Anda di halaman 1dari 56

4

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Wilayah pesisir Indonesia memiliki potensi pembangunan yang begitu
besar. Menurut Dahuri et al., (1996) potensi pembangunan yang terdapat di
wilayah pesisir dan lautan secara besar terdiri dari tiga kelompok : 1) sumberdaya
dapat pulih (renewable resources), sumberdaya tidak dapat pulih (un renewable
resources) dan 3) jasa jasa lingkungan (environmental service).
Salah satu bahan pencemar yang dapat mengancam kehidupan di
wilayah pesisir dan lautan adalah logam berat (heavy metal) seperti Timbal (Pb).
Penambahan kandungan logam berat di perairan yang berasal dari aktivitas
aktivitas yang berada di wilayah pesisir telah mengancam organisme yang hidup
di dalamnya. Sebetulnya secara alamiah perairan laut mengandung logam berat,
namun dalam jumlah yang sangat kecil.
Keberadaan logam berat selain dapat membunuh secara langsung pada
konsentrasi yang sangat tinggi terutama masa larva, logam berat ini juga dapat
diakumulasikan oleh organisme perairan walaupun dalam konsentrasi yang
rendah di kolom air. Kennish (1992) berpendapat bahwa invertebrata laut dan
estuaria, khususnya molluska memekatkan atau menumpuk logam berat dalam
tubuhnya. Apabila manusia mengkonsumsi organisme yang telah memekatkan
logam berat ini dalam waktu yang lama dapat berbahaya, seperti di Jepang yang
dikenal dengan peristiwa Minamata, menyebabkan kematian atau cacat karena
mengkosumsi kerang kerangan yang tercemar Merkuri (Hg).

4
Buangan limbah yang masuk ke perairan akan mempengaruhi berbagai
organisme yang hidup dan berasosiasi di dalamnya. Salah satu bahan pencemar
yang dihasilkan adalah Timbal (Pb) yang masuk ke dalam lingkungan perairan
laut berasal dari peningkatan aktifitas perindustrian dan pembuangan limbah
rumah tangga di daerah tersebut.
Sebagai daerah perkotaan yang padat penduduk, Perairan Lolong Belanti
Kecamatan Padang Utara Sumatera Barat diperkirakan telah kemasukan bahan
pencemar yang cukup banyak. Selain itu, perairan ini merupakan kawasan lalu
lintas perairan yang cukup penting.
Kompleksnya aktifitas Perairan Lolong Belanti Kecamatan Padang Utara
Sumatera Barat dan sekitarnya dapat memberikan masukan bahan pencemar
Timbal (Pb), yang umumnya banyak dari limbah domestik. Untuk melihat
pengaruh dari aktifitas manusia terhadap masuknya bahan pencemar Timbal (Pb)
yang ada di perairan dapat diketahui dengan melihat konsentrasi Timbal (Pb)
yang terakumulasi pada organ tubuh organisme yang hidup di sekitar perairan
tersebut. Kerang Bulu (Anadara sp) yang terdapat di daerah Perairan Lolong
Belanti Kecamatan Padang Utara Sumatera Barat ini selain mudah ditemukan
juga merupakan hewan yang hidupnya menetap dan berasosiasi di wilayah pantai
sehingga ikan ini diduga mengakumulasi zat - zat yang terkandung dalam badan
perairan termasuk Timbal (Pb).

1.2. Perumusan Masalah


Salah satu pencemar yang berpotensi dapat menurunkan dan merusak daya
dukung lingkungan adalah Timbal (Pb). Sumber bahan pencemar Timbal (Pb) di

4
Perairan Lolong Belanti Kecamatan Padang Utara Sumatera Barat berasal dari
kegiatan industri, pemukiman penduduk, alur pelayaran, sehingga diperkirakan
dapat memberikan andil yang cukup besar terhadap terjadinya masukan Timbal
(Pb) di Perairan Lolong Belanti Kecamatan Padang Utara Sumatera Barat,
khususnya terhadap Kerang Bulu (Anadara sp) dengan ukuran yang berbeda,
karena Kerang Bulu (Anadara sp) dapat mengakumulasi Timbal (Pb) dengan
konsetrasi yang berbeda berdasarkan ukuran yang berbeda. Oleh sebab itu akan
memberikan dampak yang buruk terhadap ekosistem perairan.

1.3. Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan Timbal (Pb) pada
Kerang Bulu (Anadara sp) dengan ukuran yang berbeda di Perairan Lolong
Belanti Kecamatan Padang Utara Sumatera Barat.

1.4. Manfaat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang
kandungan Timbal (Pb) pada Kerang Bulu (Anadara sp) dengan ukuran yang
berbeda di perairan Bagan Deli Belawan Sumatera Utara, yang nantinya dapat
memberikan informasi tentang ukuran Kerang Bulu (Anadara sp) yang layak
dikonsumsi serta juga dapat dijadikan sebagai informasi dasar dalam keperluan
pengembangan wilayah perairan yang berwawasan lingkungan.

