Anda di halaman 1dari 34

1.

TEORI SOSIOKULTURAL
Teori

sosiokultural

menunjukkan

bagaimana

komunikator

memahami diri mereka sebagai makhluk-makhluk kesatuan dengan


perbedaan-perbedaan individu dan bagaimana perbedaan tersebut
tersusun secara sosial dan bukan ditentukan oleh mekanisme
psikologis dan biologis yang tetap.

2. REINFORCEMENT THEORY ( TEORI PENGUATAN )

Dikembangkan oleh Hovland, Janis, dan Kelly pada tahun 1967,


teori ini menjelaskanbahwa faktor penguatan ( reinforcement ) bisa
mengubah pandangan dan sikap seseorang,. Bentuk penguatan itu,
seperti
(

pemberian

perhatian

comprehension),

dan

attention

dukungan

),

pemahaman

penerimaan

(acceptance).

Sebelum pendapat atau pandangan baru diadopsi, audiens bisanya


mempertimbang

asfek

atensi,

komprehensi,

dan

akseptasi

( perhatian , pemahaman, dan kedudukan penerimaan). Dalam hal


seprti ini, komunikator perlu menyusun pesan pesan yang di
buatnya

itu

haruslah

mengandung

aspek

penguat

terhadap

validitas ide yang di sampaikannya.


Dalam prraktik perpustakaan, penggunaan teori ini bisa dilakukan
dan sebagian telah sering dilakukannya. Misalnya, perpustakaan
mengadakan

lomba

menulis

karya

ilmiah

dengan

tema

perpustakaan dan layanan prima. Yang terbaik mendapat hadiah.


Juga ada lomba membuat resensi buku, resensi film, dan laporan
hasil membaca.

3. TEORI KONSTRUKTIVISME
Dikemukakan
Capstone,

oleh

2001).

Jesse

Mosel

Delia

tahun

1982

konstruktivisme

ini

(Communication
secara

lengkap

adalah cognitive complexity-rhetorical design logic-sophisticated


communication-beneficial outcomes. Teori ini bisa menjelaskan

bahwa orang yang ingin memilki persepsi kognitif yang komplek


terhadap orang lain, akan memiliki kapasitas komunikaasi secara
canggih( rumit ) dengan hasil yang positif.
a. Orang yang seperti ini mampu menyusun pesan pesan
retorik yang logis yang dapat menciptakan pesan pesan
yang berfokus kepada orang, yang secara serempak dapat
mencapai tujuan tujuan berkomunikasi secara berganda.
Sebagai suatu teori, konstruktivisme berkaitan dengan proses
kognitif

seseorang

yang

melakukan

komunikasi

pada

situasi

tertentu. Kemampuan orang dalam menyusun tau membingkai


pesan pesan komunikasi untuk situasi dan kondisi tertentu relatif
akan

lebih

berhasil

dibandingkan

dengan

merreka

yang

melakukannya tampa persiapan.

4. INFORMATION MANIPULATION THEORY

Teori ini dapat dikatakan manipulasi informasi. Dikembangkan oleh


Steve A. McCornack pada tahun 1992, teori ini menjelaskan tentang
orang yang mempunyai maksud dan tujuan untuk menipu lawan
bicaranya agar mendapat alasan tertentu.
Namun demikian, teori ini haya bisa digunakan untuk menjelaskan
proses komunikasi seperti apa yang digunakan untuk melakukan
penipuan, kalau kejadian penipuannya yang telah terjadi misalnya.
Jika suatu penipuan belum terjadi maka teori ini tidak bisa
meramalkannya. Artinya teori ini tidak akan mempu menjelaska
atau

meramalkan

apa

seseorang

akan

melakukan

sesuatu

kebohogan atau penipuan. Baru setelah suatu kejadian penipuan


telah terjadi, orang telah bisa menjelaskan kata kata manis dari
orang tadi benar benar suatu alat untuk menipu.

5. TEORI TRAIT
Teori Trait dipelopori oleh William James, Murray, Abraham Maslow,
R.Cattel, Eysenck, Allport, dan yang lainnya. Asal teori kepribadian
adalah

pengenalan terhadap

model-model fungsi kepribadian

dalam kehidupan. Cattel dan Eysenck memakai analisis faktor


untuk menemukan faktor yang saling asing dan Murray memakai
pendekatan eklektik interdisiplin dari metoda observasi-interviewkuesioner-proyektif eksperimen untuk menemukan jenis-jenis need.
Kepribadian diamati dalam kaitannnya dengan fungsinya terhadap
lingkungan. Paradigma Trait lebih banyak membahas prediksiprediksi tingkah laku. Nilai praktis dari psikologi kepribadian
menjadi sangat tinggi di bidang pendidikan, industri, militer, dan
lainnya, dalam arti memprediksikan keberhasilan individu dalam
bidang tertentu, memilih atau menempatkan seorang yang tepat
pada tempat yang tepat pula.

Sedangkan menurut Gordon Allport salah satu ahli teori yang paling
berpengaruh didunia psikologi bahwa Trait (sifat) adalah sistem
neuropsikis

yang

digeneralisasikan

dan

diarahkan

dengan

kemampuan untuk menghadapi bermacam-macam perangsang


secara sama, memulai serta membimbing perilaku adaptif dan
ekspresi secara sama. Allport juga menganggap trait sebagai blok
pembangun

dasar

dari

organisasi

psikologi

yang

berfungsi

mengintegrasikan apa yang seharusnya menjadi stimulus dan


respon tidak serupa. Jadi trait berfungsi sebagai elemen penyatu,

menciptakan kehangatan, memberikan respon, dan memberikan


kaitan-kaitan antar individu.
Allport juga membedakan trait menjadi dua yaitu :
a. Trait Umum : Trait Umum adalah dimensi trait dimana
individu dapat dibandingkan satu sama lainnya
b. Trait Disposisi Pribadi : Disposisi pribadi merupakan sebuah
pola atau konfigurasi unik trait-trait yang ada dalam individu
Dari dua tipe trait tersebut dapat dicontohkan jika seseorang
mengatakan kejujuran maka kualitas kejujuran yang terkandung
didalamnya

tentu

akan

berbeda

pula.

Trait

juga

berbeda

besarannya, semakin besar trait yang individu miliki, semakin besar


juga memengaruhi kepribadian seseorang.

Beberapa traits yang menonjol disini yaitu :


Conversational narcissism :
a. Kecenderungan cinta pada diri sendiri, menonjolkan atau
membanggakan diri, suka menceritakan diri sendiri
b. Cenderung mengontrol dan mendominasi arus percakapan
c. Tidak responsif terhadap orang lain dan tidak peka terhadap
orang yang diajak berkomunikasi
Argumentativeness ;
a. Kecenderungan
untuk
terlibat

dalam

topik-topik

kontroversial, memiliki sudut pandang tersendiri dengan


upaya membuktikan pendapat yang bertentangan sebagai
pendapat yang salah
b. Argumentatif dapat bersifat positif dan dapat pula bersifat
negatif ketika melibatkan agresivitas dan kasar.
c. Argumentatif dapat meningkatkan kredibilitas, mengarahkan
orang lain melihat dari sudut pandang yang berbeda,
meningkatkan pembelajaran dan ketrampilan komunikasi

Social and Communicative Anxiety:


a. Kecemasan

berkomunikasi

terkait dengan

penghindaran

sosial, kecemasan secara sosial, kecemasan berinteraksi dan


sifat pemalu.
b. Kecemasan berkomunikasi berdampak secara :
c. Fisik : jantung berdebar, pipi memerah
d. Perilaku : penghindaran, proteksi diri
e. Kognitif : fokus pada diri sendiri, memiliki pikiran negatif

