Anda di halaman 1dari 12

NICCOLO Machiavelli (1469-1527) sesungguhnya seorang humanis sejati yang melahirkan karya

sastra dalam bentuk novel serta naskah komedi dan satir. Namun, ia justru lebih dikenal sebagai
filosof dengan karya termashurnya, Il Principe (Pangeran, Raja atau Penguasa). Tak semua ajaran
Machiavelli dalam Il Principe buruk. Tapi, yang dikenang orang justru ajarannya bagaimana
membangun kekuasaan absolut dan otoriter. Sebagai contoh, raja harus tampak bijak bestari di
hadapan rakyat, walau sesungguhnya ia bengis. Selain itu, demi kepentingan negara dan
pemerintah, semua tindakan adalah halal sesuai keputusan pemerintah. Karena itu, jangan heran,
ajaran Machiavellisme mengajarkan secara umum tujuan menghalalkan cara. Ilmu politik, menurut
Harold D Laswell, mengajarkan, Siapa mendapatkan apa, kapan dan bagaimana. Pengertian itu
sesungguhnya bersifat netral, karena untuk meraih tahta politik orang dapat melakukannya dengan
cara-cara halal dan beretika politik. Tapi, bisa juga itu dikonotasikan secara negatif, bahwa Tahta
dapat diraih tanpa etika. Tidaklah mengherankan jika tidak sedikit orang awam yang menyatakan
politik itu kotor, politik itu kasar, politik itu menghalalkan segala cara. Benarkah begitu? Jawabnya,
berpolitik tidaklah tanpa etika. Di dalam demokrasi, siapa yang tidak beretika untuk meraih tahta
atau singgasana politik, akan terhempas dari kekuasaan secara menyakitkan. AS, sering disebut
sebagai negara kampiun demokrasi. Kampanye pemilihan presiden (Pilpres) ditonton jutaan orang.
Prof Dr William Liddle dari Ohio State University menyoroti kampanye pilpres AS kadang tidak
beretika. Masing-masing kandidat saling menghantam pesaing dengan menyerang kelemahan
individu, baik kehidupan pribadi, jejak rekam politik di masa lalu, sampai ke visi dan misinya. Bagi
Liddle, AS dapat belajar dari Indonesia yang dalam kampanye politik tidak saling menyerang.
Apakah pandangan Bill Liddle benar? Terserah orang menilainya. Adalah suatu kenyataan bahwa
faktor moral masih dijunjung tinggi dalam masyarakat AS, khususnya pandangan mereka mengenai
seorang calon pemimpin. Karena itu, tak heran bila para calon presiden -Barack Obama dan John
McCain- dan para wakil presiden -Joe Biden dan Sarah Palin- mengakui masa lalu dan kekinian
mereka yang buruk. Kata kuncinya adalah kejujuran sebagai bagian dari etika politik di AS. Di
Indonesia, kenyataannya, meski Pilpres dan cawapres sebentar lagi, mereka yang akan
mencalonkan diri jadi capres ataupun cawapres sudah mulai menyerang lawannya, termasuk soal
kebijakan politik masa lalu, padahal pengeritik adalah juga anggota kabinet masa lalu. Sayang,
hingga kini belum terdengar komentar para kandidat capres soal kandidat capres. Jika kita
menonton berbagai kampanye politik mereka yang terang-terangan akan mencalonkan diri jadi
presiden atau yang masih belum jelas tujuan kampanye politiknya, juga cukup menggelikan. Ada
yang mempersonifikasikan dirinya sebagai pembela petani dan pedagang di pasar tradisional,
padahal pakaiannya sangat mentereng. Ada yang menyatakan Hidup adalah perbuatan, padahal
saat membuat film kampanye ada seorang bidan apung antarpulau di Sulawesi yang ditipunya.
Ada yang makan nasi aking bersama rakyat di Jawa Tengah, tapi berpakaian bak pembesar negeri.
Ada yang menyamakan dirinya dengan dua tokoh proklamator, padahal ia belum punya jejak rekam
sebagai aktivis politik muda yang hidup dari penjara ke penjara demi membela bangsanya seperti

