Anda di halaman 1dari 56

BAB I

PENDAHULUAN
1. 1 Latar Belakang
Produk peternakan merupakan komoditi pangan yang tidak bisa diganti
oleh produk lain, sama strategisnya dengan beras, jagung dan produk pertanian
lain. Perunggasan di Indonesia merupakan ujung tombak dalam pemenuhan
kebutuhan akan konsumsi hewani. Saat ini ayam memberikan kontribusi terbesar
yaitu 60,73% kemudian disusul daging sapi sebesar 23,39% (Sjamsul, 2005).
Dewasa ini dengan semakin bertambahnya populasi manusia dan semakin
tingginya kesadaran akan manfaat dari mengkonsumsi komoditi peternakan
mengakibatkan meningkatnya permintaan terhadap produk produk peternakan.
Akibatnya populasi ternak baik ternak ruminansia maupun ternak non ruminansia
akan bertambah. Hal ini merupakan sinyal positif semakin meningkatnya
perkembangan sektor peternakan di Indonesia.
Akan tetapi ada yang perlu diwaspadai, yakni dengan semakin
meningkatnya populasi ternak sudah pasti limbah yang dihasilkan juga semakin
banyak. Limbah ini memerlukan perhatian khusus, karena jika tidak ditangani
dengan tepat dan cepat akan menimbulkan dampak yang dapat merusak
lingkungan maupun menimbulkan penyakit bagi masyarakat yang berada di
lingkungan yang tercemar limbah peternakan tersebut.
Peternak sering membuang limbah ke tempat lain seperti badan sungai
tanpa pengelolaan, sehingga terjadi pencemaran lingkungan. Pencemaran ini
disebabkan oleh aktivitas peternakan, terutama berasal dari limbah yang
dikeluarkan oleh ternak yaitu feses, urine, sisa pakan, dan air sisa pembersihan

ternak dan kandang, yang pada akhirnya sering menimbulkan berbagai protes dari
kalangan masyarakat sekitarnya, terutama rasa gatal ketika menggunakan air
sungai yang tercemar, di samping bau yang sangat menyengat. Hal tersebut
selaras dengan pendapat Hidayatullah (2005) yang mengemukakan bahwa
sebanyak 56,67% peternak membuang limbah ke badan sungai tanpa pengelolaan,
sehingga terjadi pencemaran lingkungan.
Berkenaan dengan hal tersebut, maka upaya mengatasi limbah ternak yang
selama ini dianggap mengganggu karena menjadi sumber pencemaran lingkungan
perlu ditangani dengan cara yang tepat sehingga dapat memberi manfaat lain
berupa keuntungan ekonomis dari penanganan tersebut. Penanganan limbah ini
diperlukan bukan saja karena tuntutan akan lingkungan yang nyaman tetapi juga
karena pengembangan peternakan mutlak memperhatikan kualitas lingkungan,
sehingga keberadaannya tidak menjadi masalah bagi masyarakat di sekitarnya
(Hidayatullah 2005).
Limbah peternakan masih dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan,
apalagi limbah tersebut dapat diperbaharui (renewable) selama ada ternak.
Limbah ternak masih mengandung nutrisi atau zat padat yang potensial untuk
dimanfaatkan. Limbah ternak kaya akan nutrient (zat makanan) seperti protein,
lemak, bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN), vitamin, mineral, mikroba atau
biota, dan zat-zat yang lain (unidentified subtances). Limbah ternak dapat
dimanfaatkan untuk bahan makanan ternak, pupuk organik, energi dan media
berbagai tujuan. Penanganan limbah ternak akan spesifik pada jenis/spesies,

jumlah ternak, tatalaksana pemeliharaan, areal tanah yang tersedia untuk


penanganan limbah dan target penggunaan limbah (Sihombing, 2000).
Ayam petelur merupakan salah satu ternak yang banyak diternakkan oleh
masyarakat, karena memiliki nilai keuntungan yang cukup besar dari hasil
penjualan telurnya. Kabupaten Sidrap dikenal sebagai salah satu sentra peternakan
ayam ras petelur di daerah Sulawesi Selatan. Adapun jumlah populasi ternak ayam
ras petelur di Kabupaten Sidrap dapat dilihat pada Tabel 1.

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Tabel 1. Data Populasi dan Peternak Ayam Ras Petelur di Kabupaten


Sidenreng Rappang Tahun 2010.
Populasi Ayam Petelur
Jumlah Peternak
Kecamatan
(ekor)
(ekor)
Pitu Riawa
63.788
21
Maritengngae
1.014.774
445
Kulo
456.714
78
Watang Pulu
208.728
98
Panca Rijang
475.741
118
Dua Pitue
6.095
5
Baranti
593.082
246
Sidenreng
134.500
31
Tellu Limpoe
352.919
179
Panca Lautang
120.486
102
Pitu Riase
12.729
11
Total
3.306.401
1334
Sumber : Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Sidrap, 2010.
Berdasarkan Tabel 1, dapat dilihat bahwa jumlah total populasi dari ayam

ras petelur di Kabupaten Sidrap adalah sekitar 3.306.401 ekor. Namun demikian,
ayam ayam tersebut juga menghasilkan limbah atau kotoran yang bisa
mengganggu kenyamanan dari masyarakat. Perlu diketahui jumlah kotoran ayam
yang dikeluarkan setiap harinya banyak, rata-rata per ekor ayam 0, 15 kg (Charles
dan Hariyono, 1991). Selanjutnya dikatakan bahwa rata-rata produksi buangan
segar ternak ayam petelur adalah 0,06 kg/hari/ekor, dan kandungan bahan kering

sebanyak 26%. Jika limbah atau kotoran tersebut dibiarkan begitu saja tanpa
dilakukan perlakuan yang tepat, maka akan menimbulkan pencemaran terhadap
lingkungan di sekitarnya. Akan tetapi akan berlaku kebalikannya jika limbah atau
kotoran tersebut dijual untuk dimanfaatkan sesuai dengan potensi yang masih
dimiliki seperti sebagai bahan baku pembuatan pupuk organik, maka hal ini juga
bisa memberikan kontribusi positif bagi peternak untuk mendapatkan sumber
penerimaan alternatif.
Dengan melihat adanya sejumlah manfaat dan nilai ekonomi yang
terkandung dalam kotoran ternak, dan untuk mengembangakan pemanfaatan
limbah peternakan maka, dilakukan penelitian yang mengkaji tentang suatu nilai
ekonomi yang terdapat pada limbah kotoran ternak dengan judul penelitian
Kontribusi Penerimaan Penjualan Limbah Kotoran Ternak Unggas
Terhadap Penerimaan Total Peternak Ayam Petelur di Kec. Kulo Kab
Sidrap.
1. 2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan tersebut, maka dapat
dirumuskan permasalahan yaitu : seberapa besarkah kontribusi penerimaan dari
penjualan kotoran ayam petelur terhadap total penerimaan peternak ayam petelur
untuk berbagai skala usaha ?
1. 3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui beasrnya kontribusi
penerimaan dari pemanfaatan kotoran ternak ayam petelur terhadap total
penerimaan peternak ayam petelur di Kecamatan Kulo, Kab. Sidenreng Rappang.

1. 4 Kegunaan Penelitian
Kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai bahan informasi dan
pertimbangan bagi pihak peternak untuk memanfaatkan kotoran ternak ayam
petelur sebagai suatu penghasilan tamabahan bagi peternak ayam petelur di
Kecamatan Kulo, Kab. Sidenreng Rappang.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Usaha Peternakan Ayam Ras Petelur
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia
No.362/kpts/TN.120/5/1990, skala usaha peternakan di Indonesia dapat dibedakan
menjadi perusahaan peternakan dan peternakan rakyat. Perusahaan peternakan
adalah suatu usaha yang dijalankan secara teratur dan terus menerus pada suatu
tempat dan dalam jangka waktu tertentu untuk tujuan komersial yang meliputi
kegiatan menghasilkan ternak (ternak bibit atau ternak potong), telur, susu serta
usaha menggemukkan suatu jenis ternak termasuk mengumpulkan, mengedarkan
dan memasarkan produk-produk peternakan. Peternakan rakyat adalah usaha
peternakan yang diselenggarakan sebagai usaha sampingan yang jumlah
maksimum kegiatannya untuk tiap jenis ternak 15.000 ekor per periode produksi.
Sementara peternakan ayam ras didefinisikan dalam Kepres No.22 tahun
1990 sebagai suatu usaha budidaya ayam ras petelur dan ayam ras pedaging, tidak
termasuk pembibitan. Tujuan umum suatu peternakan adalah mencukupi
kebutuhan masyarakat akan protein dan bahan lain yang berasal dari hewan atau
ternak (Pulungan dalam Yamesa, 2010)
Ayam petelur adalah ayam-ayam betina dewasa yang dipelihara khusus
untuk diambil telurnya. Asal mula ayam unggas adalah berasal dari ayam hutan
dan itik liar yang ditangkap dan dipelihara serta dapat bertelur cukup banyak.
Tahun demi tahun ayam hutan dari wilayah dunia diseleksi secara ketat oleh para
pakar. Arah seleksi ditujukan pada produksi yang banyak, karena ayam hutan tadi
dapat diambil telur dan dagingnya maka arah dari produksi yang banyak dalam

seleksi tadi mulai spesifik. Ayam yang terseleksi untuk tujuan produksi daging
dikenal dengan ayam broiler, sedangkan untuk produksi telur dikenal dengan
ayam petelur. Selain itu, seleksi juga diarahkan pada warna kulit telur hingga
kemudian dikenal ayam petelur putih dan ayam petelur cokelat. Persilangan dan
seleksi itu dilakukan cukup lama hingga menghasilkan ayam petelur seperti yang
ada sekarang ini. Dalam setiap kali persilangan, sifat jelek dibuang dan sifat baik
dipertahankan (terus dimurnikan). Inilah yang kemudian dikenal dengan ayam
petelur unggul (Aziz, 2007).
Secara umum ayam mengalami tiga tahapan pertumbuhan yaitu periode
awal (starter) dari DOC sampai umur 6 minggu, periode tumbuh (grower) mulai
umur 6 minggu sampai 18 minggu dan periode produksi (layer) mulai dari umur
18 minggu sampai diafkir. Periode layer adalah periode dimana ayam petelur
mulai menghasilkan telur sampai masa produksi berakhir. Factor yang
menentukan saat bertelur antara lain adalah kedewasaan kelamin ayam yang
dipelihara (Rasyaf, 2007).
Usaha ternak ayam ras petelur untuk saat ini dan yang akan datang cukup
menjanjikan karena seiring dengan pertambahan jumlah penduduk, permintaan
akan telur semakin bertambah. Menurut Triana et al. (2007), untuk skala usaha
500 ekor dapat memperoleh pendapatan sebesar Rp 1.891.145,00; skala usaha 500
ekor diperoleh pendapatan sebesar Rp 1.891.145,00; skala usaha 1.000 ekor
memperoleh pendapatan sebesar Rp 5.067.087,00; skala usaha 1.500 ekor
pendapatan sebesar Rp 7.478.864,00; untuk skala usaha 3.500 diperoleh
pendapatan sebesar Rp 16.885.471,00. Ayam ras petelur dapat menghasilkan telur

