Anda di halaman 1dari 12

EEAJ 2 (3) (2014)

Economic Education Analysis Journal


http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/eeaj

MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATERI KURVA


PERMINTAAN DAN KURVA PENAWARAN DENGAN PEMBELAJARAN
SCAFFOLDING PADA KELAS VIII MTS MUHAMMADIYAH KAJEN
M Yusuf Supriyadi
Jurusan Pendidikan Ekonomi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Info Artikel

Abstrak

________________

___________________________________________________________________

SejarahArtikel:
Diterima Februari 2014
Disetujui Februari 2014
Dipublikasikan Maret
2014

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan tujuan untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan
aktivitas dan hasil belajar siswa setelah metode pembelajaran Scaffolding diterapkan pada materi kurva
permintaan dan kurva penawaran kelas VIII A MTs. Muhammadiyah Kajen. Penelitian dilaksanakan dalam 2
siklus. Setiap siklus meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah
siswa kelas VIII E MTs. Muhammadiyah Kajen Tahun Ajaran 2013/2014. Sementara faktor yang diteliti di
antaranya adalah aktivitas siswa, aktivitas guru, dan hasil belajar siswa. Tujuan penelitian ini adalah. Hasil
penelitian siklus I dan siklus II menunjukkan peningkatan aktivitas siswa dan aktivitas guru. Rata-rata hasil
belajar dan ketuntasan klasikal juga mengalami peningkatan. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran Scaffolding dapat meningkatan aktivitas dan hasil belajar. Saran dari hasil penelitian ini adalah:
Guru dapat menerapkan pembelajaran Scaffolding pada materi kurva permintaan dan kurva penawaran. Guru
harus mempersiapkan pembelajaran dengan baik agar proses pembelajaran berlangsung dengan sesuai rencana.

________________
Keywords:
Learning Activity; Learning
Outcomes; Scaffolding
Learning.
____________________

Abstract
___________________________________________________________________
This research is a classroom action research which aims to determine whether there is an increase in activity
and student achievement after Scaffolding learning applied to the lesson ofdemand and supply curve in class
VIII A MTs. Muhammadiyah Kajen.. This research conducted in two cycles. Each cycle includes planning,
implementation, observation, and reflection. The subjects of this Research were students of class VIII E MTs.
Muhammadiyah Kajen Academic Year 2013/2014. The factors studied include student activities, teacher
activities, and student learning outcomes. The results in the first and second cycle showed increased student and
teacher activity. Average classical completeness of learning outcome is also increased. The research can be
concluded that Scaffolding Learning can be increase learning Activities and learning outcomes. Suggestions
from results of this research are: Teachers can apply Scaffolding learning on the lesson ofdemand and supply
curve. Teachers must prepare lessons well so that the learning process takes place in accordance with the
planned.

2014UniversitasNegeri Semarang

Alamatkorespondensi:
GedungC6Lantai1 FEUnnes
KampusSekaran, Gunungpati, Semarang, 50229
E-mail:

ISSN 2252-6544

152

M Yusuf Supriyadi /Economic Education Analysis Journal 2 (3) (2014)

PENDAHULUAN

Pembelajaran

proses

menentukan desain, metode, atau

belajar mengajar yang dilakukan

pendekatan pembelajaran yang dapat

antara

mengarahkan

guru

Pembelajaran

adalah

dengan
harus

siswa.

berlangsung

siswa

untuk

lebih

banyak melakukan aktivitas belajar.

secara efektif. Keberhasilan belajar

Penentuan

mengajar pada pembelajaran dapat

pendekatan ini tentunya dengan tetap

dilihat dari keberhasilan siswa yang

memperhatikan

kesesuaian

mengikuti

tersebut.

karakteristik

materi

Keberhasilan tersebut terlihat dari

karakteristik

pemahaman

Kesesuaian

kegiatan

siswa,

penguasaan

materi, dan prestasi siswa.