kedua proklamator. Etika lain yang ingin kita tonjolkan adalah soal politik uang. Apakah demi meraih
tahta sang calon anggota legislatif atau capres harus menghamburkan uang untuk iklan di media
massa cetak dan elektronik, ketika sebagian besar rakyat didera kemiskinan? Apakah untuk
sejumlah kampanye politik mereka melakukan Bribe-and-kickbacks, yaitu bentuk korupsi dengan
menerima bantuan dari para donatur pengusaha yang mengharapkan kemudahan bisnis di
kemudian hari ketika yang dibantu telah meraih kekuasaan? Apakah mereka juga membagi-bagi
proyek pembangunan atau uang kepada rakyat pemilih agar memilih mereka pada Pemilu 2009?
Adakah kebijakan negara melalui Bantuan Langsung Tunai bukan bagian dari politik uang untuk
pemenangan pilpres 2009? Hal lain yang perlu disorot ialah apakah penegakan hukum sudah
berjalan tanpa pandang bulu, atau hanya berlaku bagi mereka yang perlu dikorbankan demi tujuan
politik pencitraan? Semua itu tentunya terkait etika politik untuk meraih kekuasaan. Tanpa etika,
yang terjadi adalah machiavellisme. Jika itu terjadi, demokrasi kita masih merupakan demokrasi
kaum penjahat, bukan demokrasi substansial.
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/teguhcipta/etika-meraihtahta_55114bd4a33311513dba938d

Krisis Etika Kekuasaan


Siswono Yudo Husodo ;

Ketua Yayasan Pendidikan Universitas Pancasila


KOMPAS, 25 November 2013

DALAM waktu yang relatif singkat, kurang dari satu generasi, reformasi politik telah berhasil menyebarkan kekuasaan yang
semula terpusat.

Proses check and balances bisa berlangsung lebih baik, buah dibentuknya
badan-badan baru; Dewan Perwakilan Daerah, Mahkamah Konstitusi, dan 13
komisi negara independen. Otonomi meningkat di daerah-daerah, peluang
karier politik dan kepemimpinan publik terbuka di banyak tempat.
Kemajuan ini membuka ruang baru untuk berkiprah dan kita menyaksikan
banyak orang berusaha maksimal meraih kekuasaan melalui lembaga-lembaga
baru tersebut. Sayangnya, proses meraih kekuasaan banyak yang tak beretika,
yang demi tujuan menghalalkan segala cara.
Ketika kekuasaan itu diraih, secara etis seharusnya sepenuhnya digunakan
untuk mempercepat pencapaian tujuan negara; meliputi kemajuan yang pesat
di segala bidang, meningkatkan kesejahteraan rakyat, memantapkan persatuan
bangsa, serta memperkuat dan meningkatkan kewibawaan negara. Sangat tidak
beretika jika kekuasaan itu digunakan untuk kepentingan pribadi dan atau
golongan serta untuk melanggengkan kekuasaan.
Perlu keteladanan

