Anda di halaman 1dari 20

Fraud Prevention

(Tugas Makalah Akuntansi Forensik)


Dosen Pengampu: Dr. Roekhudin, Ak.,CA.,CSRS

Disusun oleh:
Annisa Sabrina Djuanedy
Irmayunita Dewi Aulia

Program Pendidikan Profesi Akuntansi


Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Brawijaya
Oktober 2014

FRAUD PREVENTION
Pencegahan atas fraud merupakan cara dengan biaya paling efektif untuk mengurangi
kerugian akibat fraud. Pada saat fraud terungkap, tidak ada yang namanya pemenang. Pelaku
mengalami kerugian berupa penghinaan dan rasa malu sebagai konsekuensi atas perbuatan
mereka. Mereka juga diharuskan membayar pajak dan dan membayar ganti rugi serta seringkali
ada sanksi atau denda dan konsekuensi lain. Untuk korban, selain kehilangan aset mereka yang
dicuri, korban juga harus mengeluakan biaya hukum, kehilangan waktu dan dipublikasikan
negative serta konsekuensi lain yang merugikan. Jika perusahaan tidak bertindak keras terhadap
pelaku fraud, maka akan tersebar kabar bahwa pelaku fraud tidak ditangani atau dihukum dengan
serius sehingga orang lain dalam organisasi akan tertarik untuk melakukan fraud. Organisasiorganisasi atau individu-individu yang telah proaktif dalam melakukan langkah-langkah
pencegahan fraud, menemukan bahwa upaya pencegahan yang mereka lakukan membayar
dividen yang besar. Selain itu biaya investigasi fraud bisa sangat mahal.
Seperti yang dijelaskan pada chapter 2, orang melakukan fraud dikarenakan 3 faktor yaitu
(1) tekanan, (2) kesempatan, dan (3) rasionalisasi atas pembenaran fraud. Ketika tekanan dan
tekanan tinggi, seseorang membutuhkan sedikit rasionalisasi untuk untuk melakukan fraud.
Ketika tekanan dan kesempatan rendah, seeorang membutuhkan rasionalisasi lebih untuk
melakukan fraud. Namun, terkadang tekanan ataupun kemampuan seseorang untuk
merasionalisasikan perbuatan mereka sangat tinggi sehingga bagaimanapun kerasnya usaha
organisasi untuk mencegah fraud, pencurian atau fraud tetap terjadi. fraud memang tidak
mungkin untuk dicegah sepenuhnya, terutama dalam hal biaya. Hal terbaik yang bisa diharapkan
organisasi adalah mengelola biaya karena fraud dengan efektif.
Organisasi yang secara eksplisit memikirkan tentang resiko atas fraud dan secara aktif
melakukan langkah-langkah untuk menciptakan lingkungan yang tepat dan mengurangi
terjadinya, sukses dalam mencegah kebanyakan fraud.
Pencegahan fraud yang efektif melibatka dua aktivitas fundamental (1) melakukan
langkah-langkah untuk menciptakan dan memelihara budaya jujur dan menjunjung tinggi etika.
(2) menilai resiko fraud dan mengembangkan respon konkrit untuk mengurangi resiko dan
menghilangkan kesempatan yang menimbulkan terjadinya fraud.

A. Menciptakan Budaya jujur dan menjunjung tinggi etika


Organisasi menggunakan beberapa pendekatan untuk menciptakan lingkungan yang jujur
dan menjunjung tinggi etika. Lima unsur paling penting dan umum adalah (1) memastikan
bahwa model manajemen puncak berperilku sesuai. (2) memperkerjakan pegawai-pegawai yang
tepat, (3) mengkomunikasikan ekpektasi yang diinginkan organisasi dan meminta konfirmasi
tertulis atas penerimaan akan ekspektasi organisasi, (4) menciptakan lingkungan kerja yang
positif, (5) mengembangkan dan menegakkan kebijakan yang efektif untuk penanganan ketika
terjadi fraud.
1. Tone at the Top (Proper Modeling)
Manajemen harus menekankan pada karyawan melalui perbuatannya bahwa
ketidakjujuran, perilaku yang diragukan atau tidak etis tidak akan ditolerir dalam perusahaan.
Dalam hasil penelitian tentang kenapa orang berbohong atau tidak jujur menunjukkan bahwa
terdapat 4 alasan orang berbohong. Pertama karena mereka takut akan hukuman atau
konsekuensi yang merugikan. Mereka merasa telah melakukan sesuatu yang salah atau kinerja
mereka tidak memenuhi harapan organisasi sehingga mereka berbohong untuk menutupinya.
Alasan

kedua

yaitu

individu

yang

terus-menerus

merasa

takut

akan

hukuman

mengembangkan kebiasaannya dalam berbohong. Bahkan ketika mereka dihadapkan dengan


kebenaran, mereka bersikeras bahwa kebohongan mereka adalah kebenaran.
Alasan ketiga seseorang berbohong atau tidak jujur karena mereka telah belajar untuk
berbohong dengan melihat orang lain berbohong yang merupakan contoh ata model yang
negative, terutama ketika mereka melihat orang-orang yang melakukan kebohongan bisa
bebas tanpa dihukum. Orang akan semakin rentan dalam berbohong. Dan alasan keempat
seseorang berbohong yaitu karena mereka merasa jika mereka mengatakan yang sebenarnya,
mereka tidak akan mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Sayangnya contoh yang tidak baik atau negative itu ada dimana-mana. Dengan
meningkatnya akses informasi, orang semakin mudah mendapatkan informasi tentang bad
modeling atau contoh yang buruk
dipublikasikan di media massa.