antara 250 sampai 280 butir per tahun, bahkan untuk jenis Leghorn dapat
mencapai 284-300 butir per tahun (Yuwanta, 2000).
2.2 Penerimaan Usaha
Keberhasilan

usaha

peternakan

dari

segi

penerimaannya

dinilai

berdasarkan tingkat efisiensinya, yaitu kemampuan usaha tersebut menghasilkan


keuntungan dari setiap rupiah biaya yang dikeluarkan. Unsur-unsur yang
diperlukan dalam analisis penerimaan usaha ternak yaitu total penerimaan tunai,
total penerimaan tidak tunai, total penerimaan usaha peternak (Heriyatno, 2009).
Penerimaan usaha tani adalah perkalian antara produksi yang diperoleh
dengan harga jual (Soekartawi, 2006). Penerimaan juga sangat ditentukan oleh
besar kecilnya produksi yang dihasilkan dan harga dari produksi tersebut. Lebih
lanjut dikatakan bahwa stuktur penerimaan dari usaha tani adalah sebagai berikut :
TR = Y x P
Yaitu TR = Total Penerimaan
Y = Jumlah produksi yang diperoleh dalam suatu usaha tani (Kg)
P = Harga Produk (Rp)
Sedangkan menurut Triana et al. (2007), menyatakan penerimaan dari
usaha ayam ras petelur diperoleh dari produksi telur, penjualan feces, dan ayam
afkir. Menurut Siregar (1990), penerimaan usaha ternak terdiri dari penerimaan
tunai dan penerimaan tidak tunai. Penjualan produk hasil ternak, penjualan ternak
afkir dan penjualan anakan yang tidak digunakan untuk mengganti indukan
merupakan peneriman tunai usaha peternakan. Penjualan limbah kotoran ternak

yang digunakan untuk input usaha tani peternak, penjualan produk untuk
konsumsi keluarga merupakan penerimaan tidak tunai.
Ditambahkan oleh Harnanto (1992), menyatakan bahwa penerimaan setiap
peternak bervariasi tergantung pada jumlah populasi ternak yang dimiliki oleh
setiap peternak dengan menggunakan hubungan antara penerimaan dan biaya
maka dapat diketahui cabang-cabang usaha tani yang menguntungkan untuk di
usahakan.
Menurut Heriyatno (2009), menyatakan bahwa penilaian besarnya
penerimaan yang dihasilkan dari setiap uang yang dikeluarkan dalam suatu
kegiatan usahatani dapat digunakan perhitungan rasio penerimaan atas biaya (R/C
rasio). Hasil dari penghitungan rasio penerimaan atas biaya, dapat mengetahui
apakah suatu kegiatan usahatani dapat menguntungkan atau tidak dalam
pelaksanaannya.
2.3 Harga
Dalam perekonomian kita sekarang ini untuk mengadakan pertukaran atau
untuk mengukur nilai suatu produk kita menggunakan uang, bukan sistem barter.
Jumlah uang yang digunakan di dalam pertukaran tersebut mencerminkan tingkat
harga dari suatu barang. Jadi, harga dapat didefinisikan sebagai berikut, harga
adalah jumlah uang ( ditambah beberapa produk apabila memungkinkan ) yang
dibutuhkan

untuk

mendapatkan

sejumlah

kombinasi

dari

produk

dan

pelayanannya (Basu Swastha, 2005). Berdasarkan sudut pandang pemasaran harga


merupakan satuan moneter atau ukuran lainnya ( termasuk barang dan jasa

lainnya) yang ditukarkan dengan memperoleh hak kepemilikan suatu barang atau
jasa (Tjiptono, 2001).
Sedangkan menurut Kotler dan Amstrong (2005) harga adalah sejumlah
uang yang ditukarkan untuk sebuah produk atau jasa. Lebih jauh lagi, harga
adalah jumlah dari seluruh nilai yang konsumen tukarkan untuk jumlah manfaat
dengan memiliki atau menggunakan suatu barang dan jasa. Lebih jauh lagi, harga
adalah jumlah dari seluruh nilai yang konsumen tukarkan untuk jumlah manfaat
dengan mamiliki atau menggunakan suatu barang dan jasa.
Harga merupakan satu-satunya unsur bauran pemasaran yang memberikan
pemasukan atau pendapatan bagi perusahaan. Dari sudut pandang pemasaran,
harga merupakan satuan moneter atau ukuran lainnya (termasuk barang dan jasa
lainnya) yang ditukarkan agar memperoleh hak kepemilikian atas penggunaan
suatu barang atau jasa. Pengertian ini sejalan dengan konsep pertukaran
(exchange) dalam pemasaran (Kotler, 2005).
Harga merupakan komponen yang berpengaruh langsung terhadap laba
perusahaan. Tingkat harga yang ditetapkan mempengaruhi kuantitas barang yang
dijual. Selain itu secara tidak langsung harga juga mempengaruhi biaya, karena
kuantitas yang terjual berpengaruh pada biaya yang ditimbulkan dalam kaitannya
dengan efisiensi produksi. Oleh karena itu penetapan harga mempengaruhi
pendapatan total dan biaya total, maka keputusan dan strategi penetapan harga
memegang peranan penting dalam setiap perusahaan (Verina, 2001).

10

Kotler dan Armstrong (2005) berpendapat bahwa ada dua factor utama
yang perlu dipertimbangkan dalam menetapkan harga, yakni factor internal
perusahaan dan faktor lingkungan eksternal. Faktor internal perusahaan mencakup
tujuan pemasaran perusahaan, strategi bauran pemasaran, biaya, dan organisasi.
Sedangkan faktor lingkungan eksternal meliputi sifat pasar dan permintaan,
persaingan, dan unsur-unsur lingkungan lainnya.
2.4 Limbah Usaha Peternakan Ayam Petelur
Menurut Santi (2007) limbah peternakan meliputi semua kotoran yang
dihasilkan dari suatu kegiatan usaha peternakan baik berupa limbah padat dan
cairan, gas, maupun sisa pakan. Limbah padat merupakan semua limbah yang
berbentuk padatan atau dalam fase padat (kotoran ternak, ternak yang mati, sisa
makanan, embrio, kulit telur, lemak, darah, bulu, kuku, tulang, tanduk atau isi
perut dari pemotongan ternak). Limbah cair adalah semua limbah yang berbentuk
cairan atau dalam fase cairan (air seni atau urine, air dari pencucian alat-alat).
Sedangkan limbah gas adalah semua limbah berbentuk gas atau dalam fase gas.
Ditambahkan oleh Sihombing (2000), limbah peternakan umumnya
meliputi semua kotoran atau hasil buangan yang dihasilkan dari suatu kegiatan
usaha peternakan, baik berupa limbah padat dan cairan, gas, ataupun sisa pakan.
Limbah padat itu sendiri merupakan semua limbah yang berbentuk padatan atau
dalam fase padat (kotoran ternak, ternak yang mati atau isi perut dari pemotongan
ternak). Limbah cair adalah semua limbah yang berbentuk cairan atau berada
dalam fase cair (air seni atau urine, air pencucian alat-alat). Sedangkan limbah gas
adalah semua limbah berbentuk gas atau dalam fase gas.

11

Limbah yang dihasilkan dari usaha peternakan ayam terutama berupa


kotoran ayam dan bau yang kurang sedap serta. air buangan. Air buangan berasal
dari cucian tempat pakan dan minum ayam serta keperluan domestik lainnya.
Jumlah air buangan ini sedikit dan biasanya terserap ke dalam tanah serta tidak
berpengaruh besar terhadap lingkungan sekitar. Air buangan mempunyai pH netral
(A: 7), kandungan senyawa organik rendah yang ditunjukkan dengan nilai Bio
Oxygen Demand (BOD) 15,32 - 68,8 dan Chemical Oxygen Demand (COD)
35,12 92 (Balitvet, 1993).
Pemeliharaan ayam petelur biasanya dilakukan dengan sistem baterai,
yakni sejumlah tertentu ayam dipelihara dalam kandang-kandang terpisah dan
ditempatkan agak tinggi dari permukaan tanah, dengan dasar kandang berlubanglubang sehingga kotoran akan jatuh dan bertumpuk di bawah kandang di atas
tanah. Untuk pemeliharaan ayam pedaging biasanya dengan sistem litter, yakni
ayam-ayam dipelihara dalam kandang dengan batas disekat-sekat dan lantai
kandang adalah tanah atau beton yang dilapisi dengan sekam. Kotoran ayam
biasanya sedikit bercampur dengan sekam tersebut yang secara periodik diangkat.
(Rachmawati, 2007).
Jumlah kotoran ayam yang dikeluarkan setiap harinya banyak, rata-rata
per ekor ayam 0, 15 kg (Charles dan Hariono, 1991). Fontenot et al. (1983)
melaporkan bahwa rata-rata produksi buangan segar ternak ayam petelur adalah
0,06 kg/hari/ekor, dan kandungan bahan kering sebanyak 26%, sedangkan dari
pemeliharaan ayan pedaging kotoran yang dikeluarkan sebanyak 0, 1 kg/hari/ekor
dan kandungan bahan keringnya 2 5%. Kotoran ayam terdiri dari sisa pakan dan

12

serat selulosa yang tidak dicerna. Kotoran ayam mengandung protein, karbohidrat,
lemak dan senyawa organik lainnya. Protein pada. kotoran ayam merupakan
sumber nitrogen selain ada pula bentuk nitrogen inorganik lainnya. Komposisi
kotoran ayam sangat bervariasi bergantung pada jenis ayam, umur, keadaan
individu ayarn, dan makanan (Foot et al., 1976).
Sumber pencemaran usaha peternakan ayam berasal dari kotoran ayam
yang berkaitan dengan unsur nitrogen dan sulfida yang terkandung dalam kotoran
tersebut, yang pada saat penumpukan kotoran atau penyimpanan terjadi proses
dekomposisi oleh mikroorganisme membentuk gas amonia, nitrat, dan nitrit serta
gas sulfida. Gas-gas tersebutlah yang menyebabkan bau (Svensson, 1990;
Pauzenga, 1991). Kandungan gas amonia yang tinggi dalam kotoran juga
menunjukkan kemungkinan kurang sempurnanya proses pencernaan atau protein
yang berlebihan dalam pakan ternak, sehingga tidak semua nitrogen diabsorbsi
sebagai asam amino, tetapi dikeluarkan sebagai amonia dalam kotoran (Pauzenga,
1991).
Kotoran ayam, sudah sejak lama dimanfaatkan sebagai pupuk di bidang
pertanian. Sudah dibuktikan bahwa kotoran ternak merupakan pupuk yang cocok
dan baik untuk kesuburan tanah pertanian. Oleh sebab itu penanganan kotoran
ternak secara baik perlu di-lakukan agar tidak menyebabkan bau yang menyengat,
dan kotoran masih tetap dapat dimanfaatkan sebagai pupuk (Rachmawati, 2007).

