Anda di halaman 1dari 25

CARA INOKULASI, MEMBUAT PEREMAJAAN BIAKAN DALAM

MEDIA PADAT DAN CAIR, PENGENCERAN DAN GROWTH


PROMOTION TEST (GPT)

I.

Tujuan
Untuk dapat melakukan teknik kerja aseptik dan dapat melakukan
inokulasi dengan baik, secara goresan maupun tusukan, pada media padat
maupun media cair.

II.

Prinsip
Berdasarkan pada cara Inokulasi, pembuatan dan peremajaan biakan
dalam media padat dan cair merupakan teknik menanam inokula (bahan
yang mengandung mikroba atau biakan mikroba) yang dilakukan secara
aseptik ke dalam media biakan steril,baik dalam media padat maupun cair
dengan cara goresan maupun tusukkan. Growth Promotion Test (GPT)
merupakan cara untuk membuktikan kesesuaian media uji terhadap
penggunaannya.

III.

Teori Dasar
Inokulasi merupakan pekerjaan memindahkan bakteri dari medium
yang lama ke medium yang baru dengan tingkat ketelitian yang sangat
tinggi. Untuk melakukan penanaman bakteri (inokulasi) terlebih dahulu
diusahakan agar semua alat yang ada di dalam hubungannya dengan
medium agar tetap steril, hal ini agar menghindari terjadinya kontaminasi.
Inokulasi adalah menanam inokula secara aseptis ke dalam media steril
baik pada media padat maupun media cair. Inokula merupakan bahan yang
mengandung mikroba atau biakan baik dalam keadaan cair maupun padat.
Tujuan dari inokulasi yaitu biakan murni untuk keperluan diagnostik,
karakterisasi mikroorganisme, industri farmasi atau kegiatan lain yang

berkaitan dengan mikroorganisme. Nutrisi dan lingkungan yang


menunjang pertumbuhan mikroorganisme serta suatu teknik kerja aseptis
yangh dapat mencegah adanya kontaminan dalam biakan diperlukan untuk
mendapatkan kultur yang murni.
Identifikasi biakan mikroorganisme seringkali memerlukan
pemindahan ke biakan segar tanpa terjadi pencemaran. Pemindahan
mikroorganisme ini dilakukan dengan tekhnik aseptis untuk
mempertahankan kemurnian biaka selama pemindahan berulangkali.
Mikroorganisme dapat ditumbuhkan dalam biakan cair atau padat.
Kekeruhan dalam suatu media cair menunjukan terjadinya
pertumbuhan miroorganisme. Bila mikroorganisme menumpuk pada dasar
tabung maka akan membentuk sendimen, sedangkan pada permukaannya
pertumbuhan terlihat seperti partikel. Teknik aseptis sangat diperlukan
pada saat memindahkan biakan dari suatu tempat ke tempa lainnya.
Penggunaanya teknik aseptis mencegah terjadinya kontaminasi dengan
biakan yang mungkin bersifat patogen.
Peralatan utama yang diperlukan dalam melaksanakan inokulasi dan
peremajaan biakan dalam media padat dan media cair ini adalah peralatan
sterilisasi, inokulasi, dan inkubasi. Peralatan sterilisasi meliputi oven,
alkohol, dan Bunsen. Macam-macam peralatan inokulasi adalah jarum ose,
swab stick, blend glass, tabung reaksi, dan cawan petri. Peralatan inkubasi
adalah inkubator.
Teknik aseptis, teknik dekontaminasi, serta penyelesaian pekerjaan
mikroorganisme. Semua pekerjaan pada praktikum ini dilakukan dengan
memperhatikan prosedur aseptis.
Teknik aseptis pada inokulasi :
Pembuatan Area Aseptis => Dilakukan dengan bekerja diantara dua
nyala api bunsen dengan jarak kurang lebih 20cm. Hal ini dilakukan untuk

meminimalkan kontaminasi. Bunsen dibiarkan selama10 menit bertujuan


agar terjadi radiasi mikroorganisme menjauh.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum melakukan
inokulasi :

