Anda di halaman 1dari 64

BAB I

DEFINISI DEFINISI DAN PENGGUNAANNYA


DIDALAM PEMBUKTIAN
Mendifinisikan suatu kata adalah penting, sebab (1) definisi-definisi
tersebut dibentuk untuk keperluan manusia dalam kaitannya dengan diskusi, dan (2)
setiap definisi yang telah ditetapkan, tidak dapat diubah oleh sembarang salah satu
unsurnya yang tidak memperhitungkan yang lain dalam kelompoknya.
Sifat-sifat definisi yang harus ada sebagai berikut.
(1) Kata yang didefinisikan harus ditempatkan dalam kelasnya; pertama-tama kelas
yang menunjukkan kumpulan (koleksi) dan memiliki kesamaan sifat.
(2) Perlu menunjukkannya bilamana kata yang didefinisikan tersebut berbeda dari
yang lain didalam kelasnya; hal ini dapat dilakukan dengan menambahkan frase
(phrase).
(3) kata-kata didalam definisi harus sesederhana mungkin, daripada yang
didefinisikan.
(4) Suatu definisi harus dapat dibalikkan.
Menurut jenisnya, definisi terbagi atas definisi demonstratif dan konotatif..
Sedangkan untuk kata yang lebih sederhana, selanjutnya tidak didefinisikan
seluruhnya. Kata yang dimaksud seperti kata pertama, istilah primitif, atau unsur
dasar istilah, lebih sederhana disebut istilah yang tidak didefinisikan.
Pengertian Pangkal (Undefined Terms)
Terdapat 5 pengertian pangkal dalam geometri sebagai dasar untuk mendefinisikan
semua geometri lainnya dalam geometri Euclid, yaitu:
(1) Titik (Point)
(2) Garis (Line)
(3) Terletak pada (Lie on); misalnya dua titik terletak pada sebuah garis
(4) Diantara (Between); misalnya C diantara titik-titik A dan B
(5) Kongruen (Congruent)

Istilah titik

tidak didefinisikan.

Meskipun kita tidak mungkin untuk

mendefinisikan, tetapi dapat dicoba untuk membuat arti atau penjelasannya. Hal ini
dapat dikerjakan dengan mendaftar beberapa sifat atau ciri-cirinya dengan tanpa
melakukan klasifikasi. Suatu kata yang tidak dapat didefinisikan, kata tersebut dapat
dijelaskan. Perbedaan menjelaskan (deskripsi) dengan mendefinisikan, dapat
diterangkan sebagai berikut.
(1) Bila suatu kata tersebut didefinisikan, berarti mengklasifikasikan.
(2) Bila suatu kata tersebut dijelaskan, sifat-sifat kata

itu diketahui tanpa

mengklasifikasikan.
Beberapa ide tentang sifat-sifat titik yang dipilih, dicoba untuk
menggambarkan titik dengan suatu ujung jarum. Hasilnya kita dapatkan bahwa:
titik tidak mempunyai panjang atau lebar tetapi menunjukkan letak. Istilah garis
tidak didefinisikan. Sifat-sifat garis dapat disebutkan sebagai: garis tidak mempunyai
lebar tetapi dapat diperpanjang sejauh yang dikehendaki pada kedua ujungnya.
Istilah himpunan (set) tidak didefinisikan. Namun jika dicoba untuk menjelaskan,
artinya antara lain sebagai berikut: himpunan adalah sesuatu yang diartikan (well
defied) sebagai kumpulan (collection).
Penekanan kata diartikan (well defied), menerangkan sebagai berikut.
(1) Jika unsur-unsur himpunan tersebut diketahui, kita dapat menerangkan
bagaimana mendapatkannya.
(2) Dengan diketahui unsur unsur himpunan tersebut, dapat didaftar anggotaanggotanya.
Istilah diantaranya (betweenness) tidak didefinisikan.

Hal ini dapat

digambarkan sebagai berikut.

Pada garis ini, B diantara A dan C. Urutan tidak menjadikan masalah; misalkan dapat
diurutkan sebagai A,B,C atau C,B,A. Jika ketiga titik tersebut tidak segaris, B tidak
dapat dikatakan diantara A dan C. Secara umum, jika tiga titik pada garis, maka ada
satu dan hanya satu dari urutan dibawah ini benar.

A,B,C

A,C,B

B,A,C

Setiap struktur geometri memiliki pembatasan-pembatasan. Misalnya dalam


geometri Euclid setiap dua titik yang berbeda dapat dilukis satu dan hanya satu
garis; sehingga dalam geometri Euclid tidak bisa diterima bahwa melalui dua titik
dapat dilukis dua buah garis, sebagaimana Gambar 1.1 berikut ini.

Gambar 1.1

Empat Postulat Pertama Euclids


Postulat Euclid-1. Untuk setiap titik P dan setiap titik Q yang tidak sama P Q
terdapat secara unik sebuah garis yang melalui P dan Q.
Secara informal postulat ini dapat dinyatakan dengan dua buah titik menentukan
secara unik sebuah garis. Selanjutnya garis yang melalui titik-titik P dan Q
dinotasikan dengan PQ . Untuk memulai postulat kedua, dapat dibuat definisi
pertama
Definisi 1. Diberikan dua buah titik, yaitu A dan B. Segmen AB adalah himpunan titik
A, titik B, dan titik-titik yang terletak pada garis AB dan diantara A dan B (Gambar
1.2). Titik A dan titik B dikatakan titik-titik akhir (endpoints) dari segmen AB.
Selanjutnya notasi AB digunakan untuk segmen AB.
Segmen AB
A

Garis AB

Gambar 1.2
Postulat Euclid-2. Untuk setiap segmen AB dan untuk setiap segmen CD terdapat
secara unik titik E sehingga B diantara A dan E, dan segmen CD kongruen dengan
segmen BE (Gambar 1.3).

Gambar 1.3 CD BE
Postulat ini kadang-kadang secara informal dapat dikatakah bahwa: Sembarang
segmen AB dapat diperluas oleh sebuah segmen BE yang kongruen dengan segmen
CD yang diberikan. Dalam postulat ini telah digunakan pengertian pangkal tentang
kongruen. Selanjutnya notasi CD BE digunakan untuk mengungkapkan CD
kongruen dengan BE. Untuk melanjutkan ke postulat 3, diawali dulu mengenalkan
definisi yang lain sebagai berikut.
Definisi 2. Diberikan dua titik O dan A. Himpunan dari semua titik P sehingga segmen
OP kongruen dengan segmen OA disebut lingkaran dengan O sebagai pusat, dan
setiap segmen OP disebut dengan jari-jari lingkaran. Diduga bahwa pada
pembicaraan sebelumnya disebutkan bahwa OA OA , sehingga A adalah juga titik
yang tepat pada lingkaran yang terdefinisi.
Postulat Euclid-3. Untuk setiap titik O dan setiap titik A (O A) , terdapat sebuah
lingkaran dengan pusat O dan jari-jari OA (Gambar 1.4).
P

O
A

Gambar 1.4 Lingkaran dengan pusat O dan jari-jari OA

Definisi 3. Sinar AB adalah himpunan titik pada garis AB : titik-titik yang dimiliki
segmen AB dan semua titik C pada garis AB sehingga B diantara A dan C. Sinar AB

dikatakan memancar dari titik vertek A(emanate from the vertek A) yang
merupakan bagian dari garis AB (Gambar 1.5).

C
B
A

Gambar 1.5 Sinar AB

Definisi 4. Sinar AB dan AC bertolak belakang jika keduanya sinar berbeda,


memancar dari titik A yang sama, dan keduanya bagian dari garis yang sama
AB AC (Gambar 1.6).
B

Gambar 1.6 Sinar Berlawanan


Definisi 4. Sebuah sudut dengan vertek A adalah sebuah titik A dengan dua sinar
berbeda dan tidak berlawanan yakni AB dan AC (sisi dari sudut) yang memancar
dari A (Gambar 1.7).
B
A

Gambar 1.7 Sudut dengan vertek A


Untuk sudut di atas, dinotasikan dengan A, BAC, atau CAB.

Definisi 5. Jika BAD dan CAD memiliki sisi bersama yakni sinar AD dan sisi-sisi
lainnya AB dan AC merupakan dua sinar berlawanan, maka sudut yang satu
suplemen dari sudut lainnya, atau dua sudut yang saling bersuplemen (Gambar 1.8).

D
B

Gambar 1.8 Sudut saling bersuplemen


Definisi 6. Sebuah sudut BAD adalah sudut siku-siku jika memiliki sebuah sudut
yang bersuplemen yang kongruen (Gambar 1.9).

Gambar 1.9 Sudut siku-siku BAD CAD


Postulat Euclid-4. Untuk semua sudut siku-siku kongruen satu sama lain.

Soal-soal
1. Dari definisi-definisi berikut, manakah yang merupakan definisi yang tidak
lengkap ?.
a. Bangku ialah sesuatu yang digunakan untuk landasan menulis.
b. Buku sejarah adalah buku yang berisi sejarah.
c. Jika persegi panjang merupakan bujur sangkar, maka keempat sisinya sama.
2. Tulislah definisi no. 1 tersebut, sehingga memenuhi sifat definisi.
3. Definisikan istilsh-istilah berikut :
a. sepatu lari.

b. biografi.

c. kertas tulis.

4. Apakah mungkin dalam anda mempelajari geomerti akan mendefinisikan istilah


primitif ?

5.

