Anda di halaman 1dari 12

Nama Peserta: dr.

Indah Ramadhani Marta Amalia


Nama Wahana: Puskesmas Kecamatan Kalideres
Topik: Skizofrenia Paranoid
Tanggal (Kasus): 11-08-2015
Nama Pasien: Nn. Y
No RM: 1257/14
Tanggal Presentasi:
Nama Pendamping: dr. Rina Handayani
Tempat Presentasi:
Obyektif Presentasi:
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Tinjauan Pustaka
Diagnostik
Manajemen
Masalah
Istimewa
Neonatus

Bayi Anak Remaja

Dewasa

Lansia

Bumil

Deskripsi: Nn. Y, 28 tahun, datang dibawa oleh ibunya untuk kontrol yang ke 23. Pasien
mengeluh pusing. Pertama kali datang ke poli jiwa puskesmas kecamatan kalideres
dibawa oleh ibunya dengan keluhan sering mengomel atau bicara sendiri tanpa sebab yang
jelas kurang lebih 1,5 tahun yang lalu berlangsung selama 1 bulan. Ibu pasien juga
mengatakan bahwa pasien sering berdiri tengah malam, sulit tidur, tidak mau mandi
sendiri, dan seringkali berganti-ganti pakaian. Selain itu omongan pasien tidak dapat
dipegang. Karena semakin parah pasien dirujuk ke RSUD Duren Sawit. Ibu pasien
mengatakan bahwa pasien menjadi seperti ini setelah putus dari pacarnya.
Saat wawancara pasien tampak lebih tenang dan kooperatif. Pasien mengatakan ia
mengomel atau bicara sendiri karena sering ada yang membicarakannya tetapi tidak ada
orang yang membicarakannya disekitarnya. Suara-suara tersebut mengatakan bahwa
pasien tidak berguna dan wajah buruk. Suara-suara tersebut muncul jika pasien sendirian,
sehingga pasien sulit tidur dan tidak mau mandi sendirian.
Pasien menyangkal adanya hilang minat, mudah lelah, susah makan, keinginan bunuh diri,
senang yang berlebihan, bergerak terus menerus.menyangkal konsumsi rokok, alcohol dan
obat-obatan.
Tujuan: penanganan pada pasien Skizofrenia serta penyingkiran diagnosis banding
skizofrenia.
Tinjauan Pustaka
Riset
Kasus
Audit
Bahan Bahasan:

Diskusi

Presentasi
dan
Diskusi

Email
Pos
Cara Membahas:
Data Pasien
Nama: Nn. Y
No Registrasi: 1257/14
Nama Klinik: Poli Umum
Telpon:
Terdaftar Sejak: 11-08-2015
Data Utama dan Bahan Diskusi
1. Diagnosis / Gambaran Klinis
Skizofrenia Paranoid
2. Riwayat Pengobatan
Riwayat pengobatan paru 6 bulan 5 tahun yang lalu dan dinyatakan sembuh oleh dokter.
3. Riwayat Kesehatan / Penyakit
Tidak ada riwayat trauma di daerah kepala.
1

4. Riwayat Keluarga
Tantenya pernah di rawat di RSJ Grogol
5. Lain-lain: Pasien tidak mempunyai alergi makanan maupun obat.
Daftar Pustaka
1 Durand, V. Mark, & Barlow, David H. (2006). Psikologi Abnormal. Edisi Keempat. Jilid
Pertama. Jogjakarta : Pustaka Pelajar
2

Maramis, W. F. (2009). Ilmu Kedokteran Jiwa edisi 2. Surabaya: Pusat penerbitan dan
percetakan.

Psikofarmaka; 2010, diunduh dari http://www.medicastore.com/cybermed pada 22


Agustus 2015.

