Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kemajuan ilmu dan teknologi kedokteran, perkembangan teknologi
informasi, perubahan paradigma pengambilan keputusan klinis, serta
tuntutan

masyarakat

akan

pelayanan

kesehatan

yang

berkualitas

mengharuskan para dokter secara terus-menerus meningkatkan pengetahuan


dan kompetensiya untuk dapat memberikan pelayanan denga kualitas baik.
Informasi terbaru tentang diagnostik, terapi, prognostik, serta hal-hal yang
lain termasuk etiologi, faktor risiko, panduan klinis, dan lain-lain dapat
diperoleh dari jurnal ilmiah kedokteran. Tujuan akhir dari membaca jurnal
ilmiah bagi seorang dokter adalah sebagai acuan dalam penerapan pelayanan
kesehatan terhadap pasiennya. Hal ini merupakan suatu pendekatan yang
disebut dengan Evidence Based Medicine.
Agar dapat memperoleh manfaat yang maksimal dalam membaca
jurnal ilmiah, setiap klinikus membekali diri dengan pemahaman yang
memadahi tentang metodologi penelitian. Jika seorang dokter tidak
melakukan telaah kritis terhadap jurnal ilmiah yang di baca, maka ia tidak
mengetahui kelemahan dari hasil penelitian tersebut. Hal ini akan
berdampak kepada pemahaman yang keliru.
Dalam rangka mengaplikasikan cara menelaah jurnal ilmiah, penulis
memilih jurnal dengan judul Karakteristik Pasien Glaukoma Sekunder Di
Rumah Sakit Khusus Mata Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2012 Dan
2013. Penulis menelaah jurnal ini dari melalui pendekatan evidence based
medicine sebelum diterima sebagai tambahan ilmu pengetahuan.

1.2. Rumusan Masalah


Apakah jurnal yang berjudul Karakteristik Pasien Glaukoma
Sekunder Di Rumah Sakit Khusus Mata Provinsi Sumatera Selatan Tahun
2012 Dan 2013 telah memenuhi kriteria sebagai sumber yang valid, penting
dan dapat diaplikasikan menurut evidence based medicine?
1.3. Tujuan Telaah Jurnal
Mengetahui apakah jurnal yang berjudul Karakteristik Pasien
Glaukoma Sekunder Di Rumah Sakit Khusus Mata Provinsi Sumatera
Selatan Tahun 2012 Dan 2013 telah memenuhi kriteria sebagai sumber
yang valid, penting dan dapat diaplikasikan menurut evidence based
medicine.
1.4. Manfaat Telaah Jurnal
Dengan telaah jurnal ini, penulis dapat menentukan validitas dari
jurnal yang berjudul Karakteristik Pasien Glaukoma Sekunder Di Rumah
Sakit Khusus Mata Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2012 Dan 2013 sesuai
dengan pendekatan evidence based medicine.

BAB II
DESKRIPSI JURNAL
Judul

: Karakteristik Pasien Glaukoma Sekunder Di Rumah Sakit


Khusus Mata Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2012 Dan 2013
: Desy Rachmawati

Penulis

Program Studi S1 Kedokteran Umum


Universitas Muhammadiyah Palembang
Publikasi

: Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang

Penelaah

: Famela, S.Ked

Tgl. Telaah

: 7 November 2015

2.1. Tujuan Utama Penelitian


Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik penderita
glaukoma sekunder di Rumah Sakit Khusus Mata Provinsi Sumatera Selatan
tahun 2012-2013.
2.2. Tujuan Tambahan Penelitian
1. Mengetahui karakteristik penderita glaukoma sekunder berdasarkan
usia.
2. Mengetahui karakteristik penderita glaukoma sekunder berdasarkan
jenis kelamin.
3. Mengetahui karakteristik penderita glaukoma sekunder berdasarkan
status perkawinan.
4. Mengetahui karakteristik penderita glaukoma sekunder berdasarkan
tempat tinggal.
5. Mengetahui karakteristik penderita glaukoma sekunder berdasarkan
gambara klinis.

2.3. Hasil Utama Penelitian


Karakteristik penderita glaukoma sekunder di Rumah Sakit Khusus
Mata Provinsi Sumatera Selatan tahun 2012-2013 terdapat perbedaan
persentase berdasarkan karakteristik sosiodemografi dan berdasarkan
gambaran klinis.
2.4. Hasil Tambahan Penelitian
Pada penelitian ini terdapat beberapa hasil tambahan,
1. Karakteristik penderita glaukoma sekunder berdasarkan usia didapatkan
persentase sebesar 55% pada kelompok usia 60-69 tahun dan usia 70-79
tahun.
2. Karakteristik penderita glaukoma sekunder berdasarkan jenis kelamin didapatkan
persentase sebesar 50,7% berjenis kelamin perempuan.
3. Karakteristik penderita glaukoma sekunder berdasarkan status perkawinan
didapatkan persentase sebesar 92,9% berstatus kawin.