A
5
1

2 2
4

3
C

a. Namakan suatu garis pada 1, dengan 2 cara berbeda.


b. Namakan suatu garis pada 3, dengan 2 cara berbeda
c. Namakan suatu garis pada 4, dengan 6 cara berbeda
d. Namakan suatu garis pada 5, dengan 6 cara berbeda
e. Namakan suatu garis pada 1, dengan 2 cara berbeda
f. Namakan suatu garis pada 2, dengan 2 cara berbeda
A
2

6.
3
B

a. Namakan suatu sudut pada 1 , dengan 2 cara berbeda .


b. Namakan suatu sudut pada 2 , dengan 2 cara berbeda
c.

Namakan suatu sudut pada 3 , dengan 4 cara berbeda

d. Namakan suatu sudut dengan sisi-sisi AB dan AC .


e. Namakan suatu sudut dengan sisi-sisi CB dan CA .
f.

Namakan dua sisi pada <ACB , <ACD , <BCD.

7 Dengan menggunakan sifat-sifat definisi konotatif , terangkan mengapa suatu


garis

tidak dapat didefinisikan sebagai garis adalah himpunan titik-titik .

8. Pada diagram dibawah ini , bagaimanakah mungkin untuk dapatnya menjelaskan


bahwa AB dalam batas-batas AC dan BD , :
D

9. Ilustrasikan bagaimana mungkin dua sinar garis yang mempunyai sebuah titik
potong, tetapi gabungannya tidak berupa suatu sudut.
10. Bilamanakah suatu definisi itu berbeda dengan diskripsi.
11. a adalah himpunan titik-titik sebuah garis , b himpunan titik-titik garis kedua ,
dan c himpunan titik-titik garis ketiga ;
a. gambarlah diagram yang menunjukkan bahwa perpotongan a da b adalah
suatu elemen pada c
gambarlah diagaram yang menunjukkan bahwa perpotongan b dan c adalah tiga
unsur yang berbeda.

Tes Formatif
1.

2.

Perhatikan illustrasi 1.
2
3
4

m(1) 500 . Find:

a. m(4), m(3)

Ilustrasi 1

b.

m(1) m(2) m(3)

c.

m ( 2) m ( 4)

Perhatikan ilustrasi 2

6
D 5

segmen AB dan CD berpotongan,


100
2
1

m(1) m(3) m(4) 1800 and


m(3) m(4), m(4) m(5). Tentukan

4
A
Ilustrasi 2

m( 1), m(2), m(3), m(6)

3.

Perhatikan ilustrasi 3,

m(1) and m( 2) berkomplemen. Buktikan

m(3) dan

m(4) berkomplemen.

1
3
Ilustrasi 3

4.

Perhatikan ilustrasi 4. Manakah pernyataan


C

berikut yang benar. Bila salah, jelaskan

300

alasannya.

600

900G

a. Sinar GF Memiliki titik pangkal di G.

90

600

300

b. Segmen garis AG tidak memiliki titik


D

akhir.

Ilustrasi 4

c. Garis CD memiliki 3 titik akhir.


d.

EF tegak lurus AB .

e. AGC FGC
f. GE garis bagi AGB
5.

Perhatikan ilustrasi 5. AB adalah sebuah

garis.

400 4

a. Sebutkan sudut siku-siku.

b. Sebutkan sudut-sudut lancip.

1
2
E

Illustration 5

c. Sebutkan pasangan sudut-sudut yang


bersisian.
d. Jelaskan mengapa sudut 3 bukan sudut
bertolak belakang dengan sudut 1 pada
ilustrasi 5.

6.

Perhatikan ilustrasi 6. Jika AB AC dan


AD AE , buktikan BD CE .

D
B
A
C
E
Ilustrasi 6

7.

8.

Pada ilustrasi 7.

Jika B titik tengah AC , D titik tengah CE ,

dan AC CE , buktikan AB DE .

Ilustrasi 7

Pada ilustrasi 8, l, m, dan n adalah garis.

D
E

a. Tentukan m(1), m(2), m(3), dan


m

m(4)

b. Apakah 2 dan 4 berkomplemen?

300

c. Apakah 3 dan 4 bersuplemen?

3 900
14 2

Ilustrasi 8

9.

Dalam ilustrasi 9, manakah pernyataan

berikut yang benar, dan manakah yang

a.

300
400

salah.
ADB dan ADC adalah pasangan

C
Illustrasi 9

sudut bersisian.
b.

ADB dan BDC adalah pasangan

sudut berkomplemen.

10. Dalam ilustrasi 10, Klasifikasikan pernyataan

berikut benar atau salah.


a.
b.

ABC dan ABD berkomplemen.

400
100

ABC dan CBD sudut bersisian.


Ilustrasi 10

10

C
D

BAB II
DEFINISI DEFINISI PADA PERISTILAHAN
GEOMETRI
DEFINISI 1 : Ruas garis AB adalah himpunan titik-titik dari garis yang memuat titik A
dan titik B dan semua titik diantara titik A dan titik B.

Pada titik A, B, dan titik-titik diantaranya, dikatakan meliputi segmen AB.


Titik A dan B keduanya disebut titik akhir dari segmen AB. Segmen AB diberi
tanda AB , sedangkan garisnya diberi tanda AB

DEFINISI 2 : sinar adalah himpunan titik titik yang merupakan gabungan dari titik
pangkal sinar garis dan semua titik pada sisi yang sama terhadap titik pangkalnya.
Gambar disamping menggambarkan sinar AB dan
dinotaA

DEFINISI 3

sikan AB .

: sinar sinar yang berlawanan adalah dua sinar berlainan pada garis

yang sama dan mempunyai titik pangkal yang sama.

Pada gambar disamping, AB dan AC

dua sinar yang berlawanan, yaitu keduanya berlainan sinar, pada garis yang sama
( EF ) dan masing-masing mempunyai titik pangkal A.

DEFINISI 4

: sudut adalah himpunan titik-titik yang merupakan gabungan dua sinar

dan kedua titik pangkalnya berserikat.


B

11

C disebut verteks (titik sudut; pada gambar dapat dituliskan sudut-sudutnya < ACB
atau

< BCA.
Karena yang dipelajari disini berorientasi pada himpunan (set), maka yang

dimaksud AB = CD merupakan persamaan dua himpunan, yaitu masing-masing


unsurnya sama dan hanya nama saja yang berbeda. Selanjutnya yang dimaksud
ukuran dua garis AB = CD yang ditulis : u AB = u CD berarti menyatakan
kesamaan bilangan panjangnya.
Ukuran suatu sudut dapat dijelaskan sebagai berikut :

50

180
B

0
A

Pada gambar, titik-titik di setengah lingkaran berkorespondensi 1-1 dengan bilangan


real 0-180; sehingga RVA dikatakan sudut 50 derajat (500 ). Derajat merupakan
satuan untuk ukuran sudut.

DEFINISI 5: Titik tengah dari luas garis adalah suatu titik ada ruas garis itu
sedemikian membentuk dua ruas garis yang sama ukurannya.

U AB = U CB karena C titik

tengah AB .

12

DEFINISI 6: Garis bagi ( disektor) dari luas garis adalah garis yang memotong ruas
garis pada titik tengahnya.
AB bisektor CD , maka B titik tengah CD , karena B titik tengah CD , maka u CB =
u BD .

DEFINISI 7-12 :
7. Sudut siku-siku adalah suatu sudut dari 900.
8 Sudut lurus adalah suatu sudut dari 1800.
9. Sudut lancip adalah suatu sudut yang ukurannya lebih besar 0 dan lebih kecil 90.
10. Sudut tumpul adalah suatu sudut yang ukurannya lebih besar 90 dan lebih kecil
180.
11. Dua sudut saling berkomplemenadalah suatu sudut yang jumlah ukurannya 90.
12. Dua sudut saling bersuplemen adalah dua sudut yang jumlah ukurannya 180.

DEFINISI 13 : Dua garis saling tegak lurus adalah dua garis yang saling berpotongan
membentuk sudut siku-siku.

DEFINISI 14 : Garis bagi suatu sudut adalah suatu sinar sedemikian hingga titik
pangkalnya titik sudut itu dan membentuk dua sudut yang sama ukurannya dengan
kaki sudut itu.

13

Tes Formatif
1. Didasarkan atas sifat suatu garis, terangkan mengapa suatu garis tidak mungkin
memiliki titik tengah.
2. Jika pada diagram berikut : U BC = U CD = U DE , maka C dan D disebut titiktitik triseksi BE . Coba anda definisikan tentang titik-titik ttriseksi suatu
A

segmen garis .

3. Dari diagram soal no. 2 ; jika U BC = U CD = U DE , maka AC dan AD disebut


trisektor-trisektor BE . Coba anda definisikan tentang trisektor-trisektor
suatu segmen garis .
4. a. Apakah kkomplemen dari sebarang sudut :
150 , 480 , 10 , 5 1/20 , X0
b. Apakah suplemen dari sebarang sudut yang berukuran :
126 , 57 , 38 ,

129 , A +B

5. Dari diagram soal no .2 ; jika u<BAC =u CAD = u<DAC , maka AC dan AD


adalah trisektor-trisektor <BAE . Coba anda definisikan tentang trisektortrisektor suatu sudut .
6. a. Apa arti dari ukuran suatu garis ?
b. Mungkinkah untuk segmen garis yang sama akan mempunyai ukuran yang
berbeda
jelaskan jawaban anda.
7. Jika VR dan VS adalah subset RS . maka dua kemungkinan apakah yang terjadi
, mengenai ukuran <RVS ?.
8. Jika <ABC adalah lancip , apa yang dapat dikatakan mengenai ukuran
suplemennya ?

