Anda di halaman 1dari 14

PENGERTIAN SAMPAH MEDIS

Sampah pada dasarnya merupakan suatu bahan yang terbuang atau di buang dari
suatu sumber hasil aktivitas manusia maupun proses-proses alam yang tidak
mempunyai nilai ekonomi, bahkan dapat mempunyai nilai ekonomi yang negatif
karena dalam penanganannya baik untuk membuang atau membersihkannya
memerlukan biaya yang cukup besar.
Sampah adalah bahan yang tidak mempunyai nilai atau tidak berharga untuk
maksud biasa atau utama dalam pembikinan atau pemakaian barang rusak atau
bercacat dalam pembikinan manufktur atau materi berkelebihan atau ditolak atau
buangan (Kementerian Lingkungan Hidup, 2005).
Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia yang disebut sebagai sampah
medis adalah berbagai jenis buangan yang dihasilkan rumah sakit dan unit-unit
pelayanan kesehatan yang dapat membahayakan dan menimbulkan gangguan
kesehataan bagi manusia, yakni pasien maupun masyarakat.
Sampah yang secara potensial menularkan penyakit memerlukan penanganan
dapat pembuangan, dan beberapa teknologi non-insinerator mampu mendisinfeksi
sampah medis ini. Teknologi-teknologi ini biasanya lebih murah, secara teknis tidak
rumit dan rendah pencemarannya bila dibandingkan dengan insinerator.
Banyak jenis sampah yang secara kimia berbahaya, termasuk obat-obatan, yang
dihasilkan oleh fasilitas-fasilitas kesehatan. Sampah-sampah tersebut tidak sesuai
diinsinerasi. Beberapa, seperti merkuri, harus dihilangkan dengan cara merubah
pembelian bahan-bahan; bahan lainnya dapat didaur-ulang; selebihnya harus
dikumpulkan dengan hati-hati dan dikembalikan ke pabriknya. Studi kasus
menunjukkan bagaimana prinsip-prinsip ini dapat diterapkan secara luas di berbagai
tempat, seperti di sebuah klinik bersalin kecil di India dan rumah sakit umum besar di
Amerika. Sampah hasil proses industri biasanya tidak terlalu banyak variasinya
seperti sampah domestik atau medis, tetapi kebanyakan merupakan sampah yang
berbahaya secara kimia.
JENIS SAMPAH MEDIS
Secara umum, jenis sampah dapat dibagi 2, yaitu sampah organik (biasa disebut
sebagai sampah basah) dan sampah anorganik (sampah kering). Sampah basah adalah
sampah yang berasal dari makhluk hidup, seperti daun-daunan, sampah dapur, dll.

Sampah jenis ini dapat terdegradasi (membusuk/hancur) secara alami. Sebaliknya


dengan sampah kering, seperti kertas, plastik, kaleng, dan lain-lain. Sampah jenis ini
tidak dapat terdegradasi secara alami.
Pada umumnya, sebagian besar sampah yang dihasilkan di Indonesia merupakan
sampah basah, yaitu mencakup 60-70% dari total volume sampah. Selain itu, terdapat
jenis sampah atau limbah dari alat-alat pemeliharaan kesehatan.
Beberapa diantaranya sangat mahal biaya penanganannya karena berupa bahan
kimia berbahaya, seperti obat-obatan, yang dihasilkan oleh fasilitas-fasilitas
kesehatan. Namun demikian tidak semua sampah medis berpotensi menular dan
berbahaya. Sejumlah sampah yang dihasilkan oleh fasilitas-fasilitas medis hampir
serupa dengan sampah domestik atau sampah kota pada umumnya. Sementara sampah
hasil proses industri biasanya tidak terlalu banyak variasinya seperti sampah domestik
atau medis, tetapi kebanyakan merupakan sampah yang berbahaya secara kimia.
Limbah klinis berasal dari pelayanan medis, perawatan, gigi, veterinary, farmasi
atau yang sejenisnya serta limbah yang dihasilkan rumah sakit pada saat dilakukan
perawatan,

pengobatan

atau

penelitian.