4
1.5. Hipotesis
Hipotesis yang dipergunakan pada penelitian ini adalah : tidak terdapat
perbedaan kandungan Timbal (Pb) dengan ukuran Kerang Bulu (Anadara sp)
yang berbeda di perairan Bagan Deli Belawan Sumatera Utara .

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pencemaran Perairan Laut


Pencemaran laut adalah masuk atau dimasukannya zat, makhluk hidup,
energi, atau komponen lain ke dalam air atau berubahnya tatanan air oleh kegiatan
manusia atau oleh proses alami sehingga kualitas air turun sampai tingkat tingkat
tertentu yang menyebabkan air kurang berfungsi sesuai dengan peruntukannya
(Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup, 1988). Gesamp (1985)
mengemukakan bahwa pencemaran laut adalah masuknya atau dimasukannya zat
atau energi oleh manusia baik secara langsung maupun tidak ke dalam lingkungan
laut yang menyebabkan efek merugikan karena merusak sumberdaya hayati,
membahayakan kesehatan manusia, menghalangi aktivitas di laut termasuk
perikanan, menurunkan mutu air laut yang digunakan dan mengurangi
kenyamanan di laut.
Secara umum sumber pencemaran di lingkungan pesisir dan laut dapat
bersumber dari limbah cair pemukiman (sewage), limbah cair perkotaan,
pertambangan, pelayaran, pertanian dan perikanan budidaya. Bahan pencemar
utama yang terkandung dalam buangan limbah tersebut berupa sedimen, logam
beracun (toxic metal), pestisida , organisme patogen, sampah dan bahan - bahan
yang menyebabkan oksigen terlarut berkurang (Pramaribo, 1997).
Menurut Sastrawijaya dan Tresna (1991), bila ditinjau dari sumbernya
maka bahan pencemar perairan laut dapat digolongkan atas : 1) Bahan Pencemar
yang bersifat kimiawi, yang terdiri dari bahan pencemar yang bersifat anorganik

4
contohnya asam, alkali dan logam - logam berat, bahan pencemar yang bersifat
organik. Contohnya pestisida, pupuk, minyak, limbah dari pabrik makanan dan
minuman, 2) bahan pencemar yang bersifat biologis disebabkan oleh
mikroorganisme tanah, sampah domestik, sampah yang berasal dari industri
pengolahan makanan kaleng serta sampah dan limbah peternakan, 3) Sumber
bahan pencemar yang bersifat fisik meliputi : erosi dan sedimentasi, limbah cair
panas dari industri listrik (PLTU/PLTD), kapal laut, pabrik tekstil atau cat yang
mengubah warna perairan serta limbah organik yang telah membusuk yang
menimbulkan bau.
Berdasarkan sifat pengurainya, zat pencemar (pollutant) dapat dibagi
menjadi dua kelompok yaitu : a) zat pencemar tahan urai (non biodegradable
pollutant), misalnya persenyawaan logam berat, senyawa Merkuri (Hg), phenol,
pestisida dan sebagainya, dan b) mudah terurai (biodegradable pollutant),
misalnya sampah - sampah domestik yang mudah membusuk oleh proses alami
Hamidah dalam Yudha (1993).
Zat pencemar (pollutant) dapat digolongkan atas beberapa kelompok
berdasarkan pada jenis, sifat dan sumbernya. Berdasakan jenis, limbah
dikelompokkan atas golongan limbah padat dan limbah cair. Berdasarkan pada
sifat yang dibawanya, limbah dikelompokkan atas limbah organik dan limbah an
organik. Selanjutnya berdasarkan pada sumbernya, limbah dikelompokkan atas
limbah rumah tangga atau limbah domestik dan limbah industri (Palar, 1994).
Lautan sebagai salah satu lingkungan hidup dapat tercemar yang berasal
dari kegiatan manusia di sepanjang pantai atau lautan sendiri (Thoha, 1991).
Lautan dapat melarutkan dan menyebarkan bahan - bahan tersebut sehingga

4
konsentrasinya menjadi menurun, terutama di daerah laut dalam. Kehidupan
laut dalam juga terbukti lebih sedikit terpengaruh daripada laut dangkal. Daerah
pantai, terutama daerah muara sungai, sering mengalami pencemaran berat, yang
disebabkan karena proses pencemaran yang berjalan sangat lambat (Darmono,
2001).
Baik secara langsung maupun tidak, perairan laut sudah sejak lama
berfungsi sebagai terminal buangan limbah dari berbagai kegiatan manusia
(Nybakken, 1988). Beberapa penyebab antara lain lingkungan akuatik pada
umumnya berada pada daerah yang rendah, masih adanya anggapan bahwa air
merupakan pelarut universal, kurang mendalamnya dan kurang disadarinya bahwa
lingkungan perairan mempunyai batas kemampuan untuk menerima limbah
(Surjadi, 1993).
Air merupakan komponen ekologis yang mutlak diperlukan dari proses
hidup dan kehidupan biota. Nilai guna air dan sumber daya perairan ditentukan
oleh kualitasnya yang sangat berkaitan dengan semua kegiatan yang ada di
sekitar perairan tersebut (Amrizal, 1991). Kualitas air di sekitar muara sungai
dan perairan pantai ditentukan oleh limbah - limbah yang terbuang baik secara
langsung maupun tidak langsung dalam bentuk bahan organik, anorganik dan
bahan - bahan tersuspensi (Ubbe, 1992).

