Anda di halaman 1dari 7

Paper Tata Kelola Pertambangan, Oktober 2015

BATUBARA DAN LINGKUNAN


Oleh:
Yosef Marchiano T, Theresna Adeliana L, Asan Pasintik, Laode Jonas Tugo
(Mahasiswa Program Pascasarjana Teknik Pertmabangan Universitas
Pembangunan Nasional Veteran)
Abstrak
Pemanasan global merupakan fenomena yang terus terjadi, hal ini dikarenakan
meningkatnya gas-gas rumah kaca di atmosfer. Pada keadaan normal gas
rumah kaca sangat dibutuhkan oleh bumi guna menjaga kesetimbangan suhu
yang berada dipermukaan bumi. Namun perkembangan zaman dan
meningkatnya populasi manusia memicu peningkatan emisi gas rumah kaca,
sehingga terjadi ketidak kesetimbangan alam seperti kemarau berkepanjangan,
hujan asam, mencairnya es dikutub, naiknya muka air laut, dan curah hujan
yang tinggi. Batubara tidak terlepas dari bagian peningkatan emisi gas rumah
kaca, hasil pembakaran batuabara berupa gas CO 2 meberikan kontribusi
terhadap naiknya emisi gas rumah kaca. Di sisi lain, polutan yang berbentuk
partikulat seperti debu,dan unsur-unsur radioaktif lainnya merusak ligkungan
juga kesehatan manusia.
Kata Kunci: Gas rumah kaca, Polutan, Batubara
Pendahuluan
Pemanasan global yang ditimbulkan oleh efek rumah kaca merupakan
fenomena yang hangat dibicarakan belakangan ini. Upaya minimasi emisi gas
rumah kaca menjadi salah satu upaya yang mendapat perhatian besar dalam
pengelolaan lingkungan. Efek rumah kaca akan menyebabkan energi dari sinar
matahari tidak dapat terpantul keluar bumi. Pada keadaan normal, energi
matahari yang diabsorbsi bumi akan dipantulkan kembali dalam bentuk infra
merah oleh awan dan permukaan bumi. Namun karena adanya gas rumah
kaca, sebagian besar infra merah yang dipancarkan bumi tertahan oleh awan
dan gas-gas rumah kaca untuk dikembalikan ke permukaan bumi. Oleh karena
itu akan terjadi peningkatan suhu di permukaan bumi yang menyebabkan
pemanasan global (Rukaesih,2004) Beberapa penelitian di dunia mengenai
perubahan iklim akhir-akhir ini menunjukkan bahwa aktivitas manusia
memberikan kontribusi terhadap kenaikan temperatur di muka bumi selama
setengah abad terakhir (Clement, et al., 2010; Yusratika, 2007).
1

Menurut

IPCC(2006);

Yusratika,

2007,

gas-gas

utama

yang

dikategorikan sebagai Gas Rumah Kaca dan mempunyai potensi menyebabkan


pemanasan global adalah CO dan CH 4. Meskipun CO2dan CHsecara alami
terdapat di atmosfer, namun era industrialiasi sejak tahun 1750 sampai tahun
2005 gas-gas tersebut mengalami peningkatan jumlah yang pesat dan secara
global. Gas CO2mempunyai persentasesebesar 50% dalam total Gas Rumah
Kaca sementara CH4 memiliki persentasesebesar 20% (Rukaesih.2004).
Pembakaran bahan bakar minyak merupakansumber utama emisi gas rumah
kaca, diikuti kemudian oleh penggunaan biomassadari kayu bakar dan limbah
pertanian,

kemudian

gas

bumi

(Soedomo,1999;

Yusratika,

2012).

