Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Asma merupakan penyakit gangguan inflamasi kronis saluran
pernapasan yang dihubungkan dengan hiperresponsif, keterbatasan aliran
udara yang reversibel dan gejala pernapasan.10
Penyakit asma adalah suatu kelainan berupa inflamasi (peradangan)
kronik saluran nafas yang menyebabkan hipereaktivitas bronkus terhadap
berbagai rangsangan yang ditandai dengan gejala episodik berulang berupa
mengi, batuk, sesak nafas dan rasa berat di dada terutama pada malam atau
dini hari yang umumnya bersifat reversible baik dengan atau tanpa
pengobatan. Penyakit asma bersifat fluktuatif (hilang timbul) artinya dapat
tenang tanpa gejala tidak mengganggu aktifitas tetapi dapat eksaserbasi
dengan gejala ringan sampai berat bahkan dapat menimbulkan kematian.9
Asma merupakan penyakit radang kronis pada saluran pernapasan
yang sering terjadi pada masyarakat di berbagai negara di seluruh dunia.
Dalam beberapa tahun terakhir, penyakit ini telah menunjukkan peningkatan
prevalensi yang cukup signifikan. Menurut data yang dikeluarkan oleh
Global Initiative for Asthma (GINA) pada tahun 2011, diperkirakan
sebanyak 300 juta manusia menderita asma.8
Asma masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius
diseluruh

dunia.

Prevalensi

asma

menurut

laporan

Word

Health

Organization (WHO) tahun 2013, saat ini sekitar 235 juta penduduk dunia
terkena penyakit asma.6
Menurut karakteristik terlihat prevalensi asma, PPOK, dan kanker
meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Prevalensi asma pada
kelompok umur 45 tahun mulai menurun. Prevalensi asma dan kanker
pada perempuan cenderung lebih tinggi dari pada laki-laki. Prevalensi asma,
PPOK, dan kanker di Indonesia masing-masing 4,5 persen, 3,7 persen, dan

1,4 per mil. Prevalensi asma tertinggi terdapat di Sulawesi Tengah (7,8%),
diikuti Nusa Tenggara Timur (7,3%), DI Yogyakarta (6,9%), dan Sulawesi
Selatan (6,7%).6
Prevalensi asma meningkat dari waktu ke waktu menyerang negara
maju maupun negara sedang berkembang. Namun 80% kematian yang
disebabkan oleh asma terjadi pada negara yang berpendapatan rendah dan
sedang kebawah. Peningkatan prevalensi tersebut berhubungan dengan,
yang pada kebanyakan negara, penyakit asma sering tidak terdiagnosa atau
jika terdiagnosa, penderita asma tidak memiliki akses terhadap pengobatan
dasar, akses kesehatan, dan kurangnya tingkat pendidikan penderita.4
Peran dokter dalam mengatasi penyakit asma sangatlah penting.
Dokter sebagai pintu pertama dalam pertolongan serangan asma, untuk itu
dokter harus selalu meningkatkan pelayanan, salah satunya yang sering
diabaikan adalah memberikan edukasi atau pendidikan kesehatan.
Pendidikan kesehatan kepada penderita dan keluarga akan sangat berarti
bagi penderita, terutama bagaimana sikap dan tindakan yang bisa dikerjakan
pada waktu menghadapi serangan, dan bagaimana caranya mencegah
terjadinya serangan asma.
1.2. Tujuan Penulisan
1.2.1. Tujuan Umum
Laporan ini disusun untuk memenuhi sebagian syarat mengikuti
Kepaniteraan

Klinik

bagian

Kedokteran

Keluarga

Fakultas

Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang.


1.2.2. Tujuan Khusus
Mahasiswa belajar menerapkan prinsip-prinsip pelayanan kedokteran
keluarga dalam mengatasi masalah tidak hanya pada penyakit pasien
tetapi juga faktor psikososial dari keluarga yang mempengaruhi
timbulnya penyakit serta peran serta keluarga dalam mengatasi
masalah kesehatan.
1.3. Manfaat Penelitian
1.3.1. Manfaat untuk Puskesmas
Sebagai sarana kerjasama yang saling menguntungkan untuk dapat
meningkatkan

pelayanan

kesehatan

terhadap

masyarakat

dan

mendapatkan umpan balik dari hasil evaluasi konsisten dalam rangka


mengoptimalkan peran puskesmas.
1.3.2. Manfaat untuk mahasiswa
Sebagai sarana keterampilan dan pengalaman dalam upaya pelayanan
kesehatan dengan menerapkan prinsip-prinsip kedokteran keluarga.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Asma
2.1.1. Definisi
Asma adalah gangguan inflamasi kronik saluran nafas yang
melibatkan banyak sel dan elemennya. Inflamasi yang terjadi pada
asma adalah inflamasi yang khas yaitu inflamasi yang disertai
infiltrasi eosinofil, hal ini yang membedakan asma dari gangguan
inflamasi jalan napas lainnya. Eosinofil merupakan inflamasi utama
pada asma,

