Anda di halaman 1dari 54

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kebutuhan dasar manusia merupakan unsur-unsur yang dibutuhkan oleh
manusia dalam mempertahankan keseimbangan fisiologis maupuan psikologis,
yang

tentunya

bertujuan

untuk

mempertahankan

kehidupan

dan

kesehatan.Kebutuhan dasar manusia menurut Abraham Maslow dalam teori


Hirarki. Kebutuhan menyatakan bahwa setiap manusia memiliki lima kebutuhan
dasar yaitu kebutuhan fisiologis, keamanan, cinta, harga diri, dan aktualisasi diri
(Potter dan Patricia, 1997). Dalam mengaplikasikan kebutuhan dasar manusia
(KDM) yang dapat digunakan untuk memahami hubungan antara kebutuhan dasar
manusia pada saat memberikan perawatan.Beberapa kebutuhan manusia tertentu
lebih mendasar daripada kebutuhan lainnya.
Teori hierarki kebutuhan Maslow adalah teori yang diungkapkan oleh
Abraham Maslow. Ia beranggapan bahwa kebutuhan-kebutuhan di tingkat rendah
harus terpenuhi atau paling tidak cukup terpenuhi terlebih dahulu sebelum
kebutuhan-kebutuhan di tingkat lebih tinggi menjadi hal yang memotivasi.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa pengertian aktualisasi diri ?
1.2.2 Mengapa seseorang melakukan aktualisasi diri ?
1.2.3 Bagaimana arah aktualisasi diri ?
1.2.4 Bagaimana karakteristik aktualisasi diri ?
1.2.5 Bagaimana langkah aktualisasi diri ?
1.2.6 Apa saja Faktor-faktor yang mempengaruhi aktualisasi diri?
1.2.7 Apa yang dimaksud fully function person ?
1.2.8 Bagaimanakah daya dorong untuk aktulisasi diri ?
1.2.9 BagaimanakahHubungan Kepercayaan Diri dengan Aktualisasi Diri?
1.2.10 Bagaimanakan Gangguan Aktualisasi Diri Berhubungan Dengan Konsep
Diri ?
1.2.11 Bagaimanakah asuhan keperawatan dengan gangguan aktualisasi diri ?
1.3 Tujuan Penulisan
1

1.3.1. Tujuan Umum


Untuk dapat memahami konsep dasar aktualisasi diri serta Asuhan
Keperawatan dengan gangguan Aktualisasi Diri serta hal hal yang
berhubungan dengan aktualisasi diri.
1.3.1 Tujuan Khusus
1.3.2.1. Memahami pengertian aktualisasi diri
1.3.2.2. Memahami mengapa seseorang melakukan aktualisasi diri
1.3.2.3. Memahami arah aktualisasi diri
1.3.2.4. Memahami karakteristik aktualisasi diri
1.3.2.5. Memahami langkah aktualisasi diri
1.3.2.6. Memahami fully function person
1.3.2.7. Mengetahui faktor faktor yang mempengaruhi aktualisasi diri.
1.3.2.8. Mengetahui daya dorong untuk aktulisasi diri.
1.3.2.9. Mengetahui hubungan kepercayaan diri dengan aktualisasi diri.
1.3.2.10. Mengetahui gangguan aktualisasi diri berhubungan dengan konsep
Diri.
1.3.2.11. Memahami ASKEP dengan gangguan aktualisasi diri.
1.4 Manfaat Penulisan
Dapat memahami konsep dasar aktualisasi diri serta Asuhan Keperawatan dengan
gangguan Aktualisasi Diri serta hal hal yang berhubungan dengan aktualisasi
diri.
1.5 Metode Penulisan
Dalam penulisan makalah ini penyusun menggunakan metode:
a. Perpustakaan
b. Diskusi Kelompok
c. Literatur internet
1.6 Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan Penulisan
1.4 Metode Penulisan
1.5 Sistematika
BAB II PEMBAHASAN
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan

3.2 Saran

BAB II
PEMBAHASAN

1.1. Pengertian Aktualisasi Diri


Aktualisasi diri adalah kebutuhan naluriah pada manusia untuk
melakukan yang terbaik dari yang dia bisa. Maslow dalam (Arinato,
2009), menyatakan aktualisasi diri adalah proses menjadi diri sendiri
dan mengembangkan sifat-sifat dan potensi psikologis yang unik.
Aktualisasi diri akan dibantu atau dihalangi oleh pengalaman dan

oleh belajar khususnya dalam masa anak-anak. Aktualisasi diri akan


berubah sejalan dengan perkembangan hidup seseorang. Ketika
mencapai usia tertentu (adolensi) seseorang akan mengalami
pergeseran aktualisasi diri dari fisiologis ke psikologis. (Arianto,
2009).
Aktualisasi diri dapat didefinisikan sebagai perkembangan
yang paling tinggi dari semua bakat, pemenuhan semua kualitas dan
kapasitas.

Aktualisasi

juga

memudahkan

dan

meningkatkan

pematangan serta pertumbuhan. Ketika individu makin bertambah


besar, maka "diri" mulai berkembang. Pada saat itu juga, tekanan
aktualisasi beralih dari segi fisiologis ke segi psikologis. Bentuk
tubuh dan fungsinya telah mencapai tingkat perkembangan dewasa,
sehingga perkembangan selanjutnya berpusat pada kepribadian.
Menurut konsep Hirarki Kebutuhan Abraham Maslow, manusia
didorong oleh kebutuhan-kebutuhan universal dan dibawa sejak lahir.
Kebutuhan ini tersusun dalam tingkatan-tingkatan dari yang terendah
sampai tertinggi. Kebutuhan paling rendah dan paling kuat harus
dipuaskan terlebih dahulu sebelum muncul kebutuhan tingkat
selanjutnya. Kebutuhan paling tertinggi dalam hirarki kebutuyhan
individu Abraham Maslow adalah aktualisasi diri. Aktualisasi diri
sangat penting dan merupakan harga mati apabila ingin mencapai
kesuksesan. Aktualisasi diri adalah tahap pencapaian oleh seorsang
manusia terhadap apa yang mulai disadarinya ada dalam dirinya.
Semua manusia akan mengalami fase itu, hanya saja sebagian dari
manusia terjebak pada nilai-nilai atau ukuran-ukuran pencapaian dari
tiap tahap yang dikemukakan Maslow. Andai saja seorang manusia
bisa cepat melampaui tiap tahapan itu dan segera mencapai tahapan
akhir yaitu aktualisasi diri, maka dia punya kesempatan untuk
mencari tahu siapa dirinya sebenarnya. (Arianto, 2009).
4

Ahli jiwa termashur Abraham Maslow, dalam bukunya


Hierarchy of Needs menggunakan istilah aktualisasi diri (self
actualization) sebagai kebutuhan dan pencapaian tertinggi seorang
manusia. Maslow menemukan bahwa tanpa memandang suku asalusul seseorang, setiap manusia mengalami tahap-tahap peningkatan
kebutuhan atau pencapaian dalam kehidupannya. Kebutuhan tersebut
meliputi:
a. Kebutuhan fisiologis (physiological), meliputi kebutuhan
akan pangan, pakaian, dan tempat tinggal maupun
kebutuhan biologis,
b. Kebutuhan keamanan dan keselamatan (safety), meliputi
kebutuhan akan keamanan kerja, kemerdekaan dari rasa
takut ataupun tekanan, keamanan dari kejadian atau
lingkungan yang mengancam,
c. Kebutuhan rasa memiliki, sosial dan kasih sayang (social),
meliputi kebutuhan akan persahabatan, berkeluarga,
berkelompok, interaksi dan kasih sayang,
d. Kebutuhan akan penghargaan (esteem),

meliputi

kebutuhan akan harga diri, status, prestise, respek, dan


penghargaan dari pihak lain,
e. Kebutuhan aktualisasi diri (self actualization), meliputi
kebutuhan
fulfillment)

akan

memenuhi

melalui

keberadaan

memaksimumkan

diri

(self

penggunaaan

kemampuan dan potensi diri.


Berdasarkan uraian di atas dapat dikatakan bahwa aktualisasi
diri merupakan kebutuhan naluriah pada manusia untuk melakukan
yang terbaik dari yang dia bias lakukan, tingkatan tertinggi dari
perkembangan psikologis yang bias dicapai bila semua kebutuhan
dasar sudah dipenuhi dan pengaktualisasian seluruh potensi dirinya
mulai dilakukan. Manusia yang terkaktualisasi diri dikatakan:
1. Mempunyai kepribadian multidimensi yang matang.

2. Sering mampu mengamsumsi dan menyelesaikan tugas yang


banyak .
3. Mencapai pemeuhan kepuasaan dari pekerjaan yang dikerjakan
dengan baik.
4. Tidak bergantung secara penuh padaopini orang lain.
Contoh dari aktualisasi diri disaat kita berteman, banyak teman
yang kita kenal banyak juga pandangan hidup dan gaya hidup yang
berbeda-beda meskipun begitu kita harus bias memilih mana yang baik
dan mana yang buruk, tapi bukan dengan menjauhi teman kita yang
memiliki sifat atau kebisaan yang buruk. Namun alangkanh baiknya
kita mengajakya untuk menjadi lebih baik lagi.

Pada intinya

aktualisasi adalah kebutuhan hidup yang harus kita jalani dengan


batas-batas yang masih normal dalam kehidupan sehari-hari.

1.2. Kebutuhan akan Berkaktualisasi Diri


Aktualisasi diri tokoh utama dalam psikologi terlihat di bagian
aktualisasi diri pada tingkat dalam hirarki Abraham Maslow (Poduska,
2008:177). Tingkat yang paling rendah adalah mengenai kebutuhankebutuhan jasmani; tingkat kedua, kebutuhan rasa aman; tingkat ketiga,
kebutuhan cinta dan rasa memiliki; tingkat keempat, kebutuhan harga
diri; tingkat kelima dengan beraktualisasi diri.
a. Kebutuhan Jasmani atau Fisiologis
Untuk mencapai tingkat kebutuhan jasmani secara memadai,
tingkat-tingkat daerah biologis dan psikologis harus terpuaskan.
Pemuasan segi-segi biologis dari tingkat ini saja tidaklah cukup.
Beberapa daerah kebutuhan jasmani manusia adalah: lapar, haus,
latihan atau gerak jasmani, seks, dan ransangan sensoris (Poduska,
2008:178).
b. Kebutuhan Rasa Aman
6

Hal objektif yang utama untuk pencukupan kebutuhan rasa


aman adalah dengan mengetahui rasa takut. Apakah ketakutan itu
berdasarkan realitas atau imajinasi saja (Poduska:2008:182).
Kebutuhan keamanan sudah muncul sejak bayi, dalam bentuk
menangis dan berteriak ketakutan karena perlakuan yang kasar atau
karena perlakuan yang dirasa sebagai sumber bahaya. Manusia akan
merasa lebih aman berada dalm suasana semacam itu mengurangi
kemungkinan adanya perubahan, dadakan, kekacauan yang tiak
terbayangkan sebelumnya (Alwisol, 2004:258).
c. Kebutuhan Cinta dan Rasa Memiliki
Ada dua jenis cinta (dewasa) yakni deficiency atau Dlove;
orang yang mencintai sesuatu yang tidak dimilikinya, seperti harga
diri, seks, atau seseorang yang membuat dirinya menjadi tidak
sendirian. Misalnya hubungan pacaran, hidup bersama atau
perkawinan yang membuat seseorang terpuaskan kenyamanan dan
keamanannya. D-love adalah cinta yang mementingkan diri sendiri,
lebih memperoleh adari pada memberi. B-love didasarkan pada
penilaian mengenai orang lain apa adanya, tanpa keinginan
mengubah atau memanfaatkan orang itu. Cinta yang berniat
memiliki, tidak mempengaruhi, dan tertuma bertujuan memberi
orang lain gambaran positif, penerimaan diri dan perasaan dicintai,
yang membuka kesempatan orang itu untuk berkembang (Alwisol,
2004:259).
d. Kebutuhan Harga Diri
Menurut Poduska (2008: 201), ada dua jenis harga diri, yakni
sebagai berikut.
1) Menghargai diri sendiri (self respect): orang membutuhkan
pengetahuan tentang dirinya sendiri, bahwa dirinya berharga,
mampu menguasai tugas dan tantangan hidup.