Daripembakaran bahan bakar tersebut, sektor transportasi menempati urutan


kedua setelah sektor listrik dan panas dalam memberikan kontribusi terhadap
emisi Gas Rumah Kaca dengan persentase sebesar 20% (Koch, 2000). Efek
dari keberadaan gas rumah kaca kini telah dapat dirasakan yaitu peningkatan
temperatur di bumi. Peningkatan temperatur ini menyebabkan efek lanjutan
seperti mencairnya es di kutub, kenaikan muka air laut, menggangu pertanian
dan secara tidak langsungakhirnya berdampak pada ekonomi suatu negara
(Darwin, 2004).
Sementara itu emisi gas CO2 dan polutan radioaktif dari PLTU batubara
maupun perindustrian turut meramaikan dalam sumbangsi peningkatan gas
rumah kaca. Ditinjau dari sisi emisi CO2, pembakaran batubara mengemisi CO2
jauh lebih banyak dibanding minyak dan gas. Sedangkan Berkaitan dengan
polutan radioaktifnya, karenapenggunaan batubara menunjukkan peningkatan
yang signifikan maka paparan zatradioaktifnya diperkirakan juga akan
meningkat (Finahari, 2007).Pada kajian ini akan dibahas emisi gas

CO2 dan jenis-jenis polutan radioaktif yangdihasllkan darl


pembangkit llstrik berbahan bakar batubara serta dampakanya
terhadap lingkungan.
Rumusan Masalah
1.
2.
3.
4.

Emisi gas rumah kaca ?


Batubara dan efek rumah kaca ?
Konstribusi batubara dalam pembentukan gas rumah kaca ?
Dampak terhadap lingkungan ?
2

Pembahasan
Emisi gas rumah kaca
Segala sumber energi yang terdapat di bumi berasal dari matahari.
Sebagian besar energi tersebut berbentuk radiasi gelombang pendek, termasuk
cahaya tampak. Ketika energi ini tiba di permukaan bumi, ia berubah dari
cahaya menjadi panas yang menghangatkan bumi. Permukaan bumi, akan
menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari
panas ini berwujud radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar.
Namun

sebagian

panas

tetap

terperangkap

di

atmosferbumi

akibat

menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbondioksida,
sulfur dioksida dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini.
Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang
dipancarkan bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan
bumi. Keadaan ini terjadi terus menerus sehingga mengakibatkan suhu ratarata tahunan bumi terus meningkat. Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana
gas dalam rumah kaca. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini
di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya. (Wikipedia
Indonesia).
Iklim bumi sedang berubah sangat cepat karena meningkatnya
emisigas rumah kaca sebagai akibat aktivitas manusia. Meningkatnya
kandungan gas rumah kaca menimbulkan efek gas rumah kaca di atmosfir.
Efek ini menghambat pelepasan panas dan menyebabkan penumpukkan gasgas rumah kaca di atmosfir sehingga menghambat pantulan radiasi matahari
(inframerah) daripermukaan bumi ke luar angkasa. Gas-gas yang diklasifikasi
sebagai gas rumah kaca adalah karbondioksida (CO 2), Metan (CH4), Nitrit
Oksida (N2O), Hidrofluorokarbon (HFC), Perfluorokarbon (PFC), dan sulfat
heksafluorida (SF6). Kondisi ini akhirnya mengakibatkan perubahan iklim yang
sangat ektrim di bumi (Subagyono dan Elsa, 2007).
Menurut perhitungan simulasi, efek rumah kaca telah meningkatkan
suhu rata-rata bumi 1-5 C. Bila kecenderungan peningkatan gas rumah kaca
tetap seperti sekarang akan menyebabkan peningkatan pemanasan global
3

antara 1,5-4,5 C sekitar tahun 2030. Dengan meningkatnya konsentrasi gas


CO2 di atmosfir, maka akan semakin banyak gelombang panas yang
dipantulkan dari permukaan bumi diserap atmosfir. Hal ini akan mengakibatkan
suhu permukaan bumi menjadi meningkat (Wikipedia Indonesia).
Batubara dan efek rumah kaca
Aktifitas industri tidak lepas dari pemanfaatan batubara sebagai pembangkit
tenaga listrik. Hasil pembakaran batubara tentunya akan menimbulkan gas
karbondioksida CO2 yang nantinya akan naik ke atmosfer sebagai gas rumah
kaca. Meningkatkanya kegiatan industri di dunia pastinya menambah populasi
karbondioksda CO2 di atmosfir, sehingga akan berdampak besar terhadap efek
rumah kaca. Sebagai mana yang