terbukti setelah inhalasi dengan allergen didapatkan

peningkatan eosinofil pada cairan kurasan bronkoalveolar (BAL) pada


saat reaksi asma lambat yang disertai dengan inflamasi.1
2.1.2. Epidemiologi
Menurut data yang dikeluarkan oleh Global Initiative for
Asthma (GINA) pada tahun 2011, diperkirakan sebanyak 300 juta
manusia menderita asma.8
Asma masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius
diseluruh dunia. Prevalensi asma menurut laporan Word Health
Organization (WHO) tahun 2013, saat ini sekitar 235 juta penduduk
dunia terkena penyakit asma.6
Menurut karakteristik terlihat prevalensi asma, PPOK, dan
kanker meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Prevalensi asma
pada kelompok umur 45 tahun mulai menurun. Prevalensi asma dan
kanker pada perempuan cenderung lebih tinggi dari pada laki-laki.
Prevalensi asma, PPOK, dan kanker di Indonesia masing-masing 4,5
persen, 3,7 persen, dan 1,4 per mil. Prevalensi asma tertinggi terdapat
di Sulawesi Tengah (7,8%), diikuti Nusa Tenggara Timur (7,3%), DI
Yogyakarta (6,9%), dan Sulawesi Selatan (6,7%).6
2.1.3. Faktor Resiko
Secara umum faktor risiko asma dipengaruhi atas faktor genetik
dan faktor lingkungan.10
1. Faktor Genetik

a. Atopi/alergi
Hal yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum
diketahui bagaimana cara penurunannya. Penderita dengan
penyakit alergi biasanya mempunyai keluarga dekat yang juga
alergi. Dengan adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah
terkena penyakit asma bronkial jika terpajan dengan faktor
pencetus.
b. Hipereaktivitas bronkus
Saluran napas sensitif terhadap berbagai rangsangan alergen
maupun iritan.
c. Jenis kelamin
Pria merupakan risiko untuk asma pada anak. Sebelum usia 14
tahun, prevalensi asma pada anak laki-laki adalah 1,5-2 kali
dibanding

anak

perempuan.

Tetapi

menjelang

dewasa

perbandingan tersebut lebih kurang sama dan pada masa


menopause perempuan lebih banyak.
d. Ras/etnik
e. Obesitas
Obesitas atau peningkatan Body Mass Index (BMI), merupakan
faktor risiko asma. Mediator tertentu seperti leptin dapat
mempengaruhi

fungsi

saluran

napas

dan

meningkatkan

kemungkinan terjadinya asma. Meskipun mekanismenya belum


jelas, penurunan berat badan penderita obesitas dengan asma,
dapat memperbaiki gejala fungsi paru, morbiditas dan status
kesehatan.
2.

Faktor lingkungan
a. Alergen dalam rumah (tungau debu rumah, spora jamur, kecoa,
serpihan kulit binatang seperti anjing, kucing, dan lain-lain).
b. Alergen luar rumah (serbuk sari, dan spora jamur).

3.

Faktor lain
a. Alergen makanan
Contoh: susu, telur, udang, kepiting, ikan laut, kacang tanah,
coklat, kiwi, jeruk, bahan penyedap pengawet, dan pewarna
makanan.

b. Alergen obat-obatan tertentu


Contoh: penisilin, sefalosporin, golongan beta laktam lainnya,
eritrosin, tetrasiklin, analgesik, antipiretik, dan lain lain.
c. Bahan yang mengiritasi
Contoh: parfum, household spray, dan lain-lain.
d. Ekspresi emosi berlebih
Stres/gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma,
selain itu juga dapat memperberat serangan asma yang sudah
ada. Di samping gejala asma yang timbul harus segera diobati,
penderita asma yang mengalami stres/gangguan emosi perlu
diberi nasihat untuk menyelesaikan masalah pribadinya. Karena
jika stresnya belum diatasi, maka gejala asmanya lebih sulit
diobati.
e. Asap rokok bagi perokok aktif maupun pasif
Asap rokok berhubungan dengan penurunan fungsi paru.
Pajanan

asap

rokok,

sebelum

dan

sesudah

kelahiran

berhubungan dengan efek berbahaya yang dapat diukur seperti


meningkatkan risiko terjadinya gejala serupa asma pada usia
dini.
f. Polusi udara dari luar dan dalam ruangan
g. Exercise-induced asthma
Pada penderita yang kambuh asmanya ketika melakukan
aktivitas/olahraga tertentu. Sebagian besar penderita asma akan
mendapat serangan jika melakukan aktivitas jasmani atau
olahraga yang berat. Lari cepat paling mudah menimbulkan
serangan asma. Serangan asma karena aktivitas biasanya terjadi
segera setelah selesai aktivitas tersebut.
h. Perubahan cuaca
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering
mempengaruhi

asma.

Atmosfer

yang

mendadak

dingin

merupakan faktor pemicu terjadinya serangan asma. Serangan


kadang-kadang berhubungan dengan musim, seperti: musim
hujan, musim kemarau, musim bunga (serbuk sari beterbangan).
i. Status ekonomi

2.1.4. Klasifikasi
1. Klasifikasi Menurut Etiologi
Banyak usaha telah dilakukan untuk membagi asma menurut
etiologi, terutama dengan bahan lingkungan yang mensensititasi.
Namun hal itu sulit dilakukan antara lain oleh karena bahan
2.

tersebut sering tidak diketahui.


