Anda di halaman 1dari 56

ASUHAN INFORMASI

KEFARMASIAN
TUBERKULOSIS

Ahmad Tantowi

: 1112102000085

Ade Rachma Islamiah


Nurul fitri rukmana

: 1112102000037

: 1112102000082

Hana Youlanda

: 1112102000033

Nur Khasanah

: 1112102000093

Fandi Karami : 1112102000029


Ani Kurniawati
Pipit Fitriah

: 1112102000042

: 1112102000077

Anis Aulia : 1112102000097


Nursetyowati Rahayu

: 1112102000049

Ghilman Dharmawan : 1112102000088


Rouli Meparia Utami : 1112102000104

ETIOLOGI

Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan


oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis).

Sebagian besar kuman TB menyerang paru (80%), tetapi dapat juga


mengenai organ tubuh lainnya.

Kuman ini memiliki sifat khusus yaitu tahan terhadap asam dan
pewarnaan dan dipakai untuk identifikasi dahak secara mikroskopis
sehingga disebut dengan basil tahan asam (BTA).

CARA PENULARAN

Sumber penularan adalah penderita TB BTA positif pada waktu batuk


atau bersin, penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk
droplet (percikan dahak

Terinfeksi jika droplet tersebut terhirup kedalam saluran pernafasan.

Penularan TB tidak terjadi melalui perlengkapan makan, baju, dan


perlengkapan tidur

Setelah kuman TB masuk ke dalam tubuh manusia melalui


pernafasan, kuman TB tersebut dapat menyebar dari paru kebagian
tubuh lainnya, melalui sistem peredaran darah, sistem saluran limfe,
saluran nafas, atau penyebaran langsung ke bagian-bagian tubuh
lainnya

1.

Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif.

2.

Pada waktu batuk atau bersin, pasien menyebarkan


kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak
(droplet nuclei). Sekali batuk dapat menghasilkan
sekitar 3000 percikan dahak.

3.

Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh


banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya.
Makin tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan
dahak, makin menular pasien tersebut, Kepadatan
droplet nuclei yang infeksius per volume udara

4.

lamanya menghirup udara yang terdapat bakteri


(kontak dengan droplet nuklei)

5.

Faktor lingkungan

Faktor Resiko TBC


A. Status Gizi
kurangnya pemenuhan gizi akan berakibat pada daya tahan tubuh yang
rendah sehingga mudah untuk terkena infeksi. Pada penelitian, Telah
terbukti bahwa keadaan malnutrisi (protein,vitamin,kalori, zat besi dll) akan
mengurangi daya tahan tubuh sehingga akan menurunkan resistensi
terhadap berbagai penyakit termasuk TB. Faktor ini sangat berperan pada
negara-negara miskin dan tidak mengenal usia.
B. Luas Ventilasi
Ventilasi mempunyai banyak fungsi salah satunya yaitu untuk menjaga agar
aliran udara didalam rumah tetap segar dan membebaskan udara ruangan
dari bakter - bakteri. Akan tetapi kurangnya ventilasi akan menyebabkan
peningkatan kelembaban ruangan karena terjadinya proses penguapan
cairan dari kulit dan penyerapan. Kelembaban ruangan yang tinggi akan
menjadi media yang baik untuk tumbuh dan berkembang biaknya bakteribakteri patogen termasuk bakteri tuberkulosis.

C. Keadaan sosial ekonomi


Penyakit TB lebih banyak menyerang masyarakat yang
berasal dari kalangan sosial ekonomi rendah. Keadaan sosial
ekonomi berkaitan erat dengan pendidikan, keadaan sanitasi
lingkungan, gizi, dan akses terhadap pelayanan kesehatan.
Penurunan pendapatan dapat menyebabkan kurangnya
kemampuan daya beli dalam memenuhi kebutuhan makanan
sehingga akan berpengaruh pada status gizi. Apabila status
gizi buruk maka akan menyebabkan kekebalan tubuh
menurun, sehingga memudahkan terkena infeksi TBC.
D. Kebiasaan merokok
Merokok
diketahui
mempunyai
hubungan
dengan
meningkatkan penyakit kanker paru paru, jantung koroner,
dan bronkitis kronis. Sehingga kebiasaan rokok dapat
meningkatkan risiko untuk terkena TBC sebanyak 2,2
kali.karena dapat menurunkan sistem pertahanan tubuh.