Berdasarkan

potensi

bahaya

yang

ditimbulkannya limbah klinis dapat digolongkan dalam limbah benda tajam,


infeksius, jaringan tubuh, citotoksik, farmasi, kimia, radio aktif dan limbah plastik.
1 Sampah Benda Tajam
Sampah benda tajam adalah obyek atau alat yang memiliki sudut tajam, sisi, ujung
atau bagian menonjol yang dapat memotong atau menusuk kulit. Misalnya : jarum
hipodermik, perlengkapan intervena, pipet pasteur, pecahan gelas, pisau bedah. Selain
itu meliputi benda-benda tajam yang terbuang yang mungkin terkontaminasi oleh
darah, cairan tubuh, bahan mikrobiologi, bahan beracun atau radio aktif.
a.

Sampah Infeksius
Sampah infeksius merupakan limbah yang dicurigai mengandung bahan pathogen.
Sampah infeksius meliputi limbah yang berkaitan dengan pasien yang memerlukan
isolasi penyakit menular serta limbah laboratorium yang berkaitan dengan
pemeriksaan mikrobiologi dari poliklinik, ruang perawatan dan ruang isolasi penyakit
menular. Yang termasuk limbah jenis ini antara lain : sampah mikrobiologis, produk
sarah manusia, benda tajam, bangkai binatang terkontaminasi, bagian tubuh, sprei,
limbah raung isolasi, limbah pembedahan, limbah unit dialisis dan peralatan
terkontaminasi

(medical

wast).

b.

Sampah Jaringan Tubuh (Patologis)


Sampah jaringan tubuh meliputi jaringan tubuh, organ, anggota badan, placenta,
darah dan cairan tubuh lain yang dibuang saat pembedahan dan autopsi. Sampah
jaringan tubuh tidak memerlukan pengesahan penguburan dan hendaknya dikemas
khusus, diberi label dan dibuang ke incinerator.

c.

Sampah Citotoksik
Sampah citotoksik

adalah

bahan

yang

terkontaminasi

atau

mungkin

terkontaminasi obat citotoksik selama peracikan, pengangkutan atau tindakan terapi


citotoksik. Sampah yang terdapat sampah citotoksik didalamnya harus dibakar dalam
incinerator dengan suhu diatas 1000C.
d.

Sampah Farmasi
Sampah farmasi berasal dari : obat-obatan kadaluwarsa, obat-obatan yang
terbuang karena batch tidak memenuhi spesifikasi atau telah terkontaminasi, obatobatan yang terbuang atau dikembalikan oleh pasien, obat-obatan yang sudah tidak
dipakai lagi karena tidak diperlukan dan limbah hasil produksi obat-obatan.

e.

Sampah Kimia
Sampah kimia dihasilkan dari penggunaan kimia dalam tindakan medis, vetenary,
laboratorium, proses sterilisasi dan riset. Limbah kimia juga meliputi limbah farmasi
dan limbah citotoksik.

f.

Limbah Radio Aktif


Limbah radioaktif adalah bahan yang terkontaminasi dengan radio isotop yang
berasal dari penggunaan medis atau riset radionucleida. Asal limbah ini antara lain
dari tindakan kedokteran nuklir, radioimmunoassay dan bakteriologis yang daapt
berupa

g.

padat,

cair

dan

gas.

Sampah Plastik
Limbah plastik adalah bahan plastik yang dibuang oleh klinik, rumah sakit dan
sarana pelayanan kesehatan lain seperti barang-barang dissposable yang terbuat dari
plastik dan juga pelapis peralatan dan perlengkapan medis.
PENGARUH SAMPAH TERHADAP KESEHATAN

a.

Efek langsung : efek yang disebabkan karena kontak langsung dengan sampah,
misalnya : sampah beracun ; sampah yang korosif terhadap tubuh yang karsinogenik,
teragonik, sampah yang mengandung kuman pathogen (berasal dari sampah rumah

b.

tangga dan industri).