Kasus Akil Mochtar sangat menyedihkan. Mantan Ketua MK itu melakukan cela
yang sempurna: di samping menerima suap dan merekayasa keputusan MK
yang bersifat final dan mengikat, juga kecanduan narkoba.
Dari segi penempatan sembilan hakim MK, dengan masing-masing tiga orang
diajukan lembaga legislatif/DPR, pemerintah, dan lembaga yudikatif/MA, sudah
baik dilihat dari sisi penyebaran kekuasaan. Kita memerlukan kehadiran
pemerintahan dan DPR yang sama-sama kuat bersama MA yang tepercaya
untuk menegakkan hukum yang berdasarkan keadilan dan kebenaran.
Menilik kejadian yang baru saja terjadi, sulit dipercaya bahwa MK bisa
menghindari conflict of interest jika di MK ada unsur-unsur partisan. Walaupun
sangat sedikit, ada orang dari partai yang setelah mendapatkan tugas negara
menjadi tidak partisan, mengikuti prinsip Manuel Luis Quezon: my loyality to my
party end when my loyalty to my country begin.
Sementara ada juga orang nonpartai yang cara berpikirnya partisan.
UU MK yang mengatur adanya tiga hakim MK yang dipilih DPR, seharusnyalah
partai-partai politik memilih orang-orang yang mampu jadi hakim yang tangguh
dan nonpartisan. Amat berbahaya kalau penempatannya justru merupakan
representasi atau penugasan partai.
Logika politik dan logika hukum itu berbeda. Hukum berprinsip menegakkan
kebenaran dan keadilan, sementara doktrin politik adalah asas manfaat;
sehingga hal yang salah, sepanjang itu bermanfaat, secara politik bisa
dibenarkan. Masalahnya adalah bermanfaat bagi siapa? Negara akan kacau
kalau semua lembaga hukum diisi orang-orang partisan.
Saya juga mencatat, praktik penggunaan kekuasaan oleh MK sejauh ini belum
memberikan keteladanan etis. Meski diperbolehkan secara hukum, apakah etis
MK melakukan uji materi atas UU MK dengan membatalkan ketentuan
pengawasan hakim MK oleh Komisi Yudisial? Setiap pemilik kekuasaan tak
selayaknya menggunakan kekuasaannya untuk menguntungkan dirinya. Jika
pasal itu dipandang MK kurang baik, jangan MK yang melakukan pembatalan,
tetapi mintalah DPR mengubah UU MK tersebut.
Pada tingkat tokoh-tokoh yang telah menjadi hakim konstitusi, praktik seperti ini
tidak patut terjadi. Etika memang lebih halus daripada hukum. Yang melanggar
hukum, pastilah melanggar etika. Yang melanggar etika, belum tentu melanggar
hukum.
Sebagai sandingan, Presiden AS Barack Obama memiliki hak menaikkan gaji

semua pegawai federal, termasuk dirinya. Namun, karena etika, SK kenaikan


gaji yang baru-baru ini ditandatanganinya langsung berlaku untuk semua
pegawai federal, kecuali untuk presiden. Baru presiden berikutnya yang
menikmati putusan tersebut. Ini contoh bagaimana kekuasaan tidak boleh
digunakan untuk sesuatu yang menguntungkan dirinya sendiri.
Penyimpangan juga pernah diperlihatkan Dewan Kehormatan Penyelenggara
Pemilu (DKPP) yang pernah menyuruh KPU menganulir/mengubah keputusan
KPU yang jadi ranah Bawaslu. Sebenarnya kewenangan DKPP adalah
mengawasi etika komisioner KPU dan Bawaslu dan memberi sanksi kepada
yang bersangkutan serta tidak boleh mencampuri keputusan KPU yang menjadi
ranah Bawaslu.
Perlu sikap kritis

Di Indonesia, kita juga sering terkejut setiap kali ada penyimpangan baru dan
karena berlangsung terus-menerus akhirnya dianggap biasa dan lalu
membentuk norma baru. Kita tidak boleh membiarkan terjadinya penyimpangan
hanya karena telah menjadi kebiasaan.
Diperlukan masyarakat yang kritis terhadap perkembangan zaman, korektif
terhadap penyimpangan yang terjadi serta konstruktif untuk memperbaiki
keadaan sebagai suatu konsekuensi dari sikap yang kritis dan korektif. Tiga
sikap tersebut pada gilirannya akan membawa perubahan masyarakat ke arah
kemajuan dengan cara yang tertib dan damai.
Melihat perkembangan yang ada, saya khawatir bahwa bagi banyak orang,
nama baik tak lagi menjadi hal yang utama. Banyak yang selepas sidang
pembacaan vonis masuk penjara bisa tersenyum dan melambaikan tangan
kepada wartawan tanpa rasa malu. Setelah kembali di masyarakat pun, karena
banyaknya uang, menjadi sosiawan, dihormati oleh orang banyak. Sementara
pekerja sosial yang lurus dan bersih memperoleh penghormatan yang kalah
darinya.
Pernah seorang tokoh bekas narapidana, dan bekas anggota DPR,
dalam hearing di Komisi X DPR yang diliput luas oleh pers menyatakan bahwa
Presiden RI yang akan datang boleh eks narapidana kasus kriminal; yang
membuat kaget banyak orang. Ini sungguh suatu sarkasme politik yang sangat
tidak bertanggung jawab, sekaligus pendidikan politik yang amat buruk, yang
memunculkan di permukaan sikap politik yang tidak anggun.

