seperti faktor biologis, psikologis, social, dan kultural
(Direja, 2011).
5.

Tanda dan Gejala


Manifestasi yang bisa muncul pada klien gangguan jiwa dengan
harga diri rendah adalah (Fitria, 2009)

Mengkritik diri sendiri


Perasaan tidak mampu
Pandangan hidup yang pesimistis
Tidak menerima pujian
Penurunan produktifitas
Penolakan terhadap kemampuan diri

Kurang memperhatiakn perawatan diri


Berpakaian tidka rapi serta, selera makan berkurang, tidak berani

menatap lawan bicara


Lebih banyak menunduk
Bicara lambat dengan nada suara lemah
Coopersmith (1967) mengemukakan ciri-ciri individu sesuai dengan

tingkat harga dirinya:

Menganggap dirinya sebagai orang yang tidak berharga dan tidak


sesuai, sehingga takut gagal untuk melakukan hubungan sosial. Hal
ini sering kali menyebabkan individu yang memiliki harga diri yang
rendah, menolak dirinya sendiri dan tidak puas akan dirinya.

Sulit mengontrol tindakan dan perilakunya tehadap dunia luar dirinya


dan kurang dapat menerima saran dan kritikan dari orang lain.

Tidak menyukai segala hal atau tugas yang baru, sehingga akan sulit
baginya untuk menyesuaikan diri dengan segala sesuatu yang belum
jelas baginya.

Tidak yakin akan pendapat dan kemampuan diri sendiri sehingga


kurang berhasil dalam prestasi akademis dan kurang dapat
mengekspresikan dirinya dengan baik.

Menganggap diri kurang sempurna dan segala sesuatu yang


dikerjakannya akan selalu mendapat haslil yang buruk, walaupun dia
telah berusaha keras, serta kurang dapat menerima segala
perubahan dalam dirinya.

Kurang memiliki nilai dan sikap yang demokratis serta orientasi yang
kurang realisitis.

Selalu merasa khawatir dan ragu-ragu dalam menghadapi tuntutan


dari lingkungan.

6.

Penatalaksanaan

Mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang masih dimiliki


klien, dengan cara mendiskusikan bahwa klien masih memiliki

sejumlah kemampuan dan aspek positif seperti kegiatan pasien di


rumah, adanya keluarga dan lingkungan terdekat klien

Beri pujian yang realistic / nyata dan hindarkan penilaian negative


setiap kali bertemu dengan klien

Membantu klien menilai kemampuan yang dapat digunakan saat ini

Menyebutkannya dan memberi penguatan terhadap kemampuan diri


yang diungkapkan klien

Perlihatkan respon yang positif dan menjadi pendengar yang aktif

Membantu klien memilih / menetapkan kegiatan sesuai dengan


kemampuan dengan cara mendiskusikan beberapa aktivitas yang
dapat dilakukan dan dipilih sebagai kegiatan yang akan dilakukan
sehari-hari

Bantu klien menetapkan aktivitas mana yang dapat dilakukan secara


mandiri, mana aktivitas yang memerlukan bantuan minimal dari
keluarga dan aktivitas apa saja yang perlu bantuan penuh dari
keluarga atau lingkungan terdekat klien