Klasifikasi Menurut Derajat Berat Asma
Klasifikasi asma menurut derajat berat berguna untuk menentukan
obat yang diperlukan pada awal penanganan asma. Menurut derajat
besar asma diklasifikasikan sebagai intermiten, persisten ringan,

3.

persisten sedang dan persisten berat.


Klasifikasi Menurut Kontrol Asma
Kontrol asma dapat didefinisikan menurut berbagai cara. Pada
umumnya, istilah kontrol menunjukkan penyakit yang tercegah
atau bahkan sembuh. Namun pada asma, hal itu tidak realistis;
maksud kontrol adalah kontrol manifestasi penyakit. Kontrol yang
lengkap biasanya diperoleh dengan pengobatan. Tujuan pengobatan
adalah memperoleh dan mempertahankan kontrol untuk waktu

4.

lama dengan pemberian obat yang aman, dan tanpa efek samping.
Klasifikasi Asma Berdasarkan Gejala
Asma dapat diklasifikasikan pada saat tanpa serangan dan pada saat
serangan. Tidak ada satu pemeriksaan tunggal yang dapat
menentukan berat-ringannya suatu penyakit, pemeriksaan gejalagejala dan uji faal paru berguna untuk mengklasifikasi penyakit
menurut berat ringannya. Klasifikasi itu sangat penting untuk
penatalaksanaan asma. Berat ringan asma ditentukan oleh berbagai
faktor seperti gambaran klinis sebelum pengobatan (gejala,
eksaserbasi, gejala malam hari, pemberian obat inhalasi b-2 agonis,
dan uji faal paru) serta obat-obat yang digunakan untuk mengontrol
asma (jenis obat, kombinasi obat dan frekuensi pemakaian obat).
Asma dapat diklasifikasikan menjadi intermiten, persisten ringan,
persisten sedang, dan persisten berat. Selain klasifikasi derajat
asma berdasarkan frekuensi serangan dan obat yang digunakan
sehari-hari, asma juga dapat dinilai berdasarkan berat ringannya

serangan. Global Initiative for Asthma (GINA) melakukan


pembagian derajat serangan asma berdasarkan gejala dan tanda
klinis, uji fungsi paru, dan pemeriksaan laboratorium. Derajat
serangan menentukan terapi yang akan diterapkan. Klasifikasi
tersebut adalah asma serangan ringan, asma serangan sedang, dan
asma serangan berat. Dalam hal ini perlu adanya pembedaan antara
asma kronik dengan serangan asma akut. Dalam melakukan
penilaian berat ringannya serangan asma, tidak harus lengkap untuk
setiap pasien. Penggolongannya harus diartikan sebagai prediksi
dalam menangani pasien asma yang datang ke fasilitas kesehatan
dengan keterbatasan yang ada.10
2.1.5. Patogenesis
Asma merupakan inflamasi kronik saluran napas dan disebabkan
oleh hiperreaktivitas saluran napas yang melibatkan beberapa sel
inflamasi terutama sel mast, eosinofil, sel limfosit T, makrofag,
neutrofil dan sel epitel yang menyebabkan pelepasan mediator seperti
histamin dan leukotrin yang dapat mengaktivasi target saluran napas
sehingga terjadi bronkokonstriksi, kebocoran mikrovaskular, edema
Asma
: Inflamasi
kronis Saluran
Napas napas pada asma
dan hipersekresi
mukus.
Inflamasi
saluran

merupakan proses yang sangat kompleks melibatkan faktor genetik,


pemicu

antigen dan berbagai sel inflamasi, interaksi antara sel dan mediator
Hiperreaktivitas
yang membentuk proses inflamasi
kronik.10
Proses inflamasi kronik ini berhubungan dengan peningkatan

kepekaan saluran napas sehingga memicu episode mengi berulang,


sesak napas, batuk terutama pada malam hari. Hiperresponsivitas
Banyak Sel :
Melepas MEDIATOR :
Sel
Mast
Histaminberlebihan yaitu penyempitan
saluran napas adalah respon bronkus
Eosinofil
Prostaglandin (PG)
Netrofilberbagai rangsangan spesifik dan non-spesifik.10
bronkus akibat
Leukotrien (L)
Limfosit
Platelet Activating Factor
(PAF), dll

Bronkokonstriksi, hipersekresi mukus, edema


saluran napas
Obstruksi difus saluran napas

8
BATUK, MENGI, SESAK

Gambar 1. Patogenesis Asma10


Tabel 3. Mediator Sel Mast dan Pengaruhnya terhadap Asma
Mediator

Pengaruh terhadap
Asma

Histamin
LTC4, D4,E4
Prostaglandin dan Thromboksan
A2
Bradikinin
Platelet-activating factor (PAF)

Kontruksi otot polos

Histamin
LTC4, D4,E4
Prostaglandin dan Thromboksan
E2
Bradikinin
Platelet-activating factor (PAF)
Chymase
Radikal oksigen