Krisis Etika Kekuasaan


Siswono Yudo Husodo ;

Ketua Yayasan Pendidikan Universitas Pancasila


KOMPAS, 25 November 2013

DALAM waktu yang relatif singkat, kurang dari satu generasi, reformasi politik telah berhasil menyebarkan kekuasaan yang
semula terpusat.

Proses check and balances bisa berlangsung lebih baik, buah dibentuknya
badan-badan baru; Dewan Perwakilan Daerah, Mahkamah Konstitusi, dan 13
komisi negara independen. Otonomi meningkat di daerah-daerah, peluang
karier politik dan kepemimpinan publik terbuka di banyak tempat.
Kemajuan ini membuka ruang baru untuk berkiprah dan kita menyaksikan
banyak orang berusaha maksimal meraih kekuasaan melalui lembaga-lembaga
baru tersebut. Sayangnya, proses meraih kekuasaan banyak yang tak beretika,
yang demi tujuan menghalalkan segala cara.
Ketika kekuasaan itu diraih, secara etis seharusnya sepenuhnya digunakan
untuk mempercepat pencapaian tujuan negara; meliputi kemajuan yang pesat
di segala bidang, meningkatkan kesejahteraan rakyat, memantapkan persatuan
bangsa, serta memperkuat dan meningkatkan kewibawaan negara. Sangat tidak
beretika jika kekuasaan itu digunakan untuk kepentingan pribadi dan atau
golongan serta untuk melanggengkan kekuasaan.
Perlu keteladanan

Kasus Akil Mochtar sangat menyedihkan. Mantan Ketua MK itu melakukan cela
yang sempurna: di samping menerima suap dan merekayasa keputusan MK
yang bersifat final dan mengikat, juga kecanduan narkoba.
Dari segi penempatan sembilan hakim MK, dengan masing-masing tiga orang
diajukan lembaga legislatif/DPR, pemerintah, dan lembaga yudikatif/MA, sudah
baik dilihat dari sisi penyebaran kekuasaan. Kita memerlukan kehadiran
pemerintahan dan DPR yang sama-sama kuat bersama MA yang tepercaya
untuk menegakkan hukum yang berdasarkan keadilan dan kebenaran.
Menilik kejadian yang baru saja terjadi, sulit dipercaya bahwa MK bisa
menghindari conflict of interest jika di MK ada unsur-unsur partisan. Walaupun
sangat sedikit, ada orang dari partai yang setelah mendapatkan tugas negara
menjadi tidak partisan, mengikuti prinsip Manuel Luis Quezon: my loyality to my

party end when my loyalty to my country begin.


Sementara ada juga orang nonpartai yang cara berpikirnya partisan.
UU MK yang mengatur adanya tiga hakim MK yang dipilih DPR, seharusnyalah
partai-partai politik memilih orang-orang yang mampu jadi hakim yang tangguh
dan nonpartisan. Amat berbahaya kalau penempatannya justru merupakan
representasi atau penugasan partai.
Logika politik dan logika hukum itu berbeda. Hukum berprinsip menegakkan
kebenaran dan keadilan, sementara doktrin politik adalah asas manfaat;
sehingga hal yang salah, sepanjang itu bermanfaat, secara politik bisa
dibenarkan. Masalahnya adalah bermanfaat bagi siapa? Negara akan kacau
kalau semua lembaga hukum diisi orang-orang partisan.
Saya juga mencatat, praktik penggunaan kekuasaan oleh MK sejauh ini belum
memberikan keteladanan etis. Meski diperbolehkan secara hukum, apakah etis
MK melakukan uji materi atas UU MK dengan membatalkan ketentuan
pengawasan hakim MK oleh Komisi Yudisial? Setiap pemilik kekuasaan tak
selayaknya menggunakan kekuasaannya untuk menguntungkan dirinya. Jika
pasal itu dipandang MK kurang baik, jangan MK yang melakukan pembatalan,
tetapi mintalah DPR mengubah UU MK tersebut.
Pada tingkat tokoh-tokoh yang telah menjadi hakim konstitusi, praktik seperti ini
tidak patut terjadi. Etika memang lebih halus daripada hukum. Yang melanggar
hukum, pastilah melanggar etika. Yang melanggar etika, belum tentu melanggar
hukum.
Sebagai sandingan, Presiden AS Barack Obama memiliki hak menaikkan gaji
semua pegawai federal, termasuk dirinya. Namun, karena etika, SK kenaikan
gaji yang baru-baru ini ditandatanganinya langsung berlaku untuk semua
pegawai federal, kecuali untuk presiden. Baru presiden berikutnya yang
menikmati putusan tersebut. Ini contoh bagaimana kekuasaan tidak boleh
digunakan untuk sesuatu yang menguntungkan dirinya sendiri.
Penyimpangan juga pernah diperlihatkan Dewan Kehormatan Penyelenggara
Pemilu (DKPP) yang pernah menyuruh KPU menganulir/mengubah keputusan
KPU yang jadi ranah Bawaslu. Sebenarnya kewenangan DKPP adalah
mengawasi etika komisioner KPU dan Bawaslu dan memberi sanksi kepada
yang bersangkutan serta tidak boleh mencampuri keputusan KPU yang menjadi
ranah Bawaslu.
Perlu sikap kritis