Keberhasilan

aktivitas

siswa

Sardiman

belajar

(2007:95)

metode,

atau

antara
dengan

pembelajaran.
karakteristik

ini

sangatlah penting dalam penentuan


dalam

jenis pembelajaran.

kegiatan belajar sangat dipengaruhi


oleh

desain,

di

Mata Pelajaran IPS terpadu

kelas.

mencangkup

menyatakan

mata

pelajaran

sejarah,geografi,ekonomi,

Aktivitas merupakan prinsip atau

dan

sosiologi.

Cakupan

asas yang sangat penting dalam

beragam

ini

interaksi

Tanpa

perbedaan karakteristik antara satu

aktivitas, proses belajar mengajar

materi dengan materi lainnya. Oleh

tidak mungkin berlangsung dengan

karena itu, dalam menentukan jenis

belajar-mengajar.

baik.
Kegiatan

materi

tentu

yang

memiliki

pembelajaran tidak mungkin hanya


belajar

mengajar

digunakan satu jenis pembelajaran

mengharapkan terciptanya kondisi

untuk

diterapkan

belajar yang mengarahkan siswa

materi.

dalam

semua

untuk melakukan aktivitas belajar

Berdasarkan hasil wawancara

secara efektif dan efisien. Peran guru

dengan guru IPS pada tanggal 9

sangatlah

Oktober 2012 proses pembelajaran

menumbuhkan

penting
dan

dalam
memberikan

IPS

dorongan agar tercipta proses belajar

di

kelas

Muhammadiyah

mengajar yang aktif. Guru dapat


153

VIII
Kajen

MTs.
masih

M Yusuf Supriyadi /Economic Education Analysis Journal 2 (3) (2014)

menggunakan metode konvensional

sekolah yaitu 70. Ketuntasan belajar

hampir pada setiap materi IPS.

terendah terjadi di kelas VIII E pada

Kenyataan ini jelas belum sesuai

kompetensi dasar mendeskripsikan

dengan

permintaan dan penawaran serta

kurikulum

diberlakukan,

yang

dimana

KTSP

terbentuknya harga pasar.

mengharapkan siswa terlibat aktif

Setelah

dalam proses belajar mengajar.


Menurut
metode

Hamalik

konvensional

lebih

dilakukan

lanjut,

observasi

ketuntasan

belajar

(2011:4)

terendah pada kelas VIII E terdapat

memang

pada

materi

terbentuknya

harga

mudah diterapkan tetapi aktivitas

keseimbangan yaitu hanya sebesar

belajar menjadi kurang maksimal.

53%.

Hal ini terlihat dari hasil observasi

memahami materi hubungan antara

awal

bahwa

permintaan dengan penawaran dalam

aktivitas siswa hanya sebesar 43%.

bentuk kurva harga keseimbangan.

Pembelajaran

berhasil

Hal ini berarti pemahaman siswa

dan bermutu apabila seluruhnya atau

tentang kurva permintaan dan kurva

setidak-tidaknya

penawaran juga masih rendah.

yang

menunjukkan
dikatakan

sebagian

besar

Siswa

kesulitan

dalam

(70%) peserta didik terlihat secara

Materi kurva permintaan dan

aktif, baik fisik, mental maupun

kurva penawaran secara fisik bersifat

sosial dalam proses pembelajaran, di

grafis dan secara kognitif didominasi

samping menunjukkan kegairahan

konsep

belajar yang tinggi, semangat belajar

pemahaman.

yang besar, dan rasa percaya pada

karakteristik

diri sendiri (Mulyasa, 2009:101).

pengetahuan
Materi
sepesti

dan
dengan
ini

membutuhkan latihan yang rutin

Selain aktivitas, hasil belajar

dilakukan

siswa

agar

siswa

siswa juga masih rendah. Hal ini

menguasai

materi,

yaitu

materi

dapat dilihat dari nilai ulangan harian

membuat kurva permintaan, kurva

kelas VIII pada setiap Kompetensi

penawaran, sehingga terbentuk suatu

Dasar

kurva harga keseimbangan. Untuk itu

masih kurang dari Kriteria

Ketuntasan Minimal yang ditentukan

diperlukan
154

metode

pembelajaran

M Yusuf Supriyadi /Economic Education Analysis Journal 2 (3) (2014)

yang dapat memberikan kesempatan

Vygotsky dalam Cahyono (2012)

kepada siswa untuk lebih banyak

mengatakan bahwa fungsi mental

berlatih

yang lebih tinggi pada umumnya

dan

mengembangkan

pemahaman siswa.