13

2.5 Kontribusi dan Skala Usaha


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian kontribusi adalah
sumbangan, sedangkan menurut Kamus Ekonomi (T. Guritno, 1992) menyatakan
bahwa kontribusi sesuatu yang diberikan bersama sama dengan pihak lain untuk
tujuan biaya, atau kerugian tertentu atau bersama. Menurut Amrawaty (2009)
menyatakan bahwa kontribusi merupakan besarnya persentase sumbangan suatu
usaha terhadap pendapatan petani peternak. Kontribusi penerimaan dari satu jenis
kegiatan terhadap total penerimaan usaha peternakan ayam ras petelur tergantung
pada produktivitas faktor produksi yang digunakan dari jenis kegiatan yang
bersangkutan (Nurmanaf, 2006).
Skala usaha sangat terkait dengan ketersediaan input dan pasar. Skala
usaha hendaknya diperhitungkan dengan matang sehingga produksi yang
dihasilkan tidak mengalami kelebihan pasokan dan kelebihan permintaan. Begitu
juga ketersediaan input seperti modal, tenaga kerja, bibit, peralatan, fasilitas
produksi dan operasi lainnya harus diperhitungkan. Skala usaha yang besar secara
teoritis akan dapat menghasilkan economic of scale yang tinggi. Namun kenyataan
di lapangan sering kali skala yang besar menjadi tidak ekonomis yang disebabkan
oleh karakteristik dan produksi komoditas pertanian yang khas. Oleh karena itu,
dalam merencanakan usaha produksi pertanian, maka keputusan mengenai skala
usaha menjadi sangat penting (Said dan Intan, 2000).
Menurut Sodiq dan Abidin (2008), menyatakan bahwa berdasarkan skala
usaha dan tingkat pendapatan peternak, usaha peternakan diklasaifikasikan
sebagai berikut :

14

1. Peternakan sebagai usaha sambilan


Tingkat pendapatan petani dari usaha ternaknya tidak lebih dari 30 % total
pendapatnya. Usaha ternak dilakukan sambil lalu, disamping usaha pokok
pertanian bahan pangan. Tujuan pemeliharaan adalah untuk mencukupi kebutuhan
sendiri (subsistence).
2. Peternakan sebagai cabang usaha
Pada klsifikasi ini, petani mengusahakan pertanian campuran (mixed
farming) dengan usaha ternak sebagai cabang usaha taninya. Pendapatan petani
berkisar 30 70 % dari total pendapatan usaha tani secara keseluruhan.
3. Peternakan sebagai usaha pokok
Usaha peternakan sudah menjadi usaha pokok, sedangkan usaha tani
lainnya seperti tanaman pangan dan holtikultura hanya sebagai sambilan. Tingkat
pendapatan petani adalah 70 100 %.
4. Peternakan sebagai usaha industry
Sebagai suatu industry dengan orientasi bisnis. Usaha peternakan sudah
menjadi suatu usaha pemeliharaan ternak dengan komoditas ternak terpilih
(specialised farming) dantingkat pendapatan mencapai 100 %

15

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Waktu Dan Tempat
Penelitian ini akan dilaksanakan selama kurang lebih 2 bulan yaitu pada
bulan April sampai dengan Juni 2012 di Kecamatan Kulo Kabupaten Sidrap,
Sulawesi Selatan.
3.2 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah deskriptif yaitu menggambarkan atau
menguraikan variable penelitian yaitu penerimaan dari penjualan kotoran ternak
ayam petelur dan penerimaan total usaha peternakan ayam petelur peternak di
Kecamatan Kulo, Kab. Sidenreng Rappang.
3.3 Populasi dan Sampel
Populasi pada penelitian ini adalah keseluruhan peternak ayam petelur
yang ada di Kecamatan Kulo Kabupaten Sidrap yakni sebanyak 91 peternak.
Berhubung dengan luasnya cakupan daerah penelitian maka dilakukan
pengambilan sampel. Untuk menentukan besarnya sampel, maka dilakukan
dengan menggunakan statistic deskriptif dengan menggunakan rumus Slovin,
yaitu (Umar, 2003):
N
n=
1 + N (e)2

16

Dimana :
n = ukuran sampel
N = ukuran populasi
e = nilai kritis (batas ketelitian) yang diinginkan. Penelitian ini menggunakan 10%
sebagai nilai kritis.
Penentuan jumlah sampel dapat diketahui sebagai berikut :
n=

91
1+91.0,12

n=

91
1+0.91

n=

91
1.91

n=

47,6 = 48 peternak

Perhitungan di atas dapat diketahui bahwa jumlah keseluruhan sampel


yang dapat diambil adalah 48 peternak. Kemudian teknik yang digunakan dalam
pengambilan sampel adalah Stratified Random Sampling. Teknik pengambilan
sampel dimana populasi dikelompokan dalam strata tertentu kemudian diambil
sampel secara random dengan proprosi yang seimbang sesuai dengan posisi dalam
populasi serta bila populasi mempunyai unsure yang tidak homogen (Sugiyono,
2010).
Untuk melihat sebaran pemilikan ayam petelur menurut skala usaha di
Kecamatan Kulo Kabupaten Sidrap dan jumlah responden per skala usaha dapat
dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Sebaran Pemilikan Ayam Petelur menurut Skala Usaha pada
Daerah Penelitian dan Proposisi Sampel per Skala Usaha

17

No.
1.
2.
3.
4.

Skala Usaha
Jumlah Peternak
(Ekor)
(Orang)
1000
8
1001 10.000
75
10.001 20.000
5
> 20.000
3
Jumlah
91
Sumber : Data Primer yang telah Diolah, 2012.

Jumlah Sampel
per Skala
4
39
3
2
48

3.4 Metode Pengumpulan Data


Metode pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini yaitu terdiri
atas:
a. Observasi yaitu pengumpulan data yang dilakukan melalui pengamatan
secara langsung terhadap kondisi lokasi penelitian, serta berbagai aktivitas
peternak dalam melakukan penjualan limbah / kotoran ternaknya.
b. Wawancara yaitu pengumpulan data yang dilakukan melalui wawancara
langsung dengan pihak peternak yang melakukan penjualan kotoran
ternaknya.
3.5 Jenis Dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan yaitu:
a. Data kuantitatif yaitu data yang berupa angka-angka berdasarkan hasil
kuisioner dari penjualan limbah / kotoran ternaknya meliputi jumlah penjualan
di Kecamatan Kulo.

Adapun sumber data yang digunakan pada penelitian ini adalah:

18

1. Data Primer yaitu data yang bersumber dari hasil wawancara langsung dengan
peternak meliputi identitas responden, jumlah penjualan limbah / kotoran
ternak, harga penjualan, dan lain sebagainya.
2. Data Sekunder yaitu data yang diperoleh dari instansi-instansi terkait, Kantor
Kecamatan Kulo dan lain sebagainya yang telah tersedia, seperti gambaran
umum lokasi, sejarah singkat dan lain sebagainya.
3.6 Analisa Data
Analisis data yang digunakan pada penelitian ini yaitu analisa statistik
deskriptif yaitu dengan mengitung rata rata penerimaan, persentase, menghitung
besarnya sampel dan melakukan penyederhanaan data serta penyajian data dengan
menggunakan tabel. Untuk mengetahui seberapa besar penerimaan petrnak dari
usaha ayam ras petelur digunakan rumus menurut Soekartawi (2006) :
TR = Q x P
Yaitu TR = Total Penerimaan
Q = Jumlah produksi yang diperoleh dalam suatu usaha ternak
(Telur, Feses dan Ayam Afkir)
P = Harga Produk (Rp)
Sedangkan untuk menghitung kontibusi penerimaan peternak dari
penjualan kotoran ternak digunakan rumus sebagai berikut : (Handayani, 2009)
Qx
P = --------- x 100%
Qy
Dimana ;

19

= Kontibusi penerimaan peternak dari penjualan kotoran ternak


terhadap pendapatan total (%)

Qx

= Jumlah penerimaan peternak dari penjualan kotoran ternak (Rp)

Qy

= Total pendapatan peternak (Rp)

3.7 Konsep Operasional


1. Usaha peternakan ayam petelur adalah kegiatan budidaya ayam petelur yang
bertujuan untuk memperoleh keuntungan
2. Limbah ternak unggas adalah buangan dari peternakan unggas (feses, sisa
pakan dan kerabang telur)
3. Penerimaan adalah nilai telur, ternak yang diafkir serta feses yang diperoleh
dengan harga jual yang dinyatakan dalam rupiah (Rp/Periode)
4. Total Penerimaan adalah nilai yang diterima oleh peternak dari semua
kegiatan yang di lakukan peternak dalam lingkup usahanya dinyatakan dalam
rupiah (Rp) per periode
5. Penerimaan dari limbah ternak adalah nilai yang diterima dari hasil penjualan
kotoran ternak yang dinyatakan dalam rupiah (Rp) per periode
6. Skala usaha adalah jumlah ayam ras petelur yang dipelihara peternak di
Kecmatan Kulo, Kabupaten Sidrap (Ekor/Periode).
7. Satu periode produksi adalah mulai dari anak ayam berumur 1 hari (DOC),
hingga ayam tersebut diafkir dan dijual oleh peternak selama 1 tahun 8 bulan.
8. Kontribusi adalah besarnya persentase (%) sumbangan dari hasil penjualan
kotoran ternak terhadap terhadap total penerimaan peternak di Kecamatan
Kulo Kab Sidrap.

20

BAB IV
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
4.1 Letak dan Keadaan Geografis
Kecamatan Kulo merupakan salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten
Sidenreng Rappang. Kecamatan Kulo berjarak sekitar 20 km sebelah utara kota
Pangkajene, dan berada pada garis kordinat antara 343 - 409 lintang selatan, dan
119 - 120 bujur timur, secara administratif Kecamatan Kulo terbagi atas 6 desa.
Wilayah Kecamatan Kulo masing masing berbatasan dengan :
Sebelah Utara

: Berbatasan dengan Kabupaten Pinrang dan Enrekang

Sebelah Timur

: Berbatasan dengan Kecamatan Panca Rijang

Sebelah Selatan

: Berbatasan

dengan

Kecamatan

panca

Rijang

dan

Kecamatan Baranti
Sebelah Barat

: Berbatasan dengan Kecamatan Baranti dan Kabupaten


Pinrang

4.1.1 Luas Wilayah


Luas wilayah yang dimiliki suatu daerah merupakan salah satu faktor yang
menentukan dalam produktifitas perekonomian dari wilayah tersebut. Tersedianya
lahan yang luas dan didukung oleh kondisi tanah yamg subur merupakan salah
satu pendukung dalam pengembangan dan peningkatan bidang pertanian dan
peternakan. Adapun luas wilayah dari Kecamatan Kulo per desa / kelurahannya
dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Luas Desa / Kelurahan Kecamatan Kulo Kabupaten Sidrap

21

No
1
2
3
4
5
6

Desa / Kelurahan

Luas
(Km2)

Mario
12, 20
Rijang Panua
20,00
Kulo
10,10
Abbokongeng
9,14
Maddenra
12,02
Binabaru
11,50
Jumlah
74,76
Sumber : Kecamatan Kulo dalam Angka, 2010.