yang semakin detail terkait tindakan fraud yang

2. Hiring the Right Kind of Employees (memperkerjakan pegawai yang baik)


Cara kedua untuk menciptakan budaya jujur dan menjunjung tinggi etika adalah dengan
memperkerjakan pegawai yang baik. Tidak semua orang jujur dan memiliki pemahaman
tentang etika dengan baik. Bahkan hasil penelitian menunjukkan bahwa kebanyakan orang
ketika dihadapkan dengan tekanan yang signifikan dan kesempatan akan berperilaku tidak
jujur daripada berbuat jujur karena takut akan konsekuensi negative yang akan diterima. Jika
sebuah organisasi ingin sukses dalam mencegah fraud, organisasi harus mempunyai kebijakan
perekrutan yang efektif yang membedakan antara individu yang tidak beretika dan sangat
beretika, terutama ketika merekrut orang untuk posisi atau jabatan yang beresiko tinggi.
Organisasi perlu menjalankan prosedur perekrutan yang proaktif seperti melakukan
penelusuran tentang latar belakang calon karyawan

dan memeriksa referensi serat

mempelajari cara menginterpretasikan respon calon karyawan atas pertanyaan yang yang
diberikan. Organisasi juga perlu menguji kejujuran karyawan dan lain-lain.

Penelitian terbaru telah menyarankan Ethical Maturity Model (EMM) (figur 3.1) yang
menjelaskan tentang alasan seseorang mengambil keputusan atau berperilaku tidak etis. Dasar
dari etika adalah pemahaman tentang etika personal yang merupakan batas-batas etika paling
dasar terkait tindakan pribadi.yakni pemahaman mengenai mana yang benar dan salah,
mengembangkan budaya fairplay dan belajar bagaimana peduli dan berempati dengan orang lain,
mengembangkan rasa hormat terhadap orang lain, mempelajari prinsip dasar integritas dan
realitas dan berperilaku dengan benar.
Level kedua dari etika adalah penerapan etika dalam berbisnis, yaitu seseorang harus
mampu menerjemahkan apa itu etika dalam dunia usaha. Sebagai contoh seseorang mungkin
sangat beretika dalam cara dia memperlakukan keluarga dan temannya, tapi mungkin dia tidak

memahami bahwa memanipulasi pembukuan dan tidak menyampaikan pemotongan pajak


kepada pemerintah dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat atau merupakan perilaku yang
tidak etis dan bisa disebut penipuan. Sebagian besar orang yang terlibat dalam kejahatan
keuangan dari beberapa tahun terakhir menganggap diri mereka jujur dan etis. Namun ketika
dihadapkan dengan pilihan tentang apakah akan memanipulasi pembukuan atau mengungkapkan
perilaku yang tidak pantas, mereka membuat pilihan yang salah. Mereka tidak tahu bagaimana
atau bahkan takut untuk menerjemahkan nilai-nilai etika pribadi mereka ke dunia bisnis.
Tingkatan ketiga adalah Keberanian untuk berperilaku etis . Keberanian untuk berperilaku
etis adalah kekuatan dan keyakinan untuk bertindak secara tepat dalam situasi sesulit apapun.
Seseorang dapat memiliki pemahaman etika dan mampu menerjemahkannya ke dalam bisnis tapi
tidak memiliki keberanian untuk mengambil sikapo atau bertindak sesuai etika ketika diperlukan.
Dalam suatu penipuan baru-baru ini, lebiha dari 20 orang memalsukan laporan keuangan. Semua
bersaksi bahwa mereka sadar bahwa tindakan mereka tidak etis tetapi tidak satupun dari mereka
yang berani untuk tetap berdiri atau bertindak sesuai keyakinan mereka.
Level tertinggi adalah Kepemimpinan yang beretika yang menanamkan pada orang lain
keinginan untuk mengembangkan kesadaran etis dan keberanian untuk berperilaku etis. Pada
level ini membutuhkan seseorang yang mampu menginspirasi orang lain memlaui kata misalnya
dalam bentuk ajakan ataupun dengan menunjukkan manajemen yang baik.

Di kebanyakan organisasi, ada sekelompok kecil karyawan yang telah memahami dengan
baik bagaimana beretika dan telah mempelajari bagaimana menerapkan nilai-nilai etika kedalam
bisnis. Mereka juga selalu melakukan hal yang benar. Ada kelompok kecil lain yang tidak
mengerti tentang bagaimana berperilaku yang etis. Kelompok ini akan cenderung tidak jujur

ketika ketidakjujuran tersebut menguntungkan mereka. Kelompok terbesar yang ada di dalam
organisasi adalah perpaduan dari kedua kelompok sebelumnya. Maksudnya kelompok ini akan
menempatkan dirinya atau bertindak sesuai dengan situasi. Kelompok ini tahu mana yang benar
dan salah, tahu bagaimana menerapkan etika mereka ke dunia bisnis, dan kadang memiliki
keberanian untuk melakukan apa yang dianggap benar. Namun karena tidak konsisten dalam
menjadikan seseorang sebagai contoh, etika kelompok ini bergantung pada situasi dimana
mereka ditempatkan. Umumnya, kelompok ini akan mengikuti pemimpin mereka dan dapat
dipengaruhi oleh struktur dan budaya organisasi. Ketika dalam perusahaan diterapkan pola
kepemimpinan yang mengedepankan etika dengan tegas, kelompok terbesar ini akan cenderung
membuat keputusan yang tepat. Figur pemimpin yang baik akan mengarahkan karyawannya
untuk selalu jujur dan mengambil keputusan yang tepat.
Dalam penelitian tentang kejujuran ditemukan bahwa terdapat tiga macam kelompok
individu, yaitu :

