Anda di halaman 1dari 7

RANGKUMAN MATA KULIAH

FORENSIC ACCOUNTANT
Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Akuntansi Forensik

Disusun oleh :
Annisa Sabrina Djunaedy

UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI
OKTOBER 2014

1.1 Knowledge of Forensic Accountant


Seorang akuntan forensik harus memiliki beberapa pengetahuan untuk
menjalankan proses penyelidikan terhadap fraud. Pengetahuan yang harus dimiliki oleh
seorang akuntan forensik sebagai mana yang telah dirangkum berdasarkan referensi
menurut Harris dan Brown (2000: 6) dan Hopwood et al (2008 : 6) diantaranya adalah
sebagai berikut:
1. Pemahaman mengenai hukum dan rules of evidence.
Seorang akuntan forensik harus memahami hukum-hukum yang berlaku terkait
fraud baik itu hukum pidana maupun perdata , memahami prosedur-prosedur ruang
sidang dan ekspektasi serta memahami rules of evidence .
2. Memahami teori, metode dan pola penyalahgunaan penipuan.
Seorang akuntan forensik harus memahami berbagai macam teori terkait fraud,
berbagai metode pendeteksian maupun pencegahan terhadap tindakan fraud, serta
bentuk-bentuk penyalahgunaan penipuan yang dilakukan oleh para pelaku fraud.
3. Pemahaman terhadap pengetahuan akuntansi
Pengetahuan akuntansi membantu akuntan forensik untuk menganalisis dan
menginterpretasi informasi keuangan, khususnya tentang pengendalian internal atau
sistem imformasi akuntansi yang diterapkan oleh perusahaan.
4. Pengetahuan di bidang teknologi informasi (TI)
Pengetahuan terkait teknologi informasi menjadi sarana yang penting bagi akuntan
forensik di tengah dunia yang dipenuhi oleh kejahatan-kejahatan dunia maya. Hal ini
akan sangat membantu para akuntan forensik untuk mengetahui pola-pola kejahatan
fraud yang dilakukan dalam bentuk atau menggunakan teknologi informasi
1.2 Skill
Dalam melakukan penyelidikan, sebagaimana yang telah dirangkum berdasarkan
pendapat Harris dan Brown (2000 : 6) Hopwood et al (2008 : 6) seorang akuntan
forensik memiliki keterampilan khusus dan kemampuan teknis termasuk :
1. Keterampilan investigasi kritis dan analitis.
Seorang akuntan forensik harus memiliki skeptisisme tingkat tinggi dan kegigihan
seorang detektif untuk memeriksa situas red flags yang menunjukkan adanya fraud.
2. Keterampilan berpikir secara kreatif
Keterampilan berpikir kreatif yang diperlukan oleh seorang akuntan forensik
digunakan untuk mempertimbangkan dan memahami taktik pelaku yang dapat
melakukan dan menyembunyikan kecurangan. Seorang akuntan forensik juga harus
dapat berpikir seperti pelaku yang akan memanipulasi catatan akuntansi atau
membalikkan keadaan untuk menipu perusahaan.
3. Kemampuan berkomunikasi yang baik.
Seorang akuntan forensik harus memiliki kemampuan komunikasi yang baik guna
menjelaskan temuannya secara jelas dan ringkas kepada berbagai pihak, termasuk
mereka yang belum begitu paham tentang akuntansi dan audit.
4. Kemampuan berorganisasi yang kokoh.
Akuntan forensik harus mengatur informasi dan menetapkan data yang kompleks
dan dokumen yang dapat membangun pendapat para pakar atau laporan.