Efek tidak langsung : dapat dirasakan masyarakat akibat proses : pembusukan,
pembakaran, pembuangan sampah secara sembarangan, penyakit bawaan vector yang
berkembang biak didalam sampah ( lalat dan tikus).
PRINSIP PENANGANAN SAMPAH
Prinsip-prinsip yang dapat diterapkan dalam penangan sampah misalnya dengan
menerapkan prinsip 3-R, 4-R atau 5-R. Penanganan sampah 3-R adalah konsep
penanganan sampah dengan cara reduce (mengurangi), reuse (menggunakan kembali),
recycle (mendaur-ulang sampah), sedangkan 4-R ditambah replace (mengganti) mulai
dari sumbernya. Prinsip 5-R selain 4 prinsip tersebut di atas ditambah lagi dengan
replant (menanam kembali). Penanganan sampah 4-R sangat penting untuk
dilaksanakan dalam rangka pengelolaan sampah padat perkotaan yang efisien dan
efektif, sehingga diharapkan dapat mengrangi biaya pengelolaan sampah.

a.

Reduce (Mengurangi)
Sebisa mungkin lakukan minimalisasi barang atau material yang kita
pergunakan. Semakin banyak kita menggunakan material, semakin banyak sampah
yang dihasilkan.

b.

Reuse (Memakai kembali)


Sebisa mungkin pilihlah barang-barang yang bisa dipakai kembali. Hindari
pemakaian barang-barang yang disposable (sekali pakai, buang). Hal ini dapat
memperpanjang waktu pemakaian barang sebelum ia menjadi sampah.

c.

Recycle (Mendaur ulang)


Sebisa mungkin, barang-barang yg sudah tidak berguna lagi, bisa didaur
ulang. Tidak semua barang bisa didaur ulang, namun saat ini sudah banyak industri
non-formal dan industri rumah tangga yang memanfaatkan sampah menjadi barang
lain.

d.

Replace ( Mengganti)

Teliti barang yang kita pakai sehari-hari. Gantilah barang barang yang hanya bisa
dipakai sekali dengan barang yang lebih tahan lama. Juga telitilah agar kita hanya
memakai barang-barang yang lebih ramah lingkungan, Misalnya, ganti kantong
keresek kita dengan keranjang bila berbelanja, dan jangan pergunakan styrofoam
karena kedua bahan ini tidak bisa didegradasi secara alami.
KONSEP PENGELOLAAN SAMPAH
Terdapat beberapa konsep tentang pengelolaan sampah yang berbeda dalam
penggunaannya, antara negara-negara atau daerah. Beberapa yang paling umum,
banyak-konsep yang digunakan adalah:
a.

Hirarki Sampah
Hirarki sampah merujuk kepada " 3 M "

yakni; mengurangi sampah,

menggunakan kembali sampah dan mendaur ulang, yang mengklasifikasikan strategi


pengelolaan sampah sesuai dengan keinginan dari segi minimalisasi sampah. Hirarki
limbah yang tetap menjadi dasar dari sebagian besar strategi minimalisasi sampah.
Tujuan limbah hirarki adalah untuk mengambil keuntungan maksimum dari
produk-produk praktis dan untuk menghasilkan jumlah minimum limbah.
b. Perpanjangan tanggung jawab penghasil sampah / Extended Producer Responsibility
(EPR)
(EPR) adalah suatu strategi yang dirancang untuk mempromosikan integrasi
semua biaya yang berkaitan dengan produk-produk mereka di seluruh siklus hidup
(termasuk akhir-of-pembuangan biaya hidup) ke dalam pasar harga produk.
Tanggung jawab produser diperpanjang dimaksudkan untuk menentukan akuntabilitas
atas seluruh Lifecycle produk dan kemasan diperkenalkan ke pasar. Ini berarti
perusahaan yang manufaktur, impor dan / atau menjual produk diminta untuk
bertanggung jawab atas produk mereka berguna setelah kehidupan serta selama
manufaktur.
c.

Prinsip pengotor membayar


Prinsip pengotor membayar adalah prinsip di mana pihak pencemar membayar
dampak akibatnya ke lingkungan. Sehubungan dengan pengelolaan limbah, ini
umumnya merujuk kepada penghasil sampah untuk membayar sesuai dari
pembuangan.