Orang-orang yang hampir selalu jujur ( 30% dari populasi)

Orang-orang yang kejujurannya situasional ( 40% dari populasi)

Orang-orang yang selalu tidak jujur ( 30% dari populasi)

Contoh yang baik dan langkah-langkah pencegahan fraud yang baik akan mencegah kelompok
kedua untuk berbuat tidak jujur. Untuk kelompok ketiga, tidak banyak yang bisa dilakukan untuk
mencegah mereka berbuat tidak jujur. Solusinya adalah dengan memiliki kebijakan perekrutan
yang yang bik untuk mengurangi kemungkinan memperkerjakan individu yang tidak jujur.
3. Communicating Expectations of Honesty And Integrity
Cara ketiga untuk untuk menciptakan budaya jujur dan menjunjung tinggi etika adalah
dengan menyampaikan harapan-harapan organisasi terkait kejujuran dan integritas, meliputi (1)
mengidentifikasi nilai-nilai dan etika yang tepat. (2) mengadakan pelatihan mengenai
pemahaman fraud yang dapat membantu karyawan memahami fraud yang potensial terjadi
sehingga mereka tahu bagimana cara mengatasi dan melaporkan. (3) menyampaikan hukuman
yang akan diterima pelanggar atau pelaku fraud. Agar kode etik yang sudah dirancang efektif,
organisasi atau perusahaan harus mengkomunikasikannya kepada karyawan, vendor, dan
pelanggan. Selain itu perusahaan juga mengharuskan karyawannya untuk membuat pernyataan

tertulis dan disepakati untuk selalu berperilaku etis dan akan mendapat hukuman ketika tidak
berperilaku sesuai dengan kode etik perusahaan.
4. Creating a positive work Environment
Cara keempat untuk untuk menciptakan budaya jujur dan menjunjung tinggi etika adalah
dengan menciptakan lingkunga kerja yang positif. Hasil penelitian menunjukan bahwa frekuensi
terjadinya fraud lebih kecil ketika pegawai merasa nyaman dan merasa memiliki organisasi.
Terdapat tiga cara untuk menciptakan lingkungan kerja yang positif, yaitu:
1.

Memiliki kode etik yang tertulis


Salah satu cara untuk menciptakan dan mengkomunikasikan ekspektasi yang jelas tentang

apa yang bisa dan tidak bisa diterima dalam suatu organisasi adalah memiliki kode etik yang
tertulis. Bagian 406 dari Sarbanes - Oxley Act of 2002 , " Kode Etik untuk Petugas Keuangan
Senior , " mewajibkan setiap perusahaan public memiliki kode etik untuk manajemen dan dewan
direksi organisasi tidak cukup hanya dengan memiliki kode etik namun juga harus disampaikan
kepada seluruh karyawan. Hal ini sangat bermanfaat bagi organisasi. Karyawan menyetujui
secara tertulis perjanjian untk berperilaku etis akan mengurangi kemungkinan terjadinya fraud.
Selain itu kebijakan ata sanksi yang tegas harus diberikan kepada pelaku fraud untuk memberi
peringatan kepada yang lain dampak atau akibat dari tindakan fraud bisa sangat merugikan.
2. Open door policies
Cara kedua untuk menciptakan sebuah lingkungan kerja yang positif sehingga organisasi
membuat organisasi tidak mudah terserang fraud adalah dengan

kebijakan

terbuka atau

kebijakan mempermudah akses . kebijakan terbuka dapat mencegah fraud dengan dua cara,
yaitu:
1.

Banyak orang melakukan fraud karena mereka merasa bahwa mereka tidak mempunyai
seseorang untuk bercerita. Terkadang, ketika seseorang memendam masalahnya dalam
diri mereka sendiri, mereka kehilangan perspektif tentang tindakan yang tepat dan
tentang konsekuensi yang di dapat akibat tindakan yang salah. Kehilangan perspektif ini

2.

dapat menyebabkan pengambilan keputusan yang tidak jujur.


Kebijakan terbuka membuat manajer dan lainnya sadar akan tekanan karyawan,
masalah karyawan ataupun rasionalisasi dari karyawan.Kesadaran ini memungkinkan
manajer untuk melakukan tindakan pencegahan fraud.Penelitian menunjukkan bahwa

sebagian besar fraud (71 persen dalam satu penelitian) dilakukan oleh seseorang yang
bertindak sendirian.
sebagai contoh dari seseorang yang melakukan fraud yang mungkin dapat dicegah oleh
organisasi dengan kebijakan terbuka adalah sebagai berikut:
Micky adalah seorang pengontrol sebuah perusahaan pengemasan buah kecil. Di posisi
tersebut, dia menggelapkan lebih dari $212.000 dari perusahaan. ketika ditanya mengapa, dia
menjawab tidak seorang pun di perusahaan, khususnya pemilik perusahaan, berbicara
kepada saya. Mereka memperlakukan saya tidak adil. Mereka berbicara kepada saya. Mereka
bersikap kasar kepada saya. Mereka melakukan apapun semaunya.
3.

