Anda di halaman 1dari 9

BAB 5

HASIL PENELITIAN

Pada bab ini akan diuraikan hasil penelitian tentang pengetahuan perawat
dengan pelaksanaan timbang terima yang dilaksanakan di ruang rawat inap RSUD
Dr. Sayidiman Magetan. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 28 Mei 21 Juni
2014 dengan jumlah 59 responden yang di peroleh dari 6 ruang rawat inap RSUD
Dr. Sayidiman Magetan. Hasil penelitian yang diperoleh untuk selanjutnya akan
dibahas dan disesuaikan dengan tujuan dan landasan teori.

5.1 Hasil penelitian


5.1.1 Gambaran tempat penelitian

5.1.2 Analisis univariat


Hasil

analisis

univariat

menggambarkan

distribusi

responden

berdasarkan karakteristik responden meliputi umur, jenis kelamin,


pendidikan, lama kerja, status kepegawaian, pengetahuan perawat, dan
pelaksanaan timbang terima. Hasil analisis univariat akan diuraikan sebagai
berikut :

1. Gambaran karakteristik responden


Tabel 5.1 Distribusi frekuensi responden berdasarkan umur di ruang
rawat inap RSUD Dr. Sayidiman Magetan Bulan Mei 2014
(n = 59)

UMUR

Valid

Frequency

Percent

21 - 24 TAHUN

12

20.3

25 - 29 TAHUN

22

37.3

> 30 TAHUN

25

42.4

Total

59

100.0

Sumber : Data primer, 2014


Hasil analisis pada tabel 5.1 didapatkan bahwa umur termuda
responden antara 21-24 tahun terdapat 12 responden. Selanjutnya umur
yang tertua responden adalah >30 tahun.

Tabel 5.2 Distribusi frekuensi responden berdasarkan jenis kelamin, di


ruang rawat inap RSUD Dr. Sayidiman Magetan Bulan Mei
2014 (n = 59)
JENIS KELAMIN
Frequency
Valid

Percent

LAKI LAKI

18

30.5

PEREMPUAN

41

69.5

Total

59

100.0

Sumber : Data primer, 2014


Pada tabel 5.2 menggambarkan bahwa responden yang terbanyak
adalah perempuan yaitu sebanyak 41 responden, sedangkan responden
laki-laki sebanyak 18 responden.
Tabel 5.3 Distribusi frekuensi responden berdasarkan pendidikan, di
ruang rawat inap RSUD Dr. Sayidiman Magetan Bulan Mei
2014 (n = 59)

PENDIDIKAN
Frequency
Valid

Percent

D3

35

59.3

S1

24

40.7

Total

59

100.0

Sumber : Data primer, 2014


Pada tabel 5.3 menggambarkan bahwa pendidikan responden yang
terbanyak adalah D3 yaitu sebanyak 35 responden, sedangkan S1
sebanyak 24 responden.

Tabel 5.4 Distribusi frekuensi responden berdasarkan lama kerja, di


ruang rawat inap RSUD Dr. Sayidiman Magetan Bulan Mei
2014 (n = 59)
LAMA.KERJA
Frequency
Valid

<1 TAHUN

Percent
7

11.9

1 - 5 TAHUN

23

39.0

5- 10 TAHUN

17

28.8

> 10 TAHUN

12

20.3

Total

59

100.0

Sumber : Data primer, 2014


Pada tabel 5.4 menggambarkan bahwa lama kerja responden yang
paling banyak adalah sekitar 1-5 tahun kerja sebanyak 23 responden.
Selanjutnya untuk yang paling sedikit <1 tahun sebanyak 7 responden.
Tabel

5.5

Distribusi frekuensi responden berdasarkan status


kepegawaian, di ruang rawat inap RSUD Dr. Sayidiman
Magetan Bulan Mei 2014 (n = 59)

STATUS KEPEGAWAIAN
Frequency
Valid

Percent

PNS

38

64.4

HONORER

21

35.6

Total

59

100.0

Sumber : Data primer, 2014


Pada tabel 5.5 menggambarkan bahwa status kepegawaian
responden yang paling banyak adalah PNS sebanyak 38 responden,
sedangkan untuk status kepegawaian honorer sebanyak 21 responden.