6. TEORI ATRIBUSI

Teori atribusi merupakan teori yang menjelaskan tentang perilaku


seseorang. Apakah perilaku itu disebabkan oleh faktor disposisional
(faktor dalam/internal), misalnya sifat, karakter, sikap dsb, ataukah
disebabkan oleh keadaan ekternal, misalnya tekanan situasi atau
keadaan tertentu yang memaksa seseorang melakukan perbuatan
tertentu.
Setiap individu pada dasarnya adalah seorang ilmuwan semu
(pseudo scientist) yang berusaha untuk mencari sebab kenapa
seseorang berbuat dengan cara tertentu. Misalkan kita melihat
seorang bapak paroh baya melakukan pencurian. Sebagai manusia
kita ingin mengetahui penyebab kenapa dia sampai mencuri?
Apakah orang tersebut mencuri karena sifat dirinya yang memang
suka mencuri ?ataukah karena ia dipaksa oleh situasi, krn dia harus
punya uang untuk membelikan obat untuk anaknya yang sakit
keras.
Atribusi Internal Dan Eksternal :
(dalam kasus di atas) bila kita menyimpulkan bahwa seseorang tadi
mencuri

karena

memang

sifat

kesukaannya

mencuri

(sudah

tertangkap berkali-kali) maka dalam hal ini kita telah melakukan


atribusi internal. Bila kita menyimpulkan bahwa orang tersebut
mencuri karena tekanan situasi (butuh uang untuk beli obat dan tak
ada pilihan lainselain mencuri) maka dalam hal ini kita telah
melakukan atribusi ekternal
Fritz Heider pencetus teori atribusi. Dalam tulisannya yang berjudul
Psychology of Interpersonal Relations menjelaskan bahwa
perilaku manusia itu bisa disebabkan karena faktor-faktor internal
(disebut atribusi internal) dan dapat pula disebabkan oleh faktor
ekternal (atribusi ekternal). Dalam teori Atribusi ada dua teori yang
menonjol yaitu Correspondent inference theory (Jones & Davis,
1965) dan Kellys Covariance theory (Harold Kelley, 1972)
Teori yang dikembangkan oleh Bernard Weiner ini merupakan
gabungan dari dua bidang minat utama dalam teori psikologi yakni
motivasi

dan

penelitian

atribusi.

Teori

yang

diawali

dengan

motivasi, seperti halnya teori belajar dikembangkan terutama dari


pandangan stimulus-respons yang cukup popular dari pertengahan
1930-an sampai 1950-an. Sebenarnya istilah atribusi mengacu
kepada penyebab suatu kejadian atau hasil menurut persepsi
individu. Dan yang menjadi pusat perhatian atau penekanan pada
penelitian

di

bidang

ini

adalah

cara-cara

bagaimana

orang

memberikan penjelasan sebab-sebab kejadian dan implikasi dari


penjelasan-penjelasan tersebut. Dengan kata lain, teori itu berfokus
pada bagaimana orang bisa sampai memperoleh jawaban atas
pertanyaan mengapa.

7. TEORI PRESENTASI DIRI

Setiap seting kehidupan dimetaforakan dengan panggung dimana


setiap

orang

menjadi

aktor

yang

menampilkan

performance

tertentu untuk memberikan kesan pada orang lain. Oleh karenanya


setiap orang perlu memahami setiap event yang dihadapinya.
Analisis frame atau kerangka/seting diperlukan supaya setiap
individu dapat mengatur dan memahami perilaku-perilaku tertentu
dalam setiap situasi yang ada. Disamping itu agar kita dapat
memaknai peristiwa mana yang penting dan bermakna dan mana
yang kurang penting agardapat terfokus pada bagian-bagian
kehidupan yang lebih penting

8. TEORI SIFAT CONVERSATIONAL NARCISSISM

Karakter dan perilaku merupakan teori mengenai begaimana kita


berkomunikasi dengan berperilaku dan memberikan situasi yang
sangat tergantung dengan karakter yang dimiliki seseorang. Ada
tiga

karakter,

yang

pertama:

Argumentativeness,

ini

adalah

karakter dari seseorang yang suka menentang, kecenderungan


untuk

menawarkan

topik

yang

berlawanan

dalam

sebuah

percakapan, dan sangat mendukung pendapatnya sendiri, serta


menyalahkan pendapat lawan bicaranya (Dominic A. Infante).
Karakter yang kedua: Social and communication anxiety or
communication anxiety, yang ini sifat seseorang yang selalu
merasa gelisah dalam bersosialisasi dan berkomunikasi, James
McCroskey

menyebutnya

kekhawatiran

komunikasi.

Walaupun

semua orang pernah mengalami sebuah ketakutan, bias dibilang


bahwa kekhawatiran dalam berkomunikasi ini merupakan sifat atau
keadaan. Nah karakter yang ketiga: Narcissism atau self-love, sifat
kecintaan pada diri sendiri dalam sebuah percakapan. Anita
Vangelisti,

Mark

Knapp

dan

John

Daly,

menjelaskan

bahwa

kecenderungan untuk menonjolkan kelebihan yang ada pada diri


sendiri, dengan suatu kebanggan yang ditunjukan kepada lawan
bicara,

hal ini biasanya terlihat secara non verbal

memamerkan

perilaku

yang

dilebih-lebihkan.

dengan

Walaupun

para

psikolog menpelajari bahwa biologi sebagai dasar dari perilaku


manusia, dan sifat genetik yang berpengaruh, ada paradigma
komunikasi biologikal, yang merupakan kekhawatiran komunikasi
yang disebut dengan kegelisahan dari dalam diri seseorang, ini
merupakan tipe dari karakter ketersinggungan karena kegelisahan
dalam berkomunikasi terkadang disebabkan karena tolakan suatu
rangsangan.

9. TEORI KECEMASAN DALAM BERKOMUNIKASI

Kecemasan merupakan gejala yang umum tetapi non-spesifik yang


merupakan salah satu emosi yang paling menimbulkan stress yang
dirasakan oleh banyak orang. Hal itu terjadi di berbagai dunia kerja
seperti karyawan, buruh, pegawai bahkan di dunia pendidikan.
Kadang-kadang kecemasan juga disebut dengan ketakutan atau
perasaan gugup dan merupakan bagian dari kondisi manusia yang
dianggap mengancam keberadaan individu Setiap orang pasti
pernah mengalami kecemasan pada saat-saat tertentu, dan dengan
tingkat yang berbeda-beda. Hal tersebut mungkin saja terjadi
karena

individu

merasa

tidak

memiliki

kemampuan

untuk

menghadapi hal yang mungkin menimpanya dikemudian hari.


Dalam teori Behavior dijelaskan bahwa kecemasan muncul melalui
clasical conditioning, artinya seseorang mengembangkan reaksi
kecemasan terhadap hal-hal yang telah pernah dialami sebelumnya
dan reaksi-reaksi yang telah dipelajari dari pengalamannya (Bellack
& Hersen, 1988:284). Ada beberapa ahli yang mengemukakan
definisi dari kecemasan.
Menurut Freud (dalam Jess dan Gregory, 2010: 260) kecemasan
adalah

fungsi

ego

untuk

memperingatkan

individu

tentang

kemungkinan datangnya suatu bahaya sehingga dapat disiapkan


reaksi

adaptif

yang

sesuai.

Kecemasan

berfungsi

sebagai

mekanisme yang melindungi ego karena kecemasan memberi


sinyal kepada kita bahwa akan ada bahaya dan kalau tidak
dilakukan tindakan yang tepat maka bahaya itu akan meningkat
sampai ego dikalahkan. Kecemasan dapat juga diartikan sebagai
suatu pengalaman subyektif mengenai ketegangan mental yang
menggelisahkan

sebagai

reaksi

umum

dan

ketidakmampuan

menghadapi masalah atau adanya rasa aman. Perasaan yang tidak


menyenangkan ini umumnya menimbulkan gejala-gejala fisiologis
(seperti gemetar, berkeringat, detak jantung meningkat) dan
gejala-gejala psikologis (seperti panik, tegang, bingung dan tidak
dapat berkonsentrasi). Perbedaan intensitas kecemasan tergantung
pada keseriusan ancaman dan efekivitas dari operasi-operasi
keamanan yang dimiliki seseorang. Mulai munculnya perasaanperasaan tertekan, tidak berdaya akan muncul apabila orang tidak
siap menghadapi ancaman (Tailor,1995). Seperti ketika seorang
anak yang diperlakukan kasar oleh orang tuanya yang kemudian
muncul rasa takut dan cemas pada si anak terhadap orang tuanya
dari situasi ini kecemasan dapat muncul pada kondisi yang
membuat

dirinya

merasa

terancam

meliputi

ancaman

fisik,

ancaman terhadap harga diri, dan tekanan untuk melakukan


sesuatu di luar kemampuan juga dapat menyebabkan kecemasan
(Whitehead,

1985).