dikutip dari Finahari dkk (2007),

mengungkapkan terkait gas-gas yang menyusun rumah kaca beserta


persentase dari tiap gas tersebutyaitu; gas CO 2 memberikan kontribusi sebesar
49%, gas CH4 sebesar 18%, gas N2O sebesar 6%, gas CFC sebesar 14%, dan
sisanya sebesar 13%. Dari komposisi tersebut terlihat bahwa gas CO 2
memberikan sumbangsi tersebsar terhadap terjadinya pemanasan global.
Hal serupa telah dikemukakan oleh Sobah dkk (2013), bahwa
peningkatan kadar CO2 di atmosfer cukup signifikan. Kadar CO 2 di atmosfer
cukup stabilpada 280 ppm pada masa sebelum revolusi industri (tahun 1700 M)
dan pada bulan April 2012 konsentrasi tersebut meningkat menjadi 394,01 ppm.
Laju pertumbuhan konsentrasi CO2dalam tahun 2000-2006 mencapai 1,93 ppm
per tahun (Boer dkk., 2012; Sobah dkk, 2013).Sektor Industri merupakan salah
satu penyumbang emisi gas CO2.
Kontribusi batubara dalam pembentukan gas rumah kaca
Gas CO2 merupakan produk dari reaksi pembakaran sempurna bahan
bakarhidrokarbon dengan udara. Karbon dioksida sebenarnya bukanlah racun
yang berbahayabila terhirup dan dapat diserap oleh tumbuh-tumbuhan sebagai
bahan dasar prosesfotosintesis. Terbentuknya gas CO 2 sebagai produk dari
pembakaran tidak dapatdihindari dan konsentrasi gas CO 2 yang besar
menandakan pembakaran terjadi secara

sempurna. Namun

gas CO 2

memegang peranan panting bagi terjadinya efek rumah kacadimana panas


matahari

yang

diserap

bumi

terperangkap
4

di

bawah

lapisan

CO 2

diatmosfer.Kenaikan jumlah gas CO2 di udara dapat menghambat hilangnya


panas daripermukaan bumi dan akan meningkatkan efek rumah kaca yang
dapat menyebabkannaiknya suhu permukaan bumi yang disebut pemanasan
global (globai warming), Akibatpemanasan global tersebut dapat mempengaruhi
perubahan iklim seperti pemuaianpanas lautan dan mencairkan es di kutub
yang dapat mengakibatkan banjir terutamadaerah pesisir pantai, melelehnya
gletser dan punahnya spesies makhiuk hidup tertentudan rusaknya ekosistem
di bumi. (Finahari dkk, 2007)
Selain itu, batubara secara alamiah

mengandung unsur radioaktif.

Pada saat prosespembakaran langsung terjadi perengkahan termal (cracking)


yang menyebabkan unsurradioaktif alam tersebut akan ikut keluar bersamasama dengan gas hasil pembakaranlainnya ataupun terikut dengan abu hasil
pembakaran. Polutan radioaktif yang palingdominan berasal dari batubara
adalah unsur radioaktif alam seperti U-238, Th-232, danK-40. Unsur-unsur ini
mempunyai waktu paruh yang sangat panjang yaitu milyaran tahun.Unsurunsur U-238 dan Th-232 juga menghasilkan beberapa produk peluruhan
denganwaktu paruh sampai ribuan tahun. Jenis-jenis polutan radioaktif yang
dihasilkan daripembakaran batubara Timbal-210, Polonium-210, Protactinium231, Radium-226, Thorium-232, Uranium-238, Karbon-14, Kalium-40.
Dampak terhadap lingkungan
Secara globalhasil pembakaran batubara memberikan sumbangan
terhadap peningkatan konsentrasi gas CO 2di atmosfer dan berimbas terhadap
meningkatnya suhu permukaan bumi sehingga terjadi perubahan iklim dengan
medadak. Meningkatnya suhu permukaan bumi akan mengakibatkan adanya
perubahan iklim yang sangat ekstrim di bumi. Hal ini dapat mengakibatkan
terganggunya

hutan

dan

ekosistem

lainnya,

sehingga

mengurangi

kemampuannya untuk menyerap karbon dioksida di atmosfer. Pemanasan


global mengakibatkan mencairnya gunung-gunung es di daerah kutub yang
dapat menimbulkan naiknya permukaan air laut. Efek rumah kaca juga akan
mengakibatkan meningkatnya suhu air laut sehingga air laut mengembang dan
terjadi kenaikan permukaan laut yang mengakibatkan negara kepulauan akan
mendapatkan pengaruh yang sangat besar. Efek rumah kaca menjadi
penyebab global warming dan perubahan iklim. Iklim di bumi menjadi tak
5