Positive personnel and operating procedure


Cara ketiga untuk menciptakan lingkungan kerja yang positif sehingga membuat organisasi

tidak mudah terserang fraud, adalah memiliki personil positif dan kebijakan operasi. Penelitian
menunjukkan bahwa personil positif dan kebijakan operasi merupakan faktor yang penting
dalam menentukan tinggi rendahnya lingkungan fraud.
Beberapa faktor yang menyebabkan tingginya frekuensi fraud dan yang menimbulkan
lingkungan kerja yang tidak positif yaitu :

Top manajemen yang tidak peduli dan tidak memperhatikan perilaku karyawan

Kurangnya pengakuan atas prestasi kerja karyawan

Ketidakadilan yang dirasakan dalam suatu organisasi.

Manajemen yang otoriter dan tidak partisipatif

Loyalitas organisasi yang rendah

Budget expectation yang tidak masuk akal

Gaji yang terlalu rendah

Minim pelatihan dan peluang untuk naik jabatan

Absensi yang tinggi

Kurangnya kejelasan mengenai tanggung jawab organisasi

Komunikasi yang buruk dalam organisasi

5. Proper Handling of Fraud and Fraud Perpetrators When Fraud Occurs

Cara keempat dan yang terakhir untuk menciptakan budaya jujur dan menjunjung tinggi
etika adalah dengan memiliki kebijakan yang tepat untuk menangani fraud jika terjadi. Sebaik
apapun bentuk pecegahan fraud yang dilakukan organisasi, fraud masih bisa terjadi. cara
organisasi dalam menangani fraud akan sangat berdampak pada jumlah fraud pada masa yang
akan datang. Kebijakan yang efektif untuk menangani fraud yaitu dengan melakukan penyelidika
secara menyeluruh, diberlakukan tindakan tegas secara konsisten terhadap pelaku fraud,
dilakukan control dan penilaian terhadap resiko sehingga pengendalian bisa ditingkatkan. Setiap
organisasi harus menentukian siapa yang akan bertanggung jawab terkait pencegahan,
pendeteksian maupun investigasi terkait fraud. Sehingga dapat diputuskan bagaimana fraud akan
ditangani secara hukum serta menuyusun upaya pencegahan fraud.
6.

Providing an employee assistance programs (EAP)


Program bantuan karyawan atau Employee Assistance Programs (EAP) dinilai berperan

dalam mencegah tindakan kecurangan yang berasal dari motif tekanan atau pressure. Program ini
dapat dilakukan dengan cara memberikan pelayanan personal bagi karyawan seperti :
- kesehatan,
- team building,
- pelatihan,
- resolusi konflik,
- respon terhadap peristiwa kritis,
- bimbingan konseling, serta
rujukan yang dapat membantu mengurangi resiko yang ditimbulkan dari tindakan
kecurangan.
Program tersebut dinilai dapat memberikan perubahan bagi kehidupan sehari-hari
karyawan serta dapat meningkatkan kualitas kerja yang dimiliki. Sebagian besar organisasi yang
sukses, memandang EAP sebagai kontribusi yang penting untuk menyukseskan bisnis mereka
dan sebagai manfaat yang berharga untuk karyawan mereka.. Organisasi mengakui bahwa
memiliki kemampuan untuk memberikan pelayanan dan pertolongan dengan tepat kepada
karyawan yang mandapatkan masalah ataupun musibah, akan mengurangi biaya keuangan
terkait. Sehingga hal ini akan mengurangi tekanan yang akan dirasakan oleh karyawan apabila
mereka sedang tertimpa masalah atau musibah sedangkan mereka merasa bahwa kebutuhan
keuangan mereka tidak tercukupi. Hal yang demikian akan mengurangi kemungkinan karyawan

untuk melakukan kecurangan karena tekanan yang akan dialami oleh karyawan telah diantisipasi
oleh perusahaan.
B. Eliminasi Kesempatan Terjadinya Fraud
Selain menciptakan budaya jujur dan menjujung tinggi etika, pencegahan fraud yang
efektif yaitu dengan menghilangkan peluang terjadinya fraud. Lima metode untuk mengeliminasi
kesempatan terjadinya fraud adalah sebagai berikut:
1.

