Anda di halaman 1dari 11

Komplikasi

Hepatitis kronis dapat menyebabkan sirosis hepatis, kanker hepar, gagal hepar, gangguan
ginjal, dan vasculitis.
Hepatitis B kronik dapat berlanjut menjadi sirosis hepatis yang merupakan komplikasi
paling banyak, dan merupakan perjalanan klinis akhir akibat nekrotik sel sel hepatosit.
Prognosis hepatitis B kronik dipengaruhi oleh berbagai factor, yang paling utama adalah
gambaran histology hati, respon imun tubuh penderita, dan lamanya terinfeksi hepatitis B, serta
respon tubuh terhadap pengobatan.
Hepatitis fulminan akut terjadi lebih sering pada HBV daripada virus hepatitis lain, dan
risiko hepatitis fulminan lebih lanjut naik bila ada infeksi bersama atau superinfeksi dengan
HDV. Mortalitas hepatitis fulminan lebih besar dari 30%. Transplantasi hati adalah satu-satunya
intervensi efektif; perawatan pendukung yang ditujukan untuk mempertahankan penderita
sementara memberi waktu yang dibutuhkan untuk regenerasi sel hati adalah satu-satunya pilihan
lain.
Infeksi VHB juga dapat menyebabkan hepatitis kronis, yang dapat menyebabkan sirosis
dan karsinoma hepatoseluler primer. Interferon alfa-2b tersedia untuk pengobatan hepatitis
kronis pada orang-orang berumur 18 tahun atau lebih dengan penyakit hati kompensata dan
replikasi HBV. Glomerulonefritis membranosa dengan pengendapan komplemen dan HBeAg
pada kapiler glomerulus merupakan komplikasi infeksi HBV yang jarang.
Prognosis
Prognosis hepatitis B kronik dipengaruhi oleh berbagai factor, yang paling utama adalah
gambaran histologi hati, respon imun tubuh penderita, dan lamanya terinfeksi hepatitis B, serta
respon tubuh terhadap pengobatan. Prognosis pengidap kronik HBsAg sangat tergantung dari
kelainan histologis yang didapatkan pada jaringan hati. Semakin lama seorang pengidap kronik
mengidap infeksi HBV maka semakin besar kemungkinan untuk menderita penyakit hati kronik
akibat infeksi HBV tersebut. Penelitian menunjukkan bahwa 40% pengidap infeksi HBV kronik
yang mencapai usia dewasa akan meninggal akibat penyakit hati kronik misalnya sirosis atau
KHP. Disamping itu seorang pengidap kronik dapat menjadi HBsAg negatif walaupun jarang.
Hal ini terjadi pada 1% dari pengidap kronik setiap tahunnya.

Menurut Dienstag J. L. (2008), 95-99% dari pasien hepatitis B yang akut, sembuh secara
total. Namun, prognosis penyakit hepatitis B memburuk pada pasien yang lanjut usia dan pasien
yang mempunyai penyakit lain. Bagi penderita yang telah didiagnosa menderita penyakit
hepatitis B yang kronis, prognosisnya baik jika pasien mendapat terapi yang baik sehingga dapat
memperbaiki kondisi pasien. Perubahan dari fase akut ke fase kronik sangat bergantung pada
umur pasien dan cara terinfeksi. Prognosis memburuk pada pasien-pasien yang menderita sirosis
hati. Karsinoma hepar merupakan komplikasi tersering bagi infeksi VHB yang kronik.

Vaksin Hepatitis
1. Sejarah pembuatan vaksin Hepatitis
Pada tahun 1965, Blumberg dan kawan- kawan di Philadelphia menemukan suatu
antibodi pada pasien yang ditransfusi yang berasal dari suku Aborigin Australia, sehingga
antigen tersebut dikenal dengan nama Antigen Australia. Pada tahun 1977, Blumberg
mendapat hadiah nobel untuk penemuannya itu. Sekarang antigen tersebut dikenal dengan
nama hepatitis B surface antigen (HBsAg) (Zain, 2006).
Vaksin hepatitis B pertama kali diperkenalkan oleh Krugman dan koleganya pada tahun
1971.Mereka menggunakan serum yang mengandung virus Hepatitis B. Serum diencerkan
dan diinaktivasi panas 90oC selama 1 menit. Vaksinasi dilakukan pada 29 orang anak, hasilnya
separuh dari anak terlindung dari infeksi Hepatitis B. Pengembangan vaksin ini selanjutnya
menggunakan antigen lain untuk imunisasi aktif yaitu Hepatitis B surface antigen
(HBsAg) .Vaksin HBsAg ini merupakan partikel yang berukuran 22 nm, diinaktivasi panas,
diadsobsi alum dan bebas dari asam nukleat.

