Anda di halaman 1dari 9

REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

ASPEK MEDIKOLEGAL PERDARAHAN OTAK

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Dan Melengkapi Syarat Dalam Menempuh Program
Pendidikan Profesi Dokter

DISUSUN OLEH:
Stella Kusumawardhani

11.2014.064

FK UKRIDA

Dosen Pembimbing :
Dr Gatot Sp.F
Residen Pembimbing :
Dr Ike
KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO
Periode 13 Juli 2015 s/d 8 Agustus 2015

ASPEK MEDIKOLEGAL PERDARAHAN OTAK


DAFTAR ISI

I.
II.

III.
IV.
V.

Pendahuluan...................................................................................................... 1
Tinjauan Pustaka............................................................................................. 4
A. Anatomi Otak dan Perdarahannya............................................................. 4
B. Fisiologi Vaskularisasi Otak..................................................................... 9
C. Definisi Perdarahan Otak.........................................................................
11
D. Klasifikasi Perdarahan Otak..................................................................... 11
E. Perdarahan Otak Pada Kasus Mati ...........................................................
F. Perdarahan Otak Pada Kasus Hidup
G. Kualifikasi Luka Yang Berkaitan Perdarahan Otak...................................
H. Perdarahan Otak Traumatik..........................................................................
I. Perdarahan Otak Non Traumatik..................................................................
J. Gambaran Makroskopis dan Mikroskopis Perdarahan Otak..........................
Kesimpulan.............................................................................................................
Daftar Pustaka ......................................................................................................
Lampiran..................................................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kasus meninggalnya seorang mahasiswa di universitas negeri baru baru ini yang di
duga meninggal akibat kekerasan atau benturan kepala dengan benda tumpul oleh kakak
kelas mahasiswa tersebut menimbulkan banyak reaksi berbagai pihak, termasuk pihak
dokter sebagai ahli maupun penyidik dalam hal ini pihak kepolisiian, untuk
mengungkapkan peristiwa sebenarnya.1
Meninggalnya seorang artis muda yang sedang naik daun beberapa waktu yang lalu,
yang diduga akibat kasus malpraktek menyita perhatian banyak masyarakat. Pada waktu
itu, dokter menyatakan artis tersebut menderita suatu perdarahan otak akibat kelainaan
pembuluh darah di otak.2
Digugatnya sebuah rumah sakit bersalin di Jakarta baru baru ini, akibat terjadinya
perdarahan batang otk yang diduga akibat trauma saat persalinan, menambah semakin
panjangnya daftar malpraktek dalam masyarakat.3
Perdarahan otak dapat terjadinya di bagian otak mana saja, bisa disebabkan oleh
berbaagai macam keadaan, baik trauma maupun non trauma. Setiap tahun, diperkiraka
sekitar 0,3-0,5% penduduk dunia mengalami trauma kepala dan otak ( Traumatic Brain
Injury = TBI). Di Republik Federasi Jerman yang berpenduduk 60 juta jiwa, waktu itu,
setiap tahun tercatat 150.000 200.000 korban dengan trauma kepala. Dari jumlah
tersebut, 30.000 50.000 di antaranya mengalami trauma kepala berat, dan lebih dari
10.000 di antarnya disertai dengan perdarahan intrakranial. Sebanyak 14.000 di antaranya
meninggal setiap tahunnya.4
Di Indonesia, angka kejadian cedera kepala berkisar 132 367 per 100.000 penduduk
dan kelompok populasi berusai 15 24 tahun dan diataas 60 tahun merupakan kelompok
dengan resiko tertinggi. Penyebab trauma kepala terbanyak adalah kecelakaan lalulintas
(Motor Vehicle Accident = MVA) sekitar 50 % dan trauma akibat kerja ( work related TB
I) sekitar 45-50%. Selain itu, trauma kepala juga bisa disebabkan oleh benda tumpul,
tajam dan trauma tembak.5,6
Perdarahan otak juga bisa disebabkan keadaan non trauma seperti : hipertensi, tumor
otak, dan kelainan pada pembuluh darah otak (aneurisma, arteri-vena malforsi, dll). Pada
kasus bayi dan anak didapatkan perdarahan otak akibat trauma jalan lahir saat persalinan
dan jatuh.7