2) Mendapat penghargaan dari orang lain (respect from others):


orang membutuhkan pengetahuan bahwa dirinya dikenal baik
dan dinilai baik orang lain.
Kepuasan kebutuhan harga diri menimbulkan perasaaan dan
sikap percaya diri, diri berharga, diri mampu, dan perasaan berguna
dan penting di lingkungan keberadaannya. Sebaliknya, frustasi
karena kebutuhan harga diri tak terpuaskan akan menimbulkan
perasaan dan sikap inferior, canggung, lemah, pasif, tergantung,
penakut, tidak mampu mengatasi tuntutan hidup dan rendah iri
dalam bergaul.
e.

Kebutuhan Beraktualisasi Diri


Kebutuhan akan beraktualisasi diri adalah kebutuhan manusia
yang paling tinggi. Kebutuhan ini akan muncul apabila kebutuhankebutuhan dibawahnya telah terpuaskan dengan baik. Maslow
dalam Poduska (2002:125), menandai kebutuhan akan aktualisasi
diri sebagai hasrat individu untuk menjadi orang yang sesuai
dengan keinginan dan potensi-potensi yang dimilikinya, atau hasrat
dari

individu

untuk

menyempurnakan

dirinya

melalui

pengungkapan segenap potensi yang dimilikinya.


Contoh dari aktualisasi diri ini adalah seseorang yang berbakat
musik menciptakan komposisi musik, seseorang yang memiliki
potensi intelektual menjadi ilmuwan, dan seterusnya.
Aktualisasi diri juga tidak hanya berupa penciptaan kreasi atau
karya-karya berdasarkan bakat-bakat atau kemampuan khusus,
semua orang pun bisa mengaktualisasikan dirinya yakni dengan
jalan membuat yang terbaik atau bekerja sebaik-baiknya sesuai
dengan bidangnya masing-masing. Setiap individu berbeda-beda
bentuk aktualisasi dirinya dikarenakan dari adanya perbedaanperbedaan individual. Manusia yang dapat mencapai tingkat

aktualisasi diri ini menjadi manusia yang utuh, memperoleh


kepuasan dari kebutuhan-kebutuhan yang orang lain bahkan tidak
menyadari ada kebutuhan semacam itu. Mereka mengekspresikan
kebutuhan dasar kemanusiaan secara alami (Alwisol, 2004:260).

1.3. Mengapa Seseorang Melakukan Aktualisasi Diri


Seperti yang sudah di bahas di atas. Diantara ilmuwan yang
secara aktif memperkenalkan konsep tentang aktualisasi diri ialah
Abraham Maslow (1908-1970). Idenya tersebut dikenalkan dalam
bingkai teori kepribadian. Maslow memperkenalkan aktualisasi diri
se33bagai kebutuhan puncak dari diri manusia diatas kebutuhan
fisiologisnya (seperti kebutuhan seks, makan, minum, serta bernafas),
kebutuhan akan rasa aman serta ketentraman, kebutuhan untuk
dicintai, mencintai dan dibutuhkan orang lain serta kebutuhan akan
penghargaan dari orang lain dan dari diri sendiri (self-respect). Hal
berikut di bawah ini akan dapat menjawab pertanyaan kita tentang
mengapa seseorang melakukan aktualisasi diri : seseorang akan mulai
memasuki tahap aktualisasi diri jika dia dapat memenuhi jenis jenis
kebutuhan dibawahnya secara seimbang dan baik. kebutuhan
kebutuhan awal yang harus di penuhi tersebut adalah kebutuhan
kebutuhan yang dirasa dalam keadaan kekurangan (misalnya ketika
seseorang kesepian ia merasa kurang ada teman yang memperhatikan,
akhirnya ia rendah diri kemudian kurang terampil dan kurang
mendapat apresiasi, dan seterusnya).
Oleh karenanya kebutuhan-kebutuhan ini disebut D-needs, dari
kata deficit needs, kebutuhan yang harus terpenuhi agar seseorang
dapat termotifasi lebih tinggi lagi. Dan jenis kebutuhan deficit lain

adalah Kebutuhan sandang pangan papan, kebutuhan mencintai dan di


cintai, kebutuhan di hargai orang lain. Semua kebutuhan ini harus di
lewati dengan baik. Setelah itu proses aktualisasi diri tersebut akan
terus tumbuh. Kebutuhan-kebutuhan tersebut, sekali dia dipenuhi akan
lahir kebutuhan yang lebih tinggi lagi dan disebut B-needs, dari being
needs, yang bisa disebut juga pertumbuhan motivasi. Hal ini sangat
terkait dengan keinginan sinambung untuk mewujudkan segala potensi
menjadi segala yang kita bisa, menjadi sekomplit mungkin diri
kita. Dan kita akan menjadi tau siapa sebenarnya didiri kita, apa
sebenarnya yang kita mampu dan bisa, serta dapat benar benar
mengenal potensi diri kita dengan baik. Dari sinilah istilah aktualisasi
diri (self-actualization) muncul.

1.4. Arah Aktualisasi diri


Menurut Broadley, aktualisasi diri memiliki arah yang bersifat
membangun. Artinya, manusia memiliki kecenderungan untuk terus
memperbaiki diri. Broadley menjelaskan bahwa arah aktualisasi diri
terdiri dari dua aspek, yaitu aktualisasi diri yang mengarahkan pada
usaha untuk mempertahankan integritas individu serta aktualisasi diri
yang mengarah pada realization, fulfillment, danperfection.
Aktualisasi diri yang mengarah pada usaha untuk mempertahankan
integritas pada akhirnya akan berdampak terhadap pemeliharaan
identitas diri dan keutuhan sebagai seorang manusia. Sedangkan pada
aspek yang kedua, aktualisasi diri merupakan suatu proses yang tidak
terpisahkan dari upaya untuk pemenuhan potensi-potensi yang dimiliki
oleh manusia. Oleh karena itu, Broadley menyimpulkan bahwa

10

aktualisasi diri merupakan proses yang selektif dalam upaya


memelihara dan mempertahankan keutuhan manusia.

2.4.

Karakteristik aktualisasi diri.


Seseorang yang telah mencapai aktualisasi diri dengan optimal
akan memiliki kepribadian yang berbeda dengan manusia pada
umunya. Menurut Maslow pada tahun 1970 (Kozier dan Erb, 1998),
ada beberapa karakteristik yang menunjukkan sseorang mencapai
aktualisasi diri. Karakteristik tersebut antara lain sebagai berikut:
a. Mampu melihat realitas secara lebih efisien
Karakteristik atau kapasitas ini akan membuat seseorang untuk
mampu mengenali kebohongan, kecurangan, dan kepalsuan yang
dilakukan orang lain, serta mampu menganalisis secara kritis,
logis, dan mendalam terhadap segala fenomena alam dan
kehidupan. Karakter tersebut tidak menimbulkan sikap yang
emosional, melainkan lebih objektif. Dia akan mendengarkan apa
yang seharusnya didengarkan, bukan mendengar apa yang
diinginkan, dan ditakuti oleh orang lain. Ketajaman pengamatan
terhadap realitas kehidupan akan menghasilkan pola pikir yang
cemerlang menerawang jauh ke depan tanpa dipengaruhi oleh
kepentingan atau keuntungan sesaat.
b. Penerimaan terhadap diri sendiri dan orang lain apa adanya
Orang yang telah mengaktualisasikan dirinya akan melihat
orang lain seperti melihat dirinya sendiri yang penuh dengan
kekurangan dan kelebihan. Sifat ini akan menghasilkan sikap
toleransi yang tinggi terhadap orang lain serta kesabaran yang
tinggi dalam menerima diri sendiri dan orang lain. Dia akan
membuka diri terhadap kritikan, saran, ataupun nasehat dari orang
lain terhadap dirinya.
11

c. Spontanitas, kesederhaan dan kewajaran


Orang yang mengaktualisasikan diri dengan benar ditandai
dengan segala tindakan, perilaku, dan gagasannya dilakukan secara
spontan, wajar, dan tidak dibuat-buat. Dengan demikian, apa yang
ia lakukan tidak pura-pura. Sifat ini akan melahirkan sikap lapang
dada terhadap apa yang menjadi kebiasaan masyarakatnya asak
tidak bertentangan dengan prinsipnya yang paling utama,
meskipun dalam hati ia menertawakannya. Namun apabila
lingkungan/kebiasaan di masyarakat sudah bertentangan
dengan prinsip yang ia yakini, maka ia tidak segan-segan untuk
mengemukakannya dengan asertif. Kebiasaan di masyarakat
tersebut antara lain seperti adat-istiadat yang amoral, kebohongan,
dan kehidupan sosial yang tidak manusiawi.
d. Terpusat pada persoalan
Orang yang mengaktualisasikan diri seluruh pikiran, perilaku,
dan gagasannya bukan didasarkan untuk kebaikan dirinya saja,
namun didasarkan atas apa kebaikan dan kepentingan yang
dibutuhkan oleh umat manusia. Dengan demikian, segala pikiran,
perilaku, dan gagasannya terpusat pada persoalan yang dihadapi
oleh umat manusia, bukan persoalan yang bersifat egois.
e. Membutuhkan kesendirian
Pada umumnya orang yang sudah mencapai aktualisasi diri
cenderung memisahkan diri. Sikap ini didasarkan atas persepsinya
mengenai sesuatu yang ia anggap benar,tetapi tidak bersifat egois.
Ia tidak bergantung pada pada pikiran orang lain. Sifat yang
demikian, membuatnya tenang dan logis dalam menghadapi
masalah. Ia senantiasa menjaga martabat dan harga dirinya,
meskipun ia berada di lingkungan yang kurang terhormat. Sifat
memisahkan diri ini terwujud dalam otonomi pengambilan
keputusan. Keputusan yang diambilnya tidak dipengaruhi oleh
orang lain. Dia akan bertanggung jawab terhadap segala
keputusan/kebijakan yang diambil.

