Anda di halaman 1dari 12

PENDAHULUAN

Laporan keuangan merupakan instrumen perusahaan yang


sangat penting dan salah satu media penyampaian informasi dan
bentuk pertanggungjawaban kinerja perusahaan kepada publik.
Selain itu, laporan keuangan yang disiapkan oleh perusahaan juga
memainkan peranan yang sangat penting dalam menjaga efisiensi
pasar

modal.

Laporan

keuangan

menyajikan

pengungkapan-

pengungkapan yang memilki arti penting mengenai bagaimana


perusahaan sebelumnya, bagaimana perusahaan saat ini dan
bagaimana

arah

perusahaan

selajutnya.

Laporan

keuangan

harusnya dipersiapkan dengan penuh integritas dan menyajikan


representasu posisi keuangan secara wajar dari entitas yang
menerbitkan laporan keuangan tersebut. Akan tetapi, laporan
keuangan terkadang dengan sengaja salah disajikan oleh pihakpihak yang mempunyai kepentingan. Salah saji tersebut bisa jadi
merupakan akibat dari adanya tindakan manipulasi, pemalsuan,
atau melakukan perubahan dalam catatan akuntansi. Sebagai
akibat kecurangan laporan keuangan tersebut, dapat menimbulkan
kerugian besar bagi para investor, kurangnya kepercayaan pada
pasar dan sistem akuntansi yang ada, hingga proses peradilan juga
rasa malu yang harus ditanggung oleh individu atau organisasi
yang terlibat dalam kecurangan laporan keuangan tersebut.
Masalah-masalah
timbul

bukan

kecurangan
keuangan.

tanpa

lainnya
Segitiga

mengenai
alasan.
juga

laporan

Alasan

berlaku

kecurangan

pada

keuangan

seseorang

melakukan

kecurangan

menunjukkan

tersebut
laporan

alasan-alasan

seseorang dapat melakukan kecurangan, yakni:


1. Tekanan yang dirasakan, seperti kegagalan memenuhi
ekspektasi, kerugian finansial, atau ketidakmampuan
bersaing dengan perusahaan lain.
2. Peluang/kesempatan yang dimiliki, hal seperti itu dapat
tercipta dikarenakan lemahnya keberadaan pengendalian

internal

yang

memadai

dan

kemampuan

untuk

menyembunyikan kecurangan tersebut.


3. Rasionalisasi, yakni pemikiran yang dapat membenarkan
praktik kecurangan.
Dengan

tiga

elemen

kecurangan

di

atas,

sangat

memungkinkan seseorang melakukan sebuah kecurangan dalam


lingkungan tempat mereka bekerja. Akan tetapi, kecurangan yang
lebih dahsyat atau Albrecht,dkk menyebutnya dengan perfect
fraud storm bisa saja terjadi, apabila didukung dengan beberapa
faktor. Kembali disebutkan oleh Albrehct dkk, ada sembilan faktor
yang menyebabkan perfect fraud storm tersebut.
Faktor 1: Ledakan Ekonomi
Ledakan ekonomi merupakan suatu kondisi dimana ekonomi
suatu wilayah atau negara mengalami pertumbuhan yang
cukup pesat yang ditandai dengan kesuksesan dalam bidang
ekonomi.

Menurut

disebabkan

oleh

Albrehct,
para

dkk

eksekutif

ledakan
yang

ekonomi
percaya

juga
bahwa

perusahaan mereka akan mengalami kesuksesan melebihi


pencapaian

yang

sebenarnya

perusahaan

tersebut

terutama

dan

bahwa

kesuksesan

dikarenakan

pengelolaan

manjemen yang baik. Selama terjadinya ledakan ekonomi,


idealnya banyak bisnis yang menghasilkan keuntungan yang
sangat tinggi, termasuk berbagai perusahaan baru. Namun,
kondisi tersebut hanya terlihat seperti itu, sedangkan dibalik
semua

itu

banyak

perilaku-perilaku

kecurangan

yang

disembunyikan. Kondisi ledakan ekonomi-lah yang memberikan


kesempatan pada pelaku kecurangan untuk menyembunyikan
aktivitas mereka.
Faktor 2: Kemerosotan Nilai-Nilai Moral
Semakin berkembangnya zaman, bukan semakin baik namun
yang ditemukan oleh para peneliti adalah justru kemerosotan
moral, salah satunya adalah ketidakjujuran. Albrecht, dkk
menyebutkan bahwa banyak peneliti menemukan aktivitas