Memiliki pengendalian internal yang baik


Cara pengungkapan terluas untuk mencegah terjadinya fraud adalah dengan memiliki

sistem pengendalian yang baik. Internal auditor mendukung upaya manajemen untuk
menciptakan sebuah budaya
Menurut American Institute of Certified Public Accountant (AICPA) dalam Hall
(2009:181), sistem pengendalian internal adalah serangkaian aktivitas yang terdiri atas berbagai
kebijakan, praktik, dan prosedur yang diterapkan oleh perusahaan untuk mencapai empat tujuan
umum, yakni menjaga aktiva perusahaan, memastikan akurasi dan keandalan catatan serta
informasi akuntansi, mendorong efisiensi dalam operasional perusahaan, serta mengukur
kesesuaian dengan kebijakan serta prosedur yang ditetapkan oleh pihak manajemen. Dalam
sistem pengendalian internal perlu mengetahui metode, ukuran, serta hal lain terkait dengan
pelaksanaan kinerja operasional suatu entitas apakah telah sesuai dengan standar, kebijakan, dan
prosedur yang berlaku. Fungsi penting dari sistem pengendalian internal antara lain:
- Pengendalian untuk pencegahan (preventive control), yakni mencegah timbulnya suatu
permasalahan sebelum masalah tersebut muncul.
- Pengendalian untuk pemeriksaan (detective control), yakni diperlukan untuk mengungkap
suatu permasalahan ketika masalah tersebut muncul.
- Pengendalian korektif (corrective control), yakni memecahkan masalah yang ditemukan
oleh pengendalian untuk pemeriksaan.
Menurut Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission (COSO)
dan SAS 78 dalam Hall (2009:186), sistem pengendalian internal terdiri dari lima komponen
yang dirancang dan diimplementasikan untuk memberikan jaminan bahwa sasaran hasil
pengendalian dalam suatu entitas akan terpenuhi, diantaranya:
a. Lingkungan pengendalian yang baik , digunakan untuk menentukan arah perusahaan
dan memengaruhi kesadaran pengendalian pihak manajemen dan karyawan. Elemen
penting dari lingkungan pengendalian antara lain integritas dan nilai etika manajemen,
struktur organisasi, keterlibatan dewan komisaris dan komite audit, filosofi manajemen

dan siklus operasionalnya, prosedur untuk mendelegasikan tanggung jawab dan otoritas,
metode manajemen untuk menilai kinerja, pengaruh eksternal, serta kebijakan dan praktik
perusahaan dalam mengelola sumber daya manusia.
b. Penilaian risiko, digunakan untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mengelola
berbagai risiko yang berkaitan dengan perusahaan.
Dalam mengidentifikasi resiko fraud, organisasi harus mempertimbangkan
karakteristik organisasi, indistri, dan Negara tertentu yang dapat mempengaruhi resiko
fraud. Suatu oraganisasi yang secara efektif menerapkan pencegahan fraud akan terfokus
pada pertanyaan-pertanyaan berikut :
Jika fraud terjadi di dalam organisasi kami, dimana kah kemungkinan besar fraud akan
terjadi..??

organisasi akan berfokus pada jenis-jenis fraud yang paling mungkin

terjadi.
Pada posisi karayawan mana yang memungkinan terjadinya fraud..?? organisasi akan
memastikan bahwa jika tindakan control dan pencegahan telah sesuai maka bagian
mana yang mungkin menimbulkan terjadinya fraud
Jika kemungkinan fraud terjadi pada organisasi, maka gejala akan yang mungkin
timbul atau terlihat..??
c. Aktivitas pengendalian yang baik, yakni berbagai kebijakan dan prosedur yang
digunakan untuk memastikan bahwa tindakan yang tepat telah diambil untuk mengatasi
risiko perusahaan yang telah diidentifikasi.
Ada lima tipe pengendalian aktivitas, yaitu:
1) Pemisahan tugas
Memiliki dua orang untuk melakukan sebuah tugas secara bersama-sama atau
memisah tugas ke dalam beberapa bagian jadi tidak satupun orang menangani satu
tugas secara penuh.
2) Sistem otorisasi
Hanya individu yang diotorisasi yang memiliki wewenang untuk menyelasaikan
suatu tugas tertentu.
3) Perlindungan fisik
Perlindungan fisik terhadap aset ini dapat dilakukan dengan cara penyimpanan,
pengamanan ataupun perlindungan untuk mencegah akses untuk aset dan pencatatan
4) Pemeriksaan independen

Mengimplementasikan sistem pemeriksaan yang independen bisa dilakukan dengan


berbagai cara, misalnya melakukan proses audit, melakukan rotasi pekerjaan,
ataupun perintah liburan.
5) Sistem dokumentasi dan pencatatan
Memiliki sistem dokumentasi dan pencatatan dapat menjadi jejak audit utnuk
pemeriksaan atas ativitas dan dokumen transaksi yang mencurigakan.
pendendalian fisik, otorisasi yang tepat, dan pemisahan tugas merupakan pengendalian
yang biasanya dilakukan untuk mencegah fraud, yang dinamakan pengendalian pencegahan,
sedangkan pemeriksaan independen serta dokumen dan catatan biasanya digunakan untuk
pengendalian pendeteksian.
TIPE PENGENDALIAN AKTIVITAS
TIPE PENGENDALIAN

