Anda di halaman 1dari 17

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Tic

didefinisikan

sebagai

kontraksi

otot

berulang dan cepat

y a n g m e n g h a s i l k a n gerakan atau vokalisasi yang dirasakan sebagai


sesuatu yang involuntar. Anak dan remaja bisa menunjukkan perilaku
tik yang terjadi setelah suatu stimulus atau sebagai respon terhadap
dorongan internal.
Gangguan

Tic

merupakan

kelompok

gangguan

neuropsikiatrik yang umumnya dimulai pada masa kanak atau remaja


dan dapat konstan atau memburuk- membaik sepanjang waktu. Meskipun Tic
tidak atas keinginan sendiri, pada beberapa orang, Tic dapat ditekan untuk
suatu periode waktu. Gangguan Tic yang paling luas diketahui
dan paling berat adalah sindrom Gilles de la Tourette, juga dikenal sebagai gangguan
Tourette. sebanyak 4 hingga 5 per 10.000 orang mungkin mengalami beberapa
bentuk gangguan Tic, biasanya sebelum masa pubertas. Tourette
sindrom adalah ekspresi lebih parah dari spektrum gangguan Tic,
yang dianggap disebabkan oleh kerentanan genetik yang sama.
Perilaku Tic umum di kalangan anak-anak usia sekolah. Anak lakilaki tiga kali lebih mungkin akan terpengaruh oleh gangguan Tic
berbanding perempuan. Onset komponen motorik gangguan ini umumnya
terjadi pada usia 7 tahun: Tic vokal muncul pada usia 11 tahun. Gangguan ini

memiliki onset sebelum 18 tahun, dan tidak disebabkan oleh suatu zat atau
keadaan medis umum.
Tic pada gangguan Tourtte merupakan Tic motorik yang multipel dan satu
atau lebih Tic vokal. Tic akan terjadi dalam bebarapa kali sehari selama lebih dari
1 tahun. Gangguan Tourette menimbulkan penderitaan atau hendaya yang
signifikan di dalam area fungsi yang penting.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Definisi
Tic adalah suatu gerakan motorik (yang lazimnya mencakup

suatu kelompok otot khas tertentu) yang tidak di bawah


pengendalian, berlangsung cepat, dan berulang-ulang, tidak
berirama, ataupun suatu hasil vocal yang timbul mendadak dan
tidak memiliki tujuan yang nyata. Tic terbagi menjadi Tic motorik
dan Tic vocal. Tic jenis motorik dan jenis vocal mungkin dapat
dibagi dalam golongan yang sederhana dan yang kompleks,
sekalipun penggarisan batasannya kurang jelas.
Tic seringkali terjadi sebagai fenomena tunggal namun tidak
jarang

disertai

variasi

gangguan

emosional

yang

luas,

khususnya, fenomena obsesi dan hipokondrik. Namun ada pula


beberapa hambatan perkembangan khas disertai Tic. Tidak
terdapat garis pemisah yang jelas antara gangguan Tic
dengan berbagai gangguan emosional dan gangguan emosional
disertai Tic.
2.2

Epidemiologi
Sebuah

komunitas,

yang

berbasis

penelitian

besar

menunjukkan bahwa lebih dari 19% dari anak-anak usia sekolah


memiliki gangguan Tic. Anak-anak dengan gangguan Tic dalam
penelitian yang biasanya terdiagnosi, sebanyak 4 hingga 5 per

10.000 orang mungkin mengalami beberapa bentuk gangguan


Tic, biasanya sebelum masa pubertas. Tourette sindrom adalah
ekspresi lebih parah dari spektrum gangguan Tic, yang dianggap
disebabkan oleh kerentanan genetik yang sama. Perilaku Tic
umum di kalangan anak-anak usia sekolah. Anak laki-laki tiga kali
lebih mungkin akan terpengaruh oleh gangguan Tic berbanding
perempuan. Onset komponen motorik gangguan ini umumnya terjadi pada
usia 7 tahun: Tic vokal muncul pada usia 11 tahun.
2.3

