Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM PANGAN DAN GIZI

ACARA III
UKURAN RUMAH TANGGA (URT) & BERAT DAPAT DIMAKAN (BDD)

Oleh:
Kelompok 2
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

1. Achmad Fauzan G
Alifa Nur I
Atik Puji Lestari
Denik Aprita R
Ema Sarah R
Getsemani Femmy
Jessica Victoria B
Kiswah Choiru N

(H3114003)
(H3114004)
(H3114013)
(H3114019)
(H3114028)
(H3114037)
(H3114048)
(H3114053)

PROGRAM DIPLOMA TIGA TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2014

ACARA III
UKURAN RUMAH TANGGA (URT) DAN
BERAT DAPAT DIMAKAN (BDD)

A.

Tujuan
Tujuan dari praktikum acara III Ukuran Rumah Tangga (URT) dan
Berat Dapat Dimakan (BDD) adalah :
1. Mahasiswa mengetahui jenis-jenisURT dan konversinya ke satuan bahan
pangan yang lebih umum.
2. Mahasiswa mengetahui cara penetapan BDD dan besarnya BDD dari
beberapa bahan pangan.
B. Tinjauan Pustaka
1. Tinjauan Bahan
Ayam merupakan jenis unggas yang secara luas banyak
diternakkan, sangat potensial sebagai sumber protein hewani. Seiring
dengan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gizi, maka untuk
memenuhi kebutuhan tersebut harus diimbangi dengan pemenuhan daging
yang cukup dan berkualitas. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi
kualitas daging, baik kualitas fisik maupun kimia. Faktor-faktor tersebut
antara lain umur, pakan, manajemen pemeliharaan, kebersihan kandang.
Kualitas daging juga dipengaruhi oleh jumlah nutrisi konsumsi pakan.
Jumlah nutrisi yang tersedia berbeda di antara pakan. Peningkatan atau
penurunan konsumsi pakan berhubungan dengan kualitas pakan yang
tersedia, sehingga dapat mempengaruhi karakteristik atau kualitas daging.
Pengaruh dari pakan yang berbeda komposisi atau kualitasnya terhadap
kualitas daging bervariasi karena adanya variasi dari faktor lain seperti
umur, spesies, bangsa, jenis kelamin, bahan aditif, berat potong atau berat
karkas, laju pertumbuhan, tipe ternak, dan perlakuan sebelum dan setelah
pemotongan (Hartono, 2013).
Ikan merupakan sumber protein, juga diakui sebagai "functional
food" yang mempunyai arti penting bagi kesehatan karena mengandung
asam lemak tidak jenuh berantai panjang (terutama yang tergolong asam
lemak omega-3), vitamin, serta makro dan mikro mineral. Akan tetapi
tidak semua wilayah Indonesia dapat tercukupi kebutuhannya akan protein
karena ketersediaan ikan per kapita belum terdistribusi secara merata.

Pengolahan dapat membuat ikan menjadi awet dan memungkinkan untuk


didistribusikan dari pusat produksi ke pusat konsumsi (Anisah, 2007).
Mentega merupakan suatu emulsi air dalam lemak. dan
kornposisinya terdiri dari lemak susu, air, casein, dan garam dapur.
Menurut Eckles (1984), mentega dibuat melalui serangkaian proses, yaitu:
pemisahan susu, pcmilihan krim, netralisasi krim, pasteurisasi krim,
pemeraman krim (cream ripening), pengocokan (churning), pengemasan
dan pemasaran. Lemak rnentega berasal dari lemak susu hewan. Jumlah
air yang terdapat dalam mentega umumnya berkisar antara l0-15 persen
dari berat mentega. Warna mentega yang disenangi adalah warna kuning
dan zat warna yang digunakan adalah vitamin A (karoten) yang berupa
pigmen benvarna kuning (Suseno, 2000).
Tempe merupakan makanan hasil olah setengah jadi dan dapat
dimasak lebih lanjut (di dapur rumah tangga) sebelum siap untuk
dikonsumsi, dapat digoreng atau dijadikan masakan lain, seperti osengoseng, sambel goreng kering, dibacem dan banyak lagi jenis masakan lain.
Tempe dapat diiris-iris dan dijemur, kemudian digoreng menjadi kripik
tempe, dengan atau tanpa tepung. Hasil olah yang siap dikonsumsi ini
dikemas dalam kantung plastik, dan terdapat di toko makanan sebagai
snack dan di toko serba ada atau toko swalayan. Kripik tempe yang renyah
banyak