Kematian yang tidak terduga dan relatif cepat (Sudden Death )karena penyakit
susunan syaraf pusat merupakan akibat dari perdarahan. Biasanya hal ini secara kasar
dibagi antara perdarahan intraseberal berhubungan dengan hipertensi atau perdarahan
subarakhnoid berhubungan ruptur aneurisma dari satu pembuluh darah yang menekan
sirkulasi willisi di basis otak. Sedikit banyak perdarahan mendadak pada jaringan tumor
nekrosis di otak dapat menyebabkan peningkatan fatal pada TIK (tekanan intrakanial).
Perdarahan intrasereberal lebih sering terjadi pada perempuan dari pada laki-laki dengan
rasio 3 : 2 dengan rata-rata umur 66 tahun.8
Perdarahan intraserebral seringkali merupakan manifestasi dari stroke hemoragik.
Stroke hemoragik terjadi apabila pembuluh darah ke otak bocor atau robek. Banyak hal
dapat menyebabkan terjadinya perdarahan ini, tetapi yang tersering adalah akibat tekanan
darah tinggi (hipertensi) yang tidak terkontrol. Perdarahan intrakranial yang lebih jarang
terjadi adalah hemoragik pons. Perdarahan pons seringkali diasosiasikan dengan
hipertensi dan timbul pada umur sekitar 69 tahun, dua kali lebih sering terjadi pada
wanita dari pada pria.9
Perdarahan subarakhnoid yang berhubungan dengan ruptur aneurisma relatif jarang,
yaitu sekitar 5 per 100.000 pertahun. Lebih dari setengahnya adalah penderita hipertensi
dan kebanyakan adalah pada kelompok usia 45 60 tahun. Saat ini terdapat penelitian
bahwa para pasien yang mengalami perdarahan subaraknoid ini meninggal pada rata
rata umur 60 tahun dan frekuensi wanita dua kali lebih sering dari pada pria. Pada kasus
dini ditemukan pada umur lebih rendah yaitu 30 50 tahun. Ateroma aneurisma pada
orang tua lebih sering di temukan.8
Kedokteran forensik membahas kewajiban dokter dalam membantu peradilan sesuai
dengan perundangan yang ada. Maraknya kasus kasus trauma kepala akibat kekerasan
benda tumpul, benda tajam, perdarahan otak akibat penyakit dan kelainan pada
pembuluhn darah bawaan pada beberapa tahun terakhir ini, menimbulkan berbagai
tuntutan antara pihak satu dengan pihak lainnya juga maraknya pengaduan malpraktek,
sehingga seorang dokter umum dituntut untuk dapat berdiri sebagai ahli untuk dapat
memberikan keterangan ahli apabila penyidik mengajukan permintaan keterangan ahli
kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli sesuai pasal 179 ayat (1)
(KUHAP)
B. Tujuan

Pembuatan referat ini bertujuan untuk :


1. Mengetahui definisi perdarahan otak serta klasifikasinya
2. Mendeskripsikan manifestasi klinik, pemeriksaan post moterm serta gambaran
morfologi otak berdasarkan penyebab perdarahan otak akibat trauma, beserta
pemeriksaan mikroskopik, histokemik, dan biokemik.
3. Mendeskripsikan manifestasi klinik, pemeriksaan post mortem serta gambaran
morfologi otak berdasarkaan perdarahan otak non trauma, beserta pemeriksaan
mikroskopik, histokemik, dan biokemik.
C. Manfaat
Manfaat pembuatan referat ini agar mahasiswa :
1. Mampu mengetahui definisi perdarahan otak serta klasifikasinya
2. Mampu mendeskripsikan manifestasi klinik, pemeriksaan post mortem serta
gambaran morfologi otak berdasarkan penyebab perdarahan otak akibat trauma,
beserta pemeriksaan mikroskopik, histokemik, dan biokemik serta kegunaannya
dalam bidang ilmu forensik
3. Mampu mendeskripssikan manisfestasi klinik, pemeriksaan post mortem serta
gambaran morfologi otak berdasarkan penyebab perdarahaan otak non trauma,
beserta pemeriksaan mikroskopik, histokemik, dan biokemik serta kegunaannya
dalam ilmu forensik.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Anatomi Otak dan Pendarahannya
1. Meningen
Jaringan otak dilindungi oleh 3 lapisan membran. Lapisan paling luar disebut durameter,
atau sering dikenal sebagai dura. Lapisan ini tebal dan lebih dekat berhubungan dengan
tengkorak kepala dibandingkan otak. Antara tengkorak dan dura terdapat ruang yang di sebut
ruang epidural atau ekstradural. Ruang ini penting dalam bidang forensik.