4
Proses-proses yang terjadi bila zat pencemar masuk ke ekosistem laut
dapat dilihat pada bagan berikut :
2.2. Kerang (Anadara sp)
Kerang merupakan hewan yang termasuk ke dalam Phylum : Molusca,
Klass : Bivalva ; Ordo : Arcoida ; Famili : Arcidae ; Sub Famili : Anadarinae ;
Genus : Anadara ; Species : Anadara inflata (Broom, 1985). Selanjutnya
ditambahkan bahwa famili Arcidae ini mempunyai ciri - ciri : bentuk cangkang
yang substriangular, pada bagian luar cangkangnya seimbang. Masing - masing
hinge mempunyai tiga gigi kecil yang vertikal dan seimbang di bawah puncak.
Mempunyai satu anterior dan posterior yang lateral, pigmen eksternal.

4
Kelas bivalva bernafas dengan insang. Insang membagi rongga mantel
menjadi dua bagian, yaitu ventral inhalent yang lebih lebar dan dorsal ekshalent
yang lebih kecil. Kebanyakan bivalva adalah ciliary feeder yang memakan
phytoplankton dan jasad renik lainnya (Barnes, 1974).
Jenis kerang - kerangan sangat baik digunakan sebagai indikator tingkat
pencemaran suatu perairan, karena kerang ini mempunyai sifat adalah menyaring
makanan (filter feeder) dan hidup menetap (sessil). Dengan demikian akan terjadi
akumulasi unsur - unsur kimia yang terlarut di dalam air pada tubuhnya (Broom,
1985).
Kerang Bulu (Anadara sp) merupakan salah satu jenis kerang -kerangan
yang sering dikomsusi oleh masyarakat. Selain itu juga merupakan sumber
pendapatan ekonomi dan pangan penduduk di kawasan pantai. Disamping itu
manfaat lain dari Kerang Bulu (Anadara sp) merupakan indikator yang baik bagi
lingkungan, apakah lingkungan tersebut tercemar atau tidak oleh bahan -bahan
yang dapat merugikan bagi mahkluk hidup di sekitar lingkungan tersebut
(Hutagalung, 1981).

2.3. Karakteristik Timbal (Pb)


Hamidah dalam Yudha (1993) berpendapat bahwa di perairan logam berat
ada yang terlarut dan ada yang tidak terlarut. Gesamp (1985) mengemukakan
bahwa logam berat yang terlarut terdiri dari ion bebas dalam air dan logam
kompleks dengan senyawa organik dan anorganik. Logam berat yang tidak
terlarut terdiri dari partikel koloid dan senyawa logam kompleks terabsorbsi pada
zat tersuspensi.

4
Unsur dengan berat jenis lebih dari 5 g/cm

yang di dalam susunan

berkala unsur - unsur (sistem periodik) memiliki nomor atom 22 hingga 93 pada
periode 3 sampai dengan periode 7 disebut logam berat (Hutagalung, 1993).
Palar (1994) mengemukakan bahwa logam berat termasuk golongan
logam dengan kriteria - kriteria yang sama dengan logam - logam lain,
perbedaannya terletak dari pengaruh yang dihasilkan bila logam berat ini
berikatan dan atau masuk ke dalam tubuh organisme hidup. Dimana karakteristik
dari kelompok logam berat adalah : 1) memiliki spesifikasi graviti yang sangat
besar (lebih dari 4), 2) mempunyai nomor atom 22 - 34 dan 40 - 50 serta unsur unsur lantanida dan aktinida, dan 3) mempunyai respon biokimia khas pada
organisme hidup.

2.3.1. Logam Timbal (Pb)


Timah hitam/Timbal mempunyai lambang unsur Pb (Plumbum). Timbal
(Pb) adalah unsur berat pada sistem periodik di grup IV A dengan nomor atom 82
dan berat atom 207,19 (Whitfield at al., 1981). Logam berat Plumbum (Pb) tidak
begitu beracun dibanding Cadmium (Cd) dan Hergerium (Hg). Namun menurut
Halstead dalam Hutagalung dan Razak (1981), unsur ini bersifat kronis dan
akumulatif.
Ion Pb

2+

merupakan bentuk utama di lingkungan laut (Whitfield et al.,

1981). Dalam bentuk larutan ion Pb2+ pada kondisi yang tepat akan berubah
menjadi senyawa alkid lead di lingkungan dan bahan - bahan lead sulfida dapat
juga terbentuk di bawah kondisi anaerobik pada sedimen (Wood, 1980). Timbal
(Pb) banyak digunakan dalam pembuatan lempengan baterai dan aki. Selain itu

4
logam Pb juga digunakan sebagai bahan peledak, pateri, pembungkus kabel,
pigmen, cat anti karat dan pelapisan logam (Hutagalung, 1981).
Menurut Palar (1994), Timbal (Pb) dan persenyawaannya dapat berada
dalam badan perairan secara alamiah dan sebagai dampak dari aktivitas manusia.
Secara alamiah Timbal (Pb) dapat masuk ke badan perairan melalui pengkristalan
Timbal (Pb) di udara dengan bantuan air hujan. Di samping itu proses pelapukan
dari bantuan mineral akibat hempasan gelombang dan angin juga merupakan
salah satu jalur sumber Timbal (Pb) yang akan masuk ke badan perairan. Timbal
(Pb) yang masuk ke dalam badan perairan sebagai dampak aktivitas manusia ada
bermacam bentuk seperti : air buangan dari yang berkaitan dengan Timbal (Pb),
air buangan dari penambangan biji timah hitam dan sisa pembuangan industri
baterai.