1) Menyiapkan ruangan
Ruangan tempat penanaman bakteri harus bersih dan
keadaannya harus steril agar tidak terjadi kesalahan dalam
pengamatan atau percobaan dalam laboratorium pembuatan
serum vaksin dsb.
2) Pemindahan dengan pipet
Cara ini dilakukan dalam penyelidkikan air minum atau
penyelidikian untuk diambil 1ml contoh yang akan diencerkan
oleh air sebanyak 99 ml murni.
3) Flambir
Dilakukan dengan cara memanaskan alat ke bunsen,
pada jarum ose harus sampai berwarna merah , jika pada alat2
yang lain seperlunya saja. Ini dilakukan untuk menjaga
kesterlian.
4) Penggunaan alkohol 70%
Dilakuakan untuk membersihkan tempat agar terhindar
dari mikroorganisme.
Pada media cair dan media padat kita menggunakan Nutrient broth
pada media cair, dan nutrient agar pada media padat.
Komposisi dari Medium Nutrient Agar (NA) :

Untuk komposisi 1000 mL


- Daging : 3 gram
- Pepton : 15 gram
- Agar : 15 gram
- Aquadest : 1000mL
Untuk komposisi 100 mL
- Daging : 3/1000 x 100 = 0,3 gram
- Pepton : 15/1000 x 100 = 1,5 gram
- Agar : 15/1000 x 100 = 1,5 gram
- Aquadest : 1000/1000 x 100 = 100 ml
Komposisi dari medium cair nutrient broth (NB) :
- pepton
- aquadest
- ekstrak daging
Biakan murni dilakukan untuk keperluan diagnostik, karakterisasi
mikroorganisme, industri farmasi dan kegiatan lain yang berkaitan dengan
mikroorganisme. Nutrisi dan lingkungan yang menunjang pertumbuhan
mikroorganisme serta suatu teknik kerja aseptis yang dapat mencegah
adanya kontaminan dalam biakan diperlukan untuk mendapatkan kultur
yang murni. Untuk meningkatkan keberhasilan inokulasi mikroba
diperlukan beberapa media yaitu media tumbuh,peralatan,dan metode
inokulasi.

Media Tumbuh
Media ini merupakan media yang dipersiapkan untuk
digunakan menumbuhkan mikroba. Komposisi media tumbuh
disesuaikan dengan mikroba yang akan ditumbuhkan.
Berdasarkan bentuknya, media tumbuh dapat dibagi menjadi cair
(broth) dan media padat (agar). Perbedaan dari kedua media ini
yaitu penambahan tepung adalah untuk memadatkan media.
Sedangkan media padat dibagi menjadi tiga macam, yaitu media
agar tegak (deep agar), agar miring (slants agar), dan lempeng
agar (plate agar).

Peralatan
Peralatan utama yang diperlukan dalam melaksanakan
inokulasi dan peremajaan biakan dalam media padat dan media cair
ini adalah peralatan sterilisasi, inokulasi, dan inkubasi. Peralatan
sterilisasi meliputi oven, alkohol, dan Bunsen. Macam-macam
peralatan inokulasi adalah jarum ose, swab stick, blend glass,
tabung reaksi, dan cawan petri. Peralatan inkubasi adalah
inkubator.

Metode Inokulasi
Metode-metode yang dilakukan saat inokulasi adalah media
cair dan media padat.

Media Cair
Pada media cair prinsip utama dalam menginokulasikan
mikroba atau biakan adalah menumbuhkan mikroba tersebut
dan mengamati pola pertumbuhannya.