Dimurnikan melalui tahap presipitasi,

ultrasentrifusasi, gel filtrasi dan afinitas kromatografi. Tahun 1973 diketahui bahwa HBV
dapat menginfeksi simpanse, tahun 1981 dibuatlah vaksin hepatitis B yang berasal dari
plasma darah penderita, seiring dengan perkembangan teknologi maka pada tahun 1986
dibuatlah vaksin rekombinan dengan menggunakan yeast Saccharomyces cereviceae.
Penggunaan vaksin ini secara besar-besaran pada tahun 1991 dan dianjurkan pada bayi yang
baru lahir dan tahun 1996 penggunaan vaksin secara umum untuk dewasa.
2. Vaksinasi terhadap Hepatitis B

Vaksin hepatitis B dapat mencegah penyebaran HBV termasukkanker hati dan sirosis.
Vaksin hepatitis B mulai dikomersialkan di Amerika Serikat pada tahun 1982, diproduksi
dengan tehnik DNA rekombinan pada tahun 1986, dan produksi second recombinant-type
hepatitis B vaccine pada tahun 1989 (Immunization Action Coalition, 2008). Vaksinasi
Hepatitis B rutin dilakukan di Amerika sejak tahun 1991 dan dilaporkan terjadi penurunan
tingkat infeksi HBV sebanyak 75% pada semua kelompok umur (anonym, 2007; Oshea,
2009)
Pelaksanaan imunisasi aktif terhadap virus hepatitis B pada manusia, pertama kali
dilakukan oleh Krugman dan koleganya tahun 1971 yaitu menggunakan sediaan serum yang
diperoleh dari karier virus hepatitis B dan diinaktifasi menggunakan panas. Hasilnya 20 dari
29 anak terlindung dari infeksi virus hepatitis B. Imunitas dijumpai pada anak-anak yang
mempunyai antibodi terhadap Hepatitis B Surface Antigen (HBsAg).Hasil ini memacu
perkembangan pembuatan vaksin hepatitis B lebih maju, terutama untuk produksi skala besar
dari plasma karier.

3.

Pembuatan vaksin Hepatitis B

Vaksin HBsAg yang dimumikan dari plasma karier dan inaktifasiformalin/panas telah
diproduksi di beberapa laboratorium. Namun dengan terbatasnya persediaan plasma, perlunya
seleksi dan kontrol yang ketat untuk mendapatkan vaksin murni dan bebas sumber infeksi
lain, maka pendekatan lain terus dicari. Problem ini akhirnya dapat teratasi dengan
pendekatan rekombinan DNA. Salah satu sintesis HBsAg yang telah berhasil dari sel ragi
(yeast) rekombinan. Partikel ini memperlihatkan sifat imunogenik pada binatang percobaan;
pengujian pada manusia telah berhasil menginduksi anti HBs dan melindungi dari infeksi
virus hepatitis B
Saat ini setidaknya ada 3 sumber partikel HBsAg yang digunakan untuk vaksinasi hepatitis
B. Terutama HBsAgdimumikan dari plasma karier.Metode ini telah berhasil dan efikasinya
tidak disangsikan. Dua sumber lain yaitu melalui pendekatan teknologi rekombinan DNA,
dengan memasukan gen virus hepatitis B pengkode HBsAg ke dalam sel ragi dan sel

mamalia. Selain itu, HBsAg juga dapat disekresi oleh E coli, namun jumlahnya relatif kecil,
demikian juga sifat antigeniknya.
a.

Virus yang dilemahkan (imunisasi)

Untuk menghasilkan vaksin dibutuhkan HBsAg yang berasal dari virus Hepatitis B, virus
diperbanyak dalam medium tertentu sehingga

nantinya dihasilkan virus yang tidak

menyebabkan penyakit namun mampu merangsang system imun. Strain ini selanjutnya
dikultur pada kondisi yang sesuai dan virusnya diinaktifkan melalui pemanasan dan proses
kimia. Tahapan berikutnya virus yang telah dilemahkan ini diinjeksikan ke dalam tubuh .

b.