Udema mukosa

Histamin
LTC4, D4,E4
Prostaglandin
Hidroxyeicosatetraenoic acid

Sekresi mukus

Radikal oksigen
Enzim proteolitik
Faktor inflamasi dan sitokin

Deskuamasi epitel
bronkial

2.1.6. Diagnosis
Diagnosis asma

ditegakkan

berdasarkan

riwayat

penyakit,

pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.11


1. Riwayat Penyakit
Tujuannya untuk menentukan waktu saat timbulnya serangan dan
beratnya

gejala,

terutama

untuk

membandingkan

dengan

eksaserbasi sebelumnya, semua obat yang digunakkan selama ini,


riwayat di RS sebelumnya, kunjungan kegawatdaruratan, riwayat
episode gagal napas sebelumnya (intubasi, penggunaan ventilator)
dan gangguan psikiatrik atau psikologis. Tidak adanya riwayat
asma sebelumnya terutama pada pasien dewasa, harus dipikirkan
diagnosis banding lainnya seperti gagal jantung kongestif, PPOK
2.

dan lainnya.
Pemeriksaan Fisik
Perhatian utama ditujukan kepada keadaan umum pasien. Pasien
dengan kondisi sangat berat akan duduk tegak. Penggunaan otototot tambahan untuk membantu bernapas juga harus menjadi
perhatian, sebagai indikator adanya obstruksi yang berat. Adanya
retraksi otot sternokleidomastoideus dan suprasternal menunjukan
adanya kelemahan fungsi paru.
Frekuensi pernapasan Respiratory Rate (RR) > 30X/menit,
takikardi > 120x/menit atau pulsus paradoksus > 12mmHg
merupakan tanda vital adanya serangan asma berat. Lebih dari 50%
pasien dengan asma berat, frekuensi jantungnya berkisar antara 90120x/menit. Umumnya keberhasilan pengobatan terhadap obstruksi
saluran pernapasan dihubungkan dengan penurunan frekuensi
denyut jantung, meskipun beberapa pasien tetap mengalami

3.

takikardi oleh karena bronkotropik dan bronkodilator.


Femeriksaan Penunjang
a. Spirometri
Spirometri adalah alat yang dipergunakan untuk mengukur faal
ventilasi paru. Reversibilitas penyempitan saluran napas yang
merupakan ciri khas asma dapat dinilai dengan peningkatan

10

volume ekspirasi paksa detik pertama (VEP1) dan atau kapasiti


vital paksa (FVC) sebanyak 20% atau lebih sesudah pemberian
bronkodilator.
b. Uji Provokasi Bronkus
Uji provokasi bronkus membantu menegakkan diagnosis asma.
Pada penderita dengan gejala sma dan faal paru normal
sebaiknya dilakukan uji provokasi bronkus. Pemeriksaan uji
provokasi bronkus merupakan cara untuk membuktikan secara
objektif hiperreaktivitas saluran napas pada orang yang diduga
asma. Uji provokasi bronkus terdiri dari tiga jenis yaitu uji
provokasi dengan beban kerja (exercise), hiperventilasi udara
dan alergen non-spesifik seperti metakolin dan histamin.
c. Foto Toraks
Pemeriksaan foto toraks dilakukan untuk menyingkirkan
penyakit lain yang memberikan gejala serupa seperti gagal
jantung

kiri,

obstruksi

pneumomediastinum.

Pada

saluran

nafas,

serangan

asma

pneumothoraks,
yang

ringan,

gambaran radiologik paru biasanya tidak memperlihatkan


adanya kelainan.
2.1.7. Diagnosis Banding
1. Bronkitis kronik
Bronkitis kronik ditandai dengan batuk kronik yang mengeluarkan
sputum 3 bulan dalam setahun untuk sedikitnya 2 tahun. Gejala
utama batuk yang disertai sputum dan perokok berat. Gejala
dimulai dengan batuk pagi, lama kelamaan disertai mengi dan
2.

menurunkan kemampuan jasmani.


Emfisema paru
Sesak napas merupakan gejala utama emfisema, sedangkan batuk

3.

dan mengi jarang menyertainya.


Gagal jantung kiri
Dulu gagal jantung kiri dikenal dengan asma kardial dan timbul
pada malam hari disebut paroxysmal nocturnal dispnea. Penderita
tiba-tiba terbangun pada malam hari karena sesak, tetapi sesak

11

menghilang atau berkurang bila duduk. Pada pemeriksaan fisik


ditemukan kardiomegali dan edema paru.
Emboli paru
Hal-hal yang dapat menimbulkan emboli paru adalah gagal

4.

jantung. Disamping gejala sesak napas, pasien batuk dengan


disertai darah (haemoptoe).
2.1.8. Penatalaksanaan
Tujuan utama penatalaksanaan asma adalah meningkatkan dan
mempertahankan kualiti hidup agar penderita asma dapat hidup
normal tanpa hambatan dalam melakukan aktiviti sehari-hari.10
Tujuan penatalaksanaan asma10:
1. Menghilangkan dan mengendalikan gejala asma
2. Mencegah eksaserbasi akut
3. Meningkatkan dan mempertahankan faal paru seoptimal mungkin
4. Mengupayakan aktiviti normal termasuk exercise
5. Menghindari efek samping obat
6. Mencegah terjadi keterbatasan aliran udara (airflow limitation)
7. Ireversibel
8. Mencegah kematian karena asma
Penatalaksanaan asma bertujuan untuk mengontrol penyakit,
disebut sebagai asma terkontrol. Asma terkontrol adalah kondisi stabil
minimal dalam waktu satu bulan.10
Penatalaksanaan asma bronkial

terdiri

dari

pengobatan

nonmedikamentosa dan pengobatan medikamentosa :