Media Padat

Pada media padat prinsip utama dalam


menginokulasikan mikroba atau biakan adalah menumbuhkan
mikroba yang sudah ditentukan dalam praktikum dan
mengamati karakteristik morfologisnya. Inokulasi pada media
padat dilakukan dengan teknik agar miring, teknik agar tegak,
dan teknik lempeng agar.
Ada beberapa metode yang digunakan untuk mengisolasi biakan
murni mikroorganisme yaitu :
1) Metode Gores
Teknik ini lebih menguntungkan jika ditinjau dari sudut
ekonomi dan waktu, tetapi memerlukan keterampula-keterampilan
yang diperoleh dengan latihan. Penggoresan yang sempurna akan
menghasilkan koloni yang terpisah. Inokula di gorekan di permukaan
media agar nutrient. Diantara garis-garis goresan akan terdapat sel-sel
yang cukup terpisah sehingga dapat tumbuh menjadi koloni. Cara
penggarisan dilakukan pada medium pembiakan padat bentuk
lempeng. Bila dilakukan dengan baik teknik inilah yang paling
praktis. Dalam pengerjaannya terkadang berbeda pada masing-masing
laboratorium tapi tujuannya sama yaitu untuk membuat goresan
sebanyak mungkin pada medium pembiakan.
Ada beberapa teknik dalam metode gores :
Goresan T
Goresan kuadran
Goresan Radian
2) Metode tebar
Setetes inokula diletakan dalam sebuah medium agar nutrien
dalam cawan petridish dan dengan menggunakan batang kaca yang
bengkok dan steril. Inokulasi itu disebarkan dalam medium batang
yang sama dapat digunakan dapat menginokulasikan pinggan kedua
untuk dapat menjamin penyebaran bakteri yang merata dengan baik.

Pada beberapa pinggan akan muncul kolono-koloni yang terpisahpisah.


3) Metode tuang
Isolasi menggunakan media cair dengan cara pengenceran.
Dasar melakukan pengenceran adalah penurunan jumlah
mikroorganisme sehingga pada suatu saat hanya ditemukan satu sel di
dalam tabung.
4) Metode tusuk
Metode tusuk yaitu dengan cara meneteskan atau menusukan
ujung jarum ose yang didalamnya terdapat inokulum, kemudian ke
dalam media.
IV.

Alat dan Bahan


IV.1.
Alat alat
IV.1.1. Lampu bunsen
IV.1.2. Kapas berlemak
IV.1.3. Kertas roti
IV.1.4. Tabung reaksi
IV.1.5. Kawat ose
IV.1.6. Cawan petri
IV.1.7. Etiket atau label
IV.1.8. Pipet ukur steril
IV.1.9. Benang Kasur
IV.1.10. Rak Tabung
IV.2.
Bahan bahan
IV.2.1. Nutrien Agar
IV.2.2. Nutrient Broth
IV.2.3. Aquadest steril
IV.2.4. Bakteri (biakan steril)

V.

Prosedur
V.1.
Teknik Inokulasi
V.1.1. Metode Semai (Spread Plate)
Teknik Spread plate ini digunakan untuk menyebarkan
suspensi bakteri di permukaan agar diperoleh kultur yang
relatif merata sehingga dapat untuk dihitung. Sejumlah biakkan
disebar umumnya sebanyak (0,1 0,5ml) pada permukaan agar
dengan menggunakan batang bengkok steril. Inkubasikan
cawan pada suhu dan waktu tertentu sesuai dengan persyaratan.
V.1.2. Metode Pour Plate (metode tuang)

Teknik ini memerlukan agar yang belum padat (>45oC)