4. Karakteristik penderita glaukoma sekunder berdasarkan tempat tinggal


didapatkan persentase sebesar 63,2% bertempat tinggal di kota Palembang.
5. Karakteristik penderita glaukoma sekunder berdasarkan gambaran klinis
didapatkan persentase sebesar 50% memiliki keluhan utama mata kabur, 69,3%
memiliki etiologi mata kabur dan tekanan intraokuler > 21 mmhg, serta 83,3%
mata kanan.

2.5. Kesimpulan Penelitian


Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penderita glaucoma
memiliki karakteristik berdasarkan sosiodemografi dan gambaran klinis
yang berbeda dengan penderita lainnya.

BAB III
TELAAH JURNAL

3.1. Validitas Seleksi


a. Kriteria Seleksi
Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional deskriptif
dengan pendekatan survei menggunakan rancangan cross sectional.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh subyek studi populasi
dijadikan sampel yang didiagnosa glaukoma sekunder periode 1 Januari
2012 sampai dengan 31 Desember 2013 yang memenuhi kriteria inklusi.
Dalam mengambil sampel penelitian ini digunakan cara atau teknik-teknik
tertentu, sehingga sampel sedapat mungkin mewakili populasinya.
b. Metode Alokasi Subjek
Penelitian

ini

merupakan

jenis

penelitian

deskriptif

dengan

pendekatan survei menggunakan rancangan cross sectional. Dilakukan


tehnik pengambilan sampling menggunakan teknik purposive sampling
yang menempati kriteria inklusif dan eksklusif. Maka, sampel yang
digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh pasien yang didiagnosa
glaukoma sekunder periode 1 Januari 2012 sampai dengan 31 Desember 2013 yang
memenuhi kriteria inklusi.

c. Angka Drop Out


Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh pasien yang
didiagnosa glaukoma sekunder periode 1 Januari 2012 sampai dengan 31
Desember 2013 yang memenuhi kriteria inklusi sehingga tidak dilakukan
penambahan sampel.

d. Analisis
Metode teknis analisis data yang digunakan pada penelitian ini
berupa analisis dependen T test dengan bantuan perangkat lunak SPSS 16.
Pengambilan data penelitian dengan cara Data dari setiap kuesioner dan
tekanan darah yang diukur akan dicatat. Setiap ketidakkonsistenan atau
ketidaklengkapan informasi akan diperbaiki sebelum meninggalkan lokasi
penelitian. Data sekunder yang lengkap akan dimasukkan ke dalam komputer.

Data hasil analisis dependen T test akan disajikan secara deskriptif dalam
bentuk diagram dan narasi.
e. Kesimpulan Validitas Seleksi
Penelitian ini mempunyai validitas seleksi yang baik dari aspek
kriteria seleksi, alokasi subjek, Angka Drop out dan analisis. Namun
untuk concealment tidak ada.
3.2. Validitas Pengontrolan Perancu
Pada penelitian ini variabel perancu yang ada dapat di retriksi dari
penelitian baik dengan kriteria inklusi maupun kriteria ekslusi. Tetapi,
kriteria ekslusi dan inklusi tidak dijabarkan mendetail.
Kesimpulan validitas pengontrolan perancu pada penelitian ini sudah
cukup baik, tetapi seharusnya kriteria ekslusi dan inklusi dapat dijabarkan
secara lengkap.
3.3. Validitas Informasi
a. Komponen Pengukuran Variabel Penelitian
Pada penelitian ini prosedur penelitian dan komponen pengukuran
untuk semua variabel utama penelitian (karakteristik penderita glaukoma)
telah dijelaskan secara terperinci.
Glaukoma adalah suatu neuropati optik kronik yang ditandai oleh
pencekungan (cupping) diskus optikus dan pengecilan lapangan pandang;
biasanya disertai peningkatan tekanan intraokular. Peningkatan tekanan
intraokular

bukan

merupakan

indikasi

pasti

seseorang

menderita

glaukoma38. Penyakit ini dapat mengganggu fungsi penglihatan dan bahkan


dapat mengakibatkan kebutaan20.
Glaukoma sekunder merupakan jenis glaukoma yang penyebabnya
sudah diketahui. Karakteristik glaukoma berdasarkan penelitian Uzma Fasih
(2008) yang pada penelitian yang telah dilakukannya mendapatkan data
bahwa kelompok usia terbanyak berada di kelompok 51-60 tahun (28,3%),