PENGENDALIAN AKTIVITAS

Pengendalian Preventive

1. Pemisahan tugas
2. Sistem otorisasi
3. Perlindungan fisik

Pengendalian detective

1. Pemeriksaan independen
2. Sistem dokumentasi dan pencatatan

d. Pengawasan,

merupakan

suatu

proses

yang

memungkinkan

kualitas

desain

pengendalian internal serta kinerja operasional dapat berjalan dengan baik. Aktivitas
pengawasan berkaitan dengan penilaian kualitas pengendalian intern untuk menentukan
apakah pengendalian tersebut telah beroperasi sesuai dengan harapan dan dimodifikasi
sesuai dengan perubahan kondisi. Hal tersebut dapat diwujudkan melalui beberapa
prosedur terpisah atau melalui aktivitas yang berjalan.
e. Informasi dan komunikasi yang baik, kualitas dari suatu informasi yang dihasilkan
berdampak pada kemampuan pihak manajemen untuk mengambil tindakan serta
membuat keputusan yang berhubungan dengan operasional perusahaan serta membuat
laporan keuangan yang andal. Informasi dan komunikasi menyangkut tujuan pelaporan
keuangan, termasuk sistem akuntansi, terdiri dari metode dan catatan yang dibuat untuk

mengidentifikasi,

menyusun,

menganalisis,

mengelompokkan,

mencatat,

dan

melaporkan transaksi entitas dan menjaga akuntabilitas harta dan hutang yang
berhubungan. Komunikasi meliputi memberikan pemahaman yang jelas mengenai
peranan dan tanggung jawab individu mengenai pengendalian intern pada pelaporan
keuangan.
2.

Memperkecil kolusi atau persekongkolan antara karyawan dengan pihak yang lain
Memperkecil peluang terjadinya kolusi antar karyawan perlu dilakukan karena tindakan

tersebut memungkinkan dapat menimbulkan persekongkolan untuk melakukan tindakan


kecurangan. Tindakan kecurangan yang ditimbulkan karena adanya kolusi atau persekongkolan
cukup sulit untuk dideteksi karena dilakukan oleh banyak pihak.
Peningkatan kasus kolusidapat timbul karena dua situasi, yakni
1.

2.

Sifat dan lingkungan bisnis yang semakin kompleks


Dalam lingkungan bisnis yang semakin kompleks, karyawan yang mendapat kepercayaan
akan beroperasi pada lingkungan khusus serta terpisah dari karyawan lain
Meningkatnya frekuensi hubungan kerja dengan vendor atau pemasok.
hubungan kerja dengan vendor atau pemasok juga beresiko terjadi tindakan fraud ketika
transaksihanyadilakukandenganlisandanbukanperjanjiantertulissertaadanyahubungan

yang

dekatantara penjual dan pembeli.


Fraud pada bagian pembelian dan penjualan merupakan fraud tipe kolusi yang sering
terjadi. Terkadang, vendor dan pelanggan yang tak bersalah dapat terseret dalam tindakan fraud
oleh seorang karyawan dalam sebuah organisasi karena mereka takut jika mereka tidak
diikutsertakan dan hubungan bisnisnya akan hilang.
3. Mengawasi karyawan serta menerapkan sebuah sistem whistle-blowing
Biasanya, pelaku fraud menggunakan uang curian mereka untuk menunjang kebiasaanya,
meningkatkan gaya hidup mereka, atau membayar beban-beban yang ada. Ketika manajer dan
kolega meraka memperhatikan gejala gaya hidup yang dihasilkan dari pengeluaran ini, fraud
akan cepat dapat dideteksi. Gejala yang menunjukkan adanya fraud, biasanya ditunjukkan
dengan perilaku dari pelaku fraud yang tidak seperti biasanya dan berlebihan, misalnya membeli

kendaraan mahal, pakaian mahal, atau rumah mewah baru, mengadakan liburan yang berlebihan,
dan lain sebagainya.
Fasilitas pengawasan tertutup merupakan salah satu pendeteksian awal terhadap fraud.
Pada beberapa kasus yang telah kita pelajari, seseorang yang mengetahui adanya fraud yang
terjadi, takut untuk menunjukkan informasi tersebut atau tidak tahu bagaimana cara
mengungkapkan informasi tersebut. untuk kasus seperti ini, sistem whistle-blowing akan
membantu untuk memecahkan masalah yang ada. Program Whistle-blowing yang baik adalah
alat yang paling efektif untuk tindakan pencegahan fraud. Whistle blowing adalah tindakan
seorang pekerja yang memutuskan untuk melapor kepada media, kekuasaan internal atau
eksternal tentang hal-hal ilegal dan tidak etis yang terjadi di lingkungan kerja. Namun terkadang,
sistem whistle-blowing juga gagal dalam mendeteksi kelakuan buruk seseorang. Deloitte, salah
satu dari Kantor Akuntan Publik the big 4 menyimpulkan bahwa ada empat alasan mengapa
sistem whistle blowing gagal untuk mendeteksi kelakuan buruk seseorang, diantaranya adalah
sebagai berikut:
1) Kurangnya kerahasiaan identitas pelapor
Salah satu halangan terbesar whistle-blower melaporkan sebuah kelakuan buruk di
lingkungan kerjanya adalah karena adanya rasa takut. Jika karyawan melaporkan sebuah
kelakuan yang buruk dalam lingkungan kerjanya melalui sebuah saluran internal tanpa
adanya jaminan kerahasaiaan identitas, mereka akan merasa seperti meniup peluit, artinya
orang yang melakukan sebuah kelakuan buruk akan mengetahui siapa yang melaporkan
sikap buruknya tersebut. Mereka sebenarnya ingin melaporkan tentang kelakuan buruk yang
terjadi di dalam organisasinya tetapi mereka tidak mau hal ini malah menajdi beban
pribadinya.
2) Budaya
Sebuah budaya organisasi diatur oleh arahan dari bagian atas. Jika manajemen memberikan
contoh yang buruk terkait kelakuan buruk, maka karyawan akan mengatakan dua hal, yang
pertama mereka takut dihukum oleh pihak manajemen dan yang kedua, mereka percaya
bahwa pihak manajemen tidak menyukai adanya pelaporan dari whistle blower, khususnya
jika hal tersebut berhubungan dengan tim manajemen.
3) Kebijakan
Jika kebijakan yang berhubungan dengan perilaku yang dapat diterima dan etis tidak diatur
secara jelas dalam sebuah organisasi, maka karyawan akan tidak tahu secara pasti hal-hal