Berikan contoh cara pelaksanaan aktivitas yang dapat dilakukan


klien. Susun bersama klien dan buat daftar aktivitas atau kegiatan
sehari-hari

Melatih kegiatan klien yang sudah dipilih sesuai kemampuan dengan


cara memperagakan beberapa kegiatan yang akan dilakukan pasien

Berikan dukungan dan pujian yang nyata setiap kemajuan yang


diperlihatkan klien

Membantu

klien

dapat

merencanakan

kegiatan

sesuai

kemampuannya yaitu memberi kesempatan pada klien untuk


mencoba kegiatan yang telah dilatihkan

Beri pujian atas aktivitas / kegiatan yang dapat dilakukan klien setiap
hari

Tingkatkan kegiatan sesuai dengan tingkat toleransi dan perubahan


setiap aktivitas

Susun daftar aktivitas yang sudah dilatihkan bersama klien dan


keluarga

Berikan

kesempatan

mengungkapkan

perasaannya

setelah

pelaksanaan kegiatan

Yakinkan bahwa keluarga mendukung setiap aktivitas yang dilakukan


klien

III. Pohon Masalah


Isolasi sosial : menarik diri

Gangguan konsep diri : Harga diri rendah

Berduka disfungsional
IV. Masalah Keperawatan dan Data yang Perlu Dikaji
1.

2.

Masalah keperawatan
a.

Isolasi sosial : menarik diri

b.

Gangguan konsep diri : harga diri rendah

c.

Berduka disfungsional
Data yang perlu dikaji

a. Data Subyektif
Klien mengatakan saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa,
bodoh, mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu
terhadap diri sendiri.
b. Data Obyektif
Klien terlihat lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternatif
tindakan, ingin mencederai diri/ingin mengakhiri hidup.
V. Diagnosa Keperawatan
1.

Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah

2.

Gangguan konsep diri : harga diri rendah berhubungan dengan berduka


disfungsional.

VI. Rencana Tindakan Keperawatan


a.

Tujuan umum : klien tidak terjadi gangguan konsep diri : harga


diri rendah/klien akan meningkat harga dirinya.

b.

Tujuan khusus :
1.

Klien dapat membina hubungan saling percaya


Tindakan :
Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, perkenalan diri,
jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat
kontrak yang jelas (waktu, tempat dan topik pembicaraan)
Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya
Sediakan waktu untuk mendengarkan klien
Katakan kepada klien bahwa dirinya adalah seseorang yang
berharga dan bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya
sendiri

2.

Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek


positif yang dimiliki
Tindakan :
Klien

dapat

menilai

kemampuan

yang

dapat

Diskusikan

kemampuan dan aspek positif yang dimiliki


Hindarkan memberi penilaian negatif setiap bertemu klien,
utamakan memberi pujian yang realistis
Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
3.

digunakan
Tindakan :
Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan setelah pulang
ke rumah

4.

Klien dapat menetapkan / merencanakan kegiatan


sesuai dengan kemampuan yang dimiliki

Tindakan :

Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap


hari sesuai kemampuan

Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien

Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan

5.

Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi dan


kemampuan
Tindakan :

Beri kesempatan mencoba kegiatan yang telah direncanakan

Beri pujian atas keberhasilan klien

Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah

6.

Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang


ada
Tindakan :

Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat


klien

Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat

Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah

Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga

DAFTAR PUSTAKA
Azis R, dkk. Pedoman asuhan keperawatan jiwa. Semarang : RSJD Dr. Amino
Gondoutomo. 2003
Boyd MA, Hihart MA. Psychiatric nursing : contemporary practice. Philadelphia :
Lipincott-Raven Publisher. 1998
Depkes RI. 2000. Keperawatan Jiwa: Teori dan Tindakan Keperawatan Jiwa.
Jakarta: Depkes RI
Direja AHS. 2011. Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Nuha Medika
Fitria, N. 2009. Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan dan
Strategi Pelaksanaan Tindakan. Jakarta: Salemba Medika
Keliat BA. Proses kesehatan jiwa. Edisi 1. Jakarta : EGC. 1999
Keliat, B.A. 1992. Hubungan Terapeutik Perawatan Klien. Jakarta: EGC
Stuart GW, Sundeen SJ. Buku saku keperawatan jiwa. Edisi 3. Jakarta : EGC. 1998
Tim Direktorat Keswa. Standar asuhan keperawatan kesehatan jiwa. Edisi 1.
Bandung : RSJP Bandung. 2000
Towsend, MC. 1998. Diagnosa Keperawatan Psiakiatri. Edisi 3. Jakarta: EGC