12

f. Otonomi (kemandirian terhadap kebudayaan dan lingkungan)


Orang yang sudah mencapai aktualisasi diri, tidak
menggantungkan diri pada lingkungannya. Ia dapat melakukan apa
saja dan dimana saja tanpa dipengaruhi oleh lingkungan (situasi
dan kondisi) yang mengelilinginya. Kemandirian ini menunjukkan
ketahanannya terhadap segala persoalan yang mengguncang, tanpa
putus asa apalagi sampai bunuh diri. Kebutuhan terhadap orang
lain tidak bersifat ketergantungan, sehingga pertumbuhan dan
perkembangan dirinya lebih optimal.
g. Kesegaran dan apresiasi yang berkelanjutan
Ini merupakan manifestasi dari rasa syukur atas segala potensi
yang dimiliki pada orang yang mampu mengakualisasikan dirinya.
Ia akan diselimuti perasaan senang, kagum, dan tidak bosan
terhadap segala apa yang dia miliki. Walaupun hal ia miliki
tersebut merupakan hal yang biasa saja. Implikasinya adalah ia
mampu mengapresiasikan segala apa yang dimilikinya. Kegagalan
seseorang dalam mengapresiasikan segala yang dimilikinya dapat
menyebabkan ia menjadi manusia yang serakah dan berperilaku
melanggar hak asasi orang lain.
h. Kesadaran sosial
Orang yang mampu mengaktualisasikan diri, jiwanya diliputi
oleh perasaan empati, iba, kasih sayang, dan ingin membantu
orang lain. Perasaan tersebut ada walaupun orang lain berperilaku
jahat terhadap dirinya. Dorongan ini akan memunculkan kesadaran
sosial di mana ia memiliki rasa untuk bermasyarakat dan menolong
orang lain.
i. Hubungan interpersonal
Orang yang mampu mengaktualisasikan diri mempunyai
kecenderungan untuk menjalin hubungan yang baik dengan orang
lain. Ia dapat menjalin hubungan yang akrab dengan penuh rasa
cinta dan kasih sayang. Hubungan interpersonal ini tidak didasari
oleh tendensi pribadi yang sesaat, namun dilandasi oleh perasaan

13

cinta, kasih sayang, dan kesabaran meskipun orang tersebut


mungkin tidak cocok dengan perilaku masyarakat di sekelilingnya.
j. Demokratis
Orang yang mampu mengaktualisasikan diri memiliki sifat
demokratis. Sifat ini dimanifestasikan denga perilaku yang tidak
membedakan orang lain berdasarkan penggolongan, etis, agama,
suku, ras, status sosial ekonomi, partai dan lain-lain. Sifat
demokratis ini lahir karena pada orang yang mengaktualisasikan
diri tidak mempunyai perasaan risih bergaul dengan orang lain.
Juga karena sikapnya yang rendah hati, sehingga ia senantiasa
menghormati orang lain tanpa terkecuali.
k. Rasa humor yang bermakna dan etis
Rasa humor orang yang mengaktualisasikan diri berbeda
dengan humor kebanyakan orang. Ia tidak akan tertawa terhadap
humor yang menghina, merendahkan bahkan menjelekkan orang
lain. Humor orang yang mengaktualisasikan diri bukan saja
menimbulkan tertawa, tetapi sarat dengan makna dan nilai
pendidikan. Humornya benar-benar menggambarkan hakikat
manusiawi yang menghormati dan menjunjumg tinggi nilai-nilai
Skemanusiaan.
l. Kreativitas
Sikap kreatif merupakan karakteristik lain yang dimiliki oleh
orang yang mengaktualisasikan diri. Kreativitas ini diwujudkan
dalam kemampuannya melakukan inovasi-inovasi yang spontan,
asli, tidak dibatasi oleh lingkungan maupun orang lain.
m. Independensi
Ia mampu mempertahankan pendirian dan keputusankeputusan yang ia ambil. Tidak goyah atau terpengaruh oleh
berbagai guncangan ataupun kepentingan.
n. Pengalaman puncak (peak experiance)
Orang yang mampu mengaktualisasikan diri akan memiliki
perasaan yang menyatu dengan alam. Ia merasa tidak ada batas
atau sekat antara dirinya dengan alam semesta. Artinya, orang yang

14

mampu mengaktualisasikan diri terbebas dari sekat-sekat berupa


suku, bahasa, agama, ketakutan, keraguan, dan sekat-sekat lainnya.
Oleh karena itu, ia akan memiliki sifat yang jujur, ikhlas,
bersahaja, tulus hati , dan terbuka.
2.5.

Langkah langkah aktulisasi diri


Adapun beberapa langkah sederhana untuk mengaktualisasikan diri dalam
mencapai sukses, yaitu:
a. Kenali potensi dan bakat unik yang ada dalam diri
Jangan pernah menyembunyikan bakat anda karena bakat
diciptakan untuk digunakan, demikianlah nasehat dari Benjamin
Franklin. Oleh karena itu anda harus dan wajib mengenali bakat
dan potensi unik yang ada dalam diri anda. Ia adalah anugerah
Tuhan yang tidak ternilai. Yakinilah masing-masing kita terlahir
dengan bakat dan potensi yang luar biasa. Tugas kitalah untuk
memahami, mendeteksi dan mengenali bakat dan potensi apa
sajakah yang kita miliki.
b. Asah kemampuan unik anda setiap hari
Orang sukses adalah orang yang senantiasa mengasah
kemampuan unik yang ada dalam dirinya, yang membedakan
dirinya dengan 6 milyar orang lainnya. Tidak perlu malu,
kemampuan sekecil apapun yang anda miliki sekarang adalah
modal untuk menciptakan kesuksesan di masa depan. Petuah bijak
mengatakan Lakukanlah hal-hal kecil yang tidak anda sukai
dengan disiplin tinggi, sehingga kelak anda dapat menikmati halhal besar yang sangat anda sukai.
c. Buat diri anda berbeda dan jadilah One in a million kind of
person
Kita semua terlahir berbeda dan diciptakan untuk membuat
perbedaan hidup. Yakinilah anda adalah maha karya Tuhan yang
luar biasa. Anda adalah tambang emas dan berlian yang tidak
ternilai harganya. Maka buatlah diri berharga dengan menjadi yang

15

berbeda dan bukan asal beda, tetapi harus unik. Berikanlah


perbedaan besar dalam hidup sehingga hidup anda merupakan
berkah dan anugerah bagi orang lain.
2.6.

Faktor-faktor yang mempengaruhi aktualisasi diri


Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi aktualisasi diri. Orang
yang mampu mengaktualisasikan dirinya sangat memahami bahwa ada
eksistensi atau hambatan lain tinggal (indwelling) didalam (internal) atau
di luar (eksternal) keberadaannya sendiri yang mengendalikan perilaku

dan tindakannya untuk melakukan sesuatu.


a)
Faktor Internal
Faktor internal ini merupakan bentuk hambatan yang berasal dari
dalam diri seseorang, yang meliputi:
1) Ketidaktahuan akan potensi diri
2) Perasaan ragu dan takut mengungkapkan potensi diri, sehingga
potensinya tidak dapat terus berkembang.
Potensi diri merupakan modal yang perlu diketahui, digali
dan dimaksimalkan. Sesungguhnya perubahan hanya bisa terjadi
jika kita mengetahui potensi yang ada dalam diri kita kemudian
mengarahkannya kepada tindakan yang tepat dan teruji (Fadlymun,
2009).
b)

Faktor Eksternal
Faktor eksternal merupakan hambatan yang berasal dari luar diri
seseorang, seperti:
1) Budaya masyarakat yang tidak mendukung upaya aktualisasi
potensi diri seseorang karena perbedaan karakter. Pada
kenyataannya

lingkungan

masyarakat

tidak

sepenuhnya

menunjang upaya aktualisasi diri warganya.

16

2) Faktor lingkungan. Lingkungan masyarakat berpengaruh


terhadap upaya mewujudkan aktualisasi diri. Aktualisasi diri
dapat dilakukan jika lingkungan mengizinkannya (Asmadi,
2008). Lingkungan merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi terhadap pembentukan dan perkembangan
perilaku individu, baik lingkungan fisik maupun lingkungan
sosio-psikologis (Sudrajat, 2008).
3) Pola asuh. Pengaruh keluarga dalam pembentukan aktualisasi
diri anak sangatlah besar artinya. Banyak faktor dalam
keluarga yang ikut berpengaruh dalam proses perkembangan
anak. Salah satu faktor dalam keluarga yang mempunyai
peranan penting dalam pengaktualisasian diri adalah praktik
pengasuhan anak (Brown, 1961)
Aktualisasi diri merupakan kemampuan seseorang untuk
mengatur diri sendiri sehingga bebas dari berbagai tekanan, baik
yang berasal dari dalam diri maupun di luar diri. Kemampuan
seseorang membebaskan diri dari tekanan internal dan eksternal
dalam pengaktualisasian dirinya menunjukkan bahwa orang tersebut
telah mencapai kematangan diri. Dengan demikian, dapat dikatakan
bahwa aktualisasi diri tersebut secara penuh. Hal ini disebabkan oleh
terdapatnya dua kekuatan yang saling tarik-menarik dan akan selalu
pengaruh-mempengaruhi di dalam diri manusia itu sendiri sepanjang
perjalanan hidup manusia. Kekuatan yang satu mengarah pada
pertahanan diri, sehingga yang muncul adalah rasa takut salah atau
tidak percaya diri, takut menghadapi resiko terhadap keputusan yang
akan diambil, mengagungkan masa lalu dengan mengabaikan masa
sekarang

dan

mendatang,

ragu-ragu

dalam

mengambil

keputusan/bertindak, dan sebagainya. Sementara kekuatan yang


lainnya adalah kekuatan yang mengarah pada keutuhan diri dan
17

terwujudnya seluruh potensi diri yang dimiliki, sehingga yang


muncul adalah kepercayaan diri dan penerimaan diri secara penuh
(Asmadi, 2008).
2.7.

Fully Function Person


1) Pengertian
Rogers (dalam Schneider.K.J., dkk, 2001) mengemukakan
bahwa fully function person adalah orang yang telah berkembang
secara optimal. Yaitu dimana seseorang akan berusaha bertujuan
untuk memenuhi potensinya secara penuh. Untuk dapat disebut
sebagai fully function person, maka seseorang harus memiliki kriteria
sebagai berikut :
a) Openness to Experience
Bagi seseorang yang telah mencapai aktualisasi diri maka
akan cenderung terbuka dengan perasaannya. Perasaan
merupakan bagian penting dari keterbukaan karena perasaan
tersebut menyampaikan nilai pada organisme lain.
b) Existential Living
Merupakan realitas yang menegaskan bahwa kita hidup disini
dan saat ini. Karakter ini menekankan bahwa seseorang tidak
harus belajar atau mengingat di masa lalu ataupun
merencanakan atau bermimpi tentang masa depan.
c) Organismic Trusting
Organismic merupakan suatu proses dimana seseorang merasa
percaya diri, melakukan apa yang terasa benar, apa yang
datang secara alami. Bagi seseorang yang cenderung
beraktualisasi maka ia akan membiarkan dirinya percaya dan
mengikuti proses organismic.
d) Experiental Freedom
Karakter ini menjelaskan bahwa kita merasa memiliki
kebebasan jika dihadapkan pilihan yang tersedia. Rogers
mengatakan bahwa seseorang dengan fully function akan
merasa bebas dan bertanggung jawab atas pilihannya.
e) Creativity

18

Saat seseorang telah merasa bebas dan bertanggung


jawab atas pilihannya, maka ia akan cenderung berpartisipasi
dan berkontribusi guna mengaktualisasikan kehidupan orang
laon. Banyak cara yang dilakukan melalui kreativitas seperti
seni atau ilmu, kepedulian sosial, maupun melakukan salah
satu yang terbaik di pekerjaan seseorang.
2) Hubungan Fully Functioning dan Aktualisasi Diri
Fully functioning menggambarkan kondisi seseorang untuk
memenuhi potensinya sebagai manusia, bertujuan mewujudkan apa
yang ia inginkan. Sedangkan aktualisasi diri merupakan salah satu
tugas individu dalam memenuhi kebutuhan psikologisnya. Kedua
konsep ini memiliki kesamaan, pada intinya keduanya menjadikan
individu untuk dapat terbuka terhadap dunia dan perasaannya dengan
cara mengerahkan potensi yang mereka miliki untuk dapat mencapai
apa yang mereka inginkan (Schneider,K.J, dkk, 2001).
2.8.