muncul dalam percakapan atau kerja


yang

sama antar individu, sebelum fungsi

cocok dengan materi menggambar

mental yang lebih tinggi itu terserap

kurva adalah metode pembelajaran

ke

Scaffolding. Metode ini didasarkan

Scaffolding

pada teori Vygotsky.

dukungan kepada siswa dari orang

Metode

pembelajaran

yang
Vygotsky dalam Trianto (2010: 76)

dalam

tersebut.

merupakan

bantuan,

lebih

kompeten

mengatakan bahwa:

individu

dewasa

atau

lebih

khususnya

guru

yang

memungkinkan penggunaan fungsi

pembelajaran terjadi apabila

kognitif

anak

memungkinkan

bekerja

atau

belajar

yang

lebih

tinggi

dan

berkembangnya

menangani tugas-tugas yang

kemampuan

belum dipelajari namun tugas-

terdapat tingkat penguasaan materi

tugas itu masih berada dalam

yang lebih tinggi yang ditunjukkan

jangkauan kemampuannya atau

dengan adanya penyelesaian soal-

tugas-tugas

soal yang lebih rumit.

dalam

Zone

Development

tersebut
of

berada
Proximal

(ZPD)

Adapun

yaitu

pembelajaran

perkembangan sedikit di atas

belajar

tahapan

dalam

Scaffolding

dapat

dilihat pada tabel berikut:

perkembangan seseorang saat


ini.

155

sehingga

M Yusuf Supriyadi /Economic Education Analysis Journal 2 (3) (2014)

Tabel 1. Tahapan Pembelajaran Scaffolding


Fase
Menumbuhkan
Pengetahuan siswa

Aktivitas
Guru menjelaskan materi sesuai indikator pembelajaran
Siswa memperhatikan penjelasan guru

Membangun
pemahaman
siswa

Guru memberikan soal latihan jenjang pertama pada siswa


Siswa mengerjakan soal latihan secara individu

awal

Pemberian Bantuan

Guru memberikan bantuan berupa contoh atau pertanyaan yang


menuntun siswa untuk menyelesaikan tugasnya
Siswa aktif dalam menerima bantuan dan menjawab pertanyaanpertanyaan dari guru

Meningkatkan level
pemahaman siswa

Guru meminta siswa untuk mengerjakan soal latihan jenjang


berikutnya
Siswa mengerjakan soal latihan secara individu berbekal
pengalaman mengerjakan soal latihan jenjang sebelumnya

Pemberian bantuan

Guru mengurangi bantuan pada siswa


Guru meminta siswa untuk saling membantu mengerjakan soal
latihan
Siswa saling membantu dalam menyelesaikan soal latihan

Membuat Kesimpulan

Guru membimbing siswa dalam membuat kesimpulan


Siswa menyimak dan memahami kesimpulan yang dijelaskan oleh
guru
Sumber: Permatasari, 2011

Melalui cara ini diharapkan

Selain

itu,

pemahaman

siswa

siswa dapat saling membantu dan

terhadap materi juga akan meningkat

tercipta kerjasama yang baik antar

karena

sesama anggota kelompok. Siswa

dengan tingkat kesulitan yang lebih

juga akan fokus pada tugas yang

tinggi

diberikan padanya, karena meskipun

menyelesaikan sendiri tahap-tahap

setiap anggota kelompok mendapat

dalam mengerjakan tugasnya. Siswa

tugas yang sama, tetapi setiap siswa

hanya diberi bantuan berupa contoh,

diharuskan untuk mengerjakan soal-

ilustrasi, maupun kata kunci.

soal yang diberikan secara individu.