2.4. Pencemaran Laut Oleh Logam Berat


Bahan pencemar logam berat biasanya masuk dari darat (Windom, 1992).
Pencemaran logam berat yang masuk ke lingkungan laut kebanyakan terjadi
akibat adanya buangan limbah industri yang masuk melalui tiga cara yaitu : 1)
pembuangan limbah industri yang tidak dikontrol, 2) lumpur minyak yang juga
mengandung logam berat dengan konsentrasi tinggi, 3) adanya pembakaran
minyak hidrokarbon dan batubara di daratan dimana logam berat dilepaskan di
atmosfir dan akan bercampur dengan air hujan dan jatuh ke laut (Hutabarat dan
Evans, 1985).
Limbah industri yang mengandung bahan berbahaya dan beracun akan
terbawa oleh sungai atau udara ke lingkungan laut. Secara sederhana bahan

4
cemaran tersebut akan mengalami tiga macam proses akumulasi, yaitu proses
fisik, kimia dan biologi (Hutagalung, 1994). Pencemaran laut oleh logam berat
menyebabkan efek yang merugikan karena dapat merusak sumberdaya hayati,
membahayakan

kesehatan

manusia,

menghalangi

aktivitas

perikanan,

menurunkan mutu air laut dan merugikan kenyamanan di laut (Hutagalung, 1993).
Di dalam air biasanya logam berikatan dalam senyawa kimia atau dalam
bentuk logam ion, bergantung pada tempat logam tersebut berada. Tingkat
kandungan logam pada setiap tempat sangat bervariasi, bergantung pada lokasi,
dan tingkat pencemarannya (Darmono, 2001).
Peningkatan logam berat dalam air laut, selain disebabkan oleh
peningkatan aktivitas di sekitar perairan, dapat pula disebabkan oleh rendahnya
pH dan salinitas, tingginya suhu dan masuknya nutrien dari muara ke dalam laut
Bewers dalam Zulkifli (1994).
Hoshika et al., (1991) mengemukakan bahwa keberadaan logam berat
dalam perairan dipengaruhi oleh pola arus. Arus perairan dapat menebarkan
logam berat yang terlarut dalam air laut permukaan ke segala arah. Menurut
Gesamp (1985), bahwa tinggi atau rendahnya kadar logam berat dalam suatu
perairan bukan saja dipengaruhi oleh letaknya yang jauh dari pantai, tetapi juga
sangat tergantung pada kondisi perairan setempat.

2.5. Pengaruh Logam Berat Terhadap Organisme Perairan


Logam berat yang terlarut dalam badan perairan pada konsentrasi tertentu
akan berubah fungsi menjadi sumber racun bagi perairan. Meskipun daya racun
yang dihasilkan oleh suatu jenis logam berat tidak sama, namun kehancuran dari

4
suatu kelompok dapat menjadi terputusnya satu rantai kehidupan. Pada tingkat
selanjutnya keadaan tersebut tentu saja dapat menghancurkan suatu tatanan
ekosistem (Palar, 1994).
Palar (1994) mengemukakan bahwa logam berat dapat mengumpul dalam
tubuh organisme dan akan tetap tinggal dalam tubuh pada waktu yang lama
sebagai racun yang terakumulasi. Pengeluaran logam berat dari tubuh organisme
laut melalui dua cara yaitu ekskresi permukaan tubuh dan insang, serta melalui isi
perut dan urine (Bryan, 1984).
Pencemaran

logam

berat

pada

air

laut

akan

menyebabkan

terkontaminasinya organisme perairan seperti gastropoda, udang, cumi cumi,


kerang dan lain lain (Unep, 1982). Peningkatan kandungan logam berat
dalam perairan dapat menyebabkan peningkatan kandungan logam berat yang
terakumulasi dalam tubuh organisme laut (Sanusi et al., 1984).
Sebagian logam berat dalam jumlah mikro bersifat penting (essensial) bagi
organisme dan juga dapat bersifat racun yang sangat berbahaya (Zulfitri, 1990),
sehingga merugikan pertumbuhan organisme dan menganggu metabolisme sel
(Hutagalung, 1993).
Suatu logam berat dapat dipandang sebagai racun apabila logam - logam
berat tersebut merugikan pertumbuhan atau metabolisme sel, bila logam berat
tersebut berada di atas konsentrasi yang diperkenankan (Hutagalung, 1993).
Kadar logam berat yang terlalu rendah dalam suatu perairan dapat menyebabkan
organisme yang hidup di dalamnya menderita defisiensi (Bryan, 1984). Menurut
Thoha (1991), bahan pencemar yang masuk ke dalam perairan akan membunuh
biota yang paling peka, sehingga mengganggu rantai makanan dalam perairan

4
tersebut. Terputusnya salah satu rantai makanan dapat menyebabkan beberapa
jenis biota tidak hidup normal. Agar biota perairan dapat hidup layak, yaitu dapat
tumbuh dan berkembang biak secara normal, maka diperlukan baku mutu untuk
biota tersebut.