Hubungan Kepercayaan Diri dengan Aktualisasi Diri


Aktualisasi diri adalah suatu proses, yaitu proses untuk mewujudkan
kepribadian, kemampuan, serta potensi unik seseorang agar terus
bertumbuh serta berkembang (Vallet, 1974). Agar proses ini berhasil,
perlu percaya pada diri sendiridan harus terus menerus memperhatikan,
memelihara serta mendukung perkembangan diri.
Kepercayaan diri terbentuk melalui proses belajar individu dalam
interaksinya dengan lingkungannya. Lingkungan yang pertama kali
dikenal oleh seorang individu adalah lingkungan keluarga. Di dalam
keluarga tersebut akan terjadi interaksi antara anggota keluarga.
Hubungan keluarga yang buruk merupakan bahaya psikologis pada
setiap usia, terlebih selama masa remaja karena pada saat ini anak lakilaki dan perempuan sangat tidak percaya diri dan bergantung pada
keluarga untuk memperoleh rasa aman (Hurlock, 1980).
Remaja yang hubungan keluarganya kurang baik juga dapat
mengembangkan hubungan yang buruk dengan orang-orang di luar

19

rumah. Keadaan keluarga, situasi rumah tangga, sikap mendidik orang


tua, pergaulan, dan pola hubungan inter anggota keluarga merupakan
seperangkat hal lain yang sangat besar pengaruhnya terhadap
perkembangan pribadi, citra diri yang sehat dan adanya rasa percaya diri
pada remaja (Mappiare, 1982). Pribadi sehat, citra diri positif dan rasa
percaya diri yang mantap bagi remaja menimbulkan pandangan
(persepsi positif) terhadap masyarakatnya, sehingga remaja lebih
berpartisipasi dalam kehidupan sosial. Kemampuan mengenai diri
sendiri disertai dengan adanya usaha memperoleh citra diri sendiri
disertai dengan adanya memperoleh citra diri yang stabil, mencegah
timbulnya tingkah laku yang over kompensasi ataupun proyeksi,
sekaligus dapat menanamkan moral positif dalam diri remaja akhir
(Mappiare, 1982).
Kepercayaan diri yang telah tertanam dalam diri seseorang akan
membuat orang tersebut mampu untuk menjalani dan menghadapai
setiap persoalan yang dihadapinya dengan mengerahkan kemampuan
yang dimilkinya. Dalam penelitiannya, Maslow menemukan bahwa
ternyata orang-orang itu mengalami yang ia sebut "pengalaman puncak",
saat-saat ketika mereka merasa berada dalam kondisi terbaik mereka,
saat-saat diliputi perasaan khidmat, kebahagiaan yang mendalam,
kegembiraan, ketentraman atau ekstase. Jadi, pengalaman puncak adalah
saat dalam kehidupan seseorang ketika orang itu berfungsi secara penuh,
merasa kuat, yakin pada dirinya dan menguasai diri sepenuhnya (Goble,
1971).
Kepercayaan diri dihasilkan oleh keyakinan, bahwa mampu untuk
menjadi diri sendiri sekarang juga asal mau (Vallet, 1974).
Ciri-ciri individu yang memiliki kepercayaan diri (Guilford; Lauster;
Instone dalam Afiatin dan Martamah, 1998) sebagai berikut:
1. Individu merasa adekuat terhadap tindakan yang dilakukan. hal ini
didasari oleh keyakinan terhadap kekuatan, kemampuan dan

20

ketrampilan yang dimiliki. la merasa optimis, cukup ambisius, tidak


selalu memerlukan bantuan orang lain, sanggup bekerja keras,
mampu menghadapi tugas dengan baik dan bekerja secara efektif
serta bertanggung jawab atas keputusan dan perbuatannya.
2. Individu merasa diterima oleh kelompoknya. Hal ini didasari oleh
adanya keyakinan terhadap kemampuannya dalam hubungan sosial.
Ia merasa bahwa kelompoknya atau orang lain menyukainya, aktif
menghadapi keadaan lingkungan, berani mengemukakan kehendak
atau ide-idenya secara bertanggung jawab dan tidak mementingkan
diri sendiri.
3. Individu percaya sekali terhadap dirinya serta memiliki ketenangan
sikap. Hal ini didasari oleh adanya keyakinan terhadap kekuatan
dan kemampuannya. Ia bersikap tenang, tidak mudah gugup, cukup
toleran terhadap berbagai macam situasi.
Keberhasilan remaja dalam membentuk tingkah laku secara
tepat di masyarakat adalah ditentukan oleh peranan lingkungan
keluarga

khususnya

orang

tua

dalam

mengarahkan

serta

mengembangkan kemampuan anak membentuk tingkah lakunya.


Mengenai hal ini Hurlock (1970) mengemukakan bahwa pengertian
mengenai nilai-nilai tingkah laku serta kemampuan anak untuk
membentuk tingkah laku yang dikembangkan di dalam lingkungan
keluarga, akan menentukan sejauh mana keberhasilan anak dalam
membentuk penyesuaian di masyarakat pada masa-masa selanjutnya.
Kondisi pola asuh yang diterapkan dalam keluarga terhadap
anak-anak dalam keluarga akan menyebabkan anak memiliki ciri-ciri
antara lain : (Hastutik, 1997)
1. Ciri anak dengan pola asuh otoriter :
a. Cenderung cemas
b. Kurang berani mengemukakan pendapat
c. Kurang kreatif
d. Tidak dapat melakukan interaksi sosial dengan efektif
21

e. Gagal dalam beraktititasmemiliki harga diri rendah


f. Menunjukkan agresifitas atau indikasi lain yang menunjukkan
out of control
g. Dependend dan selalu membutuhkan orang lain
h. Memiliki harga diri rendah
Berdasarkan

uraian

di atas

dapat disimpulkan

bahwa

kepracayaan diri merupakan salah satu faktor penting dalam


menentukan keberhasilan seorang individu dalam mengaktualisasikan
dirinya dan tidak lepas dari kemauan individu itu sendiri menawarkan
bantuan

dan

dorongan,

menyediakan

bimbingan,

pola

dan

kemungkinan pada kehidupan anak (Vasta dkk, 1992).


2.9. Daya dorong untuk aktualisasi diri
Maslow mengatakan daya penggerak yang mendorong
seseorang untuk mencapai aktualisasi diri disebut dorongan karena
petumbuhan atau metamotivasi (disebut juga being motivation atau B
motivation). Awalnya meta berarti sudah atau melampaui, dan
metamotivation berarti bergerak melampaui ide tradisional tentang
dorongan. Maslow menulis bahwa motif yang paling tinggi ialah tidak
didorong atau tidak berjuang, tetapi berkembang. Ia beranggapan
bahwa dorongan bagi individu individu yang mengaktualisasi diri
berbda dengan dengan dorongan orang lain. Bagi orang lain dorongan
atau motivasi yang ada pada mereka adalah dorongan untuk
membereskan suatu kekurangan dalam dirinya(defiency motivation).
Misalnya apabila suatu waktu kita berjalan tanpa makanan, maka
terdapat suatu kekurangan dalam tubuh. Kekurangan ini menimbulkan
rasa sakit dan tidak enak, baik yang bersifat fisik maupun psikologis.
Dorongan ini dimaksudkan untuk mencapai sesuatu yang kurang pada
dirinya. Dorongan karena kekurangan ini tidak hanya pada kebutuhan
kebutuhan

fisiologis,

tetapi

jugadengan

kebutuhankebutuhan

22

psikologis, seperti rasa aman, rasa nyaman , rasa memiliki - dimiliki,


cinta mencintai dan penghargaan. Kebutuhan kebutuhan ini
termasuk kebutuhan yang lebih rendah yang mendorong kita untuk
mencapai sesuatu khusus pada apa yang tidak kita miliki.
Sebaiknya orang orang yang mengaktualisasiakan diri, lebih
memperhatikan pada kebutuhan di tingkat yang lebih tinggi, yaitu
untuk memenuhi potensi potensi mereka dan mengetahui serta
memahami dunia sekitar mereka. Dalam hal ini metamotivasi orang
tidak berusaha memperbaiki kekurangan kekurangan atau mereduksi
ketergantungan, tetapi memperkaya serta memperluas pengalaman
hidup. Orang orang yang mengaktualisasi diri dimotivasi untuk
menjadi manusia sepenuhnya, untuk menjadi seluruhnya menurut
potensi mereka. Mereka tidak lagi menjadi dalam pengertian
memuaskan kebutuhan yang lebi rendah, tetapi mereka dalam keadaan
ada, serta mengungkapkan kemanusiaan mereka dengan penuh
spontan, asli dan senang.
2.10

Gangguan Aktualisasi Diri Berhubungan Dengan Konsep


Diri
Gangguan aktualisasi diri berkaitan dengan pernyataan yaitu

bahwa aktualisasi diri tokoh utama dalam psikologi terlihat di bagian


aktualisasi diri pada tingkat dalam hirarki Abraham Maslow (Poduska,
2008:177). Tingkat yang paling rendah adalah mengenai kebutuhankebutuhan jasmani; tingkat kedua, kebutuhan rasa aman; tingkat ketiga,
kebutuhan cinta dan rasa memiliki; tingkat keempat, kebutuhan harga
diri; tingkat kelima dengan beraktualisasi diri.
Individu yang tidak bisa melakukan aktualisasi diri dengan baik,
hal tersebut berhubungan dengan belum terpenuhinya kebutuhankebutuhan dasar dari individu tersebut mulai dari tingkat paling rendah
mengenai kebutuhan jasmani, kebutuhan rasa aman, kebutuhan cinta

23

dan rasa memiliki dan kebutuhan harga diri yang tidakterpenuhi dengan
maksimal sehingga proses aktualisasi diri dari individu tersebut belum
tercapai.
Hal yang berhubungan dengan tidak tercapainya aktualisasi diri
juga berhubungan dengan konsep diri dari individu itu tersendiri.
Konsep diri berhubungan dengan presepsi diri sangat mempengaruhi
keberhasilan dari aktualisasi diri seseorang.
A. Pengertian Konsep Diri
Konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan
pendirian

yang

diketahui

individu

tentang

dirinya

dan

mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain


(Stuart dan Sudeen, 1998). Hal ini temasuk persepsi individu akan
sifat dan kemampuannya, interaksi dengan orang lain dan
lingkungan, nilai-nilai yang berkaitan dengan pengalaman dan objek,
tujuan serta keinginannya.
Sedangkan menurut Beck, Willian dan Rawlin (1986)
menyatakan bahwa konsep diri adalah cara individu memandang
dirinya secara utuh, baik fisikal, emosional intelektual, sosial dan
spiritual.
Potter & Perry (1993), konsep diri adalah merefleksikan
pengalaman interaksi sosial, sensasinya juga didasarkan bagaimana
orang lain memandangnya.
Beck William Rowles (1993), mendefinisikan konsep diri
sebagai cara memandang individu terhadap diri secara utuh baik
fisik, emosi, intelektual, sosial & spiritual.
Secara umum, konsep diri dapat didefinisikan sebagai cara kita
memandang diri kita secara utuh, meliputi: fisik, intelektual,
kepercayaan, sosial, perilaku, emosi, spiritual, dan pendirian.
B. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Konsep Diri
Menurut Stuart dan Sudeen ada beberapa faktor-faktor yang
mempengaruhi perkembangan konsep diri. Faktor-foktor tersebut
terdiri dari teori perkembangan, Significant Other (orang yang

24

terpenting

atau

yang

terdekat)

dan

Self

Perception

(persepsi diri sendiri).


1. Teori perkembangan.
Konsep diri belum ada waktu lahir, kemudian berkembang
secara bertahap sejak lahir seperti mulai mengenal dan
membedakan

dirinya

dan

orang

lain.