156

siswa

dan

mengerjakan

didorong

soal

untuk

M Yusuf Supriyadi /Economic Education Analysis Journal 2 (3) (2014)

Siswa berpikir secara mandiri

Berdasarkan
telah

latar

belakang

dengan mengaitkan bantuan yang

yang

dipaparkan,

diterimanya dengan permasalahan

rumusan masalah yang akan diteliti

yang sedang dihadapi. Selain itu,

dalam penelitian ini adalah sebagai

siswa akan memiliki kemampuan

berikut:

memahami dan menjelaskan dengan

1. Apakah

terjadi

maka

peningkatan

bahasanya sendiri tentang informasi

aktivitas siswa setelah metode

yang tersirat dalam kurva yang

pembelajaran

digambarnya. Siswa akan dengan

diterapkan pada materi kurva

mudah menjelaskan materi karena

permintaan

selama proses menggambar kurva

penawaran kelas VIII A MTs.

siswa terbiasa diberi contoh dan

Muhammadiyah Kajen?

ilustrasi

yang

berkaitan

Scaffolding

dan

kurva

dengan

2. Apakah terjadi peningkatan hasil

materi. Siswa kemudian berusaha

belajar siswa setelah metode

berpikir sendiri dengan menerapkan

pembelajaran

contoh dan ilustrasi yang diterimanya

diterapkan pada materi kurva

sebagai acuan dalam menggambar

permintaan

kurva. Jadi, kurva yang baru saja

penawaran kelas VIII A MTs.

digambar

Muhammadiyah Kajen?

merupakan

hasil

dari

kemampuan berpikir siswa, sehingga


tidak

sulit

bagi

siswa

Scaffolding

dan

kurva

Sesuai dengan permasalahan

untuk

yang

telah

dikemukakan,

maka

menjelaskan hasil dari kemampuan

tujuan dari penelitian ini adalah

berpikirnya sendiri.

sebagai berikut:

Melalui

1.

pembelajaran

Untuk mengetahui ada tidaknya

Scaffolding, diharapkan materi kurva

peningkatan

aktivitas

permintaan dan kurva penawaran

setelah

akan lebih mudah dipahami siswa.

Scaffolding

Selain itu, aktivitas siswa juga akan

materi kurva permintaan dan

meningkat.

kurva penawaran kelas VIII A

metode

siswa

pembelajaran

diterapkan

pada

MTs. Muhammadiyah Kajen.


157

M Yusuf Supriyadi /Economic Education Analysis Journal 2 (3) (2014)

2.

Untuk mengetahui ada tidaknya

Subjek dalam penelitian ini

peningkatan hasil belajar siswa

adalah siswa kelas VIII E MTs.

setelah

Muhammadiyah Kajen Tahun Ajaran

metode

Scaffolding

pembelajaran

diterapkan

pada

2013/2014. Sementara faktor yang

materi kurva permintaan dan

diteliti diantaranya adalah aktivitas

kurva penawaran kelas VIII A

belajar siswa, aktivitas guru, dan

MTs. Muhammadiyah Kajen.

hasil belajar siswa.


Metode

pengumpulan

yang digunakan dalam penelitian ini

METODE PENELITIAN

diantaranya
Penelitian
penelitian

data

ini

merupakan

tindakan

kelas

adalah:

dokumentasi

yang

untuk

Metode
memperoleh

data-data tentang nilai mata pelajaran

dilaksanakan dalam 2 siklus. Setiap

IPS

siklus

perencanaan,

permintaan dan kurva penawaran

tindakan, observasi, dan refleksi.

kelas VIII MTs. Muhammadiyah

Siklus

dengan

Kajen; Metode tes untuk mengukur

tujuan untuk melakukan perbaikan

kemampuan kognitif siswa dalam

pada siklus pertama.

menguasai materi kurva permintaan

terdiri

kedua

Penelitian
MTs.

