Anda di halaman 1dari 16

Makalah Pemberian obat-obatan melalui berbagai Ruterute

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK

:1

NAMA ANGGOTA

1. Ade Septi Handayani


2. Adela Sari
3. Alqna Miftasyah
4. Alvin Galih Anugra
5. Cantika Putri Utami
KELAS
DOSEN PEMBIMBING

: 1. A
: Luci Fransisca S

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN PALEMBNG
JURUSAN DIV KEPERAWATAN
2015

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah,Alhamdulillahirobbil `Alamin, segala puji kita ucapkan kepada
Sang Maha Pencipta yang telah memberikan rahmat kepada penulis sehingga penulis
dapat menyelesaikan sebuah makalah yang berkaitan dengan pemberian obat pada
klien. Dalam hal ini berkaitan dengan rute dalam pemberian obat dimana terdapat
cara-cara dimana seorang perawat professional mampu memberikan obat pada klien
dengan baik dan benar.
Namun dalam proses pembuatan makalah ini, kami sangat menyadari akan
banyaknya kekurangan dan masih sangat butuh masukan-masukan dari setiap
pembaca .
Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritis dan saran dalam pembuatan
makalah ini agar kedepan nanti jika kami membuat makalah lagi , banyak
kesempurnaan terkait dengan evaluasi dari kritik dan saran dari pembaca.

Palembang, 31 Maret 2015

Penulis

DAFTAR ISI

Kata pengantar

ii

Daftar isi

iii

BAB I Pendahuluan

1.1 Latar belakang

1.2 Rumusan masalah

1.3 Tujuan

BAB II Pembahasan

2.1 Peran Perawat Dalam Memberi Obat

2.2 Rute Pemberian Obat

BAB III PENUTUP


Kesimpulan

11

Daftar Pustaka

12

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Memberikan

obat

adalah

suatu

tindakan

untuk

membantu

proses

penyembuhan dengan cara memberikan obat-obatan yang rutenya dapat melalui


mulut(oral), suppositoria, injeksi, dll.
Perawat bertanggung jawab dalam pemberian obat - obatan yang aman.
Perawat harus mengetahui semua komponen dari perintah pemberian obat dan
mempertanyakan perintah tersebut jika tidak lengkap atau tidak jelas atau dosis yang
diberikan di luar batas yang direkomendasikan. Secara hukum perawat bertanggung
jawab jika mereka memberikan obat yang diresepkan dan dosisnya tidak benar atau
obat tersebut merupakan kontraindikasi bagi status kesehatan klien. Sekali obat telah
diberikan, perawat bertanggung jawab pada efek obat yang diduga bakal terjadi.
Buku-buku referensi obat seperti,
Daftar Obat Indonesia (DOI), Physicians Desk Reference (PDR), dan sumber
daya manusia, seperti ahli farmasi, harus dimanfaatkan perawat jika merasa tidak
jelas mengenai reaksi terapeutik yang diharapkan, kontraindikasi, dosis, efek samping
yang mungkin terjadi, atau reaksi yang merugikan dari pengobatan. Sebelum sesuatu
obat diberikan atau dikonsumsi seseorang, obat telah melalui berbagai proses antara
lain proses penyediaan, pengolahan, pengijinan, perdagangan, pengorderan, pemblian
dan pemakaian. Pada aspek pemberian obat, perawat harus yakin tentang order
pengobatan yang dibuat oleh dokter sehingga tidak terjadi tumpang tindih
kewenangan dan pelaksanannya.

1.2.

Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam pembuatan makalah ini, sebagai berikut:
1. bagaimana peran perawat dalam pemberian obat kepada pasien?
2. Bagaimana rute pemberian obat yang tepat ?

1.3.

Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini sebagai berikut:
1. Mengetahui peran perawat dalam pemberian obat.
2. Pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimana rute dalam
pemberian obat yang benar.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Peran Perawat Dalam Pemberian Obat
Perawat harus terampil dan tepat saat memberikan obat, tidak sekedar
memberikan pil untuk diminum (oral) atau injeksi obat melalui pembuluh darah
(parenteral), namun juga mengobservasi respon klien terhadap pemberian obat
tersebut. Pengetahuan tentang manfaat dan efek samping obat sangat penting dimiliki
oleh perawat. Perawat memiliki peran yang utama dalam meningkatkan dan
mempertahankan kesehatan klien dengan mendorong klien untuk lebih proaktif jika
membutuhkan pengobatan.
Perawat berusaha membantu klien dalam membangun pengertian yang benar
dan jelas tentang pengobatan, mengkonsultasikan setiap obat yang dipesankan dan
turut serta bertanggungjawab dalam pengambilan keputusa tentang pengobatan
bersama dengan tenaga kesehatan lain. Perawat dalam memberikan obat juga harus
memperhatikan resep obat yang diberikan harus tepat.

2.2. Rute Pemberian Obat


Pada pemilihan rute pemberian obat, bergantung pada kandungan obat dan efek
yang diinginkan serta kondisi fisik dan mental pasien.
Ada beberapa rute pemberian obat yang dikenal:
1. Rute Enteral

Pemberian obat melalui rute enteral ini dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu:
Rute per oral adalah rute yang paling mudah dan paling umum digunakan.
Obat diberikan melalui mulut dan ditelan. Obat oral ini lebih murah daripada
pemberian obat yang lain. Kerja obat oral lebih lambat dan efeknya lebih
lama. Namun kebanyakan dari klien lebih menggunakan rute oral.
Obat oral ini diabsorpsi terlebih dahulu di lambung, dan duodenum
merupakan jalan masuk utama sirkulasi sistemik karena permukaan absorpsinya lebih
besar. Metabolisme langkah pertama oleh usus atau hati membatasi efikasi banyak
obat ketika diminum per oral.Makanan dalam lambung memperlambat waktu
pengosongan lambung sehingga obat dihancurkan oleh asam.Pada usus luas
permukaan penyerapan memungkinkan penyerapan (absorpsi) dapat lebih cepat dan
sempurna, karena dicapai melalui lipatan mukosa, jonjot mukosa, dan kripta mukosa
serta mikrovili.
Kelebihan dari obat oral adalah relatif aman, praktis serta ekonomis
sedangkan kelemahan dari pemberian obat per oral adalah pada aksinya yang lambat
sehingga cara ini tidak dapat di pakai pada keadaan gawat. Obat yang di berikan per
oral biasanya membutuhkan waktu 30 sampai dengan 45 menit sebelum di absorbsi
dan efek puncaknya di capai setelah 1 sampai dengan 1 jam. Rasa dan bau obat
yang tida enak sering mengganggu pasien. Cara per oral tidak dapat di pakai pada
pasien yang mengalami mual-mual, muntah, semi koma, pasien yang akan menjalani
pangisapan cairan lambung serta pada pasien yang mempunyai gangguan menelan.
Beberapa jenis obat dapat mengakibatkan iritasi lambung dan menyebabkan
muntah (mislanya garam besi dan Salisilat). Untuk mencegah hal ini, obat di
persiapkan dalam bentuk kapsul yang diharapkan tetap utuh dalam suasana asam di
lambung, tetapi menjadi hancur pada suasana netral atau basa di usus. Dalam
memberikan obat jenis ini, bungkus kapsul tidak boleh di buka, obat tidak boleh