2.6. Pengaruh Logam Berat Terhadap Manusia


Selain pengaruh negatif toksisitas logam terhadap hewan, yang paling
penting dan menjadi perhatian utama adalah akibatnya terhadap manusia.
Beberapa kasus keracunan logam pada manusia telah banyak dilaporkan, sehingga
ada nama khusus terhadap keracunan logam tertentu, yaitu : Minamata disease
karena keracunan metil Merkuri, itai - itai disease karena keracunan Kadmium
(Cd) dan plumbism karena keracunan Timbal (Pb). Keracunan akut dari logam
berbahaya tersebut biasanya terjadi pada orang yang termakan dosis tinggi logam
yang bersangkutan atau karena pengaruh pemberian abat yang mengandung
logam. Hal tersebut biasanya terjadi pada kelompok orang tertentu atau
perorangan. Tetapi pada keracunan kronis yang disebabkan oleh orang yang
mengkonsumsi logam dalam jumlah sedikit tetapi berlangsung lama biasanya
terjadi dalam komunitas atau penduduk yang tinggal dalam suatu lingkungan
yang tercemar (Darmono, 2001).
Logam
membahayakan

berat

secara

manusia

langsung

seperti

maupun

Timbal

(Pb)

tidak
dapat

langsung

dapat

mengakibatkan

penghambataan sistem pembentukan hemoglobin (Hb) sehingga menyebabkan


anemia, terganggunya sistem syaraf pusat dan tepi, sistem ginjal, sistem
reproduksi, idiot pada anak - anak, sawan (epilepsi), cacat rangka dan merusak

4
sel - sel somatik (Darmono, 2001). Walaupun jumlah Timbal (Pb) yang diserap
oleh tubuh hanya sedikit, logam ini ternyata menjadi sangat berbahaya. Hal ini
disebabkan senyawa senyawa Timbal (Pb) dapat memberikan efek racun
terhadap banyak organ yang terdapat dalam tubuh (Palar, 2004)

2.7. Faktor Yang Mempengaruhi Akumulasi Logam Berat Bagi Organisme

Bahan pencemar logam berat biasanya berasal dari darat, (Windom,


1992). Bagian terbesar terbawa oleh aliran sungai (Bewers et al., 1990). Pada saat
memasuki laut, kadar logam berat sangat dipengaruhi oleh pasang surut air laut.
Karena berasal dari darat maka kadar logam berat pada air laut surut lebih tinggi
dibandingkan pada saat air laut pasang (Hutagalung, 1993).
Menurut Leckie dan James dalam Palar (2004), kelarutan dari unsur
unsur logam dan logam berat dalam badan perairan dikontrol oleh : 1) pH badan
air, 2) jenis dan konsentrasi logam dan Khelat, 3) keadaan komponen mineral
terosidasi dan sistem yang berlingkungan redoks. Ditambahkan oleh Ubbe (1992)
bahwa bahan pencemar logam berat dalam perairan dapat dipengaruhi oleh
parameter oseanografi antara lain suhu, salinitas, pH, kecepatan arus, turbulensi
dan gelombang.
Bewers et al., (1990) menambahkan bahwa hubungan konsentrasi logam
berat dengan salinitas. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa pada salinitas
rendah, konsentrasi logam berat tinggi. Apabila konsentrasi logam berat dalam air
rendah maka salinitas tinggi.

4
Ada banyak faktor yang mempengaruhi daya racun dari logam logam
berat yang terlarut dalam badan perairan yang dapat mempengaruhi organisme
perairan. Dari sekian banyak faktor yang menjadi penentu dari daya racun
yang ditimbulkannya oleh logam logam berat terlarut, ada 4 faktor yang
sangat penting. Faktor faktor tersebut adalah : 1) bentuk logam dalam air, 2)
keberadaan logam logam lain, 3) fisiologis dari biota (organisme)nya, 4) kondisi
biota (Palar, 2004).
Darmono (2001) berpendapat bahwa ada beberapa faktor yang
mempengaruhi daya toksisitas logam dalam air terhadap mahluk hidup di
dalamnya, yaitu : 1) bentuk ikatan kimia dari logam yang terlarut, 2) pengaruh
interaksi antara logam dan jenis toksikan lainnya, 3) pengaruh lingkungan seperti
suhu, kadar garam, pH dan kadar oksigen yang terlarut dalam air, 4) kondisi
hewan, fase siklus hidup (telur, larva, dewasa), besarnya ukuran organisme, jenis
kelamin, dan kecukupan kebutuhan nutrisi 5) kemampuan hewan untuk
menghindar dari pengaruh polusi, 6) kemampuan organisme untuk beraklimasi
terhadap bahan toksik logam.
Peningkatan logam berat dalam air laut, selain disebabkan oleh
peningkatan aktivitas di sekitar perairan, dapat pula disebabkan oleh rendahnya
pH dan salinitas, tingginya suhu dan masuknya nutrien dari muara ke dalam laut
Bewers dalam Zulkifli (1994).
Hoshika et al. (1991) berpendapat bahwa keberadaan logam berat dalam
perairan dipengaruhi oleh pola arus. Arus perairan dapat menebarkan logam berat
yang terlarut dalam air laut permukaan ke segala arah. Menurut Gesamp (1985),
bahwa tinggi atau rendahnya kadar logam berat dalam suatu perairan bukan saja

