Anda di halaman 1dari 16

Rawa Kalimantan Barat:: Aset yang Membutuhkan O&P yang Berkelanjutan

RAWA KALIMANTAN BARAT:


ASET YANG MEMBUTUHKAN O&P YANG
BERKELANJUTAN

1. PENDAHULUAN
Propinsi Kalimantan Barat yang terdiri dari 12 pemerintahan kota dan
kabupaten, dengan luas total 146.807 Km2 atau 7,6% dari total luas Indonesia,
dengan penduduk 4.033.234 jiwa (2004), memiliki sumber daya air yang
banyak; berupa sungai-sungai besar, danau dan rawa. Curah hujan rata-rata
bulanan antara 225 hingga 325 mm dengan jumlah total curah hujan tahunan
antara 3.000 hingga 4.000 mm, serta jumlah hari hujan bulanan rata-rata 12
hingga 19. Kemiringan lahan relatif landai, sekitar 30,6% areal mempunyai
kemiringan < 2%, 24% dengan kemiringan antara 2% – 15%, 17% arealnya
berkemiringan antara 15% - 40% serta selebihnya (24%) dengan kemiringan >
40%.

Terdapat ± 2,94 juta Ha potensi lahan rawa di Kalimantan Barat atau 8,8%
dari total 33,4 juta Ha lahan rawa yang ada di Indonesia. Daerah rawa
terutama terdapat di daerah pesisir, di Kabupaten Pontianak, Bengkayang,
Sambas dan Ketapang serta Kota Singkawang. Rawa lebak terdapat di
Kabupaten Kapuas Hulu. Lebih kurang 70 % dari lahan rawa Kalimantan Barat
berpotensi untuk dikembangkan untuk tanaman pangan, perkebunan, tambak
maupun permukiman. Potensi yang besar ini masih memiliki kemungkinan
untuk dikembangkan untuk fungsi lain, misalnya untuk konservasi dan
pengendalian daya rusak air.

Luas lahan rawa yang telah dikembangkan mendominasi areal pertanian.


Produksi lahan pertanian padi, jeruk maupun kelapa menunjukkan
peningkatan dari tahun ke tahun. Perkiraan produksi padi Kalimantan Barat
oleh BPS tahun 2005 sebesar 1.127.256 Ton dengan perkiraan penduduk
sebanyak 4.394.300 jiwa membuat Kalimantan Barat sudah surplus 30.756 Ton

1
Rawa Kalimantan Barat:: Aset yang Membutuhkan O&P yang Berkelanjutan

Sambas
Kab.
yang merupakan sumbangan lahan rawa. Oleh karenanya rawa merupakan
kekayaan atau aset daerah yang berharga. Namun kondisi jaringan rawa
kurang terpelihara disebabkan, salah satunya, oleh kurangnya biaya O&P yang
dapat disediakan oleh Pemerintah.

Makalah ini bermaksud mendiskusikan potensi rawa Kalimantan Barat yang


Pontianak
merupakan aset daerah yang harus dikelola melalui kegiatan operasi dan
pemeliharaan yang berkelanjutan. Tujuan makalah untuk menjadi bahan
Kab.

pertimbangan dalam menyusun program O&P jaringan rawa yang


berkelanjutan di Kalimantan Barat.
Ketapang
Kab.

2. RAWA KALIMANTAN BARAT

Menurut sejarahnya rawa Kalimantan Barat mulai dikembangkan pada abad


ke-13 SM ketika Prabu Jaya, salah seorang keturunan Raja Brawijaya dari
Majapahit membuka lahan permukiman di Sungai Pawan1, Ketapang.
Pembangunan rawa di Kalimantan barat secara intensif oleh Pemerintah
dimulai sejak tahun 70-an melalui kegiatan-kegiatan:
♦ Proyek Kanalisasi
♦ Proyek Pembukaan Persawahan Pasang Surut - P4S
♦ Badan Pelaksana Proyek Pengairan Pasang Surut - BP P3S
♦ Proyek Pengairan Pasang Surut - P3S
♦ Proyek Pengembangan Daerah Rawa - P2DR
♦ Proyek Irigasi dan Rawa Kalimantan Barat sejak TA 2002 hingga
TA 2004.
♦ Satuan Kerja Sementara Irigasi dan Rawa Kalimantan Barat TA
2005.
♦ Satuan Non-Vertikal Tertentu Irigasi dan Rawa Kalimantan Barat
sejak TA 2006.

Pengembangan
Sebelas Daerah Rawa di Kalimantan Barat dengan luas 32.865 Ha telah
dikembangkan melalui program ISDP (Integrated Swamp Development Project)
bersama dengan daerah rawa di Provinsi Jambi dan Riau, dengan pendanaan
dari Bank Dunia pada tahun 1995 hingga tahun 2000. Hasil pendataan pada
tahun 2005, tercatat telah dikembangkan lahan rawa seluas 195.121 Ha yang
terutama tersebar di 3 kabupaten: Pontianak (44%), Sambas (29%) dan
Ketapang (23%), yang terdiri dari sebanyak 104 daerah rawa (DR) dengan
luas total 40.256 Ha dengan areal masing-masing < 1.000 Ha, 34 DR seluas
56.361 Ha dengan luas areal individu antara 1.000 – 3.000 Ha serta 18 DR
seluas 98.506 Ha dengan luas individu > 3.000 Ha. Perbandingan antara areal
irigasi dengan areal rawa seperti terurai pada Tabel 1 berikut.
Tabel 1 Luas Lahan Irigasi dan Rawa Terbangun
Luas Luas
Jumla Jumlah Keteranga
No Kabupaten /Kota Irigasi Rawa
h D.I D.R n
(Ha) (Ha)

1
Darmanto, Ir. Dipl. HE, MSc, 2001, Paparan Serbacukup Penanganan Kawasan Lahan Basah Eks-PPLG
Sejuta Hektar Kalimantan Tengah, Divisi Lahan Basah, PSSL UGM, Yogyakarta, Pebruari 2001.

