Anda di halaman 1dari 6

Malaria merupakan masalah kesehatan di dunia, menurut Badan Kesehatan

Dunia (World Organization Health= WHO) sekitar 41% penduduk dunia atau
kurang lebih sekitar 2,3 miliar penduduk tinggal di daerah endemis yanng
beresiko terkena malaria (WHO, 1977).
Dalam upaya pengendalian malaria diperlukan penanganan yang terpadu.
Selain pengendalian vector dengan insektisida diperlukan juga pengobatan radikal
pada tiap kasus yang ditemukan. Kemoprofilaksis dan pengobatan terhadap kasus
dan simtimatik dilaksanakan secara meluas untuk mengurangi pendeitaan yang
ditimbulkan penyakit itu (Tjitra, 1994).
Obat antimalaria yang ideal adalah obat yang efektif terhadap semua jenis
dan stadium parasit, menyembuhkan infeksi akut maupn laten, efek samping
ringan dan toksisitas rendah. Obat antimalaria dikelompokkan menurut rumus
kimia dan efek atau cara kerja obat pada stadium parasit (Syamsudin, 2004).
Mekanisme Anti Malaria:
1. Antimalaria yang memiliki struktur dasar kuinolin yaitu kunin, klorokuin
amodiakuin dan meflokuin (WHO, 1985).
Untuk kelangsungan hidup Plasmodium falciparum memerlukan zat
makanan yang diperoleh dengan cara mencerna haemoglobin dan vacuola
makanan yang bersifat asam. Haemoglobin yang dicerna selain menghasilkan
asam amino yang menjadi nutrient bagi parasit, juga menghasilka zat toksik
yang disebut ferryprotoporphyrin (FP IX). Klorokuin dan antimalaria yang
mengandyng cincin quinolon lainnya membentuk kompleks dengan FP IX
dalam vacuola. Kompleks obat - FP IX tersebut sangat toksik dan tidak dapat
bergabung membentuk pigmen. Toksin kompleks obat-FP IX meracuni
vacuola menghambat ambilan makanan sehingga parasit mati kelaparan
(Fitch, 1986).
Kompleks klorouin-FP IX juga menganggu permeabulitas membran
parasit dan pompa membran proton. Mekanisme kerja yang lain adalah
dengan berinteraksi dengan DNA polimerase (kuinin). Klorokuin juga
bersifat basa lemah sehingga, masuknya klorokuin ke dalam vakuola

makanan yang bersifat asam akan meningkatkan pH organel tersebut


(Krogstat, 1987). Perubahan pH akan menghambat aktivitas aspartase dan
cysteinase protease yang terdapat di dalam vakuola makanan sehingga
metabolisme terganggu (Okpako, 1991).
Tidak seperti kuinin dan aminokuinolin lainnya, meflokuin tidak
berinteraks dengan DNA (Pradines et al., 2002). Meflokuin berkerja dengan
menghambat pengeluaran (up take) klorokuin pada sel yang terinfeksi,
mekanisme ini menerangkan efek antagonis dari klorokuin dan meflokuin
pada parasit yang sedang tumbuh. Meflokuin berinterferensu dengan transport
haemoglobin dari eritrosit pada vakuola makanan di parasit. Meflokuin hanya
mempengaruhi bentuk aseksual dari parasit dan tidak mempengaruhi efek
pada bentuk exoeritrosit hati atau pada stadium gametosid (Pradines et al.,
2002; Okpako, 1991) .

Mekanisme aksi klorokuin dan golongan kuinolon


2. Antimalaria yang merupakan analog p-aminobenzoat dan dihidrofolat
reduktase inhibitor (DHFR), yaitu sulfonamida dan pirimetamin atau
trimetroprim.
Jalur sintesus asam folat merupakan salah satu dari target kerja obat-obat
antimalaria. Sejumlah obat antimalaria merupakan analog dari p-aminobenzoat
(PABA) dan dihidrofolat reduktase inhibitor (Okpako, 1991).

Pada hewan tingkat tinggi folat didapati dari makanan (eksogen),


sedangkan mikroorganisme sintesis dihidrofolat sangat penting. Mekanisme
kerja antagonis folat adalah dengan menghambat sintesis folat. Seperti ada
bakteri, plasmodium harus mensintesis asam folat de novo

menggunakan

PABA sebagai metabolit yang penting. Asam folat dierduksi menjadi asam
tetrahidrofolat oleh enzim dihidrofolat reduktase (DHFR) (Chwatt et al., 1986).

Mekanisme antimalaria Golongan sulfonamida dan penghambat


DHFR.
Senyawa sulfonamida dan inhibitor DHFR bekerja dengan menyebabkan
hambatan sintesis asam tetrahidrofolat sehingga menghambat oertumbuhan
plasmodium. Kombinasi pirimetamin+sulfadoksin, pirimetamin+dapson dapat
bekerja dengan cara ini.
3. Artemisin, yairu senyawa aktif yang terdapat dalam Artemisia annua (Qing
hao).
Artemisin adalah senyawa seskuiterpenlakton. Mekanisme kerjanya
adalag dapat berinteraksi dengan ferriprotoporphyrin IX (heme) di dalam
vakuola makanan parasit yang bersifat asam dan menghasilkan spesies radikal
yang bersifat toksik. Jembatan peroksida dalam pharmacophore tiroksan
penting untuk aktivitas antimalarianya. Struktur jembatan peroksida pada
molekul artemisisn dapat diputus oleh ion Fero yang berasal dari
haemoglobin, menjadi radikal bebas yang sangat reaktif, sehingga dapat
mematikan parasit (Vyas et al., 2002; Pandey et al., 1999; Schlesinger et al.,
1988).