untuk dituang bersamaan dengan suspensi bakteri ke dalam
cawan ptri dan dihomogenkan lalu dibiarkan hingga memadat
setelah itu diinkubator pada suhu dan waktu yang telah
ditentukan. Kemudian di amati hasilnya.
V.1.3. Teknik penanaman dengan Goresan (Streak)
Teknik penanaman dengan goresan ini bertujuan untuk
mengisolasi mikroorganisme dari campurannya atau untuk
meremajakan (memperkaya) kultur ke dalam media baru.
Teknik ini dilakukan pada cawan petri
Goresan Sinambung, dilakukan dengan cara disentuhkan
inokulum loop (jarum Ose) ke pada koloni atau suspensi
mikroba dan gores secara kontinyu sampai setengah permukaan
agar. Teknik ini dilakukan pada cawan petri
Goresan T dilakukan dengan cara membagi cawan menjadi
3 bagian menggunakan spidol marker, kemudian diinokulasi
daerah 1 dengan streak zig-zag. Dipanaskan jarum inokula dan
tunggu hingga dingin kemudian lanjutkan streak zig-zag pada
daerah 2. Cawan ciputar untuk memperoleh goresan yang
sempurna.kemudian dilakukan hal yang sama pada daerah ke 3.
Teknik ini dilakukan pada cawan petri
Goresan kuadran dilakukan hampir sama seperti pada
goresan T.namun pada teknik kuadran ini dibagi menjadi 4
bagian. Daerah 1 yang menjadi awal mulanya sebuah goresan
sehingga masih banyak mengandung banyak sel
mikroorganisme. Goresan selanjutnya dipotongkan atau
disilangkan dari goresan pertama sehingga jumlah semakin
sedikit dan akhirnya terpisah menjadi koloni yang tunggal.
Teknik ini dilakukan pada cawan petri

Teknik apus, tek ini dilakukan dengan cara mensterilkan


terlebih dahulu cotton kapas steril. Kemudian setelah itu
dioleskan ke alat apapun seperti meja, kulit dll kemudian
dioleskan ke media agar. Teknik ini dilakukan pada cawan petri
Inokulasi agar miring, cara ini dilakukan dengan
menuangkan agar nutrient ke dalam tabung reaksi kemudian
dimiringkan setelah dingin dimasukkan media bakteri ke dalam
media tersebut. Amati hasilnya dan catat.
V.2.

Teknik Pengenceran

Disiapkan 5 buah tabung reaksi masing masing diisikan aquadest


yang telah steril masing masing sebanyak 5 ml, setelah itu
dimasukkan 1 ml suspensi bakteri ke dalam tabung satu lalu
homogenkan. Ambil 1 ml dari tabung 1 dimasukkan ke dalam tabung
reaksi yang ke 2 lalu homogenkan. Dilakukan hal yang sama terhadap
tabung 3 sampai dengan tabung 5. Pengenceran ini digunakan untuk
teknik GPT
V.3.

Prosedur Kerja Aseptik

Diatur nyala api Bunsen sehingga diperoleh nyala api biru untuk
memperoleh dareha steril. Dibiarkan api hingga menyala kurang lebih
selama 10 menit sebelum bekerja. Pinet diflambir, kapas penutup
tabung reaksi yang akan digunakanditarik perlahan lahan dengan
sedemikian rupa, sehingga cukup untuk ditarik dengan cara menjepit
diantara kedua jari kelingking dan telapak tangan kanan. Tabung reaksi
tadi diletakkan pada rak tabung di sebelah kiri praktikkan.
Jarum ose diflambir sampai ujungnya pijar, kemudian pemanasan
diteruskan perlahan lahan ke arah pegangan jarum smpai dengan
batas kawat. Ekerjaan ini dilakukan sebanyak 3 kali. Dengan
menggunakan tangan kiri diambil tabung reaksi yang berisi inokula.