14

9. a. Jika AB BC , implikasinya bahwa B titik tengah AC . Jelaskan jawaban


anda
b. Jika <ABC <CBD , implikasinya bahwa BC merupakan bisektor <ABD .
Jelaskan jawaban anda !.
10. Pada keadaan yang khusus yang mungkin

, daapatkah dituliskan suatu

kesamaan AB
= CD ? .
11 a. Berapakah ukuran sudut yang lima kallinya sama besarnya dengan
komplemennya
b. Ukuran suatu sudut adalah 15 lebih besar dari dua kali suplemennya .
Bilamanakah

ukuran sudut tersebut .

12. Definisi sutu sudut refleks adalah suatu sudut refleks adalah suatu sudut yang
ukurannya lebih besar 180 dan lebih kecil 360 .
a. Apakah kebalikan definisi tersebut ?
b. Terangkan mengapa sudut refleks tidak dimasukkan / dibicarakan dalam
geometri bidang ?.
c. Bilamanakah sudut refleks tersebut diklasifikasikan .
d. Bilamanakah sudut refleks dibedakan dari anggota-anggota yang lain pada
kelasnya ? .
e. Bilamanakah suplemennya sudut refleks ? .

15

BAB III
ASUMSI-ASUMSI DAN PENGGUNAANNYA
DIDALAM PEMBUKTIAN
POSTULAT GEOMETRI 1-4 :
1. Sebuah garis dapat diperpanjang sejauh-jauhnya dari kedua ujungnya.
2. Untuk setiap dua titik pada garis, ada titik ketiga yang terletak diantaranya.
3. Ada korespondensi 1-1 antara titik-titik pada garis dengan bilangan-bilangan
real.
4. Ada satu dan hanya satu garis yang melalui dua titik.

POSTULAT 5-11 :
5. Jika a=b dan c=d , maka a+c = b+d.
6. Jika a=b dan c=d , maka a-c = b-d.
7. Jika a=b dan c=d , maka a.c = b.d
8. Jika a=b dan c=d , maka a/c = b/d
9. a=a ; sifat refleksif.
10. Jika a=b , maka b=a ; sifat simetri.
11. Jika a=b dan b=c , maka a=c ; sifat transitif.

DEFINISI 15 : ruas-ruas garis yang kongruen adalah ruas-ruas garis yang mempunyai
ukuran sama.

DEFINISI 16 : sudut-sudut yang kongruen adalah sudut-sudut yang mempunyai


ukuran sama.
Notasi kongruensi adalah . Perlu diingat bahwa jika u AB = u CD , maka AB

CD . Tetapi jika AB CD , belum tentu AB = CD ; yaitu dua ruas garis yang


berlainan tetapi ukurannya sama.

16

DEFINISI 17 : Jumlah dari dua ruas garis AB dan BC adalah AC jika dan hanya jika
B diantara A dan C; dapat dilambangkan AB + BC = AC .

DEFINISI 18 : AC terletak diantara ruas garis AB dan BC yang berlainan jika dan
hanya jika C diantara A dan B; dilambangkan : AB - BC = AC

DEFINISI 19 : sinar PB terletak diantara sinar PA dan PC berarti u<APB + u<BPC =u<
APC.

Agar berlaku konsep terletak diantara, ditegaskan bahwa ukuran sembarang sudut
haruslah : 180.

DEFINISI 20 : Jumlah dari dua sudut , < ABC dan < DBC, adalah < ABD jika dan hanya
jika BC diantara BA dan BD ; dapat dilambangkan : < ABC + < DBC = < ABD.

DEFINISI 21 : < CBD terletak diantara dua sudut, < ABD dan < ABC jika dan hanya jika

BC diantara BA dan BD ; dapat dilambangkan : < ABD - < ABC = < CBD.

Tes Formatif
1 . Dengan cara apakah suatu postulat terbedakan dari kepercayaan ? .
2. Jika titik-titik A , B dan C unsur-unsur RS , maka kondisi apakah sehingga AC +

CB = AB ? .
3 Jika AB dan CD berpotongan pada X dan Y , maka kesimpulan apakah yang
dapat ditarik dari hal tersebut ? .
4 Jawablah masing-masing pertanyaan dibawah ini dalam batas gambar yang ada.
Jika jawabannya tidak mungkin, cukup tuliskan tak terjawab, (setelah berupa
soal bilangan).

17

EEe
E
D

F
B

a.

AD + DB = ?

b. CE + ED = ?

c AE + ED = ?

d. BC - FC = ?

e AC - AE = ?

f. <AEF = <DEF = ?

g <BCD + <BCA = ?

h. <AEF = <DEF = ?

5. Suatu ukuran sudut APB = 60 dan u <BPC = 20 .


a. Jika PB diantara PA dan PC , maka u <APC = ?
b.

PC

PA dan PB , u <APC = ?

18

BAB IV
TEOREMA TEOREMA SEDERHANA
POSTULAT 12 :
pernyataan kondisional

: jika P, maka q

dan menyatakan kebenaran P

: diketahui P ( antesenden )

berakibat benarnya q

: jadi q ( konsekuen ).

Contoh : jika AB CD , maka <1 dan <2 masing masing sudut siku siku.
Diketahui : AB CD .
Jadi <1 dan <2 masing masing sudut siku siku.

TEOREMA 1 : Jika dua sudut siku siku, maka keduanya kongruen.


Cara pembuktian :
Diketahui : < A sudut siku -siku.
< B sudut siku -siku.
Buktikan : < A < B
A

Bukti :
Pernyataan

Alasan

1. < A siku-siku

1. Diketahui

2. u < A = 90

2. Def. sudut siku-siku

3. < B siku-siku

3. Diketahui

4. u < B = 90

4. Sama no. 2

5. u < A = u < B

5. Sifat transitif dari kasamaan

6. < A < B

6. Def. kongruensi

Catatan : sudut dapat dinamakan dengan sebuah huruf saja; yaitu dengan titik
sudutnya.

19

TEOREMA 2 : jika dua sudut adalah sudut lurus, maka keduanya kongruen. (Bukti
seperti Teorema 1).

TEOREMA 3 : jika dua sudut saling bersuplemen pada sudut yang sama, maka
keduanya kongruen.
Pembuktian :

Diketahui :
< B suplemen pada < A
< C suplemen pada < A
Buktikan :

<B <C

Bukti :
Pernyataan

Alasan

1. < B suplemen dari <A

1. Diketahui

2. u < B + u < A = 180

2. Def. dua sudut yang bersuplemen

3. u < B = 180 u < A

3. Postulat pengurangan dari kesamaan

4. < C suplemen dari < A

4. Diketahui

5. u < C + u < A = 180

5. Sama No. 2

6. u < C 180 u < A

6. Sama No. 2

7. u < B u < C

7. Sifat Transitif

8. < B < C

8. Def. Kongruensi sudut

TEOREMA 4 : Jika dua sudut saling berkomplemen pada sudut yang sama, maka
kedua sudut itu kongruen. (Bukti seperti teorema 3).

TEOREMA 5 : Jika dua sudut saling bersuplemen terhadap dua sudut yang kongruen,
maka dua sudut itu kongruen.

20

Pembuktian :
D

1
A

C
H

2
E

Diketahui :
< ABD bersuplemen terhadap < 1.
< EFH bersuplemen terhadap < 2.
< 1 < 2.
Buktikan :
< ABD < EFH.

Bukti :
Pernyataan

Alasan

1. < ABD bersuplemen terhadap < 1

(isilah kolom ini sebagai latihan)

2. < ABC sudut lurus


3. < EFH bersuplemen terhadap < 2
4. < EFG adalah sudut lurus
5. < ABC < EFG
6. < 1 < 2
7. < ABD < EFH

TEOREMA 6 : jika dua sudut berkomplemen terhadap dua sudut yang kongruen,
maka keduanya kongruen (Bukti seperti Teorema 5).

DEFINISI 22 : dua sudut bertolak belakang adalah dua sudut sedemikian rupa hingga
kaki kaki dari dutu itu yang satu merupakan sinar yang berlawanan dengan kakikaki sudut yang lain.

21

TEOREMA 7 : jika dua sudut saling bertolak belakang, maka keduanya kongruen.
(Bukti sebagai latihan).

TEOREMA 8 : jika a = x dan b = y sedangkan x = y, maka a = b. (Bukti sebagai latihan).

TEOREMA 8a : jika dua ruas garis kongruen dengan dua ruas garis yang kongruen,
maka keduanya kongruen. (Bukti sebagai latihan).

TEOREMA 8b : jika dua sudut kongruen dengan dua sudut yang kongruen. (Bukti
sebagai latihan).

Tes Formatif
Pada masing-masing soal berikut , pernyataan yang dilengkapi alasan adalah
benar atau tidak benar. Jelaskan jawaban anda untuk setiap kejadian ini :
1. Jika hujan , kita tidak pergi ke dansa.
Sekarang tidak hujan .
Jadi kita pergi ke dansa.
2. Jika AB CD , maka <1 dan <2 sudut siku-siku.
Diketahui AB CD .
Jadi <1 dan <2 adalah sudut siku-siku.
3. Jika suatu sinar adalah bisektor sebuah sudut , maka terbertuk dua sudut yang
kongruen .
Diketahui BA bisektor <B.
Jadi dua sudut kongruen terbenuk.
4. Jika a = b daan c = d , maka a+c = b+d.
a b dan c d .
jadi a+c b+d
Setelah

anda

mengetahui

tentang

kebenaran

bagaimanakah pernyataan-pernyataan berikut.