4 Skizofrenia; 2009; diunduh dari http://www.staff.ugm.com pada 10 Agustus 2015.


Hasil Pembelajaran
1. Penanganan pada Skizofrenia Paranoid
2. Penyingkiran diagnosis banding pada Skizofrenia Paranoid

1. Subyektif
Nn. Y, 28 tahun, datang dibawa oleh ibunya untuk kontrol yang ke 23. Pasien mengeluh
pusing. Pertama kali datang ke poli jiwa puskesmas kecamatan kalideres dibawa oleh
ibunya dengan keluhan sering mengomel atau bicara sendiri tanpa sebab yang jelas kurang
lebih 1,5 tahun yang lalu berlangsung selama 1 bulan. Ibu pasien juga mengatakan bahwa
pasien sering berdiri tengah malam, sulit tidur, tidak mau mandi sendiri, dan seringkali
berganti-ganti pakaian. Selain itu omongan pasien tidak dapat dipegang. Karena semakin
parah pasien dirujuk ke RSUD Duren Sawit. Ibu pasien mengatakan bahwa pasien
menjadi seperti ini setelah putus dari pacarnya.
Saat wawancara pasien tampak lebih tenang dan kooperatif. Pasien mengatakan ia
mengomel atau bicara sendiri karena sering ada yang membicarakannya tetapi tidak ada
orang yang membicarakannya disekitarnya. Suara-suara tersebut mengatakan bahwa
pasien tidak berguna dan wajah buruk. Suara-suara tersebut muncul jika pasien sendirian,
sehingga pasien sulit tidur dan tidak mau mandi sendirian.
Pasien menyangkal adanya hilang minat, mudah lelah, susah makan, keinginan bunuh diri,
senang yang berlebihan, bergerak terus menerus.menyangkal konsumsi rokok, alkohol dan
obat-obatan.
RIWAYAT GANGGUAN SEBELUMNYA
I Riwayat Gangguan Psikiatri
Selama ini pasien tidak pernah dirawat atau berobat ke rumah sakit mengenai
2

gangguan jiwanya. Pasien selama ini sering marah dan curiga terhadap tetangganya.
Pasien merasa sering diomongin oleh tetangganya. Selama ini pasien memang lebih
senang menyendiri.
IIRiwayat Gangguan Medis
Os mengaku pernah riwayat penyakit TB paru sekitar 5 tahun yang lalu, telah
mendapat pengobatan selama 6 bulan dan dinyatakan dokter telah sembuh.
III Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif ( NAPZA )
Tidak ada riwayat penggunaan alkohol, obat-obatan terlarang atau NAPZA.
RIWAYAT KEHIDUPAN PRIBADI
I Riwayat Prenatal dan Perinatal
Selama Kehamilan, ibu dan janin dalam keadaan baik. Pasien lahir cukup bulan
dengan keadaan normal ditolong oleh bidan. Pasien lahir dengan berat badan normal,
sehat, tidak ada trauma, tidak ada kelainan bawaan atau kelainan fisik.
IIRiwayat Masa Kanak Awal ( 0-3 tahun )
Pasien tinggal dengan kedua orang tua dan saudaranya. Pasien anak ke 1 dari 3
bersaudara. Masa ini dilalui dengan baik oleh pasien. Pertumbuhan dan perkembangan
pasien normal sesuai anak seusianya. Pertumbuhan psikomotor, psikosoial, kognitif dan
moral baik. Pasien bertingkah laku baik sesuai anak seusianya, cukup berinteraksi dan
komunikasi dengan keluarga.
III Riwayat Masa Pertengahan ( 3-11 tahun )
Pasien dapat bergaul dengan teman sebayanya dan bermain. Mempunyai teman di
sekolahnya. Dan dapat belajar dengan baik mengikuti kegiatan belajar mengajar di
sekolahnya.
IV
Riwayat Masa Akhir (Pubertas ) dan Remaja
Pasien mulai sering menyendiri. Sering mengaji dan rajin solat. Pasien mulai
mengurangi aktivitas bersama temannya.
VRiwayat Masa Dewasa
1 Riwayat Pendidikan
SD xxx selama 6 tahun ( umur 5-12 tahun )
SMPxxx selama 3 tahun ( umur 12-15 )
SMA xxx selama 3 tahun ( umur 15-18 )
Perguruan Tinggi xxx 6 tahun ( 18-24 )
2 Riwayat Pekerjaan
Pasien pernah bekerja menjadi guru TK di daerah taman palem selama 1 tahun.
3
4

Lalu tidak pernah bekerja lagi sampai saat ini.