dikunyah dan pasien di beritahu untuk tidak minum antasaid atau susu sekurangkurangnya satu jam setelah minum obat.
Apabila obat dikemas dalam bentuk sirup, maka pemberian harus di lakukan
dengan cara yang paling nyaman khususnya untuk obat yang pahit atau rasanya tidak
enak. Pasien dapat di beri minuman dingin (es) sebelum minum sirup tersebut.
Sesudah minum sirup pasien dapat di beri minum, pencuci mulut atau kembang gula.
Pemberian obat secara sublingual merupakan pemberian obat yang cara
pemberiannya ditaruh di bawah lidah. Tujuannya adalah agar efek yang ditimbulkan
bisa lebih cepat karena pembuluh darah di bawah lidah merupakan pusat dari sakit.
Kelebihan dari cara pemberian obat dengan sublingual adalah efek obat akan terasa
lebih cepat, tidak diperlukan kemampuan menelan, kerusakan obat pada saluran cerna
dan metabolisme di dinding usus dan hati dapat dihindari. Sedangkan kelemahan dari
cara ini adalah absorbsi tidak adekuat, kepatuhan pasien kurang, membutuhkan
kontrol untuk mencegah pasien menelan obat.
Metode pemberian obat sublingual adalah sebagai berikut :

Mempersiapkan obat yg akan digunakan beserta tongspatel (bila perlu) beserta


kasa untuk membungkus tongspatel tersebut

Mencuci tangan

Memasang tongspatel (jika pasien tidak sadar) jika sadar anjurkan pasien
untuk mengangkat lidahnya

Meletakkan obat dibawah lidah

Memberitahu pasien supaya tidak menelan obat

Perhatikan dan catat reaksi pasien setelah pemberian obat

Perhatikan respon pasien dan hasil tindakan

Mencatat tindakan yang telah dilakukan (waktu pelaksanaan, respon, hasil


tindakan,nama obat dan dosis ) pada catatan

2. Rute parenteral
Rute parenteral Adalah cara pemberiaan obattanpa melalui mulut (tanpa
melalui saluran pencernaan) tetapi langsung ke pembuluh darah.
Keuntungan :
efek timbul lebih cepat dan teratur
dapat diberikan pada penderita yang tidak kooperatif, tidak sadar, atau
muntah-muntah
sangat berguna dalam keadaan darurat.
Kerugian : dibutuhkan kondisi asepsis, menimbulkan rasa nyeri, tidak ekonomis,
membutuhkan tenaga medis.
Beberapa rute pemberian obat secara parenteal meliputi: Intracutan, intravena (iv),
subcutan (sc), danintramuscular (im),
Subkutan (SC)
Pemberian obat yang dilakukan dengan suntikan dibawah kulit dapat
dilakukan pada daerah lengan atas sebelah luar atau 1/3 bagian dari bahu, paha
sebelah luar, daerah dada dan daerah sekitar umbilikus (abdomen).Pemberian obat
subkutan adalah pemberian obat melalui suntikan ke area bawah kulit yaitu pada
jaringan konektif atau lemak di bawah dermis. Injeksi subkutan dilakukan dengan
menyuntikan jarum menyudut 45 derajat dari permukaan kulit. Kulit sebaiknya
sedikit dicubit untuk menjauhkan jaringan subkutisdari jaringan otot.

Asosiasi Diabetes America menganjurkan insulin dapat diinjeksikan pada satu


daerah yang sama selama satu minggu dengan jarak setiap injeksi 1 inci [satu ruas
jari tangan] dengan penyuntikan insulin secara sub cutan atau tepat di bawah lapisan
kulit.
Pada pemakaian injeksi subkutan untuk jangka waktu yang lama, maka injeksi
perlu direncanakan untuk diberikan secara rotasi pada area yang berbeda.Injeksi
subkutan hanya boleh dilakukan untuk obat yang tidak iritatif terhadap
jaringan.Absorpsinya biasanya berjalan lambat dan konstan, sehingga efeknya
bertahan lebih lama. Absorpsinya juga menjadi lebih lambat jika diberikan dalam
bentuk padat yang ditanamkan dibawah kulit atau dalam bentuk suspensi.Pemberian
obat bersama dengan vasokonstriktor juga dapat memperlambat absorpsinya.
Kerugian yang dapat ditimbulkan oleh subkutan antara lain :
1. Harus benar-benar menggunakan tehnik steril karena barier kulit terganggu
2. Meningkatkan resiko infeksi
3. Lebih mahah daripada oral
4. Dapat siberikan hanya dalam jumlah sedikit
5. Dapat menimbulkan kecemasan dan rasa nyeri
Intrakutan
Injeksi ke dalam dermis tepat di bawah epidermis. Rute intrakutan ini
biasanya dilakukan untuk menguji reaksi alergi terhadap jenis obat yang akan
digunakan. Secara umum, dilakukan pada daerah lengan, tangan bagian ventral.Pada
intrakutan reaksi absorsinya lambat.