Dalam

melakukan

kegiatannya memiliki batasan diri yang terpisah dari lingkungan


dan berkembang melalui kegiatan eksplorasi lingkungan melalui
bahasa, pengalaman atau pengenalan tubuh, nama panggilan,
pangalaman budaya dan hubungan interpersonal, kemampuan pada
area tertentu yang dinilai oleh diri sendiri atau masyarakat serta
aktualisasi diri dengan merealisasi potensi yang nyata.
2. Significant Other ( orang yang terpenting atau yang terdekat )
Dimana konsep diri dipelajari melalui kontak dan pengalaman
dengan orang lain, belajar diri sendiri melalui cermin orang lain
yaitu dengan cara pandangan diri merupakan interprestasi diri
pandangan orang lain terhadap diri, anak sangat dipengaruhi orang
yang dekat, remaja dipengaruhi oleh orang lain yang dekat dengan
dirinya, pengaruh orang dekat atau orang penting sepanjang siklus
hidup, pengaruh budaya dan sosialisasi.
3. Self Perception ( persepsi diri sendiri )
Yaitu persepsi individu terhadap diri sendiri dan penilaiannya,
serta persepsi individu terhadap pengalamannya akan situasi
tertentu. Konsep diri dapat dibentuk melalui pandangan diri dan
pengalaman yang positif. Sehingga konsep merupakan aspek yang
kritikal dan dasar dari prilaku individu. Individu dengan konsep
diri yang positif dapat berfungsi lebih efektif yang dapat berfungsi
lebih efektif yang dapat dilihat dari kemampuan interpersonal,
kemampuan intelektual dan penguasaan lingkungan. Sedangkan
konsep diri yang negatif dapat dilihat dari hubungan individu dan
sosial yang terganggu. Menurut Stuart dan Sundeen Penilaian

25

tentang konsep diri dapat di lihat berdasarkan rentang rentang


respon konsep diri yaitu:
a) Respon Adaptif
b) Respon Maladaptif
c) Aktualisasi
d) Konsep diri
e) Harga diri
f) Kekacauan
g) Depersonalisasi diri positif rendah identitas.
C. Pembagian Konsep Diri
Konsep diri terbagi menjadi beberapa bagian. Pembagian Konsep
diri tersebut di kemukakan oleh Stuart and Sundeen ( 1991 ), yang
terdiri dari :
1. Gambaran diri ( Body Image )
Gambaran diri adalah sikap seseorang terhadap
tubuhnya secara sadar dan tidak sadar. Sikap ini mencakup
persepsi dan perasaan tentang ukuran, bentuk, fungsi
penampilan dan potensi tubuh saat ini dan masa lalu yang
secara berkesinambungan dimodifikasi dengan pengalaman
baru setiap individu (Stuart and Sundeen , 1991).
Sejak lahir individu mengeksplorasi bagian tubuhnya,
menerima

stimulus

dari

orang

lain,

kemudian

mulai

memanipulasi lingkungan dan mulai sadar dirinya terpisah dari


lingkungan ( Keliat ,1992 ).
Gambaran diri ( Body Image ) berhubungan dengan
kepribadian. Cara individu memandang dirinya mempunyai
dampak yang penting pada aspek psikologinya. Pandangan
yang realistis terhadap dirinya manarima dan mengukur bagian
tubuhnya akan lebih rasa aman, sehingga terhindar dari rasa
cemas

dan

meningkatkan

harga

diri

(Keliat,

1992).

Individu yang stabil, realistis dan konsisten terhadap gambaran


dirinya akan memperlihatkan kemampuan yang mantap
terhadap realisasi yang akan memacu sukses dalam kehidupan.

26

Banyak Faktor dapat yang mempengaruhi gambaran diri


seseorang, seperti, munculnya Stresor yang dapat menggangu
integrasi gambaran diri akan sangat mempengaruhi aktualisasi
diri. Stresor-stresor tersebut dapat berupa :
a. Operasi.
Seperti : mastektomi, amputsi ,luka operasi yang
semuanya mengubah gambaran diri. Demikian pula
tindakan koreksi seperti operasi plastik, protesa dan lain
lain.
b. Kegagalan fungsi tubuh.
Seperti hemiplegi, buta, tuli dapat mengakibatkan
depersonlisasi yaitu tadak mengkui atau asing dengan
bagian tubuh, sering berkaitan dengan fungsi saraf.
Waham yang berkaitan dengan bentuk dan fngsi tubuh
Seperti sering terjadi pada klie gangguan jiwa , klien
mempersiapkan penampilan dan pergerakan tubuh sangat
berbeda dengan kenyataan.
c. Tergantung pada mesin.
Seperti : klien intensif care yang memandang
imobilisasi

sebagai

tantangan,

akibatnya

sukar

mendapatkan informasi umpan balik enggan penggunaan


lntensif care dipandang sebagai gangguan perubahan
tubuh.
Hal ini berkaitan dengan tumbuh kembang dimana seseorang
akan merasakan perubahan pada dirinya seiring dengan bertambahnya
usia. Tidak jarang seseorang menanggapinya dengan respon negatif
dan positif. Ketidakpuasan juga dirasakan seseorang jika didapati
perubahan tubuh yang tidak ideal. Umpan balik interpersonal yang
negatif. Umpan balik ini adanya tanggapan yang tidak baik berupa
celaan, makian sehingga dapat membuat seseorang menarik diri.
Standard sosial budaya. Hal ini berkaitan dengan kultur sosial budaya

27

yang berbeda-setiap pada setiap orang dan keterbatasannya serta


keterbelakangan dari budaya tersebut menyebabkan pengaruh pada
gambaran diri individu, seperti adanya perasaan minder.
Beberapa gangguan pada gambaran diri tersebut dapat
menunjukan tanda dan gejala, seperti :
a) Syok Psikologis
Syok Psikologis merupakan reaksi emosional terhadap
dampak perubahan dan dapat terjadi pada saat pertama
tindakan.syok psikologis digunakan sebagai reaksi terhadap
ansietas. Informasi yang terlalu banyak dan kenyataan
perubahan tubuh membuat klien menggunakan mekanisme
pertahanan diri seperti mengingkari, menolak dan proyeksi
untuk mempertahankan keseimbangan diri.
b) Menarik diri
Klien menjadi sadar akan kenyataan, ingin lari dari kenyataan,
tetapi karena tidak mungkin maka klien lari atau menghindar
secara emosional. Klien menjadi pasif, tergantung , tidak ada
motivasi dan keinginan untuk berperan dalam perawatannya.
c) Penerimaan atau pengakuan secara bertahap
Setelah klien sadar akan kenyataan maka respon kehilangan
atau berduka muncul. Setelah fase ini klien mulai melakukan
reintegrasi dengan gambaran diri yang baru.
Tanda dan gejala dari gangguan gambaran diri di atas adalah
proses yang adaptif, jika tampak gejala dan tanda-tanda berikut
secara menetap maka respon klien dianggap maladaptif sehingga
terjadi gangguan gambaran diri yaitu :
a) Menolak untuk melihat dan menyentuh bagian yang
berubah.
b) Tidak dapat menerima perubahan struktur dan fungsi
tubuh.
c) Mengurangi kontak sosial sehingga terjadi menarik diri.
d) Perasaan atau pandangan negatif terhadap tubuh.
28

e) Preokupasi dengan bagian tubuh atau fungsi tubuh yang


hilang.
f) Mengungkapkan keputusasaan.
g) Mengungkapkan ketakutan ditolak.
h) Depersonalisasi.
Menolak penjelasan tentang perubahan tubuh
2. Ideal Diri.
Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana ia harus
berperilaku berdasarkan standart, aspirasi, tujuan atau penilaian
personal tertentu (Stuart and Sundeen ,1991).
Standart dapat berhubungan dengan tipe orang yang akan
diinginkan atau sejumlah aspirasi, cita-cita, nilai- nilai yang ingin
di capai . Ideal diri akan mewujudkan cita-cita, nilai-nilai yang
ingin dicapai. Ideal diri akan mewujudkan citacita dan harapan
pribadi berdasarkan norma sosial (keluarga budaya) dan kepada
siapa ingin dilakukan. Ideal diri mulai berkembang pada masa
kanakkanak yang di pengaruhi orang yang penting pada dirinya
yang memberikan keuntungan dan harapan pada masa remaja
ideal diri akan di bentuk melalui proses identifikasi pada orang
tua, guru dan teman.
Menurut Ana Keliat ( 1998 ) ada beberapa faktor yang
mempengaruhi ideal diri yaitu :
a) Kecenderungan individu menetapkan ideal pada batas
kemampuannya.
b) Faktor budaya akan mempengaruhi individu menetapkan
ideal diri.
c) Ambisi dan keinginan untuk melebihi dan berhasil,
kebutuhan yang realistis, keinginan untuk mengklaim diri
dari kegagalan, perasan cemas dan rendah diri.
d) Kebutuhan yang realistis.
e) Keinginan untuk menghindari kegagalan .
f) Perasaan cemas dan rendah diri.

29

Agar individu mampu berfungsi dan mendemonstrasikan


kecocokan antara persepsi diri dan ideal diri. Ideal diri ini
hendaknya ditetapkan tidak terlalu tinggi, tetapi masih lebih tinggi
dari kemampuan agar tetap menjadi pendorong dan masih dapat
dicapai (Keliat, 1992 ).
3. Harga diri
Harga diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai
dengan menganalisa seberapa jauh prilaku memenuhi ideal diri
(Stuart and Sundeen, 1991). Frekuensi pencapaian tujuan akan
menghasilkan harga diri yang rendah atau harga diri yang tinggi.
Jika individu sering gagal , maka cenderung harga diri rendah.
Harga diri diperoleh dari diri sendiri dan orang lain. Aspek utama
adalah di cintai dan menerima penghargaan dari orang lain
(Keliat, 1992).
Biasanya harga diri sangat rentan terganggu pada saat remaja
dan usia lanjut. Dari hasil riset ditemukan bahwa masalah
kesehatan fisik mengakibatkan harga diri rendah. Harga diri tinggi
terkait dengam ansietas yang rendah, efektif dalam kelompok dan
diterima oleh orang lain. Sedangkan harga diri rendah terkait
dengan hubungan interpersonal yang buruk dan resiko terjadi
depresi dan skizofrenia.
Gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan
negatif terhadap diri sendiri termasuk hilangnya percaya diri dan
harga diri. Harga diri rendah dapat terjadi secara situasional
(trauma) atau kronis (negatif self evaluasi yang telah berlangsung
lama). Dan dapat di ekspresikan secara langsung atau tidak
langsung (nyata atau tidak nyata).
Menurut beberapa ahli dikemukakan faktor-Fator yang
mempengaruhi gangguan harga diri, seperti :
a) Perkembangan individu.

30

Faktor predisposisi dapat dimulai sejak masih bayi,


seperti penolakan orang tua menyebabkan anak merasa tidak
dicintai dan mengkibatkan anak gagal mencintai dirinya dan
akan gagal untuk mencintai orang lain. Pada saat anak
berkembang lebih besar, anak mengalami kurangnya
pengakuan dan pujian dari orang tua dan orang yang dekat
atau penting baginya. Ia merasa tidak adekuat karena selalu
tidak dipercaya untuk mandiri, memutuskan sendiri akan
bertanggung jawab terhadap prilakunya. Sikap orang tua
yang terlalu mengatur dan mengontrol, membuat anak
merasa tidak berguna.
b) Ideal Diri tidak realistis.
Individu yang selalu dituntut untuk berhasil akan
merasa tidak punya hak untuk gagal dan berbuat kesalahan.
Ia membuat standart yang tidak dapatdicapai, seperti cita
cita yang terlalu tinggi dan tidak realistis. Yang pada
kenyataan tidak dapat dicapai membuat individu menghukum
diri sendiri dan akhirnya percaya diri akan hilang.
c) Gangguan fisik dan mental
Gangguan ini dapat membuat individu dan keluarga
merasa rendah diri.
d) Sistem keluarga yang tidak berfungsi.
Orang tua yang mempunyai harga diri yang rendah
tidak mampu membangun harga diri anak dengan baik.
Orang tua memberi umpan balik yang negatif dan berulangulang akan merusak harga diri anak. Harga diri anak akan
terganggu jika kemampuan menyelesaikan masalah tidak
adekuat. Akhirnya anak memandang negatif terhadap
pengalaman dan kemampuan di lingkungannya.
e) Pengalaman traumatik yang berulang,misalnya akibat aniaya
fisik, emosi dan seksual.

31

Penganiayaan yang dialami dapat berupa penganiayaan


fisik, emosi, peperangan, bencana alam, kecelakan atau
perampokan. Individu merasa tidak mampu mengontrol
lingkungan. Respon atau strategi untuk menghadapi trauma
umumnya mengingkari trauma,mengubah arti trauma, respon
yang biasa efektif terganggu. Akibatnya koping yang biasa
berkembang adalah depresi dan denial pada trauma.
4. Peran
Peran adalah sikap dan perilaku nilai serta tujuan yang
diharapkan dari seseorang berdasarkan posisinya di masyarakat
(Keliat, 1992 ). Peran yang ditetapkan adalah peran dimana
seseorang tidak punya pilihan, sedangkan peran yang diterima
adalah peran yang terpilih atau dipilih oleh individu. Posisi
dibutuhkan

oleh

individu

sebagai

aktualisasi

diri.