Etiologi
Beberapa etiologi terjadinya Tic disebabkan antara lain karena:
1. Faktor genetik
Herediter/diwariskan(inherited)
a. Distoniatorsi
b. Neuroakantosis
c. Penyakit Huntington
d. Penyakit Wilson
Kembar monozigot
2. Faktor Neurikimia dan Neuroanatomis
Tic diyakini hasil dari disfungsi tripartit dalam sistem saraf pusat.
Teknik Imaging telah menjelaskan ganglia basal dan korteks frontal
dalam patogenesis sindrom Tourette's. Kedua sumber abnormalitas
diperkirakan tidak pantas menjadi peraturan neurotransmiter, terutama
dopamin

bukti

supersensitivity

kuat
dari

menunjukkan
dopamin

kelebihan

postsynapTic

dopamin
reseptor

atau
adalah

mekanisme yang mendasari pathophysiologic's sindr.om Tourette.


Terbukti dalam penelitian penggunaan Haloperidol terhadap gangguan
Tic tidak efektif mengurangi Tic namun memperburuk Tic.
3. Faktor Imunologis dan pasca infeksi

Proses autoimun akibat infeksi streptokokus berpotensi menimbulkan


gangguan Tic
Ada pengalaman yang menakutkan dan menimbulkan panik, trauma
mental

dan

shock

emosional,

lalu

berusaha

meredusi

dan

menghilangkan pengalaman yang pahit tersebut dengan melakukan


Tic
Beberapa iritasi organis dan stimulus lingkungan tertentu dan terjadi
pengulangan tingkah laku tersebut maka timbul pola kebiasaan
Ada ide-ide tertentu yang menyebabkan orang mengadakan peniruan,
kemudian imitasi ini menjadi kuat dan mendominir satu kelompok dan
syaraf, ide itu jadi kebiasaan
Didapatkan/diperoleh (acquired)
a. Infeksi(misalnya choreasydenham,ensefalitis).
b. Obat-obatan,
misalnya
oleh:
Stimulan,
c.
d.
e.
f.

2.4

Levodopa,

Antikonvulsan(karbamazepin, lamotrigin), Neuroleptik


Pertumbuhan/perkembangan (developmental)
Stroke
Toksin(misalnya karbonmonoksida)
Trauma kepala

Kriteria menurut DSM IV


1. Baik beberapa motor dan satu atau lebih vokal Tic telah
hadir di beberapa waktu selama sakit, meskipun tidak
selalu bersamaan
2. Tics terjadi berkali-kali sehari (biasanya dalam serangan)
hampir setiap hari atau sebentar-sebentar selama jangka
waktu lebih dari satu tahun, dan selama periode ini tidak
pernah ada periode bebas Tic lebih dari tiga bulan
berturut

3. Gangguan menyebabkan distress yang ditandai atau


penurunan yang signifikan dalam sosial, pekerjaan atau
lainnya penting bidang berfungsi
4. Onset adalah sebelum usia 18 tahun
5. Gangguan tidak disebabkan oleh efek fisiologis langsung
dari suatu zat (misalnya, stimulan) atau kondisi medis
2.5

umum.
Klasifikasi
1. Gangguan Tic Transien
Satu atau beberapa motor dan / atau vokal Tic. Tic ini
terjadi berkali-kali sehari, hampir setiap hari selama
sedikitnya 4 minggu, tetapi tidak lebih dari 12 bulan
berturut-turut. Onset adalah sebelum usia 18 tahun.
Gangguan ini bukan karena efek fisiologis zat atau
kondisi medis umum. Kriteria tidak pernah bertemu
untuk gangguan Tourette atau motor kronis atau Vocal
Tic Disorder
2. Gangguan Tic Kronis
Disebut juga vokal Motor tunggal atau beberapa atau
Tics vokal hadir beberapa waktu selama penyakit. Tic
terjadi beberapa kali sehari hampir setiap hari atau
sebentar-sebentar selama jangka waktu lebih dari satu
tahun dan selama periode ini tidak pernah ada periode
Tic-bebas lebih dari 3 bulan berturut-turut. Onset adalah
sebelum usia 18 tahun. Gangguan ini bukan karena efek