4
dipengaruhi oleh letaknya yang jauh dari pantai, tetapi juga sangat tergantung
pada kondisi perairan setempat.

2.7.1. Akumulasi Logam Berat Pada Kerang


Hewan air jenis kerang kerangan (bivalva) atau jenis binatang lunak
(mollusca), baik jenis kerang besar (klam) atau kerang kecil (oister),
pergerakannya sangat lambat di dalam air. Biasanya hidup menetap di suatu
lokasi tertentu di dasar air. Stadium larva dari jenis kerang ini disebut fase pelagik
biasanya peka terhadap terjadinya polusi dalam perairan, kecenderungan
kepunahan spesies hewan ini sangat mungkin terjadi. Jenis kerang yang hidup di
air laut banyak digunakan sebagai indikator pencemaran logam. Hal ini
disebabkan karena habitat hidupnya yang menetap atau sifat bioakumulasinya
terhadap logam berat. Karena kerang banyak dikonsumsi menyebabkan kerang
harus diwaspadai bila dikonsumsi terus - menerus (Darmono, 2001).
Kandungan logam berat tertinggi umumnya ditemukan pada invertebrata
jenis mollusca (Plasket dan Potter, 1979). Akumulasi terjadi karena logam berat
pada organisme cenderung membentuk senyawa komplek dengan zat zat
organik yang terdapat dalam tubuh organisme sehingga terfiksasi dan tidak
diekskresikan oleh organisme yang bersangkutan (Waldichuk, 1974).
Suatu hasil penelitian menunjukkan bahwa akumulasi Hg pada kerang
tropis Saccostrea echinata lebih besar pada suhu air 300C dari pada 200C, dan
akumulasi tersebut tinggi pada jaringan insang. Diantara logam Hg, Cd, dan Pb,
daya penetrasinya berturut turut dari yang besar ke yang kecil adalah Hg > Cd >
Pb (Denton et al., 1981). Berdasarkan sifat akumulatornya yang tinggi terhadap

4
logam berat maka jenis kerang tersebut banyak digunakan sebagai sampel untuk
memonitoring pencemaran logam berat di lingkungan perairan (Darmono, 2001).
Darmono (2001) berpendapat bahwa dari data LC

50

diketahui daya

toksisitas logam pada jenis kerang dari yang kuat ke yang ke lemah secara
berturut turut sebagai berikut : Hg> Ag > Cu > Zn > Ni > Pb > Cd > As > Cr >
Mn.

4
III. BAHAN DAN METODE

1.

Waktu dan Tempat


Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan April

2006. Pengukuran kualitas air dan pengambilan sampel Kerang Bulu (Anadara
sp) dilakukan di perairan Bagan Deli Belawan Sumatera Utara (Lampiran 1).
Analisis kandungan Timbal (Pb) dalam air dilakukan di Labolatorium Teknik
Kimia Fakultas Teknik Universitas Riau Pekanbaru.

3.2. Bahan dan Alat


Bahan - bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain adalah
larutan asam clorida (HCl), asam Nitrat (HNO3) pekat, asam chlorat (HClO4),
aquades (digunakan dalam proses pengenceran), aquabides (digunakan dalam
proses destruksi/ penghancuran), larutan standart Timbal (Pb).
Adapun peralatan yang digunakan adalah : ice box atau termos
es, hot -plate (alat pemanas), oven, tabung reaksi, gelas ukur, gelas piala,
timbangan analitik, kaca arloji, jangka sorong dengan ketelitian 0,1 mm, botol
polyetilen, pipet, alat penumbuk (gerusan), pengaduk dan Atomic Absorption
Spectrophotometer (AAS) type UNICAM SOLAAR 32 dengan lampu katoda.
Sedangkan alat yang digunakan untuk pengukuran kualitas perairan
meliputi suhu, pH, salinitas, kecerahan dan kecepatan arus (Tabel 1). Parameter
ini diukur pada perairan permukaan di

stasiun saat pengambilan sampel.

Tujuannya adalah untuk menggambarkan kondisi perairan Bagan Deli Belawan


Sumatera Utara saat penelitian.