Harga diri yang tinggi merupakan hasil dari peran yang


memenuhi kebutuhan dan cocok dengan ideal diri. Posisi di
masyarakat dapat merupakan stresor terhadap peran karena
struktur sosial yang menimbulkan kesukaran, tuntutan serta posisi
yang tidak mungkin dilaksanakan ( Keliat, 1992 ).
Stress peran terdiri dari konflik peran yang tidak jelas dan
peran yang tidak sesuai atau peran yang terlalu banyak.
Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam menyesuaikan diri
dengan peran yang harus di lakukan menurut Stuart and sundeen,
1998 adalah :
a) Kejelasan prilaku dengan penghargaan yang sesuai dengan
peran.
b) Konsisten respon orang yang berarti terhadap peran yang
dilakukan .
c) Kesesuain dan keseimbangan antara peran yang di emban.
d) Keselarasan budaya dan harapan individu terhadap perilaku
peran.
e) Pemisahan situasi yang akan menciptakan ketidak sesuain
perilaku peran.
32

Menurut Stuart and Sunden Penyesuaian individu terhadap


perannya di pengaruhi oleh beberapan faktor, yaitu :
a) Kejelasan prilaku yang sesuai dengan perannya serta
pengetahuan yang spesifik tentang peran yang diharapkan .
Konsistensi respon orang yang berarti atau dekat dengan
peranannya.
b) Kejelasan budaya dan harapannya terhadap prilaku
perannya.
c) Pemisahan situasi yang dapat menciptakan ketidak
selarasan.
Sepanjang

kehidupan

individu

sering

menghadapi

perubahan-perubahan peran, baik yang sifatnya menetap atau


sementara yang sifatnya dapat karena situasional. Hal ini,
biasanya disebut dengan transisi peran. Transisi peran tersebut
dapat di kategorikan menjadi beberapa bagian, seperti :
a. Transisi Perkembangan.
Setiap perkembangan dapat menimbulkan ancaman
pada identitas. Setiap perkembangan harus di lalui individu
dengan menjelaskan tugas perkembangan yang berbeda
beda. Hal ini dapat merupakan stresor bagi konsep diri.
b. Transisi Situasi.
Transisi situasi terjadi sepanjang daur kehidupan,
bertambah atau berkurang orang yang berarti melalui
kelahiran atau kematian, misalnya status sendiri menjadi
berdua

atau

menjadi

orang

tua.

Perubahan

status

menyebabkan perubahan peran yang dapat menimbulkan


ketegangan peran yaitu konflik peran, peran tidak jelas atau
peran berlebihan.
c. Transisi sehat sakit.
Stresor pada tubuh dapat menyebabkan gangguan
gambaran diri dan berakibat diri dan berakibat perubahan
33

konsep diri. Perubahan tubuh dapat mempengaruhi semua


kompoen konsep diri yaitu gambaran diri, identitas diri
peran dan harga diri. Masalah konsep diri dapat di cetuskan
oleh faktor psikologis, sosiologi atau fisiologi, namun yang
penting

adalah

persepsi

klien

terhadap

ancaman.

Selain itu dapat saja terjadi berbagai gangguan peran,


penyebab atau faktor-faktor ganguan peran tersebut dapat di
akibatkan oleh :
1) Konflik peran interpersonal
2) Individu dan lingkungan tidak mempunyai harapan
peran yang selaras. Contoh peran yang tidak
3)
4)
5)
6)

adekuat.
Kehilangan hubungan yang penting.
Perubahan peran seksual
Keragu-raguan peran
Perubahan kemampuan fisik untuk menampilkan

peran sehubungan dengan proses menua.


7) Kurangnya kejelasan peran atau pengertian tentang
peran.
8) Ketergantungan obat
9) Kurangnya keterampilan sosial
10) Perbedaan budaya
11) Harga diri rendah
12) Konflik antar peran yang sekaligus di perankan.
Gangguan-gangguan peran yang terjadi tersebut dapat ditandai
dengan tanda dan gejala, seperti :
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)

Mengungkapkan ketidakpuasan perannya atau kemampuan


menampilkan peran
Mengingkari atau menghindari peran
Kegagalan transisi peran
Ketegangan peran
Kemunduran pola tanggungjawab yang biasa dalam peran
Proses berkabung yang tidak berfungsi
Kejenuhan pekerjaan

34

5. Identitas
Identitas adalah kesadarn akan diri sendiri yang bersumber
dari observasi dan penilaian yang merupakan sintesa dari semua
aspek konsep diri sendiri sebagai satu kesatuan yang utuh (Stuart
and Sudeen, 1991).
Seseorang yang mempunyai perasaan identitas diri yang kuat
akan yang memandang dirinya berbeda dengan orang lain.
Kemandirian timbul dari perasaan berharga (aspek diri sendiri),
kemampuan dan penyesuaian diri. Seseorang yang mandiri dapat
mengatur dan menerima dirinya. Identitas diri terus berkembang
sejak masa kanak-kanak bersamaan dengan perkembangan
konsep diri. Hal yang penting dalam identitas adalah jenis
kelamin (Keliat,1992). Identitas jenis kelamin berkembang sejak
lahir secara bertahap dimulai dengan konsep laki-laki dan wanita
banyak dipengaruhi oleh pandangan dan perlakuan masyarakat
terhadap masing-masing jenis kelamin tersebut.
Perasaan dan prilaku yang kuat akan indentitas diri individu
dapat ditandai dengan:
a) Memandang dirinya secara unik
b) Merasakan dirinya berbeda dengan orang lain
c) Merasakan otonomi : menghargai diri, percaya diri, mampu
diri, menerima dirib dan dapat mengontrol diri.
d) Mempunyai persepsi tentang gambaran diri, peran dan
konsep diri
e) Karakteristik identitas diri dapat dimunculkan dari prilaku
dan perasaan seseorang, seperti :
1) Individu mengenal dirinya sebagai makhluk yang
terpisah dan berbeda dengan orang lain
2) Individu mengakui atau menyadari jenis seksualnya
3) Individu mengakui dan menghargai berbagai aspek
tentang dirinya, peran, nilai dan prilaku secara
harmonis
4) Individu mengaku dan menghargai diri sendiri sesuai
dengan penghargaan lingkungan sosialnya
35

5) Individu sadar akan hubungan masa lalu, saat ini dan


masa yang akan dating
6) Individu mempunyai tujuan yang dapat dicapai dan di
realisasikan (Meler dikutip Stuart and Sudeen, 1991)
D. Kepribadian Yang Sehat
Bagaiman individu berhubungan dengan orang lain merupakan inti
dari kepribadian. Kepribadian tidak cukup di uarikan melalui teori
perkembangan dan dinamika diri sendiri. Berikut ini adalah
pengalaman yang akan dialmi oleh individu yang mempunyai
kepribadian yang sehat (stuart dan Sudden, 1991 )
1. Gambaran diri yang positif dan akurat.
Kesadaran akan diri berdasarkan atas observasi mandiri dan
perhatian yang sesuai dengan kesehatan diri. Termasuk persepsi
saat ini dan yang lalu, akan diri sendiri, perasaan tentang
ukuran, fungsi, penampilan dan potensi.
2. Ideal diri realistis
Individu yang mempunyai ideal diri yang realitas akan
mempuynai tujuan hidup yang dapat dicapai.
3. Konsep diri positif
Konsep diri positif menunjukkan bahwa individu akan sukses
dalam hidupnya.
4. Harga diri tinggi.
Seorang yang mempunyai harga diri yang tinggi akan
memandang

dirinya

sebagai

seorang

yangberarti

dan

bermanfaat. Ia memanding dirinya sangat sama dengan apa


yang ia inginkan.
5. Kepuasan penampilan peran
Indiviu yang mempunyai kepribadian sehat akan mendapat
berhubungan dengan orang lain secara intim dan mendapat
kepuasan. Ia dapat mempercayai dan terbuka pada orang lain
dan membina hubungan interdependen.
6. Identitas jelas.
Individu merasakan keunikan dirinya, yang memberi arah
kehidupan dan mecapai keadaan.
36

E. Aktualisasi Diri berhubungan dengan Gangguan Konsep Diri


Apabila seseorang mengalami gangguan konsep diri maka orang
tersebut tidak akan mampu melakukan aktualisasi diri sehingga
Individu tersebut mengalami gangguan aktualisasi diri karena
kebutuhan dari dalam dirinya belum terpenuhi sehinggauntuk
mengembangkan potensi dari individu tersebut tidak akan trjadi.
1. Pengertian
Gangguan konsep diri adalah suatu kondisi dimana individu
mengalami

kondisi

pembahasan

perasaan,

pikiran

atau

pandangan dirinya sendiri yang negatif.


a. Gangguan citra tubuh
Gangguan citra tubuh adalah perubahan persepsi tentang
tubuh yang diakibatkan oleh perubahan ukuran bentuk,
struktur, fungsi, keterbatasan, makna dan objek yang sering
kontak dengan tubuh. Pada klien yang dirawat di rumah sakit
umum, perubahan citra tubuh sangat mungkin terjadi. Sitesor
pada tiap perubahan adalah perubahan ukuran tubuh berat
badan yang turun akibat penyakit. Perubahan bentuk tubuh,
tindakan invasif, seperti operasi, suntikan daerah pemasangan
infus. Perubahan struktur, sama dengan perubahan bentuk
tubuh di sertai degnan pemasangan alat di dalam tubuh.
Perubahan fungsi berbagai penyakit yang dapat merubah
sistem tubuh seperti keterbatasan gerak, makan, kegiatan.
Makna dan objek yang sering kotak, penampilan dan dandan
berubah, pemasangan alat pada tubuh klien (infus, fraksi,
respirator, suntik, pemeriksaan tanda vital, dan lain-lain).
Tanda dan gejala gangguan citra tubuh :
1. Menolak melihat dan menyentuh bagian tubuh yang
berubah.
2. Tidak menerima perubahan tubuh yang telah terjadi/akan
terjadi.

37

3.
4.
5.
6.
7.

Menolak penjelasan perubahan tubuh


Persepsi negatif pada tubuh
Preokupasi dengan bagian tubuh yang hila
Mengungkapkan keputusasaan
Mengungkapkan ketakutan
b. Gangguan Ideal Diri
Gangguan ideal diri adalah ideal diri yang terlalu tinggi,
sukar dicapai dan tidak realistis ideal diri yang samar dan
tidak jelas dan cenderung menuntut. Pada klien yang dirawat
di rumah sakit karena sakit maka ideal dirinya dapat
terganggu. Atau ideal diri klien terhadap hasil pengobatan
yang terlalu tinggi dan sukar dicapai.
Tanda dan gejala gangguan Ideal Diri
1. Mengungkapkan keputusan akibat

penyakitnya,

misalnya : saya tidak bisa ikut ujian karena sakit, saya


tidak bisaa lagi jadi peragawati karena bekas operasi di
muka saya, kaki saya yang dioperasi membuat saya
tidak main bola.
2. Mengungkapkan

keinginan

yang

terlalu

tinggi,

misalnya saya pasti bisa sembuh pada hal prognosa


penyakitnya buruk; setelahsehat saya akan sekolah lagi
padahal penyakitnya mengakibatkan tidak mungkin lagi
sekolah.
c. Gangguan Harga Diri
Gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai
perasaan

yang

kepercayaan

negatif

terhadap

diri,

merasa

diri

sendiri,

gagal

hilang

mencapai

keinginan.Gangguan harga diri yang disebut sebagai harga


diri rendah dan dapat terjadi secara :
a) Situasional, yaitu terjadi trauma yang tiba-tiba, misalnya
harus operasi, kecelakaan, dicerai suami, putus sekolah,
putus hubungan kerja, perasaan malu karena sesuatu
terjadi (korban perkosaan, dituduh KKN, dipenjara tibatiba ).

