Anda di halaman 1dari 18

PERADILAN ADMINISTRASI

MURNI DALAM HUKUM PAJAK


Disusun Oleh :
FITRIA ARIANTY, S.Sos, M.Si

PENGERTIAN
Peradilan administrasi murni adalah Peradilan yang
memenuhi syarat-syarat sebagai peradilan yaitu :

Adanya hukum Administrasi/Tata Usaha Negara yang


abstrak yang mengikat umum
Adanya keputusan Administrasi/Tata Usaha Negara
yang konkrit, individual, final, dan mengikat
perseorangan atau badan hukum perdata
Adanya para pihak, yang salah satunya adalah pejabat
Administrasi/Tata Usaha Negara sebagai tergugat
Adanya Pengadilan yang merdeka yang berwenang
mengadili berdasarkan perundang-undangan yang
berlaku

LANJUTAN

Peradilan
administrasi
murni
pada
hakekatnya merupakan upaya hukum yang
dapat ditempuh oleh Wajib Pajak dalam
menyelesaikan sengketa pajak melalui badan
peradilan pajak.
Upaya hukum untuk menyelesaikan sengketa
pajak yang dilakukan melalui badan
peradilan pajak ini ditempuh bilamana
keputusan melalui upaya administrasi belum
dapat diterima oleh WP.

LATAR BELAKANG TIMBULNYA


SENGKETA PAJAK

Sistem pemungutan pajak yang berlaku di Indonesia


memberi kewenangan kepada fiskus untuk menerbitkan
ketetapan pajak atau penagihan pajak yang berbeda
dengan penghitungan menurut WP.
Penerbitan ketetapan atau penagihan pajak tersebut
dapat mengakibatkan timbulnya perbedaan pendapat
antara fiskus dengan WP, yang disebut sebagai
Sengketa Pajak
Sengketa pajak adalah sengketa yang timbul dalam
bidang perpajakan antara WP atau Penanggung Pajak
dengan Pejabat yang berwenang (fiskus) sebagai akibat
dikeluarkannya keputusan yang terhadapnya dapat
diajukan Banding atau Gugatan kepada Pengadilan
Pajak
4

LATAR BELAKANG
Negara

mengharapkan agar kesadaran


masyarakat akan kewajibannya di bidang
perpajakan semakin meningkat
Kesadaran masyarakat yang meningkat
dalam pemenuhan kewajiban perpajakan
akan meningkatkan juga kesadaran
masyarakat akan hak-haknya dalam
perpajakan
Konsekuensinya: potensi sengketa pajak
meningkat

LANJUTAN

Banyaknya kasus sengketa pajak yang harus


diselesaikan, serta adanya tuntutan
masyarakat terhadap kepastian hukum atas
sengketa yang mereka ajukan, menyebabkan
terjadinya perubahan dalam sistem
penyelesaian Sengketa Pajak.
Upaya penyelesaian Sengketa Pajak melalui
badan peradilan pajak terus-menerus
disempurnakan, yang terakhir adalah dengan
UU No.14 Tahun 2002 tentang Pengadilan
Pajak, di mana penyelesaian Sengketa Pajak
dilakukan melalui Pengadilan Pajak.
6

PENYEBAB SENGKETA PAJAK

Kesalahan dan perbedaan dalam


penerapan atau penafsiran pasal pasal
UU mengenai Dasar Pengenaan Pajak
(DPP) dan lain sebagainya (subyek dan
obyek)
Perbedaan pencatatan dan pengakuan
penghasilan dan biaya antara laporan
keuangan secara komersial dan fiskal
Kesalahan pengenaan sanksi administrasi
dalam penerbitan Surat Ketetapan Pajak
(SKP)
Kesalahan kesalahan formal administrasi
dalam mengeluarkan keputusan