Sambas
Kab.
Rawa Kalimantan Barat:: Aset yang Membutuhkan O&P yang Berkelanjutan

1. Kota Pontianak 1 3.000 --


2. Kabupaten 52 10.174 51
3. Pontianak 116 14.839 84.719
4. Kabupaten Landak 62 9.396 --
5. Kabupaten 17 3.022 --
6. Sanggau 39 4.453 --
7. Kabupaten 29 3.083 --
8. Sekadau 76 5.669 5 -- Rawa
9. Kabupaten 40 9.707 3 1.585 Lebak
10 Sintang 15 5.557 9 1.795
. Kabupaten Melawi 14 3.337 66 3.155
11 Kabupaten Kapuas 61 7.521 22 60.482
. Hulu 43.385
12 Kabupaten
. Bengkayang
Kota Singkawang
Kabupaten
Sambas
Kabupaten
Ketapang
Jumlah 522 79.958 195.121

Dari Tabel terlihat bahwa lahan pertanian Kalimantan Barat didominasi oleh
rawa (71%) dibandingkan lahan irigasi. Bahkan di Kabupaten Pontianak lahan
rawa 90%, Sambas 95% dan Kabupaten Ketapang 85%.

3. KEBUTUHAN AKAN O&P RAWA


Kondisi jaringan rawa yang telah lama tidak dioperasikan dengan benar dan
dipelihara rutin sudah tentu dalam keadaan rusak. Kebanyakan saluran primer,
sekunder serta tersier sudah dangkal dan menyempit akibat sedimentasi,
longsor maupun tanaman gulma. Dari sudut Pengelolaan Aset (Asset
Management)2, O&P dapat diartikan sebagai: ”untuk menjaga tingkat
pelayanan tertentu dengan biaya yang efektif sedemikian sehingga pelayanan
tersebut dapat tersedia dalam waktu yang lebih lama dibandingkan bila tanpa
O&P”. Bila setelah konstruksi, jaringan rawa tidak dipelihara selama beberapa
tahun lalu kemudian diperlakukan O&P akan tidak efektif. Sebab seharusnya
yang dilakukan adalah merehabilitasi dulu baru dilanjutkan dengan O&P.

Gambar 1: Kondisi Saluran Primer DR Rasau Jaya Tahun 2005

Kondisi Jaringan Rawa

2
Budhi Santoso, Asset Management: Sebuah Pengantar, ibid

3
Rawa Kalimantan Barat:: Aset yang Membutuhkan O&P yang Berkelanjutan

Dari 195.121 Ha rawa yang terbangun sesuai dengan pendataan tahun 2005,
hanya 50.783 Ha (26%) dalam kondisi baik. Selebihnya kondisi rusak ringan
32.681 Ha (17%) dan rusak berat 111.657 Ha (57%). Meskipun terdata
kebanyakan jaringan dalam keadaan rusak tetapi produksi tanaman
cenderung naik. Hal ini dimungkinkan dengan adanya perbaikan perlakuan
dan peningkatan teknologi budidaya tanaman serta umumnya sawah di lahan
rawa adalah tadah hujan sehingga sebagian masih tetap dapat ditanami dan
berproduksi meski jaringan rusak.
Tabel 2: Kondisi Jaringan Rawa Hasil Pendataan 2005
Baik RusakRingan RusakBerat
Kabupaten
JumlahDR Luas(Ha) JumlahDR Luas(Ha) JumlahDR Luas(Ha)
Pontianak 8 10.315 7 12.010 36 62.394
Bengkayang 1 1.000 1 615 1 180
KotaSingkawang 9 3.155
Sam bas 25 34.030 2 1.048 39 25.404
KapuasHulu 1 20 4 1.565
Ketapang 9 5.438 5 18.988 8 18.959
43 50.783 16 32.681 97 111.657

Menurut UU no. 7/2004, pelaksanaan O&P sistem irigasi (termasuk irigasi


rawa) ditetapkan:
a. Pelaksanaan O&P sistem irigasi primer dan sekunder menjadi wewenang
dan tanggung jawab Pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan
kewenangannya,
b. Pelaksanaan O&P sistem irigasi tersier menjadi hak dan tanggung jawab
masyarakat petani pemakai air. (Tidak menutup kemungkinan P3A
berperanserta sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya).

Untuk mensiasati agar program O&P rawa tetap bisa dilaksanakan secara lebih
efektif maka pada tahun 2005 SKS Irigasi dan Rawa Kalimantan Barat
menggunakan terminologi baru: ‘pemeliharaan berat saluran’ yang merupakan
kegiatan penggalian saluran dengan alat berat. Sehingga dengan demikian
pelaksanaan di lapangan dapat lebih efektif.

Perhatian Pemerintah (Pusat), dalam hal ini Direktorat Jenderal Sumber Daya
Air Departemen PU atas masalah O&P prasarana SDA dimulai lagi tahun 2004
sebagai konsekuensi pelaksanaan UU no. 7/2004 tentang Sumber Daya Air.
Muncul pemikiran dan dilanjutkan dengan pembahasan antara Ditjen Sumber
Daya Air dengan Ditjen Anggaran Dep. Keuangan dan melibatkan seluruh
Dinas pengelola Sumber Daya Air provinsi dan kabupaten/kota, untuk
mengusulkan memasukkan kebutuhan dana O&P Prasarana Sumber Daya Air
dalam Dana Alokasi Khusus (DAK). Selanjutnya pada Raker Ditjen Sumber
Daya Air akhir tahun 2004, komitmen melaksanakan UU no. 7/2004 dipertegas
lagi oleh instruksi Direktur Jenderal Sumber Daya Air agar dalam usulan TA
2005 harus ada kegiatan O&P prasarana SDA yang menjadi kewenangan dan
tanggungjawab Pemerintah. Namun yang menjadi acuan pada saat itu masih
lebih banyak pada kebutuhan operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi
ketimbang pada jaringan rawa. Perhatian atas rawa dan O&P Rawa semakin
meningkat dengan berjalannya organisasi Departemen PU sesuai dengan
Peraturan Menteri PU no. 286/PRT/M/2005, setelah adanya Direktorat Rawa
dan Pantai serta Direktorat BPSDA.