fisiologis zat atau kondisi medis umum. Kriteria tidak


pernah bertemu untuk gangguan Tourette
3. Sindrom Tourette
Gangguan Tourette kehadiran kedua motor berganda dan
satu atau Tics vokal lebih selama sakit. Tic ini terjadi
berkali-kali sehari hampir setiap hari atau sebentarsebentar selama jangka waktu lebih dari satu tahun dan
selama periode ini tidak pernah ada periode Tic-bebas
lebih dari 3 bulan berturut-turut. Onset adalah sebelum
usia 18 tahun. Gangguan ini bukan karena efek fisiologis
zat atau kondisi medis umum. Terdapat gangguan
penyampaian syaraf dalam bahan kimiawi otak yang
menyebabkan gangguan atau perilaku tak wajar dari
penderita yang kerap disebut Ticks. Penyakit ini cukup
banyak ditemukan, dan diantaranya mempengaruhi 1
dari 100 orang dari berbagai lapisan masyarakat, bangsa
maupun ras.

Hubungan

ADHD

dengan

Syndrom

Tourette

sering terjadi pada sebagian besar anak ADHD dan


kelainan obsesif kompulsif juga menderita sindroma
Tourette.

Namun,

bukan

berarti

sindrom

Tourette

merupakan penyakit yang berkaitan dengan inteligensia


atau keterbelakangan mental. Gangguan ini murni akibat
kelainan

proses

penyampaian

perintah

oleh

neurotransmitter dalam otak. Tak ada kaitan dengan

kemampuan ingatan maupun kecerdasan. Kebanyakan


kekurangan anak sindroma Tourette di bidang akademis
ini disebabkan karena ia mengalami masalah sosial
dengan

lingkungan

sekolah.

Beberapa

literatur

menyebutkan, kelainan sindrom Tourette bisa didapat


secara

genetik

atau

keturunan.

Keturunan

yang

dimaksud tak harus didapat langsung dari ayah atau ibu,


namun bisa didapat secara riwayat keluarga. Maka,
dokter juga akan menelusuri riwayat keluarga untuk
menegakkan diagnosa. Selain keturunan, Tic juga bisa
didapat akibat infeksi penyakit. Misalnya, saat masih
bayi

pernah

terinfeksi

bakteri

streptococcus

haemolyTicus grup A. Bakteri ini memiliki protein yang


sama dengan protein di area basal ganglia di otak
pengatur gerakan. Akibatnya, antibodi yang dibentuk
untuk menghalau bakteri ini dapat menyerang area itu,
yang menghasilkan gerakan-gerakan tak terkontrol.
Beberapa kondisi berkaitan dengan persalinan juga
dapat menambah peluang terjadinya sindroma Tourette,
dengan

riwayat

keluarga

pembawa

gen

sindroma

Tourette. Misalnya, hipoksia akibat persalinan macet,


berat badan lahir rendah, cedera otak akibat persalinan
tak lancar, ibu yang mengalami mual-muntah berat,

mengonsumsi alkohol, kopi, dan merokok berlebihan di


trimester pertama.
4. Tic Disorder NOS
Gangguan Tic dinyatakan tidak ditentukan kategori ini adalah
untuk gangguan dicirikan oleh Tic yang tidak memenuhi
kriteria untuk Tic Disorder tertentu. Contohnya termasuk
Tic yang berlangsung kurang dari 4 minggu atau Tics
2.6