Di Indonesia, kita juga sering terkejut setiap kali ada penyimpangan baru dan
karena berlangsung terus-menerus akhirnya dianggap biasa dan lalu
membentuk norma baru. Kita tidak boleh membiarkan terjadinya penyimpangan
hanya karena telah menjadi kebiasaan.
Diperlukan masyarakat yang kritis terhadap perkembangan zaman, korektif
terhadap penyimpangan yang terjadi serta konstruktif untuk memperbaiki
keadaan sebagai suatu konsekuensi dari sikap yang kritis dan korektif. Tiga
sikap tersebut pada gilirannya akan membawa perubahan masyarakat ke arah
kemajuan dengan cara yang tertib dan damai.
Melihat perkembangan yang ada, saya khawatir bahwa bagi banyak orang,
nama baik tak lagi menjadi hal yang utama. Banyak yang selepas sidang
pembacaan vonis masuk penjara bisa tersenyum dan melambaikan tangan
kepada wartawan tanpa rasa malu. Setelah kembali di masyarakat pun, karena
banyaknya uang, menjadi sosiawan, dihormati oleh orang banyak. Sementara
pekerja sosial yang lurus dan bersih memperoleh penghormatan yang kalah
darinya.
Pernah seorang tokoh bekas narapidana, dan bekas anggota DPR,
dalam hearing di Komisi X DPR yang diliput luas oleh pers menyatakan bahwa
Presiden RI yang akan datang boleh eks narapidana kasus kriminal; yang
membuat kaget banyak orang. Ini sungguh suatu sarkasme politik yang sangat
tidak bertanggung jawab, sekaligus pendidikan politik yang amat buruk, yang
memunculkan di permukaan sikap politik yang tidak anggun.

[JAKARTA] Sudah hampir satu bulan kampanye pemilihan presiden (Pilpres) dilakukan. Dua pasangan
calon yang bertarung pada Pilpres, 9 Juli nanti terus berjuang meraih suara sebanyak-banyaknya guna
mendapatkan kemenangan.
Namun ada pasangan calon yang menghalalkan segala macam cara untuk meraih kemenangan tersebut.
Misalnya dengan cara kampanye hitam yang berisi fitnah dan hujatan tanpa bukti.
Menanggapi hal tersebut, pakar hukum tata negara, Margarito Kamis mengemukakan cara-cara meraih