4
Rawa Kalimantan Barat:: Aset yang Membutuhkan O&P yang Berkelanjutan

Respon Pemerintah Daerah

Surat Dirjen Bina Pembangunan Daerah, Departemen Dalam Negeri no.


610/1341/IV/2005 tanggal 14 Oktober 2005 perihal Hasil Rapat Regional
Operasi dan Pemeliharaan Prasarana Pengairan tahun 2005. Surat ditujukan
kepada Gubernur, Bupati, Walikota dan Ketua DPRD Provinsi dan
Kabupaten/Kota seluruh Indonesia, yang isinya menyampaikan pokok-pokok
rumusan Rapat Regional O&P Prasarana SDA yang telah dilaksanakan di
Bandar Lampung, Banjarmasin dan Surabaya. Surat selanjutnya memberi
petunjuk untuk menindaklanjuti rekomendasi yang dihasilkan oleh Rapat
Regional:

Pemerintah, antara lain, diminta untuk


• Melakukan ToT O&P Prasarana SDA Tingkat Provinsi,
• Melaksanakan O&P Percontohan di 2 DI kewenangan Pemerintah
dengan luas > 3.000 Ha dan menyusun Pedoman O&P Prasarana SDA
Percontohan.
• Provinsi diusulkan juga untuk memperoleh Dana Alokasi Khusus
(DAK) O&P Prasarana SDA.
• Pelaksanaan O&P Prasarana SDA kewenangan Pemerintah dilakukan
melalui tugas pembantuan atau jika belum memungkinkan dilakukan
kerjasama pelaksanaan.

Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota, antara lain diminta untuk:


• Mengalokasikan dana APBD untuk O&P Prasarana SDA sesuai
dengan kewenangan dan tanggungjawabnya
• Tenaga O&P prasarana SDA tidak dialihtugaskan ke unit lain kecuali
promosi.
• Melakukan monitoring dan evaluasi implementasi program O&P
prasarana SDA.
• Melakukan ToT tenaga O&P tingkat kabupaten/kota. Selanjutnya
pelatihan tenaga O&P di tingkat lapangan.
• Melakukan rekrutmen tenaga O&P untuk mengisi kekuranagn sesuai
dengan kompetensi di bidang O&P prasarana SDA.

Dengan adanya surat Dirjen Bina Bangda yang tegas mendukung kegiatan
O&P maka para pengelola O&P dapat berharap adanya komitmen penuh
Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota untuk mengurus juga daerah rawa
terbangun yang menjadi kewenangan sekaligus tanggungjawabnya. Seperti
juga kebijakan yang dilaksanakan Pemerintah Pusat, pada beberapa daerah
akan diperlukan kompromi untuk menindaklanjuti isi surat.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat telah merespon dengan mengalokasikan


dana untuk membuat 1 daerah irigasi dan 1 daerah rawa percontoohan.
Demikian juga Kabupaten Sambas yang telah meningkatkan alokasi anggaran
O&P tahun 2006 dibanding dengan tahun 2005.

4. LESSONS LEARNT
Pelaksanaan O&P rawa yang baik di jaringan reklamasi rawa tidak cukup
menjamin bahwa secara sertamerta terjadi peningkatan produktivitas3.Tetapi
3
Hartoyo Supriyanto, Where Do We Stand on Swamplands Development, Regional Teaching Seminar on
Guidelines on Tidal Lowlands, The Ministry of Settlement and Regional Infrastructure of The Government of
Indonesia in cooperation with The Ministry of Housing, Physical Planning and Environment of The Kingdom

5
Rawa Kalimantan Barat:: Aset yang Membutuhkan O&P yang Berkelanjutan

O&P yang baik perlu meskipun bukan satu-satunya syarat agar terjadi
peningkatan produktivitas lahan dan pendapatan petani. Selanjutnya dari
pengalaman dalam pelaksanaan ISDP (Integrated Swamp Development
Project) dan IISP (Integrated Irrigation Sector Project) tahun 1994-2000
didapati beberapa masalah yang dapat menjadi penghambat kegiatan
program O&P:
a) Kurang memadainya perangkat kerja dan sarana pendukung para
petugas O&P di lapangan untuk dapat melaksanakan kegiatan O&P yang
efektif.
b) Belum terpenuhinya biaya O&P sesuai dengan kebutuhan serta
belum jelasnya sumber pendanaan, pola dan jangka waktu pemenuhan
AKNOP.
c) Belum ada konsep yang memperkenalkan iuran kontribusi
pelayanan pengelolaan air.

Masalah yang sama masih dihadapi sampai sekarang, misalnya, masalah


kurangnya dana O&P. Di samping itu mengingat pengembangan rawa
membutuhkan proses pematangan tanah yang memakan waktu antara 10-15
tahun, pada perjalanan waktu ini sering kondisi lingkungan telah berubah
sehingga sangat mempengaruhi dan bahkan menekan tata guna lahan dan
tata ruang wilayahnya. Sebagai contoh perubahan lahan rawa DR Air Putih
(2.420 Ha) yang telah dikembangkan dalam program ISDP (Integrated Swamp
Development Project) telah berubah menjadi lahan perkebunan. Demikian juga
DR Rasau Jaya (7.710 Ha) yang juga masuk ISDP telah berkembang menjadi
pusat pertumbuhan kecamatan dan bahkan mungkin akan menjadi ibukota
kabupaten baru hasil pemekaran.