Durameter merupakan lapisan terluar yang terdiri atas jaringan ikat fibrosa padat yang
lapisan luarnya melekat pada kalvaria bagian dalam, dan berperan sebaagai periosteum
internal. Lapisan dalamnya bersatu dengan araknoid, sehingga pada kenyataannya tidak ada
ruang subdural sejati, yang ada hanyalah ruangan potensial yang dinamakan ruang subdural.
Perlekatan durameter pada calvaria dapat dengan mudah dipisahkan dari tulang, seperti pada
autopsi, namun perlekatan pada basis kranii melekat erat sehingga sulit unruk dipisahkan,
sehinga apabila terjadi fraktur pada basis kranii dapat menyebabkan robekan pada durameter
dan terjadinyaa kebocoran cairan serebrospinal.
Durameter membentuk falks dan tentorium, dan sinus venosa cranial berjalan di antara
keduanya. Durameter ditembus oleh briding veins, khususnya di sekitar daerah vertex dan
ujung lobus temporal. Invaginasi polipoid dari penetrasi durameter pada dinding dalam sinus
venosus, khususnya sinus sagitaliss, berbentuk arachnoid granulations.10
Pada tempat tertentu dua lapisan durameter membentuk sinus yang mengalirkan darah vena
dari otak seperti sinus sagitalis superior. Pada garis tengah terdapat pembuluh darah vena
yang mengalirkan darahnya menuju sinus yang disebut bridging vein. Pada cedara kepala,
vena tersebut dapat mengalami robekan dan menyebabkan perdarahan subdural. Pada ruang
epidural terdapat arteri arteri meningea yang terletak antara durameter dan bagian dalam
calvaria. Laserasi pada arteri arteri ini akibat truma menyebabkan perdarahan epidural.
Lapisan yang melekat langsung ke otak disebut piameter,. Lapisan ini sangat rapuh,
melekat pada otak dan meluas masuk ke dalam sulkus-sulkus otak. Lapisan ini tidak terlalu
penting dalam bidang forensik. Piameter bukanlahh membaran otak sejati, tapi merupakan
suatu permukaan serat gial yang tidak dapat dipisahkan dari jaringan otak di bawahnya.
Lapisan berikutnya yang terletak antara duramater dan pia meter disebut arakhnoid.
Lapisan arakhoid tipis, kaya akan anyaman vaskular.
Ruang yang dibentuk antara lapisan durameter dan araknoid ini disebut ruang subdural.
Kedalaman ruang ini bervariasi di beberapa tempat. Sedangkan ruangkan yang terletak
diantara lapisan piamater dan arachinoid dinamakan ruang subaraknoid. Perlu diingat, bahwa
ruang subarakhnoid berisi cairan serebrospinal yang bersirkulasi. Perdarahan pada ruang ini
umumnya disebabkan karena pecahnya aneurisma atau cedera kepala.10
2. Otak

Otak terdiri dari 4 elemen, yang berhubungan secara anatomi dan fisiologi. Massa terbesar
dari otak adalah serebrum, tersusun atas 2 hemisfer serebral lateral. Masing masing
hemisfer memiliki lobus frontal di anteriror, lobus parietal dan tempiral di lateral, dan lobus
oksipital di posterior.
Kedua lobus frontal secara struktual menghubungkan kedua hemisfer serevral di garis
pertengahan (bagian dari lobus limbik) yang secara fungsional berkaitan dengan kepribadian,
emosi, dan gambaran diri. Aspek posterior dari masing-masing lobus frontal mempunyai
fungsi motorik sadar untuk bagian kontralateral tubuh, di mana aspek anterior dari kedua
lobus parietal mempunyai fungsi sensorik sadar untuk b agian kontralateral tubuh. Fungsi
auditorik dan memori otak memiliki ooleh lobus temporal saat berinteraksi dengan lobus
frontal.