38

b) Privacy

yang

kurang

diperhatikan,

misalnya

pemeriksaan fisik yang sembarangan pemasangan alat


yang tidak sopan (pengukuran pubis, pemasangan
kateler pemeriksaan perincal)
c) Harapan akan struktur, bentuk dan fungsi tubuh yang
tidak tercapai karena dirawat/sakit/penyakit.
d) Perlakuan petugas kesehatan yang tidak menghargai,
misalnya

berbagai

pemeriksaan

dilakukan

tanpa

penjelasan, berbagai tindakan tanpa persetujuan.


e) Kronik yaitu perasaan negatif terhadap diri telah
berlangsung lama, yaitu sebelum sakit/dirawat klien ini
mempunyai cara berpikir yang negatif. Kejadian sakit
dan dirawat akan menambah persepsi negatif terhadap
dirinya.
Tanda dan gejala harga diri kronik
a. Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakti
dan akibat tindakan terhadap penyakit. Misalnya
malu dan sedih karena rambut jadi botak setelah
mendapat terapi sinar pada kanker.
b. Rasa bersalah terhadap diri sendiri. Misalnya ini
tidak akan terjadi jika saya segera kerumah sakit,
menyalahgunakan/mengejek dan mengkritik diri
sendiri.
c. Merendahkan martabat. Misalnya saya tidak bisa,
saya tidak mampu saya orang bodoh dan tidak tahu
apa-apa.
d. Gangguan hubungan sosial, seperti menarik diri.
Klien tidak ingin bertemu dengan orang lain, lebih
suka sendiri.
e. Percaya diri kurang. klien sukar mengambil
keputusan, misalnya tentang memilih alternatif
tindakan.

39

f. Mencederai diri. Akibat harga diri yang rendah


disertai harapan yang suram mungkin klien ingin
mengakhiri kehidupan.
d. Gangguan Peran
Gangguan penampilan peran adalah berubah atau
berhenti fungsi peran yang disebabkan oleh penyakit, proses
menua, putus sekolah, putus hubungan kerja.Pada klien yang
sedang dirawat di rumah sakit otomatis peran sosialo klien
berubah menjadi peran sakit. Peran klien yang berubah
adalah :
1) Peran dalam keluarga
2) Peran dalam pekerjaan/sekolah
3) Peran dalam berbagai kelompok
4) Klien tidak dapat melakukan peran yang biasa dilakukan
selama dirawat di rumah sakit atau setelah kembali dari
rumah sakit, klien tidak mungkin melakukan perannya
yang biasa.
Tanda dan gejala gangguan peran
a) Mengingkari ketidakmampuan menjalankan peran
b) Ketidakpuasan peran
c) Kegagalan menjalankan peran yang baru
d) Ketegangan menjalankan peran yang baru
e) Kurang tanggung jawab
f) Apatis/bosan/jenuh dan putus asa
e. Gangguan Identitas
Gangguan identitas adalah kekaburan/ketidakpastian
memandang diri sendiri. Penuh dengan keragu-raguan, sukar
menetapkan

keinginan dan tidak mampu mengambil

keputusan pada klien yang dirawat di rumah sakit karena


penyakit fisik maka identitas dapat terganggu, karena.
Tubuh klien di kontrol oleh orang lain. Misalnya :
Pelaksanaan pemeriksaan dan pelaksanaan tindakan tanpa
penjelasan dan persetujuan klien.Ketergantungan pada orang
lain. Misalnya : untuk self-care perlu dibantu orang lain
sehingga otonomi/kemandirian terganggu.

40

Perubahan peran dan fungsi. klien menjalankan peran


sakit,

peran

sebelumnya

tidak

dapat

di

jalankan.

Tanda dan gejala gangguan identitas


1) Tidak ada percaya diri
2) Sukar mengambil keputusan
3) Ketergantungan
4) Masalah dalam hubungan interpersonal
5) Ragu/ tidak yakin terhadap keinginan
6) Projeksi (menyalahkan orang lain).
Faktor resiko penyimpangan konsep diri
1) Personal Identity Disturbance
a) Perubahan perkembangan
b) Trauma
c) Ketidaksesuaian Gender
d) Ketidaksesuaian kebudayaan
2. Body Image Disturbance
a) Kehilangan salah satu fungsi tubuh
b) Kecacatan
c) Perubahan perkembangan
3. Self Esteem Dusturbance
a)
b)
c)
d)
e)

Hubungan interpersonal yang tidak sehat


Gagal mencapai perkembangan yang penting
Gagal mencpaai tujuan hidup
Gagal dalam kehidupan dengan moral tertentu
Perasaan tidak berdayaGagal dalam kehidupan dengan

moral tertentu
f) Perasaan tidak berdaya
4. Altered Role Peformance
a)
b)
c)
d)

Kehilangan nilai peran


Dua harapan peran
Konflik peran
Ketidakmampuan menemukan peran yang diinginkan.

41

2.11Asuhan

Keperawatan

pada

Pasien

dengan

Gangguan

Kebutuhan Aktualisasi Diri


A. Pengkajian
Dalam mengkaji konsep dan harga diri, pertama-tama perawat
harus berfokus pada setiap komponen kosep diri (identitas, citra
tubuh, dan penampilan peran). Pengkajian harus mekiputi perilaku
sugestif yang menunjukkan perubahan konsep diri atau harga diri,
tekanan konsep diri aktual dan potensial, dan pola koping.
Mengumpulkan data pengkajian yang komprehensif membutuhkan
sintesis informasi yang kritis dari berbagai sumber. Selain
menggunakan pertanyaan langsung, perawat dapat menumpulkan
banyak data tentang konsep diri melalui pengamatan perilaku
nonverbal klien dan memperhatikan isi pembicaraan klien. Buat
catatan

tentang

masala

yang

dibicarakan

klien

terkait

kehidupannya, karena hal ini akan memberikan petunjuk tentang


hubungan yang penuh tekanan dan dukungan, dan berperan
penting dalam membentuk asumsi klien. Gunakan pengetahuan
tentang tahap-tahap perkembangan untuk menentukan area apa
yang penting bagi klien, dan tanyakan tentang semua aspek
kehidupan individu. Sebagai contoh, tanyakan pada klien berusia
70 tahun tentang kehidupannya dan apa yang penting baginya.
Percakapan individual akan memberikan data yang berhubungan
dengan penampilan peran, identitas, harga diri, tekanan, dan pola
koping. Pengkajian terdiri dari data objektif dan data subjektif
yang bersandar dari batasan-batasan karakteristik. Data subjektif
adalah data yang diperoleh dari keluhan pasien dan wawancara
pasien atau keluarga pasien. Data objektif berasal dari Pemeriksaan
Fisik yang dilakukan perawat terhadap pasien. Data primer: Data
yang langsung diperoleh melalui pasien dan keluarga pasien
dirumah sakit.

42

Hal-hal yang penting dalam pengkajian yaitu sebagai berikut :


a. Identitas
b. Alasan masuk rumah sakit
c. Faktor perdisposisi
d. Pemeriksaan Fisik
e. Psikososial
Pemeriksaaan fisik :
- Mata tampak lingkaran hitam (tanda kurang tidur) atau
-

mata sembab (karena menangis)


Peningkatan tekanan darah, nadi, dan pernapasan
Peningkatan asam lambung
Aktivitas motorik
a. Lesu, tegang, gelisah
b. Agitasi : gerakan motorik yang menunjukkan

kegelisahan
c. Kompulsif : kegiatan yang dilakukan berulang-ulang
Tujuan Umum
Meningkatkan
aktualisasi
diri
dengan
membantu
menumbuhkan, mengembangkan, menyadari potensi sambil

mencari kompensasi ketidakmampuan.


Tujuan Khusus
Klien dapat mengenal dukungan yang dibutuhkan dalam
menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan konsep
diri dan membantu klien agar lebih mengerti akan dirinya
secara cepat.
B. Diagnosa Keperawatan
Pertimbangkan data pengkajian dengan hati-hati untuk
mengidentifikasikan area masalah aktual dan potensi klien.
Gunakan pengetahuan dan pengalaman standar profesional yang
sesuai, dan cari kelompok karakteristik definisi yang menunjukkan
suatu diagnosa keperawatan. Diagnosa yang terkait dengan
gangguan konsep diri yang berhubungan dengan atau yang terkait
dengan aktualisasi diri adalah sebagai berikut:
Isolasi sosial
Gangguan citra tubuh
Ketegangan peran pemberi layanan
Gangguan indentitas personal

43

Penampilan peran yang tidak efektif


Kesiapan untuk meningakatkan konsep diri
Harga diri rendah kronis
Harga diri rendah situasional
Risiko untuk harga diri rendah situasional
Ketidakefektifan Koping Individu. Contoh dari diagnosa
yang terkait dengan aktualisasi diri yaitu gangguan
aktualisasi diri berhubungan dengan ketidakefektifan

Koping Individu.
Definisi
Ketidakefektifan Koping adalah keadaan ketika
seseorang

individu

mengalami

atau

berisiko

mengalami suatu ketidakmampuan dalam menangani


stresor internal atau lingkungan dengan adekuat
karena ketidakadekuatan sumber-sumber (psikologis,
perilaku dan/atau kognitif.
Batasan Karakteristik (Vincent, 1985)
Data Mayor:
Pengungkapan ketidakmampuan untuk mengatasi
atau meminta bantuan.
Penggunaan mekanisme pertahanan yang tidak
sesuai .
Ketidkamampuan

memenuhi

diharapkan
Data Minor
Rasa khawatir kronis, ansietas
Melaporkan tentang kesulitan

peran

yang

dengan

stres

kehidupan
Ketidakefektifan partisipasi sosial
Perilaku destruktif yang ditujukan pada diri sendiri
atau orang lain.
Tingginya insiden kecelakaan
Sering sakit
Manipulasi verbal

44

Ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan


dasar.
Pola respons nonasertif
Perubahan dalam pola komunikasi yang biasa
Penyalahgunaan obat-obat terlarang.
Setelah perawat mengumpulkan data tambahan, biasanya
diagnosis keperawatan utama menjadi lebih jelas. Untuk
memvalidasi pemikiran kritis

tentang suatu diagnosis

keperawatan, bagikan hasil pengamatan anda kepada klien


dan izinkan klien untuk menjelaskan persepsinya. Pendekatan
ini biasanya akan menghasilkan data tambahan tentang klien
yang selanjutnya akan membantu menjelaskan situasi.
C. Perencanaan
Selama perencanaan, lakukan sintesis pengeta

huan,

pengalaman, sikap berpikir kritis dan standar. Pemikiran kritis


dapat memastikan bahwa rencana perawatan klien sudah
mencakup informasi yang diketahui tentang individu, demikian
juga dengan peran elemen pemikiran kritis. Standar profesional
sangat penting untuk dipertimbangkan saat mengembangkan suatu
rencana perawatan. Standar ini biasanya membuat petunjuk praktik
berbasis bukti atau etika untuk memilih intervensi keperawatan
yang efektif. Mengembangkan rencana perawatan individual untuk
setiap diagnosis keperawatan. Bekerja secara kolaborasi dengan
klien untuk menentukan harapan-harapan nyata terkait perawatan.
Yakinkan bahwa tujuan bersifat individual dan nyata dengan hasil
yang dapat diukur. Dalam menentukan tujuan konsultasikan
dengan klien tentang apakah tujuan dapat dicapai. Konsultasi
dengan orang terdekat, praktisi kesehatan mental, dan sumber daya
masyarakat akan menghasilkan rencana yang lebih mnyeluruh dan
dapat dilakukan. Rencana keperawatan memperlihatkan tujuan,