Riwayat Psikoseksual/ Pernikahan
Pasien belum menikah. 2 tahun yang lalu pasien sempat berpacaran.
Riwayat Kehidupan Beragama
Pasien rajin sekali solat mengaji dan ikut pengajian semenjak gadis. Pasien
hidup di keluarga yang taat beragama.
Riwayat Pelanggaran Hukum
3

Tidak ada riwayat melanggar hukum.


RIWAYAT KELUARGA
Menurut ibu pasien tidak ada riwayat gangguan jiwa pada keluarga pasien. Namun tante
pasien pernah dirawat di RSJ Grogol.
Pasien merupakan anak pertama dari 3 bersaudara. Saudaranya yamg ketiga telah
meninggal saat usia 3 tahun akibat kecelakaan mobil. Saat ini pasien sudah tinggal dengan
orang tuanya.
KEHIDUPAN SOSIAL DAN EKONOMI SEKARANG
Pasien tinggal bersama kedua orang tua dan adiknya dalam satu rumah. Saat ini pasien
tidak bekerja. 1 tahun yang lalu pasien pernah menjadi guru TK, lalu diberhentikan
dikarenakan pasien sering berbicara sendiri dan memarahi anak didiknya. Ayah pasien
bekerja sebagai penjual gorengan dan ibu pasien hanya seorang ibu rumah Tangga.
2. Status Mental
a. DESKRIPSI UMUM
I Penampilan
Pasien seorang perempuan umur 28 tahun, penampilan fisik terlihat sesuai usianya.
Saat wawancara pertama pasien memakai baju kaos berwarna putih dengan celana
jeans bewarna biru dan memakai sandal. Pasien duduk tenang dan menjawab semua
pertanyaan dengan lancar, dan jawaban cukup jelas. Kontak mata cukup baik dengan
pemeriksa. Ekspresi wajah tampak normal. Pasien menunjukan sikap koperatif
terhadap pemeriksa.
IIKesadaran
1 Kesadaran Neurologik/Biologik
Compos Mentis
2 Kesadaran Psikologis
Baik
3 Kesadaran Sosial
Pasien mampu berinteraksi dokter dan perawat yang berada di poli
III
Pembicaraan
1 Kuantitas
Banyak kata-kata yang diucapkan, sesuai dengan pertanyaan
2 Kualitas
Spontan , cepat , lancar , tidak ada gangguan berbicara
3 Ide Cerita
Sedang, tidak terlalu banyak atau sedikit
IV
Perilaku dan Aktivitas Psikomotor
1 Sebelum Wawancara
Pasien sedang duduk dan memberi salam kepada semua perawat di dalam poli.
2 Selama Wawancara
Pasien duduk tenang menjawab semua pertanyaan dengan baik. Kontak mata baik.
4