Pada

sebagian

besar

orang,

fungsi

bicara

sadar

terletak

di

daerah

frontotemporoparietal kiri dari hemisfer serebral kiri, sedangkan fungsi orientasi visuospasial terlateralisasi ke hemisfer serebral kanan, terutama lobus parietal kanan.
Elemen kedua dari otak serebellum, terletak di posterior, di bawah serebrum. Struktur
yang berpasangan ini terutama bertanggung jawab untuk koordiiinasi motorik tidak sadar.
Di bawah dasar dari kedua hemisfer serebral, melewati bagian anterior dari serebellum
menuju ke kanalis spinalis dan berlanjut menjadi korda spinalis, adalah brain stem (batang
otak), elemen ke tiga. Ia berfunssi sebagai jaalir utama bagi implus-implus saraf untuk
meninggalkan otaak dan memasuki korda spinalis, dan untuk sebaliknya.
Elemen terakhir dari otak adalah saraf saraf kranial, yang melewati berbagai elemen otak
lainnya menuju struktur-struktur tengkork perifer. Mereka meneruskan implus-implus menuju
otak bagian penglihatan, penciuman, perasa, dan pendengaran, fungsi motorik sadar otot
wajah, seperti mastikasi dan sensasi, dan beberapa fungsi otonom tubuh seperti irama jantung
dan peristaltik usus.
3.Vaskularisasi otak
Arteria intrakanial berbeda dengan dibagian lain tubuh dimana ia tidak memiliki lamina
elastika internal. Jug selubung otot tidak sempurna pada daerah dimana percabangan penting
terbentuk. Dasar dasar vaskularisasi susunan saraf pusat adalah sebagai berikut :

1. Substansia grisea kaya dengan pembuluh pembuluh darah, sedangkan subtansia alba
secaraa relatif lebih kurang mengandung pembuluh darah. Hal ini karena subtansia
grisea, apabila aktif, memerlukan lebih banyak oksigen daripada subtansia alba.
2. Otak manusia dilayaani oleh dua pasang pembuluh darah utama : aarteria karotis
interna dan arteria vetebralis, sedang pengaliran daraah balik berlangsung melalui
vena akhirnya menuangkan isinya ke dalam sistem sinus duramatris.10
3. Pada permukaan otak rteria mengadaakan anstomosis dengan bebaas, sehingga
memungkinkan distribusi yang merata ke semua bagian dan adanya persamaan
tekanan darah di semua pembuluh darah tersebut. Di dalam jaringaan susunan saraf
pusat, tidak dijumpai anastomosis sebanyak itu. Pembuluh-pembuluh yang keluar dari
arteria pada permukaan dan memasuki jaringan fungsional secara fungsional dianggap
endarteries.
Encephalon di layani oleh dua pasang arteria besar, yaitu : arteria carotis interna
dan arteria vertebralis.
1. Arteria carotis interna
Pembuluh darah ini dapat dibagi menjadi 4 bagian yaitu : pars cervicalis, pars
petrosa, pars cavernosa dan pars cerebralis. Pars cervicalis tidak mengeluarkan
cabang-cabang. Pars petrosa terletak di dalam os petrosum. Pars caavernosa
terletak di dalam sinus cavernosus dan mempunyaai hubungaan topografik yang
penting dengan n. Ophtalmicus, N.III, IV dan VI dari arteria carotis interna
berasal dari pars cerebralis, yaitu : a. Ophtalmica, a. Communicans posterior dan
a. Choroidea anterior. Disebelah lateral chiasma opticum, a. Carotis interna
pecah menjadi cabang-cabang terminalnya, yaitu : a.cerebri anterior dan
a.cerebri media.
2. Arteria vertebralis
A. Vertebralis merupakan cabang permata a.subclavia dan berjalaan ke arah
cranial melalui foramina costotransversasria vetebra cervicaalis VI lalu
memasuki kavum kranium melalui foramen magnum A. Vetebralis dextra
dan sinistra bergabung menjadi satu di garis median setinggi tepi kaudal
permukaan ventral pons, untuk membentuk a. Basilaris. A. Basilaris
kemudian kemudian pecah menjadi cabang-cabang terminalnya, yaitu : a.
Cerebralis interna pada sisi yang sama melalui a.communicans posterior.10
Pada daerah basis serebri terbentuk suatu lingkaran pembuluh darah arterial,
yang dinamakan circulus arteriosus cerebri Willisi, yang

Anda mungkin juga menyukai