Komunikasi sangat diperlukan ketika kita sudah masuk di dunia


sosial. Hal itu diwujudkan dengan interaksi antar individu satu
dengan individu yang lain, karena menurut ahli 70% waktu manusia
digunakan untuk saling berkomunikasi. Istilah komunikasi itu sendiri
menurut

Effendi

(dalam

Rahmawadi,

2007)

berasal

dari

communication dan bersumber dari bahasa communis yang berarti


sama makna mengenai suatu hal sehingga komunikasi dapat
berlangsung apabila antara orang-orang yang terlibat komunikasi
mempunyai kesamaan makna mengenai sesuatu hal yang di

komunikasikan secara jelas. Komunikasi juga disebut sebagai suatu


proses penyampaian informasi yang berupa pesan, ide atau
gagasan dari satu pihak kepada pihak lain agar terjadi saling
mempengaruhi di antara keduanya. Pada umumnya, komunikasi
dilakukan dengan menggunakan kata-kata (lisan) yang dapat
dimengerti oleh kedua belah pihak. Apabila tidak ada bahasa verbal
yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat
dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik badan, menunjukkan
sikap

tertentu,

misalnya

tersenyum,

menggelengkan

kepala,

mengangkat bahu. Cara seperti ini disebut komunikasi dengan


bahasa

nonverbal.

komunikasi

Walgito

(2002)

mengemukakan

merupakan proses penyampaian

bahwa

dan penerimaan

lambang-lambang yang mengandung arti, baik yang berwujud


informasi, pemikiran, pengetahuan atau yang lain dari penyampai
kepada

penerima.

Komunikasi

juga

sangat

berguna

dalam

kehidupan sehari-hari seperti, menumbuhkan tali persahabatan,


menyampaikan informasi, mengungkapkan perasaan kasih sayang
dan melestarikan peradaban.

10.

TEORI SIFAT

Sifat adalah kualitas atau karakteristik pembeda, yang meliputi


cara berpikir, merasakan, bertingkah laku yang konsisten terhadap
situasi. Sifat-sifat tersebut seringkali digunakan untuk memprediksi
perilaku.

Penelitian

di

bidang

komunikasi

telah

mempelajari

berbagai jenis sifat. Contoh, dua sifat yang paling sering diteliti
dalam

komunikasi

adalah

pertentangan

dan

kecemasan

berkomunikasi. Dua hal tersebut adalah sifat paling mendasar yang


diteliti dalam tradisi teori sifat dan dihadirkan sebagai sebuah
bentuk dasar mengenai bagaimana penelitian tersebut harus
dilakukan.

Pertentangan (argumentativeness) adalah kecenderungan untuk


ikut serta dalam percakapan tentang topik-topik kontroversial,
untuk mendukung sudut pandang seseorang dan untuk menolak
keyakinan yang berbeda. Dominie Infante dan koleganya meyakini,
pertentangan
seseorang

dapat

untuk

mempertinggi

meningkatkan

memahami

kredibilitas

pembelajaran,

sudut

dan

pandang

membangun

membantu
orang

lain,

keterampilan

berkomunikasi.
Individu yang suka pertentangan cenderung sombong, walau tidak
semua

orang

sombong

memiliki

argumentatif.

Untuk

tidak

menimbulkan salah persepsi, dibuatlah dua kelompok variabel:


pertentangan yang merupakan sifat positif serta keagresifan verbal
dan

permusuhan

yang

merupakan

sifat

negatif.

Dengan

mengetahui cara menyanggah yang benar, menjadi solusi untuk


mengatasi kecenderungan agresif yang sangat menyakitkan.
Kecemasan

dalam

berkomunikasi

dan

bersosialisasi,

ternyata

banyak kasus ditemukannya banyak orang yang takut dan tidak


suka

berkomunikasi.

Orang

seperti

ini

mengalami

namanya

communication apprehension. Communication apprehension (CA)


merupakan kecenderungan untuk mengalami kecemasan saat
berkomunikasi dalam berbagai keadaan. CA yang tinggi jelas tidak
normal,
termasuk

sebab

menciptakan

kecemasan

ekstrim

masalah-masalah
dan

kepribadian,

penghindaran

terhadap

komunikasi dengan langsung mencegah partisipasi produktif dan


memuaskan dalam masyarakat. Ketakutan berkomunikasi adalah
bagian dari kelompok konsep yang terdiri atas penghindaran sosial,
kecemasan sosial, kecemasan berinteraksi dan keseganan.

Sebagai sebuah kelompok, hal ini disebut dengan kecemasan


dalam berkomunikasi dan bersosialisasi (social and communicative
anxienty/SCA). Menurut Miles Patterson dan Vicki Ritts, sejumlah
parameter yang mengindikasikan seseorang mengalami SCA, yakni:
mereka menemukan bahwa kecemasan dalam berkomunikasi dan
bersosialisasi memiliki aspek fisiologis, seperti detak jantung dan
rona

merah

pipi

karena

malu,

manivestasi

perilaku

seperti

penghindaran dan proteksi diri serta dimensi kognitif seperti fokus


diri dan pikiran negatif. Dan hubungan kognitif, adalah paling kuat
dari ketiga parameter tersebut, yang bermakna bahwa kecemasan
dalam

berkomunikasi

dengan

bagaimana

dan

kita

bersosialisasi

berpikir

sangat

tentang

diri

berhubungan
pribadi

dalam

hubungannya dengan situasi komunikasi.

11.

DISONANSI KOGNITIF DAN PERSEPSI

Secara spesifik , CTD berkaitan dengan proses pemulihan trepan,


pemulihan

perhatian,

pemulihan

interpretasi,

dan

pemulihan

retensi, karena teori ini memproduksi bahwa orang menghindari


informasi yang meningkatkan disonansi. Proses perseptual ini
merupakan dasar dari penghindaran. Untuk lebih jelas, akan
dijabarkan di bawah ini :
a. Terapan selektif:

metode

untuk

mengurangi

disonansi

dengan mencari informasi yang konsonan denga keyakinan


dan tindakan yang ada saat ini.
b. Perhatian selektif : metode untuk mengurangi desonansi
dengan

memberikan

perhatian

pada

informasi

yang

konsonan dengan keyakian dan tindakan yang ada saat ini.


c. Interpretatif selekif : metode untuk mengurangi desonasi
dengan

menginterpretasikan

informasi

yang

ambigu

sehingga informasi ini menjadi consistan dengan keyakinan


dan tindakan yang ada saat ini.

Retensi selektif : metode untuk mengurangi desonansi dengan


mengingat informasi yang kononan dengan keyakinan dan tindakan
yang ada saat ini.
Dalam teori ini ada satu pernyataan menarik yang disebut
Justifikasi Minimal, yang merupakan penawaran intensif minimum
yang

disyaratkan

berpendapat

jika

bagi

seseorang

seseorang

untuk

berkeinginan

berubah.
untuk

Fesinger

memperoleh

perubahan pribadi, selain persetujuan Publio, cara terbaik untuk


melakukannya

adalah

menawarkan

cukup

penghargaan

atau

hukuman untuk memperolah persetujuan.

12.

