Anda di halaman 1dari 12

LABORATORIUM PILOT PLANT

SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN 2015/2016


MODUL

: Shell & Tube Heat Exchangers

PEMBIMBING

: Ir. Emma Hermawati

Tanggal Praktikum : 16 November 2015


Tanggal Penyerahan :

Oleh :
Kelompok

: 11

Nama

: 1. Suci Sucilawati
2. Dila Adila

Kelas

131411029
131411059

: 3A

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2015

BAB I
PENDAHULUAN
I.1

Latar Belakang

Dengan demikian banyaknya industri yang berkembang, maka dituntut kepada setiap
manusia untuk memiliki pengetahuan dan kemahiran (skill) dalam suatu bidang pekerjaan.
Karakteristik penting yang harus diperhatikan dalam tahap perancangan Alat penukar panas
dan sitem thermal diantaranya adalah performasi dan kehandalan. Salah satu cara yang
ditempuh untuk meningkatkan efisiensi thermal adalah dengan mengunakan Alat Penukar
Panas. Adapun beberapa jenis alat penukar panas yang digunakan adalah Superheater,
Ekonomizer, Feed Water Heater, kondensor, Heat Exchanger dan lain sebagainya.
Untuk menguasai teknik tentang heat exchanger baik dalam pengoperasian, maka harus
memahami prinsip-prinsip dasar cara kerja heat exchanger. Sesuai dengan namanya, heat
exchanger adalah sebuah peralatan, dimana melakukan perpindahan panas (kalor) antara dua
jenis fluida yang mengalir dan memiliki beda temperature.Untuk meningkatkan efisiensi dari
penukar panas ini dipasang sekat (buffle). Pemasangan sekat bertujuan membuat aliran
didalam cangkang bergolak (turbulen) yang berakibat juga bertambahnya waktu tinggal
(residence time) fluida. Namun, kerugian pemasangan sekat ini adalah naiknya beban kerja
karena bertambahnya beban pompa. Bahan penukar panas ini dipilih berdasarkan fluida yang
digunakan, biasanya terbuat dari logam dan paduannya. Selain itu kondisi operasi dengan
tekanan tinggi, sifat fluida yang korosif dan juga suhu dalam alat yang tidak seragam juga
menjadi pertimbangan pemilihan bahan penukar panas ini.
Bentuk dan rancangan STHE sangat beragam, pemakaiannya pun dapat berupa penukar
panas biasa, kondensor, reboiler, evaporator, boiler dan lainnya.
I.2 Tujuan
1. Memahami cara kerja peralatan shell and tube.
2. Menghitung koefisien pindah panas keseluruhan (U) dengan cara neraca energi dan
menggunakan persamaan empiris.
3. Mengetahui pengaruh laju alir fluida terhadap koefisien pindah panas keseluruhan (U).
4. Menghitung efisiensi pindah panas dari kalor yang dilepas dan kalor yang diterima fluida.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian ilmiah dari heat exchanger adalah sebuah alat yang berfungsi untuk mentransfer
energi panas (entalpi) antara dua atau lebih fluida, antara permukaan padat dengan fluida,
atau antara partikel padat dengan fluida, pada temperatur yang berbeda serta terjadi kontak
termal. . Biasanya, medium pemanas dipakai adalah air yang dipanaskan sebagai fluida panas
dan air biasa sebagai air pendingin (cooling water). Penukar panas dirancang sebisa mungkin
agar perpindahan panas antar fluida dapat berlangsung secara efisien. Pertukaran panas
terjadi karena adanya kontak, baik antara fluida terdapat dinding yang memisahkannya
maupun keduanya bercampur langsung (direct contact). Heat Exchanger dapat digunakan
sebagai alat pembuang panas, alat sterilisasi, pesteurisasi, pemisahan campuran, distilisasi
(pemurnian, ekstraksi), pembentukan konsentrat, kristalisasi, atau juga untuk mengontrol
sebuah proses fluida. Heat Exchanger sangat luas dipakai dalam industri seperti kilang
minyak, pabrik kimia maupun petrokimia, industri gas alam, refrigerasi, pembangkit listrik.
Sebagai salah satu contoh sederhana dari alat penukar panas adalah radiator mobil di mana
cairan pendingin memindahkan panas mesin ke udara sekitar.
2.1.