5. Keterampilan auditing
Akuntan forensik yang terampil harus mampu mengumpulkan dan mengkaji
informasi apapun yang relevan sehingga kasus-kasus yang mereka tangani akan
didukung secara positif oleh pihak pengadilan.
6. Kriminologi, khususnya studi psikologi tindak kejahatan,
Hal ini merupakan hal yang penting bagi akuntan forensik karena keterampilan
investigasi yang efektif sering bergantung pada pengetahuan tentang motif dan
insentif yang dialami oleh perpetrator.
7. Keterampilan di bidang teknologi informasi (TI)
Akuntan forensik menggunakan keterampilan teknologi untuk mengkarantina data,
ekstraksi data melalui penggalian data, mendesain dan menjalankan pengendalian
atau manipulasi data, menghimpun informasi database untuk perbandingan, dan
menganalisis data.
1.3 Atribut
Menurut Howard R. Davia dalam Tuanakotta (2005 : 45) terdapat memberi lima
nasehat yang seharusnya diperhatikan oleh seorang auditor pemula dalam melakukan
investigasi terhadap fraud yaitu :
1. Hindari pengumpulan fakta dan data yang berlebihan secara prematur.
2. Fraud auditor harus mampu membuktikan niat pelaku melakukan kecurangan
3. Harus mampu berpikir kreatif, berpikir seperti pelaku kejahatan, jangan mudah
ditebak dalam hal arah pemeriksaan, penyelidikan, atau investigasi kita.
4. Auditor harus tahu bahwa banyak kecurangan dilakukan dengan persekongkolan.
5. Dalam memilih strategi untuk menemukan kecurangan dalam investigasi proaktif,
seorang auditor harus mempertimbangkan apakah kecurangan dilakukan di dalam
pembukuan atau di luar pembukuan.
1.4 Kode Etik Akuntan Forensik
Di Amerika Serikat, (ACFE) telah menetapkan kode etik bagi para fraud auditor
yang bersertifikat, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Seorang fraud auditor yang bersertifikat, dalam segala keadaan, harus menunjukkan
komitmen terhadap profesionalisme dan ketekunan dalam pelaksanaan tugasnya.
2. Seorang fraud auditor yang bersertifikat tidak diperkenankan untuk melakukan
tindakan yang bersifat ilegal atau melanggar etika, atau segenap tindakan yang dapat
menimbulkan adanya konflik kepentingan.
3. seorang fraud auditor yang bersertifikat tidak diperkenankan untuk melakuka tindakan
yang bersifat ilegal atau melanggar etika, atau segenap tindakan yang dapat
menimbulkan adanya konflik kepentingan.
4. Seorang fraud auditor yang bersertifikat harus mematuhi peraturan/perintah dari
pengadilan, dan akan bersumpah/bersaksi terhadap suatu perkara secara benar dan
tanpa praduga.
5. Seorang fraud auditor yang bersertifikat, dalam melaksanakan tugas pemeriksaan,
harus memperoleh bukti atau dokumentasi lain yang dapat mendukung pendapat yang
diberikan. Tidak boleh menyatakan pendapat bahwa seseorang atau pihak-pihak
tertentu bersalah atau tidak bersalah.
6. Seorang fraud auditor yang bersertifikat tidak boleh mengungkapkan informasi yang
bersifat rahasia yang diperoleh dari hasil audit tanpa melalui otorisasi dari pihak-pihak
yang berwenang.