TEORI UMUM CATTELL

Raymond B Cattell (dan juga Hans Eysenck) mempunyai keyakinan


dasar bahwa kepribadian memiliki banyak sekali dimensi yang
dapat diukur, dan teknik statistik analisis faktor dapat dipakai
sebagai sarana untuk mengisolasi variabel-variabel kepribadian itu.
Misalnya, seorang pakar kepribadian akan meneliti hipotesa yang
menyatakan bahwa manusia itu mempunyai 30 macam traitsdi
dalam dirinya. Dibuatlah alat ukur untuk mengungkap besaran traittrait itu di dalam diri seseorang. Masalahnya adalah, apakah 30
traits itu saling terpisah, atau ada dua trait atau lebih yang saling
berhubungan dan dapat dipandang sebagai satu trait saja? Faktor
analisis

merupkan

prosedur

untuk

menganalisis

seperangkat

korelasi antara berbagai skor hasil pengukuran, dengan tujuan


memperoleh jumlah trait yang lebih sederhana, untuk kemudian
diinterpretasi sebagai struktur dasar dari kepribadian itu sendiri.

Pengukuran merupakan dasar dari kemajuan ilmu kontemporer, dan


dalam psikologi yang harus mengukur obyek-obyek yang tidak
kasat mata, taksonomi atau klasaifikasi tingkah laku memakai
analisis faktor menjadi langkah yang signifikan pemakaian teknik
statistic yang canggih dalam mengembangkan teori dan konsep
kepribadian menempatkan Cattell, Eysenck, dan J.P. Guilford
sebagai pelopor pemakaian kaidah-kaidah ilmiah dalam memahami
kepribadian manusia.

13.

TEORI PSIKOLAGI SOSIAL

Psikologi social adalah suatu studi ilmiah tentang pengalaman dan


tingkah laku individu-individu dalma hubungan denagn situasi
social.

Latar

belakang

timbulnya

psikologisosial

berasal

dari

beberapa pandapat, misalnya Gabriel Tarde mengatakan, pokokpokok teori psikologisosial berpangkal pada proses imitasi sebagai
dasar dari pada interaksi social antar manusia.
Gustave Le Bon berpendapat bahwa pada manusia terdapat dua
macam jiwa yaitu jiwa individu dan jiwamassa yang masing-masing
berlainan sifatnya. Sigmund Freud berbeda dengan Le Bon, ia
berpendapat bahwa jiwa massa itu sebenarnya sudah terdapat dan
tercakup oleh jiwa individu, hanya saja tidakdisadari oleh manusia
itu sendiri karena memang dalam keadaan terpendam.
Pada tahun 1950 dan 1960 psikologi social tumbuh secara aktif dan
program gelar dalam psikologi dimulai disebagian besar universitas.
Dasar mempelajari psikologi social bedasarkan potensi-potensi
manusia dimana potensi ini mengalami proses perkembangan
setelah individu itu hidup dalam lingkungan. Potensi-potensi itu
antara lain :
a. Kemampuan menggunakan bahasa
b. Adanya sikap etik

c. Hidup dalam 3 dimensi


Asumsi Dasar dan Uraian Teori
Pandangan psikologis ini melihat manusia sebagai kesatuan lahiriah
dan nkarakteristik yang mengarahkannya kepada perilaku mandiri.
Dan pandangan ini juga melihat pikiran individu sebgai tempat
memproses dan memahami informasi serta menghasilkan pesan,
tetapi pandangan ini juga mengakui kekuatan yang dimiliki oleh
individu melebihi individu lain serta efek informasi pada pikiran
manusia.

14.

TEORI PENILAIAN SOSIAL

Teori penilaian sosial adalah teori yang dihasilkan dari penelitian


psikolog Muzafer Sherif dan rekan-rekannya. Teori ini berhubungan
dengan

cara

orang

membuat

penilaian

tentang

pernyataan-

pernyataan. Sherif menyelidiki cara-cara individu menilai pesanpesan dan ia menemukan bahwa banyak prinsip psikofisika juga
berpegang pada penilaian sosial. Penelitian menunjukkan bahwa
orang membuat penilaian berdasarkan pada acuan atau titik
referensi. Acuan internal atau titik referensi selalu ada dan
mempengaruhi cara seseorang merespon pesan. Semakin penting
suatu masalah bagi ego seseorang, semakin kuat acuan itu akan
mempengaruhi apa yang dipahami.
Pada masalah apapun, biasanya akan ada sejumlah pernyataan, pro
dan kontra yang dapat ditolerir dan dapat pula ditolak. Rentang
penerimaan dan penolakan seseorang dipengaruhi oleh sebuah
variabel kunci-keterlibatan ego. Keterlibatan ego adalah tingkat
relevansi personal dari suatu masalah. Keterlibatan ego membuat
perbedaan besar dalam hal bagaimana seseorang merespon pesanpesan

yang

berhubungan

dengan

sebuah

topik.

Pengaruh

tentangan timbul bila seseorang menilai sebuah pesan sebagai


sesuatu yang jauh dari sudut pandangnya, dan pengaruh asimilasi
terjadi bila ia menilai pesan itu lebih dekat dengan sudut
pandangnya.
Dalam melakukan penilaian terhadap pesan yang diterima, orang
bisa melakukan dua hal, pertama mengkontraskan dan kedua
mengasimilasikan. Kontras merupakan distorsi perseptual yang
membawa pada polarisasi ide.mengontraskan antara pandangan
kopi itu bermanfaat bagi kesehatan dan kopi itu merugikan
kesehatan. Sedangkan asimilasi menunjukan kekeliruan penilaian
yang bertentangan. Mirip dengan pantulan bola pingpong di meja
pingpong.

Ide

yang

dilontarkan

sejalan

dengan

pandangan-

pandangan atau sikap dasar penerimaan, dipantulkan dan diterima


pembicaraan yang memiliki kesamaan dengan penerima. Ini terjadi
apabila

pesan

yang

disampaikan

diterima

dalam

sikap

pendengarnya pada wilayah penerimaan.


Ada tiga hal yang dikemukaakan Teori Penilaain Sosial ini yang
sudah di uji melalui eksperimen yang bisa di pergunakan untuk
mengkaji pengaruh komuniaksi interpersonal. Ketiga hal tersebut
adalah sebagai berikut :
Pembicaraan

yang

memiliki

kredibilitas

tinggi

akan

mampu

menyampaikan pesan yang masuk ke dalam wilayah penerimaan


pendengarnya.

Misal penjelasan tentang bahaya rokok yang

disampaikan seorang awam akan diterima secara berbeda dengan


penjelasan seorang dokter spesialis jantung oleh pendengarnya.
Ambiguitas seringkali lebih baik dibandingkan dengan kejelasan.
Untuk contoh ini bisa kita ambil dari dunia periklanan. Perhatikan

saja betapa banyak iklan yang menggunakan istilah tidak jelas


namun bisa meyakinkan konsumennya.
Ada orang yang sangat dogmatis dalam setiap permasalahan. Oleh
karena itu, wilayah penolaknya besar, misalnya orang yang begitu
yakin apa yang di ajarkan orang tuanya pasti benar, termasuk cara
memijat tube pasta gigi harus selalu dari ujung bawahnya. Begitu
tube plastic di ganti alumunium sehingga di pijat dari manapun
tube pasta gigi itupun tak ada bedanya, orang tadi akan tetap
melakukan sepetri apa yang di ajarkan orang tuanya itu.

15.