Intrakutan biasa digunakan untuk mengetahui sensitivitas tubuh terhadap obat


yang disuntikan agar menghindarkan pasien dari efek alergi obat (dengan skin test),
menentukan diagnosa terhadap penyakit tertentu (misalnya tuberculin tes).
Kerugian dari injeksi intrakutan antara lain :
1. Jumlah obat yang diberikan hanya sedikit
2. Merusak barier kulit
3. Menimbulkan kecemasan
4. Intramuskular
Intramuskular
Intramuskular yaitu Injeksi ke dalam otot tubuh.Injeksi ini diabsorbsi lebih
cepat daripada injeksi subkutaneus karena suplai darah yang lebih besar ke otot
tubuh.Otot juga dapat menerima volume obat yang lebih besar tanpa menimbulakan
ketidaknyamanan dibandingkan jaringan subkutaneus, walaupun bergantung pada
ukuran otot dan kondisi serta lokasi yang digunakan.
Lokasi penyuntikan dapat pada daerah paha (vastus lateralis), ventrogluteal
(dengan posisi berbaring), dorsogluteal (posisi tengkurap), atau lengan atas (deltoid),
daerah ini digunakan dalam penyuntikan dikarenakan massa otot yang besar,
vaskularisasi yang baik dan jauh dari syaraf. Pemberian obat secara Intramusculer
sangat dipengaruhi oleh kelarutan obat dalam air yang menentukan kecepatan dan
kelengkapan absorpsi obat .

Intervena

Suntikan memasuki aliran darah secara langsung memalui vena.Cara ini


sesuai bila memerlukan efek yang cepat. Rute ini juga tepat untuk obat yang terlalu
mengiritasi jaringan yang diberikan di rute lain. Jika jalur intervena sudah terpasang,
jalur ini dipilih untuk menghindari ketidaknyamanan oleh penggunaan jalur parental
lainnya. Obat diberikan secara intervena dengan menggunakan metode berikut:

Infuse cairan IV bervolume besar

Infuse intervena intermiten

Infuse volume terkontrol

Dorongan intervena

Saluran injeksi intermiten

Lokasi yang digunkan untuk penyuntikan :


1. Pada lengan (vena mediana cubiti / vena cephalica )
2. Pada tungkai (vena saphenosus)
3. Pada leher (vena jugularis) khusus pada anak
4. Pada kepala (vena frontalis, atau vena temporalis) khusus pada anak
3. Rute Rektal
Pemberian Obat via Anus / Rektum / Rectal, Merupakan cara memberikan
obat dengan memasukkan obat melalui anus atau rektum, dengan tujuan memberikan
efek lokal dan sistemik. Tindakan pengobatan ini disebut pemberian obat suppositoria
yang bertujuan untuk mendapatkan efek terapi obat, menjadikan lunak pada daerah
feses dan merangsang buang air besar. Contoh pemberian obat yang memiliki efek
lokal seperti obat dulcolac supositoria yang berfungsi secara lokal untuk
meningkatkan defekasi dan contoh efek sistemik pada obat aminofilin suppositoria
dengan berfungsi mendilatasi bronkus. Pemberian obat supositoria ini diberikan tepat

pada dnding rektal yang melewati sfingter ani interna. Kontra indikasi pada pasien
yang mengalami pembedahan rektal.
4. Intra Vaginal
Pemberian Obat per Vagina, Merupakan cara memberikan obat dengan
memasukkan obat melalui vagina, yang bertujuan untuk mendapatkan efek terapi obat
dan mengobati saluran vagina atau serviks. Obat ini tersedia dalam bentuk krim dan
suppositoria yang digunakan untuk mengobati infeksi lokal.
5. Rute Topikal
Adalah obat yang cara pemberiannya bersifat lokal, misalnya tetes mata,
salep, tetes telinga dan lain-lain.

Pemberian Obat pada Kulit

Merupakan cara memberikan obat pada kulit dengan mengoleskan bertujuan


mempertahankan hidrasi, melindungi permukaan kulit, mengurangi iritasi kulit, atau
mengatasi infeksi. Pemberian obat kulit dapat bermacam-macam seperti krim, losion,
aerosol, dan sprei.

Pemberian Obat pada Telinga

Cara memberikan obat pada telinga dengan tetes telinga atau salep. Obat tetes telinga
ini pada umumnya diberikan pada gangguan infeksi telinga khususnya pada telinga
tengah (otitis media), dapat berupa obat antibiotik.

Pemberian Obat pada Hidung

Cara memberikan obat pada hidung dengan tetes hidung yang dapat dilakukan ada
seseorang dengan keradangan hidung (rhinitis) atau nasofaring.

Pemberian Obat pada Mata

Cara memberikan obat pada mata dengan tetes mata atau salep mata obat tetes mata
digunakan untuk persiapan pemeriksaan struktur internal mata dengan cara
mendilatasi pupil, untuk pengukuran refraksi lensa dengan cara melemahkan otot
lensa, kemudian juga dapat digunakan untuk menghilangkan iritasi mata.
6. Inhalasi
Adalah cara pemberian obat dengan cara disemprotkan ke dalam mulut.
Kelebihan dari pemberian obat dengan cara inhalasi adalah absorpsi terjadi cepat dan
homogen, kadar obat dapat terkontrol, terhindar dari efek lintas pertama dan dapat
diberikan langsung kepada bronkus. Untuk obat yang diberikan dengan cara inhalasi
ini obat yang dalam keadaan gas atau uap yang akan diabsorpsi akan sangat cepat
bergerak melalui alveoli paru-paru serta membran mukosa pada saluran pernapasan.

BAB III
KESIMPULAN
Obat merupakan sebuah substansi yang diberikan kepada manusia atau
binatang sebagai perawatan atau pengobatan atau bisa disebut juga pencegahan
adanya penyakit yang ada didalam tubuh manusia. Obat ini sendiri mempunyai
pelaksanaan atau tanggung jawab keamanan obat dan pemberian langsung kepada
pasien dengan cara 6B :
Benar obat
Benar pasien

Benar dosis pemberian


Benar cara pemberian
Benar waktu pemberian
Benar pendokumentasian

DAFTAR PUSTAKA

Dwi Santoso, Hartono. PEMBERIAN OBAT ORAL(MELALUI MULUT).


http://hartsant.blogspot.com/2013/02/pemberian-obat-oral-melalui-mulut_9454.html
Laelani, Nur. Metode Pemberian Obat Melalui Oral.
http://nurlaelani.blogspot.com/2013/07/metode-pemberian-obat-melalui-oral.html
Jatiarso, Eko. Pemberian Obat Sublingual.
http://jatiarsoeko.blogspot.com/2012/01/pemberian-obat-sublingual.html
Gresela, Yosephina. Etiket Pemberian Obat.
http://www.academia.edu/5540284/Etiket_pemberian_obat

https://www.academia.edu/7375856/makalah

Anda mungkin juga menyukai