Kapas penutup tabung ditarik dengan cara menjepit diantara jari


kelingking dan telapak tangan kanan. Mulut tabung yang telah terbuka
diflambir dengan cepat.
Jarum ose dimasukkan ke dalam tabung reaksi inokula tanpa
menyentug dinding untuk mengambil inokula tersebut.
Kemudianjarum ose ditarik keluar dan dipegang tetap pada jarak 10
cm sekitar nyala api bunsen. Ulut tabung diflambir, kemudian tutup
kapasnya dimasukkan kembali ke dalam mulut tabung. Tabung
dikembalikkan lagi ke dalam raknya.
Tabung yang berisi media steril yang akan diinoulasikan, diambil
dengan tangan kiri. Sumpat kapasnya ditarik dengan tangan kanan,
dengan cara menjepit diantara kelingking dan telapak tangan.
Sementara itu jarum ose yang telah memuat inokula tetap dipegang
dengan tangan kanan pula. Mulut tabung diflambir. Jarum ose
dimasukkan ke dalam tabung yang berisi media steril dan dilakukan
inokulasi (goresan atau tusukkan). Jarum ose ditarik keluar, mulut
tabung diflambir kemudian sumbat kapasnya dimasukkan kembali dan
selanjutnya tabung diletakkan kembali ke dalam raknya.
Jarum ose diflambir sampai dengan pijar sebanyak tiga kali,
sebelum disimpan lagi dirak. Beri etiket atau label pada tiap tabung
yang telah berisikan biakan.
V.4.

Pembuatan plat agar, agar miring, agar tegak, dan media

cair dalam tabung


Pembuatan Inokula, dilakukan dengan dimasukkan 5 ml NaCl
0,9%b/v steril ke dalam tabung reaksi srteril. Kemudian inokulasikkan
biakan yang berasal dari agar miring, dengan menggunakan jarum Ose
bundar kemudian disuspensikan dalam larutan NaCl 0,9% b/v steril
dengan cara mencelupkan jarum ose yang berisi inkula tersebut hingga
semua massa inokula masuk dan tersebar dengan rata ke dalam larutan

NaCl (NaCl tersebut menjadi keruh). Inokula ini yang akan


dipergunakan dalam pengerjaan inokulasi plat agar, agar miring, agar
tegak, dan media cair.
Dinyalakan bunsen dan diatur nyala api bunsen sehingga diperoleh
nyala api biru untuk memperoleh daerah steril. Dibiarkan menyala
selama 10 menit sebelum anda bekerja. Disiapkan dan diletakkan
tabung reaksi steril pada rak tabung reaksi dan cawan petri steri
diantara nyala api dua bunsen.
Pembuatan plat agar dilakukan dengan cara pipet 20 ml media
Nuterien agar yang telah cair dan suhunya 50oC ke dalam cawan petri
steril hingga memadat. Pembuatan agar miring dilakukan dengan cara
dipipet 10 ml media Nutrien Agar yang telah cair dah suhunya 50oC ke
dalam tabung reaksi steril, lalu dilatakkan miring pada papan
pembentuk agar miring dan biarkan hingga padat.
Pembuatan agar tegak dilakukan dengan cara dipipet 10 ml Nutrien
Agar yang telah cair dan suhunya 50oC ke dalam tabung reaksi steril,
lalu diletakkan tegak pada rak tabung reaksi hingga memadat.
Pembuatan media cair, dilakukan dengan cara dipipet 10 ml media
Nutrien Broth yang suhunya telah sama dengan suhu kamar ke dalam
tabung reaksi yang steril. Pekerjaan tersebut dilakukan dengan aseptik.
V.5.

Teknik Inokulasi pada plat agar, agar miring, agar tegak dan

media cair.
Inokulasi pada media cair, dilakukan dengan dimasukkan Nutrient
Broth ke dalam tabung reaksi yang steril, kemudian pijarkan kawat ose
ke pada api hingga memijar setelah itu dimasukkan kawat ose tersebut
ke dalam suspensi bakteri lalu dimasukkan ke dalam tabung reaksi
yang telah berisi media tersebut lalu homogenkan. Hal ini, dilakukan
dengan cara aseptik.

