Anda di halaman 1dari 5

Kurva Nilai Konsentrasi vs Turbidity

19.5
19
18.5
18
Turbidity

17.5

Turbidity

17
16.5
16
15.5
80 100 120 140 160 180 200 220 240 260
Konsentrasi (ppm)

Kurva Nilai Konsentrasi vs pH


8
7
6
5
pH

pH

3
2
1
0
80

100 120 140 160 180 200 220 240 260


Konsentrasi (ppm)

Proses Pengolahan Air pada Water Treatment.


Water treatment merupakan proses pengolahan air dimana air tersebut diolah untuk
menghilangkan kontaminan yang ada didalamnya. Proses pengolahan air ini dibagi
menjadi tiga proses yaitu :

Pengolahan air secara kimia

Pengolahan air secara fisika

Pengolahan air secara biologi

Pengolahan air secara kimia

Koagulasi dan Flokulasi


Benda-benda tersuspensi dalam air dapat berupa bahan-bahan kasar yang dapat

mengendap sampai pada bahan-bahan koloid lembut. Bahan-bahan tersebut dapat bersatu
dan mengendap dan disatukan menjadi lebih besar dengan bantuan bahan penggumpal.
Kumpulan benda-benda besar tersebut akan tertinggal di dasar sedimentasi dan dihilangkan
dengan cara penyaringan (filtrasi). Langkah-langkah proses koagulasi dan flokulasi sebagai
berikut :
1. Bahan kimia penggumpal dimasukkan ke dalam air, supaya bahan kimia tersebut
bereaksi secara seragam, bahan tersebut harus ditaburkan secara merata . Hal ini
memerlukan pengadukkan yang cepat atau pencampuran dengan air pada titik dimana
penggumpalan ditambahkan.
2. Rekasi-reaksi kimia dan kimia fisik dan perubahan-perubahan yang terjadi
mengarahkan

pada

koagulasi

dan

pembentukan

partikel-partikel

berukuran

mikroskopis.
3. Pengadukan perlahan-lahan menyebabkan penyatuan pertikel-partikel menjadi
kumpulan yang dapat terendapkan.

Gambar 1. Proses Koagulasi,Flokulasi,dan Filtrasi

Pengolahan air secara fisika

Sedimentasi

Sedimentasi adalah proses pemisahan padatan yang terkandung dalam limbah cair
oleh gaya gravitasi, pada umumnya proses Sedimentasi dilakukan setelah proses Koagulasi
dan Flokulasi dimana tujuannya adalah untuk memperbesar partikel padatan sehingga
menjadi lebih berat dan dapat tenggelam dalam waktu lebih singkat.
Sedimentasi bisa dilakukan pada awal maupun pada akhir dari unit sistim pengolahan.
Jika kekeruhan dari influent tinggi,sebaiknya dilakukan proses sedimentasi awal (primary
sedimentation) didahului dengan koagulasi dan flokulasi, dengan demikian akan mengurangi
beban pada treatment berikutnya. Sedangkan secondary sedimentation yang terletak pada
akhir treatment gunanya untuk memisahkan dan mengumpulkan lumpur dari proses
sebelumnya (activated sludge, OD, dlsb) dimana lumpur yang terkumpul tersebut
dipompakan keunit pengolahan lumpur tersendiri.
Sedimen dari limbah cair mengandung bahan bahan organik yang akan mengalami
proses dekomposisi, pada proses tersebut akan timbul formasi gas seperti carbon dioxida,
methane, dlsb. Gas tersebut terperangkap dalam partikel lumpur dimana sevvaktu gas naik

keatas akan mengangkat pule partikel lumpur tersebut, proses ini selain menimbulkan efek
turbulensi juga akan merusak sedimen yang telah terbentuk. Pada Septic-tank, Imhoff-tank
dan Baffle-reactor, konstruksinya didesain sedemikian rupa guna menghindari efek dari
timbulnya gas supaya tidak mengaduk/merusak partikel padatan yang sudah mapan (settle)
didasar tangki, sedangkan pada UASB (Uplift Anaerobic Sludge Blanket)justru menggunakan
efek dari proses tersebut untuk mengaduk aduk partikel lumpur supaya terjadi kondisi
seimbang antara gaya berat dan gaya angkat pada partikel lumpur, sehingga partikel lumpur
tersebut melayang-layang/mubal mubal.
Setelah proses dekomposisi dan pelepasan gas, kondisi lumpur tersebut disebut sudah
stabil dan akan menetap secara permanen pada dasar tangki, sehingga sering juga proses
sedimentasi dalam waktu yang cukup lama disebut dengan proses Stabilisasi. Akumulasi
lumpur (Volume) dalam periode waktu tertentu(desludging-interval) merupakan parameter
penting dalam perencanaan pengolahan limbah dengan proses sedimentasi dan stabilisasi
lumpur.

Gambar 2. Proses Sedimentasi

Filtrasi

Filtrasi adalah proses penyaringan air melalui media pasir atau bahan sejenis untuk
memisahkan partikel flok atau gumpalan yang tidak dapat mengendap, agar diperoleh air
yang jernih.
Penyaring adalah pengurangan lumpur tercampur dan partikel koloid dari air limbah
dengan melewatkan pada media yang porous. Kedalaman penyaringan menentukan derajat
kebersihan

air

yang

disaringnya

pada

pengolahan

Mekanisme yang dilalui pada filtrasi:


1. Air mengalir melalui penyaring glanular
2. Partikel-partikel tertahan di media penyaring

air

untuk

minum.

3. Terjadi reaksi-reaksi kimia dan biologis


Filtrasi yang berfungsi sebagai tempat proses penyaringan butir-butir yang tidak ikut
terendap pada bak sedimentasi dan juga berfungsi sebagai penyaring mikroorganisme atau
bakteri yang ikut larut dalam air. Bangunan filtrasi biasanya menggunakan pasir silica yang
berwarna hitam yang memiliki ketebalan yang berbeda dan juga kerikil. Pasir ini digunakan
karena lebih berat dan lebih menempel flok-floknya.

Gambar 3. Proses Filtrasi