BADAN PERADILAN PAJAK DI


INDONESIA DARI MASA KE MASA

Keberadaan Badan Peradilan Pajak di Indonesia


sudah
dimulai
sejak
masa
sebelum
kemerdekaan, yakni dengan dibentuknya Majelis
Banding Pajak (1927) yang berkedudukan di
ibukota negara, yakni Batavia.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, badan
peradilan pajak diganti dengan nama :
a. Majelis Pertimbangan Pajak/MPP (1959- 1997)
b. Badan Penyelesaian Sengketa Pajak/BPSP
( 1997 2002)
c. Pengadilan Pajak (2002 saat ini)
8

MAJELIS PERTIMBANGAN PAJAK (MPP) & LEMBAGA


PERTIMBANGAN BEA & CUKAI

MPP dibentuk dengan UU No.5 Tahun 1959


MPP
mempunyai
kedudukan
sebagai
Pengadilan
Administratif, oleh karena itu pelantikan dan pengambilan
sumpah Ketua dan anggota MPP dilakukan oleh ketua
Mahkamah Agung.
Pada awal pendiriannya, eksistensi MPP belum terlihat
nyata. Namun seiring dengan berjalannya waktu, MPP
mulai mengalami kemajuan yang pesat dalam penyelesaian
kasus banding.
Namun penyelesaian kasus sengketa pajak yang ditangani
oleh MPP prosesnya memakan waktu lama, prosedur
berbelit-belit dan biayanya tidak murah (administrasinya
tidak sederhana).
MPP dibentuk untuk menyelesaikan sengketa Pajak (pusat
maupun pajak daerah), sedangkan penyelesaian sengketa
Bea & Cukai ditangani oleh Lembaga Pertimbangan Bea &
Cukai
9

BADAN PENYELESAIAN SENGKETA PAJAK (BPSP)

BPSP didirikan berdasarkan UU No.17 Tahun 1997, untuk


menggantikan tugas-tugas MPP yang dianggap sudah tidak
memadai dan tidak sesuai lagi dengan kebutuhan
menyelesaikan sengketa pajak.

Pembinaan organisasi dan adminitrasi BPSP dilakukan oleh


Departemen Keuangan.

BPSP diberi wewenang untuk menyelesaikan 2 masalah


pokok yaitu :
a. banding terhadap keputusan Keberatan
Cukai, dan Pajak Daerah

Pajak,Bea

b. gugatan terhadap pelaksanaan penagihan pajak

Pengajuan Banding atau Gugatan ke BPSP merupakan upaya


hukum terakhir bagi Wajib Pajak, dan putusannya tidak
dapat digugat ke Peradilan Umum atau PERATUN.

Pelaksanaan sidang di BPSP bersifat tertutup, sedangkan


pembacaan Putusan diucapkan dalam sidang terbuka.
10

PENGADILAN PAJAK

PP didirikan berdasarkan UU No.14 Tahun 2002,


dimaksudkan untuk menggantikan dan meneruskan tugas
BPSP.
PP merupakan badan peradilan yang melaksanakan
kekuasaan kehakiman.
Susunan PP terdiri dari Pimpinan, Hakim Anggota,
Sekretaris, dan Panitera. Pimpinan yang terdiri dari
Ketua dan Wakil Ketua, serta Hakim, diangkat oleh
Presiden.
Status putusan dinyatakan bahwa putusan PP merupakan
putusan akhir dan mempunyai kekuatan hukum tetap.
Namun
demikian,
dalam
hal
tertentu
masih
dimungkinkan untuk dilakukan upaya Peninjauan
Kembali ke Mahkamah Agung.
11

PENYELESAIAN SENGKETA
PAJAK MELALUI UPAYA HUKUM
Penyelesaian sengketa pajak melalui upaya
hukum dapat ditempuh melalui :
a. Penyelesaian sengketa pajak di pengadilan
negeri
b. Penyelesaian sengketa pajak di pengadilan
tata usaha negara
c. Penyelesaian sengketa pajak di pengadilan
pajak