PENGELOLAAN DAN PENANGGULANGAN SAMPAH MEDIS


Pengelolaan sampah terdiri dari pengumpulan, pengangkutan, pemprosesan,
pendaur-ulangan, atau pembuangan dari material sampah. Kalimat ini biasanya
mengacu pada material sampah yang dihasilkan dari kegiatan manusia, dan biasanya
dikelola untuk mengurangi dampaknya terhadap kesehatan, lingkungan atau
keindahan. Pengelolaan sampah juga dilakukan untuk memulihkan sumber daya alam.
Pengelolaan sampah bisa melibatkan zat padat, cair, gas, atau radioaktif dengan
metoda dan keahlian khusus untuk masing-masing jenis zat.
Praktik pengelolaan sampah berbeda beda antara negara maju dan negara
berkembang, berbeda juga antara daerah perkotaan dengan daerah pedesaan, berbeda
juga antara daerah perumahan dengan daerah industri. Pengelolaan sampah yang tidak
berbahaya dari pemukiman dan institusi di area metropolitan biasanya menjadi
tanggung jawab pemerintah daerah, sedangkan untuk sampah dari area komersial dan
industri biasanya ditangani oleh perusahaan pengolah sampah.
Metode pengelolaan sampah berbeda beda tergantung banyak hal, diantaranya
tipe zat sampah, tanah yang digunakan untuk mengolah dan ketersediaan area.
Pengelolaan sampah medis akan memiliki penerapan pelaksanaan yang berbeda-beda
antar fasilitas-fasilitas kesehatan, yang umumnya

terdiri dari penimbulan,

penampungan, pengangkutan, pengolahan dan pembuangan.


Penimbunan ( Pemisahan Dan Pengurangan )
Proses pemilahan dan reduksi sampah hendaknya merupakan proses yang
kontinyu yang pelaksanaannya harus mempertimbangkan : kelancaran penanganan
dan penampungan sampah, pengurangan volume dengan perlakuan pemisahan limbah
B3
(bahan berbahaya dan beracun seperti baterai bekas, bekas toner, dan sebagainya),
dan non B3 serta menghindari penggunaan bahan kimia B3, pengemasan dan
pemberian label yang jelas dari berbagai jenis sampah untuk efisiensi biaya, petugas
dan pembuangan.
Penampungan
Penampungan sampah ini merupakan wadah yang memiliki sifat kuat, tidak
mudah bocor atau berlumut, terhindar dari sobek atau pecah, mempunyai tutup dan
tidak overload. Penampungan dalam pengelolaan sampah medis dilakukan perlakuan

standarisasi kantong dan kontainer seperti dengan menggunakan kantong yang


bermacam

warna

seperti

telah

ditetapkan

dalam

Permenkes

RI

no.

986/Men.Kes/Per/1992 dimana kantong berwarna kuning dengan lambang biohazard


untuk sampah infeksius, kantong berwarna ungu dengan simbol citotoksik untuk
limbah citotoksik, kantong berwarna merah dengan simbol radioaktif untuk limbah
radioaktif dan kantong berwarna hitam dengan tulisan domestik.
Pengangkutan
Pengangkutan dibedakan menjadi dua yaitu pengangkutan intenal dan
eksternal. Pengangkutan internal berawal dari titik penampungan awal ke tempat
pembuangan atau ke incinerator (pengolahan on-site). Dalam pengangkutan internal
biasanya digunakan kereta dorong sebagai yang sudah diberi label, dan dibersihkan
secara berkala serta petugas pelaksana dilengkapi dengan alat proteksi dan pakaian
kerja khusus.
Pengangkutan eksternal yaitu pengangkutan sampah medis ketempat
pembuangan di luar (off-site). Pengangkutan eksternal memerlukan prosedur
pelaksanaan yang tepat dan harus dipatuhi petugas yang terlibat. Prosedur tersebut
termasuk memenuhi peraturan angkutan lokal. Sampah medis diangkut dalam
kontainer khusus, harus kuat dan tidak bocor.
Beberapa diantara sampah medis sangat mahal biaya penanganannya karena
berupa bahan kimia berbahaya, seperti obat-obatan yang dihasilkan oleh fasilitasfasilitas kesehatan. Namun demikian tidak semua sampah medis berpotensi menular
dan berbahaya.
Sejumlah sampah yang dihasilkan oleh fasilitas-fasilitas medis hampir serupa
dengan sampah domestik atau sampah kota pada umumnya. Sementara sampah hasil
proses industri biasanya tidak terlalu banyak variasinya seperti sampah domestik atau
medis, tetapi kebanyakan merupakan sampah yang berbahaya secara kimia.
Pengolahan dan Pembuangan
Metode yang digunakan untuk mengolah dan membuang sampah medis
tergantung pada faktor-faktor khusus yang sesuai dengan institusi yang berkaitan
dengan peraturan yang berlaku dan aspek lingkungan yang berpengaruh terhadap
masyarakat. Teknik pengolahan sampah medis (medical waste) yang mungkin
diterapkan adalah :
a. Incinerasi