5. TANTANGAN PERANAN RAWA


Lahan Andalan Masa Depan

Dengan semakin menyusutnya lahan sawah beririgasi yang subur di Pulau


Jawa akibat tekanan pembangunan, permukiman maupun industri
mengharuskan Pemerintah mengembangkan lahan sawah baru di luar Pulau
Jawa. Pengalaman di tahun 1990-an dalam program SIADP (Sumatera
Irrigation Agriculture Development Project) menemukan sulitnya mencari
lahan potensial untuk sawah irigasi di Provinsi Sumatera Barat, Jambi dan Riau.
Lahan yang tersedia dengan kesesuaian marjinal dan rawa di samping rentan
diserobot oleh investor untuk menjadi perkebunan sawit.

Diperkirakan bahwa sampai tahun 2010, luas panen padi akan cenderung
berkurang dari 11,77 juta Ha di tahun 2005 menjadi 11,25 juta Ha dan
produktivitas per Ha tidak akan banyak meningkat sementara kebutuhan
pangan meningkat. Sehingga pada tahun 2010 diperkirakan terjadi defisit padi
nasional sebesar 1,097 juta Ton4. Di samping itu juga potensi sumber daya air
Pulau Jawa tiap tahunnya diperkirakan 51,21% terpakai hanya untuk
menghasilkan padi5. Sementara permintaan air semakin meningkat seiring
dengan pertambahan penduduk dan perkembangan pembangunan sehingga
dapat menimbulkan krisis air dan konflik antar berbagai kepentingan. Oleh

of The Netherlands, Jakarta, 6-7 Oktober 2004,


4
Ir. H. Achmadi Partowijoto, Cert.AE, PU-SDA, IPM, DR. Ir. Sony Sumaryanto, MS dan Ir. Bambang Sugiharto,
MEng, Strategi Mewujudkan Ketersediaan Air dan Ketahanan Pangan Yang Berkelanjutan, Paparan
Pengantar Dialog pada Diskusi Panel Forum Air Indonesia III Tahun 2006, Jakarta, 3 Mei 2006.
5
Pandi MS Hutabarat, Konsep Air Virtual dan Pembangunan Irigasi, Makalah disampaikan pada Diskusi Panel
Forum Air Indonesia III Tahun 2006, Jakarta, 3 Mei 2006

6
Rawa Kalimantan Barat:: Aset yang Membutuhkan O&P yang Berkelanjutan

karenanya lahan rawa yang terdapat di Sumatera, Kalimantan dan Papua


dapat menjadi alternatif pilihan untuk dikembangkan karena potensi yang
masih luas serta besarnya potensi sumber daya airnya. Pengembangan lahan
rawa yang baru serta optimalisasi jaringan rawa yang selama ini “tidur” akan
diikuti dengan pelaksanaan O&P.

Produksi Pertanian
Peranan daerah rawa dalam mendukung ketahanan pangan tingkat provinsi
Kalimantan Barat tercermin dari kinerja ketiga kabupaten yang areal
sawahnya dominan daerah rawa, yakni Kabupaten Pontianak, Sambas dan
Ketapang. Data BPS Kalbar tahun 2005 mencatat bahwa dengan luas panen
182.927Ha atau 50,09% dari total luas panen provinsi, ketiga kabupaten
menyumbang produksi padi sebesar 563.477 ton atau 53,13% total produksi
padi seluruh provinsi.

Produksi padi provinsi meningkat secara konstan sejak tahun 2000 sesuai
dengan pendataan yang dilakukan oleh BPS Kalbar dan digambarkan dalam
Grafik 1 berikut.

Tabel 3: Luas dan Produksi Panen Provinsi


Kalimantan Barat
Luas Panen Produksi
Kabupaten
(Ha) Padi (Ton)
Sambas 77.292 239.856
Bengkayang 19.142 57.079
Landak 56.058 182.220
Pontianak 59.045 190.790
Sanggau 36.544 94.094
Ketapang 46.590 132.831
Sintang 39.314 83.878
Kapuas Hulu 27.290 67.690
Kota Pontianak 160 421
Kota Singkawang 3.783 11.793
Total 365.218 1.060.652
Sumber: Kalimantan Barat dalam Angka 2005, BPS
Kalbar

1 .2 0 0 .0 0 0
1 .1 0 0 .0 0 0
1 .0 0 0 .0 0 0
9 0 0 .0 0 0
8 0 0 .0 0 0
7 0 0 .0 0 0
6 0 0 .0 0 0
5 0 0 .0 0 0
4 0 0 .0 0 0
3 0 0 .0 0 0
2 0 0 .0 0 0
1 0 0 .0 0 0
-
1 9 9 5 1 99 6 1 9 9 7 19 9 8 1 9 9 9 2 0 0 0 2 0 0 1 2 0 0 2 2 0 0 3 2 0 0 4

Pa d i L a d a n g Pa d i B e r p e n g a ir a n To ta l

7
Rawa Kalimantan Barat:: Aset yang Membutuhkan O&P yang Berkelanjutan

Sumber: Kalimantan Barat dalam Angka 2005, BPS Kalbar


Grafik 2: Produksi Padi Provinsi Kalimantan Barat

Jeruk

Produksi buah jeruk juga meningkat sejak tahun 2003 yang ditanam
terbanyak di Kabupaten Sambas. Lahan tanaman jeruk juga memanfaatkan
lahan rawa yang telah direklamasi.