E. Pencahayaan
Cahaya sangat penting karena dapat membunuh bakteribakteri patogen didalam rumah, misalnya basil TBC.
F. Kontak serumah
Sebagian Anggota keluarga yang tinggal serumah dengan
penderita TB mempunyai resiko untuk tertular penyakit TB.

G. Umur
Penyakit TB paru paling sering ditemukan pada usia muda atau
usia produktif 15-50 tahun . menurut penelitian, Diperkirakan
seorang pasien TB dewasa, akan kehilangan rata-rata waktu kerjanya
3 sampai 4 bulan. Hal ini akan berakibat pada kehilangan
pendapatan tahunan rumah tangganya sekitar 20-30%. Sedangkan
Pada usia lanjut lebih dari 55 tahun system imunologi seseorang
menurun, sehingga sangat rentan terhadap berbagai penyakit,
termasuk penyakit TB-paru.

Manifestasi Klinik
Gejala sistemik/umum:
Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah)
Sesak nafas, nyeri dada
Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan malam hari
disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat
hilang timbul
Penurunan nafsu makan dan berat badan
Perasaan tidak enak (malaise), lemah
Berkeringat pada malam hari
Gejala khusus:
Bergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi sumbatan sebagian
bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru) akan menimbulkan suara mengi,suara
nafas melemah yang disertai sesak.
Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat disertai dengan
keluhan sakit dada.
Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang pada suatu
saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit di atasnya, pada muara ini
akan keluar cairan nanah.
Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan disebut sebagai
meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah demam tinggi, adanya penurunan
kesadaran dan kejang-kejang.

Manifestasi Klinik
Pemeriksaan Laboratorium

Peningkatan pada perhitungan sel darah putih


dengan dominasi limfosit

Radiografi dada

Infiltrasi nodus pada daerah apikal di lobus bagian


atas dari bagian superior dari lobus paling bawah

Kavitasi yang menunjukkan kadar udara-air sebagai


tanda perkembangan infeksi

Klasifikasi TBC
A. Klasifikasi berdasarkan ORGAN tubuh yang
terkena:
1) Tuberkulosis paru
Adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan (parenkim)
paru. tidak termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar
pada hilus.
2) Tuberkulosis ekstra paru
Adalah tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain
selain paru, misalnya pleura, selaput otak, selaput
jantung (pericardium), kelenjar limfe, tulang, persendian,
kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin, dan lainlain

B. Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan DAHAK mikroskopis,


yaitu pada TB Paru:
1) Tuberkulosis paru BTA positif
a) Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif.
b) 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks dada
menunjukkan gambaran tuberkulosis.
c) 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman TB positif.
d) 1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen dahak
SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada
perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.
2) Tuberkulosis paru BTA negatif
Kasus yang tidak memenuhi definisi pada TB paru BTA positif. Kriteria
diagnostik TB paru BTA negatif harus meliputi:
a) Minimal 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif
b) Foto toraks abnormal menunjukkan gambaran tuberkulosis
c) Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.
d) Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi pengobatan

C. Klasifikasi berdasarkan tingkat kePARAHan penyakit.


1) TB paru BTA negatif foto toraks positif
dibagi berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya, yaitu bentuk berat dan
ringan. Bentuk berat bila gambaran foto toraks memperlihatkan gambaran
kerusakan paru yang luas dan atau keadaan umum pasien buruk.
2) TB ekstra-paru dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan
penyakitnya, yaitu:
a) TB ekstra paru ringan, misalnya: TB kelenjar limfe, pleuritis eksudativa
unilateral, tulang (kecuali tulang belakang), sendi, dan kelenjar adrenal.
b) TB ekstra-paru berat, misalnya: meningitis, milier, perikarditis
peritonitis, pleuritis eksudativa bilateral, TB tulang belakang, TB usus, TB
saluran kemih dan alat kelamin.

Catatan:
Bila seorang pasien TB ekstra paru juga mempunyai TB paru, maka untuk
kepentingan pencatatan, pasien tersebut harus dicatat sebagai pasien TB
paru.
Bila seorang pasien dengan TB ekstra paru pada beberapa organ, maka
dicatat sebagai TB ekstra paru pada organ yang penyakitnya paling berat.