22

pernyataan

bersyarat,

Apakah benar ?. jika tidak , benarkah alasannya , nyatakan mengapa hal tersebut
perlu diberikan.
5. Jika suatu substansi adalah asam , mengubah litmus biru kertas merah.
Subtstansi mengubah limus biru kertas merah ,
6. Jika x = -2 , maka x2 =4.
Tetapi x2 =4
7. jika sustu sudut adalah kongruen terhadap sudut yang sama, maka mempunyai
ukuran-ukuran yang sama.
<A dan <B tidak kongruen terhadap sudut yang sama.
8. AB BC , jika B adalah titik tengah BC . B adalah titik tengah AC
9. <1 bukan sudut siku-siku , jika AB tidak tegak lurus terhadap CD
AB tegak lurus CD .
10. Dua sudut adalah bersuplemen, jika jumlah ukuran-ukurannya adalah 180.
u <A + u < B = 180.
11. x adalah unsur B, jika x adalah unsur A.
x adalah unsur B.
13. Jika perpotongan AB dan CD adalah himpunan kosong, maka AB dan CD
bukan himpunan yang kosong.

23

BAB V
KONGRUENSI SEGITIGA
DEFINISI 23 : Poligon adalah gabungan himpunan titik-titik P1, P2, P3, . . . P

n-1

, Pn

dengan ruas-ruas garis : P1 P2, P2 P3, . . . . P n - 1 Pn , Pn P1. sedemikian rupa hingga jika
dua sebarang dari ruas garis berpotongan, bertitik potong salah satu dari titik P1, P2,
P3 , . . . ,
P n - 1, Pn dan tidak ada titik lain.
P2

sudut

P3

P 1 , P2 , P3 , . . . P

n-1

, Pn disebut titik-titik

P1
Pn

P4
Pn-1

Poligon, sedangkan P1 P2, P2 P3, . . . . P n 1

P5

Pn disebut sisi- sisi poligon.

Suatu poligon dinamakan dengan titiktitik sudutnya secara berurutan dengan

cara searah

jarum jam, atau berlawan arah jarum


jam.

E
D

Contoh : EDCBA, atau ABCDE, dan

sebagainya.

DEFINISI 24 : korespodensi sudut-sudut dari dua poligon adalah dua sudut dengan
titik sudut dengan titik sudutnya berpasangan, yang merupakan korespondensi
unsur-unsur yang bersesuaian diantara titik sudut-titik sudut dua poligon.

DEFINISI 25 : korespodensi sisi-sisi dari dua poligon adalah dua sisi dengan titik
ujung-titik ujungnya berpasangan yang merupakan korespodensi unsur-unsur yang
bersesuaian diantara titik sudut-titik sudut dari dua poligon.

24

DEFINISI 26 : dua poligon adalah kongruen, jika ada korespodensi 1-1 diantara titiktitiknya sedemikian rupa hingga: (1) semua sisi yang korespondensi kongruen, dan
(2) semua sudut yang korespondensi kongruen.

DEFINISI 27 : segitiga adalah poligon yang bersisi tiga.

POSTULAT 13 : dua segitiga adalah kongruen, jika ada suatu korespondensi diantara
titik sudut-titik sudutnya sedemikianrupa hingga dua sisi dan sudut apitnya dari
sebuah segitiga kongruen terhadap bagian-bagian yang berkorespondensi segitiga
kedua. ( sd s sd ).

ABC DEF

F
N

POSTULAT 14 : dua segitiga adalah kongruen, jika ada suatu korespondensi diantara
titik sudut-titik sudutnya sedemikianrupa hingga dua sudut dan sisi apitnya dari
sebuah segitiga kongruen terhadap bagian-bagian yang berkorespondensi segitiga
yang kedua. ( sd s sd ).
A
D

ABC DEF
B

C
F
E

25

Contoh :

Diketahui :
C

AB DC ; DE AC

BC CE

B
E

Buktikan : DC AC

D
A

Bukti :
Pernyataan

Alasan

1. AB DC

1. Diketahui

2. < ABC sudut siku-siku

2. Def. 2 garis saling


3. Diketahui

3. DE AC

4. Sama No. 2

4. < DEC sudut siku-siku

5. Def.

5. < ABC < DEC

6. Diketahui

6. BC CE

7. Sifat refleksif

7. < C < C

8. ( sd s sd )

8. CDE ABC

9. Akibat dari kongruensi

9. DC AC

dua segitiga

Spesifikasi segitiga :
1. Berdasarkan sisinya :

Sebutan/Nama :

a. 3 sisinya kongruen

segitiga sama sisi

b. 2 sisinya kongruen

segitiga sama kaki

c. tidak ada sisinya yangg kongruen

segitiga sembarang

2. Berdasarkan sudutnya :

Sebutan/Nama :

a. 3 sudutnya sama

segitiga sama sudut

b. 1 sudutnya siku siku

segitiga siku- siku

c. 1 sudut tumpul

segitiga tumpul

d. 3 sudutnya lancip

segitiga lancip

26

DEFINISI 28 31 tentang : segitiga sama sudut, segitiga siku-siku, segitiga sama sisi,
dan segitiga sama kaki. (sebagai latihan).

ABC sama kaki : BC alas segitiga, < B dan < C sudut

sudut alas segitiga, AB dan AC kaki-kaki segitiga.


B

<A dibentuk oleh sisi-sisi yang kongruen, yang disebut


: sudut verteks.

DEFINISI 32 A : Interior dari sebuah sudut adalajh suatu himpunan titik-titik


sedemikian rupa hingga jika sebuah sinar yang titik pangkalnya adalah verteks sudut
tersebut, ditarik melalui sembarang sebuah titik pada himpunan titik-titik itu, sinar
akan terletak diantara sisi-sisi sudut tersebut.

DEFINISI

32 B : Interior pada suatu segitiga adalah himpunan titik-titik yang

merupakan persekutuan sembarang dua interior-interior sudut segitiga tersebut.

POSTULAT 15 ( AKSIOMA PASCH ) : suatu garis berinteraksi dengan salah satu sisi
segitiga dan masuk pada daerah interiornya, pasti berinteraksi dengan sisi yang
kedua dari segitiga tersebut.

POSTULAT 16 : setiap sudut mempunyai bisektor.

TEOREMA 9

: jika dua sisi suatu segitiga adalah kongruen, maka sudut-sudut

dihadapan kedua sisi tersebut kongruen. (Bukti sebagai latihan).

TEOREMA 10 : jika dua sudut suatu segitiga adalah kongruen, maka sisi-sisinya
dihadapan kedua sudut tersebut kongruen.

27

Diketahui : < B < C.


D

Buktikan : AB AC

PQ
C

Bukti :

Pernyataan

Alasan

1. < B < C

1. Diketahui

2. BP dan CQ masing masing bisektor

2. Setiap sudut mempunyai bisektor

< ABC dan < ACB


3. BP dan CQ pasti memotong sisi AB dan

3. Aksioma Pasch

AC masing masing pada E dan D


4. < EBC < DBC

4. kongruensi sudut sudut yang kongruen

5. BC BC

5. Sifat reflektif.

6. EBC DCB

6. ( sd s sd )

7. BE CD

7. Def. kongruensi poligon

8. < BDC < BEC

8. Def. kongruensi poligon

9. < ADC < AEB

9. Dua sudut bersuplemen dengan dua


sudut yang kongruen.

10. < ABE < ACD


11. ABC ACD

10. Sama No. 4

12. AB AC

11. ( sd s sd )
12. Sama No.7

28

DEFINISI 33 : garis tinggi pada suatu segitiga adalah suatu segmen yang ditarik dari
sembarang verteks ( titik sudut ), tegak lurus terhadap sisi dihadapannya (dapat
diperpanjang, jika diperlukan) pada segitiga tersebut.

DEFINISI 34 : garis berat pada suatu segitiga adalah suatu segmen yang ditarik dari
sembarang verteks ke titik tengah sisi dihadapan sudut tadi .

DEFINISI 35 : garis bagi pada suatu segitiga adalah suatu segmen yang membagi dua
sama ukurannya sembarang sudut pada segitiga dan berujung pada sisi hadapannya.

TEOREMA 11 : jika dua segitiga adalah kongruen terhadap segitiga yang sama, maka
kedua saling kongruen, ( Buktikan dengan memakai postulat s sd s ).

POSTULAT 17A : jika suatu titik P terletak pada suatu garis yang diketahui, adalah
mungkin untuk mendapatkan titik yang kedua Q pada garis tersebut sedemikian
rupa sehingga PQ akan kongruen pada sembarang segmen garis AB yang diketahui.

POSTULAT 17B : jika suatu titik diketahui terletak pada suatu garis, ada suatu sudut
yang titik sudutnya adalah titik tadi dan satu pada sisinya terhadap garis tadi adalah
suatu sinar sedemikianrupa hingga sudut tersebut kongruen dengan sembarang
sudut yang diketahui.

Penjelasan :
Dengan garis l yang diketahui dan titik P pada l, adalah mungkin untuk mendapatkan
titik kedua Q pada l, sehingga PQ kongruen dengan segmen AB yang diketahui.

29

Titik P pada garis PQ adalah mungkin untuk mendapattkan suatu sudut (misalnya )
RPQ sedemikinrupa hingga kongruen dengan ABC yang diketahui.

TEOREMA 12 : dua segitiga adalah kongruen jika ada suatu korespondensi


diantara titik sudut-titik sudutnya, ketiga sisi pada sebuah segitiga adalah
kongruen terhadap sisi-sisi yang korespondensi pada segitiga yang lain. ( s s
s)
D

I.
C

II.