kekuasaan dengan menghalalkan segala cara tidak sesuai dengan etika hukum.
Etika hukum mengedepankan kejujuran, penghormatan terhadap hak asasi manusian, dan didasarkan
bukti atau data.
Ketika kampanye dilakukan dengan fitnah maka sudah tidak sesuai dengan etika hukum.
Kampanye hitam juga tidak sesuai dengan hukum tata negara. Alasannya, kampanye seperti itu merusak
bangunan negara yang menekankan perebutan kekuasaan secara halal yaitu sesuai konstitusi dan
dilakukan dengan kampanye yang sehat dan mendidik.
"Saya tidak setuju dengan cara-cara yang dilakukukan. Itu merusak demokrasi dan sistem hukum," kata
Margarito dalam diskusi bertema "Etika Pemimpin Dalam Kompetisi Politik" di Jakarta, Kamis (25/6).
Tampil pula pembicara pada diskusi itu, peneliti senior dari LIPI Siti Zuhro dan Direktur Eksekutif The
Presiden Center Didied Mahaswara.
Sebagaimana diketahui, sejak masa kampanye Pilpres dimulai, beredar tabloit Obor Rakyat yang disebar
ke pesantren-pesantren di tanah air. Isi tabolit berupa kampanye hitam terhadapa Capres Joko Widodo
(Jokowi). Ada juga iklan yang berisikan Jokowi telah meninggal dunia. Padahal Jokowi masih hidup.
Terakhir adalah beredarnya survei palsu yang dibuat oleh lembaga survei terkemuka di Amerika Serikat.
Dalam survei itu, pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa disebutkan menang dari pasangan JokowiJusuf Kalla (JK). Ternyata survei itu adalah prediksi Pilpres di Amerika Serikat, beberapa waktu lalu.
Margarito berharap cara-cara yang tidak halal itu bisa dihentikan. Dia menyambut baik pihak yang merasa
dirugikan menempuh jalur hukum untuk mengusut kasus-kasus tersebut.
"Cara untuk mengkoreksi perbuatan-perbuatan itu dengan menempuh jalur hukum. Kita berharap ada
yang ditindak," tegasnya. [R-14/N-6]

Banyaknya kepentingan yang diperjuangkan dan dipertaruhkan di arena politik, menjadikan


demokrasi tidak berkembang secara substansial dan cenderung bersifat artifisial. Padahal, jika
demokrasi hanya menguntungkan sirkulasi elite, dan parpol hanya sebagai mesin kekuasaan dan
bukan common people, atau poor people yang jumlahnya masih sangat besar, maka demokrasi
terjebak dalam kepentingan oligarki yang menyebalkan.
Tatkala politik tidak dijadikan sebagai seni bermain secara etis dalam tata kelola negara untuk
kesejahteraan rakyat dan parpol hanya sebagai mesin untuk meraup kekuasaan dan materi, maka
yang terjadi dalam politik demokratik Indonesia sungguh sangat menjemukan dan memuakkan.
Karena, di dalam demokrasi itu hanya tumbuh dua kemungkinan cara berpolitik, yaitu membangun
hegemoni atau dominasi dan perkoncoan politik.
Kedua bentuk atau cara berpolitik yang menyingkirkan etika politik tersebut, baik hegemoni maupun
perkoncoan politik, tidak lain demi membangun tembok politik atau blok politik. Oleh Rikard S Katz
dan Peter Main, (Max Regus, 2009), dikatakan bahwa salah satu bentuk perubahan organisasi
parpol dalam konteks demokratisasi adalah membangun dan memperluas sindikasi politik dengan
tujuan untuk membangun blok politik yang dapat membatasi ruang gerak lawan politik.
Perjalanan politik Indonesia hingga saat ini, sadar atau tidak, mengarahkan permainannya pada
pembentukkan perkoncoan dan hegemoni kekuasaan. Koalisi yang dibentuk tidak lain untuk
membangun blok politik demi membatasi kompetisi dan memenangkan persaingan. Dan, untuk
membangun blok politik yang kuat lewat koalisi, parpol-parpol pun tidak segan-segan berusaha
dengan segala cara termasuk merancang metode kekuasaan secara dominatif.
Konsekuensinya, semua kekuatan politik akan membangun, mempertahankan dan memenangkan
egosentrisme yang menjurus pada peruntungan diri dan kelompok. Dalam hal ini, parpol-parpol
besar terus berusaha mendikte partisipasi parpol kecil demi memotong jaringan politik yang dimiliki
parpol-parpol kecil ke pusat-pusat dukungan politik massanya. Selain itu, massa politik Indonesia
pun kadang-kadang mudah tergoda untuk berbalik dukungan politiknya, entah karena iming-iming
uang, atau karena isu yang dibangun parpol-parpol tertentu.
Dengan persaingan politik yang semakin keras antara parpol di tengah sistem politik multipartai, dan
massa pun semakin terbiasa dengan politik uang, maka massa politik Indonesia kian menjadi massa
mengambang alias massa tanpa wajah. Sebagian besar masyarakat lepas dari indentifikasi dirinya
dengan parpol-parpol tertentu atau semakin kehilangan indentitas politiknya. Padahal, identitas
politik merupakan satu aspek psikopolitik yang amat penting, dari pola hubungan antara parpol dan
massa dalam membangun kekuatan-kekuatan politik.