mencontek di sekolah, ini merupakan salah satu ukuran


ketidakjujuran. Meskipun aktivitas mencontek tidak secara
langsung berhubungan dengan kecurangan manajemen, hal
tersebut

memberikan

gambaran

kemerosotan

moral

di

lingkungan masyarakat secara luas dan merupakan titik awal


dari ketidakjujuran dalam lingkungan manajemen nantinya.
Faktor 3: Kesalahan Alokasi Insentif
Salah satu insentif yang menggoda bagi para eksekutif adalah
pemberian opsi saham, dimana keuntungan dari insentif jenis
ini bisa mencapai jutaan dolar. Alih-alih memberikan semangat
untuk melakukan kinerja yang baik, Albrecht, dkk menyebutkan
bahwa opsi saham ternyata memberikan tekanan yang luar
biasa kepada pihak manajemen untuk tetap menjaga kenaikan
harga saham, bahkan membebankannya pada pelaporan hasil
kinerja

keuangan

yang

akurat.

Insentif

ini

mengalihkan

perhatian banyak CEO dari aktivitas mengelola perusahan


menjadi aktivitas mengelola harga saham, yang sering kali
berujung pada laporan keuangan yang mengandung unsur
kecurangan.
Faktor 4: Tingginya Ekspektasi Analis
Analis seringkali memberikan peramalan yang tinggi terhadap
laba per saham yang akan dihasilkan dari saham suatu
perusahaan. Para eksekutif sudah cukup tertekan dengan
adanya opsi saham seperti yang telah disebutkan sebelumnya,
ditambah lagi dengan ekspektasi analis yang harus dipenuhi
oleh para eksekutif. Mengapa hal ini bisa menjadi tekanan?
Karena eksekutif mengetahui bahwa ada sanksi atas kegagalan
dalam memenuhi perkiraan analis yang tinggi tersebut. tentu
saja akibat yang ditimbulkan adalah terjadinya kecurangan
demin kecurangan dalam perusahaan.
Faktor 5: Tingginya Tingkat Utang

Dalam Albrecht, dkk, faktor kelima dari perfect fraud storm


adalah tingginya tingkat utang yang dimiliki maisng-masing
perusahaan
memberikan

yang

melakukan

tekanan

besar

kecurangan.
bagi

para

Utang

tersebut

eksekutif

untuk

menghasilkan laba yang tinggi guna menutupi beban bunga


yang tinggi dan untuk memenuhi prasyarat dari perjanjian
utang dan persyaratan dari pemberi pinjaman lainnya. Tidak
ada perusahaan yang menginginkan laporan keuangannya
dihiasi dengan jumlah liabilitas yang tinggi, hal inilah yang
memotivasi manajemen untuk melakukan kecurangan.
Faktor 6: Fokus pada Aturan daripada Prinsip Akuntansi
Albrecht, dkk menyatakan bahwa akuntansi di Amerika Serikat
lebih mendasarkan pada atutan, dengan kata lain standar
berbasis aturan, bukan prinsip akuntansi berlaku umum. Akibat
dari

standar

yang

seperti

ini

adalah

jika

klien

dapat

menemukan celah dalam aturan dan mencatat transaksi


dengan cara yabg tidak secara khusus dilarang oleh PABU,
maka auditor akan sulit untuk melarang klien tersebut untuk
menggunakan metode akuntansi tersebut. Hasilnya adalah
aturan

khusus

yang

dimanfaatkan

untuk

pengaturan-

pengaturan keuangan yang baru dan lebih kompleks sebagai


pembenaran untuk memutuskan praktik akuntansi apa yang
bisa diterima dan apa yang tidak bisa diterima.
Faktor 7: Kurangnya Independensi Auditor
Faktor ketujuh yakni perilaku oportinistis dari beberapa KAP.
Perilaku yang selalu ingin memanfaatkan kesempatan dengan
sebaik-baiknya

untuk

keuntungan

diri

sendiri

ini

sangat

mengurangi independensi auditor. KAP menggunakan audit


sebagai

upaya

mengganti

kerugian

demi

membangun

hubungan dengan perusahaan agar mereka dapat menawarkan


pengadaan jasa-jasa konsultasi yang lebih menguntungkan.
Hingga pada akhirnya, jasa-jasa alternatif tersebut membuat