D
C

S
R

30

Diketahui :

AB DE
BC EF
AC DF
Buktikan :
ABC DEF

Bukti :

Pernyataan

Alasan

1. Titik B pada BC, terdapat < SBC < DEF

1. Postulat 17

2. Memperluas BS sehingga RB DE

2. Postulat garis

3. RC garis yang melalui titik R dan C

3. Postulat garis

4. RA garis yang melalui titik R dan A

4. Idem

5. BC EF

5. Diketahui

6. DEF

RBC

6. (s-sd-s)

7. RC DF

7. Def .kongruensi poligon

8. AC DF

8. Diketahui

9. Jadi AC RC

9. Sifat transitif kongruensi

10. <CAR < CRA

10. Teorema segitiga sama kaki

11. AB DE

11. Diketahui

12. RB DE

12. Sama no. 2


13. Sama no. 9

13. Jadi AB RB

14. Sama no. 10

14. <BAR < BRA


15. <BAC

15. Postulat (+)

< BRC

16. DEF

RBC

16. ( s ds s )

17. ABC

DEF

17. Teorema 11

31

DEFINISI 36 : suatu lingkaran adalah suatu himpunan titik sedemikian rupa hingga
segmen garis-segmen garis yang ditarik dari masing-masing titik pada
himpunan tersebut ke titik tetap adalah kongruen.
B

Catatan : notasi lingkaran sebagai O, dan titik

tetap
A

Lingkaran disebut titik pusat.

Menurut gambar, segmen-segmen :


AB, AC, AD

kongruen dengan AE , maka

gambar
tersebut lingkaran.

DEFINISI 37 : jari-jari suatu lingkaran adalah segmen garis yang ditarik dari sebarang
titik pada lingkaran tersebut ke pusat lingkaran.

TEOREMA 13 : semua jari-jari pada suatu lingkaran adalah kongruen. (bukti sebagai
latihan).

TEOREMA 14 : dua segitiga siku-siku kongruen, jika ada suatu korespondensi


diantara titik sudut-titik suduttnya, hipotenosa dan satu kaki siku-siku segitiga yang
satu kongruen dengan yang berkorespondensi pada segi tiga yang lain. (bukti seperti
teorema 12).

Dapatkah anda membuktikan bahwa dalam segitiga ABC dengan AB AC ,


maka <ABC <ACB ?.
Diketahui : ABC AB AC , BD

A
D

CE .

Buktikan : <ABC <ACB


B

32

Soal-soal

1. Jika <A <B, <C <F dan <E <D, maka tulislah korespondensi poligon-poligon
ACE dan BDF, dan bahwa korespondensi sudut-sudutnya kongruen.
2. Jika RS WY , ST YX dan TR XW , maka tulislah korespondensi diantara
poligon-poligon RST dan XYW, dengan korespondensi sisi sisinya kongruen.
Apakah komentar anda selanjutnya ?.
a. Gambarlah suatu diagram untuk poligon-poligon RST dan XYW, dengan
korespondensi sisi-sisinya kongruen.
b. Gambarlah poligon untuk ACE dan BDF dari soal no. 1, sudut sudutnya
adalah kongruen. Apakah korespondensi sisi-sisinya juga kongruen ?. Jika
sudut yang berkorespondensi kongruen, dapatkah poligon tersebut
digambarkan bahwa korespondensi sisi-sisinya tidak kongruen ?.
3. Pada poligon berikut, tulislah suatu korespondensi sisi-sisinya yang kongruen,
sebagai tertanda diagram.
a. Apakah sudut-sudut korespondensinya dalam korespondensi juga kongruen
?.
b. Jika sisi-sisi korespondensinya dalam berkorespondensi diantra dua poligon
adalah kongruen, maka sudut-sudut korespondensinya juga kongruen ?.
A

4. Suatu korespondensi ABCD RSTW merupakan kongruensi korespondensi


diantara titik sudut-titik sudut poligon ABCD dan RSTW. Apakah akibat dari
pernyataan tersebut ?.
5. Dalam hal apakah sehingga mungkin dua segitiga kongruen menurut dua
perbedaan kongruensi-kongruensi ?.
6. Jika ada suatu korespondensi diantra titik sudut-titk sudut dua segitiga siku-siku
sedemikian hingga sebuah kaki dan sudut lancip dengan titik sudutnya,

33

merupakan suatu titik ujung kaki dalam segitiga suku-siku yang satu adalah
kongruen terhadap bagian-bagian yang berkorespondensi segitiga siku-siku yang
lain; mungkinkah kedua segitiga tersebut kongruen ?, jelaskan jawabannya !.
7. Jiak definisi kongruensi poligon-poligon digunakan untuk membuktikan dua
segitiga menjadi kongruen, apakah dapat ditunjukkan kebenarannya ?.
8. Kongklusi apakah yang dapat ditarik, jika garis berat dan garis tinggi terhadap
suatu sisi segitiga, merupakan suatu segmen garis yang sama ?.
9. Jika segitiga ABC
implikasi ini, jika

kongruen dengan segitiga EFG, maka <A <E. Kerjakan


ABC

EFG, maka maka <A <E .

10. Dengan memakai metode yang sama terhadap hal yang diketahui pada soal
no.5, buktikan suatu teorema bahwa : Jika dua sudut suatu segitiga kongruen,
maka sisi-sisi dihadapan sudut tersebut adalah kongruen.

Tes Formatif
1.

Perhatikan ilustrasi 1.

Diketahui: CA DB , CB DA .

Buktikan: ABC BAD .

A
Illustration 1

2.

Perhatikan ilustrasi 1.
D

Diketahui: AD AC , AB AE .
Buktikan: ADB ACE .

3.

B
Illustration 2

Perhatikan ilustrasi 3.
D

Diketahui: AC bisektor DB di titik O.


1
2
O
A
34

B
Illustration 3

AC BD .
Buktikan: DC BC .
4.

Perhatikan ilustrasi 4.
Diketahui: DC AB , CDA BAD .

Buktikan: AC DB .
A

5.

Illustration 4

Perhatikan ilustrasi 5.
Diketahui: Segitiga sama sisi ABC .
C

D titik tengan AB .
E

E titik tengan BC .
F titik tengan CA .

D
Illustration 5

Buktikan: ADF , BED , dan CFE


adalah segitiga-segitiga yang kongruen,
dan DEF adalah sama sisi.
6.

Perhatikan ilustrasi 6.

Diketahui: Segitiga sama kaki ABC dan


ABD dengan alas AB .

D
1

Buktikan: 1 2 .
A

7.

2
B

Illustration 6

Perhatikan ilustrasi 7.
E

Diketahui:
F

Segitiga sama kaki AFC dengan alas AC .


G

Segitiga sama kaki BGD dengan alas BD .


H
1

A
35

2 3

B C
Illustration 7

Segitiga sama kaki BHC dengan alas BC .


Buktikan: AED adalah sama kaki.

8.

Perhatikan ilustrasi 8.
D

Diketahui: Titik-titik A, B, dan C segaris.


C

CA AE , 2 A .

G
1

Buktikan: BCF sama kaki.

9.

Illustration 8

Perhatikan ilustrasi 9.
Diketahui: ABC sama kaki dengan alas

AB .

AC BD .
2 E

D
1

AE BC .

1 2 .

Illustration 9

Buktikan: 3 4 .

10. Perhatikan ilustrasi 10.


C

Diketahui: ABC sama kaki dengan alas


AB .

m( AD ) m( DF ) m( DC ) .
E

BF CD .

36

D
Illustration 10

AD DC
Buktikan: 3 4 .

37

BAB VI
KETEGAKLURUSAN

POSTULAT 18 : Jika dua bilangan adalah sama, suatu sibsutitusi pada yang satu ke
yang lain diperbolehkan.

DEFINISI 38

: Sinar PB terletak diantara sinar-sinar PA dan PC berarti bahwa u

<APB + <BPC = u <APC. (Seperti definisi 19).

A
B
P

DEFINISI 39

: Sudut-sudut ABC dan <DBC berserikat, adalah dus sudut sedemikian

hingga keduanya mempunyai titik sudut persekutuan B dan sisi persekutuan BC


yang terletak diantara BA dan BD .

A
C

B
II

Pada gambar I : B adalah titik sudut serikatnya dan BC sisi serikat yang
terletak diantara BA dan BD . Pada gambar II : B adalah titik sudut serikatnya. <
ABC merupakan sudut tumpul dan <CBD merupakan sudut lancip, sedemikian
hingga u <ABC + u <DBC = u <ABD. Jadi BC dapat disebut sisi serikat yang terletak

38

diantara BA dan BD . Cobalah jika <ABC dan <CBD masing-masing sudut tumpul,
apa kesimpulan yang anda peroleh untuk selanjutnya ?. (Lihat definisi 19)

TEOREMA 15: Jika dua garis berpotongan membentuk sudut sudut bersisihan yang
kongruen, maka dua garis tersebut adalah tegak lurus. (Bukti anda coba).

DEFINISI 40: Jarak antara dua bangun geometri adalah ukuran garis hubung yang
terpendek diantaranya.

POSTULAT 19: Garis hubung diantara dua titik adalah segmen garis adalah yang
dibentuk oleh dua titik tersebut.
TEOREMA 16 : Jika dua titik masing-masing berjarak sama dari titik ujung-titik ujung
suatu segmen garis, maka perpotongan garis persekutuannya merupakan bisektor
tegak lurus segmen garis tadi. (Bukti anda coba).