menentu dan susah diprediksikan, sehingga mengganggu sistem penerbangan


dan petani dalam menentukan masa panen.
Selain itu, polutan zat radioaktif alam yang dihasilkan dari PLTU
batubara adalah berbentukpartikulat, yang terdiri dari partikulat yang ikut
terbawa keluar melalui cerobong asapberupa abu terbang (fly ash) dan
partikulat yang mengendap bersama abu (bottom ashatau slag). Polutan yang
diemisikan meialui cerobong suatu pembangkit akan menyebarke udara
sehingga

kemungkinan

BadanLingkungan,

akan

terjadi

Departemen

Energi,

penurunan
Amerika

kualitas

udara.

melaporkan

bahwa

pembakaran batubarayang mengandung radioaktif alam uranium, thorium,


radium, dan produk peluruhannyaakan menghasilkan konsentrasi radionuklida.
Polutan radioaktif seperti Timbal-210, Polonium-210, Protactinium-231,
Radium-226, Thorium-232, Uranium-238, Karbon-14, Kalium-40 termasuk
golongan logam berat dan bila masuk ke dalam tubuh manusia akanberdampak
buruk terhadap kesehatan. Paparan radiasi yang dihasilkan dari Polonium210merupakan bahaya radiasi eksternal dan internal terhadap tubuh manusia,
sedangkanradiasi

yang dihasilkan dari Polonium-210 sampai. dengan

Uranium-238 merupakan bahaya radiasiinternal. Bahaya radiasi eksternal


artinya unsur radioaktif tersebut walaupun berada diluar tubuh tetap dapat
merupakan sumber bahaya radiasi, karena daya tembusnya yang besar.
Sedangkan

bahaya

radiasi

internal

artinya

unsur

radioaktif

tersebut

tidakberbahaya kalau hanya berada di luar tubuh karena daya tembusnya relatif
sangatpendek, akan tetapi menjadi berbahaya bila masuk kedalam tubuh
manusia karena dayaionisasinya yang besar.Beberapapolutan yang terbentuk
pada

pembakaranbatubaradiantaranyaadalahabu,

oksidanitrogen,

karbonmoksida,

asap

dan

gas

oksidabelerang,
hidrokarbon,

dan

karbondioksida.
Kesimpulan
Perindustrian di era zaman ini tidak lepas dari pemanfaatan batubara sebagai
pembangkit listrik. Sehingga batubara memberikan sumbangsi terhadap
peningkatan gas CO2 di udara. Dengan demikian emisi gas rumah kaca akan
semakin meningkat.

DAFTAR PUSTAKA
Sobah, S., Sulistyo, H., dan Syamsia, S., 2013, Pengolahan Gas CO2Hasil
Samping Industri AmoniakMelalui Gasifikasi Batubara yang Telah
dipirolisis denganMenambahkan Ca(OH) 2, Jurusan Teknik Kimia,
Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada,Yogyakarta.
Finahari,I.,N., Djati HS., dan Susiati, H., 2007, Gas CO2 dan Polutan Radioktif
Dari PLTU Batubara, Bidang Perencanaan Sistem Energi-PPEN.
Koch, J., U. Dayan, dan Mey Marom. 2000. Inventory of Emission of
GreenhouseGases in Israel. Journal of Water, Air, & Soil Polution,
123(2000) page 259 -271
Rukaesih. 2004. Kimia Lingkungan. Yogyakarta: Penerbit Andi.
Darwin, Roy. 2004. Effects of Greenhouse Gas Emissions on World Agriculture,
Food Consumption, and Economic Welfare. Journal of Climate
Change.
Yusratika, N., Lestari, P., dan Uttari, I., 2012, Inventori Emisi Gas Rumah Kaca
(CO2 dan CH) Dari Sektor Transportasi di DKI Jakarta Berdasarkan
Komsumsi Bahan Bakar, Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas
Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung, Bandung.
https://id.wikipedia.org/wiki/Gas_rumah_kaca
https://id.wikipedia.org/wiki/Efek_rumah_kaca