para auditor kehilangan fkus dan lebih memilih menjadi


penasihat dalam kegiatan bisnis daripada menjadi auditor.
Faktor 8: Keserakahan
Pada dasarnya semua manusia memiliki sifat serakah, dan hal
ini tidak dapat dipungkiri ketika sifat tersebut dihadapkan
dengan uang maka akan semakin luar biasa serakah. Para
eksekutif, bank investasi, bank komersial, dan investor, masingmasing mengambil keuntungan dari sistem perekonomian yang
kuat, berbagai transaksi yang menguntungkan, dan laba yang
tinggi dari suatu perusahaan. Sifat serakah tidak menginginkan
kabar buruk, hal ini mengakibatkan pengabaian terhadap berita
negatif dan akhirnya terlibat dalam transaksi yang tidak baik.
Faktor 9: Kegagalan Pendidik
1. Pendidik tidak memberikan pendidikan etika yang cukup
memadai pada mahasiswa
Tidak adanya penekanan pada mahasiswa untuk meihat
gambaran dilema etika yang terjadi sewaktu di kelas
membuat para lulusan tidak memiliki bekal yang cukup
untuk menghadapi dilemma etika secara riil dalam dunia
bisnis.
Misalnya

dalam

sebuah

dugaan

skema

kecurangan,

pelaku sebenarnya termasuk seluruh jajaran manajemen


senior perusahaan, termasuk (namun tidak berbatas pada)
mantan pimpinan dan CEO, mantan presiden direktur, dua
orang mantan CFO dan sejumlah personel senior di bidang
akuntansi dan bisnis. Secara keseluruhan, kira-kira lebih dari
20 orang terlibat dalam skema tersebuy. Besarnya jumlah
pelaku tersebut menunjukkan kegagalan pedoman etika
secara umum yang terdapat pada kelompok ini.
Contoh lain adalah ketika CFO memberi instruksi pada
kepala akuntan untuk meningkatkan laba senilai hampir
$100 juta. Kepala akuntan merasa skeptic terhadap tujuan

dari instruksi tersebut tetapi tidak berupaya menolaknya.


Kepala akuntan mengikuti arahan dan diduga membuat
kertas kerja yang berisi tujuh lembar ayat jurnal yang tidak
sesuai-seluruhnya 105 ayat jurnal- yang dianggap penting
untuk menjalankan instruksi dari CFO tersebut.
Dalam banyak kasus seperti itu, orang-orang yang terlibat
tidak memiliki latar belakang pernah melakukan aktivitas
tidak

jujur,

namun

berpartisipasi

ketika

dalam

mereka

kecurangan

diminta

akuntansi,

untuk
mereka

melakukannya dengan begitu tenang dan tanpa paksaan.


2. Tidak mengajarkan kepada para mahasiswa mengenai
kecurangan.
Sebagian besar
menyadari
mahasiswa

telah

lulusan
terjadi

tidak

tekanan

kesempatan

yang

yang

dimiliki,
yang

bisnis

kecurangan.

memahami

kecurangan,

indikator-indikator

sekolah

tidak

Sebagian

faktor-faktor

dirasakan,
proses

akan
besar

penyebab

peluang

atau

rasionalisasi,

atau

mengindikasikan

kemungkinan

adanya perilaku tidak jujur.


3. Cara pendidik mengajar mahasiswa jurusan akuntansi dan
bisnis di masa lampau.
Pendidikan akuntansi yang efektif tidak boleh berfokus
pada konten pembelajaran sebagai tujuan akhir tetapi
menggunakan konten sebagai konteks untuk membantu
mahasiswa mengembangkan kemampuan analitis.
Seperti yang telah dijelaskan di atas dapat ditarik kesimpulan
bahwa kecurangan laporan keuangan sangat dipengaruhi adanya
tiga

elemen

kecurangan

yakni

tekanan,

kesempatan,

dan

rasionalisasi. Namun juga didukung oleh banyak faktor diluar


elemen-elemen tersebut yang dapat menghasilkan kecurangan
yang mengakibatkan kerugian yang lebih besar lagi.
SIFAT DASAR KECURANGAN LAPORAN KEUANGAN

Kecurangan laporan keuangan mengandung unsur penipuan


dan upaya penyembunyian secara disengaja. Kecurangan laporan
keuangan dapat disembunyikan melalui dokumentasi fiktif, yang
termasuk di dalamnya pemalsuan dokumen. Kecurangan laporan
keuangan

dapat

disembunyikan

kolusi

antara

manajemen,

pegawai, atau pihak ketiga.