Vaksin DNA rekombinan

Vaksin hepatitis B yang diproduksi sel ragi rekombinan telah menjalani pengujian
keamanan, imunogenisitas dan evaluasi klinis.Hasil menunjukkan bahwa vaksin ini aman,
antigenik dan relatif bebas efek samping yang merugikan, bahkan vaksin ini telah dilisensikan
dan diproduksi di berbagai negara.Salah satu keuntungan vaksin dari sel ragi dibanding dari
plasma yaitu siklus produksinya dapat dikurangi, dan konsistensi dari batch ke batch lebih
mudah diperoleh.

HBs Ag dilepaskan dari sel dengan homogeniser atau disruptionmenggunakan glass


bead.Pemurnian melalui tahap klarifikasi, ultrafiltrasi, kromatografi dan ultrasentrifugasi serta
diabsorbsi

dengan

alum

hidroksida;

sebagai

pengawet

ditambahkan

thiomerosal.

Karakterisisasi partikel dilakukan dengan membandingkan HBs Ag dari plasma antara lain
meliputi berat molekul, komposisi asam amino, densitas dalam CsC12 dan sebagainya.
Analisis imunologis menggunakan antibodi monoklonal memperlihatkan vaksin dari plasma
dan ragi mengandung epitop yang berperan menginduksi antibodi setelah vaksinasi.

Vaksin HBs Ag rekombinan juga diproduksi menggunakan sel mamalia yaitu sel Chinese
Hamster Ovary (CHO). Gen HBsAg dimasukkan ke dalam sel CHO dan sel ini dapat
mensintesis dan mensekresikan partikel HBs Ag 22 nm. Cell lineCHO'dapat mensintesis HBs
Ag 15 mcg/106 sel/hari. Bahkan bila cell line ditumbuhkan pada fase stasioner, mereka dapat

mensintesis secara terus menerus dan isolasi HB Ag dapat dilakukan berulang-ulang dari
supemat biakan sel selama 2 3 minggu. HBs Ag yang dimumikan dari supernatan biakan sel
CHO terdiri dari patikel 22 nm yang sangat homogen dan identik dengan HBs Ag dari serum
manusia.
Pada percobaan imunogenisitas pada guinea pig, temyata

50% binatang mempunyai

antibodi HBs sesudah imunisasi HBs Ag 1,5 ug dari sel CHO dan 2 ug HBs Ag dari serum
manusia. Pada simpanse, vaksin HBs Ag rekombinan dari sel CHO terlihat lebih imunogenik
daripada vaksin yang diperoleh dari ragi. Selain itu simpanse yang divaksinasi dengan vaksin
dari sel CHO mempunyai respon imun seluler dan binatang yang divaksinasi dengan HBs Ag
rekombinan (subtipe ad) terlindung dari infeksi virus HB subtipe ad dan ay
Pembuatan vaksin Hepatitis B dengan berbagai sumber yaitu:
a.
VAKSIN DARI PLASMA KARIER
Penggunaan vaksin hepatitis B yang diekstraksi dari plasma manusia dimulai sejak
keberhasilan penelitian Krugman dan koleganya tahun 1971.Mereka menggunakan serum
yang mengandung virus hepatitis B. Serum ini mereka encerkan 1:10 dan diinaktivasi panas
90o C selama 1 menit. Vaksinasi dilakukan pada 29 anak, hasilnya lebih dari separuh
terlindung dari infeksi hepatitis B. Pengembangan vaksin ini selanjutnya menggunakan
antigen lain untuk imunisasi aktif yaitu "Hepatitis B Surface Antigen" (HBsAg). Antigen ini
merupakan permukaan virus yang diambil dan dimumikan dari plasma manusia karier. Vaksin
HBsAg ini merupakan partikel 22 nm mumi, diinaktifasi panas, diadsorbsi alum dan bebas
dari asam nukleat; dimumikan melalui tahap presipitasi, ultrasentrifugasi, gelfiltrasi dan
afinitas kromatografi
Vaksin HBsAg mempunyai keamanan dan imunogenisitas baik.Setelah mengalami
berbagai perbaikan, lebih dari 30 juta dosis telah tersebar di dunia dan memperlihatkan
keamanan yang menggembirakan.Hal ini dicapai karena ketatnya inaktifasi dan purifikasi
untuk memusnahkan sumber infeksi serta pengujian kontrol kualitas untuk menjamin
kemurnian produk.
b.
VAKSIN DARI SEL YEAST DAN SEL MAMALIA
Kemajuan di bidang genetika molekuler dan kimia asam nukleat, telhh memungkinkan
identifikasi dan analisis gen pengkode substansi aktif, transfer di antara organisme dan
memproduksinya di bawah kondisi terkontrol. Gen pengkode produk tertentu dapat diisolasi