Ketinggian dari
Permukaan Air Laut
(meter)
< 500
< 500
< 500
< 500
< 500
< 500

4.1.2 Penggunaan Lahan


Dilihat dari kondisi objektif penggunaan lahan yang meliputi topografi
daerah dan kondisi fisik lainnya, penggunaan lahan di Kecamatan Kulo,
Kabupaten Sidenreng Rappang secara garis besar dapat dibedakan atas
persawahan, perkebunan, pekarangan, dan lainnya. Adapun penggunaan lahan di
Kecamatan Kulo berdasarkan peruntukannya dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Luas Lahan dan Tanah Kering Menurut Penggunaannya
No
1
2
3
4

Jenis Penggunaan Lahan


Persawahan
Perkebunan
Pekarangan
Lainnya
Jumlah
Sumber : Kecamatan Kulo dalam Angka, 2010.

Luas
(Ha)
163,57
74,35
520,98
82,03
840.93

Berdasarkan Tabel 4, dapat dilihat bahwa penggunaan lahan di Kecamatan Kulo


Kabupaten Sidenreng Rappang sebagian besar digunakan untuk pekarangan yaitu
520,98 Ha dan, Lahan tersebut sebagian besar digunakan oleh masyarakat
setempat untuk mendirikan usaha peternakan ayam ras petelur

4.1.3 Kependudukan

22

Penduduk mempunyai peranan yang sangat penting dalam perkembangan


suatu daerah. Kepadatan penduduk dalam suatu tempat yang kemudian diimbangi
dengan tingginya kualitas sumber daya dalam berbagai bidang akan mempercepat
kemajuan suatu daerah dan sebaliknya, begitupun di Kecamatan Kulo. Oleh sebab
itu peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam suatu wilayah akan sangat
penting agar dapat meningkatkan persainggan dalam pembangunan suatu daerah.
Adapun kondisi keadaan kependudukan di Kecamatan Kulo berdasarkan jenis
kelamin dapat dilihat dari Tabel 5.
Tabel 5. Keadaan Penduduk Kecamatan Kulo
No
1.
2.

Jenis Kelamin
Jumlah (Jiwa)
Laki-Laki
6780
Perempuan
5570
Total
12.350
Sumber: Kecamatan Kulo dalam Angka, 2010.

Persentase (%)
54,89
45,01
100

Pada Tabel 5, dapat diketahui bahwa jumlah penduduk di Kecamatan


Kulo yang berjenis kelamin perempuan hampir sebanding dengan penduduk yang
berjenis kelamin laki-laki yaitu 6780 jiwa : 5570 jiwa atau 54,89 % : 45,01%.
Jumlah penduduk tersebut merupakan salah satu faktor pendukung dalam
pengembangan subsektor peternakan sebagai sumber tenaga kerja.
4.1.4 Mata Pencaharian
Untuk menghidupi diri, setiap manusia harus bekerja sesuai dengan
keahlian dan kemauannya masing masing. Ada beberapa jenis pekerjaan atau
mata pencaharian yang tekuni oleh penduduk di Kecamatan Kulo. Adapun jenis
mata pencaharian yang ditekuni oleh penduduk di Kecamatan Kulo dapat dilihat
pada Tabel 6.

23

Tabel 6. Jenis Pekerjaan Penduduk di Kecamatan Kulo


No
1
2
3
4

Jenis Pekerjaan
Petani / Peternak
Pedagang
TNI / POLRI
PNS
JUMLAH
Sumber : Kecamatan Kulo dalam Angka, 2010.

Jumlah ( Jiwa )
3670
239
40
650
4599

Berdasarkan data pada Tabel 4 dapat dilihat bahwa sekitar 3670 jiwa yang
berprofesi sebagai petani / peternak dan merupakan pilihan profesi yang paling
banyak digeluti oleh penduduk di Kecamatan Kulo, sedangkan profesi yang
paling sedikit digeluti oelh warga adalah sebagai aparat keamanan atau TNI /
POLRI dengan jumlah hanya 40 jiwa. Hal ini disebabkan oleh banyaknya
penggunaan lahan di bidang peternakan dan pertanian sehingga membuat
masyarakat memilih pekerjaan sebagai petani dan peternak.
4.1.4 Keadaan Peternakan
Kecamatan Kulo merupakan salah satu daerah di Kabupaten Sidenreng
Rappang yang terkenal dengan usaha peternakan ayam ras petelur, begitu pula
dengan berbagai jenis ternak lain yang juga banyak dipelihara oleh masyarakat
setempat.
Adapun jenis dan populasi ternak yang terdapat di Kecamatan
Maritengngae Kabupaten Sidenreng Rappang dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Jenis dan Populasi Ternak di Kecamatan Maritengngae Kabupaten


Sidenreng Rappang.
No.
Jenis Ternak
Jumlah (Ekor)
1.
Sapi
1861

24

2.
3.
4.

Ayam Buras
19754
Ayam Ras Petelur
456714
Itik
4403
Jumlah
479432
Sumber : Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Sidenreng Rappang,
2011.
Dari Tabel 7, dapat diketahui bahwa jenis ternak yang paling banyak

dipelihara oleh masyarakat di Kecamatan Kulo adalah sebagian besar ternak


unggas yaitu ayam ras petelur dengan populasi sebanyak 456,714 ekor. Jumlah
tersebut dikarenakan banyaknya masyarakat yang mengusahakan ayam ras petelur
sebagai mata pencahariannya sehingga menyebabkan populasinya menjadi sangat
banyak dibanding jenis ternak lainnya.

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Keadaan Umum Responden

25

5.1.1 Umur
Umur merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku dalam
melakukan atau mengambil keputusan dan dapat bekerja secara optimal serta
produktif. Seiring dengan perkembangan waktu, umur manusia akan mengalami
perubahan dalam hal ini penambahan usia yang dapat mengakibatkan turunnya
tingkat produktifitas seseorang dalam bekerja. Menurut Badan Pusat Statistika
(BPS), berdasarkan komposisi penduduk, usia penduduk dikelompokkan menjadi
3 yaitu :

Usia 14 th : dinamakan usia muda / usia belum produktif


Usia 15 64 th: dinamakan usia dewasa / usia kerja / usia produktif
Usia 65 th : dinamakan usia tua / usia tidak produktif / usia jompo

Adapun klasifikasi responden berdasarkan tingkat umur di Kecamatan


Kulo dapat dilihat pada Tabel 8
Table 8. Klasifikasi Responden Peternak Berdasarkan Umur di Kecamatan
Kulo, Kabupaten Sidrap
No
1.
2.
3.

Umur
Jumlah
Persentase
(Tahun)
(Orang)
(%)
14
15 64
48
100
65
Jumlah
48
100
Sumber : Data Primer yang telah diolah, 2012.

Kategori
Produktif
-

Berdasarkan data pada Tabel 8, umur responden semuanya masuk berada


diantara umur 15 64 tahun. Kodisi ini menunjukkan bahwa seluruh responden
berada dalam usia yang produktif, yang memiliki kemampuan fisik yang
mendukung dalam mengelola usaha peternakan ayam ras petelur agar lebih
produktif. Hal ini sesuai dengan pendapat Nitisemito (1998) dalam Arman (2004)
mengemukakan

bahwa

tenaga

kerja

26

yang

umurnya

masih

muda

kecenderungannya mempunyai fisik yang lebih kuat, sehingga diharapkan dapat


bekerja keras dibandingkan dengan tenaga kerja yang umurnya lebih tua.
5.1.2 Jenis Kelamin
Selain faktor umur, responden dapat pula dikelompokkan berdasarkan
jenis kelamin. Jenis kelamin seseorang dapat berdampak pada jenis pekerjaan
yang digelutinya. Jenis kelamin juga berpengaruh terhadap produktifitas kerja
seseorang. Adanya perbedaan fisik antara laki-laki dengan perempuan tentunya
akan berdampak pada hasil kerjanya. Adapun klasifikasi responden berdasarkan
jenis kelamin di Kecamatan Kulo Kabupaten Sidrap dapat dilihat pada Tabel 9.

No
1
2

Tabel 9. Klasifikasi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin di Kecamatan


Kulo, Kabupaten Sidrap
Jenis Kelamin
Jumlah
Persentase (%)
(orang)
Laki laki
45
93,75
Perempuan
3
6,25
Jumlah
48
100
Sumber : Data Primer yang telah diolah, 2012
Berdasarkan Tabel 9, dapat dilihat bahwa jumlah responden terbanyak

yaitu laki-laki sebanyak 45 orang atau 93, 75 % dan perempuan hanya 3 orang
atau 6,25%. Hal ini disebabkan oleh karena status laki-laki sebagai kepala rumah
tangga yang berkewajiban untuk mencari nafkah, sedangkan bagi kaum
perempuan hanya membantu pada kegiatan usaha ternak yang mudah dan dalam
jangka waktu yang singkat sebab harus mengurus urusan rumah tangga.
5.1.3 Tingkat Pendidikan
Peranan sektor pendidikan bagi suatu penduduk atau masyarakat sangat
menentukan dalam rangka mencapai kemajuan di semua bidang kehidupan,
utamanya

peningkatan

kesejahteraannya.

27

Tingkat

pendidikan

seseorang

merupakan salah satu indikator yang mencerminkan kemampuan seorang untuk


dapat melakukan dan menyelesaikan suatu jenis pekerjaan atau atnggung jawab
yang diberikan kepadanya. Selain itu Orang yang berpendidikan lebih tinggi
cenderung memilih pekerjaan yang lebih baik dalam jumlah dan mutunya
dibandingkan mereka yang berpendidikan lebih rendah. Adapun klasifikasi
responden berdasarkan tingkat pendidikan di Kecamatan Kulo Kabupaten Sidrap
dapat dilihat pada Tabel 10.