dari

dilakukan

dilaksanakan

Muhammadiyah

khususnya

materi

kurva

dan kurva penawaran. Adapun jenis

di

tes

Kajen,

yang

digunakan

adalah

tes

yang

objektif atau pilihan ganda. Agar

beralamat di jalan Diponegoro no.

dapat mengukur kemampuan kognitif

754 Kecamatan Kajen Kabupaten

siswa secara akurat, soal tes yang

Pekalongan. Dalam penelitian ini

digunakan

peneliti bertindak sebagai pengamat

terlebih dahulu diuji coba untuk

jalanya proses pembelajaran di kelas

mengetahui

dan guru bertindak sebagai pengajar

taraf kesukaran, dan daya pembeda

yang

soal;

Kabupaten

Pekalongan

menggunakan

metode

sebagai

alat

validitas,

metode

evaluasi

reliabilitas,

observasi

untuk

mengetahui tingkat aktivitas guru

pembelajaran Scaffolding

dan aktivitas siswa.


158

M Yusuf Supriyadi /Economic Education Analysis Journal 2 (3) (2014)

Metode analisis data yang

tahap 2 merupakan pengembangan

digunakan yaitu metode deskriptif

materi dari latihan tahap 1.

dengan membandingkan hasil belajar


Pembelajaran

siswa sebelum tindakan dengan hasil


belajar

siswa

setelah

diawali

tindakan.

hasil belajar materi sebelumnya.

adalah nilai rata-rata hasil belajar

Kemudian siswa diberi soal latihan

siswa, persentase ketuntasan klasikal,


aktivitas

siswa,

mengelompokkan

siswa secara homogen berdasarkan

Adapun data yang dibandingkan

persentase

dengan

Scaffolding

dan diminta untuk berpikir mandiri

dan

(individu) tentang jawaban atas soal

persentase aktivitas guru.

latihan yang diberikan oleh guru.


Selama

HASIL DAN PEMBAHASAN

kesulitan. Adapun bimbingan yang

dilakukan oleh Pramudyo dan Prih

diberikan adalah berupa langkah-

Hardinto (2009) yaitu Efektivitas

langkah pengerjaan soal, pemberian

Penerapan Pendekatan Pembelajaran

Belajar

penelitiannya

yaitu

contoh,

Ketuntasan

Ekonomi.

aktivitas

berpikir

meningkatkan

guru)

materi

sehingga

mandiri.

dapat

untuk

tetap

Setelah

proses

lalu

dilanjutkan

dengan

jenjang yang lebih tinggi. Siswa


kembali diminta mengerjakan secara

dalam hal tujuan penelitian terdapat

individu

perbedaan dalam hal pelaksanaan.


yang

siswa

yang

memberikan soal latihan dengan

belajar. Selain memiliki kesamaan

penelitian

kunci

latihan selesai, guru menyimpulkan

berdampak pada peningkatan hasil

Pada

kata

mendorong

Tujuan

proses pembelajaran (aktivitas siswa


dan

soal

membimbing siswa yang mengalami

yang sama dengan penelitian yang

dalam

pengerjaan

latihan ini guru mengawasi dan

Penelitian ini memiliki tujuan

Scaffolding

proses

dalam

kelompok.

Pada

tahap ini bimbingan dari guru lebih

dilakukan

dikurangi, dan membiarkan siswa

Pramudyo dan Prih Hardinto (2009)

berpikir

proses latihan hanya dilakukan dalam

lebih

mandiri

berbekal

pengetahuan yang didapatkan siswa

1 tahap, sementara dalam penelitian

pada latihan sebelumnya. Pada tahap

ini proses latihan terdiri dari 2 tahap,


159

M Yusuf Supriyadi /Economic Education Analysis Journal 2 (3) (2014)

akhir guru menyimpulkan materi

Peneliti

dengan melibatkan siswa.

bertindak

sebagai

pengamat, sedangkan yang bertindak


sebagai pengajar adalah guru mata

Penelitian

ini

dilaksanakan

pelajaran IPS MTs Muhammadiyah

dalam 2 siklus. Siklus I dilaksanakan

Kajen yaitu Bapak Maful, S.Pd.

dalam satu kali pertemuan selama 2

Jenis pembelajaran yang diterapkan

jam pelajaran (2x40 menit) pada

dalam kegiatan belajar mengajar

tanggal 25 Juli 2013 pukul 09.55-

adalah

11.15 WIB, diikuti oleh 44 siswa


kelas

VIII

dilaksanakan

dan

pada

siklus
hari

pembelajaran

Scaffolding.