Shell and Tube Heat Exchanger


Heat exchanger tipe shell & tube menjadi satu tipe yang paling mudah dikenal. Tipe ini

melibatkan tube sebagai komponen utamanya. Salah satu fluida mengalir di dalam tube,
sedangkan fluida lainnya mengalir di luar tube. Pipa-pipa tube didesain berada di dalam
sebuah ruang berbentuk silinder yang disebut dengan shell, sedemikian rupa sehingga pipapipa tube tersebut berada sejajar dengan sumbu shell. Shell and tube heat exchanger
mengandung beberapa tube sejajar di dalam shell. Shell and tube heat exchanger digunakan
saat suatu proses membutuhkan fluida untuk dipanaskan atau didinginkan dalam jumlah
besar. Berdasarkan desainnya, shell and tube heat exchanger menawarkan area penukaran
panas yang besar dan menyediakan efisiensi perpindahan panas yang tinggi. Untuk membuat
perpindahan panas yang lebih baik dan untuk menyangga tube yang ada di dalam shell, maka
sering dipasang baffle. Efektifitas perpindahan panas meningkat dengan dipasangnya baffle.
Efektifitas meningkat seiring dangan mengecilnya jarak antar baffle hingga suatu jarak
tertentu kemudian menurun. Shell and tube heat exchanger merupakan bejana tekanan
dengan banyak tube didalamnya. Pada suatu proses, fluida mengalir melalui tube pada
exchanger saat fluida lainnya mengalir keluar tube yang berada di antara shell. Fluida pada
sisi tube dan pada sisi shell terpisah oleh tube sheet.
2.2. Prinsip Kerja Shell and Tube Heat Exchangers

Penukar panas jenis ini terdiri dari satu bundel pipa (tube) yang dipasang paralel dan
ditempatkan dalam sebuah cangkang yang dinamakan cangkang (shell). Untuk meningkatkan
efisiensi dari penukar panas ini dipasang sekat

(buffle). Pemasangan sekat bertujuan

membuat aliran didalam cangkang bergolak (turbulen) yang berakibat juga bertambahnya
waktu tinggal (residence time). Namun sisi lain dari kerugian pemasangan sekat ini adalah
naiknya beban kerja karena bertambahnya beban pompa. Bahan penukar panas ini dipilih
berdasarkan fluida yang digunakan, biasanya terbuat dari logam dan paduannya. Selain itu
kondisi operasi dengan tekanan tinggi, sifat fluida yang korosif dan juga suhu dalam alat
yang tidak seragam juga menjadi pertimbangan pemilihan bahan penukar panas ini.
Jenis penukar panas shell and tube yang digunakan adalah 1 shell pass dan 2 tube pass
(1-2 Exchanger) seperti gambar 1 dibawah ini.

Alat yang digunakan dalam praktikum mempunyai ukuran :


Panjang pipa dan shell 1200 mm
Diameter shell 375 mm
Diameter pipa luar 32 mm
Diameter pipa dalam 27,8 mm
Jumlah sekat 13
Susunan pipa dalam shell dapat berbentuk in-line (a) dan staggered (b)

Gambar 2. Susunan pipa

Susunan pipa yang ada didalam alat yang digunakan adalah in-line (a) dan ratio antara
Sn/D = Sp/D = 1,25.
Gambar profil temperatur dari penukar panas ini adalah :

Gambar 3. Profil temperature dari penukar


panas

Menghitung
a.