No.
1
2
3
4

Tabel 10. Klasifikasi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan di


Kecamatan Kulo, Kabupaten Sidrap
Jumlah
Persentase
Tingkat Pendidikan
(Orang)
(%)
SD
5
10.41
SMP/Sederajat
14
29.16
SMA/Sederajat
22
45.83
Perguruan Tinggi
7
14.58
Jumlah
48
100
Sumber : Data Primer yang telah diolah, 2012
Berdasarkan Tabel 10, terlihat bahwa tingkat pendidikan responden yang

terbayak adalah di tingkat pendidikan menengah atau SMA / sederajat dengan


jumlah responden sebanyak 22 orang atau sekitar 45,8 % dan terendah SD
sebanyak 5 orang atau 10,4 %. Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan
bahwa mayoritas responden adalah masyarakat yang sudah mengenal pendidikan.
Hal ini akan berpengaruh terhadap pola pikir dalam melakukan
pengambilan keputusan pembiayaan terhadap usahanya. Kondisi ini memberikan
gambaran bahwa salah satu yang menjadi acuan seseorang dalam pengambilan
keputusan adalah tingkat pendidikan dimana semakin tinggi tingkat pendidikan
seseorang maka akan berani dalam menentukan keputusan. Hal ini sesuai dengan
pendapat Mosher (1981), yang menyatakan bahwa pendidikan memiliki peranan

28

penting

terhadap

produktivitas

usaha

dan

merupakan

faktor

pelancar

pembangunan pertanian, karena dengan pendidikan petani mengenal pengetahuan,


keterampilan dan caracara baru dalam melkukan kegiatan usahataninya. Selain
pendidikan formal yang ditempuh dibangku sekolah, pendidikan non formal yang
ditempuh diluar sekolah seperti kursus, lokakarya dan penyuluhan sangat besar
artinya bagi pembekalan pengetahuan dan keterampilan peternak dalam
mengelola usaha ternaknya.
5.1.4 Pengalaman Beternak
Disamping umur dan tingkat pendidikan, pengalaman beternak sangat
mempengaruhi tingkat pengetahuan dan keterampilan peternak dalam pengelolaan
usaha ternaknya. Pengalaman beternak merupakan faktor penting yang harus
dimiliki oleh seseorang peternak dalam meningkatkan produktifitas dan
kemampuan kerjanya dalam usaha peternakan
Adapun pengalaman beternak responden di Kecamatan Kulo, Kabupaten
Sidrap dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11. Pengalaman Beternak Responden Peternak Ayam Ras Petelur di
Kecamatan Kulo, Kabupaten Sidrap
No
Pengalaman Beternak
Jumlah Responden
Persentase
(Tahun)
(Orang)
(%)
1
1 10
18
37,5
2
11 20
25
52,08
3
21 30
5
10,4
Jumlah
48
100
Sumber : Data Primer yang telah diolah, 2012
Berdasarkan Tabel 11, terlihat bahwa pada umumnya responden memiliki
pengalaman beternak di atas 10 tahun. Peternak yang memiliki pengalaman
beternak yang cukup lama umumnya memiliki pengetahuan yang lebih banyak
dibandingkan peternak yang baru saja menekuni usaha peternakan. Sehingga
pengalaman beternak menjadi salah satu ukuran kemampuan seseorang dalam

29

mengelola suatu usaha peternakan. Dengan demikian tingkat keberhasilan atau


produktivitas usaha dapat dapat menjadi semakin besar. Hal ini sesuai dengan
pendapat Sihite (1998), yang menyatakan bahwa semakin lama pengalaman
beternak, cenderung semakin memudahkan peternak dalam pengambilan
keputusan yang berhubungan dengan teknis pelaksanaan usaha ternaknya. Hal
tersebut disebabkan karena pengalaman dapat dijadikan pedoman dan
penyesuaian terhadap permasalahan usaha ternak dimasa mendatang.
5.1.5 Kepemilikan Ternak
Kepemilikan ayam ras petelur menunjukan banyaknya ayam ras petelur
yang dimilikai oleh responden, jumlah kepemilikan ternak yang dimiliki oleh
responden di Kecamatan Kulo bervariasi.
Adapun jumlah pepulasi kepemilikan ayam ras petelur yang dimiliki oleh
responden di Kecamatan Kulo Kabupaten Sidrap dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12. Jumlah Kepemilikan Ayam Ras Petelur Responden Peternak
Ayam Ras Petelur di Kecamatan Kulo, Kabupaten Sidrap
No
Kepemilikan Ayam Ras Petelur
Jumlah
Persentase
(Ekor)
(Orang)
(%)
1
1000
4
8,33
2
1001 10.000
39
81,25
3
10.001 20.000
3
6,25
4
> 20.000
2
4,16
Jumlah
48
100
Sumber : Data Primer yang telah diolah, 2012
Bersarkan Tabel 12 terlihat bahwa jumlah kepemilikan ayam ras petelur
yang dimiliki oleh responden peternak ayam ras petelur sangat beragam yakni
berkisar antara 1000 ekor sampai dengan lebih dari 20.000 ekor. Kepemilikan
ternak tersebut akan berpengaruh dengan jumlah penerimaan yang akan
didapatkan, karena semakin banyak ternak yang dipelihara maka akan semakin
besar pula penerimaan yang akan didapatkan oleh peternak.

30

5.2 Penerimaan Usaha


Keberhasilan

usaha

peternakan

dari

segi

penerimaannya

dinilai

berdasarkan tingkat efisiensinya, yaitu kemampuan usaha tersebut menghasilkan


keuntungan dari setiap rupiah biaya yang dikeluarkan. Penerimaan usaha tani
adalah perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual (Soekartawi,
2006). Penerimaan juga sangat ditentukan oleh besar kecilnya produksi yang
dihasilkan dan harga dari produksi tersebut.
Penerimaan usaha peternakan ayam ras petelur diperoleh dari produksi
telur, penjualan limbah, dan ayam afkir. Begitupun halnya yang berlaku dengan
peternak ayam ras petelur di Kecamatan Kulo, Kabupaten Sidrap.

5.2.1 Penjualan Telur


Secara umum ayam mengalami tiga tahapan pertumbuhan yaitu periode
awal (starter) dari DOC sampai umur 6 minggu, periode tumbuh (grower) mulai
umur 6 minggu sampai 18 minggu dan periode produksi (layer) mulai dari umur
18 minggu sampai diafkir. Periode layer adalah periode dimana ayam petelur
mulai menghasilkan telur sampai masa produksi berakhir (Rasyaf, 2007). Telur
telur yang dihasilkan pada masa bertelur tersebut selanjutnya dipasarkan sehingga
peternak mendapatkan manfaat dari penjualan telurnya tersebut.
Adapun besarnya penerimaan dari penjualan telur yang didapatkan oleh
peternak di Kecamatan Kulo, Kabupaten Sidrap untuk berbagai skala usaha dapat
dilihat pada Tabel 13.
Tabel 13. Penerimaan dari Hasil Penjualan Telur Peternak dari Berbagai
Skala Usaha di Kecamatan Kulo

31

No
1
2
3
4

Total Penerimaan
Rata Rata Penerimaan
Skala Usaha
Penjualan Telur
Penjualan Telur
(Ekor)
(Rp/ Periode)
(Rp/Periode/Peternak)
1000
965,035,000
241,258,750
1001 10.000
44,564,895,000
1,142,689,615
10.001 20.000
11,727,100,000
3,909,033,333
> 20.000
21,237,010,000
10,618,505,000
Total
78,494,040,000
15,911,486,698
Sumber : Data Primer yang telah diolah, 2012
Terlihat pada Tabel 13, hasil penjualan telur merupakan komponen

penerimaan peternak yang paling besar. Adapun besar kecilnya penerimaan dari
peternak tergantung dari jumlah ternak yang dimilikinya dan harga dari produk
yang dihasilkannya. Hal ini sesuai dengan pendapat Soekartawi (2006) yang
menyatakan bahwa penerimaan usaha tani adalah perkalian antara produksi yang
diperoleh dengan harga jual dan sangat ditentukan oleh besar kecilnya produksi
yang dihasilkan dan harga dari produksi tersebut.
5.2.2 Penjualan Ayam Afkir
Setelah melewati fase layer atau masa puncak produksi bertelurnya, secara
bertahap tahap jumlah produksi telur yang dihasilkan oleh ayam petelur akan
berkurang sampai pada akhirnya akan memasuki akhir masa produksi. Setelah
memasuki masa akhir produksi maka ayam ayam tersebut akan diafkir, Ayam
diafkir biasanya setelah berumur 20 bulan maksimal atau tergantung kondisi ayam
pada saat akan diafkir dan hasil dari penjualan ayam ayam afkir tersebut
dimasukkan sebagai penerimaan.
Adapun besarnya penerimaan dari penjualan ayam afkir yang didapatkan
oleh peternak ayam ras petelur di Kecamatan Kulo, kabupaten Sidrap dari bebagai
skala usaha dapat dilihat pada Tabel 14.

32

Tabel 14. Penerimaan dari Hasil Penjualan Ayam Afkir Peternak dari
Berbagai Skala Usaha di Kecamatan Kulo
Sumber : Data Primer yang telah diolah, 2012

33

No
1
2
3
4

Skala Usaha
(Ekor)
1000
1001 - 10.000
10.001 - 20.000
> 20.000
Total

Total Penerimaan dari


Penjualan Ayam Afkir
(Rp/ Perio)
24,375,000
861,300,000
330,000,000
430,000,000
1,645,675,000

Rata - Rata
Penerimaan Penjualan
Ayam
(Rp/Perio/Peternak)
6,093,750
22,084,615
110,000,000
215,000,000
353,178,365

Berdasarkan Tabel 14, dapat diketahui bahwa penjualan ayam afkir


merupakan salah satu komponen penerimaan terbesar setelah penjualan telur.
Nilai jual ayam petelur afkir berkisar Rp 25.000 per ekor, adapun total nilai
penerimaan dari penjualan ayam afkir sebesar Rp. 1,645,675,000,. Pada umumnya
ayam petelur afkir banyak dicari pelanggan untuk dijadikan ayam potong yang
memiliki nilai ekonomis cukup tinggi sehingga dapat dijual., sehingga hasil
penjualannya tersebut dapat menekan biaya produksi.
5.2.3

Penjualan Limbah
Limbah peternakan ayam petelur meliputi limbah padat yang berasal dari

sisa makanan yang tidak dicerna oleh ternak, sisa pakan dan kerbing telur.
Penerimaan penjualan limbah ayam petelur juga merupakan penerimaan
sampingan yang memberikan manfaat cukup penting terhadap keuntungan usaha
peternakan
Penjualan limbah dilakukan tiap bulannya dalam per karung dengan harga
Rp. 5000 per karung. Kotoran ayam banyak dicari petani karena harganya yang
cukup terjangkau untuk dijadikan pupuk kompos. Untuk dapat mengetahui hasil
penjualan limbah yang diterima oleh peternak ayam ras petelur di Kecamatan
Kulo, Kabupaten Sidrap dapat dilihat pada Tabel 15.