45

hasil yang diharapkan dan intervensi untuk klien dengan


perubahan konsep diri. Intervensi membantu klien beradaptasi
dengan stesor yang menyebabkan gangguan konsep diri serta
mendukung dan memperkuat metode koping. Menentukan
prioritas meliputi penggunaan komunikasi terapeutik untuk
menyelesaikan masalah konsep diri yang menjamin bahwa klien
mampu memenuhi kebutuhan fisiknya secara maksimal. Cari
kekuatan dalam diri klien dan keluarganya, kemudian sediakan
sumber daya dan pendidikan untuk mengubah keterbatasan
menjadi kekuatan.
Edukasi klien menciptakan pemahaman tentang situasi normal
yang ada. Persepsi dari orang-orang terdekat penting untuk
dimasukkan ke dalam rencana perawatan. Individu yang pernah
mengalami penurunan konsep diri sebelumnya biasanya telah
memiliki suatu sistem dukungan meliputi ahli kesehatan mental,
pendeta, dan sumber daya masyarakat lainnya. Klien yang sedang
menjalani pengobatan atau perubahan konsep diri akan mendapat
keuntungan dari kolaborasi antara kesehatan mental dan sumber
daya

masyarakat

dalam

mempromosikan

peningkatan

kewaspadaan. Sumber daya tambahan lainnya antara lain terapi


fisik, terapi okupasi, perioaku sehat, pelayanan umum, dan
pelayanan pastoral.
Contoh intervensi

kepada

pasien

yang

terdiagnosis

ketidakefektifan koping individu berkaitan dengan untuk


terwujudnya proses aktualisasi diri klien
RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
Tan
ggal

No.
Dx

Diagnosa
Keperawatan

Perencanaan
Kriteria
Tujuan
Hasil

Intervensi

Rasional

46

Koping
individu tidak
efektif

TUM :
Klien dapat
A.
memiliki
koping yang
efektif
TUK 1 :
Klien dapat
membina
hubungan
saling
percaya
dengan
perawat

TUK 2 :
Klien dapat
memventilasi
perasaannya
secara bebas

Setelah
A. Bina hubungan
dilakukan
saling percaya
interaksi
dengan
selama 10
menggunakan
menit, klien
prinsip
dapat
komunikasi
menunjukk
terapeutik :
1. Sapa
klien
an tandadengan
tanda
ramah
percaya
2.
Kenalkan
pada
nama,
dan
perawat
tujuan
dengan
memperkenal
kriteria :
kan diri
1. Ekspre
3. Tanyakan
si waja
nama
h
lengkap dan
bersah
panggilan
abat
4. Buat kontrak
2. Menun
yang jelas
jukkan
5. Tunjukan
rasa
sikap jujur
senang
dan menepati
3. Ada k
janji
ontak
6.
Beri
mata
perhatianpad
4. Mau b
a klien
erjabat
7. Tanyakan
tangan
perasaan
5. Mau m
klien
dan
enyeb
masalah
utkan
yang
nama
dihadapinya
6. Mau m
enjawa
b
salam
A. Setelah
dilakukan
interaksi
B.
selama 10
menit, klien

A. Ijinkan klien
untuk menangis
Sediakan
kertas
dan alat tulis jika

Hubungan
saling percaya
memungkinkan
terbuka pada
perawat dan
sebagai dasar
untuk intervens
i selanjutnya

Saling mengerti
bertujuan untuk
memudahkan
interaksi
selanjutnya
47

mampu
memventila
si
perasaannyC.
a
secara
bebas

TUK 3 :
Klien dapat
mengidentifi
kasi koping
dan perilaku
yang
berkaitan
dengan
kejadian
yang
dihadapi

TUK 4 :
Klien dapat
memodifikas
i
pola
kognitif yang
negatif

klien belum mau


bicara
Nyatakan kepada
klien
bahwa
perawat
dapat
mengerti
apabila
klien belum siap
membicarakan
masalahnya
A.
Tanyakan
kepada
klien
apakah
pernah
mengalami
hal
yang sama

A. Setelah
dilakukan
interaksi
selama 10
menit, klien
dapat
mengidenti B. Tanyakan caracara yang dapat
fikasi
dalam
koping dan dilakukan
mengatasi
perasaan
perilaku
dan masalah
yang
C.
Identifikasi
berkaitan
koping
yang
dengan
pernah dipakai
kejadian
yang
D. Diskusikan dengan
dihadapi
klien
alternatif

A. Setelah
dilakukan
interaksi
selama 15
menit, klien
dapat
memodifik
asi
pola
kognitif
yang
negatif

koping yang tepat


bagi klien
A.
Diskusikan
tentang
masalah
yang dihadapi klien

Perilaku
sebelumnya
dapat menjadi
tolok ukur halhal yang akan
dilakukan
selanjutnya

Meningkatkan
pemikiran yang
positif

B.
Klarifikasi
pembicaraan
negatif dan bantu
untuk menurunkan
melalui interupsi
substitusi

C. Bantu klien
meningkatkan
pemikiran
yang
48

positif
D.
Identifikasi
ketetapan persepsi
klien yang tepat,
penyimpangan dan
pendapat
yang
tidak rasional
E. Kurangi penilaian
yang
negatif
tentang dirinya
F. Evaluasi ketepatan
persepsi,
logika
dan
kesimpulan
yang dibuat klien

TUK 5 :
Klien dapat
berpartisipasi
dalam
pengambilan
keputusan
yang
berkenaan
dengan
perawatan
dirinya

G. Bantu klien untuk


menyadari
nilai
yang dimilikinya /
perilaku
dan
perubahan
yang
terjadi
A. Setelah A. Libatkan klien
dilakukan
dalam menetapkan
interaksi
tujuan perawatan
selama 10 yang ingin dicapai
menit, klien
B. Motivasi klien
dapat
membuat
berpartisipa untuk
aktivitas
si
dalam jadwal
perawatan
diri
pengambila
n
C.
Beri
klien
keputusan
privasi
sesuai
yang
kebutuhan
yang
berkenaan
ditentukan
dengan
perawatan
D.
Beri
dirinya
reinforcement
positif
keputusan

Membantu
klien
meningkatkan
koping individu
yang efektif

untuk
yang

49

dibuat
E. Beri pujian jika
klien berhasil
TUK 6 :
Klien dapat
memotivasi
untuk aktif
mencapai
tujuan yang
realistik

A. Setelah
dilakukan
interaksi
selama 10
menit, klien
dapat
memotivasi
untuk aktif
mencapai
tujuan yang
realistik

A. Motivasi klien
A. Bantu klien
untuk menetapkan
tujuan
yang
realistik. Fokuskan
kegiatan pada saat
ini, bukan kegiatan
masa
lalu

Dengan tujuan
yang realistik,
hidup
akan
kembali tertata
dan
meningkatkan
koping
yang
efektif

B. Bantu klien
mengidentifikasi
area
situasi
kehidupan
yang
dapat dikontrolnya
C. Identifikasi citacita yang ingin
dicapai
D. Dorong untuk
berpartisipasi
dalam beraktivitas
tersebut
E.
Motivasi
keluarga
untuk
berperan
aktif
dalam membantu
klien menurunkan
rasa bersalah

D. Implementasi
Fase implementasi atau pelaksanaan terdiri dari beberapa
kegiatan,

yaitu

validasi

rencana

keperawatan,

mendokumentasikan rencana keperawatan, memberikan asuhan


keperawatan, dan pengumpulan data.

50

Hubungan terapeutik antara klien dan perawat merupakan


pusat dari fase implementasi. Perawat mengembangkan tujuan dari
kriteria

hasil,

kemudian

mempertimbangkan

intervensi

keperawatan untuk meningkatkan konsep diri yang sehat dan


membantu klien mencapai tujuan. Bekerjalah bersama klien untuk
membantu mereka mengembangkan perilaku gaya hidup sehat
yang mendukung konsep diri positif. Ukur tindakan yang
mendukung adaptasi terhadap stresor seperti gizi yang sesuai,
latihan teratur sesuai kemampuan klien, istrahat dan tidur yang
cukup, dan praktik menurunkan stesor yang berperan dalam
menciptakan konsep diri yang sehat.
Dalam tatanan perawatan akut, beberapa klien mengalami
tindakan terkait konsep diri sebagai efek dari pengobatan dan
prosedur diagnostik. Perawat pada tatanan perawatan akut juga
menghadapi klien yang memerlukan adaptasi terhadap perubahan
citra tubuh sebagai akibat tindakan operasi atau perubahan fisik
lainnya. Maka rujukan dan tindakan lebih lanjut yang sesuai,
termasuk perawatan di rumah, juga menjadi hal penting. Dalam
lingkungan perawatan rumah, seorang perawat memiliki lebih
banyak kesempatan untuk berkerja dengan klien guna mencapai
tujuan konsep diri yang lebih positif. Tingkatkan kewaspadaan diri
klien dengan memperbolehkan klien menggali pikiran dan
perasaannya secara terbuka.
Intervensi keperawatan yang utama adalah menggunakan
keterampilan komunikasi untuk menjelaskan keinginan klien dan
keluarganya. Lakukanlah kerja sama dengan klien untuk
menganalisis respons dan gangguan adaptasi alternatif sebaliknya
yang berbeda, pikirkan sebuah rencana dan bahas hasil. Ciptakan
kesempatan

yang

menghasilkan

keberhasilan,

perkuat

keterampilan, kekuatan klien, dan bantu klien mendapatkan


bantuan yang diperlukan. Dorong klien untuk membuat keputusan
51

dan tindakan untuk mencapai tujuan dengan mengajarkan klien


berpindah dari mekanisme koping yang tidak efektif, dan
mengembangkan strategi adaptasi yang efektif.
E. Evaluasi
Evaluasi

merupakan

langkah

terakhir

dalam

proses

keperawatan. Evaluasi adalah kegiatan yang disengaja dan terusmenerus dan melibatkan pasien, perawat, dan anggota tim
kesehatan lainnya. Dalam hal ini diperlukan pengetahuan tentang
kesehatan, petofisiologi, dan strategi evaluasi. Tujuan evaluasi
adalah untuk menilai apakah tujuan dalam rencana keperawatan
tercapai atau tidak, dan untuk melakukan pengkajian ulang.
Gunakan pemikiran kritis untuk mengevaluasi keberhasilan
klien dalam mencapai setiap tujuan dan hasil yang diharapkan.
Evaluasi berkala terhadap kemajuan klien sangat diperlukan.
Terapkan pengetahuan tentang perilaku dan karakteristik konsep
diri yang sehat ketika meninjau ulang perilaku aktual klien. Hal ini
membantu menentukan apakah hasil telah tercapai. Hasil yang
diharapkan klien dengan gangguan konsep diri meliputi perilaku
nonverbal yang mengindikasikan konsep diri yang positif,
pernyataan tentang penerimaan diri, dan penerimaan terhadap
perubahan penampilan atau fungsi. Cari tanda-tanda bahwa klien
telah mengurangi beberapa stresor dan beberapa perilaku telah
menjadi lebih adaptif. Perubahan konsep diri membutuhkan waktu.
Walaupun perubahannya akan berjalan lambat, tetapi perawatan
klien dengan gangguan konsep diri akan sangat bermanfaat.

52

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Aktualisasi diri adalah sebuah keadaan dimana seorang manusia telah
merasa menjadi dirinya sendiri. Aktualisasi diri ditandai dengan penerimaan
diri dan orang lain, spontanitas, keterbukaan, hubungan dengan orang lain
yang relatif dekat dan demokratis, kreativitas, humoris, dan mandiri - pada
dasarnya, sehingga mampu

memiliki kesehatan mental yang bagus

atau sehat secara psikologis. Maslow menempatkan perjuangan untuk


aktualisasi diri pada puncak hierarki kebutuhannya, hal ini berarti bahwa
53

pencapaian dari kebutuhan paling penting ini bergantung pada pemenuhan


seluruh kebutuhan lainnya.
3.2 Saran
Aktualisasi diri sangat diperlukan di dalam perkembangan hidup untuk
mencapai kepercayaan diri. Proses aktualisasi diri merupakan proses menjadi diri
sendiri maka seseorang jangan sampai meninggalkan konsep aktualisasi diri agar
tidak kehilangan kepercayaan diri.

54