Pindah Panas Keseluruhan (U)


Menggunakan Neraca Energi

Tm = FT . Tlm
Harga Q dapat dihitung dari :
Q = (M.Cp.T)1
.. Kalor yang diberikan fluida panas
= (M.Cp.T)2
.. Kalor yang diterima fluida dingin
Efisiensi kalor yang dipertukarkan :

Q = Laju Alir Kalor (Watt)


A = Luas Permukaan (m2)
U = Koefisien Pindah panas Keseluruhan (W/m2.K)
Tlm = Perbedaan Suhu logaritmik (K)

Koefisien

Untuk Aliran Counter-current


T1 = Thi Tco
T2 = Tho Tci
Untuk Aliran Co-current
T1 = Tho Tco
T2 = Thi Tci
Harga FT dapat diperoleh dari kurva dibawah :

Gambar 4. Kurva Ft

b.

Menghitung (U)
Menggunakan Persamaan
Empiris
Untuk pipa sepanjang L

hi,ho

= Koefisien pindah panas konveksi inside dan outside (W/m2.K) ;

= Koefisien Konduksi (W/m.K);

ri,ro

= Diameter (m) inside dan outside pipa yang kecil

= panjang pipa yang diameternya kecil (m).

Harga (ri,ro) dan L dapat diukur dari alat, harga K bahan SS-204 dapat diperoleh dari
buku referensi dan hi dan ho dihitung dari persamaan empiris.

Untuk Aliran transisi

Gambar 6. Grafik L/D

Persamaan Untuk Menghitung ho

Harga m dan C dapat diperoleh dari tabel dibawah:

Gambar 7. Tabel m dan C

Harga D untuk menghitung Nre diperoleh dengan pendekatan :

Ae adalah luas efektif yang dilewati fluida diantara pipa dalam anulus, yaitu luas permukaan
penampang shell dikurangi jumlah luas penampang semua pipa.

2.3. Beberapa macam tipe Shell and Tube Heat Exchanger

2.4. Aplikasi dan

Penggunaan

Desain sederhana dari Shell and Tube Heat Exchangers membuat solusi pendinginan
yang ideal untuk berbagai aplikasi. Salah satu aplikasi yang paling umum adalah pendinginan
cairan hidrolik dan minyak dalam mesin, transmisi, dan paket tenaga hidrolik. Salah satu
keuntungan menggunakan Shell and Tube Heat Exchangers adalah mudah dalam
perawatannya.
Shell and Tube Heat Exchangers digunakan secara luas dalam industri kimia proses,
terutama di industri minyak, karena banyak keuntungan yang diberikan lebih dari jenis
penukar panas yang lain.

BAB III
METODOLOGI
3.1 Alat dan Bahan
Seperangkat alat shell and tube yang terdiri atas sistem perpipaan air dan steam,
termometer, rotameter dan heat exchanger
Sumber Steam
Fluida (air)

3.2 Langkah Kerja


Percobaan

Mematikan alat

BAB IV
HASIL PENGOLAHAN DATA
4.1 Data Pengamatan
Laju Alir Air Dingin Tetap
Fluida Panas (Laju Berubah)
No
1
2
3
4

Laju alir
(L/menit)

Thi (C)

Tho
(C)

Fluida Dingin (Laju Tetap)


Laju alir (L/Menit)

Tci (C)

Tco
(C)

5
6

Fluida Panas (Laju Berubah)


No

Laju alir
(L/menit)

Thi (C)

Tho
(C)

Fluida Dingin (Laju Tetap)


Laju alir (L/Menit)

Tco
(C)

Tci (C)

1
2
3
4
5
6

Laju Alir Air Panas Tetap


Fluida Dingin (Laju Berubah)
No

Laju alir
(L/menit)

Tci (C)

Tco
(C)

Fluida Panas (Laju Tetap)


Laju alir (L/Menit)

Thi (C)

Tho (C)

1
2
3
4
5
6

No

Fluida Dingin (Laju Berubah)


Laju alir
Tci (C)
Tco

Fluida Panas (Laju Tetap)


Laju alir (L/Menit) Thi (C)
Tho

(L/menit)
1
2
3
4
5
6

(C)

(C)