Setelah Wawancara
Pasien duduk dan mengobrol dengan pasien lain
VSikap Terhadap Pemeriksa
Pasien kooperatif aktif menjawab seluruh pertanyaan dengan baik dan lancar
sesuai dengan pertanyaan yang diberikan oleh pemeriksa.
b. ALAM PERASAAN ( EMOSI )
I Mood ( Suasana Perasaan )
Euthym ( mood yang biasa, wajar, normal )
IIAfek ( Ekspresi Afektif )
1 Stabilitas
: Stabil
2 Pengendalian
: Cukup
3 Echt / Unecht
: Echt
4 Empati
: Ada
5 Dalam / Dangkal : Normal
6 Skala Diferensiasi : Luas
7 Keserasian
: Serasi
c. GANGGUAN PERSEPSI
I Halusinasi
Halusinasi Auditorik Pasien mengaku ada bisikan bisikan yang mengatakan
bahwa dirinya tidak berguna dan berwajah buruk
IIIlusi
Tidak ada Ilusi
III
Depersonalisasi
Tidak ada Depersonalisasi
IV
Derealisasi
Tidak ada Derealisasi
d. SENSORIUM DAN KOGNITIF ( FUNGSI INTELEKTUAL )
I Intelegensi dan Kemampuan Informasi
1 Taraf Pendidikan
Sesuai dengan tingkat pendidikan
2 Taraf Pengetahuan
Baik ( dapat menyebutkan presiden dan gubernur DKI Jakarta)
3 Taraf Kecerdasan
Rata-rata
IIOrientasi
1 Waktu : Baik ( pasien dapat menyebutkan dengan baik waktu saat wawancara )
2 Tempat: Baik ( pasien mengetahui berada di lokasi Puskesmas )
3 Orang: Baik ( pasien dapat membedakan dokter dan perawat )
4 Situasi : Baik ( pasien mengetahui sedang di wawancara )
III
Daya Ingat
1 Jangka Panjang : Baik ( Dapat menyebutkan dengan baik tanggal lahirnya
2
3
4
IV
1
2

dengan lengkap)
Jangka Pendek : Baik ( dapat menyebutkan nama dokter yang memeriksanya)
Sesaat
: Baik ( dapat menyebutkan kembali apel,mangga,manggis)
Segera
: Baik ( dapat menyebutkan kembali nama dokter pemeriksa)
Konsentrasi dan Perhatian
Konsentrasi : Baik ( dapat mengingat nama pemeriksa )
Perhatian : Baik ( dapat menjawab pertanyaan dengan baik, kontak mata baik
5

terhadap pemeriksa , memperhatikan dengan baik apa pertanyaan pemeriksa )


VKemampuan Membaca dan Menulis
Baik ( pasien dapat membaca dan menulis kegiatanya )
VI
Kemampuan Visuospasial
Baik ( pasien dapat menggambar jam 2 pada kertas dengan baik )
VII
Pikiran Abstrak
Baik ( pasien dapat mengartikan persamaan dari apel dan pir dengan baik )
VIII
Kemampuan Menolong Diri Sendiri
Baik ( pasien dapat makan dan mandi sendiri )
e. PROSES PIKIR
I Arus Pikir
1 Produktivitas
: Cukup
2 Kontinuitas
: Cukup ( jawaban sesuai dengan pertanyaan, terdapat asosiasi
longgar )
3 Hendaya Berbahasa: Tidak ada
IIIsi Pikir
1 Preokupasi
: Tidak ada
2 Waham
: Waham kebesaran ( pasien merasa dirinya utusan untuk
menjadi rasul dan pengendali antariksa )
3 Obsesi
: Tidak ada
4 Gagasan Rujukan: Tidak ada
5 Gagasan Pengaruh: Ada
f. PENGENDALIAN IMPULS
Kemampuan mengendalikan impuls cukup baik saat di ruangan. Pasien bersikap
tenang selama di wawancara.Tidak melakukan hal yang membahayakan bagi dirinya
maupun pasien lain.
g. DAYA NILAI
I Daya Nilai Sosial
Tidak terganggu ( pasien mengetahui bahwa marah dan memukul tidak baik )
IIUji Daya Nilai
Tidak terganggu ( pasien mengetahui memberikan tempat duduk pada orang tua di
kereta adalah hal baik )
III
Penilaian Realita
Terganggu ( karena pasien memiliki waham dan halusinasi )
h. TILIKAN
Tilikan Derajat I ( Pasien tidak merasa dirinya sakit )
i. RELIABILITAS
Dapat dipercaya, dalam waktu yang berbeda dapat memberikan kesimpulan yang sama
3. Objektif
Hasil pemeriksaan fisik didapatkan:
Keadaan umum

: Tampak sakit Ringan

Kesadaran

: Compos mentis

Laju Nadi

: 88 kali/menit (N: 60 100 kali/menit)

Pernafasan

: 20 kali/menit (N:12-24 kali/menit)

Suhu

: 37,1oC
6

BB

: 51 Kg

Kepala

: Normocephali

Mata

: konjungtiva anemis -/-, Sklera ikterik -/-

Tenggorokan

: Faring tidak hiperemis.