Artemisin dan derivatnya bekerja sebagai skizintosid darah. Selama


pertumbuhan dan penggandaannya dalam sel darah merah, parasti memakan
dan menghancurkan sampai 80% sel harmoglobin inang bagian ruang yang
dinamakan

vakuola makanan. Ini akan melepaskan FE2+hem, yang

teroksidasi menjadi FE3+-hematin, dan kemudian mengendap dalam vakuola


membentuk pigmen kristal hemozoin (Syamsudin, 2004).
Efek antimalaria dari artemisin disebabkan oleh masuknya molekul ini
kedalam vakuola makanan parasit dan kemudian berinteraksi dengan
FE2+hem. Interaksi menghasilkan radikal bebas yang menghancurkan
komponen vital parasit sehingga mati (Pandey et al., 1999; Sclesinger et al.,
1988).
4.

Atavaquon.
Mekanisme kerja dari atavaquon adalah menghambat elektron trnasport di

mitokondria dan mengganggu membran potensial mitokondria plasmodium


(Srivastava, 1997). Mitokondria merupakan organel subseluler yang terdapat
diluar inti. Organel ini memiliki dua membran, membran sebelah luar dan
membran dalam membentuk sejumlah lipatan yang menjorok ke matriks yang
disebut krista, struktur ini berhubungan dengan aktivitas pernafasan, sebab
protein yang berperan di dalam transport elektron dan fosfolirasi oksidatif
terikat pada membran sebelah dalam. DNA mitokondria dari Plasmodium
terdiri dari 3 komponen elektron trnasport, yaitu: subunit 1 dan 3 sitokrom C
oksidase dan apositokrom b (Schlesinger et al., 1988).
5.

Golongan lain (heparin, dekstran sulfat, fucoidin, chondroitin sulfat).


Mekanisme kerja dengan menghambat proses invasi plasmodium pada

eritrosit. Parasit menginvasi eritrosit melalui 4 tahap, yaitu: perlekatan


merozoit dengan eritrosit, perubahan mendadak eritrosit yang terinfeksi,
invaginasi membran eritrosit dimana parasit melekat dan selanjutnya
pembentukan kantong merozoit dan terakhir penutupan kembali membran
eritrosit disekeliling parasit setelah masuk kedalam eritorsit, merozoit
menjadi bulat dan semua organelnya hilang. Parasit berda dalam membran

vakuola parasitophorous dan tampak berbentuk cincin. Proses ini melibatkan


ligan yang spesifik dan reseptor (Nugroho, 2000; Kisilevsky et al., 2002).
6.

Golongan antibiotika (Tetrasiklin, klindamisin, kloramfenikol)


Bekerja dengan menghambat sintesis protein dengan berikatan pada

ribosom 70 S dari mitokondria parasit sehingga plasmodium tidak dapat


mensintesis

proteinnya

sendiri

sebagai

akibatnya

dapat

menghambat

pertumbuhan plasmodium tersebut (Okpako, 1991).

DAFTAR PUSTAKA
Chwatt B, Black R, Canfield C, Cyde D, Peters, Wernsdorfer.1986. Chemotherapy
of Malaria. WHO Geneva. 24-45.
Fitch CD. 1986. Chloroquine Resistance in Malaria. Proc Natl Acad Sci USA. 64.
1181- 87.
Kisilevsky R, Crandall I, Szarek.WA. Bhat S, Tan C, Boudreau L, and Kevin C.
2002. Short-Chain AliphaticPolysulfonates inhibit The Entry of Plasmodium
into Red Blood Cells Antimicrobial Agents and Chemotherapy.(46).261926.

Krogstat, DJ, Gluzman.IY, Kyle DE et al. 1987. Efflux of chloroquine from


Plasmodium falciparum mechanism Of Chloroquine Resistance. Science
238 .1283-85.
Nugroho A., Tumewu W. 2000. Siklus Hidup Plasmodium Malaria. In: Malaria,
Editor P.N.Harijanto. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Okpako DT. 1991. Principles of Pharmacology. Cambridge Universi Press. 228232.
Pandey AV, Tekwani BL, Singh RL and Chauh VS.1999. Artemisin, an
Endoperoxide Antimalarial Disrupts the Hemoglobin Catabolism and Heme
Detoxification Systems in Malarial Parasite. Journal of Biol. Chem 274
(27).
Pradines B, Alibert S, Houdoin C. et al. 2002. In Vitro Increase in Chloroquine
Accumulation Induced by Dihydroethano and Ethenoanthracene Derivatives
in Plasmodium falciparum- Parasitized Erythrocytes. Antimicrobial Agents
and Chemotherapy. 46(7.
Syamsudin. 2004. Mekanisme Kerja Obat Antimalaria. Journal Farmakologi
Universitas Pancasila.
Schlesinger P, Krogstad DJ, Herwald. 1988. Antimicrobial Agents: Mechanisms
of Action. Antimicrobial Agents and Chemotherapy. 32(6).793-98
Tjitra E. 1944. Manifestasi Klinis dan Pengobatan Malaria. Cermin Dunia
Kedokteran. 94:5-13
Vyas N, Avery BA, Avery MA, and Wyandt CM. 2002. Carrier-Mediated
Partitioning

of

Artemisinin

into

Plasmodium

falciparum-Infected

Erythrocytes. Antimicrobial Agents and Chemotherapy. 46 (1).


WHO. 1985. Tropical DiseaseResearch. Malaria.
WHO. 1997. The Situation of Malaria in the World. J Epid Week. 72. 269-92.