dan dibiakkan untuk memproduksi zat tersebut, dengan cara memasukkan molekul DNA
(alami atau sintetik) ke dalam vektor yang sesuai, kemudian dimasukkan ke dalam host.
Teknik rekombinan ini telah membuka jalan untuk mengembangkan produksi vaksin,
terutama sumber infeksi yang belum tersedia vaksinnya dan untuk meningkatkan vaksin yang
ada. Pendekatan baru terhadap perkembangan vaksin ini sangat berharga terutama untuk
mikroorganisme/virus yang tidak dapat dibialdcan dengan metoda yang ada, seperti virus
hepatitis B. Teknologi rekombinan DNA ini telah berhasil digunakan untuk memproduksi
HBs Ag dengan berbagai sel antara lain sel prokariot seperti E. coli dan B. subtilis, sel
eukariot seperti sel S. cerevisiae, sel CHO dan sebagainya
Vaksin hepatitis B yang diproduksi sel ragi rekombinan telah menjalani pengujian
keamanan, imunogenisitas dan evaluasi klinis. Hasilnya menunjukkan bahwa vaksin ini aman,
antigenik dan relatif bebas efek samping yang merugikan, bahkan vaksin ini telah
dilisensikan dan diproduksi di berbagai negara. Salah satu keuntungan vaksin dari sel ragi
dibanding dari plasma yaitu siklus produksinya dapat dikurangi, dan konsistensi dari batch ke
batch lebih mudah diperoleh.Bahkan antigen yang berasal dari sel ragi juga telah dicoba
disiapkan dalam bentuk micellar.Vaksin polipeptida micelle ini di dalam laboratorium
dilaporkan lebih antigenik.
HBsAg dilepaskan dari sel dengan homogeniser atau disruption menggunakan glass
bead.Pemurnian melalui tahap clarification, ultrafiltrasi, kromatografi dan ultrasentrifugasi
serta diabsorbsi dengan alum hidroksida; sebagai pengawet ditambahkan thiomerosal.
Karakterisisasi partikel dilakukan dengan membandingkan HBsAg dari plasma antara lain
meliputi berat molekul, kompisiii asam amino, densitas dalam CsC 12 dan sebagainya. Analisis
imunologis menggunakan antibodi monokional memperlihatkan vaksin dari plasma dan ragi
mengandung epitope yang berperan menginduksi antibodi setelah vaksinasi.
Vaksin HBsAg rekombinan juga diproduksi menggunakan sel mamalia yaitu sel Chinese
Hamster Ovary (CHO). Gen HBsAg dimasukkan ke dalam sel CHO dan sel ini dapat
mensintesis dan mensekresikan partikel HBsAg 22 nm. Cell line CHO'dapat mensintesis
HBsAg 15 mcg/106 sel/hari. Bahkan bila cell line Imunisasi dengan satu kali inokulasi
merupakan salah satu cara vaksinasi yang sangat didambakan terutama untuk vaksinasi masal
dengan populasi cukup besar. Saat ini para peneliti telah berusaha mendapatkan vaksin hidup
terhadap hepatitis B menggunakan virus vaccinia.Vaksin hidup ini sangat potensial dan telah