b. Sterilisasi dengan uap panas/ autoclaving (pada kondisi uap jenuh C) bersuhu 121
c. Sterilisasi dengan gas (gas yang digunakan berupa ethylene oxide atau
formaldehyde)
d. Desinfeksi zat kimia dengan proses grinding (menggunakan cairan kimia sebagai
desinfektan)
e. Inaktivasi suhu tinggi
f. Radiasi (dengan ultraviolet atau ionisasi radiasi)
g. Microwave treatment
h. Grinding dan shredding (proses homogenisasi bentuk atau ukuran sampah)
i. Pemampatan/ pemadatan, dengan tujuan untuk mengurangi volume yang terbentuk
Limbah cair yang dihasilkan dari sebuah rumah sakit umumnya banyak
mengandung bakteri, virus, senyawa kimia, dan obat-obatan yang dapat
membahayakan bagi kesehatan masyarakat sekitar rumah sakit tersebut. Dari sekian
banyak sumber limbah di rumah sakit, limbah dari laboratorium paling perlu
diwaspadai.
Bahan-bahan kimia yang digunakan dalam proses uji laboratorium tidak bisa
diurai hanya dengan aerasi atau activated sludge. Bahan-bahan itu mengandung logam
berat dan inveksikus, sehingga harus disterilisasi atau dinormalkan sebelum
dilempar menjadi limbah tak berbahaya. Untuk foto rontgen misalnya, ada cairan
tertentu yang mengandung radioaktif yang cukup berbahaya. Setelah bahan ini
digunakan. limbahnya dibuang.
Banyak pihak yang menyadari tentang bahaya ini. Namun, lemahnya
peraturan pemerintah tentang pengelolaan limbah rumah sakit mengakibatkan hingga
saat ini hanya sedikit rumah sakit yang memiliki IPAL khusus pengolahan limbah
cairnya.
Berikut adalah beberapa cara untuk menanggulangi sampah medis maupun
sampah benda tajam antara lain :
1.

Penanganan Sampah Medis Cair yang Terkontaminasi ( darah, feses, urin dan
cairan tubuh lainnya.
a. Gunakan sarung tangan tebal ketika menangani dan membawa sampah tersebut.
b. Hati-hati pada waktu menuangkan sampah tersebut pada bak yang mengalir atau
dalam toilet bilas. Sampah cair dapat pula dibuang kedalam kakus. Hindari
percikannya.

c. Cuci toilet dan bak secara hati-hati dan siram dengan air untuk membersihkan sisasisa sampah. Hindari percikannya.
d. Dekontaminasi wadah specimen dengan larutan klorn 0,5 % atau disenfeksi local
lainnya yang adekuat, dengan merendam selama 10 menit sebelum dicuci.
e. Cuci tangan sesudah menangani sampah cair dan lakukan dekontaminasi, kemudian
cuci sarung tangan.
2. Penanganan Sampah Medis Padat (Misalnya pembalut yang sudah digunakan
dan benda-benda lainnya yang telah terkontaminasi dengan darah atau materi
organic lainnya.
a. Gunakan sarung tangan tebal ketika menangani dan membawa sampah tersebut.
b. Buang sampah padat tersebut ke dalam wadah yang dapat dicuci dan tidak korosif
(plastic atau metal yang berlapis seng) dengan tutup yang rapat.
c. Kumpulkan tempat sampah tersebut ditempat yang sama dan bawa sampah-sampah
yang dapat dibakar ke tempat pembakaran. Jika tempat pembakaran tidak tersedia
maka bisa dilakukan penguburan saja.
d. Melakukan pembakaran atau penguburan harus segera dilakukan sebelum tersebar ke
lingkungan

sekitar. Pembakaran

adalah

metode

terbaik

untuk

membunuh

mikroorganisme.
e. Cuci tangan setelah menangani sampah tersebut dan dekontaminasi serta cuci sarung
tangan yang tadi dipakai saat membersihkan sampah tersebut.
3.