dengan onset setelah usia 18 tahun


Tanda dan Gejala
Gejala diawali saat kanak-kanak dan remaja, seperti gerakan

kedipan

mata,

menggerakan

kepala

tanpa

sebab

atau

menghentak-hentakkan kaki. Beberapa contoh untuk gangguan


vokal misalnya berdehem, mendecakkan lidah, menjerit atau
merintih. Orang cenderung mengira, penderita Tic-Tourette
cenderung meneriakkan kata-kata kurang sopan setiap saat.
Padahal itu hanya sedikit gejala saja yang dialami oleh sebagian
penderita, disebut dengan coprolalia. Kasus yang lebih sering
adalah penderita cenderung mengucapkan kata-kata yang sama
setiap saat, dinamakan echolalia.
Ciri khas terpenting yang membedakan Tic dari gangguan
motorik lainnya ialah gerakan yang mendadak, cepat, sekejab
dan terbatasnya gerakan, tanpa bukti gangguan neurologis yang
mendasari;

sifatnya

yang

berulang-ulang

(biasanya)

terhenti saat tidur; dan mudahnya gejala itu ditimbulkan kembali

10

atau ditekan dengan kemauan. Kurang beriramanya Tic itu


yang membedakannya dari gerakan yang sterotipik berulang
yang tampak pada beberapa kasus autism dan retardasi mental.
Akivitas motorik manneristik yang tampak pada gangguan ini
cenderung mencakup gerakan yang lebih rumit dan lebih
bervariasi daripada gejala Tic. Gerakan obsesif kompulsif
sering memnyerupa Tic yang kompleks namun berbeda karena
bentuknya cenderung ditentukan oleh tujuannya (misalnya
menyentuh atau memutar benda secara berulang) dari pada oleh
kelompok otot yang terlibat; walaupun demikian acapkali sulit
juga untuk membedakannya.
2.7 Diagnosa Banding
Tic harus dibedakan dengang

gangguan

gerak

lain

contohnya distonik, koreiform, atenoid, mioklonik dan gerakan


hemibalistik,

serta

gangguan

neurologis

lainnya

dengan

gangguan gerakan yang khas seperti penyakit Huntington,


parkinson, korea Sydenham, dan penyakit Wilson. Tremor,
manerisme,

dan

ganguan

gerakan

stereotipik

contohnya

membenturkan kepala, atau mengguncang-guncangkan tubuh


harus dibedakan dengan gangguan Tic. Pada anak dengan
dengan gangguan Tourette dan ADHD terjadi perubahan mood
dan perilaku yang cepat.
2.8 Pemeriksaan Penunjang
Tidak ada tes diagnostik
gangguan

Tourette,

tetapi

laboratorium

pasien

dengan

khusus

untuk

gangguan

ini

11

mempunyai

abnormal

non

spesifik

jika

dilakukan

EEG

(elektroensefalogram). Dan kira-kira sekitar 10 persen dari


semua pasien gangguan Tourette menunjukan kelainan khusus
pada pemindaian Computedtomography (CT).
2.9 Tatalaksana
Penggunaan antipsikotik konvensinal,

potensial

tinggi

seperti haloperidol, trifluoperazin, dan pimozide sering digunakan sebagai obat


untuk mengendalikan gejala pada penderita sindrom Tourette, tetapi beberapa efek
samping yang ditimbulkan telah menurunkan frekuensi penggunaan obat tersebut.
Pada penggunaan haloperidol tidak dianjurkan pada anak usia dibawah 3 tahun.
Farmakoterapi lainnya antara lain penggunaan pimozide, clonazepam, dan
clonidine. Sebuah penelitian memprediksi bahwa 70% penderita sindrom Tourette
akan mengalami pengurangan gejala saat penderita memasuki usia remaja akhir,
dan 30%-40% penderita akan mengalami kesembuhan total saat melewati usia
dewasa akhir. Namun gejala dapat muncul kembali ataupun menjadi semakin
parah akibat stressor-stresor psikologis. Mayoritas penderita sindrom Tourette
dapat hidup tanpa terapi obat. Asumsi-asumsi tersebut dapat menjadi dasar bagi
penggunaan psikoterapi sebagai salah satu penunjang bagi penderita sindrom
Tourette untuk dapat mengoptimalkan potensinya dan hidup dengan cara-cara
yang adaptif.
2.10 Psikoterapi untuk Tic dan Sindrom Tourette
Tujuan utama dari psikoterapi untuk penderita sindrom
Tourette adalah agar ia mampu mengembangkan strategi koping
yang positif. Beberapa pendekatan terapi yang memungkinkan