Pengobatan non-medikamentosa
1. Penyuluhan
2. Menghindari faktor pencetus
3. Pengendali emosi
4. Pemakaian oksigen
Pengobatan medikamentosa
Pengobatan ditujukan untuk mengatasi dan mencegah gejala
obstruksi jalan napas, terdiri atas pengontrol dan pelega.7
Pengontrol adalah medikasi asma jangka panjang untuk
mengontrol asma, diberikan setiap hari untuk mencapai dan
mempertahankan keadaan asma terkontrol pada asma persisten.
Pengontrol sering disebut pencegah, yang termasuk obat pengontrol :
Pengontrol (Controllers)
1. Glukokortikosteroid inhalasi

12

Pengobatan jangka panjang yang paling efektif untuk


mengontrol asma. Penggunaan steroid inhalasi menghasilkan
perbaikan faal paru, menurunkan hiperesponsif jalan napas,
mengurangi gejala, mengurangi frekuensi dan berat serangan dan
memperbaiki kualiti hidup. Steroid inhalasi adalah pilihan bagi
pengobatan asma persisten (ringan sampai berat).
Tabel 1.5. Dosis glukokortikosteroid inhalasi dan perkiraan
kesamaan potensi10
Dewasa
Obat
Beklometason
dipropionat
Budesonid
Flunisolid
Flutikason
Triamsinolon asetonid
2.

Dosis rendah

Dosis medium

Dosis tinggi

200-500 ug
200-400 ug
500-1000 ug
100-250 ug
400-1000 ug

500-1000 ug
400-800 ug
1000-2000 ug
250-500 ug
1000-2000 ug

>1000 ug
>800 ug
>2000 ug
>500 ug
>2000 ug

Glukokortikosteroid sistemik
Cara pemberian melalui oral atau parenteral. Harus selalu diingat
indeks terapi (efek/ efek samping), steroid inhalasi jangka panjang

3.

lebih baik dari pada steroid oral jangka panjang.


Kromolin (sodium kromoglikat dan nedokromil sodium)
Pemberiannya secara inhalasi. Digunakan sebagai pengontrol pada
asma persisten ringan. Dibutuhkan waktu 4-6 minggu pengobatan

4.

untuk menetapkan apakah obat ini bermanfaat atau tidak.


Metilsantin
Teofilin adalah bronkodilator yang juga mempunyai efek
ekstrapulmoner seperti antiinflamasi. Teofilin atau aminofilin lepas
lambat dapat digunakan sebagai obat pengontrol, berbagai studi
menunjukkan pemberian jangka lama efektif mengontrol gejala dan

5.

memperbaiki faal paru.


Agonis beta-2 kerja lama
Termasuk di dalam agonis beta-2 kerja lama inhalasi adalah
salmeterol dan formoterol yang mempunyai waktu kerja lama (> 12
jam). Seperti lazimnya agonis beta-2 mempunyai efek relaksasi

13

otot polos, meningkatkan pembersihan mukosilier, menurunkan


permeabiliti pembuluh darah dan memodulasi penglepasan
6.

mediator dari sel mast dan basofil.


Leukotriene modifiers
Obat ini merupakan antiasma yang relatif baru dan pemberiannya
melalui oral. Mekanisme kerja menghasilkan efek bronkodilator
minimal

dan menurunkan

bronkokonstriksi

akibat alergen,

sulfurdioksida dan exercise. Selain bersifat bronkodilator, juga


mempunyai efek antiinflamasi. Kelebihan obat ini adalah
preparatnya dalam bentuk tablet (oral) sehingga mudah diberikan.
Saat ini yang beredar di Indonesia adalah zafirlukas (antagonis
7.

reseptor leukotrien sisteinil).


Pelega (Reliever)
Prinsipnya untuk dilatasi jalan napas melalui relaksasi otot polos,
memperbaiki dan atau menghambat bronkostriksi yang berkaitan
dengan gejala akut seperti mengi, rasa berat di dada dan batuk,
tidak memperbaiki inflamasi jalan napas atau menurunkan

8.

hiperesponsif jalan napas.


Agonis beta-2 kerja singkat
Termasuk golongan ini adalah salbutamol, terbutalin, fenoterol, dan
prokaterol yang telah beredar di Indonesia. Mempunyai waktu
mulai kerja (onset) yang cepat. Mekanisme kerja sebagaimana
agonis

beta-2

yaitu

relaksasi

otot

polos

saluran

napas,

meningkatkan bersihan mukosilier, menurunkan permeabiliti


pembuluh darah dan modulasi penglepasan mediator dari sel mast.
Merupakan terapi pilihan pada serangan akut dan sangat
9.

bermanfaat sebagai praterapi pada exerciseinduce asthma.


Metilsantin
Termasuk dalam bronkodilator walau efek bronkodilatasinya lebih

10.

lemah dibandingkan agonis beta-2 kerja singkat.


Antikolinergik
Pemberiannya secara inhalasi. Mekanisme kerjanya memblok efek
penglepasan asetilkolin dari saraf kolinergik pada jalan napas.
Menimbulkan bronkodilatasi dengan menurunkan tonus kolinergik

14

vagal intrinsik, selain itu juga menghambat refleks bronkokostriksi


yang disebabkan iritan. Termasuk dalam golongan ini adalah
11.

ipratropiumb romide dan tiotropium bromide.