Tabel 5.6 analisis pengetahuan perawat tentang konsep timbang terima


dan pelaksanaan timbang terima, di ruang rawat inap RSUD
Dr. Sayidiman Magetan Bulan Mei 2014 (n = 59)
Variabel
PENGETAHUAN
TIMBANG.TERIMA

Mean

Median

SD

Min - Maks

Distribusi

11.69

11.00

2.028

8 15

Normal

9.24

9.00

1.813

6- 15

Normal

Sumber : Data primer, 2014


Berdasarkan pada tabel 5.6 nilai rata-rata pengetahuan perawat
adalah 11.69 sedangkan untuk nilai minimum dan maksimum adalah 815. Berdasarkan nilai rata rata dan disesuaikan dengan skala instrumen
pada penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa responden sudah
mengetahui tentang konsep timbang terima. Selanjutnya berdasarkan
analisis didapatkan rata rata nilai pelaksanaan timbang terima adalah
9.24 sedangkan nilai minimum dan maksimum adalah 6-15. Berdasarkan
nilai rata rata ini dan disesuaikan dengan skala instrumen penelitian ini
responden sudah melaksanakan timbang terima.
5.1.3 Analisis bivariat
Analisi bivariat dalam penelitian ini menggunakan korelasi person.
Analisis bivariat digunakan untuk mengetahui apakah ada hubungan yang
bermakna antara pengetahuan perawat dengan pelaksanaan timbang terima.
Sebelum dilakukan analisis bivariat terlebih dahulu dilakukan uji normalitas

data baik pada pengetahuan perawat dan pelaksanaan timbang terima. Hasil
uji normalitas data tersebut dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 5.7 analisis Kolmogorov-Smirnov pengetahuan perawat dengan
pelaksanaan timbang terima di ruang rawat inap RSUD Dr.
Sayidiman Magetan Bulan Mei 2014
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
TIMBANG.TERI
PENGETAHUAN
N
Normal Parametersa,,b
Most Extreme Differences

59
11.69
2.028
.160
.160
-.113
1.225
.099

Mean
Std. Deviation
Absolute
Positive
Negative

Kolmogorov-Smirnov Z
Asymp. Sig. (2-tailed)

MA
59
9.24
1.813
.146
.145
-.146
1.120
.163

a. Test distribution is Normal.


b. Calculated from data.

Berdasarkan data pada tabel 5.7 data pengetahuan perawat tentang


konsep timbang terima mempunyai nilai P-value = 0.099 >0.05 sehingga
data dinyatakan berdistribusi normal. Untuk data pelaksanaan timbang
terima memiliki nilai P-value = 0.163 > 0.05 yang juga dinyatakan
berdistribusi

normal

sehingga

dapat

dilakukan

analisis

bivariat

menggunakan uji korelasi pearson.


Tabel 5.7 Analisis korelasi pengetahuan perawat dengan pelaksanaan
timbang terima di ruang rawat inap RSUD Dr. Sayidiman
Magetan Bulan Mei 2014 (n=59)

Correlations
PENGETAHUAN TIMBANG.TERIMA
PENGETAHUAN

Pearson Correlation

Sig. (2-tailed)
N
TIMBANG.TERIMA

Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N

.597**
.000

59

59

**

.597

.000
59

59

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Dari tabel 5.7 menunjukkan bahwa hasil dari uji korelasi pearson
pengetahuan perawat tentang konsep timbang terima memiliki koefisien
korelasi dengan pelaksanaan timbang terima sebesar r = 0.597 dengan nilai
signifikansi p-value = 0.000 < 0.05 sehingga H1 diterima dan H0 ditolak
yang artinya pengetahuan perawat tentang konsep timbang terima memiliki
hubungan dengan pelaksanaan timbang terima. Berdasarkan hasil diatas
dimana nilai r = 0.597 yang artinya tingkat hubungan pengetahuan perawat
dengan pelaksanaan timbang terima sedang.