1 40.0 00

1 20.0 00

1 00.0 00

80.0 00
T o n

60.0 00

40.0 00

20.0 00

-
1 99 5 1 996 19 97 19 98 199 9 2 00 0 2 002 20 03 20 04

Sumber: Kalimantan Barat dalam Angka 2005, BPS Kalbar

Grafik 3: Produksi Buah Jeruk Provinsi Kalimantan Barat


Kelapa

Produksi buah kelapa yang pohonnya juga sebagian ditanam di daerah rawa,
menunjukkan kenaikan seperti terlihat pada Grafik 4 berikut.
PRODUKSI BUAH KELAPA KALIMANTAN BARAT
120.000

100.000

80.000

60.000

40.000

20.000

-
1995 1999 2000 2002 2003 2004

LUAS (HA) PRODUKSI (TON)

Sumber: Kalimantan Barat dalam Angka 2005, BPS Kalbar

Grafik 4: Produksi Buah Kelapa Provinsi Kalimantan Barat

Program Strategis Propinsi

Pemerintah Propinsi Kalimantan Barat dalam mengembangkan pertanian


tanaman pangan dan agribisnis telah meluncurkan dan melaksanakan
beberapa program. Program-program ini di antaranya dilaksanakan dengan
dukungan jaringan irigasi dan rawa yang handal sehingga memerlukan
kegiatan O&P yang rutin dan efisien.

8
Rawa Kalimantan Barat:: Aset yang Membutuhkan O&P yang Berkelanjutan

• Program Gerakan Satu Juta Ton Gabah Kering Giling atau GENTATON.
GENTATON tahap I dimulai pada tahun 1998 sampai tahun 2002, dengan
tujuan: (a) untuk meningkatkan produksi padi dari 829.106 Ton menjadi
1.000.000 Ton, produksi jagung dari 40.981 Ton menjadi 50.000 Ton dan
produksi kedelai dari 5.629 Ton menjadi 10.000 Ton, (b) mengurangi jumlah
impor beras dari luar dan memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus
meningkatkan kesejahteraan petani.
• Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat sejak tahun 2005 meluncurkan
Program pengembangan Kawasan Unggulan Agrobisnis Terpadu atau
Program KUAT yang merupakan kawasan khusus yang diharapkan cepat
tumbuh menjadi sentra agribisnis dengan tujuan:
a. Mencetak kawasan untuk tumbuh lebih cepat.
b. Mengembangkan sistem agribisnis yang terintegrasi antara hulu-hilir.
c. Mendorong perbaikan kesejahteraan masyarakat di kawasan.
• Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi melalui Program Pembangunan
Transmigrasi Baru (PTB), merencanakan mengembangkan Kawasan
Terentang dengan potensi lahan seluas 32.440 Ha yang merupakan lahan
rawa pasang surut, terletak di Kecamatan Terentang Kabupaten Pontianak,
untuk menjadi permukiman transmigrasi dengan komoditas tanaman
pangan lahan kering, tanaman pangan lahan basah (padi palawija,
hortikultura), perkebunan (kelapa, kopi, sawit, karet), peternakan unggas
serta perikanan air tawar.

6. MASALAH DAN KENDALA O&P RAWA

Pembiayaan

Untuk mengoperasikan dan memelihara seluruh jaringan rawa yang menjadi


kewenangan dan tanggungjawab Pemerintah memerlukan biaya yang besar.
Perhitungan yang dibuat tahun 2005, untuk periode 2005-2009 Kalimantan
Barat membutuhkan dana APBN sebesar Rp 65,4 milyar dengan dasar
perhitungan untuk 2 DR Percontohan diberi alokasi Rp 160.000/Ha, sedangkan
selebihnya Rp 40.000/Ha.
Diperlukan komitmen yang kuat dari Provinsi dan Kabupaten/Kota untuk
menyediakan dana bagi pelaksanaan O&P jaringan rawa yang menjadi
kewenangan dan tanggungjawabnya. Kabupaten Sambas, misalnya, telah
menyediakan dana O&P pada tahun 2006 sebesar Rp 2,5 milyar, naik dari
tahun 2005 yang hanya Rp 2,0 milyar. Kabupaten Sambas memiliki 18.929 Ha
lahan rawa terbangun.

Pasca Panen

Harus ada jaminan bahwa produk pertanian lahan rawa akan dapat dipasarkan
dengan mudah oleh petani. Karenanya peran Bulog sangat diharapkan.
Demikian juga untuk produk lain, misalnya jeruk yang kesegarannya tidak
dapat bertahan lama sehingga membutuhkan industri yang dapat menyerap
kelebihan produk.

Kelembagaan

Organisasi Pengamat Sumber Daya Air dan jurunya ada di kabupaten. Namun
wilayah kerjanya masih mencakup jaringan rawa yang menjadi kewenangan
dan tanggungjawab Pemerintah. Belum tersosialisasinya UU no. 7/2004
menyebabkan terdapatnya 2 (dua) program pelaksanaan pada 1 DR yang

9
Rawa Kalimantan Barat:: Aset yang Membutuhkan O&P yang Berkelanjutan

sama, yaitu dari Provinsi (APBN) dan dari APBD Kabupaten. Keberadaan
organisasi lini depan ini dalam pengelolaan sumber daya air ini dapat
dimanfaatkan untuk terlibat dalam operasi dan pemeliharaan jaringan rawa.
Perlu pengaturan mekanisme pelibatan resmi secara lembaga sehingga tidak
menjadi masalah.

Pengamat dan Juru Pengairan

Para pengamat dan juru yang berpengalaman telah banyak yang


dialihtugaskan di bidang lain. Rekrutmen tenaga yang baru membutuhkan
pelatihan dan sarana kerja yang memadai.

Peranserta Masyarakat

Pengamatan di lapangan menunjukkan masyarakat petani pengguna air akan


berinisiatif memelihara saluran tersier/cacing yang menjadi tanggungjawabnya
kalau mereka merasakan manfaat keberadaan saluran ini. Misalnya saluran
juga dimanfaatkan untuk menghilirkan produksi kelapanya ke tempat
pemasaran. Namun daya masyarakat terbatas untuk memeliharanya
mengingat dimensi saluran tersier yang besar.