THEORY GENDERLECT STYLES

Genderlect

style

merupakan

bagian

dari

teori

komunikasi

antar budaya, dimana melihat pebedaan gaya berbicara antara laki


lakidengan perempuan di dalam suatu realitas sosial. Pakar yang
fokusmembahas mengenai genderlect style, beserta penjelasan
didalamnya,salah satunya adalah Deborah Tannen.
Deborah Tannen, adalah seorang profesor linguistik yangterkemuka
di Georgetown University di Washington DC, Amerika Serikat.
Tannen

belajar

mengenai

genderlect

style,

dan

menetapkan

caraberkomunikasi, serta hambatan berbicara antar jender. Tannen


dalam bukunya, Thats not what I meant! (1992) dalam Sam
(2009),menjelaskan bahwa proses komunikasi antara laki laki dan
perempuanmerupakan bagian dari komunikasi antar budaya,
Tannen jugamenjelaskan bahwa, linguistik adalah disiplin akademik
yang ditujukanuntuk memahami bagaimana bahasa berfungsi.
Teori

Genderlect

Tannen

secara

garis

besar

membicarakan

bagaimana berkomunikasi secara efektif antara satu sama lain


yang berbeda jender, dalam satu bahasa yang sama, dimana

didalamnyaterdapat

proses

saling

menghargai,

saling

mendengarkan satu sama lain,saling toleransi, tidak ada superior


inferior, tidak ada yang merasa palingbenar ataupun salah, tidak
ada yang lagi klaim pandangan high power low power , dan
relevansi teori Tannen ini adalah upaya untuk memahamiberbagai
jenis komunikasi antara laki laki dan perempuan, yangbertujuan
untuk meningkatkan hubungan kerja yang lebih baik danmembantu
mengurangi kesalahpahaman dan konflik berkelanjutan.
Teori

Genderlect

Tannen,

memiliki

banyak

komponen

dan

cabang,mengenai perbedaan antara laki laki dan perempuan


dalam berkomunikasi. Deborah Tannen dalam Prakosa (2007),
mendiskripsikan ketidak mengertian (misunderstanding ) antara
laki laki dan perempuan berkenaan dengan fakta bahwa fokus
pembicaraan perempuan adalah koneksitas, sementara laki laki
pada pelayanan status dan kemandiriannya.
Genderlect
bukanapa

Styles
yang

membicarakan

dikatakan

tetapi

gaya

percakapan,

bagaimana

dimana

menyatakannya.

Tannen meyakini bahwa terdapat gap antara laki laki dan


perempuan, dikarenakan masing-masing berada pada posisi lintas
budaya

(cross

culture),

untuk

itu

perlu

adanya

upaya

mengantisipasi berkenaan dengan gap itu, karena kegagalan


mengamati perbedaan gaya berbicara dapat membawa masalah
yang besar nantinya.
16.
TEORI KOMUNIKASI PERSUASIF
Persuasi merupakan usaha untuk mengubah
penggunaan

pesan,

berfokus

terutama

pada

sikap

melalui

karakteristik

komunikator dan pendengar. Sehingga komunikasi persuasif lebih


jelasnya merupakan komunikasi yang berusaha untuk mengubah

sikap receiver melalui penggunaan pesan yang dilakukan sender.


DeVito menjelaskan komunikasi persuasif dalam buku Komunukasi
Antarmanusia
Pembicaraan

sebagai
persuasif

berikut:

mengetengahkan

pembicaraan

yang

sifatnya memperkuat, memberikan ilustrasi, dan menyodorkan


informasi kepada khalayak. Akan tetapi tujuan pokoknya adalah
menguatkan

atau

mengubah

sikap

dan

perilaku,

sehingga

penggunaan fakta, pendapat, dan himbauan motivasional harus


bersifat memperkuat tujuan persuasifnya.
Dari penjelasan tersebut, DeVito mengemukakan terdapat dua
macam

tujuan

atau

tindakan

yang

ingin

kita

capai

dalam

melakukan pembicaraan persuasif. Tujuan tersebut dapat berupa


untuk

mengubah

sikap

atau

perilaku

receiver

atau

untuk

memotivasi perilaku receiver.


Nothstine mengatakan dalam modul Komunikasi Persuasif bahwa
pelaksanaan komunikasi persuasif bukanlah hal yang mudah. Agar
dapat mengubah sikap, perilaku, dan pendapat sasaran persuasi,
seorang persuader harus mempertimbangkan faktor-faktor sebagai
berikut:
a. Kejelasan tujuan.
Tujuan komunikasi persuasif adalah untuk mengubah sikap,
pendapat, atau perilaku. Apabila bertujuan untuk mengubah
sikap maka berkaitan dengan aspek afektif, mengubah
pendapat maka berkaitan dengan aspek kognitif, sedangkan
mengubah perilaku maka berkaitan dengan aspek motorik.
b. Memikirkan secara cermat orang yang dihadapi.
Sasaran persuasi memiliki keragaman yang cukup
kompleks. Keragaman tersebut dapat dilihat dari
karakteristik

demografis,

jenis

kelamin,

level

pekerjaan, suku bangsa, hingga gaya hidup. Sehingga,


sebelum melakukan komunikasi persuasif sebaiknya
persuader mempelajari dan menelusuri aspek-aspek
keragaman sasaran persuasi terlebih dahulu.
c. Memilih strategi komunikasi yang tepat.
Strategi komunikasi persuasif merupakan perpaduan antara
perencanaan
komunikasi.

komunikasi
Hal yang

persuasif

dengan

perlu diperhatikan

manajemen

seperti

siapa

sasaran persuasi, tempat dan waktu pelaksanaan komunikasi


persuasi, apa yang harus disampaikan, hingga mengapa
harus disampaikan.

17.

TEORI PSIKOLOGI KOMUNIKASI

Psikologi pun telah menghasilkan banyak teori yang berkaitan


dengan ilmu komunikasi, di antaranya adalah:
a. Teori Psikoanalisis, yaitu manusia dikendalikan oleh keinginan
terpendam di dalam dirinya (homo valens)
b. Teori Behaviorisme, yaitu manusia sangat dipengaruhi oleh
informasi dari media massa. Hal tersebut dilandasi konsep
behaviorisme, yaitu manusia dianggap sangat dikendalikan
oleh alam (homo mechanicus).
c. Teori Psikologi Kognitif, yaitu konsep yang melihat manusia
sebagai

makhluk

yang

aktif

mengorganisasikan

mengolah informasi yang diterima (homo sapiens).


d. Teori
Psikologi
Humanistis,
yaitu
konsep
menggambarkan

manusia

sebagai

pelaku

aktif

dan
yang
dalam

merumuskan strategi transaksional dengan lingkungannya


(homo ludens).
Proses komunikasi bisa terjadi dalam diri seorang individu, dengan
orang lain, dan kumpulan-kumpulan manusia dalam proses sosial.
Berdasarkan pendapat tersebut, Burgon & Huffner (2002) membuat
klasifikasi tiga jenis komunikasi, yaitu:

a. Komunikasi Intrapersonal, yaitu proses komunikasi yang


terjadi di dalam diri individu (internal). Contohnya adalah
kegiatan merenung, berpikir, berdialog dengan diri sendiri,
baik dalam keadaan sadar maupun tidak.
b. Komunikasi Interpersonal, yaitu proses komunikasi yang
terjadi antara satu individu dan individu lain sehingga
memerlukan

tanggapan

Contohnya,

perbincangan

(feedback)
dengan

dari

orang

keluarga,

lain.

pasangan,

teman, rekan kerja, tetangga, dan sebagainya.


c. Komunikasi Massa, yaitu proses komunikasi yang dilakukan
kepada sekumpulan manusia di mana di dalamnya terdapat
proses sosial, baik melalui media massa atau langsung, dan
bersifat satu arah (one way communication). Contohnya
adalah kegiatan komunikasi (penyebaran informasi) yang
terjadi di hadapan sekumpulan massa, melalui televisi, radio,
media internet, media cetak, dan lain-lain.
Psikologi telah lama berupaya memahami komponen-komponen
yang terlibat dalam proses komunikasi, khususnya komunikator dan
komunikan. Psikologi meneliti karakteristik individu yang menjadi
komunikan serta faktor-faktor internal maupun eksternal yang
memengaruhi perilaku komunikasinya. Psikologi juga mempelajari
sifat-sifat individu yang menjadi komunikator dan mencari tahu apa
yang menyebabkan keberhasilan atau kegagalan satu sumber
komunikasi dalam memengaruhi orang lain.
18.Teori Konsistensi
Semua teori konsistensi dimulai dengan dasar pikiran yang sama,
yaitu

orang

lebih

nyaman

dengan

konsistensi

daripada

inkonsistensi. Konsistensi adalah prinsip aturan utama dalam


proses kognitif dan perubahan sikap yang dapat dihasilkan dari
informasi yang mengacaukan keseimbangan ini.