berjenis kelamin laki-laki lebih banyak (66%) dibandingkan pada


perempuan (34%). Tetsuya Takahashi (2001), pasien glaukoma sekunder
disebabkan oleh uveitis 72%, namun berbeda dengan hasil penelitian Uzma
Fasih (2008) yang menunjukkan penyebab glaukoma sekunder adalah
Pseudofakia dengan jumlah 31 kasus (29,2%). Berdasarkan Ilyas (2010)
Orang Asia dan Afrokaribean lebih rentan terhadap tipe glaukoma tertentu.
b. Kesimpulan Validitas Informasi
Penelitian ini mempunyai validitas Informasi yang baik dari aspek
komponen pengukuran variabel penelitian. Namun untuk Blinding tidak
ada.
3.4. Validitas Analisis
Analisis dependen T test dilakukan untuk melihat perbedaan
karakteristik pasien glukoma sekunder berdasarkan sosiodemografi dan
gambaran klinis. Analisis disajikan dalam bentuk diagram dan frekuensi.
Diagram 1 Distribusi glaukoma sekunder dan glaukoma jenis lain

Dari data penelitian ini didapatkan jumlah pasien glaukoma secara


keseluruhan di Rumah Sakit Khusus Mata Provinsi Sumatera Selatan pada
periode 1 Januari 2012-31 Desember 2013 adalah 367 orang, dari Diagram 1
dapat dilihat bahwa angka kejadian galukoma sekunder 19% dan 81%
glaukoma merupakan glaukoma jenis lain, yaitu glaukoma primer, glaukoma
kongenital dan glaukoma absolut.

Diagram 2. Distribusi penderita glaukoma sekunder berdasarkan usia

Hal ini sesuai dengan teori menurut Ilyas tahun 2010 yang
menyatakan bahwa umumnya glaukoma, ditemukan pada usia lebih dari 40
tahun. Berdasarkan diagram 2 terlihat bahwa hampir seluruh (88,41%)
pasien glaukoma sekunder di RSKM Provinsi Sumatera Selatan berusia
lebih dari 40 tahun.

Diagram 3. Distribusi penderita glaukoma sekunder berdasarkan jenis


kelamin

Pada diagram 3 didapatkan hasil bahwa dari 69 pasien glaukoma


sekunder di Rumah Sakit Khusus Mata Provinsi Sumatera Selatan tahun
2012 dan 2013 tidak ditemukan hampir sama antara jenis kelamin
perempuan 35 orang (50,7%) dan laki-laki 34 orang (49,3%) sedangkan
penelitian Putri (2012) perbandingan sama banyak antara laki-laki dan
perempuan masing-masing (50%) untuk pasien glaukoma sekunder.
Diagram 4. Distribusi penderita glaukoma berdasarkan tempat tinggal

Dari 62 pasien berdasarkan etiologi glaukoma sekunder di Rumah


Sakit Khusus Mata Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2012 dan 2013 yang
terbanyak adalah akibat lensa sebanyak 43 kasus (69,3%) dan umumnya
akibat lensa berupa fakomorfik atau katarak sebanyak 28 kasus (65%) sama
dengan Putri (2012) fakomorfik sebesar 27,27% namun berbeda dalam
penelitian Uzma Fasih (2008) Pseudofakia sebesar 29,2% sedangkan
penelitian Strohl A, et al. (1999) pseudoexfoliasi sebesar 11.3%.
Diagram 5. Distribusi penderita glaukoma sekunder berdasarkan etiologi

Dari 62 pasien berdasarkan etiologi glaukoma sekunder di Rumah


Sakit Khusus Mata Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2012 dan 2013 yang
terbanyak adalah akibat lensa sebanyak 43 kasus (69,3%) dan umumnya
akibat lensa berupa fakomorfik dan katarak yang masing-masing sebanyak
14 kasus (22.6%) sama dengan Putri (2012) fakomorfik sebesar 27,27%
namun berbeda dalam penelitian Uzma Fasih (2008) Pseudofakia sebesar
29,2% sedangkan Strohl A, et al. (1999) pseudoexfoliasi sebesar 11.3%. Hal
ini dapat terjadi diduga karena perbedaan wilayah dan waktu penelitian, di
lain hal kasus katarak meruapakan penyakit mata terbanyak di Indonesia
berdasarkan hasil Survey Kesehatan Indera tahun 1993-1996 menunjukkan
penduduk Indonesia mengalami kebutaan disebabkan oleh 52% katarak dan
13,4%glaukoma

53

, Indonesia tergolong negara yang sedang berkembang

sesuai dengan glaukoma fakomorfik yang lebih sering terjadi di negara yang
sedang berkembang, ini disebabkan akses ke fasilitas operasi mata yang
masih terbatas sehingga pasien datang terlambat atau kebiasaan menunggu
katarak sampai matang untuk dilakukan operasi48.