D. Klasifikasi berdasarkan RIWAYAT pengobatan sebelumnya


Klasifikasi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya dibagi menjadi beberapa tipe
pasien, yaitu:
1) Kasus Baru
Adalah pasien yang BELUM PERNAH diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT
kurang dari satu bulan (4 minggu)
2) Kasus Kambuh (Relaps)
Adalah pasien TB yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah
dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, didiagnosis kembali dengan BTA positif
(apusan atau kultur).
3) Kasus Putus Berobat (Default/Drop Out/DO)
Adalah pasien TB yang telah berobat dan putus berobat 2 bulan atau lebih dengan BTA
positif.
4) Kasus Gagal (Failure)
Adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi
positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.
5) Kasus Pindahan (Transfer In)
Adalah pasien yang dipindahkan dari UPK yang memiliki register TB lain untuk
melanjutkan pengobatannya.

Diagnosis Penyakit TB
Gejala utama pasien TB paru adalah batuk berdahak selama 2-3
minggu atau lebih. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak
bercampur darah, batuk darah, sesak nafas, badan lemas, nafsu makan
menurun, berat badan menurun, malaise, berkeringat malam hari tanpa
kegiatan fisik, demam meriang lebih dari satu bulan.

Beberapa hal yang


diagnosis adalah:

perlu

dilakukan

untuk

menegakkan

Anamnesa baik terhadap pasien maupun keluarganya.

Pemeriksaan fisik.

Pemeriksaan laboratorium (darah, dahak, cairan otak).

Pemeriksaan patologi anatomi (PA).

Rontgen dada (thorax photo).

Uji tuberkulin.

1. Pemeriksaan Dahak
Pemeriksaan dahak untuk penegakan diagnosis pada semua
suspek TB dilakukan dengan mengumpulkan 3 spesimen dahak
yang dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang berurutan
berupa dahak Sewaktu-Pagi-Sewaktu (SPS)
Di laboratorium dahak diwarnai dengan pewarnaan khusus,
sehingga kuman akan tampak jelas bila dilihat dibawah
mikroskop. Dengan pembesaran 1000 kali kuman tampak berupa
batang lurus ramping, kadang sedikit bengkok berukuran
panjang 0,8 5 mikron dan tebal 0,2 0,5 mikron.

S(sewaktu) : Dahak dikumpulkan pada saat suspek TB datang


berkunjung pertama kali. Pada saat pulang, suspek membawa
sebuah pot dahak untuk mengumpulkan dahak pagi pada hari
kedua.

P(Pagi) : Dahak dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua,


segera setelah bangun tidur. Pot dibawa dan diserahkan
sendiri kepada petugas di UPK.

S(sewaktu) : Dahak dikumpulkan di UPK pada hari kedua, saat


menyerahkan dahak pagi.

2. Rontgen Torax / Paru


Pada gambaran rontgen paru penderita TBC dapat ditemukan
infiltrat yang berupa awan atau bercak-bercak putih pada paru,
pembesaran kelenjar getah bening pada hilus (saluran nafas),
adanya cairan kantong paru (pleural efusion), adanya kaverne
(rongga kecil akibat kerusakan akibat jaringan paru).

3. Tes Mantoux / Tuberkulin


Ada beberapa cara melakukan uji tuberkulin, namun sampai
sekarang cara mantoux lebih sering digunakan. Lokasi
penyuntikan uji mantoux umumnya pada bagian atas lengan
bawah kiri bagian depan, disuntikkan intrakutan (ke dalam kulit).
Penilaian uji tuberkulin dilakukan 4872 jam setelah penyuntikan
dan diukur diameter dari pembengkakan (indurasi) yang terjadi

Pembengkakan (Indurasi) : 04mm, uji mantoux negatif. Arti


klinis : tidak ada infeksi Mycobacterium tuberculosis.

Pembengkakan (Indurasi) : 59mm, uji mantoux meragukan.


Hal ini bisa karena kesalahan teknik, reaksi silang dengan
Mycobacterium atypikal atau pasca vaksinasi BCG.

Pembengkakan (Indurasi) : >= 10mm, uji mantoux positif. Arti


klinis : sedang atau pernah terinfeksi Mycobacterium
tuberculosis.