Tanpa adanya pengakuan, dokumen yang benar-benar terlihat fiktif,
atau sejumlah tindakan kecurangan yang sama dan dilakukan
berulang-ulang (sehingga dapat disimpulkan terjadi kecurangan
dari polanya), menuduh seseorang melakukan kecurangan laporan
keuangan dapat menjadi sangat sulit. Karena adanya kesulitan
dalam mendeteksi dan membutikan kecurangan, investigator harus
sangat berhati-hati dalam melakukan pemeriksaan kecurangan,
menghitung jumlah kecurangan, atau melakukan berbagai macam
perikatan kerja terkait dengan kecurangan.
Statistik mengenai Kecurangan Laporan Keuangan
Salah satu cara untuk mengukur seberapa sering kecurangan
laporan keuangan terjadi digunakan Accounting and Auditing
Enforcement

Releases

(AAERs)

yang

dikeluarkan

oleh

SEC.

Beberapa studi telah melakukan kajian terhadap AAERs. Salah satu


pembahasan yang pertama dan paling komprehensif adalah Report
of the Nation Commision on Fraudulent Financial Reporting yang
dikeluarkan oleh National Commision on Fraudulent Financial
Reporting (Treadway Commision). Laporan Treadway Commision
menemukan bahwa walaupun kecurangan laporan keuangan tidak
terlalu sering terjadi, kecurangan tersebut tetap sangat merugikan.
Treadway Commision melakukan studi terhadap kecurangan yang
terjadi selama sepuluh tahun yang berakhir pada tahun 1987. Studi
ini mengkaji 119 tindakan hukum yang dilakukan oleh SEC pada
periode tahun 1981-1986.
Pada tahun 1999, Committee of Sponsoring Organization
(COSO) merilis studi yang mereka sponsori terkait kecurangan
laporan keuangan yang diinvestigasi oleh SEC yang terjadi selama

tahun 1987-1997. Studi ini menemukan bahwa ada sekitar 300


kecurangan laporan keuangan yang menjadi subjek dari peraturan
SEC

selama

periode

tersebut.

Ada

204

sampel

acak

dari

kecurangan laporan keuangan tersebut mengungkapkan:


1. Rata-rata kecurangan yang terjadi akhir-akhir ini berlangsung
selama dua tahun.
2. Pengakuan pendapatan yang tidak sesuai, perhitungan aset
yang lebih saji, dan perhitungan biaya yang kurang saji
merupakan metode kecurangan yang sangat umum digunakan.
3. Besarnya rata-rata kecurangan secara kumulatif adalah $25
juta (nilai median $4,1 juta).
4. Sebanyak 72% kasus kecurangan laporan keuangan dilakukan
oleh CEO.
5. Rata-rata

nilai

aset

dari

perusahaan

yang

melakukan

kecurangan adalah $532 juta (nilai median $16 juta) dan ratarata pendapatan $232 juta (nilai median $13 juta).
6. Perusahaan yang melakukan kecurangan laporan keuangan
biasanya menanggung konsekuensi berat.
Contohnya, 36% perusahaan yang mengajukan pernyataan
kebangkrutan

dideskripsikan sebagai perusahaan yang mati

atau ditutup pada AAERs, atau diambil alih pengelolaannya oleh


regulator

Negara

bagian

atau

regulator

federal

setelah

kecurangan terjadi.
7. Kebanyakan perusahaan ini tidak memiliki komite audit atau
hanya bertemu satu kali dalam satu tahun dengan komite audit
mereka. Posisi dewan direksi pada perusahaan mereka sering
diisi oleh orang dalam, bukannya direksi yang independen.
8. Dewan direksi yang didominasi oleh orang dalam dan direksi
dari luar yang memiliki hubungan khusus dengan manajemen
atau perushaan, dengan kepemilikan ekuitas besar dan terlihat
memiliki sedikit pengalaman sebagai direksi pada perusahaan
lain.

Hubungan

keluarga

antara

direksi

dengan

pegawai

merupakan sesuatu yang biasa terjadi, seperti halnya individu


yang memiliki kekuasaan besar.