Perlu dipikirkan model berbagi (sharing) dalam pemeliharaan saluran tersier


rawa antara Pemerintah dengan masyarakat petani pengguna air. Model yang
dipakai dalam pelaksanaan program pengelolaan irigasi dapat disesuaikan dan
diadopsi. Pemerintah menyediakan alat berat dan operasionalnya sedangkan
masyarakat menyediakan tenaganya untuk merapikan dan kegiatan lainnya.
Atau model partisipatif yang memungkinkan masyarakat petani pemakai air
dapat berpartisipasi dalam kegiatan O&P rawa sehingga akan ada model
semacam Participatory Swamp O&M atau PSOM.

Awalnya pemanfaatan lahan rawa dirintis oleh masyarakat suku Bugis dan
Banjar dengan membuka dan mengolah lahan rawa secara tradisional menjadi
lahan budi daya pertanian tanaman pangan dan hortikultura serta tanaman
keras lainnya. Kemudian ide ini diadopsi oleh Pemerintah dan
melaksanakannya dengan skala yang lebih besar. Oleh karena itu O&P rawa
baik bila lebih melibatkan masyarakat petani pengguna air sejalan dengan
paradigma baru Pemerintah sebagai ’enabler not provider’.

Organisasi Perkumpulan Petani Pemakai Air yang terdapat di jaringan rawa


umumnya sedang berkembang dan berdiri dengan status berdasarkan surat
keputusan Bupati. Sebagai contoh di daerah rawa Kabupaten Pontianak
terdapat 69 kelompok P3A dengan kondisi: 8 (11 %) belum berkembang, 55
(80%) sedang berkembang dan 6 (9%) bekembang. Penyuluhan P3A
dilaksanakan oleh Provinsi Kalimantan Barat baik melalui SNVT Irigasi dan
Rawa Kalimantan Barat maupun melalui APBD Bidang Sumber Daya Air Dinas
PU Provinsi Kalimantan Barat.

7. USULAN DAERAH RAWA PERCONTOHAN


Dari Kabupaten Pontianak dan kabupaten Sambas dipilih daerah rawa yang
potensial untuk dijadikan percontohan pengelolaan jaringan rawa terpadu :
A. Kabupaten Pontianak :
1) DR Kapuas Kecil II (Parit Solo)

10
Rawa Kalimantan Barat:: Aset yang Membutuhkan O&P yang Berkelanjutan

2) DR Kalimas/Punggur
3) DR Sui Nipah (Jungkat)
4) DR Jawi Kalimas
B. Kabupaten Sambas :
1) DR Semelagi – Selakau (Sungai Daun)
2) DR Sebangkau
3) DR Jawai
4) DR Pimpinan Komplek

11
Rawa Kalimantan Barat:: Aset yang Membutuhkan O&P yang Berkelanjutan

GAMBARAN UMUM KABUPATEN SAMBAS

Kabupaten Sambas terletak di bagian paling utara Propinsi Kalimantan Barat


atau diantara 2 derajat 8 menit Lintang Utara serta 0 derajat 33 menit Lintang
Utara dan 108 derajat 39 menit Bujur Timur serta 110 derajat 4 menit Bujur
Timur. Luas Kabupaten Sambas adalah 6.395,70 km2 atau sekitar 4,36 persen
dari luas wilayah Provinsi Kalimantan Barat
1 0O 9 0 I0 1 1O 0 0I 0 1 1O 1 0 I0 1 1O 2 0 I 0 1 1O 3 0 I0 1 1O 4 0 I0

P E M E R I N T A H K A B U P A T E N S A M B A S
n a B A D A N P E R E N C A N A A N P E M B A N G U N A N D A E R A H
u
t
a
2O 2
N

L A
t

A Y S
u

K U C H IN G I A
M
a

S
L

S A M B A S
-
b as

S. S
a
A
m

R A W A K
S i n g k a w a n g K e t e r a n g a n :
1O B E N G K A YA N G 1 O

P . L e m u k u t a n P U T U S SIB A U
pua
s P R O P I N S I B a t a s N e g a r a
K a
S. K A L I M A N T A N T I M U R
P . P e n a t a S. K e
B e s a r tu n g
au B a t a s P r o p i n s i

N G A B A N G B a t a s K a b u p a t e n
P . T e m a j o
M E M P A W A H
B a t a s K e c a m a t a n
S A N G G A U
p u as S IN TA N G S u n g a i / a n a k s u n g a i
Ka

S.
P O N T IA N A K d
ak

0O La
O
0 I b u k o t a P r o p i n s i
n

S.
S.

S.M
K
ap

el a w

I b u k o t a K a b u p a t e n
ua
s

A A A AN a m a I b u k o t a K a b u p a t e n

J a l a n
H
G A
T E N
T A N
M A N
A L I
I K
N S
P . P e n e b a P n . g M a na y a

O P I
P . P e l a p i s P R
P . B u a n

P . K a r i m a t a
n
P . S e r u t u
a
aw

P
K E TA P A N G S.

2O 2 O
S
e

a n g an
aw
l

S u m b e r p e t a d a s a r : S t u d i R e P P P r o T , 1 9 8 7
nd
Ke

S u m b e r d a t a : D o k u m e n t a s i d a n b a s is d a t a P T K R I N O T E K , P o n t i a n a k
a

S.
t
K

a
r S.J
e la i
3O
i
O
3
m
a
t a

1 0O 9 0I0 1 1O 0 0 I 0 1 1O 1 0 I0 1 1O 2 0 I0 1 1O 3 0 I0 1 1O 4 0I 0

Secara administrasi batas wilayah Kabupaten Sambas adalah:


• Utara berbatasan dengan Serawak (Malaysia Timur) & Laut
Natuna.
• Selatan berbatasan dengan Kabupaten Bengkayang & Kota
Singkawang.
• Barat berbatasan dengan Laut Natuna.
• Timur berbatasan dengan Kabupaten Bengkayang & Serawak.