Konsekuensi politik yang paling pedih yang harus diterima oleh rakyat dalam situasi hubungan
antara parpol dengan massa seperti ini adalah parpol-parpol besar atau koalisi-koalisi besar yang
memenangkan pemilu atau pilkada, tidak lagi memiliki tanggung jawab moral etis kepada massa
pendukungnya. Karena antara parpol dan massa tidak memiliki ikatan batin atau ikatan emosional
yang kuat.
Akhirnya, rakyat pun hanya menjerit pilu tatkala lahir segala kebijakan penguasa pasca pemilu atau
pilkada yang tidak pro rakyat. Jangan heran, sindikasi politik hanya membuncahkan keserakahan
bagi para penguasa, sedangkan rakyat hanya mendapatkan percikan air mata durhaka dari dari
meja para tuan penguasa. Dengan wajah politik demokratik seperti ini, maka kita tidak tahu lagi
sampai kapan politik dapat menjadi seni permainan dalam tatakelola negara yang penuh etika untuk
kesejahteraan rakyat, dan rakyat dapat mencicipi kue kesejahteraan pasca politik.
Kini mata politik parpol mulai tertuju pada perhelatan demokrasi pilkada serentak yang sedianya
akan dihelat di penghujung tahun 2015. Blok politik yang dibangun parpol lewat koalisi mulai
digalakkan untuk memenangkan pilkada dan mengegolkan kandidatnya masing-masing. Para calon
kandidat yang ingin menjadi penguasa daerah pasti sudah mulai berhitung secara politis untuk bisa
keluar sebagai pemenang dalam pilkada. Lalu bagaimana dengan rakyat?
Secara umum kita tentu sangat berharap agar pilkada serentak yang baru pertama kali
diselenggarakan ini sukses besar lewat konsolidasi demokrasi yang berjalan secara maksimal yang
dikembangkan parpol hingga menghasilkan sebuah pesta demokrasi pilkada yang menelorkan
kekuasaan atau penguasa-penguasa yang dapat menciptakan keadilan dan kesejahteraan rakyat.
Dan bagi para kandidat, kita berharap mereka merupakan hasil seleksi parpol yang dilakukan
secara ketat, sehingga benar-benar berkualitas, baik dari sisi integritas moral dan kredibilitas
maupun dari sisi kecerdasan intelektual dan spiritual untuk menjadi pemimpin yang berhasil
memimpin daerahnya.
Di sini kita tidak butuh ajang politik perhelatan pilkada yang begitu mahal tersebut, sekadar fase
penggembira atau pengumbaran ambisi politik pribadi dan kelompok yang berkepentingan; parpol
dan kandidat. Di situ, dibutuhkan kejujuran dan kesantunan sebagai bentuk atau cermin politik etis
dalam berpolitik baik dari sisi parpol maupun dari para kandidat serta para politikus pendukungnya.
Bahwasanya, semua harus bekerja untuk meraih impian rakyat, yakni perbaikan nasibnya yang
lebih baik.
Karena, pilkada serentak, sebagaimana juga pemilu pada umumnya selalu mencuatkan harapan
politik untuk mengangkat bangsa ini ke titik kesejahteraan dan kemakmuran sosial yang kuat dan
konkret. Karena tujuan luhur dari pilkada serentak, selain demi penghematan biaya, juga menjadi
bagian penting dari usaha bersama dari penguasa, politisi, parpol dan rakyat untuk merumuskan

skema perjuangan dan pembangunan bangsa di hari esok yang lebih baik dan bersahaja di
berbagai aspek kehidupan