digunakan untuk memproduksi vaksin hepatitis B, herpes simpleks, rabies dan lain-lain di
dalam laboratorium.
Percobaan pendahuluan pada kelinci telah menyimpulkan bahwa penggunaan virus
vaccinia rekombinan untuk vaksinasi sangat mungkin.Karakteristik biofisik dan biokimia
partikel antigenik yang disekresikan oleh virus ini identik dengan HBsAg asli. Kelinci dan
binatang laboratorium lain yang diinokulasi dengan virus hibrida ini mampu memproduksi
anti-HBs. Simpanse yang divaksinasi dengan virus vaccinia rekombinan terlindung dari
infeksi virus hepatitis B.
Beberapa keuntungan virus vaccinia rekombinan untuk memproduksi vaksin antara lain
biaya produksinya relatif lebih rendah, cara vaksinasi relatif lebih mudah, stabilitas baik,
mempunyai shelf life panjang, tidak onkogenik dan tidak bersifat laten.
c.
VAKSIN POLIPEPTIDA DAN PEPTIDA SINTETIK
Partikel HBs Ag 22 nm telah terbukti merupakan imunogen yang baik, namun penelitian
lebih lanjut telah memperlihatkan bahwa komponen imunogenik tersebut mungkin merupakan
bagian dari HBs Ag komplek. Para ahli akhirnya dapat memperoleh 2 polipeptida dari partikel
HBs Ag murni.Kedua polipeptida mengandung determinan antigenik hepatitis B. Pertama
berupa polipeptida dengan BM 25.000 26.000 (P25) dan bentuk glikosilatnya dengan BM
28.000 30.000 (GP 30). Keduanya ternyata merupakan antigen yang efektif.Dari purifikasi
peptida ini akhirnya diperoleh antigen dalam bentuk micellar.
Pada pengujian potensi pada mencit, vaksin polipeptida subunit ini ternyata menimbulkan
respon antibodi lebih kuat daripada antigen partikel 22 nm utuh.Vaksin ini telah menjalani
pengujian keamanan dan efrkasi pada primata non manusia dan sedang dikembangkan untuk
uji klinis.Vaksin polipeptida micelle ini juga telah dibuat dari HBs Ag yang dihasilkan oleh sel
ragi dan sel mamalia rekombinan.
Keberhasilan isolasi polipeptida p25 dan gp30 dari HbsAg murni dan bukti bahwa
polipeptida tersebut mengandung determinan antigen yang mampu menginduksi anti HBs,
telah mendorong para ahli untuk mensintesis peptida tersebut secara kimia. Di samping itu,
dorongan juga diperkuat dengan keberhasilan peptida sintetik menginduksi antibodi penetral
bakteri dan virus tanaman.Vaksin peptida sintetik pertama tersebut dibuat untuk tobacco
mosaic, virus, sesudah mengidentifikasi determinan antigeniknya dan rangkaian asam
aminonya. Rangkaian asam amino tersebut ternyata dapat dibuat sintetik dan mampu
menginduksi antibodi dalam binatang percobaan.

Beberapa laboratorium akhirnya berhasil membuat peptida sintetik yang mengandung


rangkaian asam amino identik dengan molekul p25 HBs Ag.Respon antibodi terhadap peptida
ini muncul 1 2 minggu sesudah imunisasi primer dan semua binatang menginduksi antibodi
sesudah inokulasi kedua.Mencit yang diimunisasi secara intraperitoneal, menginduksi anti
HBs setelah 7 14 hari inokulasi.
Perkembangan vaksin polipeptida yang disintesis secara kimia memberikan banyak
keuntungan antara lain dapat memproduksi imunogen yang relatif murah, aman dan uniform
secara kimia, sehingga dapat menggantikan vaksin yang ada saat ini, yang relatif kurang
murni atau mungkin mengandung determinan antigen mikroba lain
4.
Orang-orang yang perlu mendapatkan vaksin
a.
Bayi yang baru lahir
b.
Anak-anak yang berusia di bawah 19 tahun yang belum divaksinasi
c.
Orang yang memiliki pasangan yang terinveksi HVB
d.
Orang yang sering berganti pasangan
e.
Pekerja kesehatan
f.Penderita HIV dan Liver kronik
g.
Wisatawan yang akan berkunjung ke daerah endemik
5.
Jenis-jenis vaksin Hepatitis B
Secara umum Ada dua macam vaksin Hepatitis B, yaitu :
1.
Vaksin Hepatitis yang terbuat dari darah manusia yang telah kebal Hepatitis B,
disuntikkan kepada orang sehat sekali sebulan sebanyak 3 kali (Immunoglobulin Hepatitis B)
2.
Vaksin Hepatitis yang dibuat dari perekayasaan sel ragi (Recombivax, HB dan
Engerix-B), diberikan kepada penderita sebulan sekali sebanyak 2 kali, lalu suntikan yang
ketiga diberi 5 bulan kemudian.
Vaksin Hepatitis B rekombinan (Recombivax HB)
Recombivax HB vaccine mengandung antigen Hepatitis B, amorphous aluminum
hidroksiphosfat,