Penanganan Sampah Medis berupa Benda Tajam (Jarum, silet, mata pisau dan
lain-lain)

a.

Gunakan sarung tangan tebal.

b.

Buang seluruh benda-benda yang tajam pada tempat sampah yang tahan pecah.
Tempat sampah yang tahan pecah dan tusukan dapat dengan mudah dibuat
menggunakan karton tebal, ember tertutup, atau botol plastic yang tebal. Botol bekas
cairan infus juga dapat digunakan untuk sampah-sampah yang tajam, tapi dengan
resiko pecah.

c.

Letakkan tempat sampah tersebut dekat dengan daerah yang memerlukan sehingga
sampah-sampah tajam tersebut tidak perlu dibawa terlalu jauh sebelum dibuang.

d.

Cegah kecelakaan yang diakibatkan oleh jarum suntik, jangan menekuk atau
mematahkan jarum sebelum dibuang. Jarum tidak secara rutin ditutup, tetapi jika
dibutuhkan, dapat diusahakan dengan metode satu tangan.

Letakkan tutup pada permukaan yang datar dank eras, kemudian pindahkan ke
tangan.

Kemudian dengan satu tangan, pegang alat suntik dan gunakan jarumnya untuk

menyendok tutup tersebut.


Jika tutup sudah menutup jarum suntik, gunakan tangan yang lain untuk merapatkan
tutup tersebut.

e.

Jika wadah untuk sampah benda tajam telah penuh, tutp atau sumbat dengan kuat.

f.

Buang wadah yang sudah penuh tersebut dengan cara menguburnya. Jarum dan
benda-benda tajam lainnya tidak dapat dapat dihancurkan dengan membakarnya dan
kemudian hari dapat menyebabkan luka dan mengakibatkan infeksi yang serius.
Pembakaran atau membakarnya dalam suatu wadah, dapat mengurangi kemungkinan,
sampah tersebut dikorek-korek dalam tempat sampah.

g.

Cuci tangan sesudah mengolah wadah sampah benda tajam tersebut kemudian
dekontaminasi dan cuci tangan.

4. Membuang Wadah Kimia yang Telah Digunakan


a. Cuci wadah dengan air wadah gelas dapat dicuci dengan diterjen, bilas dengan benarb.

benar bersih dan kemudian bisa digunakan kembali.


Untuk wadah-wadah plastic yang berisi zat-zat toksik, misalnya glutaraldehid, bilas
tiga kali dengan air kemudian buang dengan cara menguburnya. Jangan pernah
menggunakan wadah tersebut untuk dipakai kembali setelah dibersihkan.

TEKNOLOGI DALAM PENANGANAN SAMPAH MEDIS


Teknologi pengolahan limbah medis yang sekarang sering dioperasikan hanya
berkisar antara masalah tangki septik dan insinerator. Keduanya sekarang terbukti
memiliki nilai negatif besar. Tangki septik banyak dipersoalkan lantaran rembesan air
dari tangki yang dikhawatirkan dapat mencemari tanah. Terkadang ada beberapa
rumah sakit yang membuang hasil akhir dari tangki septik tersebut langsung ke
sungai-sungai, sehingga dapat dipastikan sungai tersebut mulai mengandung zat
medis.
Sedangkan insinerator, yang menerapkan teknik pembakaran pada sampah
medis, juga bukan berarti tanpa cacat. Badan Perlindungan Lingkungan AS
menemukan teknik insenerasi merupakan sumber utama zat dioksin yang sangat
beracun. Penelitian terakhir menunjukkan zat dioksin inilah yang menjadi pemicu
tumbuhnya kanker pada tubuh.
Hal yang sangat menarik dari permasalahan ini adalah ditemukaannya
teknologi pengolahan limbah dengan metode ozonisasi. Salah satu metode sterilisasi

limbah cair rumah sakit yang direkomendasikan United States Environmental


Protection Agency (U.S.EPA) tahun 1999. Teknologi ini sebenarnya dapat juga
diterapkan untuk mengelola limbah pabrik tekstil, cat, kulit, dan lain-lain.
a. Insenator
Insenerasi adalah proses dengan suhu tinggi untuk mengurangi isi dan berat
sampah. Proses ini biasanya dipilih untuk menangani sampah yang tidak dapat didaur
ulang atau dibuang ke tempat pembuangan sampah atau tempat kebersihan perataan
tanah.
Cara pemakaian insenerator tong yang sederhana untuk pembuangan sampah
adalah sebagai berikut :
Langkah 1

: jika mungkin, pilihlah lokasi searah angin menjauhi klinik.