TEOREMA 17

: Jika suatu titik terletak pada bisektor tegak lurus segmen garis,

maka titik tersebut berjarak sama dari titik ujung- titik ujung segmen garis. (Bukti
sebagai latihan, dan ujilah konversnya)

POSTULAT 20 : Setiap segmen memiliki sebuah titik tengah.

TEOREMA 18 : Jika sebuah titik berjarak sama dari titik ujung-titik ujung sebuah
segmen garis, maka titik tersebut terletak pada bisektor tegak lurus segmen garis
tersebut. (Bukti anda coba).

39

Tes Formatif

Pada masing-masing soal ini gambarlah diagramnya, kemudian tulislah yang


diketahui dan kesimpulannya, dan lengkapi buktinya :
1. Diketahui : segitiga sama kaki dengan bisektor sudut pada titik sudutnya.
Buktikan : bisektor sudut pada titik sudutnya adalah tegak lurus terhadap alas.
2. Diketahui : segitiga samakaki dengan dua garis berat terhadap kaki-kaki.
Buktikan : garis yang ditarik dari titik sudut terhadap titik potong dua garis berat
akan tegak lurus terhadap alas.
3. Diketahui : Dua lingkaran berpotongan , sebua ssegmen garis persekutuan
dengan

titik persekutuannya , dan sebuah garis ditarik dari sebuah

lingkkaran ke titik tengah

segmen tersebut.

Buktikan : garis tersebut akan melalui pusat lingkaran yang lain.


Pada masing-masing proposisi berikut , gambarlah diagramnya dan tulislah
diketahui , buktikan , dan bukti.
4. Jika pada poligon bersisi empat sisi-sisi berhadapannya kongruen , maka garis
persekutuan titik sudut-titik sudut yang berhadapan membagi poligon kedalam
dua segitiga kongruen.
5. Jika suatu titik berjarak sama dari titik sudut-titik sudut suatu sudut alas segitiga
samakaki , maka titik tersebut terletak pada bisektor sudut segitiga.

40

BAB VII
BUKTI TIDAK LANGSUNG DAN KESEJAJARAN
POSTULAT 21 : jika a, b dan c adalah bilangan-bilangan positif dengan a = b + c, maka
a > b dan a > c.
Contoh :
1. Jika 5 = 2 + 3, maka 5 > 2 dan 5 > 3
2. Diketahui: A

C , u AC didefinisikan sebagai u AC =

u AB + BC .
Konsekuensi dari postulat tersebut, berarti u AC > u AB dan u AC
+ u BC .

POSTULAT 22 : keseluruhan adalah lebih besar dari sembarang bagian- bagiannya.

DEFINISI 46 : sudut eksterior (luar) pada suatu poligon adalah suatu sudut yang
bersisihan dan bersuplemen terhadap suatu poligon tersebut.

6 7

Sudut 4,5,6,7 disebut sudut eksterior ( luar ) pada segitiga ABC dan sudut 1,2,3
adalah sudut interior ( dalam ) segitiga ABC. Sudut 4,5 disebut sudut eksterior tidak
bersisihan terhadap sudut 2 dan 3

TEOREMA 22 :ukuran suatu sudut eksterior segitiga adalah lebih besar dari ukuran
sudut- sudut interiornya yang tidak bersisihan.

41

Penjelasannya : karena sudut interior yang tidak bersisihan dari sebuah eksterior
segitiga sejumlah dua, maka yang dibuktikan dari hubungan tersebut, haruslah
sebanyak dua.
A

P
M
1

Diketahui: segitiga ABC, ACD sudut eksterior.


Buktikan :

(1) u ACD u A. (dibuktikan)

(3) u ACD u B. (bukti sebagai latihan)


Bukti:
Pernyataan

Alasan

1. M titik tengah AC

1. Setiap segmen mempunyai titik tengah

2. BM garis yang ditarik melalui B dan M

2. Postulat: sebarang 2 titik menentukan garis

3. Perpanjangan BM terdapat P sedemikian


3. Sebarang garis dapat diperpanjang

hingga MP BM

sekehendak dari kedua ujung

4. PC adalah garis yang melalui P dan C

4. ?

5. AM CM

5. Definisi titik tengah

6. AMB CMP

6. ?

7. AMB CMP

7. ?

8. A C1

8. Definisi: kongruensi dari poligon

9. uA = uC1

9. ?

10. uACD uC1

10. ?

11. Jadi uACD uA

11. ?

42

POSTULAT 23 : Salah satu p atau p adalah benar, tidak ada kemungkinan lain
(Hukum penyisihan jalan tengah).

POSTULAT 24 : p dan p kedua-duanya tidak dapat benar pada saat yang sama
(Hukum kontradiksi).

Eksistensi p dan p, kedua-duanya dalam suatu pembuktian dikatakan


tidak konsistennya sifat kelogisan (logical inconsistency), dan untuk hukum
kontradiksi kedua-duanya tidak dapat benar pada saat yang sama. Sehingga dalam
pembuktian perlu adanya eleminasi.
Dasar kerja dari pembuktian dengan eleminasi, dapat diterangkan
sebagai berikut.
1. Ujilah konklusi yang ditanyakan tersebut, selanjutnya untuk dibuktikan.
2. Bentuklah pernyataan yang merupakan kontradiksi dari konklusinya.
3. Setelah menerima pernyataan dari (2), dapatkan pernyataan-pernyataan baru
yang mengarah pada adanya kontradiksi terhadap salah satu menurut: (a)
adanya data yang diketahui, (b) asumsi, (c) definisi, atau (d) teorema.
4. Konklusi selanjutnya dapat dibenarkan setelah mengeleminasi satu dari dua
kemungkinan yang ada, dan satu sisanya pastilah benar. Pembuktian ini disebut
Bukti tidak langsung. Sedangkan penggunaan pembuktian ini, contohnya dapat
dipelajari seperti dibawah ini.
a.
A

F
E

Diketahui:

43

AB DE ,
BC EF ,
AC DF

Buktikan : B E

Bukti: Misal E B, maka dengan diketahuinya AB DE dan BC EF


berakibat ABC DEF. Sehingga AC DF (menurut definisi kongruensi
dua poligon). Hal ini bertentangan dengan yang diketahui bahwa
AC

tidak

DF . Kesimpulannya pemisalan bahwa B E

mengarah pada adanya tidak konsistennya sifat kelogisan, yaitu AC DF


dan AC

DF . Menurut hukum kontradiksi, keduanya tidak

tidak

daapat dibenarkan pada saat yang sama. Jika AC

tidak

DF harus

benar (menurut data yang diketahui), maka AC DF pastilah salah dan


juga lebih salah lagi E B. Jadi B

tidak

E yang harus

benar dari satu-satunya pilihan yang mungkin.

b. Suatu segitiga tidak dapat mempunyai lebih dari satu sudut tumpul.
Diketahui: Segitiga ABC
Buktikan : ACB dan ABC tidak
keduanya sudut tumpul.

44

Bukti:
Misal diterima kemungkinan bahwa ACB dan ABC keduanya sudut
tumpul.
ACB dan ACD adalah sudut-sudut yang bersuplemen, jumlahnya
merupakan sudut lurus. Sedangkan ACB adalah sudut tumpul yang
ukurannya 90o, pastilah

ACD sudut lancip yang ukurannya 90o.

Dengan demikian u ACD tidak lebih dari u ABC. Hal ini kontradiksi dengan
teorema bahwa ukuran sudut pada eksterior segitiga adalah lebih dari sudutsudut interiornya yang tidak bersisihan. Kesimpulannya, permisalan bahwa
ACB dan ABC keduanya tumpul mengarah pada tidak konsistennya sifat
kelogisan, yaitu u ACD tidak lebih dari u ABC dan u ACD u ABC.
Menurut hukum kontradiksi keduanya tidak dapat dibenarkan pada saat
yang sama. Jika uACD u ABC harus yang benar (menurut teorema),
maka u ACD tidak lebih dari u ABC pastilah salah. Jadi untuk pernyataan
bahwa ACB dan ABC keduanya sudut tumpul adalah salah. Tentu
pernyataan ACB dan ABC tidak keduanya tumpul harus benar, yang
merupakan satu-satunya pilihan yang mungkin.
Diketahui : 1 2
Buktikan : garis l tidak berpotongan
dengan m

c.
l

Bukti:

1
l
P
m

45

Misal l dan m berpotongan di R, maka terbentuk PQR yang u 1 u 2.


Padahal diketahui bahwa u 1 = u 2. Kesimpulannya, pemisalan bahwa l
berpotongan dengan m mengarah pada adanya tidak konsistennya sifat
kelogisan, yaitu

u 1 = u 2 dan u 1 u 2. Menurut hukum

kontradiksi keduanya tidak dapat dibenarkan pada saat yang sama. Jika u 1
= u 2 benar (menurut yang diketahui), maka u 1 u 2 harus salah.
Sehingga pernyataan bahwa l berpotongan dengan m harus benar, yang
merupakan satu-satunya pilihan yang mungkin.

DEFINISI 47: garis-garis yang sejajar adalah dua garis yang sebidang dan tidak
berpotongan. Garis a sejajar dengan b dinotasikan dengan a//b.

DEFINISI 48 : suatu transversal adalah suatu garis yang memotong dua garis lain di
dua titik yang berlainan.
Perhatikan gambar berikut.

n adalah transversal garis l dan m, dan


perpotongannya di titik yang berbeda yaitu P dan
Q. Sebarang titik A pada n (menurut pembagian
letak), terletak pada daerah eksterior; demikian
juga untuk A. Sedangkan A terletak di daerah
interior. Pembagian daerah ini ditentukan oleh
pasangan l dan m dari transversal n.