Dalam bahasa sibernetika, manusia mencari homeostasis atau


keseimbangan dan sistem kognitif adalah sebuah alat utama yang
digunakan untuk mencapai keseimbangan. Ada dua jenis teori
konsistensi

kognitif,

yakni

teori

disonansi

kognitif

(cognitive

dissonannce) karya Leon Festinger serta teori penggabungan


problematis karya Austin Babrow. Penjelasannya ada di bawah ini.

19.

TEORI PENGGABUNGAN MASALAH

Austin Babrow menyatakan, peran komunikasi dalam memabantu


individu mengatur disonansi kognitif atau apa yang disebut sebagai
penggabungan masalah (problematic integration). Teori Babrow ini
didasarkan pada 3 dalil, yakni:
Kita memiliki kecenderungan alami untuk menyejajarkan harapanharapan

dan

penilaian-penilaian

kita

sendiri.

Kedua,

menggabungkan harapan dan penilaian menjadi suatu masalah,


tidak selalu mudah untuk menyejajarkan harapan dan penilaian.
Ketiga, penggabungan masalah berakar dari komunikasi dan diatur
melalaui komunikasi.
Dalil

pertama

Babrow,

kebutuhan

yang

dirasakan

untuk

menyejajarkan harapan dengan nilai, dapat menghasilkan tekanan


ketika apa yang diinginkan ternyata tidak sejajar dengan apa yang
kita harapkan. Dengan lain kata, sebagai sebuah aturan, kita lebih
merasa nyaman ketika Anda menyukai hal-hal yang kita rasa dapat
kita miliki dan kita cenderung mengharapkan hal-hal yang kita
sukai.
Dalil kedua, penggabungan harapan dan penilaian acap kali
menjadi masalah juga. Ada 4 kondisi dilematis. Pertama, perbedaan

(diveregence) antara harapan dan penilaian. Di sini harapan tidak


sesuai

dengan

penilaian.

Masalah

lainnya

yakni

ambiguitas

(kurangnya penjelasan mengenai apa yang diharapkan). Kondisi


ketiga, dua perasaan yang bertentangan (ambivalence) atau
penilaian yang bertentangan. Keempat, penggabungan masalah
dapat terjadi ketika peluang terjadinya sesuatu sebenarnya tidak
mungkin.
Dalil ketiga dari teori ini, penggabungan masalah memerlukan
komunikasi karena kita mengalami penggabungan masalah melalui
komunikasi. Teori penggabungan masalah merupakan teori yang
membantu

kita

memahami

cara-cara

komunikator

berpikir,

bagaimana mereka menggabungkan dan menyusun infomasi yang


memengaruhi sikap, keyakinan, nilai dan perilaku.

20.

TEORI KOMUNIKASI TENTANG IDENTITAS

Ketika kita menanyakan, siapakah saya?, sejatinya kita meneliti


bahasan mengenai identitas diri, yaitu susunan gambaran diri kita
sebagai

seseorang.

Teori-teori

yang

berfokus

pada

pelaku

komunikasi akan selalu membawa identitas diri ke sejumlah


tingkatan, tapi identitas berada dalam lingkup budaya yang luas
dan manusia berbeda dalam menguraikan diri mereka sendiri.
Misalkan di Afrika, identitas dipahami sebagai hasil pencarian
keseimbangan

dalam

hidup

dan

sebagian

bergantung

pada

kekuatan yang didapatkan manusia dari leluhur mereka. Di Asia,


identitas didapatkan bukan melalui usaha perorangan, tapi melalui
usaha kolektif kelompok dan timbal balik antarmanusia. Dalam
budaya Yunani, identitas dipahami sebagai sesuatu yang bersifat
pribadi dan seseorang melihat diri bertentangan atau berbeda
dengan identitas yang lain.

Teori Komunikasi tentang Identitas menggabungkan 3 konteks


budaya, yakni: individu, komunal dan publik. Teori ini dicetuskan
oleh Michael Hecht dan koleganya. Menurut teori tersebut, identitas
merupakan penghubung utama antara individu dan masyarakat
serta masyaraakat dan komunikasi merupakan mata rantai yang
memperbolehkan hubungan ini terjadi.
Tentu

identitas

Anda

adalah

kode,

yang

mendefiniskan

keanggotaan Anda dalam komunitas yang beragam, kode yang


terdiri dari simbol-simbol, seperti bentuk pakaian dan kepemilikan,
kata-kata, seperti diskripsi diri atau benda yang biasanya Anda
katakan, dan makna yang Anda dan orang lain hubungkan terhadap
benda-benda tersebut.
Komunikasi merupakan alat untuk membentuk identitas dan juga
mengubah mekanisme. Anda mendapatkan pandangan serta reaksi
orang lain dalam interaksi sosial dan sebaliknya, memperlihatkan
rasa identitas dengan cara Anda mengekspresikan diri Anda dan
merespons

orang

lain.

Subjective

dimension

akan

identitas

merupakan perasaan pribadi Anda, sedangkan ascribed dimension


adalah apa yang orang lain katakan tentang Anda.
Dengan lain kata, rasa identitas Anda terdiri dari makna-makna
yang dipelajari dan yang Anda dapatkan diri pribadi Anda; maknamakna tersebut diproyeksikan kepada orang lain kapanpun Anda
berkomunikasisuatu proses yang menciptakan diri Anda yang
digambarkan.
Hecht menguraikan identitas melebihi pengertian sederhana akan
dimensi diri dan dimensi yaang digambarkan. Kedua dimensi
tersebut berinteraksi dalam rangkaian 4 tingkatan atau lapisan.

Tingkatan pertama, adalah personal layer, terdiri dari rasa akan


keberadaan diri Anda dalam situasi sosial. Tingkatan kedua,
enactment layer, atau pengetahuan orang lain tentang diri Anda
berdasarkan pada apa yang Anda lakukan, apa yang Anda miliki,
dan bagaimana Anda bertindak.
Penampilan Anda adalah simbol-simbol aspek yang lebih mendalam
tentang identitas Anda serta orang lain akan mendefinisikan dan
memahami Anda melalui penampilan tersebut. Tingkatan ketiga,
relational atau siapa diri Anda dalam kaitannya dengan individu
lain. Identitas dibentuk dalam interaksi Anda dengan mereka.
Tingkatan keempat, tingkatan komunal yang diikat pada kelompok
atau budaya yang lebih besar.

21.

TEORI NEGOSIASI IDENTITAS

Stel Ting-Toomey mengeksplorasi cara-cara di mana identitas


dinegosiasi (dibahas) dalam interaksi dengan orang lain, terutama
dalam berbagai budaya. Identitas atau gambaran refleksi diri
dibentuk melalui negosiasi ketika kita menyatakan, memodifikasi
atau menantang identifikasi-identifikasi diri kita atau orang lain. Hal
ini bermula dalam kehidupan keluarga, ketika kita mulai memeroleh
berbagai

identitas

pribadi

dan

sosial.

Identitas

etnik

dan

kebudayaan ditandai oleh nilai isi (value content) dan ciri khas
(alience). Nilai isi terdiri dari macam-macam evaluasi yang Anda
buat berdasarkan pada kepercayaan-kepercayaan budaya.
Beberapa individu lebih efektif dalam memeroleh keseimbangan
yang nyaman. Anda tahu bahwa Anda telah melaksanakannya,
sehingga ketika Anda mempertahankan rasa diri yang kuat, tapi
juga mampu menelusuri dengan fleksibel identitas yang lainnya
dan membolehkannya untuk memiliki rasa identitas. Ting-Toomey

menyebutnya keadaaan functional biculturalism atau bikulturalisme


fungsional. ketika Anda mampu berganti dari satu konteks budaya
ke budaya lainnya dengan sadar dan mudah, maka Anda telah
mencapai keadaan pengubah kebudayaan (cultural transformer).
Kunci

untuk

memeroleh

keadaan-keadaan

tersebut

adalah

kemampuan lintas budaya (intercultural competence).