Topografi

Tanah di Wilayah Kabupaten Sambas yang utama adalah jenis tanah Aluvial
(36,06%), tanah Gambut (21,30%),dan tanah Podsolik Merah Kuning (24,60%)
sedang sisanya meliputi jenis tanah Podsol dan Latosol. Berdasarkan
Ketinggian tanah dari permukaan laut, sebesar 49,60% dari wilayah
Kabupaten Sambas merupakan daerah tergenang atau daerah rawa. Daerah
rawa Kabupaten Sambas termasuk dalam kategori Rawa Pasang Surut.

Sumberdaya lahan di daerah rawa pasang surut didominasi oleh jenis tanah
alluvial dan gambut. Tanah-tanah ini tergolong tanah marjinal yang
mempunyai tingkat kesuburan rendah. Lahan pertanian dengan topografi
relatif datar umumnya mempunyai masalah tanah yang berpotensi sulfat
masam dan/atau sulfat masam. Pengolahan tanah dan pengelolaan air sangat
penting untuk mempertahankan perubahan sifat-sifat tanah tersebut yang
dapat merugikan usaha pertanian, khususnya pertanian tanaman pangan,

12
Rawa Kalimantan Barat:: Aset yang Membutuhkan O&P yang Berkelanjutan

sedangkan berdasarkan pengaruh luapan air pasang dan tingkat


pengatusannya lahan rawa pasang surut umumnya termasuk tipe C.

Peranan Sektor Pertanian Dalam Pembangunan Ekonomi

Sektor pertanian dalam pembangunan ekonomi Kabupaten Sambas dan juga


Propinsi Kalimantan Barat mempunyai peranan yang cukup besar. PDRB
Kabupaten Sambas pada Tahun 2003 sebesar Rp 1.099.289,59
juta. Kontribusi sektor pertanian sangat dominan, sebesar 43,79%. Sub-sektor
tanaman bahan pangan memberikan kontribusi paling besar dalam sektor
pertanian, sebesar 29,09% (Sumber Kabupaten Sambas dalam angka tahun
2004), berdasarkan data tersebut tergambarkan secara jelas bahwa leading
sector di Kabupaten Sambas adalah Pertanian.

I. POTENSI PENGEMBANGAN LAHAN PERTANIAN

1. LUAS LAHAH PERTANIAN

Luas areal pertanian di Kabupaten Sambas seluas 62.872 Ha yang terdiri dari
atas luas sawah yang panen 1 kali setahun sebesar 46.029 Ha dan panen 2
kali setahun seluas 16.850 Ha.
Lahan Sawah
No. Kecamatan Panen > 2x Panen 1x Jumlah
Setahun Setahun
1 Selakau 3.142 4.148 7.290
2 Pemangkat 1.208 4.296 5.504
3 Semparuk 545 3.758 4.303
4 Tebas 5.158 1.348 6.506
5 Tekarang 60 1.465 1.525
6 Jawai 2.620 3.198 5.818
7 Jawai Selatan 862 2.174 3.036
8 Sewabi 394 859 1.253
9 Sambas 598 1.882 2.480
10 Sajad - 915 915
11 Sejangkung - 3.158 3.158
12 Subah 1.065 1.000 2.065
13 Galing 500 2.530 3.030
14 Sijang - 860 860
15 Teluk Keramat 540 10.920 11.460
16 Palok 155 3.514 3.669
Total 16.850 46.029 62.872

Jika dilihat dari penyebarannya panen 2 kali setahun terbesar didapat di


Kecamatan Tebas diikuti Selakau dan Jawai, sedangkan panen satu kali hampir
merata menyebar di seluruh kecamatan, dengan produksi sebesar 238.856
Ton atau rata rata rata poduktivitasnya sebesar 2,834 Ton/Ha dari luas tanam
sebesar 84.362 Ha.

2. JARINGAN PENGAIRAN

13
Rawa Kalimantan Barat:: Aset yang Membutuhkan O&P yang Berkelanjutan

Sistem jaringan pengairan yang sudah terbangun sampai dengan tahun 2005
terdiri atas panjang saluran yang terbangun sepanjang 1.246.772 meter yang
terdiri dari saluran primer sepanjang 384.812 meter, saluran sekunder
861.960 meter sedangkan bangunan air sebanyak 513 buah.

Panjang
Kecamatan/Daerah Rawa/Daerah
No Saluran
Irigasi
(m)
1 Teluk Keramat 138.922
2 Paloh 67.200
3 Galing 7.000
4 Sajingan 33.100
5 Jawai 167.030
6 Tekarang 18.500
7 Tebas 142.150
8 Sebawi 10.500
9 Sambas 61.320
10 Sejangkung 47.500
11 Subah 2.000
12 Selaku 198.400
13 Pemangkat 188.650
14 Semparuk 44.500
1.126.77
TOTAL
2

Kalau dilihat dari penyebarannya pembangunan jaringan yang terluas di


kecamatan Selakau seluas 9.231 Ha yang terdiri DR Semelagi (5.565 Ha), DR
Seranggam (2.292 Ha), DR Parit Baru (174 Ha) dan DR Buduk Sempadang,
(1.200 Ha) yang terdiri dari panjang saluran primer 136.300 m dan saluran
sekunder 182.100 m.