Berikut ini adalah hasil pengamatan

II

aktivitas belajar siswa pada siklus I

Kamis

dan Siklus II:

tanggal 29 Agustus 2013 pukul


09.55-11.15 WIB, diikuti oleh 44
siswa kelas VIII E.
Tabel 2. Aktivitas Belajar Siswa pada Siklus I dan Siklus II
No

Aspek yang dinilai

Siswa memperhatikan penjelasan guru

Siswa mengerjakan soal latihan secara mandiri

Siswa aktif menerima bantuan dan menjawab pertanyaan


guru

Siswa mengerjakan soal latihan jenjang lebih tinggi

Siswa saling membantu dalam kelompok

Siswa berani mengajukan pertanyaan

Siswa mampu menyimpulkan materi

Jumlah Skor

Berdasarkan Tabel 2 terlihat


bahwa

aktivitas

belajar

Siklus I

Siklus II

19

25

II. Aktivitas mengajar guru juga

siswa

mengalami peningkatan pada siklus

mengalami peningkatan pada siklus

II. Hal ini dapat dilihat pada tabel 3.


160

M Yusuf Supriyadi /Economic Education Analysis Journal 2 (3) (2014)

Tabel 3. Aktivitas Mengajar Guru pada Siklus I dan Siklus II


No

Aspek yang dinilai

1
Penjelasan materi
2
Pemberian soal latihan pada siswa
3
Pemberian bimbingan pada siswa
4
Pemberian soal latihan jenjang lebih tinggi
5
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok
6
Meminta siswa saling membimbing dalam kelompok
7
Pemberian kesempatan bertanya
8
Penyimpulan materi
Jumlah Skor

Berdasarkan tabel 2 dan tabel 3

Siklus I

Siklus II

4
3
2
2
4
3
2
4
24

4
4
3
4
4
3
4
4
30

sehingga tidak banyak siswa yang

terlihat bahwa baik aktivitas belajar

berani

siswa maupun aktivitas mengajar

bimbingan guru; Pada saat proses

guru mengalami peningkatan dan

latihan terbimbing ada beberapa

telah

kelompok

mencapai

kriteria

setelah

bertanya

yang

atau

meminta

tidak

dapat

dilaksanakan siklus II. Peningkatan

bekerjasama dengan baik, karena

ini terjadi karena adanya perbaikan

keegoisan siswa yang pandai masih

yang

belum dapat memberikan bimbingan

dilakukan

berdasarkan

kekurangan dari siklus I.

kepada siswa yang kesulitan dalam


mengerjakan soal latihan; Guru tidak

Ada

beberapa

hal

yang

terlalu banyak melibatkan siswa

diperbaiki baik dari aktivitas siswa

dalam menyimpulkan materi karena

maupun aktivitas guru pada siklus I,


diantaranya

adalah

saat

waktu terbatas.

proses

latihan terbimbing, ada beberapa

Pelaksanaan

siklus

II

kelompok yang diskusi di luar

mengalami peningkatan yang sangat

materi. Hal ini dikarenakan guru

baik. Aktivitas belajar siswa dan

kurang fokus dalam mengawasi dan

aktivitas

memberikan

pembelajaran

bimbingan

kepada

guru

dalam

Scaffolding

proses
sudah

kelompok yang anggotanya belum

memenuhi kriteria. Pada siklus II

memahami

selain menjelaskan secara umum,

materi;

memberikan
bertanya

dan

Guru

banyak
kurang

tidak

kesempatan

guru

interaktif,

juga

menghampiri

setiap

kelompok dan memberikan bantuan


161

M Yusuf Supriyadi /Economic Education Analysis Journal 2 (3) (2014)

pada anggota kelompok yang belum

pada

bisa

hasil

mengkondisikan suasana kelas agar

pekerjaannya kurang tepat. Guru

selalu tertib dan tenang. Pelaksanaan

lebih

mengawasi

siklus II berjalan sesuai dengan

kegiatan siswa dalam kelompok,

rencana, sehingga ada waktu yang

sehingga semua siswa mengerjakan

cukup diakhir pembelajaran untuk

soal latihan secara mandiri. Guru

melibatkan

lebih interaktif dan lebih banyak

penyimpulan materi.

mengerjakan

intensif

atau

dalam

tiap

kelompok.

Guru

siswa

dalam

memberikan kesempatan bertanya


Tabel 4. Hasil Belajar Siklus I dan Siklus II
No

Kondisi
Awal
95
40
58,64
52,27
75

Keterangan

1
Nilai tertinggi
2
Nilai terendah
3
Rata-rata nilai tes
4
Persentase Ketuntasan Klasikal (%)
KKM

Siklus I

Siklus II

95
55
76,02
70,45
75

100
65
80,34
88,64
75

Tabel 4 memperlihatkan bahwa

aktivitas belajar dan hasil belajar

hasil belajar siswa terus mengalami

siswa telah mencapai kriteria yang

peningkatan baik pada siklus I

ditentukan. Aktivitas guru dalam

maupun

menerapkan

siklus

II.

Persentase

pembelajaran

ketuntasan Klasikal pada siklus II

scaffolding

juga telah mencapai KKM. Hal ini

kriteria yang ditentukan, bahkan

terjadi

perbaikan

termasuk dalam kategori sangat baik.

aktivitas belajar pada siklus II. Selain

Hal ini berarti guru sudah dapat

itu, pada siklus II guru juga lebih

menerapkan tahapan pembelajaran

memfokuskan pada

scaffoding

karena

adanya

materi

yang

belum dikuasai siswa pada siklus I.

juga

telah

sesuai

direncanakan.

Oleh

mencapai

dengan
karena

yang
itu,

penelitian tidak dilanjutkan ke siklus


Setelah melihat hasil penelitian

berikutnya.

pada siklus II, diketahui bahwa


162

M Yusuf Supriyadi /Economic Education Analysis Journal 2 (3) (2014)

Kusworo, Pramudyo dan Prih Hardinto. 2009.


Efektivitas Penerapan Pendekatan
Pembelajaran
Scaffolding
dalam
Ketuntasan Belajar Ekonomi Siswa
Kelas X SMA Labortorium Universitas
Jurnal
Negeri
Malang.
Dalam
Pendidikan Ekonomi, Volume 2 No. 1.
Malang: Universitas Negeri Malang

SIMPULAN

Penerapan
Scaffolding

pembelajaran
terbukti

dapat

meningkatkan aktivitas dan hasil


belajar materi kurva permintaan dan
kurva penawaran pada kelas VIII

Mulyasa, E. 2009. Praktik Penelitian Tindakan


Kelas. Bandung: Remaja Rosdakarya

MTs. Muhammadiyah Kajen.

Permatasari. 2011. Pendekatan Kontekstual


dengan Teknik Scaffolding untuk
Meningkatkan Kemampuan Berpikir
Kritis Siswa SMP. Skripsi. Bandung:
FPMIPA UPI

DAFTAR PUSTAKA
Cahyono, A.M. 2012. Vygotskys Social
Development
Theory.
http://adinegara.com/2012/08/28/vy
gotskys-social-development-theory/.
(15 Desember 2012)

Sardiman. 2007.Interaksi & Motivasi Belajar


Mengajar. Jakarta: PT Raja Gravindo
Persada
Trianto. 2011. Model-Model Pembelajaran
Inovatif Berorientasi Konstruktivistik.
Jakarta:
Prestasi
Pustaka

Hamalik, Oemar. 2011. Proses Belajar


Mengajar.Jakarta: PT Bumi Aksara

163