A
P

A
Q

46

DEFINISI 49 : Sudut-sudut berseberangan dalam (alternate angles) adalah dua sudut


yang dibentuk oleh transversal yang memotong dua garis; kedua sudut tersebut
pada daerah eksterior di sisi yang berlawanan dari transversal, dan titik sudut titik
sudutnya berlainan.

DEFINISI 50 : sudut-sudut berseberangan luar (alternate exterior) adalah dia sudut


yang dibentuk oleh transversal yang memotong dua garis; kedua sudut tersebut
pada daerah eksterior di sisi yang berlawanan dari transversal, dan titik sudut titik
sudutnya berlainan.

DEFINISI 51 : sudut-sudut yang sehadap adalah dua sudut yang dibentuk oleh
transversal yang memotong dua garis; sudut-sudut tersebut titik sudut titik
sudutnya berlainan, satu terletak di daerah interior dan yang lain pada daerah
eksteroir tetapi kedua sudut tersebut sepihak dengan transversal.

a. Pasangan
sudut-sudut
yang
berseberangan dalam : 8 dan 2,
3 dan 5.
b. Pasangan
sudut-sudut
yang
berseberangan luar : 1 dan 7,
4 dan 6.
c. Pasangan sudut-sudut sehadap : 4
dan 8, 1 dan 5, 3 dan 7,
2 dan 6.

1
3

8 5
7 6

TEOREMA 23 : jika dua garis dipotong oleh suatu transversal sedemikian hingga
sudut-sudut berseberangan dalamnya kongruen, maka kedua garis tersebut adalah
sejajar. (buktikan sebagai latihan).

TEOREMA 24 : jika dua garis dipotong oleh suatu transversal sedemikian hingga
sudut-sudut sehadapnya kongruen, maka kedua garis tersebut sejajar.

47

Diketahui : 1 2
Buktikan : n//m

Bukti:

Pernyataan

Alasan

1. 1 2

1. Diketahui

2. 3 2

2. Dua sudut bertolak belakang

3. 1 3

3. Dua sudut berseberangan dalam

4. Jadi n // m

4. Teorema 23

TEOREMA 25 : jika dua garis dipotong oleh suatu transversal sedemikian hingga
sudut berseberangan luarnya kongruen, maka kedua garis tersebut sejajar (buktikan
sebagai latihan).
TEOREMA 26 : jika dua garis keduanya tegak lurus pada garis yang sama, maka
kedua garis tersebut sejajar (buktikan sebagai latihan).

POSTULAT 25 : melalui suatu titik yang tidak terletak pada garis yang diketahui ada
satu dan hanya satu garis yang sejajar dengan garis yang diketahui tersebut
(postulat kesejajaran atau postulat kelima Euclid).

TEOREMA 27 : jika dua garis sejajar dipotong oleh transversal, maka sudut-sudut
berseberangan dalamnya kongruen (buktikan sebagai latihan).

48

TEOREMA 28 : jika dua garis sejajar dipotong transversal, maka sudut-sudut


sehadapnya kongruen.

Diketahui : a // b
Buktikan : 1 2

Bukti :
Pernyataan

Alasan

1. a // b

1. Diketahui

2. 2 3

2. Teorema 27

3. 1 3

3. Dua sudut bertolak belakang

4. Jadi 1 2

4. Sifat transitif kongruensi

TEOREMA 29 : jika dua garis sejajar dipotong oleh transversal, maka sudut-sudut
berseberangan luarnya kongruen (buktikan sebagai latihan).

TEOREMA 30 : jika suatu garis tegaklurus terhadap salah satu garis yang sejajar,
maka garis tersebut juga tegaklurus terhadap yang lain (Buktikan sebagai latihan).

TEOREMA 31 : melalui titik yang terletak pada garis yang diketahui, tentu ada satu
dan hanya satu garis yang tegaklurus terhadap garis tersebut.

TEOREMA 32 : dari suatu titik yang tidak terletak pada suatu garis, ada satu dan
hanya satu garis yang tegaklurus terhadap garis yang diketahui tersebut.

49

DEFINISI 52 : suatu segi empat adalah poligon yang bersisi empat.

DEFINISI 53 : jajar genjang adalah segi empat dengan sisi-sisi yang berhadapan
sejajar.

DEFINISI 54 : persegi panjang adalah jajar genjang yang salah satu sudutnya sikusiku.

DEFINISI 55 : persegi adalah persegi panjang dengan dua sisi bersisihannya


kongruen.

DEFINISI 56 : belah ketupat adalah jajar genjang dengan dua sisi bersisihannya
kongruen.

DEFINISI 57 : trapesium adalah segi empat yang mempunyai satu dan hanya satu
pasang sisi sejajar.

DEFINISI 58 : trapesium sama kaki adalah trapezium yang kedua sisi tidak sejajarnya
kongruen.

CATATAN

:
1. diagonal adalah segmen garis yang ditarik dari sebarang dua sudut
yang tidak bersisihan pada poligon.
2. jajar genjang dinotasikan dengan

TEOREMA 33 41 buktikan sebagai latihan !

TEOREMA 33 : sisi-sisi yang berhadapan pada jajar genjang adalah kongruen.

50

TEOREMA 34 : sudut-sudut yang berhadapan pada jajar genjang adalah kongruen.

TEOREMA 35 : diagonal-diagonal pada jajar genjang saling merupakan bisector


terhadap yang lain.

TEOREMA 36 : semua sisi-sisi pada persegi adalah kongruen.

TEOREMA 37 : semua sisi-sisi pada belah ketupat adalah kongruen.

TEOREMA 38 : sudut-sudut alas pada trapezium sama kaki adalah kongruen.

TEOREMA 39 : jika sisi-sisi yang berhadapan pada segi empat adalah kongruen, maka
segi empat tersebut merupakan jajar genjang.

TEOREMA 40 : jika diagonal-diagonal suatu segi empat saling merupakan


bisektornya, maka segi empat tersebut merupakan jajar genjang.

TEOREMA 41 : jika segi empat mempunyai sepasang sisi-sisi yang kongruen dan
sejajar, maka segi empat tersebut merupakan jajar genjang.

Soal-soal
1. Pada diagram di bawah , buktikan bahwa :
u<ACD > u<B (teorema 22).

2. Dapatkah anda menjelaskan suatu pernyataan bahwa sebuah sudut alas suatu
segitiga samakaki tidak dapat berupa sudut tumpul ?.

51

3. Seperti no .2 ,untuk seggitiga siku-siku.


4. ABCD adalah poligon bersisi empat . Sedangkan ukuran sudut eksterior sebarang
poligon lebih besar daripada ukuran sebarang sudut dalam yang berjauhan .
Jelaskan jawaban anda yang terbatas pada poligon ABCD.
A

D
B
C

5. Segitiga samakaki ABCD , AB AC . Alasan

BC diperluas ketitik D . Bisektor

sudut ABC dan ACD berpotongan di E.


Dapatkah anda menjelaskan dalam sebarang keadaan apapun juga bahwa sudut
ECD tidak dapat berupa sudut dari 300 .
6. Jika suatu sudut segitiga tidak terdapat dua sisi yang kongruen , maka sisi-sisinya
dihadapannya tidak kongruen.
7. Jika suatu segitiga tidak terdapatdua sisi yang kongruen , maka bisektor yang
tegak lurus satu sisi tidak melalui titik sudut dihadapannya .
8. Suatu sudut hanya mempunyai sebuah bisektor
9. Dari suatu titik yang tidak pada suatu garis yang dikketahui , dapat dibuat hanya
sebuah garis yang tegak lurus terhadap garis yang diketahui tersebut.
10. Jika dua garis dipotong oleh transversal sedemikian hingga sudut-sudut yang
berkorenspondensi kongruen , maka dua garis tersebut adalah pararel ( sejajar ).
( bukti tidak langsung ).
11. Jika bisektor sudut eksterior suatu segitiga adalah sejajar terhadap salah satu
sisinya,
Mak segitiga tersebut samakaki .
12. Dengan bukti tidak langsung ; buktikan jika dua garis sejajar terhadap garis yang
sama , maka dua garis tersebut sejajar .

52

13. Buktikan : Ada sebuah titik pada lingkaran yang berjarak sama dari dua titik lain
pada lingkaran . Apakah titik tersebut tunggal ? dimana terdapat yang lain ? .
14. Jika garis-garis persekutuan titik titik tengah sisi-sisi jajaran genjang
membentuk suatu belah ketupat , maka jajaran genjang tersebut merupakan
persegi panjang.
Jika sepasang sudut yang berhadapan pada trapesium adalah bersuplemen , maka
trapesium tersebut samakaki.

Tes Formatif
1.

Perhatikan ilustrasi 1.
C

Diketahui: EDC adalah sama kaki dengan


alas ED .

1 D

A 1 .
A
B
Illustration 1

Buktikan: AB // ED .
2.

Perhatikan ilustrasi 2.
E

Diketahui: Segmen AC dan EB bisektor satu

C
D

sama lain di titik D.


A

Buktikan: AE // BC .

3.

Illustration 2

Perhatikan ilustrasi 3.
A

Diketahui: ABE

B
C

E
Illustration 3
53

AB // CD .
AB // CD
CE DE .
Buktikan: AE BE .
4.

Perhatikan ilustrasi 4.