Sedangkan kedua terbesar terdapat di Kecamatan Pemangkat seluas 7.845 Ha


yang terdiri atas DR Sebangkau – Pemangkat (3.575 Ha), DR Selakau –
Sebangkau (1.325 Ha), DR Serunai kompleks (1.310 Ha) dan Seburing
Kompleks (1.635 Ha). Jaringan pengairan yang sudah terbangun di Kecamatan
Pemangkat terdiri dari panjang saluran primer 143.000 m dan saluran
sekunder sepanjang 45.650 m.

Kondisi jaringan tersebut hampir 60% dalam kondisi rusak hal ini dikarenakan
terlewatinya umur konstruksi dari jaringan tersebut dan seringnya terjadi
banjir tahunan yang merusak infrastruktur tersebut.

III.PERMASALAHAN YANG ADA

1. Sering terjadinya banjir akibat curah hujan yang tinggi serta naiknya air
pasang laut, selain itu mulai berkurangnya daya serap lahan akibat
penebangan liar.

14
Rawa Kalimantan Barat:: Aset yang Membutuhkan O&P yang Berkelanjutan

Seperti telah diketahui bahwa kondisi tofogafi kabupaten Sambas yang relatif
datar (0-3%), tinggi curahnya hujan sebesar serta rentan terhadap pasang
surut air laut mengakibatkan Kabupaten Sambas sering mengalami banjir
tahunan. Salah satu yang terbesar terjadi di kawasan Semelagi Kompleks
Kecamatan Selakau terjadi pada tahun 2003.

Pada tahun yang sama Di Kecamatan Galing juga terjadi banjir akibat
meluapnya Sungai Bantanan sepanjang 12 Km, luas wilayah yang tergenang
8.627 Ha, Di Kecamatan Sajingan Besar terjadi banjir akibat meluapnya sungai
Sajingan dengan luas genangan 17.386 Ha, di Kecamatan Sambas luas lahan
pertanian yang rusak mencapai 1.500 Ha, di Kecamatan Teluk Keramat terjadi
luapan sungai Sekumbak yang mengakibatkan terjadinya banjir yang
menggenangi areal pertanian seluas 1.652 Ha. Dan di Kecanatan Sejangkung
terjadi luapan sungai sajingan kecil dengan areal tergenang 8.281 Ha.

2. Sarana dan Prasarana Pengairan yang Belum Berfungsi Secara Optimal


Banyak sarana dan prasaran pengairan di Kabupaten Sambas yang tidak
berfungsi secara optimal, hal ini dikarenakan umur rencana dari bangunan
tersebur memang sudah banyak yang terlampaui dan harus segera di perbaiki
tetap karena keterbatasan pembiayaan sehingga yang tidak tertangani masih
banyak.

IV. PENGEMBANGAN IRIGASI DAN RAWA

1. Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Pengairan


Kegiatan Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Pengairan ditujukan untuk
mempertahankan sistem jaringan pengairan yang telah dibangun.
Berdasarkan Undang Undang No. 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air
telah disepakati bahwa ada pembagian kewenangan antara Kabupaten,
Propinsi dan Pusat sebagai berikut.

No Berdasarkan Kewenangan Luas (Ha)


1 Kabupaten (0-1.000 Ha) 20.629
2 Propinsi (1.000 – 3.000 Ha) 25.303
3 Pusat ( > 3.000 Ha) 16.650
Jumlah 62.582

Berdasarkan kewenangan (0-1000) Ha kabupaten hanya dapat menangani


sebesar 31% Propinsi sebesar 40% dan pusat sebesar 29%.

15
Rawa Kalimantan Barat:: Aset yang Membutuhkan O&P yang Berkelanjutan

Pengalokasian pembiayaan Operasi dan Pemeliharaan melalui DAK OP dan


DAU Kabupaten yang diarahkan untuk pemeliharaan rutin dan berkala.

2. NORMALISASI SUNGAI

Kegiatan normalisasi sungai diarahkan untuk mengantisipasi banjir yang


sering terjadi, pada kenyataannya pekerjaan normalisasi diarahkan untuk
pembersihan saluran primer dan sekunder yang lebih diprioritaskan menuju
saluran induk (Sungai Sambas, Sungai Selakau dan Sungai Sebangkau),
pekerjaan normalisasi sungai mempunyai efek ganda karena hasil galian
saluran dapat dimampaatkan untuk pembentukan badan jalan.

3. PENGEMBANGAN SALURAN IRIGASI DI ATAS TANAH

Sumber daya lahan di daerah rawa pasang surut di Kabupaten Sambas di


dominasi oleh jenis tanah alluvial dan gambut. Tanah tanah ini tergolong
tanah marjinal yang mempunyai tingkat kesuburan yang rendah. Lahan
pertanian dengan tofografi yang relatif datar umumnya mempunyai masalah
tanah yang berpotensi sulfat masam dan/atau sulfat masam. Pengolahan
tanah dan pengelolaan air sangat penting untuk mempertahankan perubahan
sifat-sifat tanah tersebut yang dapat merugikan usaha pertanian, khususnya
pertanian tanaman pangan.

Sumber air dari sungai-sungai dan anak-anak sungai yang dipengaruhi pasang
surut umumnya menyebar di lahan-lahan usaha tani tanaman pangan. Interusi
air asin pada musim kemarau biasanya baru terjadi bila kemarau terus
menerus selama 2 – 3 bulan. Sumber Daya Air yang melimpah ini masih belum
dapat dimanfaatkan untuk pertanian, karena areal sawah yang dikembangkan
(baik yang direklamasi oleh masyarakat secara tradisionil maupun oleh
pemerintah) sebagian besar termasuk dalam rawa pasang surut tipe C,
dimana air pasang tidak melampaui permukaan tanah (petak-petak sawah),
baik pada musim hujan maupun musim kemarau. Sistim jaringan pengairan
yang dibangun hanya berfungsi untuk drainase lahan, tetapi tidak dapat
berfungsi untuk irigasi pertanian.

16