disukai

sebagai

snack

oleh

segala

lapisan

masyarakat

(Sediaoetama, 1989).
Margarin merupakan mentega tiruan yang dibuat dari minyak
nabati (kelapa, kelapa sawit, jagung, kedelai, bunga matahari, biji kapas,
dan lain-lain) atau lemak hewani (tallow / lemak sapi, lard / lemak babi)
dengan rupa, bau, konsistensi, rasa dan nilai gizi yang hampir sama
dengan mentega. Margarin juga merupakan emulsi air dalam minyak,
dengan persyaratan mengandung lemak / minyak tidak kurang dari 80%.
Karena minyak nabati berada dalam keadaan cair pada suhu ruang, maka
untuk membuatnya menjadi padat dilakukan proses hidrogenasi, yaitu
penambahan atom hidrogen pada ikatan rangkap asam-asam lemak tidak
jenuh. Prosesnya adalah mengalirkan gas hidrogen (H2) ke dalam minyak

panas

dengan

katalisator

berupa

platina

(Pt)

atau

nikel

(Ni)

(Muchtadi, 2009).
Bayam merah (Celosia argentea) merupakan tumbuhan dari
keluarga Amaranthacea.

Nama

saintifiknya

adalah

Amaranthacea

Gangeticus dan nama Inggrisnya Red Spinach. Di Jawa, tanaman ini


dinamai bayem abrit, bayem lemak atau bayem sekul. Namun, tak
dipungkiri bahwa mayoritas masyarakat kita tak banyak mengenal bayam
merah. Masyarakat lebih familiar dengan bayam hijau untuk konsumsi
sehari-hari. Ketidakpopuleran bayam merah berakibat pada budidaya
maupun pemasarannya juga belum begitu masif. Padahal, tanaman
bernama latin alternanthera amoena voss ini mengandung banyak khasiat
yang dapat mengobati berbagai penyakit. Bahkan, bayam merah dipercaya
juga dapat membersihkan darah setelah melahirkan, memperkuat akar
rambut, mengobati disentri, dan mengatasi anemia (Razak, 2005).
Apel merupakan komoditas pertanian yang cukup diminati untuk
dibudidayakan di kalangan petani. Produk ini banyak digemari hampir di
semua lapisan atau strata sosial. Sehingga, sebagai produk konsumsi,
permintaan akan komoditas apel hampir tidak pernah mengalami stagnasi
baik untuk kebutuhan domestik maupun ekspor (Ariyanto, 2013). Tanaman
apel bukan merupakan tanaman asli Indonesia melainkan berasal dari
daerah Asia Barat yang beriklim sub tropik. Oleh karena itu dalam
pengembangan

budidayanya

di

Indonesia

yang

beriklim

tropis

membutuhkan syarat-syarat tertentu agar dapat tumbuh dan berproduksi


secara optimal. Ketinggian tempat, media tanam dan iklim merupakan
persyaratan utama untuk budidaya apel di Indonesia (Rahaju, 2000).
Potongan buah apel segar baru-baru ini muncul sebagai camilan populer di
perusahaan makanan, program makan siang di sekolah, dan untuk
konsumsi keluarga. Pasar buah apel diproyeksikan akan tumbuh jika
mampu mengabulkan permintaan konsumen untuk menghasilkan buah
apel yang lebih segar, nyaman dan buah apel sebagai camilan bergizi.
Namun, di industri pengolahan apel masih terhambat oleh kualitas produk
yang mengalami penurunan yang disebabkan oleh fisiologis gangguan. Hal