Inokulasi pada plat agar, dilakukan dengan membagi bagian luar


menjadi 4 bagian dengan menggunakan spidol. Diambil bakteri dengan
menggunakan jarum ose bundar lalu diinokulasikan ke setiap bagian
dari plat agar dengan goresan yang rapat.
Inokulasi pada media padat dengan cara goresan, dilakukan dengan
bila mana media berupa agar miring dalam tabung reaksi, inokulasi
dilakukan dengan cara goresan rapat memakai jarum Ose bundar
dimulai dari bagian bawah secara zig-zag sampai bagian atas media.
Inokulasi pada media padat dengan cara tusukkan, dilakukan
dengan bila media berupa agar tegk dalam tabung reaksi,
diinokulasikan dilakukan dengan cara memasukkan jarum Ose lurus
yang telah memuat inokula secara tusukkan lurus ke dalam media,
tepat pada poros tengah tbung sampai mendekati dasar tabung
kemudian ose ditarik kembali perlahan lahan..
Semua pekerjaan tersebut dilakukan dengan cara memperhatikan
prosedur kerja secara aseptik. Diinkubasikan semua media yang telah
diinokulasi ke dalam inkubator 37oC selama 24 jam dan amati
pertumbuhan yang terjadi.
V.6.

Growth Promotion Test (GPT)


V.6.1. GPT media uji enumerasi mikroba
Disiapkan suspensi mikroba uji dengan konsentrasi
<100cfu/ml. Dituang 20 ml Nutrient agar ke dalam cawan petri
kosong dan steril biaran hingga memadat, inokulasikan bakteri
terbeut ke dalam sat cawan. Sebar dan ratakan dengan
menggunakan batang spreader, diinkubasikan semua cawan 20
25oC<5 hari dengan posisi cawan tidak dibalik. Dihitung
jumlah koloni masing masing cawan tersebut.
V.6.2. Media enumerasi bakteri aerob mesofil

Disiapkan media Soybean Casein Digest Agar steril atau


media enumerasi bakteri lain dengan suhu sekitar 45o C dan
disimpan di dalam waterbath atau inkubator 50oC.
Diinokulasikan bakteri tersebut masing masing ke dalam petri
kosong. Dituangkan 20 ml Soybean Casein Agar ke dlam
cawan berisi suspensi mikroba, digoyangkan petri biarkan
hingga memadat. Diinubasikan semua cawan 30 35oC<3 hari
dengan posisi cawan dibalik. Dihitung total koloni masing
masing cawan <3 hari.
V.6.3. GPT media uji mikroba spesifik metode Farmakope
Disiapkan suspensi mikroba uji dengn konsentrasi <100
cfu/ml. Diinokulasikan masing masing mikroba sesuai
dengan media yang diuji sebanyak <100cfu/ml lalu
diinkubasikan sesuai dengan karakteristik mikroba tersebut
(umumnya bakteri 30 35oC < 3 hari dan jamur 20 25o C <5
hari)

VI.

Data Pengamatan

(Gambar 6.1. metode kuadran)

(Gambar 6.2. Metode media cair&agar miring)

(Gambar 6.3. Metode GPT)

(Gambar 6.4. Metode Apus)

(Gambar 6.5. Metode Goresan T)

(Gambar 6.7. Metode Streak)

(Gambar 6.6. metode semai)

VII.

Pembahasan
Pada praktikum mikrobiologi kali ini digunakan bacteri subtilis.

Dimana basilus subtillis sendiri termasuk jenis Bacillus. Bakteri ini


termasuk bakteri gram positif, katalase positif yang umum ditemukan di
tanah. Bacillus subtilis mempunyai kemampuan untuk membentuk
endospora yang protektif yang memberi kemampuan bakteri tersebut
mentolerir keadaan yang ekstrim.
Bacillus subtilis selnya berbentuk basil, ada yang tebal dan yang tipis.
Biasanya bentuk rantai atau terpisah. Sebagian motil dan adapula yang non
motil. Semua membentuk endospora yang berbentuk bulat dan oval.
Baccillus subtlis merupakan jenis kelompok bakteri termofilik yang dapat
tumbuh pada kisaran suhu 45 C 55 C dan mempunyai pertumbuhan
suhu optimum pada suhu 60 C 80 .
Dalam praktikum ini juga harus memerlukan memerlukan lingkungan
dan medium yang berisi zat hara untuk pertumbuhan sel, sintesis sel,
keperluan energi dalam metabolisme, dan pergerakan yang sesuai dengan
mikroorganisme. Medium biakan yang digunakan untuk menumbuhkan
mikrobia dalam bentuk padat, semi padat, dan cair. Yang digunakan dalam
praktikum adalah medium padat yakni berupa agar. Agar digunakan