Kemapuan lintas budaya terdiri atas 3 komponen: pengetahuan
(knowledge), kesadaran (mindfulness), dan kemampuan (skill).
Pengatahuan

adalah

pemahaman

akan

pentingnya

identitas

etnik/kebudayaan dan kemampuan melihat apa yang penting bagi


orang

lain.

Artinya,

mengetahui

sesuatu

tentang

identitas

kebudayaan dan mampu melihat segala perbedaan. Kesadaran


berarti secara biasa dan teliti untuk menyadari. Kemampuan
mengacu pada kemampuan untuk menegosiasi identitas melalui
observasi yang teliti, menyimak, empati, kepekaan non verbal,
kesopanan, penyusunan ulang dan kolaborasi.

22.

TEORI TRADISI KRITIK

Teori ini terpusat pada politik diri atau cara kita memosisikan diri
masing-masing secara sosial sebagai individu yang diberi kuasa
atau yang tidak diberi kuasa. Teori identitas politik (identity
politics), kekuatan sosial pribadi, berbagai pandangan kritis yang
sama tentang identitas dengan implikasi penting bagi pelaku
komunikasi. Titik tolak bagi teori identitas diawali pada waktu
banyaknya pergerakan sosial yang uncul di Amerika tahun 60-an,
termasuk hak-hak masyarakat, kekuatan kulit hitam, pergerakan
wanita dan pergerakan kaum gay./lesbian.
Berbagai pergerakan di atas, memiliki persamaan dalam beberapa
asumsi tentang kategori identitas yakni: para anggota kategori

identitas berbagi kesamaan analisis tentang tekanan mereka yang


sama, tekanan yang sama menggantikan semua kategori identitas
lainnya, para anggota kelompok identitas selalu menjadi sekutu
satu sama lain. Ada 3 teori dalam tradisi kritik, yang berguna dalam
membantu para ahli komunikasi memikirkan identitas dengan caracara yang rumit dan menantang. Yakni: teori sudut pandang,
identitas sebagai yang dibentuk dan ditampilkan serta teori yang
ganjil (queer theory).

23.

Teori

TEORI SUDUT PANDANG (STANDPOINT THEORY)


ini

mengkaji

mempengaruhi

bagaimana

aktivitas

keadaan

individu

dalam

kehidupan

individu

memahami

dan

membentuk dunia sosial. Permulaan untuk memahami pengalaman


bukanlah kondisi sosial, ekspektasi peran dan definisi gender, tetapi
cara khusus di mana individu membentuk kondisi tersebut dan
pengalaman mereka di dalamnya. Epistemologi sudat pandang
memperhitungkan keragamaman dalam komunikasi wanita dengan
memahami perbedaan sifat-sifat menguntungkan yang dibawa oleh
wanita ke dalam komunikasi dan berbagai cara dalam penanaman
tersebut yang mereka jalankan dalam praktiknya. Teori sudut
pandang

menjawab

pandangan-pandangan

esensial

terhadap

wanita. Hal terpenting bagi teori sudat pandang adalah ide


pemahaman yang berlapis.

24.

IDENTITAS YANG DIBENTUK DAN DITAMPILKAN

Teori kritik identitas (theory critical identity) menyarankan bahwa


identitas ada dalam konstruksi sosial kategeori itu oleh budaya
yang lebih luas. Kita memperoleh identitas kita dalam bagian yang
lebih luas dari konstruksi yang menawarkan identitas itu dari
berbagai kelompok sosial di mana kita menjadi bagiankeluarga,
masyarakat, subkelompok budaya dan ideologi dominan. Dengan

mengabaikan dimensi identitasgender, kelas, ras, seksualitas


identitas ditampilkan sesuai atau berlawanan dengan norma dan
ekspektasi. Gender trouble milik Judith Butler adalah artikulasi
identitas yang kuat karena keduanya dibentuk dan ditampilkan
serta teori-teorinya memiliki pengaruh dalam memikirkan identitas
dalam kajian komunikasi.

25.

TEORI QUEER

Secara histori, istilah queer punya beragam makna, yang mengacu


pada sesuatu yang ganjil atau tidak biasa, seperti pada kata
querky. Ditujukan untuk karakteritik negatif, seperti kegilaan, yang
ada di luar norma-norma sosial. Asal teori queer dirujuk pada Teresa
de Auretis yang pada tahun 1990 memilihnya sebagai judul sebuah
konferensi

yang

ia

koordinasi

yang

bertujuan

mengacaukan

kepuasan diri akan kajian lesbian dan homo.


Sebagai kajian interdisipliner, teori queer mempertahankan misi
yang mengacaukan yang telah ditunjukkan oleh de Lauretis,
dengan sengaja untuk menggoncangkan makna, kategori dan
identitas di antara gender dan seksualitas. Teori ini berusaha
membuat keganjilan, memusingkan, meniadakan, membatalkan,
melebih-lebihkan, pengetahuan dan institusi yang heteronormative.
Dalam pendidikan, teori queer merupakan tantanagan besar
terhadap gagasan-gagasan tradisional tentang identitas. Dalam
kontradiksi dan paradoks, teori ini menemukan poin utamanya bagi
keberhasilan dan batasannya. Secara marginal dan sentral, teori ini
menawarkaan sebuah pandangan unik mengenai komunikasi, di
antara ilmu-ilmu lainnya, dengan pendiriannya yang menganggu.

26.

TEORI KEMUNGKINAN ELABORASI

Richard

Petty

dan

mengembangkan

John

teori

Cacioppo

adalah

kemungkinan

tokoh-tokoh

elaborasi

yang

(elaboration

likelihood theory/ELT), mencoba memahami semua perbedaan yang


ada. ELT adalah teori persuasi karena teori ini mencoba untuk
memprediksi kapan dan bagaimana Anda akan dan tidak akan
terbujuk oleh pesan. Teori ini mencoba untuk menjelaskan dengan
cara berbeda di mana Anda mengevaluasi informasi yang Anda
terima. Kadang juga, Anda mengevaluasi pesan dalam cara yang
rumit, menggunakan pemikiran yang kritis, dan kadang-kadang
Anda melakukannya dengan cara yang lebih sederhana dan cara
yang kurang kritis.
Ada dua rute untuk mengolah pesan, rute sentral dan periferal.
Elaborasi atau berfikir kritis terjadi pada rute sentral, sementara
ketiadaan berpikir secara kritis terjadi pada rute periferal. Dengan
demikian, ketika Anda mengolah informasi melalui rure sentral,
Anda

memikirkan

secara

aktif

dan

mempertimbangkannya

berlawananan dengan yang telah Anda ketahui, Anda menanggapi


semua argumen dengan hati-hati. Jika sikap Anda berubah hal
tersebut mengarahkan Anda pada perubahan relatif kekal dan
memengaruhi bagaimana Anda berperilaku sebenarnya.
Ketika kita mengolah informasi melalui rute periferal, Anda akan
sangat kurang kritis. Perubahan apapun yang terjadi, kurang
berpengaruh pada bagaimana Anda bertindak. Namun, karena
kecenderungan elaborasi adalah sebuah variabel, Anda akan
menggunakan

kedua

rute

tersebut

sampai

taraf

tertentu,

bergantung pada seberapa besar keterkaitan personal isu tersebut


terhadap Anda.

Dan jumlah pikiran kritis yang Anda terapkan pada sebuh argumen
bergantung pada dua faktor yakni motivasi dan kemampuan Anda.
Motivasi paling tidak terdiri atas tiga hal. Pertama, keterlibatan atau
relevansi personal dengan topik. Kedua, dalam motivasi adalah
perbedaan pendapat. Kita cenderung lebih memikirkan pendapat
yang berasal dari beragam sumber. Dan faktor ketiga adalah
kecenderungan pribadi terhadap cara berpikir kritis. Orang yang
suka

mempertimbangkan

pendapat,

lebih

menggunakan

pengolahan secara sentral daripada mereka yang tidak suka akan


hal tersebut.