ini terjadi ketika buah apel dipotong, permukaan dalam apel ternyata
berwarna coklat. Hal ini tidak hanya mengurangi kualitas visual tetapi juga
menghasilkan perubahan yang tidak diinginkan dalam rasa dan hilangnya
nutrisi, karena enzymatic browning (Quevedo, 2009).
Singkong termasuk umbi akar yang mengandung cadangan energi
dalam bentuk karbohidrat (amilum). Tanaman singkong dapat dikonsumsi
umbinya dan daunnya. Umbi singkong mengandung sedikit protein, tetapi
daunnya mengandung protein yang cukup tinggi, sehingga bila singkong
dimakan dengan masakan daunnya, akan terdapat kadar protein yang
cukup baik. Daun singkong juga mengandung banyak caroten, sehingga
merupakan sumber vitamin A yang baik. Singkong dapat ditanam di lahan
kering dan tidak memerlukan banyak air. Pohon singkong mengandung
suatu glukosida cyanogenik, yang dapat menghasilkan HCN, suatu racun
yang sangat toksik, glukosida ini diberi nama linamarin. Racunnya di
dalam daun singkong dapat ditiadakan sebagian dengan merebusnya dan
cairan rebusan dibuang (Sediaoetama, 1989). Singkong (Manihot
esculenta crantz) dibudidayakan di daerah tropis untuk diambil ketelanya.
Akar singkong selain digunakan untuk konsumsi manusia dan pakan
ternak juga bisa digunakan sebagai bahan baku seperti di banyak industri.
Singkong merupakan tanaman yang toleran kekeringan, memerlukan lahan
yang terbatas dan tumbuh baik di tanah yang buruk, semua atribut ini
membuat tanaman yang sangat mudah beradaptasi (Aniedu, 2012).
Kangkung merupakan tanaman menjalar yang mudah beradaptasi
dengan kondisi lingkungan di daerah tropis, baik iklim maupun keadaan
tanah. Tanaman ini dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik di dataran
rendah maupun dataran tinggi sampai 2000 meter dpl (dari permukaan
laut). Oleh karena itu, kangkung darat dapat dikembangkan hampir di
seluruh wilayah nusantara. Namun demikian, kangkung darat mempunyai
persyaratan khusus agar dapat tumbuh subur. Pertama, kangkung
membutuhkan air yang cukup untuk hidupnya. Kedua, tanaman kangkung
juga memerlukan sinar matahari yang memadai. Jadi, lokasi yang cocok

untuk tanaman kangkung adalah lokasi terbuka dan banyak mengandung


air, subur, dan memiliki penyerapan air baik (Haryoto, 2006).
Jagung manis (Zea mays var. Saccharata) atau dikenal juga dengan
sebutan sweet corn merupakan salah satu produk hortikultura. Jagung
manis memiliki rasanya yang manis, mengandung karbohidrat, protein,
dan vitamin yang tinggi, kandungan lemak yang rendah serta mengandung
kadar gula yang relatif tinggi (Sedani, 2005). Jagung manis adalah sayuran
yang disukai karena rasanya enak, kandungan karbohidrat, protein, vitamin
serta kadar gulanya relatif tinggi tetapi kandungan lemaknya rendah.
Selain untuk sayuran, jagung manis dikonsumsi setelah direbus atau
dibakar. Jagung manis (sweet corn) mempunyai rasa manis karena kadar
gulanya 5-6 % yang lebih dari rasa jagung biasa dengan kadar gula 2-3 %.
Rasa manis ini lebih disukai masyarakat yang dapat dikonsumsi secara
segar atau dikalengkan (Sirajuddin, 2010). Jagung manis yang disenangi
konsumen adalah berukuran sedang. Untuk mendapatkan tongkol ukuran
sedang, petani mengatur populasi dengan cara menanam 3-5 biji per
rumpun. Semakin banyak tanaman dan rumpun semakin kecil tongkol
yang terbentuk, sehingga untuk memperoleh ukuran tongkol yang sedang
maka jumlah tanaman per rumpun disesuaikan dengan kesuburan tanah
(Silaban, 2013).
Beras merupakan sumber makanan pokok bagi sebagian terbesar
rakyat Indonesia. Beras adalah butir padi yang telah dibuang kulit luarnya
(sekamnya) yang menjadi dasar dedak kasar. Beras merupakan bahan
makanan pokok yang paling cocok untuk sebagian besar rakyat Indonesia
dan penduduk daerah tropik lainnya. Selain rakyat di wilayah ini sudah
begitu mahir dalam teknologi bercocok tanam padi juga teknik pengolahan
dan pemasakannya juga sangat mudah dan bersahaja dibandingkan dengan
pengolahan terigu misalnya. Tingkat daya beli, pengetahuan mengolah dan
menyajikan yang telah dikuasai oleh masyarakat Indonesia sangat sesuai
dengan beras sebagai bahan makanan pokok (Sediaoetama, 1989).
2. Tinjauan Teori