Langkah 2

: buatlah insenerator sederhana dengan bahan-bahan local seperti tanah atau lumpur
atau drum bekas minyak (misalnya ukuran tong 220 liter)

Langkah 3

: pastikan bahwa insenerator mempunyai :

Cukup inlet udara dibawahnya untuk pembakaran yang baik.


Untuk memudahkan perluasan, kendurkan susunan batang besi api
Bukaan cukup untuk memasukkan sampah baru dan membuang abu
Cerobong asap cukup panjang untuk memudahkan saluran udara dan pembuangan
asap dengan baik.
Langkah 4

: tempatkan drum pada dasar yang cukup keras untuk dasar konkrit.

Khusus untuk incinerator, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan apabila
incinerator akan digunakan di rumah sakit antara lain : ukuran, desain, kapasitas yang
disesuaikan dengan volume sampah medis yang akan dibakar dan disesuaikan pula
dengan pengaturan pengendalian pencemaran udara, penempatan lokasi yang
berkaitan dengan jalur pengangkutan sampah dalam kompleks rumah sakit dan jalur
pembuangan abu, serta perangkap untuk melindungi incinerator dari bahaya
kebakaran.
Keuntungan menggunakan incinerator adalah dapat mengurangi volume sampah,
dapat membakar beberapa jenis sampah termasuk sampah B3 (toksik menjadi non
toksik, infeksius menjadi non infeksius), lahan yang dibutuhkan relatif tidak luas,
pengoperasinnya tidak tergantung pada iklim, dan residu abu dapat digunakan untuk
mengisi tanah yang rendah.

Sedangkan kerugiannya adalah tidak semua jenis sampah dapat dimusnahkan


terutama sampah dari logam dan botol, serta dapat menimbulkan pencemaran udara
bila tidak dilengkapi dengan pollution control berupa cyclon (udara berputar) atau bag
filter (penghisap debu).
Hasil pembakaran berupa residu serta abu dikeluarkan dari incinerator dan
ditimbun dilahan yang rendah. Sedangkan gas/pertikular dikeluarkan melalui
cerobong setelah melalui sarana pengolah pencemar udara yang sesuai.
b. Ozonisasi
Proses ozonisasi telah dikenal lebih dari seratus tahun yang lalu. Proses
ozonisasi atau proses dengan menggunakan ozon pertama kali diperkenalkan Nies
dari Prancis sebagai metode sterilisasi pada air minum pada tahun 1906. Penggunaan
proses ozonisasi kemudian berkembang sangat pesat.
Dalam kurun waktu kurang dari 20 tahun terdapat kurang lebih 300 lokasi
pengolahan air minum menggunakan ozonisasi untuk proses sterilisasinya di Amerika.
Dewasa ini, metode ozonisasi mulai banyak dipergunakan untuk sterilisasi bahan
makanan, pencucian peralatan kedokteran, hingga sterilisasi udara pada ruangan kerja
di perkantoran. Luasnya penggunaan ozon ini tidak terlepas dari sifat ozon yang
dikenal memiliki sifat radikal (mudah bereaksi dengan senyawa disekitarnya) serta
memiliki oksidasi potential 2.07 V. Selain itu, ozon telah dapat dengan mudah dibuat
dengan menggunakan plasma seperti corona discharge.
Melalui proses oksidasinya pula ozon mampu membunuh berbagai macam
mikroorganisma seperti bakteri Escherichia coli, Salmonella enteriditis, Hepatitis A
Virus serta berbagai mikroorganisma patogen lainnya (Crites, 1998). Melalui proses
oksidasi langsung ozon akan merusak dinding bagian luar sel mikroorganisma (cell
lysis) sekaligus membunuhnya. Juga melalui proses oksidasi oleh radikal bebas
seperti hydrogen peroxy (HO2) dan hydroxyl radical (OH) yang terbentuk ketika ozon
terurai dalam air. Seiring dengan perkembangan teknologi, dewasa ini ozon mulai
banyak diaplikasikan dalam mengolah limbah cair domestik dan industri.
c. Ozonisasi Limbah Cair Rumah Sakit
Limbah cair yang berasal dari berbagai kegiatan laboratorium, dapur, laundry,
toilet, dan lain sebagainya dikumpulkan pada sebuah kolam equalisasi lalu
dipompakan ke tangki reaktor untuk dicampurkan dengan gas ozon. Gas ozon yang