Adrenalin
Dapat sebagai pilihan pada asma eksaserbasi sedang sampai berat.
Pemberian secara subkutan harus dilakukan hati-hati pada
penderita usia lanjut atau dengan gangguan kardiovaskular.
Pemberian intravena dapatdiberikan bila dibutuhkan, tetapi harus
dengan pengawasan ketat (bedside monitoring).

2.1.9. Komplikasi
Berbagai komplikasi yang mungkin timbul adalah7 :
1. Status asmatikus
2. Atelektasis
3. Hipoksemia
4. Pneumothoraks
5. Emfisema
2.1.10. Prognosis
Mortalitas akibat asma sedikit nilainya. Gambaran yang
paling akhir menunjukkan kurang dari 5000 kematian setiap tahun
dari populasi beresiko yang berjumlah kira-kira 10 juta. Sebelum
dipakai kortikosteroid, secara umum angka kematian penderita
asma wanita dua kali lipat penderita asma pria. Juga kenyataan
bahwa angka kematian pada serangan asma dengan usia tua lebih
banyak, kalau serangan asma diketahui dan dimulai sejak kanak
kanak dan mendapat pengawasan yang cukup kirakira setelah 20
tahun, hanya 1% yang tidak sembuh dan di dalam pengawasan
tersebut kalau sering mengalami serangan common cold 29% akan
mengalami serangan ulang. Pada penderita yang mengalami
serangan intermitten angka kematiannya 2%, sedangkan angka
kematian pada penderita yang dengan serangan terus menerus
angka kematiannya 9%.4
2.2.1 Pendekatan Kedokteran Keluarga

15

Dokter keluarga adalah dokter yang mengutamakan penyediaan


pelayanan komprehensif bagi semua orang yang mencari pelayanan
kedokteran, dan mengatur pelayanan oleh provider lain bila diperlukan.
Dokter ini adalah seorang generalis yang menerima semua orang yang
membutuhkan pelayanan kedokteran tanpa adanya pembatasan usia, gender,
ataupun jenis penyakit. Dikatakan pula bahwa dokter keluarga adalah dokter
yang mengasuh individu sebagai bagian dari keluarga dan dalam lingkup
komunitas dari individu tersebut. Tanpa membedakan ras, budaya, dan
tingkatan sosial. Secara klinis, dokter ini berkompeten untuk menyediakan
pelayanan dengan sangat mempertimbangkan dan memerhatikan latar
belakang budaya, sosioekonomi, dan psikologis pasien. Dokter ini
bertanggung jawab atas berlangsungnya pelayanan yang komprehensif dan
berkesinambungan bagi pasiennya.2
Pelayanan dokter keluarga adalah pelayanan kedokteran yang
menyeluruh yang memusatkan pelayanannya kepada keluarga sebagai suatu
unit, di mana tanggung jawab dokter terhadap pelayanan kesehatan tidak
dibatasi oleh golongan umur atau jenis kelamin pasien, juga tidak boleh oleh
organ tubuh atau jenis penyakit tertentu saja.2
2.2.2 Karakteristik Pelayanan Kedokteran Keluarga
Pelayanan dokter keluarga mempunyai beberapa karakteristik salah
satunya menurut Ikatan Dokter Indonesia melalui Muktamar ke-18 di
Surakarta tahun 1982 sebagai berikut.2
1. Yang melayani penderita tidak hanya sebagai orang per orang, tetapi
sebagai anggota satu keluarga dan bahkan sebagai anggota masyarakat
sekitarnya.
2. Yang memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan
memberikan perhatian kepada penderita secara lengkap dan sempurna,
jauh melebihi jumlah keseluruhan keluhan yang disampaikan.
3. Yang mengutamakan pelayanan kesehatan guna meningkatkan derajat
kesehatan seoptimal mungkin, mencegah timbulnya penyakit dan
mengenal serta mengobati penyakit sedini mungkin.
4. Yang mengutamakan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan dan
berusaha memenuhi kebutuhan tersebut sebaik-baiknya.

16

5. Yang menyediakan dirinya sebagai tempat pelayanan kesehatan tingkat


pertama dan bertanggung jawab pada pelayanan kesehatan lanjutan.
2.2.3.

Azas-azas / Prinsip-prinsip Pelayanan Kedokteran Keluarga


Prinsip-prinsip pelayanan dokter keluarga di Indonesia mengikuti
anjuran WHO dan WONCA. Prinsip-prinsip ini juga merupakan simpulan
untuk dapat meningkatkan kualitas layanan dokter primer dalam
melaksanakan pelayanan kedokteran. Prinsip pelayanan atau pendekatan
kedokteran keluarga adalah memberikan atau mewujudkan sebagai berikut.2
1. Pelayanan yang holistik dan komprehensif
2. Pelayanan yang kontinu.
3. Pelayanan yang mengutamakan pencegahan.
4. Pelayanan yang koordinatif dan kolaboratif.
5. Penanganan personal bagi setiap pasien sebagai bagian integral dari
keluarganya.
6. Pelayanan yang mempertimbangkan keluarga, lingkungan kerja, dan
lingkungan tempat tinggalnya.
7. Pelayanan yang menjunjung tinggi etika dan hukum.
8. Pelayanan yang dapat diaudit dan dapat dipertanggungjawabkan.
9. Pelayanan yang sadar biaya dan sadar mutu.

2.2.4.

Pola Pikir dan Pola Tindak Dokter Keluarga / Dokter Layanan Primer
Dokter keluarga bertanggung jawab meningkatkan derajat kesehatan
mitranya, dan ia berhubungan dengan mitranya di kala sehat maupun di kala
sakit. Tanggung jawab ini mengharuskan dokter keluarga menyediakan
program pemeliharaan kesehatan bagi mitranya yang sehat, dan program
pengobatan atau pemulihan bagi mitranya yang sedang jatuh sakit. Program
ini harus spesifik dan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan setiap mitranya.
Hal ini dapat dipenuhi bila pola pikir dan pola tindaknya mengacu pada
pendekatan Medifa yang menata alur pelayanan dokter keluarga dalam 4
kegiatan (assessment targeting intervention monitoring) yang
membentuk satu siklus pelayanan terpadu.14
1. Penilaian profil kesehatan pribadi (Assessment)
Dokter keluarga mengawali upaya pemeliharaan mitranya dengan
melakukan penilaian komprehensif terhadap faktor risiko dan kodisi

17

kesehatan dengan tujuan memperoleh profil kesehatan pribadi dari


mitranya.
2. Penyusunan program kesehatan spesifik (Targeting)
Tersedianya profil kesehatan ini memberi kesempatan kepada dokter
keluarga untuk mempelajari masalah kesehatan yang dimiliki mitranya,
sehingga dokter keluarga dapat menyusun program kesehatan yang
sesuai dengan kebutuhan spesifik setiap mitra.
3. Intervensi proaktif (Intervention)
Dengan demikian setiap mitra, apakah ia dalam kondisi sehat,
menyandang faktor risiko atau sakit, secara proaktif akan diajak
mengikuti program pemeliharaan kesehatan yang sepesifik dengan
kebutuhannya. Melalui program proaktif ini diharapkan mitra yang sehat
dapat tetap sehat, yang saat ini menyandang faktor risiko dapat dikurangi
kemungkinan jatuh sakit berat di kemudian hari, dan yang saat ini
menderita suatu penyakit dapat segera pulih, dicegah terjadinya
komplikasi, atau diupayakan agar kecacatan seminimal mungkin. Bila
diperlukan si mitra akan dirujuk ke spesialis.
4. Pemantauan kondisi kesehatan (Monitoring)
Selanjutnya pelaksanaan program dan hasilnya akan dipantau dan
dievaluasi terus menerus dan menjadi masukan bagi dokter keluarga
untuk meningkatkan kualitas program dan memotivasi mitranya
(monitoring).
2.2.5.

Bentuk dan Fungsi Keluarga12


Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari
suami-sitri, atau suami-istri dan anak, atau ayah dengan anak atau ibu
dengan anak11.
Bentuk keluarga dibagi menjadi 9 macam menurut Goldenberg (1980)
sebagai berikut11.
1. Keluarga inti (nuclear family)
Keluarga yang terdiri dari suami, istri, serta anak-anak kandung.
2. Keluarga besar (extended family)
Keluarga yang disamping terdiri dari suami, istri, dan anak-anak
kandung, juga terdiri dari sanak saudara lainnya, baik menurut garis
vertikal (ibu, bapak, kakek, nenek, mantu, cucu, cicit) dan ataupun

18

menurut garis horizontal (kakak, adik, ipar) yang dapat berasal dari pihak
suami atau istri
3. Keluarga campuran (blended family)
Keluarga yang terdiri dari suami, istri, anak-anak kandung serta anakanak tiri.
4. Keluarga menurut hukum umum (common law family)
Keluarga yang terdiri dari pria dan wanita yang tidak terikat dalam
perkawinan sah serta anak-anak mereka yang tinggal bersama.
5. Keluarga orang tua tunggal (single parent family)
Keluarga yang terdiri dari pria atau wanita, mungkin karena telah
bercerai, berpisah, ditinggal mati atau mungkin tidak pernah menikah,
serta anak-anak mereka tinggal bersama.
6. Keluarga hidup bersama (commune family)
Keluarga yang terdiri dari pria, wanita, dan anak-anak yang tinggal
bersama, berbagi hal dan tanggung jawab serta memiliki kekayaan
bersama.
7. Keluarga serial (serial family)
Keluarga yang terdiri dari pria dan wanita yang telah menikah dan
mungkin telah mempunyai anak, tetapi kemudian bercerai dan masingmasing menikah lagi serta memiliki anak-anak dengan pasangan masingmasing, semuanya mengganggap sebagai satu keluarga.
8. Keluarga gabungan (composite family)
Keluarga yang terdiri dari suami dengan beberapa istri dan anak-anaknya
atau istri dengan beberapa suami dan anak-anaknya yang hidup bersama.
9. Keluarga tinggal bersama (whabilation family)
Pria dan wanita yang hidup bersama tanpa ada ikatan perkawinan.
2.2.6.