Berat yang dapat dimakan (BDD) adalah bagian dari bahan


makanan atau makanan yang masuk ke dalam mulut atau yang dapat
dimakan oleh seseorang, bagian yang tak lazim dimakan akan dibuang/
tidak dimakan. Misalnya, mangga dikupas kulitnya dan dikeluarkan
bijinya, atau telur dibuang kulitnya. BDD digunakan dalam daftar
komposisi zat-zat gizi yang terdapat dalam setiap jenis bahan makanan
(PERSAGI, 2009).
Bagian bahan makanan yang tidak dikonsumsi oleh responden
dapat digolongkan menjadi dua, yaitu refuse dan waste. Refuse adalah
bagian makanan yang tidak dapat dimakan, seperti biji, kulit buah, kulit
telur, tulang ayam atau ikan, bagian yang keras dari sayur-sayuran, dan
lain-lain. Sedangkan, waste adalah sisa-sisa makanan yang sebenarnya
dapat dimakan tapi dibuang oleh responden. Banyaknya sisa (waste) ini
harus diperhitungkan dalam menentukan banyaknya konsumsi makanan
responden.

Sedangkan,

refuse

harus

diperhitungkan

pada

saat

mengkonversi dai bentuk bahan makanan kedalam bentuk zat gizi. Pada
daftar komposisi bahan makanan biasanya terdapat daftar bagian yang
tidak dapat dimakan pada setiap 100 gram jenis bahan makanan. Dengan
demikian dapat diperhitungkan berat bagian yang dapat dimakan
(Supariasa, 2002).
Ukuran rumah tangga merupakan ukuran yang lazim digunakan di
rumah tangga sehari-hari untuk menaksir jumlah pangan yang dikonsumsi
atau dimasak. Satuan ukuran rumah tangga (URT) diperoleh dari jenis
peralatan makan yang biasa digunakan di rumah tangga seperti piring,
gelas, sendok, mangkok, sedangkan untuk buah dan sayur digunakan
satuan potong, buah, ikat dan sebagainya. Berdasarkan keperluan tersebut
telah diterbitkan Daftar Ukuran Rumah Tangga. Daftar Ukuran Rumah
Tangga (DURT) sering digunakan dalam perencanaan konsumsi pangan
dan pengumpulan data konsumsi pangan yang sering dilakukan melalui
survey ataupun konsultasi gizi (Handayati, 2008).
Ukuran Rumah Tangga adalah satuan jumlah dari bahan makanan
atau makanan yang dinyatakan dalam ukuran peralatan yang digunakan di

rumah tangga sehari-hari, seperti piring, sendok, gelas, potongan, buah,


ikat dan sebagainya. Daftar URT digunakan dalam menaksirkan jumlah
bahan makanan, bila ingin mengkonversi dari URT kedalam ukuran berat
(gram) dan ukuran volume (liter). Pada umumnya URT untuk setiap daerah
dan rumah tangga berbeda-beda, oleh karena itu sebelum menggunakan
daftar URT perlu dilakukan koreksi sesuai dengan URT yang digunakan
(Supariasa, 2002).
C. Metodologi
1. Alat
a. Gunting
b. Mangkuk
c. Nampan
d. Neraca
e. Piring
f. Pisau
g. Sendok
h. Timbangan anakitik
i. Wadah
2. Bahan
a. Apel
b. Bayam
c. Beras
d. Daging Ayam
e. Ikan
f. Jagung
g. Kangkung
h. Kangkung
i. Margarin
j. Mentega
k. Singkong
l. Tempe
3. Cara Kerja
a. Perhitungan URT (Ukuran Rumah Tangga)

b. BDD

D. Hasil dan Pembahasan


Tabel 3.1 Ukuran Rumah Tangga dan Berat Dapat Dimakan
Berat
Berat
Alat yang
Bahan
Kel.
Akhir
digunakan
Pangan Awal (gr)
URT (gr) BDD (%)
(gr)
Daging
1
Piring
41,339
27,862
41,339
67,39%
Ayam
2
Piring
Ikan
23,45
17,795
23,45
75,88%
2
Sendok
Mentega
0,005
15,250
15,250