4. Tes Laju Endapan Darah


Pemeriksaan LED dilakukan dengan mengukur kecepatan
mengendap sel darah dalam pipet khusus (pipet westergreen),
pada orang normal nilai LED dibawah 20 mm/jam. Pada penderita
TBC nilai LED biasanya meningkat, pada proses penyembuhan
nilai LED akan turun. Penilaian hasil LED harus hati-hati, karena
hasil LED juga dapat meningkat pada penyakit infeksi bukan TBC.

Tatalaksana terapi antituberkulosis

Sesuai dengan sifat kuman TB, untuk memperoleh efektifitas


pengobatan, maka prinsip-prinsip yang dipakai adalah :

- Menghindari penggunaan monoterapi. Obat Anti Tuberkulosis (OAT)


diberikan dalam bentuk kombinasi dari beberapa jenis obat, dalam
jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan.
Hal ini untuk mencegah timbulnya kekebalan terhadap OAT.

- Untuk menjamin kepatuhan penderita dalam menelan obat,


pengobatan dilakukan dengan pengawasan langsung (DOT =
Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat
(PMO).

- Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan


lanjutan.

1. Tahap intensif
Pada tahap intensif (awal) penderita mendapat
obat setiap hari dan perlu diawasi secara langsung
untuk mencegah terjadinya kekebalan obat.
Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan
secara tepat, biasanya penderita menular menjadi
tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu.
Sebagian besar penderita TB BTA positif menjadi
BTA negatif (konversi) dalam 2 bulan.

2. Tahap lanjutan
Pada tahap lanjutan penderita mendapat jenis obat
lebih sedikit, namun dalam jangka waktu yang lebih
lama. Tahap lanjutan penting untuk membunuh
kuman persister (dormant) sehingga mencegah
terjadinya kekambuhan.

Rejimen pengobatan

Obat yang umum dipakai adalah Isoniazid, Etambutol, Rifampisin,


Pirazinamid, dan Streptomisin obat primer.

Obat lain: Natrium Para Amino Salisilat, Kapreomisin, Sikloserin,


Etionamid, Kanamisin, Rifapentin dan Rifabutin mempunyai efek
yang lebih toksik, kurang efektif, dan dipakai jika obat primer sudah
resisten; Rifapentin dan Rifabutin digunakan sebagai alternatif untuk
Rifamisin dalam pengobatan kombinasi anti TB.

Rejimen pengobatan TB mempunyai kode standar yang


menunjukkan tahap dan lama pengobatan, jenis OAT, cara
pemberian (harian atau selang) dan kombinasi OAT dengan dosis
tetap.

Contoh : 2HRZE/4H3R3 atau 2HRZES/5HRE.

angka yang ada dalam kode


menunjukkan waktu atau
frekwensi.
Angka 2 didepan seperti pada
2HRZE, artinya digunakan
selama 2 bulan, tiap hari satu
kombinasi tersebut,
untuk angka dibelakang huruf,
seperti pada 4H3R3 artinya
dipakai 3 kali seminggu
( selama 4 bulan).

Kode huruf
nama obat :
H = Isoniazid
R = Rifampisin
Z = Pirazinamid
E = Etambutol
S=
Streptomisin

Sebagai contoh, untuk TB kategori I dipakai


2HRZE/4H3R3, artinya:

- Tahap awal/intensif adalah 2HRZE : Lama


pengobatan 2 bulan, masing masing OAT
(HRZE) diberikan setiap hari.

-Tahap lanjutan adalah 4H3R3 : Lama

Paduan pengobatan yang digunakan oleh Program Nasional


Penanggulangan TB oleh Pemerintah Indonesia :

Kategori 1 : 2HRZE/4H3R3.
Kategori 2 : 2HRZES/HRZE/5H3R3E3.
Kategori 3 : 2 HRZ/4H3R3.

Disamping ketiga kategori ini, disediakan paduan obat sisipan (HRZE)


.

KATEGORI 1 (2HRZE/4H3R3)

Obat ini diberikan untuk:


Penderita baru TB Paru BTA Positif.
Penderita baru TB Paru BTA negatif Rntgen Positif yang sakit berat
Penderita TB Ekstra Paru berat

KATEGORI 2
(2HRZES/HRZE/5H3R3E3)
Obat ini diberikan untuk penderita TB paru BTA(+) yang sebelumnya

pernah diobati, yaitu:

Penderita kambuh (relaps)

Penderita gagal (failure)

Penderita dengan pengobatan setelah lalai (after default).