4
Tabel 1. Parameter Kualitas Air yang Diukur
No.
1.
2.
3.
4.
5.

Parameter
Suhu
Salinitas
Kecerahan
Derajat Keasaman
Kecepatan Arus

Alat
Thermometer
Handrefractometer
Secchi disc
pH Indicator
Current Drouge

3.3. Metode
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dimana
lokasi tempat pengambilan Kerang Bulu (Anadara sp) di perairan Bagan Deli
Belawan Sumatera Utara dijadikan lokasi yang diamati.

3.4. Prosedur
3.4.1. Penentuan Lokasi Sampling
Sampel yang diambil pada stasiun diupayakan mewakili keadaan perairan
Bagan Deli Belawan Sumatera Utara. Penentuan titik pengambilan sampel
didasarkan pada analisis pencemaran lingkungan yang dikeluarkan Kementrian
Kependudukan dan Lingkungan Hidup (1988) yaitu dengan jarak 200 meter dari
pinggiran pantai dan pada daerah dimana aktivitas manusia di daratan dan di laut
yang diduga memberikan pengaruh terhadap kandungan Timbal (Pb) dalam air.
Daerah penelitian tegak lurus terhadap garis pantai berdasarkan perkiraan sumber
pencemaran yaitu di sekitar muara perairan Bagan Deli Belawan Sumatera Utara.

4
3.4.2. Pengambilan dan Penanganan Sampel
Contoh air laut diambil sebanyak 500 ml pada permukaan perairan Bagan
Deli Belawan Sumatera Utara yaitu pada kedalaman 0 dan 100 cm dengan
mengunakan botol Water Sampler pada titik sampling. Contoh air laut yang telah
diambil selanjutnya dimasukan ke dalam botol plastik polyetilen yang telah
dibilas tiga kali dengan air laut. Kemudian ditambahkan dengan asam nitrat
(HNO3) pekat agar pHnya menjadi 2 (1 ml/500 ml), selanjutnya dimasukan ke
dalam ice box dan dibawa ke Labolatorium Teknik Kimia Fakultas Teknik
Universitas Riau Pekanbaru untuk dianalisis.
Sedangkan purposif sampling Kerang Bulu (Anadara sp) sebanyak 21
dengan ukuran yang berbeda mulai dari ukuran yang kecil, sedang, sampai ukuran
yang besar yang dianggap telah mewakili. Sampel Kerang Bulu (Anadara sp)
yang telah diambil dari lokasi kemudian dicuci bersih, dimasukkan ke dalam
kantong plastik yang sudah diberi label dan ditempatkan di dalam ice box dan siap
dibawa ke laboratorium yang selanjutnya disimpan dalam lemari pendingin. Hal
ini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya kerusakan pada daging Kerang Bulu
(Anadara sp).

3.4.3. Analisis Kandungan Timbal (Pb).


3.4.3.1. Sampel Air
Prosedur analisis Timbal (Pb) pada air laut permukaan dilakukan
berdasarkan metode yang dilakukan oleh Hutagalung (1994) adalah sebagai
berikut : contoh air laut uji dikocok dan diukur 50 ml secara berulang (duplo),
selanjutnya dimasukkan masing - masing ke dalam gelas piala 100 ml. Kemudian

4
ditambahkan 5 ml asam nitrat (HNO3) pekat dan dipanaskan perlahan - lahan
sampai sisa volumenya menjadi 15 - 20 ml. Kemudian ditambahkan lagi 5 ml
(HNO3) pekat dan gelas piala ditutup dengan kaca arloji, kemudian dipanaskan
lagi. Penambahan asam dan pemanasan dilakukan sampai semua logam larut, ini
terlihat dari terbentuknya endapan dalam contoh air laut menjadi agak putih dan
larutan menjadi jernih. Kemudian ditambahkan lagi 2 ml asam nitrat (HNO3)
pekat dan dipanaskan kira - kira 10 menit. Kaca arloji dibilas dengan aquades dan
air bilasannya dimasukan ke dalam gelas piala. Larutan uji disaring dengan
saringan Whattman nomor 42 dengan porositas 0,45 m yang bertujuan mencegah
penyumbatan dalam analisis dengan Atomic Absorption Spectrophotometer
(AAS). Larutan uji dipindahkan masing - masing ke dalam labu ukur 50 ml dan
ditambahkan air suling sampai tepat tanda tera, kemudian larutan uji dipindahkan
ke dalam botol uji untuk analisis contoh air laut yang telah diberi label. Contoh air
laut uji siap untuk dianalisis dengan mengunakan Atomic Absorption
Spectrophotometer (AAS) type UNICAM SOLAAR 32.

3.4.3.2. Sampel Kerang


Sebelum sampel dianalisis, purposif sampling Kerang Bulu (Anadara sp)
sebanyak 21 dengan ukuran yang berbeda dikelompokkan menjadi tiga kelas
ukuran (size), yaitu : 1) ukuran kecil, 2) ukuran sedang, 3) ukuran besar.
Kerang bulu (Anadara sp) sebanyak 21 dengan ukuran berbeda satu persatu diukur panjang total dengan menggunakan jangka sorong dan timbangan
analitik untuk pengukuran berat. Pengukuran ini didasarkan kepada buku
penuntun Praktikum Ichtyologi Fakultas Perikanan (Lukistyowati, 1993).