apa saja yang dianggap berkelakuan buruk dan merasa kebingungan ketika akan melaporkan
suatu tindakan yang mencurigakan.
4) Kurangnya pengetahuan
Jika adanya sistem whistle blowing tersebut tidak dikomunikasikan secara efektif kepada
karyawan atau tidak digunakan secara terus menerus, maka intensitas karyawan untuk
menggunakan sistem tersebut akan berkurang atau bahkan karyawan tidak tahu bagaimana
cara mengaksesnya.
Sistem whistle blowing akan bekerja secara efektif apabila memenuhi elemen-elemen
sebagai berikut:
1) Kerahasiaan identitas
Karyawan harus dijamin bahwa mereka dapat melaporkan sebuah tindakan buruk tanpa
adanya rasa takut. Sistem yang efektif harus menyembunyikan identitas dari pelapor.
sehingga, pada saat pelaku tindakan buruk tidak mengetahui bahwa tindakannya tersebut
telah terlaporkan dan pelaku tersebut masih tetap melakukan tindakan buruknya, maka akan
lebih mudah untuk diverivikasi melalui penyelidikan lebih lanjut terhadap tindakan buruk
yang telah terlaporkan tersebut.
2) Independen
Karyawan merasa nyaman untuk melaporkan sebuah tindakan buruk yang terjadi dalam
lingkungan organisasinya kepada pihak yang independen yang tidak ada hubungannya
dengan organisasi atau dengan pihak-pihak yang terlibat.
3) Kemudahan akses
Karyawan harus memiliki bebarapa saluran berbeda yang akan digunakan untuk melaporkan
sebuah tindakan buruk yang terjadi dalam lingkungan organisasinya, misalnya via telepon,
e-mail, online, ataupun surat. Hal ini memastikan bahwa seluruh karyawan dapat menjaga
kerahasiaan identitasnya dalam melaporkan tindakan buruk dengan saluran yang mereka
gunakan.
4) Menindaklanjuti
Peristiwa yang terlapor dengan adanya sistem whistle blowing harus ditindaklanjuti dan
dievaluasi jika memang dibutuhkan. Hal ini akan menunjukkan manfaat dari sitem dan
mendorong adanya pelaporan lebih lanjut terkait tindakan buruk dalam lingkungan
organisasi.
4.

Menciptakan sebuah ekspektasi hukuman atau sanksi

Seperti yang telah diketahui bahwa pencegah terbesar dari perbuatan ketidakjujuran adalah
ketakutan seseorang terhadap hukuman. Menciptakan ekspektasi hukuman merupakam proses
pembuatan serangkaian kebijakan yang tegas dalam upaya meminimalisir tindakan kecurangan
dan segala bentuk ketidakjujuran. Upaya ini berkaitan dengan sistem reward and punishment.
Sistem reward atau penghargaan akan diberikan terhadap karyawan yang dianggap kooperatif
dalam upaya mencegah tindakan kecurangan dalam suatu entitas. Sebaliknya, sistem punishment
atau hukuman akan diberikan kepada karyawan yang terbukti melakukan tindakan kecurangan
sehingga merugikan berbagai pihak dalam entitas tersebut. Sebuah kebijakan yang tegas harus
dipublikasikan kepada karyawan bahwa segala bentuk tindakan kecurangan pasti akan dikenakan
sanksi. Hal ini dapat mengurangi resiko terjadinya tindakan kecurangan yang didorong oleh
faktor rasionalisasi.
5.

Menerapkan fraud auditing secara proaktif.


Sebuah entitas yang secara proaktif melakukan audit terhadap tindakan kecurangan dapat

menciptakan kesadaran pada karyawan bahwa segala tindakannya akan terus ditinjau dan
diawasi setiap saat, sehingga mereka akan ditanamkan mindset takut terkena sanksi jika
melakukan fraud. Auditing terhadap tindakan kecurangan (fraud auditing) dapat dilakukan
melalui empat tahapan, yakni
1)
2)
3)
4)

Mengidentifikasi eksposur resiko tindakan kecurangan,


Mengidentifikasi gejala tindakan kecurangan pada masing-masing eksposur,
Membangun program audit untuk mencari gejala dan eksposur tersebut secara proaktif,
Menyelidiki gejala-gejala tindakan kecurangan yang telah diidentifikasi.
Auditor menjadi sangat serius dalam melakukan fraud auditing secara proaktif karena

termotivasi dengan pernyataan Statement on Auditing Standards (SAS) No. 99, Consideration of
Fraud in a Financial Statement Audit. Salah satu seksi dalam SAS No. 99 membahas tentang
perlunya melakukan pemahaman terhadap risiko tindakan kecurangan ketika auditor tengah
berfokus pada peningkatan keraguan yang profesional, berdiskusi dengan manajemen apakah
mereka menyadari adanya gejala fraud, melakukan pengujian audit yang tidak terduga, serta
mensyaratkan adanya prosedur audit yang memadai. Dalam perkembangannya, disamping
menjadi lebih skeptis dalam memeriksa laporan keuangan, auditor juga mengembangkan unit
khusus yang berkonsentrasi pada pendeteksian fraud secara proaktif. Dengan kemajuan