sebagai media karena tidak dapat diuraikan oleh mikroba. Media yang
digunakan dalam praktikum adalah Nutrien Agar, karena yang akan di
biakan adalah bakteri.
Setiap perlakuan diusahakan dilakukan secara aseptis ( di dekat api
Bunsen) berfungsi agar saat inokulasi, bahan serta alat gelas yang
digunakan tetap steril. Panaskan sekeliling mulut tabung pada setiap
inokulasi dan sesudah inokulasi dan segera di tutup dengan sumbat kapas.
Hal ini berfungsi untuk mensterilisasi tabung reaksi dan biakan dari
mikroorganisme lain.
Pada praktikum kali ini dilakukan inokulasi. Dimana inokulasi itu
sendri merupakan suatu proses pemindahan bakteri dari media satu ke
media yang l ainnya. Dalam inokulasi ini dilakukan beberapa cara
inokulasi diantaranya ;
1.
2.
3.
4.

Metode tuang
Metode goresan
Metode agar miring
Metode pengenceran
Pada metode tuang terdiri dari penginokulasian biakan murni. Dalam

hal ini digunakan Bakteri dari makanan yang sudah disediakan. Dilakukan
prosedur yang telah disediakan lalu diuji dan diinkubasi selama satu hari
dan amati perkemang biakan bakteri tersebut. Dalam inkubasi dilakukan
dengan kondisi cawan terbalik untuk mencegah air kondensasi jatuh di
atas permukaan sehingga dapat terjadi penyebaran koloni. Tujannya adalah
memisahkan sel sel bakteri satu sama lain sehingga terbentuk menjadi
koloni koloni yang terpisah dalam medium yang padat. Kemudian dapat
diambil sel sel dari satu koloni utntuk mendapatkan biakan murni.
Metode goresan terdiri dari penginokulasian biakan murni. Dalam hal
ini digunakan bakteri basillus subtillis dengan medium Nutrien Agar
dalam cawan petri. Dimana dilakukan pengujian sesuai prosedur yang
telah ditetapkan. Dilakukan penggoresan supaya memungkinkan koloni

terbentuk tersebar merata dan tampak jelas serta tidak bertumpuk dari
koloni yang akan terbentuk. kemudian diinkubasi selama satu hari dan
sesuai hasil pengamatan bakteri tumbuh dengan baik hal ini disebakan
karna media dan konsisi fisik diataranya suhu, oksigen, pH dan lingkungan
memiliki kualitas yang baik bagi pertumbuhan bakteri dikarnakan bakteri
tumbuh dengan baik.
Kemudian dilanjutkan dengan melakukan inokulasi dengan metode
agar miring Metode ini hampir sama dengan streak plate atau metode
goresanhanya saja metode slant culture ini (agar miring) media Nutrien
Agar disiapkan dalam tabung reaksi dengan keadaan miring. Satu koloni
bakteri diambil dengan menggunakan jarum ose dan digoreskan dengan
arah zig zag dimulai dari bawah tabung. Setelah itu dilakukan kembali
inkubasi selama satu hari. Setelah satu hari bakteri yang ada di agar miring
tumbuh hal ini juga dapat disebabkan oleh beberapa faktor pertumbuhan
bakteri yang cukup baik. Keuntungan media agar miring ini adalah luas
permukaan yang kecil sehingga peluang kontaminasi rendah dan dapat
memperluas bidang untuk digunakan strain murni (indukan murni).
Sedangkan kerugiannya hanya memuat sedikit mikroorganisme.
Tehnik pengenceran bakteri dilakukan sebagai upaya untuk
mendapatkan kuantitas bakteri dalam jumlah yang dapat terhitung. Seperti
yang telah diketahui bahwa dalam sampel lingkungan komunitas bakteri
berada dalam kuantitas yang sangat melimpah. Selain mendapatkan
kuantitas yang dapat terhitung, pengenceran suspensi bakteri dari sampel/
sumber isolat dari alam juga diperlukan dalam rangka memudahkan dalam
pengamatan koloni, terutama dalam kegiatan bertahappemurnian isolat
(sub-kultur). Koloni yang tumbuh terpisah dalam kuantitas yang dapat
dihitung memudahkan peneliti untuk memilih koloni yang akan dipisahkan
(disub-kultur).
Pada pengenceran bakteri ini dilakukan pengenceran secara
bertingkat yang mana ditujukan untuk membentuk konsentrasi dari suatu