7. Seorang fraud auditor yang bersertifikat harus mengungkapkan seluruh hal yang
material yang diperoleh dari hasil audit yakni, apabila informasi tersebut tidak
diungkapkan akan menimbulkan distorsi terhadap fakta yang ada.
8. Seorang fraud auditor yang bersertifikat secara sungguh-sungguh harus senantiasa
meningkatkan kompetensi dan efektivitas hasil kerjanya yang dilakukan secara
profesional.
1.5 Standar Audit Investigatif
Menurut K.H. Spencer Pickett dan Jennifer Pickett dalam Tuanakotta (2005 : 52)
merumuskan beberapa standar untuk mereka yang melakukan investigasi terhadap fraud,
diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Seluruh investigasi harus dilandasi praktek terbaik yang diakui. Dalam hal ini tersirat
dua hal yaitu adanya upaya membandingkan antara praktek-praktek yang ada dengan
merujuk kepada yang terbaik pada saat itu (benchmarking) dan upaya benchmarking
dilakukan terus menerus mencari solusi terbaik.
2. Kumpulkan bukti-bukti dengan prinsip kehati-hatian sehingga bukti-bukti tadi dapat
diterima di pengadilan.
3. Pastikan bahwa seluruh dokumentasi dalam keadaan aman, terlindungi dan diindeks,
dan jejak audit tersedia. Dokumentasi ini diperlukan sebagai referensi apabila ada
penyelidikan di kemudian hari untuk memastikan bahwa investigasi sudah dilakukan
dengan benar. Referensi ini juga membantu perusahaan dalam upaya perbaikan caracara investigasi sehingga accepted best practices yang dijelaskan di atas dapat
dilaksanakan
4. Pastikan bahwa para investigator mengerti hak-hak asasi pegawai dan senantiasa
menghormatinya. Apabila investigasi dilakukan dengan cara yang melanggar hak
asasi pegawai yang bersangkutan dapat membuat perusahaan dan investigator
dituntut.
5. Beban pembuktian ada pada yang menduga pegawainya melakukan kecurangan dan
pada penuntut umum yang mendakwa pegawai tersebut baik dalam kasus hukum
administratif maupun hukum pidana.
6. Cakup seluruh substansi investigasi dan kuasai seluruh target yang sangat kritis
ditinjau dari segi waktu.
7. Liput seluruh tahapan kunci dalan proses investigasi, termasuk perencanaan,
pengumpulan bukti dan barang bukti, wawancara, kontak dengan pihak ketiga,
pengamanan mengenai hal-hal yang bersifat rahasia, ikuti tata cara atau protokol,
dokumentasi dan penyelenggaraan catatan, keterlibatan polisi, kewajiban hukum, dan
persyaratan mengenai pelaporan.
1.6 Kelembagaan dan Peraturan Perundang-undangan terkait Korupsi
Secara de facto saat ini sudah ada empat badan institusi negara yang memiliki tugas dan
kewenangan yang berhungan dengan upaya pemberantasan korupsi di Indonesia, yaitu:
1. Aparat Kepolisisan
Dalam kaitannya dengan kasus korupsi polisi memiliki hak dalam penyelidikan,
yaitu serangkaian tindakan untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang
diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknya dilakukan
penyidikan. Selain itu polisi juga memiliki hak penyidikan, yaitu serangkaian

tindakan mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang
tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya.
2. Kejaksaan
Dalam kaitanya dengan upaya pemberantasan korupsi kejaksaan memiliki
wewenang untuk melakukan penyelidikan dan penuntutan sebagaimana yang tertuang
dalam pasal UU No 16 Tahun 2004. Selain itu, kejaksaan juga memeiliki wewenang
untuk melakukan penyidikan.
3. Komisi Pemberantas Korupsi (KPK)
Adapun tugas, kewajiban dan wewenang KPK juga diatur dalam UU N0. 30
Tahun 2002. Dalam pasal 6 dijelaskan bahwa KPK memiliki tugas dan wewengan :
1. koordinasi dengan instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak
pidana korupsi,
2. Supervisi terhadap instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak
pidana korupsi,
3. melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan terhadap tindak pidana
korupsi,
4. melakukan tindakan-tindakan pencegahan tindak pidana korupsi,
5. melakukan monitor terhadap penyelenggaraan pemerintahan negara.

Adapun tugas dan wewenang KPK meliputi penyelidikan, penyidikan dan


penuntutan dalam memberantas korupsi dibatasi melalui pasal 11, yaitu :
1. melibatkan aparat penegak hukum, penyelenggara negara, dan orang lain yang
ada kaitannya dengan tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh aparat penegak
hukum atau penyelenggara negara,
2.

mendapat perhatian yang meresahkan masyarakat,

3. menyangkut kerugian negara paling sedikit Rp. 1.000.000.000,00 (satu milyar


rupiah). Pembatasan yang lain bagi KPK adalah selama menjalankan
wewenangnya KPK tidak berwenang mengeluarkan surat pemberhentian
penyidikan dan penuntutan (Sp3).