Klasifikasi Tingkat Kesejahteraan Keluarga


Tahapan keluarga sejahtera dibedakan atas 5 tingkatan menurut
BKKBN (2011) sebagai berikut.13
1. Keluarga pra sejahtera
Keluarga-keluarga yang belum dapat memenui kebutuhan dasarnya
secara minimal, seperti kebutuhan agama, pangan, sandang, papan,
kesehatan, dan keluarga berencana.
2. Keluarga sejahtera tahap I
Keluarga-keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan dasarnya
secara minimal tetapi belum dapat memenuhi kebutuhan dasarnya secara

19

minimal tetapi belum dapat memenuhi keseluruhan kebutuhan sosial


psikologisnya, seperti kebutuhan akan pendidikan, interaksi dalam
keluarga, interaksi dengan lingkungan tempat tinggal, dan transportasi.
3. Keluarga sejahtera tahap II
Keluarga-keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan fisik dan
sosial-psikologisnya, akan tetapi belum dapat memenuhi keseluruhan
kebutuhan pengembangannya, seperti kebutuhan untuk menabung dan
informasi.
4. Keluarga sejahtera tahap III
Keluarga-keluarga yang telah dapat memenuhi seluruh kebuthan fisik,
sosial-psikologis, dan pengembangan, namun belum dapat memberikan
sumbangan secara teratur kepada masyarakat sekitarnya, misalnya dalam
bentuk sumbangan materil dan keuangan, serta secara aktif menjadi
pengurus lembaga di masyarakat yang ada.
5. Keluarga sejahtera tahap III plus
Keluarga-keluarga yang telah dapat memenuhi seluruh kebutuhannya
serta memiliki kepedulian dan kesertaan yang tinggi dalam meningkatkan
kesejahteraan keluarga disekitarnya.
2.2.7.

Penentuan Sehat/Tidaknya Keluarga (APGAR)


Tingkat kepuasan anggota keluar dapat dinilai dengan APGAR
keluarga. APGAR keluarga merupakan salah satu cara yang digunakan
untuk mengukur sehat tidaknya suatu keluarga yang dikembangkan oleh
Rosen, Geyman, dan Leyton. Lima fungsi pokok yang dinilai dalam tingkat
kesehatan keluarga sebagai berikut.2
1. Adaptasi (Adaptation)
Dinilai tingkat kepuasan anggota keluarga dalam menerima bantuan yang
diperlukannya dan anggota keluarga lainnya.
2. Kemitraan (Partnership)
Dinilai tingkat kepuasan anggota keluarga terhadap berkomunikasi, turun
rembuk dalam mengambil keputusan dan atau menyelesaikan suatu
masalah yang sedang dihadapi dengan anggota keluarga lainnya.
3. Pertumbuhan (Growth)
Dinilai tingkat kepuasan anggota keluarga terhadap kebebasan yang
diberikan keluarga dalam mematangkan pertumbuhan dan atau
kedewasaan setiap anggota keluarga.

20

4. Kasih sayang (Affection)


Dinilai tingkat kepuasan anggota keluarga terhadap kasih sayang serta
interaksi emosional yang berlangsung dalam keluarga.
5. Kebersamaan (Resolve)
Dinilai tingkat kepuasan anggota keluarga terhadap kebersamaan dalam
membagi waktu, kekayaan, dan ruang antar keluarga.
2.2.8.

Keluarga dan Kesehatan


Kesehatan dan penyakit selalu berhubungan dengan keempat hal berikut2
1. Kepribadian
2. Gaya hidup
3. Lingkungan fisik
4. Hubungan antar manusia

2.2.9.

Pengaruh Keluarga Terhadap Kesehatan2


1. Penyakit keturunan
a. Interaksi antara faktor genetik (fungsi reproduksi) dan faktor
lingkungan (fungsi-fungsi keluarga lainnya).
b. Muncul dalam perkawinan (tahap awal dan siklus kehidupan
keluarga).
c. Perlu marriage counseling dan screening
2. Perkembangan bayi dan anak
Jika dibesarkan dalam lingkungan keluarga dengan fungsi-fungsi yang
sakit akan mengganggu perkembangan fisik dan perilaku.
3. Penyebaran penyakit
a. Penyakit infeksi
b. Penyakit neurosis
4. Pola penyakit dan kematian
Hidup membujang atau bercerai mempengaruhi angka kesakitan dan
kematian.
5. Proses penyembuhan penyakit
Penyembuhan penyakit kronis pada anak-anak pada keluarga dengan
fungsi keluarga yang sehat lebih baik dibandingkan pada keluarga
dengan fungsi keluarga sakit.

2.2.10.

Pengaruh Kesehatan Terhadap Keluarga2


1. Bentuk keluarga
a. Infertilitas membentuk keluarga inti tanpa anak
b. Penyakit jiwa (kelainan seksual seperti homoseksual), jika membentuk
keluarga akan terbentuk keluarga non-tradisional

21

2. Fungsi keluarga
a. Jika kesehatan kepala keluarga (pencari nafkah) terganggu, akan
mengganggu fungsi ekonomi dan atau fungsi pemenuhan kebutuhan
fisik keluarga.
b. Jika kesehatan ibu rumah tangga terganggu, akan mengganggu fungsi
afektif dan atau fungsi sosialisasi.
3. Siklus kehidupan keluarga
a. Infertilitas akan mengalami siklus kehidupan keluarga yang tidak
lengkap.
b. Jika kesehatan suami-istri memburuk, kematian cepat masuk ke dalam
tahap lenyapnya keluarga.

22