suspensi bakteri. Tingkat pengenceran yang diperlukan didasarkan pada


pendugaan populasi bakteri yang ada dalam contoh. Hasil yang baik
adalah jika pada pengenceran yang lebih rendah contoh yang diduga lebih
banyak menunjukkan hasil uji positif (adanya pertumbuhan bakteri) dan
pada pengenceran lebih tinggi contoh yang diduga lebih sedikit
menunjukkan hasil uji negatif (tidak ada pertumbuhan bakteri).
Pada praktikum kaliini digunakan NA, dimana natrium agar
berfungsi untuk membiakan berbagai macam mikroorganisme serta kultur
bakteri. Pada praktikum ini kita mempelajari bagaimana melakukan teknik
inokulasi biakan mikroorganisme pada medium steril sehingga bisa
mendefinisikan bahwa teknik inokulasi adalah pekerjaan memindahkan
bakteri dari medium lama kemedium baru dengan tingkat ketelitian sangat
tinggi dan dituntut untuk bekerja secara aseptic yaitu bebas dari pengaruh
kontaminan mikroorganisme yang lain. Teknik aseptic dilakukan dengan
penyediaan alat-alat kerja yang steril dan bekerja didekat api Bunsen agar
terhindar dari kontaminan udara.pada waktu inokulasi jarum yang
digunakan untuk meindahkan mikroba harus dipijarkan diatas api segera
sebelum dan sesudah melakukan pemindahan. Pemanasan ini
menghancurkan semua bentuk kehidupan yang ada pada permukaan jarum
atau alat pemindahan, setelah di inokulasi biakan bakteri disimpan dan
diinkubasi dalam lingkungan yang sesuai untuk petumbuhan.
Pada hakekatnnya bakteri tumbuh karena beberapa faktor yaitu:

Kelembabannya
Ada tidaknya udara
pH lingkungan
Tekanan osmotic suhu
Kandungan bahan makanan

VIII. Kesimpulan
Pada praktikum kali ini dapat disimpulkan bahwa pengerjaan inokulasi
bakteri secara aseptik dapat menghasilkan hasil data yang lebih tepat
dimana tidak terjadi kontaminasi dalam pengerjaan inokulasi bakteri
sehingga bakteri dapat tumbuh secara baik dan tanpa ada kontaminan
dengan bakteri yang lain.

IX.

Daftar Pustaka
Dwidjoseputro, D. 1994. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan,
Jakarta.
Hadioetomo, R.S. 1993. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek.
Gramedia, Jakarta.
Suriawiria, U. 2005. Mikrobiologi Dasar. Papas Sinar Sinanti, Jakarta.
Volk , W. A & Wheeler. M. F. 1993. Mikrobiologi Dasar Jilid 1 Edisi
ke 5. Erlangga.

Distribusi Kerja :
Desty Santi

: tujuan, prinsip, teori dasar, daftar pustaka

Ditta Restiany

: Alat, bahan, prosedur, data pengamatan

Firman Raudia

: Pembahasan, Kesimpulan

Diah Anggraeni

: Pembahasan