34

No
1
2
3
4

Total Penerimaan
Rata - Rata Penerimaan
dari Penjualan Feses
Penjualan Feses
(Rp/ Perio)
(Rp/Perio/Ptrnk)
1000
15,750,000
3,937,500
1001 - 10.000
684,000,000
17,538,462
10.001 - 20.000
193,500,000
64,500,000
> 20.000
337,500,000
168,750,000
Total
1,230,750,000
254,725,962
Tabel 15. Penerimaan dari Hasil Penjualan Feses Peternak dari
Berbagai Skala Usaha di Kecamatan Kulo
Sumber : Data Primer yang telah diolah, 2012
Skala Usaha
(Ekor)

Terlihat dari Tabel 15, dapat dilihat apabila semakin besar skala usaha
yang dikelola peternak maka akan semakin besar pula peningkatan pendapatan
yang diperoleh dari hasil penjualan limbah. Hal tersebut sesuai dengan pendapat
Harnanto (1992), menyatakan bahwa penerimaan setiap peternak bervariasi
tergantung pada jumlah populasi ternak yang dimiliki oleh setiap peternak.
Penjualan limbah merupakan salah satu sumber penerimaan peternak ayam ras
petelur, meskipun nilainya lebih kecil dibandingkan dengan penerimaan dari telur
dan ayam afkir akan tetapi penjualan kotoran juga mempunyai manfaat lain selain
manfaat ekonomi yakni manfaat ekologi terhadap lingkungan, yakni mengurangi
pencemaran lingkungan.
5.3 Total Penerimaan Usaha
Total penerimaan adalah penjumlahan seluruh komponen penerimaan dari
peternakan ayam ras petelur yakni hasil penjualan telur, penjualan ayam afkir dan
penjualan limbah yang dinyatakan dalam bentuk rupiah. Adapun besarnya total
penerimaan yang didapatkan peternak di Kecamatan Kulo, Kabupaten Sidrap dari
berbagai skala usaha dapat dilihat pada Tabel 16
Tabel 16. Total Penerimaan Peternak dari Berbagai Skala Usaha di
Kecamatan Kulo

35

No
1
2
3
4

Total Penerimaan Total Penerimaan dari


dari Telur
Pen. Ayam Afkir
(Rp/ Perio)
(Rp/ Perio)
1000
965,035,000
24,375,000
1001 - 10.000
44,564,895,000
861,300,000
10.001 - 20.000
11,727,100,000
330,000,000
> 20.000
21,237,010,000
430,000,000
Jumlah
78,494,040,000
1,645,675,000
Sumber : Data Primer yang telah diolah 2012
Skala Usaha
(ekor)

Total Penerimaan
dari Pen. Limbah
(Rp/ Perio)
15,750,000
684,000,000
193,500,000
337,500,000
1,230,750,000

Berdasarkan Tabel 16, dapat dilihat bahwa penerimaan usaha peternakan


ayam ras petelur diperoleh dari produksi telur, ayam afkir dan penjualan limbah.
Adapun besar kecilnya penerimaan dari peternak tergantung dari jumlah ternak
yang dimilikinya dan harga dari produk yang dihasilkannya. Hal ini sesuai dengan
pendapat Soekartawi (2006) yang menyatakan bahwa penerimaan usaha tani
adalah perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual dan sangat
ditentukan oleh besar kecilnya produksi yang dihasilkan dan harga dari produksi
tersebut.
5.4 Kontribusi Usaha dari Penjualan Limbah
Kontribusi merupakan besarnya persentase sumbangan suatu usaha
terhadap pendapatan petani peternak Kontribusi penerimaan dari satu jenis
kegiatan terhadap total penerimaan usaha peternakan ayam ras petelur tergantung
pada produktivitas faktor produksi yang digunakan dari jenis kegiatan yang
bersangkutan (Nurmanaf, 2006).
Besarnya

kontribusi penerimaan

dari penjualan

limbah

terhadap

penerimaan total peternak ayam ras petelur dari berbagai skala usaha di
Kecamatan Kulo, Kabupaten Sidrap dapat dilihat pada Tabel 17.
Tabel 17. Kontribusi Usaha Penjualan Limbah Peternakan Ayam Ras
Petelur dari Berbagai Skala Usaha di Kecamatan Kulo

36

No
1
2
3
4

Penerimaan dari
Total
Penjualan Limbah
Penerimaan
(Rp/Perio)
(Rp/Perio)
1000
15,750,000
992,685,000
1001 - 10.000
684,000,000
45,201,060,000
10.001 - 20.000
193,500,000
12,033,600,000
> 20.000
337,500,000
21,621,760,000
Sumber : Data Primer yang telah diolah, 2012
Skala Usaha

Kontribusi
(%)
1.59%
1.51%
1.61%
1.56%

Dilihat dari Tabel 17, kontribusi penerimaan peternak dari hasil penjualan
kotoran sangat kecil yakni dibawah 2 %, hal ini menunjukkan bahwa penjualan
kotoran merupakan suatu usaha sampingan yang dilakukan oleh peternak. Hal ini
sesuai dengan pendapat Sodiq dan Abidin (2008), menyatakan bahwa Tingkat
pendapatan dari usaha tidak lebih dari 30 % total pendapatnya adalah usaha yang
dilakukan sambil lalu, disamping usaha pokoknya. Walaupun kontribusinya tidak
terlalu besar, namun sumber penerimaan dari feses dirasakan berperan cukup
penting dalam menambah pendapatan peternak.
5.4 Pemanfaatan Hasil Penjualan Limbah
Penjualan limbah merupakan salah satu sumber penerimaan peternak ayam
ras petelur, meskipun nilainya lebih kecil namun hasil penjualan limbah dapat
manfaat cukup penting terhadap keuntungan usaha peternakan. Hasil dari
penjualan limbah yang didapatkan peternak selain untuk dimasukkan dalam kas
usaha, mereka juga berikan untuk pekerja (anak kandang) sebagai bonus untuk
memenuhi kebutuhan sehari hari mereka, sehingga dapat memacu produktivitas
dari pekerja (anak kandang), selain itu hasil penjualan biasanya digunakan untuk
pembayaran biaya operasional kandang seperti biaya listrik dan air.

37

Adapun pemanfaatan hasil dari penjualan limbah yang didapatkan oleh


peternak di Kecamatan Kulo, Kabupaten Sidrap untuk berbagai skala usaha dapat
dilihat pada Tabel 18.

No
1
2
3
4

Tabel 18. Pemanfaatan dari Hasil Penjualan Limbah Peternakan dari


Berbagai Skala Usaha di Kecamatan Kulo
Jumlah
Jenis
Skala Usaha
Peternak
Pemanfaatan
(orang)
1000
4
Kas Usaha
1001 - 10.000
39
Gaji, Biaya Operasinal & Kas Usaha
10.001 - 20.000
3
Gaji & Biaya Operasinal
> 20.000
2
Gaji & Biaya Operasinal
Total
48
Sumber : Data Primer yang telah diolah, 2012
Terlihat dari Tabel 18, hasil dari penjualan limbah dimanfaatkan oleh

peternak dengan berbagai cara, meskipun demikian seluruh kegiatan tersebut


bertujuan untuk lebih meningkatkan keuntungan dari seluruh sumber daya dari
usaha tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Heriyatno (2009), yang
menyatakan bahwa keberhasilan usaha peternakan dari segi penerimaannya dinilai
berdasarkan tingkat efisiensinya, yaitu kemampuan usaha tersebut menghasilkan
keuntungan dari setiap rupiah biaya yang dikeluarkan dengan memanfaatkan
semua sumber daya yang dimilikinya.

38

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, maka dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut :
Penerimaan usaha peternakan ayam ras petelur diperoleh dari produksi
telur, penjualan limbah, dan ayam afkir. Besar kecilnya penerimaan dari
peternak tergantung dari jumlah ternak yang dimilikinya dan harga dari
produk yang dihasilkannya
Kontribusi penerimaan peternak dari hasil penjualan kotoran sangat kecil
yakni dibawah 2 %, hal ini menunjukkan bahwa penjualan kotoran
merupakan suatu penerimaan sampingan yang dilakukan oleh peternak
Hasil dari penjualan limbah yang didapatkan peternak selain untuk
dimasukkan dalam kas usaha, untuk pekerja (anak kandang) sebagai bonus
untuk memenuhi kebutuhan sehari hari, selain itu hasil penjualan

39

digunakan untuk pembayaran biaya operasional kandang seperti biaya


listrik dan air.
6.1 Saran
Melihat bahwa penerimaan dari penjualan limbah yang digeluti oleh
peternak di Kecamatan Kulo, Kabupaten Sidrap masih rendah, maka perlu upaya
untuk meningkatkan nilai jual limbah tersebut dengan cara memprosesnya lebih
lanjut kemudian menjualnya sehingga nilai jualnya bisa lebih tinggi dibanding
hanya dijual dalam bentuk kering.
DAFTAR PUSTAKA
Aziz, D. 2007. Mengenal Ayam Petelur. CV. Sinar Cemerlang Abadi, Jakarta
Badan Pusat Statistik.http://www.bps.go.id/aboutus.php?id_subyek=06&tabel=
1&fl=2. Di akses pada tanggal 20 Juli 2012.
Balitvet. 1993. Laporan Hasil Dampak Lingkungan Usaha Peternakan Tahun
Anggaran 1992/1993. Agriculture Research Management Project. Badan
Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertaman, Balai
Penelitian Veteriner, Bogor.
Charles, R-T. dan B. Hariyono. 1991. Pencernaran Lingkungan oleh Limbah
Peternakan dan Pengelolaannya. Bull. FKG-UGM.X(2):71-75.
Dharmesta, Basu Swastha, 2005. Azaz Azaz Marketing. Liberty. Yogyakarta
Fontenot, J.P., W. Smith, and A.L. Sutton. 1983. Altenatif utilization of animal
waste, J.Anim. Sci. 57:221-223.
Foot, A.S.,S.Banes, JA.C.G. OGE, J.C. Howkins, V.C. Nielsen, and JR.O.
Callahan. 1976. Studies on Farm Livestock Waste. I ed. Agriculture
Research Council, England.
Guritno, 1992. Kamus Ekonomi (Bisnis & Perbankan). Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta.
Handayani, M.Th (2009). Kontribusi pendapatan ibu rumah tangga pembuat
makanan olahan terhadap total pendapatan keluarga. Jurnal

40

Kependudukan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia. Volume V No.


1 Juli 2009. Jurusan Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian Univ.Udayana
Harnanto, 1992, Akuntansi Biaya Untuk Perhitungan Harga Pokok Produk,
Edisi Pertama, BPFE, Yogyakarta.
Heriyatno, 2009. Skripsi Analisis Pendapatan dan Faktor Yang
Mempengaruhi Produksi Susu Sapi Perah Di Tingkat Peternak
(Kasus Anggota Koperasi Serba Usaha Karya Nugraha Kecamatan
Cigugur Kabupaten Kuningan Provinsi Jawa Barat). Fakultas
Pertanian.Institut. Pertanian Bogor
Hidayatullah, G, K. Mudikdjo dan N. Erliza. 2005. Pengelolaan limbah cair
usaha peternakan sapi perah melalui penerapan konsep produksi
bersih. Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. Vol 8
No 1, Maret 2005
Umar, H, 2004. Metode Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis Bisnis, Jakarta,
Raja Grafindo Persada.
Ismaya N.R. Parawansa dan Sutiono, 2006. Analisis pendapatan peternak ayam
ras petelur di Desa Baji Pamai Kecamatan Cenrana Kabupaten
Maros. Jurnal Agrisistem, Juni 2006, Vol 2 No. 1
Juwandi. 2003. Analisis Keuntungan, Skala Usaha dan Efisiensi Ekonomi
Relatif Usaha Peternakan Ayam Petelur di Kabupaten Kendal. Tesis
Program Magister Ilmu Ekonmi dan Studi Pembangunan. Universitas
Diponogoro. Semarang.
Kotler, Philip, 2002, Manajemen Pemasaran, Jilid 1, Edisi Milenium, Jakarta,
Prehallindo.
Kotler, Philip dan Gary Armstrong, 2005, Prinsip-prinsip Pemasaran, Jilid 1,
Edisi Kedelapan, Jakarta, Erlangga.
Mosher, A.T. 1981. Menggerakan dan Membangun Pertanian. CV Agung.
Semarang.
Nitisemito, A.S dan Burhan, M.U.2004. Wawasan Studi Kelayakan dan
Evaluasi Proyek.Penerbit Bumi Aksara, Jakarta
Nurmanaf, A. R. 2006. Peranan sektor luar pertanian terhadap kesempatan
dan pendapatan di pedesaan berbasis lahan kering. Jurnal SOCA vol 8.
no3. November 2008, hal 318-322.
Pauzenga. 1991. Animal production in the 90s in harmony with nature, A
case study in the Nederlands. In: Biotechnology in the Feed Industry.
Proc. Alltechs Seventh Annual Symp. Nicholasville. Kentucky.