KATEGORI 3 (2HRZ/4H3R3)

Obat ini diberikan untuk:

Penderita baru BTA negatif dan rntgen positif sakit ringan,

Penderita TB ekstra paru ringan.

OAT SISIPAN (HRZE)


Obat ini digunakan bila pengobatan menggunakan kategori 1 dan
kategori 2 tidak berhasil. diberikan setiap hari selama 1 bulan.

Pengobatan TB Pada Anak


(2HRZ/4HR)
Yang harus diperhatikan:

Pemberian obat baik pada tahap intensif maupun tahap lanjutan


diberikan setiap hari.

Dosis obat harus disesuaikan dengan berat badan anak

Obat Anti Tuberkulosis


Kombinasi Tetap

Disamping Kombipak, saat ini tersedia juga obat TB yang disebut Fix
Dose Combination(FDC). Obat ini pada dasarnya sama dengan obat
kompipak, yaitu rejimen dalam bentuk kombinasi, namun didalam
tablet yang ada sudah berisi 2, 3 atau 4 campuran OAT dalam satu
kesatuan.

Keuntungan penggunaan OAT FDC:

Mengurangi kesalahan peresepan karena jenis OAT sudah dalam


satu kombinasi tetap dan dosis OAT mudah disesuaikan dengan
berat badan penderita.

Dengan jumlah tablet yang lebih sedikit maka akan lebih mudah
pemberiannya dan meningkatkan penerimaan penderita sehingga
dapat meningkatkan kepatuhan penderita.

Dengan kombinasi yang tetap, walaupun tanpa diawasi, maka


penderita tidak bisa memilih jenis obat tertentu yang akan ditelan.

Dari aspek manajemen logistik, OAT-FDC akan lebih mudah


pengelolaannya dan lebih murah pembiayaannya.

Paduan pengobatan OAT-FDC yang tersedia saat ini di Indonesia terdiri


dari:

2(HRZE)/4(HR)3 untuk Kategori 1 dan Kategori 3

2(HRZE)S/1(HRZE)/5(HR)3E3 untuk Kategori 2

Sedangkan untuk Dosis Pengobatan Kategori 2 disampaikan pada


tabel berikut
{2(HRZE)S/1(HRZE)/5(HR)3E3}:

Kemoprofilaksis

Merupakan pemberian obat untuk mencegah penularan suatu


penyakit infeksi. Tindakan ini biasanya dilakukan pada orang yang
terancam penyakit infeksi tertentu, misalnya orang yang tinggal
bersama penderita tuberkulosis dan mempunyai kemungkinan
besar untuk ditulari penyakit tersebut.

Pencegahan
Petunjuk Teknis Manajemen TB Anak
oleh Kementrian Kesehatan RI

Vaksinasi BCG (Bacille Calmette Guerin)

Skrining dan Manajemen Kontak

Makanan bergizi

Pencegahan dengan Isoniazid (kemoprofilaksis)

Education

Lainnya

Perbaikan lingkungan

Vaksinasi BCG (Bacille Calmette


Guerin) pada Anak

Vaksin BCG adalah vaksin hidup yang dilemahkan yang berasal dari
Mycobacterium bovis.

Tujuan : untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi oleh


basil tuberculosis yang virulen dimana imunitas timbul 6-8 minggu
setelah pemberian BCG

diberikan pada bayi 0-2 bulan, pada bayi > 2 bulan harus didahului
dengan uji tuberkulin

efektif untuk mencegah terjadinya TB berat seperti TB milier dan TB


meningitis yang sering didapatkan pada usia muda

Perhatian khusus pada pemberian


vaksinasi BCG yaitu :
Bayi terlahir dari ibu pasien TB BTA
positif

Bayi yang terlahir dari ibu yang terdiagnosis TB BTA positif


pada trimester 3 kehamilan berisiko tertular ibunya melalui
placenta, cairan amnion maupun hematogen.
Sedangkan bayi yang terlahir dari ibu pasien TB BTA positif
selama masa neonatal berisiko tertular ibunya melalui percik
renik.
Pada kedua kondisi tersebut bayi sebaiknya dilakukan rujukan

Bayi terlahir dari ibu pasien infeksi


HIV/AIDS

Bayi yang dilahirkan dari ibu yang terbukti infeksi HIV/AIDS


tidak dianjurkan diberikan imunisasi BCG
bayi sebaiknya dilakukan rujukan untuk pembuktian apakah
bayi sudah terinfeksi HIV atau tidak.