Diagram 6. Distribusi penderita glaukoma berdasarkan TIO Dextra

Pada Diagram 4.7 tekanan intraokuler lebih dari 21 mmHg sebanyak


24 kasus mata kiri (80%), diantaranya terdiri dari tekanan intraokuler lebih
dari 35,8 mmHg 5 kasus (16.7%), lebih dari 50,6 mmHg hanya 1 kasus,
25,8 mmHg 3 kasus (10%), 30,4 mmHg 10 kasus dan 35,8 mmHg 5 kasus
(16,7%) sama halnya pada penelitian Mahrani didapatkan 56,6% subyek

10

penelitiannya menderita glaukoma dengan tekanan intraokuler diatas nilai


normal dan Alan et al mendapatkan seluruh sampel penelitian yang
menderita glaukoma memiliki tekanan intraokuler lebih dari normal
(21mmHg).
3.5. Validitas Interna Kausal
Validitas Interna kausal pada penelitian ini tidak ada.
3.6. Validitas Eksterna
Validitas eksterna pada penelitian ini tidak ada.
3.7. Importancy
Angka kejadian glaukoma sekunder di Rumah Sakit Khusus Mata
Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2012 dan 2013 sebesar 19%. Karakteristik
pasien glaukoma sekunder di Rumah Sakit Khusus Mata Provinsi Sumatera
Selatan Tahun 2012 dan 2013 dengan jumlah sampel 69 berdasarkan
karakteristik sosiodemografi antara lain 55% pada kelompok usia 60-69 dan
70-79 tahun, 50,7% perempuan, 92,9% berstatus kawin seluruh beragama
Islam dan 63,2% bertempat tinggal di Kota Palembang. Karakteristik pasien
glaukoma sekunder di Rumah Sakit Khusus Mata Provinsi Sumatera Selatan
Tahun 2012 dan 2013 dengan jumlah sampel 69 berdasarkan gambaran
klinis antara lain 50% keluhan utama mata kabur, 69,3% etiologi akibat
lensa dan tekanan intraokuler lebih dari 21 mmHg, dan 83.3% mata kanan.
3.5. Applicability
Apakah hasil penelitian yang dilakukan ini dapat digeneralisasi
untuk seluruh penderita glaukoma sekunder (trannsportability)? Tentu saja
secara logis, hasil tersebut dapat digeneralisasi pada seluruh penderita
glaucoma sekunder dengan pertimbangan:
a. Kesesuaian dengan teori yang ada.
b. Kesesuaian dengan kemungkinan yang ada berdasarkan EBM.

11

Hasil penelitian utama mampu untuk mencegah kejadian glaukoma


sekunder pada masyarakat yang memiliki faktor risiko tinggi untuk
mengalami glaukoma sekunder. Hal ini menandakan bahwa unsur
applicability pada penelitian ini sudah terpenuhi.

12

BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Penelitian ini mempunyai validitas interna non kausal (validitas
seleksi, informasi, pengontrolan perancu dan analisis) yang baik, sedangkan
validitas Interna kausal dan validitas eksterna pada penelitian ini tidak ada.
Penelitian ini memenuhi kriteria importancy dan
applicability

sangat

tergantung

pada

applicability. Aspek

judgement

kita

mengenai

transportability dari hasil penelitian kepada seluruh penderita glaucoma


sekunder di RSUP Moh. Hoesin Palembang.

13

DAFTAR PUSTAKA
Chandra, Budiman. 2008. Metodologi Penelitian Kesehatan. Cetakan I. Jakarta:
EGC.
Dahlan, M. Sopiyudin. 2010. Evidence Base Medicine seri 6: Membaca dan
Menelaah Jurnal Uji Klinis. Jakarta: Salemba Medika.
Santoso, Singgah. 2010. Statistik: Non Parametrik Konsep dan Aplikasi dengan
SPSS. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo, Kompas Gramedia.
Santoso, Singgah. 2010. Statistik: Parametrik Konsep dan Aplikasi dengan SPSS.
Jakarta: PT. Elex Media Komputindo, Kompas Gramedia.
Sastroasmoro, S. 2007. Teknik Menulis dan Telaah Kritis Makalah Ilmiah
Kedokteran: Telaah Kritis Jurnal Kedokteran. Siti Setiati (Ed). Jakarta:
Pusat Penerbit IPD FKUI.
Sastroasmoro, S dan Sofyan Ismael. 1995. Dasar Dasar Metodelogi Penelitian
Klinis. Jakarta; Binarupa Aksara

14