41

Rasyaf, M. 2001. Pengelolaan Usaha Peternakan Ayam Petelur, PT. Gramedia


Pustaka Utama, Jakarta
Rachmawati, S. 2007. Upaya Pengelolaan Lingkungan Usaha Peternakan
Ayam. Balai Penelitian Veteriner.Buletin Litbang. Departemen Pertanian
Said, E.G dan Intan A. H. 2000. Manajemen Agribisnis. Ghalia Indonesia,
Jakarta.
Santi, N, N. 2007. Pemanfaatan kotoran ternak skala rumah tangga sebagai
sumber energi alternatif. Balai Besar Mekanisasi Pertanian dalam Warta
Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Vol 29. No. 2 . 2007

Sihite, E. 1998. Keberhasilan Usaha Peternakan Sapi Perah Dalam Kaitannya


Dengan Faktor-Faktor Produksi Yang Mempengaruhinya Di
Kecamatan Sukabumi Kabupaten Sukabumi. Skripsi. Fakultas
Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Sihombing D T H. 2000. Teknik Pengelolaan Limbah Kegiatan/Usaha
Peternakan. Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Lembaga Penelitian,
Institut Pertanian Bogor.
Siregar, S. 1990. Sapi Perah, Jenis, Teknik Pemeliharaan dan Analisis Usaha.
Penebar Swadaya. Jakarta.
Sjamsul, 2005. Lokakarya Nasional Inovasi Teknologi Dalam Mendukung
Usahaternak Unggas Berdayasaing. Direktorat Perbibitan. Direktorat
Jenderal Peternakan Departemen Pertanian.
Sugiyono, 2010. Metode Penelitian Bisnis (Pendekatan Kuantitatif Kualitatif
dan R&D). Penerbit ALFABETA Bandung.
Sodiq. A dan Abidin. Z 2008. Sukses Menggemukkan Domba. Agromedia
Pustaka. Jakarta.
Soekartawi, 2006. Analisis Usaha Tani. Universitas Indonesia Press, Jakarta
Svensson, L. 1990. Putting the lid on the dung heaps. Acid. Enviro. Magazine.
9: 13-15.
Triana, A, T. Salam, dan M. Muis. 2007. Analisis Pendapatan Usaha
Peternakan Ayam Ras Petelur Periode Layer Di Kecamatan Cenrana
Kabupaten Maros. Jurnal Agrisistem, 3 (1) 11-25

42

Tjiptono, F, 1997. Strategi Pemasaran, Edisi Kedua, Penerbit Andi-Offset,


Yogyakarta.
Yamesa, Nia. 2010. Strategi Pengembangan Usaha Peternakan Ayam Ras
Petelur Pada Perusahaan AAPS Kecamatan Guguak, Kabupaten 50
Kota, Sumatera Barat. Skripsi Program Ekstensi. Jurusan Ilmu-Ilmu
Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.
Bogor.
Yuwanta, T. 2000. Dasar Ternak Unggas. Handout. Fakultas Peternakan,
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Verina H. Secapramana, 2001. Model dalam strategi penetapan harga. Unitas
Vol.. 9. No. 1. September 2000 - Pebruari 2001, 30-43.
Lampiran 1. Identitas Responden Peternak Ayam Ras Petelur di Kecamatan Kulo,
Kabupaten Sidrap

No

Nama

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

Hj. Ira
H. Raupon
A. Mirwan
A.Najib. S
H. Samade
Kamal
A. Agus
Arifuddin
Abd Rahman
Zainal Abidin
A. Maisur
Abd Rahim
Muh. Tahir. S

Umur
(Thn)
48
42
43
41
32
35
50
43
46
46
49
36
43

Pendidikan
SD
SMA
SMA
SMA
Tsanawiah
SMP
SMK
SMA
SMA
S1
SMA
SMA
Diploma

43

Lama Baternak
(Thn)
11
11
11
13
4
5
17
15
13
12
15
5
12

Jumlah Ternak
(Ekor)
6500
9500
7500
4000
1500
2100
2000
7500
5000
6000
4000
2000
3000

14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35

Batareng
La Dema
Rasman
Basri
H. Fatahuddin
H. Umar
Abd Latif
Parussangi
Sultan
Mariama
Mulyamin
H. Julali
Nasrul
Hamzah
Arifuddin
Syarifuddin
Basaria
P. Toaha
H. Lemba
Mandong
Syahruddin
Hj. Marta

41
31
44
27
47
60
33
32
33
33
42
53
32
47
43
41
33
44
46
42
31
55

SMA
SMP
SMA
SD
S1
Diploma
SMA
SMK
SMA
Tsanawiah
SMA
SMA
SMP
SMK
SMA
S1
SMP
SMP
Tsanawiah
SD
SMK
SMP

44

14
4
20
3
11
10
4
5
6
4
17
11
3
12
11
18
4
11
17
12
5
15

4000
1500
7500
1200
2500
4300
1500
1100
2000
2000
5500
4000
2000
5100
4700
5500
2000
3000
7500
4000
2500
4000

No

Nama

36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48

Hj. Halipa
Drs. Rusdi
Ma'tang
H. Langka
Jamal
Salman
Samidon
Abd. Malik
Muh Jufri
H. Bakri
H. Yahya
H. Darmin. P
H. Said. AP

Umur
(Thn)
52
31
43
45
27
26
28
25
41
51
47
45
47

Pendidikan
SMA
S1
SMP
SD
SMP
SMP
SMP
SD
SMA
SMA
SMP
SMA
SMA

45

Lama Baternak
(Thn)
15
3
16
16
2
2
3
3
23
21
22
23
25

Jumlah Ternak
(Ekor)
3000
2000
4000
5000
500
1000
1000
1000
20000
11000
12000
22000
53000

Lampiran 2. Penerimaan Hasil Penjualan Telur Peternak Ayam Ras Petelur di


Kecamatan Kulo, Kabupaten Sidrap
Skala
Usaha
1
6500
2
9500
3
7500
4
4000
5
1500
6
2100
7
2000
8
7500
9
5000
10
6000
11
4000
12
2000
13
3000
14
4000
15
1500
16
7500
17
1200
18
2500
19
4300
20
1500
21
1100
22
2000
23
2000
24
5500
25
4000
26
2000
27
5100
28
4700
29
5500
30
2000
31
3000
32
7500
33
4000
34
2500
35
4000
36
3000
37
2000
38
4000
39
5000
Skala Usaha

No

Prod Telur
(Rak / Bln)
4500
6630
5640
3180
1050
1560
1590
5610
3510
5100
3180
1500
2100
3180
1050
5640
960
1800
3000
1200
840
1410
1650
4350
3000
1350
4080
3600
3900
1650
2100
5700
3000
1800
3000
2400
1500
2880
3480
1001 - 10.000

Prod Telur
(Rak/Perio)
81000
119340
101520
57240
18900
28080
28620
100980
63180
91800
57240
27000
37800
57240
18900
101520
17280
32400
54000
21600
15120
25380
29700
78300
54000
24300
73440
64800
70200
29700
37800
102600
54000
32400
54000
43200
27000
51840
62640
Jumlah
Rata2

46

Harga
(Rp / Rak)
21,000
21,000
21,000
21,000
21,000
21,000
21,000
21,000
21,000
22,000
21,000
22,000
22,000
22,000
22,000
22,000
21,000
21,000
21,000
21,000
21,000
21,000
21,000
21,000
22,000
22,000
22,000
22,000
22,000
22,000
22,000
21,000
21,000
21,000
21,000
21,000
21,000
21,000
21,000

Total Penerimaan
(Rp/Perio)
1,701,000,000
2,506,140,000
2,131,920,000
1,202,040,000
396,900,000
589,680,000
601,020,000
2,120,580,000
1,326,780,000
2,019,600,000
1,202,040,000
594,000,000
831,600,000
1,259,280,000
415,800,000
2,233,440,000
362,880,000
680,400,000
1,134,000,000
453,600,000
317,520,000
532,980,000
623,700,000
1,644,300,000
1,188,000,000
534,600,000
1,615,680,000
1,425,600,000
1,544,400,000
653,400,000
831,600,000
2,154,600,000
1,134,000,000
680,400,000
1,134,000,000
907,200,000
567,000,000
1,088,640,000
1,315,440,000
43,655,760,000
1,119,378,462

Skala Usaha
500
40
1000
41
1000
42
1000
43
Skala Usaha

1001 - 10.000
80
70
75
70

420
660
750
690

1000

20000
44
11000
45
12000
46
Skala Usaha

70
13800
75
8250
70
8400
10.001 - 20.000

22000
47
53000
48
Skala Usaha

70
75
> 20.000

15420
39750

Jumlah
Rata2
7560
11880
13500
12420
Jumlah
Rata2
248400
148500
151200
Jumlah
Rata2
277560
715500
Jumlah
Rata2

47

21,000
21,000
21,000
21,000

21,000
21,000
21,000

21,000
21,000

43,655,760,000
1,119,378,462
158,760,000
249,480,000
283,500,000
260,820,000
952,560,000
238,140,000
5,216,400,000
3,118,500,000
3,175,200,000
11,510,100,000
3,836,700,000
5,828,760,000
15,025,500,000
20,854,260,000
10,427,130,000

Skala
Usaha
1
6500
2
9500
3
7500
4
4000
5
1500
6
2100
7
2000
8
7500
9
5000
10
6000
11
4000
12
2000
13
3000
14
4000
15
1500
16
7500
17
1200
18
2500
19
4300
20
1500
21
1100
22
2000
23
2000
24
5500
25
4000
26
2000
27
5100
28
4700
29
5500
30
2000
31
3000
32
7500
33
4000
34
2500
35
4000
36
3000
37
2000
38
4000
39
5000
Skala Usaha

No

Ayam Yang
Dijual
1300
1900
1500
800
300
525
400
1500
1000
1200
800
500
600
800
450
1500
240
625
1075
450
330
500
300
1100
1000
500
1530
940
1100
400
900
1500
800
750
1000
600
500
1200
1500
1001 - 10.000

Harga Per Ekor


(Rp)
26,250
25,000
25,000
25,000
26,250
25,000
25,000
26,250
25,000
25,000
25,000
26,000
25,000
25,000
25,000
26,000
25,000
25,000
25,000
25,000
25,000
25,000
25,000
26,250
25,000
26,250
25,000
26,250
25,000
25,000
25,000
26,250
25,000
25,000
26,000
25,000
25,000
26,250
25,000
Jumlah
Rata2

Total Penerimaan
(Rp/Periode)
34,125,000
47,500,000
37,500,000
20,000,000
7,875,000
13,125,000
10,000,000
39,375,000
25,000,000
30,000,000
20,000,000
13,000,000
15,000,000
20,000,000
11,250,000
39,000,000
6,000,000
15,625,000
26,875,000
11,250,000
8,250,000
12,500,000
7,500,000
28,875,000
25,000,000
13,125,000
38,250,000
24,675,000
27,500,000
10,000,000
22,500,000
39,375,000
20,000,000
18,750,000
26,000,000
15,000,000
12,500,000
31,500,000
37,500,000
861,300,000
22,084,615

Lampiran 3 Penerimaan Hasil Penjualan Ayam Afkir Peternak Ayam Ras Petelur
di Kecamatan Kulo, Kabupaten Sidrap.