masuk dalam tangki reaktor bereaksi mengoksidasi senyawa organik dan membunuh
bakteri patogen pada limbah cair.
Limbah cair yang sudah teroksidasi kemudian dialirkan ke tangki koagulasi
untuk dicampurkan koagulan. Lantas proses sedimentasi pada tangki berikutnya. Pada
proses ini, polutan mikro, logam berat dan lain-lain sisa hasil proses oksidasi dalam
tangki reaktor dapat diendapkan.
Selanjutnya dilakukan proses penyaringan pada tangki filtrasi. Pada tangki ini
terjadi proses adsorpsi, yaitu proses penyerapan zat-zat pollutan yang terlewatkan
pada proses koagulasi. Zat-zat polutan akan dihilangkan permukaan karbon aktif.
Apabila seluruh permukaan karbon aktif ini sudah jenuh, atau tidak mampu lagi
menyerap maka proses penyerapan akan berhenti,
dan pada saat ini karbon aktif harus diganti dengan karbon aktif baru atau didaur
ulang dengan cara dicuci. Air yang keluar dari filter karbon aktif untuk selanjutnya
dapat dibuang dengan aman ke sungai.
Ozon akan larut dalam air untuk menghasilkan hidroksil radikal (-OH), sebuah
radikal bebas yang memiliki potential oksidasi yang sangat tinggi (2.8 V), jauh
melebihi ozon (1.7 V) dan chlorine (1.36 V). Hidroksil radikal adalah bahan oksidator
yang dapat mengoksidasi berbagai senyawa organik (fenol, pestisida, atrazine, TNT,
dan sebagainya).
Sebagai contoh, fenol yang teroksidasi oleh hidroksil radikal akan berubah menjadi
hydroquinone, resorcinol, cathecol untuk kemudian teroksidasi kembali menjadi asam
oxalic dan asam formic, senyawa organik asam yang lebih kecil yang mudah
teroksidasi dengan kandungan oksigen yang di sekitarnya. Sebagai hasil akhir dari
proses oksidasi hanya akan didapatkan karbon dioksida dan air.
Hidroksil radikal berkekuatan untuk mengoksidasi senyawa organik juga dapat
dipergunakan dalam proses sterilisasi berbagai jenis mikroorganisma, menghilangkan
bau, dan menghilangkan warna pada limbah cair.
Dengan demikian akan dapat mengoksidasi senyawa organik serta membunuh bakteri
patogen, yang banyak terkandung dalam limbah cair rumah sakit.
Pada saringan karbon aktif akan terjadi proses adsorpsi, yaitu proses
penyerapan zat-zat yang akan diserap oleh permukaan karbon aktif. Apabila seluruh
permukaan karbon aktif ini sudah jenuh, proses penyerapan akan berhenti. Maka,
karbon aktif harus diganti baru atau didaur ulang dengan cara dicuci.

Dalam aplikasi sistem ozonisasi sering dikombinasikan dengan lampu ultraviolet


atau hidrogen peroksida. Dengan melakukan kombinasi ini akan didapatkan dengan
mudah hidroksil radikal dalam air yang sangat dibutuhkan dalam proses oksidasi
senyawa organik. Teknologi oksidasi ini tidak hanya dapat menguraikan senyawa
kimia beracun yang berada dalam air, tapi juga sekaligus menghilangkannya sehingga
limbah padat (sludge) dapat diminimalisasi hingga mendekati 100%.
Dengan pemanfaatan sistem ozonisasi ini dapat pihak rumah sakit tidak hanya
dapat mengolah limbahnya tapi juga akan dapat menggunakan kembali air limbah
yang telah terproses (daur ulang). Teknologi ini, selain efisiensi waktu juga cukup
ekonomis, karena tidak memerlukan tempat instalasi yang luas.