C
4

Diketahui: AD // BE .

B 2

BD // CE .
B adalah titik tengah AC .

D
Illustration 4

Buktikan: BE AD .
5.

Perhatikan ilustrasi 5.
E

Diketahui: ABC

AC BC .

1 2 .

Buktikan: 3 4 .
1
2
D
E
Illustration 5

6.

Perhatikan ilustrasi 6.

D
1

C
2

Diketahui: AC BD . 1 2 .
O

Buktikan: AC bisektor BD .
A

7.

B
Illustration 6

Perhatikan ilustrasi 7.

Diketahui: DEC adalah sama kaki dengan


D

l1

DC EC .
l1 // l2 .

l2

B
Illustration 7

54

Buktikan: ABC adalah sama kaki.

8.

Perhatikan ilustrasi 8.

E
B

Diketahui: AC dan ED bisektor satu sama

Illustration 8

lain. Buktikan: AE // CD
9.

Perhatikan ilustrasi 9.
a. If m(A) 700 dan m(B) 600 ,
tentukan m( C ) .
C

b. If m(A) 700 dan m(C ) 600 ,


tentukan m(1) .
c. If m(ABC) 500 dan CB AB ,

B
Illustration 9

tentukan m(A) .
d. If m(1) 1350 dan AC BC , tentukan
m( C ) .

10. Perhatikan ilustrasi 10.

C
1
2

a. Tentukan m(2) .

b. Tentukan m(ACB ) .
c. Tentukan m(1) .

d. Tentukan m(3) .

55

800

D
E
Illustration 10

700 B

BAB VIII
SUDUTSUDUT PADA POLIGON

TEOREMA 42 : Jumlah ukuran ukuran sudut suatu segitiga sama dengan 180o.
C
1

2 3
2

Diketahui : segitiga ABC


Buktikan :
u < A + u < B + u < 2 = 180o

Bukti :
Pernyataan
1. 1

adalah

garis

Alasan

yang

melalui

B ( sebagai latihan )

sedemikian hingga 1 // AB
2. u < 123 = 180o
3. u < 123 = u < 1 + u < 2 + u < 3 = 180o
4. < A < 1 dan < B < 3
5. Jadi u ( < A + < B + < 2 ) = 180o

TEOREMA 43 : jika dua sudut pada suatu segitiga adalah kongruen terhadap dua
sudut segitiga yang kedua, maka sudut yang ketiganya kongruen (buktikan sebagai
latihan).
A
D

TEOREMA 44 : dua segitiga adalah kongruen jika ada suatu korespodensi diantara
titik sudut titik sudutnya sedemikian hingga dua sudut dan satu sisi yang

56

berhadapan pada segitiga yang satu kongruen terhadap bagianbagian yang


berkorespodensi dengan segitiga yang lain (bukti sebagai latihan)

Ilustrasi :

Diketahui : < A < D, AC DF


<B <E ,
B

Buktikan : ABC DEF

TEOREMA 45 : Ukuran sudut eksterior suatu segitiga adalah sama dengan jumlah
ukuran ukuran sudut dalam yang tidak bersisihan (bukti sebagai latihan).

TEOREMA 46 : sudut sudut lancip pada segitiga siku siku adalah bersuplemen
(bukti sebagai latihan).
DEFINSI 54 : poligon konveks adalah poligon yang masing masing sudutnya lebih
kecil dari sudut lurus.

A
E

E
D

Poligon Konveks

Poligon tidak konveks

TEOREMA 47 : jumlah ukuran-ukuran sudut suatu poligon dengan n sisi adalah 180
(n-2)
Diketahui :
s

Poligon ABCD ..bersisi n

f
y

Buktikan :

u<A + u<B + u<C + = 180

(n-2)

57

Bukti :
Pernyataan

Alasan

1. P titik interior poligggon ABCD .dan

(untuk latihan)

PA garis yang melalui p dan A


2. Dibenarkan juga untuk PB , PC , PD ,
..
3. u<I + u<w + u<x =180
u<2 + u<y + u<z = 180
.

.
4. u<x + u<y = u<A
u<z + u<v = u<B

**

.
5. u<1 + u<2 + =360 ***
6. u<P +u<A + u<B = n. 180
7. 360 + u<A + u<B = n. 180
8. u<A + u<B = n. 180 360
9. Jadi :
u<A + u/B = 180 (n-2)
= (n 2).180

TEOREMA 48 : jumlah ukuran-ukuran sudut eksterior suatu poligon yang dibeeentuk


oleh perpanjangan sisi-sisi pada urutan yang sama , sama dengan 360 (bukti
sebagai latihan).

58

A
5
6

1
D

2
8

10

9
7

Diketahui : poligon ABCD . dengan n sisi


Buktikan : jumlah ukuran-ukuran sudut eksterior =360o
Ilustrasi :
u<D + u<E + = n. 180o
(u<D2 + u<E4 + u<B8 + ) + (u<D1 + u<E3 + u<B7 +) = n. 180o
(n 2 ). 180 + ( u<D1 + u<E3 + u<B7 + ) = n. 180o
n. 180 360 + (u<D1 + u<E3 + u<B7 + ) = n. 180o
Jadi , u<D1 + u<E3 + u<B7 + = 360o.

POSTULAT 26 : diketahui sebarang dua bilangan a dan b , satu dan hanya satu
diantara tiga hubungan a<b , a=b , a.>b adalah benar (eksistensi dan ketunggalan
urutan).

POSTULAT 27 : diketahui sebarang tiga bilangan a,b dan c dengan a.>b dan b>c,
maka a>c (sifat transitif dari urutan).
Contoh :

1 D
C

B
59

Diketahui : segitiga ABC u AC > u AB


Buktikan : u < ABC > u<C
Bukti : (sebagai latihan)
Petunjuk : ukuran AB AD , dan tunjukkan u<D1 > u<C.
Soal-soal

1. Pada diagram sebelah , BD dan CD adalah bisektor sudut eksterior EBC dan
FCB .
Tunjukkan dengan sebarang cara

bahwa : u<D = 90 u<A

F
D

2. Dari titik tengah dari sebuah sisi segitiga , segmen-segmen ditarik tegak lurus
terhadap dua sisi yang lain . Jika kedua segmen yang tegak lirus tersebut tidak
kongruen , maka kedua sisi tersebut tidak kongruen . (tunjukkan dengan bukti
tidak langsung ).
3. Ukuran masing-masing sudut pada sebuh poligon bersudut sama adalah lima
kali sam dengan ukuran sebuh sudut eksterior poligon tersebut . Apa nama
poligon itu ?.
4. Berapa bannyaknya sisi suatu poligon , jika jumlah ukuran sudut-sudutnya lima
kali sama dengan jumlah ukuran sudut-sudut eksterior ? .
5. Diketahui : DA AB

CB AB

C
A
60

u DA u CB
Buktikan : u<C u <D
6. Jelaskan mengapa sebuah sudut pada poligon bersudut sama , tidak dapat 130o ?
.

Tes Formatif
1.

Perhatikan ilustrasi 1.

Diketahui: EDC adalah sama kaki dengan


1 D

alas ED .

A
B
Illustration 1

A 1 .

Buktikan: AB // ED .
2.

Perhatikan ilustrasi 2.

C
D

Diketahui: Segmen AC dan EB bisektor satu


sama lain di titik D.

Illustration 2

Buktikan: AE // BC .

3.

Perhatikan ilustrasi 3.

B
C

Diketahui: ABE

E
Illustration 3

AB // CD .
AB // CD
CE DE .

61

Buktikan: AE BE .
4.

Perhatikan ilustrasi 4.

C
4

Diketahui: AD // BE .

B 2

BD // CE .
B adalah titik tengah AC .

D
Illustration 4

Buktikan: BE AD .

5.

Perhatikan ilustrasi 5.

Diketahui: ABC

AC BC .
1 2 .

Buktikan: 3 4 .

6.

2
1
D
E
Illustration 5

Perhatikan ilustrasi 6.

D
1

C
2

Diketahui: AC BD .
O

1 2 .
A

Buktikan: AC bisektor BD .

7.

B
Illustration 6

Perhatikan ilustrasi 7.

Diketahui: DEC adalah sama kaki dengan


D

l1

DC EC .
l1 // l2 .

l2

Buktikan ABC adalah sama kaki.

8.

B
Illustration 7

Perhatikan ilustrasi 8.

E
A
62

B
Illustration 8

C
D

Diketahui: AC dan ED bisektor satu sama


lain. Buktikan: AE // CD

9.

Perhatikan ilustrasi 9.
C
0

a. If m(A) 70 dan m(B) 60 ,


tentukan m( C ) .

b. If m(A) 700 dan m(C ) 600 ,


tentukan m(1) .
c. If m(ABC) 500 dan CB AB ,
tentukan m(A) .
d. If m(1) 1350 dan AC BC , tentukan
m( C ) .

63

B
Illustration 9

DAFTAR PUSTAKA

Greenberg, M.J. 1993. Eucledian and Non-Eucledian Geometries. New York:


Freeman and Company.
Gustafson, R.D. 1991. Elementary Geometry. New York: John Wiley & Sons.
Inc.
Kusno. 2002. Geometri Euclid Bidang Studi Luas Poligon, Lingkaran, dan
Deformasi Objek Geometri Bidang. Jember: Fakultas Matematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam.
Lewis, H. 1968. Geometry a Contemporary Course. New York: Van Nostrand
Company.
Moise, M.M. Elementary Geometry From an Advanced Standpoint. London:
Addison Wesley.

64