12

PENYELESAIAN SENGKETA
PAJAK DI PENGADILAN NEGERI
Atas keputusan pejabat Tata Usaha Negara di bidang
perpajakan
sepanjang
undang-undang
yang
bersangkutan menunjuk secara tegas bahwa
banding/gugatan dapat diajukan ke Pengadilan
Negeri, maka sengketa pajak dapat diselesaikan di
Pengadilan Negeri. Contoh :
a. Pasal 38 (1) UU PPSP : sanggahan pihak ketiga
terhadap kepemilikan barang yang disita hanya
dapat diajukan kepada Pengadilan Negeri
b. Pasal 34 (3) UU PPSP : Penanggung Pajak yang
disandera dapat mengajukan gugatan terhadap
pelaksanaan penyanderaan kepada Pengadilan
Negeri

13

PENYELESAIAN SENGKETA PAJAK DI


PENGADILAN TATA USAHA NEGARA
Terhadap sengketa pajak yang tidak diatur
khusus dalam UU Pengadilan Pajak, dapat diadili
pada badan peradilan administrasi yang umum,
yaitu Pengadilan Tata Usaha Negara (Pasal 82
ayat 4 UU PP). Contoh :
a. Apabila pejabat pajak tidak menerbitkan
keputusan yang menjadi wewenangnya seperti
tidak menerbitkan Surat Keputusan Kelebihan
Pembayaran Pajak atau Surat Perintah
Membayar Kembali Pajak, maka untuk mencari
keadilan, WP dapat mengajukan gugatan ke
Pengadilan Tata Usaha Negara

14

PENYELESAIAN SENGKETA
PAJAK DI PENGADILAN PAJAK
Apabila UU perpajakan menyebutkan dengan tegas
bahwa suatu sengketa yang timbul sebagai akibat dari
keputusan pejabat pajak, dapat diajukan banding
atau gugatan ke Pengadilan Pajak, maka sengketa
pajak tersebut harus diselesaikan di Pengadilan Pajak.
Contoh :
1. Banding atas Surat Keputusan Keberatan
2. Pasal 23 UU No.28 Tahun 2007 yakni Gugatan Wajib
Pajak atau Penanggung Pajak terhadap :
a. pelaksanaan Surat Paksa, Surat Perintah
Melaksanakan Penyitaan, atau Pengumuman Lelang
b. keputusan pencegahan dalam rangka
penagihan pajak

15

LANJUTAN
c.

d.

Keputusan yang berkaitan dengan pelaksanaan


keputusan perpajakan, selain mengenai
permohoan Keberatan atas SKPKB, SKPKBT,
SKPLB, SKPN atau pemotongan/pemungutan
pajak oleh pihak ketiga (Pasal 25) dan Keputusan
Keberatan (Pasal 26)
Penerbitan surat ketetapan pajak atau Surat
Keputusan Keberatan yang dalam penerbitannya
tidak sesuai dengan prosedur atau tata cara yang
telah diatur dalam ketentuan UU perpajakan
Contoh lain : pengajuan Banding atas Keputusan
Pejabat Bea & Cukai, hanya dapat diselesaikan
di Pengadilan Pajak
16

ALUR PENYELESAIAN
SENGKETA PAJAK

Penyelesaian
sengketa
pajak
harus
menempuh upaya administrasi terlebih
dahulu, setelah itu baru dapat ditempuh
melalui upaya hukum.
Alur penyelesaian sengketa pajak dapat
dilihat dalam bagan berikut ini

17

Dirjen
Pajak

Surat
Keputusan/
Ketetapan
Pajak

Upaya
Administratif

Mengajukan Keberatan
Permohonan Pembetulan
SKP/Surat Keputusan yang
tidak benar
Permohonan
penghapusan/pengurangan
sanksi adm, dsb
(Pasal 16 & 36 UU KUP)

Wajib
Pajak

Upaya
Hukum
Luar
Biasa

Upaya
Hukum

Peninjauan
Kembali ke
MA

Banding/ Gugatan :
Pengadilan Negeri
Pengadilan TUN
Pengadilan Pajak
18