12

untuk diterapkan pada penderita sindrom Tourette antara lain


adalah sebagai berikut:
a. Pendekatan Kognitif Behavioral Habit Reversal Komponenkomponen utama dari pendekatan ini adalah:
Latihan kesadaran (awareness training)
Pemantauan
diri
(self-monitoring),

misalnya

menghitung sebelum terjadinya gejala


Latihan
relaksasi,
misalnya
relaksasi

otot,

pernapasan, imajinasi, dsb. setiap hari selama 1015 menit, dan dipraktekkan selama 1-2 menit
setiap

muncul

kecemasan

atau

setelah

muncul Tics
Prosedur melawan respon. Memikirkan respon
tertentu

yang

inkompatibel

dengan Tic, berlawanan dengan gerakan, dapat


dipertahankan

selama

beberapa

menit,

memunculkan tekanan otot yang sama dengan


yang terjadi saat gerakan Tic muncul, tidak terlalu
mencolok, serta menguatkan otot yang antagonis

dengan Tic
Manajemen kontingensi. Terapis menginstruksikan
keluarga klien untuk memberikan komentar berupa
penghargaan jika klien menunjukkan kemajuan dan

terus mengingatkan jika klien lupa untuk berlatih


Klien diikutsertakan dalam aktivitas-aktivitas
menyenangkan yang sudah mulai jarang dilakukan

13

Review

ketidaknyamanan,

ketidaknyamanan,

rasa

malu,

berisi

reviu

serta

kesulitan-

kesulitan klien yang diakibatkan oleh munculnya


gejala.
b. Psikoterapi Suportif
Terapi ini lebih mengarah pada pendekatan humanistik
(khususnya Gestalt) di mana terapis diharapkan untuk
tidak bersikap direktif, dan penderita sindrom Tourette
memfokuskan diri pada pengalaman-pengalamannya,
merefleksikan
perasaannya

serta
terkait

mengekspresikan
dengan

cara

menyelesaikan masalah.
c. Hipnoterapi
Penderita sindrom Tourette

perasaan-

hidup

dilatihkan

dan

cara

bagaimana

menghipnosis diri sendiri dalam rangka mengendalikan


kebiasaan, gejala

fisik, dan kondisi-kondisi

lainnya.

Hipnoterapi juga menggunakan teknik-teknik relaksasi


dan imajinasi, sebagaimana yang sering dilakukan pada
meditasi. Dalam keadaan terhipnosis, terapis memberi
sugesti

yang

mengarah

pada

perubahan

perilaku,

penurunan kecemasan, dan intensitas gejala.


d. Teknik-teknik berbasis Psikoanalisis
Ketidakmampuan dalam mengendalikan tubuh

dan

pikiran sendiri seringkali menjadi sumber kecemasan,


ketakutan,
kemarahan,

rasa
dan

bersalah,
depresi.

rasa

tidak

Sebagian

berdaya,
penderita

14

menghadapinya dengan menarik diri, dan sebagian lagi


dengan agresivitas. Reaksi sosial yang negatif pun
seringkali tak terhindarkan. Harga diri dan kepercayaan
diri menjadai permasalahan yang umum pada penderita
sindrom Tourette, sebagaimana yang sering dialami oleh
pasien

dengan

penyakit-penyakit

kronis.

Terapi

psikoanalisis lebih memfokuskan pada permasalahanpermasalahan seputar penerimaan diri.


e. Terapi keluarga
Sebagai gangguan yang kronis, sindrom Tourette juga
berdampak

pada

keluarga

penderita.