9. Beberapa perusahaan yang melakukan kecurangan laporan


keuangan menderita kerugian bersih atau mendekati titik impas
pada periode sebelum kehancuran terjadi.
10. Hanya lebih dari 25% dari perisahaan mengganti auditor
mereka selama periode kecurangan tersebut.
Kemudian terdapat studi lainnya yang dilakukan oleh SEC
yang

didasarkan

Ketentuannya

pada

adalah

Section

704

Sarbanes-Oxley

Act.

SEC melakukan studi terhadap semua

tindakan hukum yang diajukan selama periode 31 Juli 1997-30 Juli


2002 yang didasarkan pada pelaporan keuangan yang tidak sesuai,
kecurangan,

kegagalan

audit,

atau

pelanggaran

terhadap

independensi auditor. Pada periode studi tersebut, SEC mengajukan


515

tindakan

hukum

atas

pelanggaran

pengungkapan

dan

pelaporan keuangan yang melibatkan 164 entitas yang berbeda.


Studi ini menemukan bahwa:
1. SEC paling banyak melakukan tindakan seperti pengakuan
pendapatan yang tidak sesuai, pengakuan biaya yang tidak
sesuai,

perhitungan

kombinasi

kegiatan

akuntansi
bisnis,

yang

tidak

pengungkapan

tepat

terkait

Managements

discussion and analysis yang tidak memadai, penggunaan yang


tidak tepat dari transaksi-transaksi lain yang tidak tercantum
dalam neraca.
2. CEO, presiden direktur, dan CFO merupakan jajaran manajemen
yang paling sering terlibat kemudian diikuti oleh pimpinan
dewan, pejabat bagian operasional, pejabat bagian akuntansi,
dan wakil presiden bagian keuangan.
Studi terbaru dilakukan oleh COSO yang mencakup periode
tahun 1998-2007. Temuan besar yang dilaporkan dalam studi ini
adalah sebagai berikut:
1. Kecurangan yang diinvestigasikan oleh SEC selama periode 10
tahun terakhir sekitar 18% lebih banyak jika dibandingkan
dengan periode 10 tahun sebelumnya, dengan rata-rata nilai
kecurangan meningkat secara drastic dari $25 juta menjadi
sekitar $400 juta.

2. Median asset perusahaan-perusahaan yang ada dalam studi ini


meningkat dari $16 juta menjadi hampir $100 juta.
3. CFO dan atau CEO yang disebut lebih dari 89% dalam kasus,
sekitar 20% didakwa selama dua tahun proses investigasi yang
dilakukan oleh SEC.
4. Pengakuan pendapatan yang tidak tepat terus menjadi metode
kecurangan yang sangat umum dan dihitung untuk lebih dari
60% kasus yang terjadi.
5. Berbeda dengan penelitian sebelumnya, karakteristik dewan
direksi perusahaan-perusahaan ini tidak jauh berbeda dengan
karakteristik perusahaan sejenis yang tidak didakwa melakukan
kecurangan.
6. 26% perusahaan yang melakukan pergantian auditor selama
waktu terjadinya kecurangan; 60% diantaranya melakukan
pergantian pada saat kecurangan sedang terjadi dan 40%
melakukan pergantian sebelum kecurangan terjadi.
7. Liputan pers terhadap perusahaan yang diduga melakukan
kecurangan menyebabkan terjadinya penurunan abnormal pada
harga saham perusahaan sebesar 16,7% dan berita mengenai
investigasi yang dilakukan pemerintah terhadap kecurangan
tersebut mendorong penurunan harga saham abnormal sebesar
7,3%.
Selain penurunan harga saham yang dramatis tersebut,
kedua studi yang dilakukan oleh COSO tersebut menunjukkan
bahwa perusahaan yang terlibat dalam tindakan kecurangan
menanggung konsekuensi yang negative yang sangat serius dalam
jangka panjang segera setelah kecurangan yang dilakukannya
tersebut terungkap, termasuk kebangkrutan dan penghapusan
pencacatan

saham

(delisting)

dari

bursa

saham.

Walaupun

persentase laporan keuangan yang mengandung unsur kecurangan


yang berhasil terungkap relative kecil namun kerugian yang
ditimbulkan seringkali sangat bernilai tinggi bagi para pegawai,
pemegang saham, auditor, bankir, dan seluruh rekan bisnis.
Kasus-kasus

kecurangan

laporan

memiliki faktor-faktor sebagai berikut:

keuangan

sering

kali

1. Perusahaan terlihat memiliki kinerja yang lebih baik daripada


perusahaan lain dalam industry tersebut.
2. Investor, analis, dan pemilik memiliki

ekspektasi

bahwa

perusahaan akan memiliki kinerja yang sangat baik. Karena


perusahaan

tidak

dapat

memenuhi

ekspektasi

tersebut,

memberikan tekanan kepada perusahaan agar ekpekstasi


tersebut dapat dipenuhi.
Awal

tindakan

pelanggaran

sering

kali

hanya

berupa

pelanggaran kecil bila dibandingkan dengankecurangan yang


akhirnya terdeteksi.
MOTIVASI KECURANGAN LAPORAN KEUANGAN
1. Terkadang motivasinya adalah untuk memberikan dukungan
agar harga saham tetap tinggi dan atau untuk dukungan
terhadap penawaran obligasi dan saham.
2. Untuk meningkatkan harga saham perusahaan dan atau untuk
memaksimalkan bonus bagi manajemen.
Kasus Phar Mor Inc
Phar-Mor.Inc membuka toko pertamanya pada tahun 1982
oleh Michael Monus. Sampai dengan tahun 1992 telah dibuka
sebanyak

310 toko di 32 negara bagian, menhasilkan penjualan

dengan nilai lebih dari $3 miliar. Phar-Mor menjual berbagai jenis


produk rumah tangga dan obat-obatan dengan resep dokter
dengan harga sangat murah. Sebenarnya harga produk Phar-Mor
sangat rendah di bawah dari toko-toko sejenisnya yang juga
memberikan diskon.

Dengan harga sangat murah tersebut

membuat barang-barang yang dijual oleh Phar-Mor terjual dibawah


harga perolehannya, yang pada akhirnya menghasilkan kerugian
untuk setiap penjualan yang terjadi. Strategi ini membantu PharMor mendapatkan pelanggan baru dan membuka banyak toko baru
setiap tahunnya. Namun strategi ini mengakibatkan kerugian bagi
perusahaan,

dan

daripada

mengakui

perusahaannya

telah

mengalami kerugian, Monus menyembunyikan kerugian tersebut


dan membuat Phar-Mor terlihat menguntungkan dengan melakukan

perhitungan

akuntansi

kreatif.

Pemeriksa

kecurangan

dari

pemerintah federal baru mengetahui hal ini lima than kemudian


bahwa pendapatan sebelum pajak tahun pajak 1989 mengalami
lebih saji sebesar $350.000 dan bahwa pada tahun 1987 adalah
tahun terakhir Phar-Mor menghasilkan keuntungan.
Untuk menyembunyikan masalah arus kas Phar-Mor, menarik
para investor dan membuat perusahaan terlihat menguntungkan,
Michael Monus dan bawahannya, Patrick Finn, mengubah akun
persediaan untuk memperkecil harga pokok pendapatan dan
memperbesar nilai pendapatan. Monus dan Finn menggunakan tiga
metode yang berbeda yaitu:
1. Memanipulasi akun;
2. Melakukan perhitungan persediaan yang lebih saji; dan
3. Memanipulasi aturan akuntansi.
Pada tahun 1985 dan 1986, sebelum kecurangan besar itu
terjadi, Monus telah meminta Finn untuk:
1. Memperkecil nilai biaya tertentu yang melebihi anggaran dan
memperbesar nilai biaya-biaya yang kurang dari anggaran
dengan tujuan untuk membuat kegiatan operasional terlihat
efisien.
2. Menaikkan marjin laba kotor dari 14,2% menjadi 16,5% dengan
cara menggelembungkan akun persediaan.
3. Harga pokok penjualan dibuat kurang saji, sehingga seolah-olah
Phar-Mar telah menjual barang pada tingkat marjin yang lebih
tinggi. Karena biaya penjualan dibuat kurang saji maka nilai
laba bersih menjadi lebih saji.
4. Memberikan tekanan kepada para penjual untuk melakukan
pembayaran di muka dalam jumlah besar yang digunakan
untuk pembayaran kepada pemasok dan mengakui semua
pendapatan ini diawal
Akibat praktik ini Phar-Mar mampu melaporkan hasil yang
mengesankan dalam jangka pendek.