4. Tim Koordinasi Pemberantas Tindak Pidana Korupsi (Timtastipikor)


Adapun tugas dan wewenang Timtastipikor adalah sebagai berikut:
1. Melakukan penyelidikan, penyidikan dan penuntutan sesuai ketentuan hukum
acara pidana yang berlaku terhadap kasus dan/atau indikasi tindak pidana korupsi,

2.

Mencari dan menangkap para pelaku yang diduga keras melakukan tindak pidana
korupsi, serta menelusuri dan mengamankan seluruh aset-asetnya dalam rangka
pengembalian keuangan negara secara optimal, yang berkaitan dengan tugas
sebagaimana dimaksud pada huruf,
3. Melakukan kerjasama dan/atau koordinasi dengan Badan Pemeriksa Keuangan,
Komisi Pemberantasan Korupsi, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi
Keuangan, Komisi Ombudsman Nasional dan instansi pemerintah lainnya dalam
upaya penegakan hukum dan pengembalian kerugian keuangan negara akibat
tindak pidana korupsi,
4. Melakukan hal-hal yang dianggap perlu guna memperoleh segala informasi yang
diperlukan dari semua instansi Pemerintah Pusat maupun instansi Pemerintah
Daerah, BUMN, BUMD, serta pihak-pihak lain yang dipandang perlu, sesuai
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Namun karena
keberadaan Timtastipikor dinilai kurang efektif dan tegas serta kewenagannya
tumpang tindih dengan lambaga pemerintah lainnya seperti kepolisian, kejaksaan
dan KPK sehingga dikeluarkan Keppres No 10 Tahun 2007 tentang Pengakhiran
Tugas Dan Pembubaran Tim Koordinasi Pemberantasan Tindak Korupsi.
Peraturan perundang-undangan terkait tindak korupsi adalah sebagai berikut:
1. UU No. 11 Tahun 1980 tentang Tindak Pidana Suap
2. UU No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari
Korupsi, Kolusi dan Nepotisme
3. UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
4. UU No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 31 tahun 1999
Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
5. UU No. 30 Tahun 2002 tentang Komisis Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
6. UU No. 46 Tahun 2009 tentang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi
7. PP No. 19 Tahun 2000 tentang Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
8. PP No. 71 tahun 2000 tentang Tata Cara Pelaksanaan Peran Serta Masyarakat dan
Pemberian Penghargaan Dalam Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi
9. PP No. 63 Tahun 2005 tentang Sistem Manajemen Sumber Daya Manusia Komisi
Pemberantasan Korupsi
10. PP No. 29 tahun 2006 tentang Hak Keuangan Kedudukan Protokol Dan Perlindungan
Keamanan Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi
11. PP No 36 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun
2006 tentang Hak Keuangan, Kedudukan Protokol, Dan Perlindungan Keamanan
Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi
12. PerPres No. 49 Tahun 2005 tentang Uang Kehormatan Bagi Hakim Pada Pengadilan
Tindak Pidana Korupsi
13. PerPres No. 80 Tahun 2006 tentang Honorarium Bagi Ketua, Wakil Ketua, Anggota,
dan Sekretaris Tim Koordinasi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
14. Keptusan Presiden No. 45 Tahun 2004 tentang Pengalihan Organisasi, Administrasi,
dan Finansial Sekretariat Jenderal Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara
Negara ke Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
15. Kepurusan Presiden No. 59 Tahun 2004 tentang Pembentukan Pengadilan Tindak
Pidana Korupsi Pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat
16. Keputusan Presiden No. 10 Tahun 2007 tentang Pengakhiran Tugas dan Pembubaran
Tim Koordinasi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi