Anda di halaman 1dari 18

MENENTUKAN VOLUME SHALE

(Laporan Praktikum Well Logging)

Oleh
Noris Herlambang
1315051039

LABORATORIUM GEOFISIKA
JURUSAN TEKNIK GEOFISIKA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMPUNG
2015

DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR ISI...........................................................................................................
DAFTAR TABEL.................................................................................................. ii
I PENDAHULUAN
1 Latar Belakang.............................................................................. 1
2 Tujuan Percobaan.......................................................................... 1
3 Batasan Masalah............................................................................. 2
II
TINJAUAN PUSTAKA
1 Geologi Regional Sumatra Selatan............................................... 3
2 Shale.............................................................................................. 3
3 Clay................................................................................................. 4
III
TEORI DASAR
IV
METODOLOGI PRAKTIKUM
1 Alat dan Bahan................................................................................
2 Diagram Alir....................................................................................
V
HASIL PRAKTIKUM DAN PEMBAHASAN
1 Data Praktikum............................................................................. 8
2 Pembahasan.................................................................................. 8
VI

KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1.1 Struktur Regional Cekungan Sumatera Selatan.............................. 3


Gambar 5.1.1 Grafik Hubungan Vsh dengan Ish.................................................... 8
Gambar 5.1.2 Data Log Untuk Penentuan Volume Shale...................................... 8

ii

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Sifat-sifat clay yang berpengaruh dalam logging.................................. 3

iii

BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Well logging terdiri dari berbagai jenis diantaranya yang banyak
digunakan adalah Gamma Ray. Nilai Gamma Ray digunakan untuk
menentukan lapisan tersebut permeabel atau impermeabel, selain Gamma Ray
dapat digunakan untuk evaluasi kandungan shale (Vshale), menentukan
ketebalan lapisan dan mengkorelasi antar sumur. Pada praktikum kali ini akan
dibahas lebih jauh mengenai Vshale.
Pada interpretasi log, permasalahan shaly sand (batu pasir yang
mengandung lempung) sering menjadi pertanyaan pada saat melakukan
identifikasi dan penentuan pengaruh kandungan shale di reservoir karena
shale akan memberi pengaruh pada porositas dan permeabilitas. Pemahaman
tentang sifat dari shale dan koreksi data log dibutuhkan bila jumlah shale
dalam reservoir cukup banyak, agar tidak terjadi kesalahan pengambilan
keputusan, baik pada kegiatan eksplorasi maupun pengembangan.
Adanya clay atau shale di dalam batuan sedimen menyebabkan
terjadinya penyimpangan interpretasi log bila menggunakan rumus-rumus
untuk batuan bersih. Apabila mengetahui jumlah shale di dalam suatu batuan
maka interpretasi log untuk jenis batuan tersebut akan lebih teliti.
Formasi hidrokarbon yang mengandung shale mungkin hanya menunjukkan
sedikit perbedaan pada log resistivity, dibandingkan dengan batu pasir yang
mengandung air atau dengan shale-shale lain yang berdekatan. Hal ini
berakibat lapisan batu pasir yang mengandung shale sulit untuk ditentukan
pada log resistivity.
Bila jumlah shale dalam reservoir dapat menghentikan produksi karena
permeabilitasnya yang sangat rendah, tetapi pada jumlah tertentu keberadaan
shale dalam reservoir dapat menguntungkan yaitu bila shale menyebar. Hal ini
dapat menguntungkan karena shale akan mengikat air dan mengurangi saturasi
air. Dengan kondisi tersebut, suatu lapisan yang memiliki saturasi air yang
tinggi tetap dapat diproduksikan secara ekonomis.
Berdasarkan permasalah diatas maka dilakukan praktikum ini yang
berjudul Menentukan Volume Shale (Vsh).

1.2 Tujuan Percobaan


Adapun tujuan dari praktikum ini adalah menentukan jenis dan volume
shale (Clay, VSH) di dalam batu pasir, jumlah shale perlu ditentukan karena 2
shale dapat menyebabkan kesalahan interpretasi.
1.3 Batasan Masalah

Adapun batasan masalah dalam praktikum ini adalah menentukan jenis


dan volume shale didalam batu pasir.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Geologi Regional Sumatra Selatan


Cekungan Sumatera Selatan dan Cekungan Sumatera Tengah
mempunyai sejarah pembentukan yang sama dimana kedua cekungan
tersebut merupakan suatu cekungan back-arc basin. Perkembangan dan
pembentukan cekungan Sumatra Selatan dipengaruhi oleh tiga fasa tektonik
utama : Fasa Rifting, Fasa Sagging dan Fasa Kompresi.

Gambar 2.1.1 Struktur Regional Cekungan


Sumatera Selatan
Pada dasarnya stratigrafi Cekungan Sumatera Selatan dikenal satu daur
besar (megacycle) yang terdiri dari suatu transgresi dan kemudian diikuti
oleh regresi.Kelompok fase transgresi disebut kelompok Telisa yang terdiri
dariFormasi Lahat, Talang Akar, Baturaja dan Formasi Gumai, sedangkan
kelompok fase regresi disebut kelompok Palembang yang terdiri dari
Formasi Air Benakat, Muara Enim dan Formasi Kasai (Asikin, 1984).
2.1 Shale
Shale adalah batuan sedimen yang memiliki tekstur yang halus dengan
ukuran butir 1/16 hingga 1/256 milimeter. Komposisi mineralnya umumnya
tersusun dari mineral-mineral lempung, kuarsa, opal, kalsedon, klorit, dan
bijih besi. Shale dibedakan menjadi dua tipe batuan, yaitu batu lanau dan batu
lempung atau serpih. Batu lanau memiliki butiran yang berukuran anara batu

4
pasir dan batu serpih, sedangkan batu lempung memiliki chiri khas mudah
membelah dan bila dipanasi menjadi plastis (Nur, 2009).
Umumnya shale terdiri dari padatan sebagai berikut : 50% clay, 25%
silica, 10% feldspar, 10% karbonat, 3% besi oksida, 1% bahan organik dan
1% material lainnya. Shale dapat menyerap air sebanyak 2-40% dari
volumenya. Komponen clay yang terdapat dalam shale menyebabkan
terjadinya penyimpangan (abnormal) dalam pembacaan log (Schlumberger,
1989).

2.2 Clay
Clay adalah komponen utama dari shale, terdiri dari partikel-partikel
sangat kecil dengan luas permukaan yang sangat luas, dan akibatnya dapat
mengikat air formasi dalam jumlah banyak dipermukaannya. Untuk pasir, air
ini berpengaruh pada konduktivitas elektrik tetapi tidak berpengaruh pada
konduktivitas hidroliknya.
Mineral-mineral clay diklasifikasikan dalam beberapa jenis, tergantung
pada struktur kristalnya. Pada batuan sedimen, clay yang ditinjau adalah jenis
montmorillonite, illite, kaolinite, chlorite dan mineral campuran yang
biasanya berbentuk lapisan. Tabel 2.1 mendaftarkan sifat-sifat dari tiap jenis
clay yang penting dalam penilaian formasi.
Tabel 2.1 Sifat-sifat clay yang berpengaruh dalam logging
Clay Type
Montmorillonite
Illite
Chlorite
Kaolinite

av

CEC,
meq/g

CNL

0.8-1.5
0.1-0.4
0-0.1
0.030.06

0.24
0.24
0.51

2.45
2.65
2.8

Ca, Mg, Fe
K, Mg, Fe, Ti
Mg, Fe

0.36

2.65

,
gr/cc

Minor
Constituent

Spectral GR
Components (av)
U,
Th,
K, %
ppm
ppm
0.16
2-5
14-24
4.5
1.5
<2
0.42

1.5-3

Kolom pertama dalam tabel menampilkan parameter yang penting,


yaitu Kapasitas Perpindahan Kation (Cation Exchange Capacity CEC).
Kolom kedua menampilkan porositas yang dibaca oleh log CNL Neutron,
pada keadaan (teoritis) 100% formasi clay. Kolom berikutnya menunjukkan
densitas clay rata-rata. Parameter ini memiliki nilai yang bervariasi, sesuai
dengan konsentrasi hidrogen dan mineral berat yang mengotori, misalnya
mineral besi. Tiga kolom terakhir pada Tabel 2.1 adalah konsentrasi rata-rata
dari komponen radioaktif natural yang terdapat dalam clay (Asquith, 1982).

6-19

III. TEORI DASAR

Log gamma ray mengukur radioaktivitas alami yang terdapat pada


suatu lapisan. Besar kecilny radioaktivitas yang terukur menunjukan
jumlah kandungan shale pada lapisan. Hal ini dikarenakan unsur-unsur
radioaktif alami banyak terdapat pada shale. Semakin besar kandungan
shale pada suatu formasi atau batuan, maka akan memberikan nilai
pembacaan gamma ray semakin tinggi. Batu pasir dan batu gamping
umumnya memiliki radioaktivitas yang rendah, sehingga memberikan
pembacaan gamma ray yang rendah. Oleh karena itu log gamma ray ini
bisa digunakan untuk menentukan jenis litologi dari suatu lapisan. Selain
itu, log gamma ray juga bisa digunakan untuk menentukan zona permeabel
dan non permeabel berdasarkan volume shale. Secara umum, zona
permeabel akan ditunjukan oleh jumlah Vshale yang lebih sedikit
dibandingkan zona nonpermeabel (Asquith dan Krygwoski, 2004).
Log gamma ray dapat digunakan untuk mengetahui besarnya kandungan
shale pada log gamma ray, yang mana dari masingmasing indikasi clay tersebut
akan menunjukkan harga yang cukup baik (Vclay rendah) maupun kurang baik
(Vclay tinggi). Dasar dari estimasi kandungan shale adalah korelasi diantara
kandungan shale dan aktivitas gamma ray. Dengan asumsi bahwa selama lapisan
batuan tidak mengandung mineral lain selain shale/clay yang bersifat radioaktif,
sebab kurva gamma ray tidak dipengaruhi oleh jenis kandungan maupun
kekompakan batuan. Sehingga besar kecilnya intensitas radioaktif yang diterima
oleh detektor mencerminkan besar kecilnya kandungan shale/clay yang ada dalam
lapisan. Perhitungan harga Vclay untuk lapisan-lapisan digunakan rumus yaitu
sebagai tahap awal adalah menghitung indeks gamma ray
GR GRCL
I SH
GRSH GRCL
(1)
Dengan:
IGR : indeks shale gamma ray %
GR : respon log gamma ray pada lapisan yang ingin dihitung %
GRCL : respon log pada zona yang bebas shale(GRMin)%
GRsh : respon log di zona shale (GR Max)% (Firdaus, 2008).
Untuk mendapatkan volume shale dalam batuan dapat dilakukan
dengan grafik korelasi antara ISH dengan VSH seperti terlihat pada Gambar 2
atau dari hubungan:

VSH I SH
SH

(2)

jika untuk formasi tersebut tersedia rekaman log density. Hal yang sama juga akan
ditunjukkan oleh rekaman SP log, sehingga VSH dapat dihitung berdasarkan
hubungan berikut:

VSH SP SP SPCL
SPSH SPCL
(3)
Adanya shale di dalam batuan cenderung memperkecil harga SP.
Harga resistivity batuan yang mengandung shale sangat ditentukan oleh
resistivity shale dan kandungan shale di dalamnya. Untuk batuan dengan
porositas nol, berlaku rumus Archie sebagai berikut :

Rt

RSH
VSH b
(4)

Harga (VSH)N akan memberikan harga VSH yang baik jika porositas

Nf
batuan rendah dan atau harga
kecil. Adanya ikatan hidrogen di dalam
shale menyebabkan porositas neutron mempunyai harga lebih tinggi dari
porositas yang ditunjukkan oleh log density, dengan demikian makin
tinggi kandungan shale di dalam batuan perbedaan tersebut makin besar.
Karena pengaruhnya adalah linier maka volume shale di dalam batuan
dapat dinyatakan menurut hubungan berikut:

VSH ND N D
NSH DSH
(5)
Untuk batuan yang mengandung gas maka porositas yang ditunjukkan oleh kedua
log tersebut tidak benar, sehingga metode ini tidak dapat digunakan. Dari kelima
metode tersebut penentuan VSH dengan SP akan memberikan harga yang paling
besar.
Menurut konvensi maka harga VSH, yang akan digunakan adalah
harga terendah dari kelima metode tersebut. Sebagai pertimbangan dapat
diutarakan bahwa adanya mineral berat akan mempertinggi harga (VSH)ND,
pembesaran lubang bor akan memperbesar (VSH)GR dan kandungan
hidrokarbon akan menyebabkan harga (VSH)SP membesar (Schlumberger,
1989).

Log SP merupakan rekaman beda potensial formasi. Tools


SP mengukur beda potensial antara sebuah elektroda yang ditempatkan di
permukaan tanah dengan suatu elektroda yang bergerak dalam lubang
sumur. Tools SP beroperasi berdasarkan arus listrik, maka lumpur
pengeboran yang digunakan harus bersifat konduktif. Dalam evaluasi
formasi Log Sp biasa digunakan dalam untuk :
a. Mengidentifikasi zona permeable dan non permeable
b. Untuk korelasi well to well (Haryoko, 2003).

IV. METEDOLOGI PRAKTIKUM

4.1 Alat dan Bahan


Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai
berikut:
1. Kurva Log
2. Alat Tulis

4.2 Diagram Alir

Mulai

Menentukan nilai
VSH
Menghitung Vsh
Menghitung Vsh
Menentukan
Menentukan
dengan SP log
dengan Neutron
Log
N
NSH
Menghitung nilai Vsh dengan
SP SPCL
VSH
SPSH SPCL
Menghitung nilai Vsh dengan
Menghitung nilai Vsh dengan
GR GRCL
VSH N N
I SH
NSH
GRSH hubungan
GRCL
Membuat grafik
VSH dengan ISH

Menghitung Vsh
dengan Gamma Ray

Hasil

BAB V. HASIL PRAKTIKUM DAN PEMBAHASAN

5.1 Data Praktikum


Adapun data praktikum yang digunakan pada praktikum ini adalah sebagai
berikut:

Gambar 5.1.1 Grafik Hubungan Vsh dengan Ish

9
Gambar 5.1.2 Data Log Untuk Penentuan Volume Shale
5.2 Pembahasan
Praktikum kali ini membahas mengenai penentuan volume shale,
penentuan volume shale pada praktikum dilakukan pertama menggunakan
metode log gamma ray. Langkah awal yang dilakukan adalah menentukan
nilai GR rata-rata(GR Log). Penentuan GR Log dilakukan dengan cara
membaca nilai defleksi gamma ray tertinggi dikurangkan dengan nilai gamma
ray terendah, setelah itu nilai tersebut kemudian dibagi dua. Kemudian nilai
tersebut ditambahkan dengan nilai gamma ray terendah didapatlah nilai GR
log. Proses selanjutnya adalah menentukan nilai gamma ray terendah
berdasarkan kurva gamma ray. Kemudian dilakukan penentuan nilai gamma
ray tertinggi pada kurva tersebut. Setelah dapat data tersebut, kemudian
dilakukan perhitungan Indek Shale. Perhitungan ini dilakukan dengan cara
mengurangkan nilai GR log dikurangkan dengan nilai GR min, kemudian
dibagi dengan nilai Grmaks dikurangkan dengan Grmin, barulah didapat nilai
Ish dengan menggunakan metode gamma ray.
Penentuan volume shale selanjutnya adalah dengan menggunakan metode
sp log. Langkah yang dilakukan hampir sama dengan menggunakan metode
gamma ray, yaitu kita menentukan nilai sp rata-rata, kemudian menentukan
nilai sp terendah pada kurva sp, kemudian menentukan sp tertinggi, setelah
didapat itu barulah dihitung nilai Vsh menggunakan rumus yang hampir
sama dengan metode gamma ray.
Proses selanjutnya adalah penentuan nilai volume shale menggunakan
metode neutron log. Langkah yang dilakukan adalah menentukan nilai
porostas porositas formasi dari neutron log. Kemudian menentukan porositas
lapisan shale dari neutron log. Data yang digunakan ketika praktikum
merupakan data yang terdapat pada modul. Setelah didapat data tersebut
maka dilakukan perhitungan nilai volume shale dengan cara membagi
porositas formasi dari neutron log dengan porositas lapisan shale dari densitas
log.
Penentuan volume shale dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai
metode, metode tersebut diantaranya: metode log gamma ray, metode log sp,
metode log RT, metode log neutron, metode log density-neutron. Dalam
penentuan volume shale terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, hal
tersebut diantaranya: sifat shale didalam batu pasir sama dengan lapisan shale
didekatnya kemudian metode density neutron log tidak dapat digunakan
jika lapisan mengandung gas. Penentuan volume shale penting dikarenakan
karena shale dapat penyimpangan pembacaan log, dan menyebabkan
kesalahan interpretasi.
Praktikan telah melakukan pemotongan data hidrokarbon dimana hasilnya
telah terlampir pada lampiran 1. Dengan dilakukan pemotongan, proses
interpretasi dan penghitungan volume shale akan lebih mudah dilakukan.
Data hidrokarbon yang telah dipotong kemudian dihitung volume shalenya

10
menggunakan metode gamma ray dan metode sp. Dari kedua metode tersebut
didapat nilai volume shale yang sama yaitu 0,5. Pada data hidrokarbon ini
data didominasi oleh lapisan sandstone sehingga graafik hubungan antara Ish
dengan Vsh adalah grafik linier atau garis lurus, untuk lebih jelasnya dapat
dilihat di lampiran. Berdasarkan hasil pemotongan yang telah dilakukan
maka, data tersebut secara umum terbagi menjadi 2 litologi yaitu batu pasir
dan shale. Selain itu praktikan juga melakukan analisis data hidrokarbon,
langkah yang dilakukan ketika melakukan analisis adalah dengan membaca
dengan teliti tiap-tiap kurva log. Indikasi adanya lapisan hidrokarbon ditandai
dengan log gamma ray yang terdefleksi kearah kiri, hal ini mengindikasikan
bahwa lapisan tersebut merupakan lapisan permeabel pada data hidrokarbon
lapisan ini merupakan lapisan batu pasir. Selain log gamma ray digunakan
pula log sp untuk menentukan lapisan permeabel atau non permeabel,
penenunjukan lapisan permeabel saat terdefleksi kekiri atau kekanan
sedangkan lapisan tidak permeabel ditandai dengan defklaksinya konstan
ataupun membentuk garis lurus, selain itu pada log resistifitas seperti MSFL,
LLD, dan SSD terdefleksi kearah kanan untuk menentukan resistifitas fluida
atau batuan. Untuk lapisan yang mengandung hidrokarbon maka LLD akan
menunjukkan respon yang tinggi dan MSFL menunjukkan respon yang
rendah dan terjadi sparasi pada kurva ketiga jenis kurva tersebut. Zona
hidrokarbon ditandai dengan LLD yang menunjukan nilai yang tinggi
sedangkan MSFL menunjukkan nilai kecil. Pada kurva hidrokarbon terdapat
empat zona yang terindikasi mengandung hidrokarbon, lapisan tersebut
berada pada kedalaman 4150-4159 ft, 4205-4217 ft, 4335-4340 ft dan 43514360 ft. Penentuan hidrokarbon ini dibagi lagi menjadi minyak dan gas,
penentuan lapisan minyak ditandai dengan separasi yang kecil, sedangkan
pada hidrokarbon jenis gas ditandai dengan sparasi yang besar. Nilai LLD
pada hidrokarbon jenis gas menunjukkan angka yang besar.
Pembahasan selanjutnya adalah menentukan volume shale pada soal
nomor 1 dan soal nomor 2. Berdasarkan hasil perhitungan yang didapata pada
lampiran maka besarnya volume shale pada berdasar perhitungan
menggunakan metode gamma ray maka didapat volume shalenya adalah 0,5
kemudian dihitung menggunakan metode log sp didapat nilai volume
shalenya sama yaitu 0,5. Begitu pula pada soal nomor 2, nilai volume shale
nya adalah 0,3 menggunakan metode log gamma ray dan menggunakan
metode sp log adalah 0,5. Pada soal nomor satu setelah di interpretasi terdapat
3 daerah prospek hidrokarbon yaitu pada kedalaman 4406-4420 ft, 4470-4488
ft dan 4505 hingga 4535 ft. Sedangkan pada soal nomor 2 terdapat dua daerah
yang mengindikasikan lapisan hidrokarbon. Lapisan tersebut beerada pada
kedalaman 6950-6120 ft dan kedalaman 6350-6450 ft.

BAB VI. KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang dapat ditarik pada praktikum kali ini adalah :
1. Dari praktikum yang telah dilakukan penentuan volume shale sangatlah
penting, hal ini dakarenakan shale dapat menyebabkan penyimpangan
pembacaan kurva log.
2. Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, besarnya nilai volume shale
untuk data log hidrocarbon adalah sebesar 0,5 menggunakan metode gamma
ray log dengan grafik hubungan antara Ish dengan Vsh berupa grafik linier
karena lapisan didominasi oleh sandstone.
3. Dengan dilakukannya perhitungan volume shale maka akan mempermudah
dalam melakukan interpretasi, terutama dalam penentuan lapisan yang
mengandung hidrokarbon.

DAFTAR PUSTAKA

Asikin, 1984, Sumatera, Geology Resources an tectonic Evalution .ITB


Asquith dan Krygwoski, 2004, The Geological Interpretation of Well Logs 2nd
Edition, Interprint Ltd, Malta.
Firdaus, 2008, Interpretasi Petrofisika, PT. ELNUSA GEOSAINS.
Haryoko, 2003. Dasar Interpretasi Log, Pertamina, Yogyakarta.
Hearst and Nelson., 1985. Well Logging For Physical Properties. McGraw-Hill
Book Company. United States of America. 370 371.
Nur,

2009,
https://allinsusmay.wordpress.com/2009/03/20/distribusidensitas/,Diakses pada tanggal 15 November 2015 pukul 21.00 WIB.

Schlumberger, 1989, Log Interpretation Principles/Aplication, Schlumberger


Educational Services, Texas.

LAMPIRAN