Leher

: Tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening

Pemeriksaan paru

: Bunyi nafas vesikular, ronki -/-, wheezing -/-.

Pemeriksaan jantung

: Bunyi jantung I dan II reguler, gallop ,murmur .

Abdomen

: Tampak Cembung. Supel. Hepar dan lien tidak teraba


membesar. Bising usus + normal

Ekstremitas

: Akral hangat pada keempat ekstremitas

4. Pemeriksaan Penunjang
Tidak ada
5. Assessment
Skizofrenia merupakan suatu sindroma klinis yang ditandai oleh psikopatologi yang
disruptif dan melibatkan aspek kognisi, persepsi dan aspek lain perilaku. Ekspresi dari
manifestasi penyakit ini bervariasi diantara pasien tetapi efeknya selalu berat dan bertahan
dalam jangka waktu yang lama. Skizofrenia mengenai segala lapisan kelas dan umumnya
muncul pada usia kurang dari 25 tahun, lalu selanjutnya menetap sepanjang hidup.
Meskipun didiagnosis sebagai penyakit tunggal, skizofrenia mungkin terdiri atas suatu
kumpulan gangguan dengan etiologi beragam, dan bervariasi dalam manifestasi klinis,
respons pengobatan dan perjalanan penyakitnya.1
Berdasarkan manifestasi klinisnya skizofrenia dibagi menjadi beberapa subtipe
bergantung pada acuan, berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental
Disorders IV, Text Revision (DSM-IV-TR) skizofrenia dibagi menjadi skizofrenia
paranoid, disorganized, katatonik, undifferentiated dan residual, sementara berdasarkan
International Statistical Classification of Disease and Related Helath Problem ke-10 (ICD10), membagi skizofrenia menjadi sembilan subtipe yaitu skizofrenia paranoid,
hebefrenik, katatonik, undiiferentiated, depresi postskizofrenik, residual, simpleks,
skizofrenia lainnya, dan unspecified. Di Indonesia sendiri pembagian subtipe skizofrenia
berdasarkan pada PPDGJ III juga dibagi menjadi sembilan subtipe yaitu skizofrenia
paranoid, hebefrenik, katatonik, tak terinci (undifferentiated), residual, simpleks, lainnya,

depresi pasca-skizofrenia dan skizofrenia YTT.1


Hingga sekarang belum ditemukan penyebab (etiologi) yang pasti mengapa seseorang
menderita skizofrenia, padahal orang lain tidak.Ternyata dari penelitian-penelitian yang
telah dilakukan tidak ditemukan faktor tunggal. Penyebab skizofrenia menurut penelitian
mutakhir antara lain : (Yosep, 2010)3

Faktor genetik;
Virus;
Autoantibodi;
Malnutrisi.

Pedoman Diagnostik Skizofrenia menurut PPDGJ-III, adalah sebagai berikut (Maslim,


2003)2.:
-

Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua gejala
atau lebih bila gejala gejala itu kurang tajam atau kurang jelas):
a thought echo, yaitu isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema
dalam kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama,
namun kualitasnya berbeda atau thought insertion or withdrawal yang
merupakan isi yang asing dan luar masuk ke dalam pikirannya (insertion) atau isi
pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawal); dan
thought broadcasting, yaitu isi pikiranya tersiar keluar sehingga orang lain atau
b

umum mengetahuinya;
delusion of control, adalah waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu
kekuatan tertentu dari luar atau delusion of passivitiy merupaka waham tentang
dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar; (tentang
dirinya diartikan secara jelas merujuk kepergerakan tubuh/anggota gerak atau
ke

pikiran,

tindakan,

atau

penginderaan

khusus),

atau

delusional

perceptionyang merupakan pengalaman indrawi yang tidak wajar, yang


c

bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau mukjizat.
Halusinasi auditorik yang didefinisikan dalam 3 kondisi dibawah ini:
Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku

pasien, atau
Mendiskusikan perihal pasien pasein di antara mereka sendiri (diantara

berbagai suara yang berbicara), atau


Jenis suara halusinasi lain yang berasal dan salah satu bagian tubuh.
Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap
tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan agama atau
politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan di atas manusia biasa (misalnya
8

mampu mengendalikan cuaca, atau berkomunikasi dengan mahluk asing dan


dunia lain).
e Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas :
Halusinasi yang menetap dan panca-indera apa saja, apabila disertai baik
oleh waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa
kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan
(over-valued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama

berminggu minggu atau berbulan-bulan terus menerus;


Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan
(interpolation), yang berkibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak

relevan, atau neologisme;


Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement), posisi
tubuh tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme,

dan stupor;
Gejala-gejala negatif, seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang, dan
respon emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang
mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya
kinerja sosial; tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan

oleh depresi atau medikasi neuroleptika;


Adanya gejala-gejala khas di atas telah berlangsung selama kurun waktu satu

bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik (prodromal)
Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu
keseluruhan (overall quality) dan beberapa aspek perilaku pribadi (personal
behaviour), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak
berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri (self-absorbed attitude), dan
penarikan diri secara sosial.

Adapun kriteria diagnosis skizofrenia menurut DSM IV adalah (Tomb, 2003):

Berlangsung minimal dalam enam bulan

Penurunan

fungsi

yang

cukup

bermakna

di bidang

pekerjaan,

hubungan

interpersonal, dan fungsi dalam mendukung diri sendiri

Pernah mengalami psikotik aktif dalam bentuk yang khas selama berlangsungnya
sebagian dari periode tersebut

Tidak ditemui dengan gejala-gejala yang sesuai dengan skizoafektif, gangguan mood
mayor, autisme, atau gangguan organik.

Skizofrenia paranoid
Skizofrenia paranoid agak berlainan dari jenis-jenis yang lain dalam jalannya penyakit.
Skizofrenia hebefrenik dan katatonik sering lama kelamaan menunjukkan gejala-gejala
skizofrenia simplex, atau gejala-gejala hebefrenik dan katatonik bercampuran. Skizofrenia
paranoid memiliki perkembangan gejala yang konstan. Gejala-gejala yang mencolok adalah
waham primer, disertai dengan waham-waham sekunder dan halusinasi. Pemeriksaan secara
lebih teliti juga didapatkan gangguan proses pikir, gangguan afek, dan emosi.
Jenis skizofrenia ini sering mulai sesudah umur 30 tahun. Permulaannya mungkin
subakut, tetapi mungkin juga akut. Kepribadian penderita sebelum sakit sering dapat
digolongkan skizoid, mudah tersinggung, suka menyendiri dan kurang percaya pada orang
lain.Berdasarkan PPDGJ III, maka skizofrenia paranoid dapat didiganosis apabila terdapat
butir-butir berikut4 :
Memenuhi kriteria diagnostik skizofrenia
Sebagai tambahan :
o Halusinasi dan atau waham harus menonjol :
Suara-suara halusinasi satu atau lebih yang saling berkomentar tentang
diri pasien, yang mengancam pasien atau memberi perintah, atau tanpa

bentuk verbal berupa bunyi pluit, mendengung, atau bunyi tawa.


Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat seksual, atau
lain-lain perasaan tubuh halusinasi visual mungkin ada tetapi jarang

menonjol.
Waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham dikendalikan
(delusion of control), dipengaruhi (delusion of influence), atau
Passivity (delusion of passivity), dan keyakinan dikejar-kejar yang

beraneka ragam, adalah yang paling khas.


o Gangguan afektif, dorongan kehendak dan

pembicaraan,

serta

gejalakatatonik secara relatif tidak nyata / tidak menonjol.