Orang

tua

seringkali harus menghadapi saat-saat sulit ketika anak


menunjukkan gejala. Permasalahan yang muncul dalam
keluarga dapat berupa:
Rasa bersalah orang tua atas kelainan geneTic
Sulitnya bagi anggota keluarga untuk mengetahui
gejala-gejala yang mana yang dapat dan yang

tidak dapat dikendalikan


Ketidakadilan yang dipersepsi oleh saudara baik

itu adik maupun kakak dari penderita


Relasi yang memburuk antara suami istri

Terapi

keluarga

hendaknya

difokuskan

pada

peran

penderita sindrom Tourette dalam keluarga, dimana ia


sering menerima perlakuan-perlakuan sebagai berikut:

Overproteksi dari orang tua/anggota keluarga

15

Dihukum
Tidak dipahami perasaan/pikirannya
Dianggap sebagai sumber aib
Terapis berfungsi sebagai fasilitator bagi keluarga agar
dapat

belajar

menerima

anggota

keluarga

dengan

sindrom Tourette, sehingga ia dapat merasa aman dan


mampu

menghadapi

lingkungannya

dengan

lebih

adaptif. Sebagai langkah awal terapi, keluarga perlu


diberi informasi dan dipahamkan tentang berbagai aspek
dari gangguan sindrom Tourette. Tujuan akhir dari terapi
adalah keluarga mampu membangun sebuah lingkungan
yang mendukung bagi penderita sindrom Tourette, dan
dapat berlaku fleksibel dalam memfasilitasi sehingga
f.

tidak terlalu overprotektif


Intervensi akademik dan okupasional
Anak dengan sindrom Tourette biasanya mengalami
kesulitan dalam hal konsentrasi, perhatian, dan belajar
sehingga membutuhkan intervensi pendidikan khusus,
misalnya pengajar khusus, kelas khusus, labboratorium
khusus dan yang disesuaikan dengan tingkat keparahan
gejala. Sekolah perlu diinformasikan mengenai sindrom
Tourette, karena seringkali sekolah tidak memahami
gangguan tersebut sehingga penderita dicap sebagai
anak

nakal,

mengganggu,

dan

bodoh.

Umumnya

penderita sindrom Tourette tidak mampu menjalankan

16

fungsi

mental

kronologisnya,

dan
atau

sosial

sesuai

mengalami

perkembangannya.

Orang

Tourette

membutuhkan

seringkali

dengan

perlambatan

dewasa

usia
dalam

dengan

sindrom

modifikasi

khusus

pada lingkungan kerjanya. Perlu untuk membangun


pemahaman pada lingkungan kerja tentang gangguan
yang

diderita.

Fleksibilitas,

kepedulian,

serta

produktifitas dalam pekerjaan dapat ditingkatkan dengan


intervensi yang tepat bagi penderita

yang sangat

simtomatik sekalipun.
BAB III
KESIMPULAN
Gangguan

tic

adalah

kontraksi

otot

berulang dan cepat

y a n g m e n g h a s i l k a n gerakan atau vokalisasi yang dirasakan sebagai


sesuatu yang involuntar yang dimulai pada masa kanak atau remaja dan
dapat konstan atau memburuk- membaik sepanjang waktu. Meskipun Tic tidak
atas keinginan sendiri, pada beberapa orang. Tic dapat ditekan untuk suatu
periode waktu. Tourette sindrom adalah ekspresi lebih parah dari
spektrum

gangguan

Tic,

yang

dianggap

disebabkan

oleh

kerentanan genetik yang sama. Perilaku Tic umum di kalangan


anak-anak usia sekolah. Gangguan ini biasnya meneyerang anak
laki-laki tiga kali lebih mungkin akan terpengaruh oleh gangguan
Tic berbanding perempuan. Onset komponen motorik gangguan ini

17

umumnya terjadi pada usia 7 tahun: Tic vokal muncul pada usia 11 tahun.
Gangguan ini memiliki onset sebelum 18 tahun, dan tidak disebabkan oleh suatu
zat atau keadaan medis umum. Tic pada gangguan Tourtte merupakan Tic motorik
yang multipel dan satu atau lebih Tic vokal. Tic akan terjadi dalam bebarapa kali
sehari selama lebih dari 1 tahun. Gangguan Tourette menimbulkan penderitaan
atau hendaya yang signifikan di dalam area fungsi yang penting.