5.2 Pembahasan
5.2.1 Pengetahuan perawat tentang konsep timbang terima
Berdasarkan nilai rata-rata pengetahuan perawat adalah 11.69
sedangkan untuk nilai minimum dan maksimum adalah 8-15. Berdasarkan
nilai rata rata dan disesuaikan dengan skala instrumen pada penelitian ini,
dapat disimpulkan bahwa responden sudah mengetahui tentang konsep
timbang terima.
Peneliti berasumsi bahwa pengetahuan responden tentang konsep
timbang terima didapatkan dari pegalamanan pribadi mereka ketika

dibangku kuliah sehingga pengalaman tersebut masih bisa diingat dan juga
informasi yang bisa didapatkan dari orang lain.
Hal ini sesuai dengan cara memperoleh pengetahuan menurut
Notoatmojo (2012), dimana salah satu cara memperoleh pengetahuan yaitu
dengan berdasarkan pengalaman pribadi dan informasi dari orang lain yang
dapat menunjang dan menambah pengetahuan responden.
5.2.2 Pelaksanaan timbang terima
Berdasarkan analisis didapatkan rata rata nilai pelaksanaan timbang
terima adalah 9.24 sedangkan nilai minimum dan maksimum adalah 6-15.
Berdasarkan nilai rata rata ini dan disesuaikan dengan skala instrumen
penelitian ini responden sudah melaksanakan timbang terima.
Penulis berasumsi dengan hasil penelitian yang sudah dilakukan bahwa
pelaksanaan timbang terima responden masih kurang dilakukan dengan
baik, hal itu bisa disebabkan dengan beberapa faktor yaitu faktor pendukung
dan faktor penghambat.
Riesenberg (2010) dari Mursidah dewi mengemukakan bahwa faktor
pendukung dan faktor penghambat itu mempengaruhi terlaksananya
timbang terima secara efektif seperti hambatan komunikasi responden yaitu
ketidakpahaman responden terhadap informasi yang harus mereka
sampaikan kepada perawat selanjutnya saat pergantian shift.
5.2.3 Hubungan pengetahuan perawat dengan pelaksanaan timbang terima
Hasil dari uji korelasi pearson menunjukkan bahwa pengetahuan
perawat tentang konsep timbang terima memiliki koefisien korelasi dengan
pelaksanaan timbang terima sebesar r = 0.597 dengan nilai signifikansi pvalue = 0.000 < 0.05 sehingga H1 diterima dan H0 ditolak yang artinya

pengetahuan perawat tentang konsep timbang terima memiliki hubungan


dengan pelaksanaan timbang terima. Berdasarkan hasil diatas dimana nilai r
= 0.597 yang artinya tingkat pengetahuan perawat memiliki hubungan yang
signifikan dengan pelaksanaan timbang terima.
Peneliti berasusmsi bahwa adanya hubungan pengetahuan perawat
dengan pelaksanaan timbang terima karena adanya pengetahuan responden
tentang pentingnya timbang terima dilaksanakan sesuai dengan prosedur,
serta dengan pengalaman pribadi responden dan juga informasi responden
yang bisa didapatkan dari orang lain.
Alvarado, (2006) menginformasikan bahwa timbang terima (handover)
sangat

membantu

dalam

perawatan

pasien.

Timbang

terima

yang

dilaksanakan dengan baik dapat membantu mengidentifikasi kesalahan serta


memfasilitasi kesinambungan perawatan pasien juga dapat meningkatkan
pelaksanaan timbang terima yang lebih baik sesuai dengan prosedur.
Berdasarkan uji statistik diatas dimana hasil penelitian ini memiliki nilai
signifikan r = 0.597 yang artinya tingkat hubungan pengetahuan perawat
dengan pelaksanaan timbang terima sedang. Hal tersebut berdasarkan pada
tabel koefisien korelasi menurut Sugiyono (2012).
Interval koefisien

Tingkat Hubungan

0,00 0,199

Sangat rendah

0,20 0,399

Rendah

0,40 0,599

Sedang

0,60 0,799

Kuat

0,80 0,1,000

Sangat kuat

Hubungan pengetahuan perawat dengan pelaksanaan timbang terima


yang sedang ini peneliti berasumsi bahwa ada beberapa faktor yang bisa
mempengerahui yaitu faktor penghambat, misalnya kurangnya komunikasi
antar perawat, pendidikan perawat yang kurang. hal itu terlihat dari
pendidikan responden lebih banyak diploma daripada Sarjana.
Teori Riesenberg (2010) dari Mursidah dewi mengungkapkan bahwa ada
beberapa faktor yang dapat berpengaruh diantaranya hambatan komunikasi
antar perawat, penggunaan teknologi yang kurang serta pendidikan dan
pelatihan yang kurang. beberapa faktor tersebut dapat mempengaruhi
pengetahuan perawat sehingga dapat menimbulkan terhambatnya pelaksanaan
timbang terima.