Pasien skizofrenik paranoid memiliki karakteristik berupa preokupasi satu atau lebih
delusi atau sering berhalusinasi. Biasanya gejala pertama kali muncul pada usia lebih tua
daripada pasien skizofrenik hebefrenik atau katatonik. Kekuatan ego pada pasien
skizofrenia paranoid cenderung lebih besar dari pasien katatonik dan hebefrenik. Pasien
skizofrenik paranoid menunjukkan regresi yang lambat dari kemampuan mentalnya, respon
emosional, dan perilakunya dibandingkan tipe skizofrenik lain.2
Pasien skizofrenik paranoid biasanya bersikap tegang, pencuriga, berhati-hati, dan tak
ramah.Mereka juga dapat bersifat bermusuhan atau agresif.Pasien skizofrenik paranoid
kadang-kadang dapat menempatkan diri mereka secara adekuat didalam situasi
10

sosial.Kecerdasan mereka tidak terpengaruhi oleh gangguan psikosis mereka dan cenderung
tetap intak.3
Diagnosis banding4

Epilepsi dan Psikosis yang diinduksi oleh obat-obatan

Keadaan paranoid involusional (F22.8)

Paranoia (F22.0)

FORMULASI DIAGNOSTIK
Susunan formulasi diagnostik ini berdasarkan ikhtisar penemuan bermakna dengan
urutan untuk evaluasi multiaksual, dan berdasarkan ikhtisar penemuan bermakna, kasus
ini dapat dinyatakan mengalami gangguan jiwa karena adanya :
1 Distress/ penderitaan/ keluhan
Sering mengomel, sering bicara sendiri, sering berdiri tengah malam, sulit tidur,
tidak mau mandi sendiri, dan seringkali berganti-ganti pakaian, omongan tidak
dapat dipegang.
2 Gangguan ( hendaya ) Fungsi
Fungsi pekerjaan terganggu
3 Gejala Kejiwaan berupa
a Waham
: Paranoid ( Curiga )
b Halusinasi
: Auditorik
c Perilaku terdisorganisasi
: mengomel, bicara sendiri
Gangguan Jiwa ini bukan merupakan gangguan mental organik, karena tidak adanya:

Penyakit organik spesifik yang diduga berkaitan dengan gangguan jiwa


Penurunan kesadaran patologis
Gangguan sensorium atau gangguan neurologis
Gangguan fungsi kognitif ( memori, intelektual, dan learning )

Gangguan jiwa ini juga bukan merupakan akibat penyalahgunaan NAPZA, karena :
Tidak ada riwayat penggunaan NAPZA
Menurut PPDGJ III, pasien ini memenuhi kriteria diagnostic Skizofrenia , yaitu :
Adanya waham Paranoid ( curiga )
Adanya halusinasi ( Auditorik )
Gejala-gejala tersebut telah lama berlangsung selama kurun waktu 1 bulan atau
lebih
Adanya penarikan diri dan larut dalam diri sendiri
Tidak memenuhi kriteria diagnostic skizoafektif ( tidak ada gangguan mood
afek yang menonjol )
Memenuhi kriteria Skizofrenia Paranoid, karena :
11

Memenuhi kriteria umum Skizofrenia


Halusinasi dan waham paranoid yang menonjol dibandingkan perilaku yang
kacau
AKSIS I

F20.0 Skizofrenia Paranoid

AKSIS II

Ciri kepribadian Paranoid ( dd gangguan kepribadian schizoid /

gangguan kepribadian paranoid ) tidak ada retardasi mental


AKSIS III

Riwayat pengobatan TB paru

AKSIS IV

Terdapat masalah dalam kondisi perekonomian keluarga

AKSIS V

Skala GAF 65 ( saat wawancara ) beberapa gejala ringan dan menetap,

disabilitas ringan dalam fungsi, secara umum masih baik.


Plan
Tatalaksana pada pasien ini:
Trihexiphenidil 2x1
Chlorpromazine 2x1
Haloperidol 2x1
Paracetamol 3x1 jika pusing .
Cobalamin 2x1
Psikoterapi : memotivasi pasien untuk rajin minum obat dan menasehati keluarga
untuk tetap mensuport dan tidak mengisolasi pasien

12