yeast protein yang diberi formaldehid,

dan thimerosal sebagai

pengawet.
Vaksin Hepatitis B rekombinan ini berasal dari Hepatitis B surface antigen (HBsAg) yang
diproduksi dalam sel yeast. Bagian virus yang mengkode HBsAg dimasukkan ke dalam yeast,
dan selanjutnya dikultur.Antigen kemudian dipanen dan dipurifikasi dari kultur fermentasi
yeast Saccharomyces cereviceae, antigen HBsAg mengandung gen adw subtype. Proses
fermentasi meliputi pertumbuhan Saccharomyces cereviceae pada medium kompleks yang
mengandung ekstrak Yeast, soy pepton, dextrose, asam amino, dan garam mineral. Protein
dilepaskan dari sel yeast melalui pengrusakan sel kemudian dipurifikasi dengan metode fisika

dan kimia. Selanjutnya

potein dimasukkan ke larutan buffer posfat dan formaldehid,

dipercepat dengan menggunakan alum (potassium aluminium sulfat). Vaksin rekombinan ini
memperlihatkan kesamaan dengan vaksin yang diperoleh dari plasma darah.
Vaksin Hepatitis B rekombinan (Engerix-B)
Engerix-B merupakan DNA rekombinan yang dikembangkan dan dibuat oleh perusahaan
GlaxoSmithKline Biological.Mengandung antigen permukaan virus Hepatitis B (HBsAg)
yang telah dipurifikasi dan dikultur dalam sel Saccharomyces cereviceae.HBsAg yang
diekspresikan oleh Saccharomyces cereviceae dipurifikasi dengan cara fisika-kimia dan
aluminium hidroksida
Engerix-B vaccine mengandung antigen hepatitis B yang telah dimurnikan, aluminum
hidroksida, sejumlah yeast protein dan thimerosal yang digunakan dalam proses produksi,
serta 2-phenoxyethanol sebagai pengawet.
Dosis pemberian vaksin Engerix-B
Remaja : 0,5 ml vaksin mengandung 10 mcg HBsAg dan 0,25 mg aluminium hidroksida.
Formula pediatrik mengandung sodium klorida (9 ml /ml) dan buffer posfat

(disodium

phosfat dyhidrate 0,9 mg/ml; sodium dihidrogen phosfat dihidrate 0,71 mg/ml)
Dewasa : 1 ml vaksin mengandung 20 mcg HBsAg dan 0,25 mg aluminium hidroksida.
Formula pediatrik mengandung sodium klorida (9 ml /ml) dan buffer posfat

(disodium

phosfat dyhidrate 0,9 mg/ml; sodium dihidrogen phosfat dihidrate 0,71 mg/ml)
Dosis pemberian vaksin pada manusia

Infants

and

Recombivax HB
Dose (mcg)
0.5 mL (5)

Engerix-B
Dose (mcg)
0.5 mL (10)

children

Umu

<11 years of age


Adolescents 11-

0.5 mL (5)

0.5 mL (10)

1.0 mL (10)

1.0 mL (20)

19 years
Adults >20 years

Umumnya vaksin hepatitis diberikan pada bayi (sampai usia 12 bulan )melalui injeksi pada
otot paha dan lengan atas pada anak-anak (Poland and Jacobson, 2009). Vaksin Hepatitis B
tidak mengandung komponen hidup, aman diberikan kepada bayi yang baru lahir, anak-anak
dan orang dewasa.Efek dari pemberian vaksin ini adalah pembengkakan pada daerah injeksi
dan demam pada bayi.
Pemberian vaksin Hepatitis B pada manusia dapat dikombinasikan dengan vaksin untuk
penyakit lain misalnya Twinrx (komb. Hepatitis A) atau Pediarix (diphtheria, pertussis,
tetanus dan polio) (Chang, 2000).
Perkembangan vaksin hepatitis B
Saat ini pemberian vaksin tidak terbatas hanya pada injeksi ke dalam otot tetapi telah
berkembang melalui makanan.Di Amerika Serikat dikembangkan tanaman kentang yang
mengandung vaksin Hepatitis B (Isbagyo, 2005). Penelitian pada tahun 1992 menunjukkan
bahwa tanaman tembakau dapat mengekspresikan vaksin hepatitis B.dan juga akan
dikembangkan penggunaan kedelai dan pisang sebagai vektor vaksin.

1. Dienstag, Jules L. Viral Hepatitis. Kasper, Braunwald, Fauci, et all. In Harrisons :


Principles of Internal Medicine : 1822-37. McGraw-Hill, Medical Publishing
Division, 2008.
2. Isselbacher, Kurt. Hepatology. Thomas D Boyer MD, Teresa L Wright MD, Michael
P Manns MD A Textbook of Liver Disease. Fifth Edition. Saunders Elsevier. Canada.
2006