teknologi, pendeteksian fraud secara proaktif akan menjadi lebih mudah. Dimana penggunaan
teknologi untuk mendeteksi fraud ini akan dijelaskan lebih lanjut pada chapter selanjutnya.
C. Organisasi dan fraud model saat ini
Banyak perusahaan tidak memiliki sebuah pendekatan proaktif untuk menghadapi fraud dan
mengurangi perilaku kecurangan. selama pencegahan fraud tidak ditekankan di dalam sebuah
perusahaan, akan terdapat kebingungan mengenai siapa yang bertanggung jawab untuk
mendeteksi, mencegah dan menginvestigasi fraud. Model saat ini yang sering digunakan oleh
sebagian besar perusahaan untuk menghadapi fraud dapat digambarkan pada figur dibawah ini.

Keempat tahap dalam figur di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:


1.

Peristiwa fraud terjadi dalam sebuah organisasi


Peristiwa fraud ini tidak diawali oleh pelatihan pengehauan secara formal atau pengukuran
pencegahan lainnya. Sekali fraud terjadi, perusahaan akan terbawa pada situasi yang krisis,
karena hal tersebut membutuhkan pengidentifikasian terhadap pelaku, ingin menghindar dari
berita publik, ingin berusaha untuk menutupi kerugiannya, ingin mengurangi dampak
keseluruhan dari apa yang terjadi dalam perusahaan, dan akhirnya akan terperangkap dalam

2.

emosi krisi.
Investigasi
Pada tahap ini, bagian keamanan dan internal audit akan dilibatkan. Sebagian besar kegiatan
investigatif meliputi wawancara dan pemeriksaan dokumentasi. Proses investigasi ini

mungkin atau tidak mungkin menyebabkan adanya resolusi, membutuhkan waktu yang
3.

ekstensif, dan membutuhkan biaya yang mahal.


Aksi atau tindakan
Setelah proses investigasi terselesaikan, perusahaan harus memutuskan tindakan apa yang
akan diambil terkait pelaku fraud. Terdapat tiga hal yang dapat dilakukan dalam tahap ini,

4.

yaitu:
- Tidak melakukan tindakan apapun
- Mengakhiri kasus
- Mengakhiri dan mencari penuntutan terhadap pihak terkait
Resolusi
Tahap yang terakhir ini meliputi :
- Penutupan file
- memperbaiki bersama hal yang tidak terurus
- mengganti karyawan
- kemungkinan mengimplementasikan pengendalian baru
- pemecahan masalah

REVIEW ARTIKEL
INTEGRITY, UNETHICAL BEHAVIOUR, AND TENDENCY OF FRAUD
Tahun penelitian

: 2009

Peneliti

: Gugus Irianto
Nurlita Novianti
Kristin Rosalina
Yuki Firmanto

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh integritas dan sistem kompensasi
terhadap perilaku tidak etis dan pengaruh perilaku tidak etis terhadap kecenderungan kecurangan
keuangan. Penelitian ini menggunakan sampel staff bagian keuangan dan pengadaan barang dari
suatu lembaga pendidikan tinggi. Penelitian ini mmproyeksikan variabel integritas menjadi
empat faktor, yaitu:
1. lingkungan kerja yang dinilai dengan kebiasaan memberikan gratifikasi, melakukan
pertemuan diluarkan yang telah dijadwalkan, kondisi pada lingkungan pelayanan.
2. Sistem administrasi yang dinilai dengan pelaksanaan SOP, transparansi informasi, dan
kegunaan teknologi.
3. Tingkah laku personal yang dinilai dengan pelayanan yang adil, ekspektasi penerimaan
gratifikasi, tingkah laku pengguna layanan
4. Pengukuran pengendalian korupsi yang dinilai dengan usaha untuk memerangi korupsi,
mekanisme penyampaian komplain.
Selain itu, penelitian ini mengukur unethical behaviour dengan penyalahgunaan posisi oleh
pimpinan, penyalahgunaan kekuasaan oleh pimpinan, tidak ada tindakan dari pimpinan.
Sedangkan variabel tendency of fraud diukur dengan kesalahan pengungkapan, kesalahan
implementasi dan penyalahgunaan aset.

Dalam hasil penelitian ditemukan bahwa integritas tidak mempengaruhi perilaku tidak etis
seseorang sedangkan sistem kompensasi berpengaruh terhadap perilaku tidak etis seseorang.
Hasil lain menunjukkan bahwa lingkungan yang beretika dapat mendorong keputusan yang
dilandasi oleh prinsip-prinsip etika daripada keputusan yang didasarkan pada kepentingan
pribadi atau dengan kata lain tendency kecurangan dapat dikurangi ketika seseorang berada
dalam lingkungan yang beretika. Hal ini dapat diartikan bahwa sistem yang baik, terintegritas,
dan lingkungan yang beretika merupakan faktor penentu perilaku etis seseorang.

DAFTAR PUSTAKA
Albrecht, et al. (2012), Fraud Examination, 4th. Ed., South-Western, Cengange Learning