Skrining dan Manajemen Kontak


kegiatan investigasi yang dilakukan secara aktif dan intensif untuk
menemukan 2 hal yaitu :
1.

anak yang mengalami paparan dari pasien TB BTA positif

2.

orang dewasa yang menjadi sumber penularan bagi anak yang


didiagnosis TB

Pencegahan dengan Isoniazid


(kemoprofilaksis)
Pencegahan (profilaksis) primer

untuk mencegah terjadinya infeksi pada anak dengan kontak


tuberkulosis dan uji tuberkulin masih negatif yang berarti
masih belum terkena infeksi atau masih dalam masa inkubasi.
Pada anak yang memiliki kontak erat dengan penderita TB BTA
(+) mendapat INH minimal 3 bulan walaupun uji tuberkulin
memberi hasil negatif.
Terapi profilaksis dapat dihentikan bila hasil uji tuberkulin ulang
menjadi negatif atau sumber penularan TB aktif sudah tidak
ada.

Pencegahan (profilaksis) sekunder

untuk mencegah berkembangnya infeksi menjadi penyakit,


misalnya pada anak yang berumur kurang dari 5 tahun dengan
uji tuberculin positif tanpa kelainan radiologis paru dan pada
anak dengan konsensi uji tuberkulin tanpa kelainan radiologis
paru.

Profilaksis diberikan selama 6-9 bulan.

dosis pemberian 10 mg/ kgBB (7-15 mg/kg) setiap hari selama 6


bulan.

Setiap bulan (saat pengambilan obat Isoniazid) dilakukan


pemantauan terhadap adanya gejala TB. Jika terdapat gejala TB pada
bulan ke 2, ke 3, ke 4, ke 5 atau ke 6, maka harus segera dievaluasi
terhadap sakit TB dan jika terbukti sakit TB, pengobatan harus segera
ditukar ke regimen terapi TB anak dimulai dari awal

Jika rejimen Isoniazid profilaksis selesai diberikan (tidak ada gejala TB


selama 6 bulan pemberian), dapat dihentikan.

Bila anak tersebut belum pernah mendapat imunisasi BCG, perlu


diberikan BCG setelah pengobatan profilaksis dengan INH selesai.

Pencegahan lainnya
Perbaikan lingkungan mencari sumber penularannya
Makanan bergizi

Bila anak dengan gizi kurang akan mudah terinfeksi kuman tuberkulosis,
sedangkan anak dengan gizi baik dapat meningkatkan daya tahan tubuh
sehingga anak tersebut tidak mudah terinfeksi kuman tuberkulosis

Education

Edukasi sangat penting dianjurkan untuk diberitahukan kepada keluarga


dengan penderita TBC aktif di dalamnya. Pentingnya sirkulasi udara yang
baik, usaha menutup mulut pada saat batuk atau bersin, kebersihan dari
bahan-bahan pribadi dari penderita sangat banyak membantu
mengurangi penularan dari TBC.

Edukasi tentang kepatuhan penderita dalam menjalanan terapinya juga


perlu untuk disampaikan, untuk mencegah terjadinya resistensi obat.

Juga bagi ibu ibu yang tidak mau mengimunisasikan anaknya dengan
alasan takut anaknya menjadi panas juga perlu untuk dijelaskan lebih
jauh mengapa imunisasi diperlukan, dan resiko yang akan diterima bila
anak tidak diimunisasikan.

Isoniazid (INH)
Dosis dan aturan pakai:
Dewasa: 5 mg/kgBB atau 10 mg/kg/BB, 3x seminggu, dosis
maksimal 300 mg/kgBB atau 15 mg/kgBB 2x seminggu
(maksimal 900 mg/hari)
Anak: 10-15 mg/kg/BB dalam 2 dosis terbagi (pagi dan malam),
atau 20-40 mg/kg/BB 2-3x seminggu
INH sebaiknya diminum dalam keadaan perut kosong. Waktu
pemberian INH yang paling baik 1-2 jam sebelum makan.
Apabila terdapat gangguan saluran pernapasan/lambung
apabila diminum sebelum makan, maka INH dapat diminum
bersamaan dengan makanan untuk mengurangi efek gangguan
pencernaan.

Rifampisin
Dosis dan aturan pakai:
Dewasa: 10-20 mg/kgBB diminum sampai 2-3x per hari, dosis
maksimal 600 mg/hari
Anak: 10-20 mg/kgBB/hari sebagai dosis tunggal, dosis maksimal 600
mg/hari
Sebaiknya obat Rifampisin diminum 30 menit 1 jam sebelum makan
atau 2 jam sesudah makan. Rifampisin tidak boleh melebihi dosis
maksimal 600 mg/hari bila dikombinasikan dengan obat
antitiberkulosa lain.

Streptomisin
Dosis dan aturan pakai:
Dewasa: 15-40 mg/kgBB, dosis maksimal 1 gram . Diminum 2x
seminggu. Untuk dosis 25-30 mg/kgBB 2x seminggu (maksimal
1,5 gram), 25-20 mg/kgBB 3x seminggu (maksimal 1 gram).
Anak: 20-40 mg/kgBB (maksimal 1 gram/hari) 2x seminggu, 25-30
mg/kgBB 3x seminggu

Etambutol
Anak-anak:
Terapi harian 15 20 mg/kg/hari (maksimum : 1
g/hari). Atau 2x seminggu DOT (directly observed
therapy) : 50 mg/kg (maksimal 4 g/dosis).
Dewasa :
Terapi harian 15 25 mg/kg. Atau 2x seminggu DOT
(directly observed therapy): 50 mg/kg. Atau 3x
seminggu DOT (directly observed therapy): 25 30
mg/kg (maksimal 2,5 g).
Etambutol sebaiknya diberikan bersama dengan

Pirazinamid
Anak-anak :
Terapi harian 15 30 mg/kg/hari (maksimum : 2
g/hari). Atau 2x seminggu DOT (directly observed
therapy) : 50 mg/kg/dosis (maksimal 4 g/dosis).
Dewasa:
Terapi harian 15 40 mg/kg/hari. Atau 2x seminggu
DOT (directly observed therapy): 50- 70 mg/kg
(maksimal 4 g).
Pirazinamid sebaiknya diberikan bersama makanan.

Cara mencegah TB yang paling penting yaitu dengan mengurangi sumber


kuman penyakit dengan mendiagnosa dan mengobati orang yang
mengidap TB

Orang yang gejalanya memperlihatkan adanya TB sebaiknya segera


menjalani pemeriksaan medis (diagnosa dini).

Orang yang mengidap TB juga harus menerapkan tindakan higiene,


seperti menutupi mulut saat batuk atau bersin.

Bagi orang terdekat, yang menduga sudah terlalu dekat melakukan


skrining TB secepat mungkin dengan menghubungi Unit pengendalian TB
terdekat (dimana skrining dilakukan secara gratis) pada jam kerja atau
periksa ke dokter, meskipun merasa sehat.

Skrining dan tindak lanjut untuk orang yang berdekatan dengan pengidap
TBC antara lain:

1.

Uji kulit tuberkulin (uji mantoux)

2.

Uji quantiferon TB-Gold (uji darah)

3.

Rontgen dada

4.

Vaksinasi BCG

5.

Pengobatan infeksi TB laten

Praktik pencegahan lain yang dapat diterapkan edukasi kepada


keluarga mengenai cara penularan TB : pencegahan penyebaran
kuman baik secara langsung saat pasien batuk maupun melalui
penyebaran kuman di ruangan tertutup.
1.

Membuka jendela rumah setiap hari

2.

Menjemur kasur yang dipakai penderita TB secara rutin

3.

Mengingatkan pasien TB paru untuk menurut mulut saat batuk

4.

Menyiapkan tempat khusus untuk pasien penderita TB paru


membuang dahak saat batuk.

5.

Melakukan imunisasi pada balita (imunisasi BCG pada bayi usia 0-1
bulan untuk mencegah penyakit TB berat).