27.

TRADISI SIBERNETIKA

Teori sibernetika menekankan hubungan timbal balik di antara


semua bagian dari sebuah sistem. Ada dua genre teori sibernetika.
Pertama,

satu

kelompok

teoi

yang

berasal

dari

rubrik

penggabungan informasi (informaation integration). Kedua, satu


kelompok teori yang dikenal sebagai teori konsistensi (consistency
theories). Adapun teri-teori komunikator dalam tradisi sibernetika
dapat dikategorikan menjadi:

28.

TEORI PENGGABUNGAN

Berpusat pada cara kita mengakumulasi dan mengatur informasi


tentang semua orang, objek, situasi dan gagasan yang membentuk
sikap atau kecenderungan untuk bertindak dengan cara yang
positif atau negatif terhadap sejumlah objek. Model ini bermula
dengan konsep kognisi yang digambarkan sebagai sebuah kekuatan
sistem interaksi. Terdapat dua variabel, yang mempengaruhi
perubahan sikap. Pertama, valence (arahan) dan bobot yang Anda
berikan terhadap informasi.

Valence mengacu pada apakah informasi mendukung keyakinan


Anda atau menyangkal mereka. Ketika informasi mendukung
keyakinan Anda, maka informasi tersebut memiliki valence positif.
Ketika tidak menyokong, maka nilai valence-nya negatif. Sedangkan
bobot adalah sebuah kegunaan dari kredibilitas. Jika Anda berpikir
bahwa

informasi

tersebut

adalah

benar,

maka

Anda

akan

memberikan bobot lebih tinggi pada informasi tersebut. Jika tidak,


maka bobotnya menjadi lebih rendah.
Jadi valence mempengaruhi bagaimana informasi mempengaruhi
sistem keyakinan Anda dan bobot mempengaruhi seberapa banyak
pengaruh itu bekerja. Ide dasar dari penggabungan informasi
bergantung

pada

keseimbangan

keyakinan,

valence

dan

kredibilitas.

29.

TEORI NILAI EKSPEKTASI

Salah satu tokoh penggagas teori ini adalah Martin Fishbein.


Menurutnya, ada dua macam keyakinan. Pertama, yakin pada suatu
hal. Ketika kita meyakini sesuatu, kita akan berkata bahwa hal
tersebut ada. Kedua, yakin tentang adalah perasaan kita pada
kemungkinan bahwa hubungan tertentu ada di antara dua hal.
Menurut teori nilai ekspektasi, perubahan sikap dapat berasal dari 3
sumber. Pertama, informasi dapat mengubah kemampuan untuk
meyakini atau bobot terhadap keyakinan tertentu. Kedua, informasi
dapat mengubah valence dari sebuah keyakinan. Ketiga, informasi
dapat menambah keyakinan yang baru terhadap struktur sikap.

30.

TEORI TINDAKAN YANG BERALASAN

Icek Ajzen dan Martin Fishbein memperluas cakupan dari teori nilai
ekspektasi dengan menambahkan faktor intensi dalam rumus.

Mereka menunjuk

hal

ini sebagai

teori dari

tindakan

yang

beralasan. Secara spesifik, intensi dari perilaku tertentu ditentukan


oleh sikap kita terhadap perilaku dan kumpulan keyakinan tentang
bagaimana orang lain ingin kita berperilaku. Adapun formula yang
dikembangkan untuk memperkuat proses tersebut adalah:
Intensi perilaku (BI) = Sikap terhadap perilaku berbanding lurus
(Ab) dengan Bobot sikap (W1) plus Norma subjektif (apa pikiran
orang lain) (SN) berbanding lurus dengan Bobot norma subjektif
(W2).
Formulasi di atas memprediksikan intensi dari perilaku Anda, tetapi
tidak secara utuh memperkirakan perilaku sebenarnya. Ini karena
kita tidak selalu berperilaku berdasarkan intensi orang lain. Secara
garis besar, Teori Tindakan yang Beralasan ini secara prinsipiil
membantu kita melihat hubungan antara sistem faktor, apa yang
Anda pikirkan tentang isu dan bagaimana Anda berperilaku yang
dihasilkan dari sebuah interaksi kompleks di antara variabel.

31.

TEORI SENSITIVITAS RETORIKA

Penemunya Roderich Hart dan koleganya. Merupakan teori yang


membahas sikap

yang menunjukkan

tendensi-tendensi

untuk

mengadaptasikan pesan ke audience

32.

RELATIONAL

DIALECTICS (DIALEKTIKA

RELASIONAL)

Dikemukakan oleh Baxter dan Montgomery pad atahun 1988. Teori


ini membahas tentang dialektika yang sebenarnya sudah ada sejak
lama. Karya-karya Leon Tostsky (15 Desember 1939, terjemahan
anonim) tentang pemikiran dialektis juga bisa mengingatkan
kepada kita bahwa konsep dialektika itu bersifat bebas dan berubah
dalam segala aspeknya.

33.

SOURCE

CREDIBILITY

KREDIBILITAS SUMBER )
Penelitian

awal

pada

THEORY

kredibilitas

mencari

tahu

TEORI
bagaimana

modifikasi pada karakteristik-karakteristik sumber (komunikator)


mempengaruhi keinginan orang mengubah sikapnya terhadap isuisu tertentu (Hovland, Janis, & Kelley, 1953). Teori ini menjelaskan
bahwa seseorang dimungkinkan lebih mudah dibujuk (dipersuasi)
jika sumber-sumber persuasinya (bisa komunikator itu sendiri)
memiliki kredibilitas yang cukup. Cukup mudah untuk memahami
teori ini dalam konteks kasus. Kita biasanya akan lebih percayadan
cenderung menerima dengan baik pesan-pesan yang disampaikan
oleh orang-orang yang memiliki kredibilitas dibidangnya.
Hovland dkk menemukan bahwa keahlian dan kredibilitas sumber
dianggap sebagai dua atribut penting dari kredibilitas sumber.
Meskipun demikian mereka juga mengakui bahwa dampak pesan
dapat juga tergantung publikasi atau saluran tertentu.
Berlo

dkk,

setelah

terhadap differential
sumber

memiliki

kedinamisan.

melakukan
scales,

tiga

serangkaian

menyimpulkan

dimensi;

analisis

bahwa

keselamatan,

faktor

kredibilitas

kualifikasi

dan

Sementara itu, Whitehead (1968) menambahkan

faktor kompetensi dan obyektivitas sebagai komponen penting


kredibilitas. Melihat kenyataan ini dapat dikatakan bahwa para
ilmuwan belum memiliki kata sepakat mengenai kredibilitas sumber
(Kiousis, 2001; 383).
Dari semua ide dari para ilmuwan tersebut maka akan kita
dapatkan bahwa kredibilitas sumber berkaitan dengan beberapa
faktor, yaitu:
a. keahlian dan kredibilitas,
b. keselamatan, kualifikasi dan kedinamisan, dan
c. kompetensi dan obyektivitas.

Setidaknya, terdapat tiga model guna mempersempit ruang lingkup


teori kredibilitas ini, juga sebagai strategi dalam memfokuskan
studi komunikasi, yakni:
a. Factor model ( suatu pendekatan covering laws ), membantu
menetapkan sejauh mana pihak penerima menilai kredibilitas
suatu sumber.
b. Function model ( masih dalam suatu pendekatan covering
laws ) memandang krebilitas sebagai tingkat dimana suatu
sumber

mampu

memuaskan

kebutuhan

kebutuhan

induvidu penerima.
c. Construktivist model ( suatu pendekatan human action )
menganalisis apa yang dilakukan penerima dengan adanya
usulan usulan sumber.