3
3
4
4
5

Piring
Sendok
Piring
Piring
Piring

Piring

6
6

Piring
Gelas

Tempe
Margarin
Bayam
Apel
Singkong
Kangkun
g
Jagung
Beras

50,85
0,001
120
60
80

50,532
13,273
50
50
70

50,85
13,273
120
60
80

99,37%
41,667%
83,33%
87,5%

170

70

170

41,17%

230
87,342

180
86,447

230
87,342

78,26%
98,97%

Sumber : Hasil Praktikum

Berat yang dapat dimakan (BDD) adalah bagian dari bahan makanan atau
makanan yang masuk ke dalam mulut atau yang dapat dimakan oleh seseorang,
bagian yang tak lazim dimakan akan dibuang / tidak dimakan. Misalnya, mangga
dikupas kulitnya dan dikeluarkan bijinya, atau telur dibuang kulitnya. BDD
digunakan dalam daftar komposisi zat-zat gizi yang terdapat dalam setiap jenis
bahan makanan (PERSAGI, 2009).
Bagian bahan makanan yang tidak dikonsumsi oleh responden dapat
digolongkan menjadi dua, yaitu refuse dan waste. Refuse adalah bagian makanan
yang tidak dapat dimakan, seperti biji, kulit buah, kulit telur, tulang ayam atau
ikan, bagian yang keras dari sayur-sayuran, dan lain-lain. Sedangkan, waste
adalah sisa-sisa makanan yang sebenarnya dapat dimakan tapi dibuang oleh
responden. Banyaknya sisa (waste) ini harus diperhitungkan dalam menentukan
banyaknya

konsumsi

makanan

responden.

Sedangkan,

refuse

harus

diperhitungkan pada saat mengkonversi dai bentuk bahan makanan kedalam


bentuk zat gizi. Pada daftar komposisi bahan makanan biasanya terdapat daftar
bagian yang tidak dapat dimakan pada setiap 100 gram jenis bahan makanan.
Dengan demikian dapat diperhitungkan berat bagian yang dapat dimakan
(Supariasa, 2002).
Secara umum hilangnya suatu bagian dari sebuah makanan memiliki efek
pada nilai gizi yang diberikan. Sebagai contoh, dua puding beras yang dikonsumsi
selama oleh seorang responden, keduanya dibuat dengan resep yang sama tetapi
yang satu kehilangan 34% dari berat aslinya sedangkan yang lain kehilangan 49%
dari berat aslinya. Hal ini dipengaruhi oleh cara pemasakan dari kedua puding ini
yaitu yang pertama dimasak sendiri dalam oven kompor dan kedua ditempatkan di

bawah makanan lain dalam oven panas yang modern. Hal ini menunjukkan bahwa
cara pemasakan juga berpengaruh terhadap hasil dari berat yang dapat dimakan
(Chappel, 1954).
Ukuran rumah tangga merupakan ukuran yang lazim digunakan di rumah
tangga sehari-hari untuk menaksir jumlah pangan yang dikonsumsi atau dimasak.
Satuan ukuran rumah tangga (URT) diperoleh dari jenis peralatan makan yang
biasa digunakan di rumah tangga seperti piring, gelas, sendok, mangkok,
sedangkan untuk buah dan sayur digunakan satuan potong, buah, ikat dan
sebagainya. Berdasarkan keperluan tersebut telah diterbitkan Daftar Ukuran
Rumah Tangga. Daftar Ukuran Rumah Tangga (DURT) sering digunakan dalam
perencanaan konsumsi pangan dan pengumpulan data konsumsi pangan yang
sering dilakukan melalui survey ataupun konsultasi gizi (Handayati, 2008).
Dalam praktikum pangan dan gizi tentang Ukuran Rumah Tangga (URT)
dan Berat Dapat Dimakan (BDD) menggunakan bahan makanan yang biasa
dikonsumsi oleh masyarakat. Baik makanan pokok, makanan tambahan, makanan
pengganti serta buah dan sayuran. Pada acara ini bahan makanan tersebut diukur
dengan ukuran rumah tangga misalnya sendok, piring, gelas, mangkok dan
lainnya. Kemudian dihitung berat dapat dimakan (BDD) menggunakan rumus
(BDD = berat dapat dimakan/berat total x 100%). BDD digunakan untuk menaksir
jumlah bahan pangan ke dalam gram & volume dalam liter.
BDD biasa digunakan dalam metode Survei konsumsi untuk mengetahui
berat sebuah pangan. Caranya adalah dengan menimbang berat sayuran dan buahbuahan utuh, lalu pisahkan bagian yang biasa dimakan dengan yang tidak,
kemudian timbang kembali bagian yang dapat dimakan, lalu hitung edible
portionnya (BDD). Faktor-faktor yang mempengaruhi Ukuran Rumah Tangga
(URT) dan juga Berat Dapat Dimakan (BDD) diantaranya adalah jenis bahan
pangan yang digunakan, alat yang digunakan, berat awal dan berat akhir saat
penimbangan dan juga keakuratan saat menimbang bahan makanan, pendapatan
perkapita penduduk, kesadaran masyarakat dalam URT dan BDD, pengeluaran
penduduk Indonesia, kualitas dari bahan pangan itu sendiri, dan pemilihan
konsumsi pangan yang baik dalam kuantitas maupun kualitas.

