Anda di halaman 1dari 2

REPUBLIKA.CO.

ID, YOGYAKARTA -- Tiga Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas


Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melakukan penelitian terhadap kulit buah naga merah.
Ketiga mahasiswa ini menemukan jika kulit buah naga merah bisa menghasilkan zat imun
untuk penderita HIV/AIDS.
Ketiga mahasiswa yang melakukan penelitian ini adalah Annisa Fitriani, Yunita Dwi
Setyawati, dan Intan Hanifah.
"Kita awalnya membaca banyak jurnal tentang HIV/AIDS dan pengobatan herbal. Akhirnya
kita tertarik untuk meneliti kulit buah naga untuk mendukung pengobatan penyakit tersebut,"
ujar Anisa, salah satu anggota tim tersebut di kampus UMY, Rabu (14/1).
Menurutnya, kulit buah naga merah sebenarnya jauh lebih bermanfaat dari pada daging buah
itu sendiri. Pasalnya, kandungan positif yang ada pada kulit buah naga merah lebih banyak
dibandingkan daging buahnya. Kulit buah naga merah ini kata dia, mengandung efek anti
oksidan, anti bakteri, anti virus, dan anti mikroba yang cukup tinggi.
"Sementara penderitaa HIV/AIDS membutuhkan zat-zat itu untuk meningkatkan sistem
imunnya," ujarnya.
Namun kata dia, kulit buah naga merah tersebut sulit untuk dikonsumsi langsung dengan
bentuk aslinya. Karenanya ketiganya memilih mengolah kulit buah naga tersebut menjadi the
agar bisa dikonsumsi sarinya oleh penderita HIV/AIDS.
"Masyarakat Indonesia sangat gemar minum teh. Sehingga kalau kulit buah naga merah kita
keringkan dan dibuat teh akan banyak yang suka," ujarnya.

Menurutnya, jika teh kulit buah naga merah ini dikonsumsi secara teratur akan bisa menjadikan
terapi peningkatan sistem imun pada para penderita HIV/AIDS.
"Kita tahu jika kekebalan penderita HIV/AIDS ini terserang sehingga sistem imunnya semakin
lemah. Dengan terapi teratur teh kulit buah naga merah maka sistem imun bisa ditingkatkan,"
katanya.

Diakuinya, selama ini pengobatan penderita HIV/AIDS menggunakan obat antiretrofiral atau
ARv. Penggunaan teh kulit buah naga ini bisa dijadikan pelengkap pengobatan tersebut. Karena
teh kulit buah naga ini bisa menghambat aktivitas bakteri, virus, dan kuman yang ada dalam
tubuh penderita HIV/AIDS.
Meski begitu, pihaknya masih mmebutuhkan penelitian lebih jauh terkait hal itu. Ini juga terkait
scientifikasi teh itu sendiri ke depannya.