48

No

Skala
Usaha

Ayam Yang
Dijual

40
41
42
43

500
1000
1000
1000

100
300
250
300

Skala Usaha
44
45
46

20000
11000
12000

Skala Usaha
47
48

22000
53000

Skala Usaha

1000
6000
3300
3600
10.001 - 20.000
6600
10600
> 20.000

Harga Per Ekor


(Rp)

25,000
25,000
26,000
26,250
Jumlah
Rata2
26,250
25,000
25,000
Jumlah
Rata2
25,000
25,000

Total Penerimaan
(Rp/Periode)

2,500,000
7,500,000
6,500,000
7,875,000
24,375,000
6,093,750
157,500,000
82,500,000
90,000,000
330,000,000
110,000,000
165,000,000
265,000,000

Jumlah

430,000,000

Rata2

215,000,000

49

Lampiran 4.Penerimaan Hasil Penjualan Kotoran Peternak Ayam Ras Petelur di


Kecamatan Kulo, Kabupaten Sidrap
No

Skala
Usaha

Prod Feses
(Karung/Bln)

Prod Feses
(Karung/Perio)

Harga
(Rp/Karung)

Total Penerimaan
(Rp/Perio)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35

6500
9500
7500
4000
1500
2100
2000
7500
5000
6000
4000
2000
3000
4000
1500
7500
1200
2500
4300
1500
1100
2000
2000
5500
4000
2000
5100
4700
5500
2000
3000
7500
4000
2500
4000

325
475
375
200
75
105
100
375
250
300
200
100
150
200
75
375
60
125
215
75
55
100
100
275
200
100
255
235
275
100
150
375
200
125
200

5850
8550
6750
3600
1350
1890
1800
6750
4500
5400
3600
1800
2700
3600
1350
6750
1080
2250
3870
1350
990
1800
1800
4950
3600
1800
4590
4230
4950
1800
2700
6750
3600
2250
3600

5,000
5,000
5,000
5,000
5,000
5,000
5,000
5,000
5,000
5,000
5,000
5,000
5,000
5,000
5,000
5,000
5,000
5,000
5,000
5,000
5,000
5,000
5,000
5,000
5,000
5,000
5,000
5,000
5,000
5,000
5,000
5,000
5,000
5,000
5,000

29,250,000
42,750,000
33,750,000
18,000,000
6,750,000
9,450,000
9,000,000
33,750,000
22,500,000
27,000,000
18,000,000
9,000,000
13,500,000
18,000,000
6,750,000
33,750,000
5,400,000
11,250,000
19,350,000
6,750,000
4,950,000
9,000,000
9,000,000
24,750,000
18,000,000
9,000,000
22,950,000
21,150,000
24,750,000
9,000,000
13,500,000
33,750,000
18,000,000
11,250,000
18,000,000

50

36
3000
37
2000
38
4000
39
5000
Skala Usaha

Skala
Usaha
40
500
41
1000
42
1000
43
1000
Skala Usaha

No

20000
44
11000
45
12000
46
Skala Usaha
22000
47
53000
48
Skala Usaha

150
100
200
250

2700
1800
3600
4500
1001 - 10.000

5,000
5,000
5,000
5,000
Jumlah
Rata2

Prod Feses
Prod Feses
Harga
(Karung/Bln) (Karung/Perio) (Rp/Karung)
25
450
5,000
50
900
5,000
50
900
5,000
50
900
5,000
1000
Jumlah
Rata2
1000
18000
5,000
550
9900
5,000
600
10800
5,000
10.001 - 20.000
Jumlah
Rata2
1100
19800
5,000
2650
47700
5,000
> 20.000
Jumlah
Rata2

51

13,500,000
9,000,000
18,000,000
22,500,000
684,000,000
17,538,462

Total Penerimaan
(Rp/Perio)
2,250,000
4,500,000
4,500,000
4,500,000
15,750,000
3,937,500
90,000,000
49,500,000
54,000,000
193,500,000
64,500,000
99,000,000
238,500,000
337,500,000
168,750,000

Lampiran 5. Total Penerimaan Peternak Ayam Ras Petelur di Kecamatan Kulo,


Kabupaten Sidrap
No

Skala
Usaha

Penerimaan
Penjualan Telur
(Rp/Perio)

Penerimaan dari
Ayam Afkir
(Rp/Perio)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34

6500
9500
7500
4000
1500
2100
2000
7500
5000
6000
4000
2000
3000
4000
1500
7500
1200
2500
4300
1500
1100
2000
2000
5500
4000
2000
5100
4700
5500
2000
3000
7500
4000
2500

1,701,000,000
2,506,140,000
2,131,920,000
1,202,040,000
396,900,000
589,680,000
601,020,000
2,120,580,000
1,326,780,000
2,019,600,000
1,202,040,000
594,000,000
831,600,000
1,259,280,000
415,800,000
2,233,440,000
362,880,000
680,400,000
1,134,000,000
453,600,000
317,520,000
532,980,000
623,700,000
1,644,300,000
1,188,000,000
534,600,000
1,615,680,000
1,425,600,000
1,544,400,000
653,400,000
831,600,000
2,154,600,000
1,134,000,000
680,400,000

34,125,000
47,500,000
37,500,000
20,000,000
7,875,000
13,125,000
10,000,000
39,375,000
25,000,000
30,000,000
20,000,000
13,000,000
15,000,000
20,000,000
11,250,000
39,000,000
6,000,000
15,625,000
26,875,000
11,250,000
8,250,000
12,500,000
7,500,000
28,875,000
25,000,000
13,125,000
38,250,000
24,675,000
27,500,000
10,000,000
22,500,000
39,375,000
20,000,000
18,750,000

52

Penerimaan
dari Penjualan
Feses
(Rp/Perio)
29,250,000
42,750,000
33,750,000
18,000,000
6,750,000
9,450,000
9,000,000
33,750,000
22,500,000
27,000,000
18,000,000
9,000,000
13,500,000
18,000,000
6,750,000
33,750,000
5,400,000
11,250,000
19,350,000
6,750,000
4,950,000
9,000,000
9,000,000
24,750,000
18,000,000
9,000,000
22,950,000
21,150,000
24,750,000
9,000,000
13,500,000
33,750,000
18,000,000
11,250,000

Total
Penerimaan
(Rp/Perio)
1,764,375,000
2,596,390,000
2,203,170,000
1,240,040,000
411,525,000
612,255,000
620,020,000
2,193,705,000
1,374,280,000
2,076,600,000
1,240,040,000
616,000,000
860,100,000
1,297,280,000
433,800,000
2,306,190,000
374,280,000
707,275,000
1,180,225,000
471,600,000
330,720,000
554,480,000
640,200,000
1,697,925,000
1,231,000,000
556,725,000
1,676,880,000
1,471,425,000
1,596,650,000
672,400,000
867,600,000
2,227,725,000
1,172,000,000
710,400,000

35
4000
36
3000
37
2000
38
4000
39
5000
Skala Usaha

1,134,000,000
26,000,000
907,200,000
15,000,000
567,000,000
12,500,000
1,088,640,000
31,500,000
1,315,440,000
37,500,000
1001 - 10.000

40
500
41
1000
42
1000
43
1000
Skala Usaha

Penerimaan
Penerimaan dari
Penjualan Telur
Ayam Afkir
(Rp/Perio)
(Rp/Perio)
158,760,000
2,500,000
249,480,000
7,500,000
283,500,000
6,500,000
260,820,000
7,875,000
1000

44
20000
45
11000
46
12000
Skala Usaha

5,216,400,000
157,500,000
3,118,500,000
82,500,000
3,175,200,000
90,000,000
10.001 - 20.000

47
22000
48
53000
Skala Usaha

5,828,760,000
165,000,000
15,025,500,000
265,000,000
> 20.000

No

Skala
Usaha

53

18,000,000
13,500,000
9,000,000
18,000,000
22,500,000
Jumlah
Rata2

Penerimaan dari
Penjualan Feses
(Rp/Perio)
2,250,000
4,500,000
4,500,000
4,500,000
Jumlah
Rata2
90,000,000
49,500,000
54,000,000
Jumlah
Rata2
99,000,000
238,500,000
Jumlah
Rata2

1,178,000,000
935,700,000
588,500,000
1,138,140,000
1,375,440,000
45,201,060,000
1,159,001,538

Total
Penerimaan
(Rp/Perio)
163,510,000
261,480,000
294,500,000
273,195,000
992,685,000
248,171,250
5,463,900,000
3,250,500,000
3,319,200,000
12,033,600,000
4,011,200,000
6,092,760,000
15,529,000,000
21,621,760,000
10,810,880,000

Lampiran 6. Kontribusi Penerimaan dari Penjualan Kotoran terhadap Penerimaan


Total Peternak Ayam Ras Petelur di Kecamatan Kulo, Kabupaten
Sidrap.
No

Skala Usaha

Penerimaan dari Feses


(Rp/Perio)

Total Penerimaan
(Rp/Perio)

Kontribusi
(%)

1
2
3
4

1001 - 10.000
1000
10.001 - 20.000
> 20.000

684,000,000
15,750,000
193,500,000
337,500,000

45,201,060,000
992,685,000
12,033,600,000
21,621,760,000

1.51%
1.59%
1.61%
1.56%

54

RIWAYAT HIDUP
Muhammad Sapril Ramadhan dilahirkan di Ujung
Pandang, pada tanggal 07 April 1989, sebagai anak
pertama dari empat bersaudara dari pasangan bapak
Diddy Leto dan ibu St. Hadenah. Memulai mengenyam
dunia pendidikan pada TK Sinar Fajar tahun 1994, dan
pada tahun 1995 melanjutkan ke jenjang sekolah dasar di SDN Minasa Upa,
Makassar, pada tahun 2001 melanjutkan ke sekolah menengah pertama yakni
SMPN 1 Makassar, pada tahun 2004 melanjutkan pendidikan di SMKN 2
Makassar.
Setelah menyelesaikan pendidikan di Sekolah Mengengah Atas, penulis
diterima di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) melalui jalur Seleksi Penerimaan
Mahasiswa Baru (SPMB) di Jurusan Sosial Ekonomi, Fakultas Peternakan,
Universitas Hasanuddin, Makasssar dan lulus pada tahun 2012. Selama menjadi
mahasiswa penulis cukup aktif di organisasi kemahasiswaan anatara lain :
1. Koordinator Departemen Hubungan Masyarakat Himpunan Mahasiswa Sosial
Ekonomi Peternakan (HIMSENA) periode 2010 2011

55

2. Ketua Departemen Diklat Anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI),


Komisariat Peternakan UNHAS, Cabang Makassar Timur Periode 2010
2011.
3. Anggota Departemen Hubungan Masyarakat Kajian Issu Himpunan
Mahasiswa Sosial Ekonomi Peternakan (HIMSENA) periode 2009 2010

56