Hasil yang diperoleh dari praktikum ukuran rumah tangga dan berat dapat
dimakan adalah kelompok satu dengan sampel daging ayam mempunyai BDD
sebesar 67,39%. Kelompok dua dengan sampel ikan dan mentega memperoleh
hasil 15, 250 untuk URT mentega, dan untuk BDD ikan sebesar 75,88%.
Kelompok 3 dengan sampel tempe dan margarin memperoleh hasil 13,273 untuk
URT margarin, dan untuk BDD tempe sebesar 99,37%. Kelompok empat
menggunakan sampel bayam dan apel. Pada sampel bayam diperoleh BDD
sebesar 41,667%, sedangkan pada sampel apel diperoleh BDD sebesar 83,33%.
Pada kelompok lima menggunakan sampel singkong dan kangkung. BDD untuk
singkong diperoleh sebesar 87,5%, sedangkan BDD untuk kangkung diperoleh
sebesar 41,17%. Pada kelompok enam menggunakan sampel jagung dan beras.
BDD yang diperoleh dari jagung sebesar 78,26 dan BDD untuk sampel terakhir
yaitu beras diperoleh sebesar 98,97%.
Berdasarkan sampel-sampel yang digunakan oleh semua kelompok dapat
diurutkan bahan yang mempunyai ukuran rumah tangga (URT) dari yang terbesar
sampai terkecil adalah jagung, kangkung, bayam, beras, singkong, apel, tempe,
daging ayam, ikan, mentega dan margarin. Sedangkan, untuk urutan berat yang
dapat dimakan dari masing-masing sampel mulai dari yang terbesar sampai
terkecil adalah tempe, beras, singkong, apel, jagung, ikan, daging ayam, bayam,
kangkung.

LAMPIRAN
1. Perhitungan Berat Dapat Dimakan
Rumus Umum BDD :

Berat ak h ir
100
Berat awal

a. Daging Ayam
Berat awal
Berat akhir
BDD

b. Ikan
Berat awal
Berat akhir
BDD

c. Tempe
Berat awal
Berat akhir
BDD

d. Bayam
Berat awal
Berat akhir
BDD

e. Apel
Berat awal
Berat akhir
BDD
f.

Singkong
Berat awal
Berat akhir
BDD

g. Kangkung
Berat awal
Berat akhir
BDD

h. Jagung
Berat awal
Berat akhir

= 41,339 gram
= 27,862 gram

27,862
100 =67,39
41,339
= 23,45gram
= 17,795 gram

17,795
100 =75,88
23,45
= 50,85 gram
= 50,532 gram

50,532
100 =99,37
50,85
= 120 gram
= 50 gram

50
100 =41,667
120
= 60 gram
= 50 gram

50
100 =83,33
60
= 80 gram
= 70 gram

70
100 =87,5
80

= 170 gram
= 70 gram

70
100 =41,17
170
= 230 gram
= 180 gram

BDD
i.

Beras
Berat awal
Berat akhir
BDD

180
100 =78,26
230
= 87,342 gram
= 86,447 gram

86,447
100 =98,97
87,342