4
Panjang Kerang Bulu (Anadara sp) yang diukur adalah panjang total (TL),
yaitu jarak garis lurus yang diukur dari umbo sampai ujung cangkang lainnya.
Sedangkan untuk berat, yang diukur adalah berat total Kerang Bulu (Anadara sp)
dengan menggunakan timbangan analitik, yaitu berat total keseluruhan Kerang
Bulu (Anadara sp).
Analisis kandungan Timbal (Pb) pada sampel Kerang Bulu (Anadara sp)
dilakukan dengan metode basah berdasarkan buku standart Pusat Penelitian dan
Pengembangan Oseanografi LIPI dalam Hutagalung et al., (dalam Defrianus,
2006), yang meliputi pengawetan sampel, penghancuran (destruksi), penyaringan
dan pemeriksaan/pengukuran pada Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS).
Bagian tubuh Kerang Bulu (Anadara sp) yang diambil setelah proses
penghancuran (dekstruksi) adalah jaringan lunaknya sekitar 5 gram (gr).
Kandungan logam pada air juga diukur menggunakan AAS type type UNICAM
SOLAAR 32.
Untuk menentukan kandungan Timbal (Pb) pada sampel Kerang Bulu
(Anadara sp) sebelumnya dilakukan beberapa tahapan kerja yaitu :

a. Penghancuran (Destruksi)
Proses penghancuran (destruksi) yang dilakukan merupakan proses
oksidasi dan reduksi, dimana sebagai oksidator dipakai asam nitrat (HNO3)
sedangkan reduktornya dipakai asam chlorat (HClO4 60 %). Proses destruksi
ini dilakukan agar Timbal (Pb) yang terikat dapat terlepas dari senyawa asalnya
sehingga mudah untuk dideteksi. Proses destruksi untuk Timbal (Pb) dilakukan
dengan menambahkan HClO4 pekat sebanyak 1,5 ml dan HNO3 pekat sebanyak

4
3,5 ml. selanjutnya sampel dipanaskan pada suhu 65oC dengan alat pemanas
(hotplate) untuk mempercepat reaksi penghancuran (destruksi) selama 150 menit
sampai larutan menjadi jernih. Dimana proses pemanasan dilakukan di ruang
asam. Kemudian larutan sampel ditambah aquades sebanyak 3 ml dan dipanaskan
sampai larutan hampir kering, kemudian didinginkan pada suhu ruang. Kemudian
sampel ditambahkan HNO3 pekat sebanyak 1 ml dan aquades sebanyak 9 ml dan
diaduk secara perlahan.

b. Penyaringan
Penyaringan dilakukan dengan menggunakan kertas saring Whattman
nomor 42 dengan porositas 0,45 m. Hal ini bertujuan untuk memisahkan partikel
- partikel yang berukuran besar agar tidak mengganggu proses pemeriksaan
Timbal (Pb).
c. Pembuatan Larutan Blanko
Pembuatan larutan blanko dilakukan untuk mendapatkan hasil pengukuran
yang benar - benar berasal dari sampel yang akan dianalisis, karena pada bahan bahan pereaksi yang dipergunakan pada saat proses destruksi dan penyaringan
kemungkinan terdapat kandungan logam berat walaupun dalam jumlah yang
sangat sedikit. Hasil pengukuran dengan AAS type UNICAM SOLAAR 32 pada
sampel akan dikurangi dengan hasil pengukuran larutan blanko. Prosedur
pembuatan larutan blanko sama dengan pembuatan sampel tetapi sampel yang
digunakan diganti dengan aquabides.

4
d. Pembuatan Larutan Standar
Untuk mengetahui kadar Timbal (Pb) yang akan dianalisis dipergunakan
kurva standar yaitu kurva yang menggambarkan hubungan antara konsentrasi dan
nilai absorbansinya. Larutan standar berasal dari larutan induk dengan konsentrasi
1000 ppm yang kemudian diencerkan sesuai dengan prosedur pembuatan larutan
standar (lampiran 4).

e. Pemeriksaan dengan Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS)


Alat yang digunakan dalam pengukuran kadar Timbal (Pb) adalah Atomic
Absorption Spectrophotometer (AAS) type UNICAM SOLAAR 32 di
laboratorium Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Riau Pekanbaru. Alat ini
dilengkapi dengan lampu katoda yang berbentuk cekung sebagai sumber energi.
Lampu ini dilapisi logam dari unsur yang akan dianalisis, sehingga untuk
mengukur Timbal (Pb) digunakan lampu katoda yang dilapisi dengan Timbal
(Pb). Hasil yang didapat dari Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS)
berupa nilai konsentrasi absorbansi yang kemudian dilakukan perhitungan untuk
memperoleh kandungan Timbal (Pb) yang sesungguhnya dari sampel.

f. Perhitungan Kandungan Timbal (Pb).


Perhitungan kandungan Timbal (Pb) pada sampel Kerang Bulu (Anadara
sp) dilakukan menurut rumus yang dipakai buku standart Pusat Penelitian dan
Pengembangan Oseanografi LIPI dalam Hutagalung et al., (1997), yaitu sebagai
berikut :

Keterangan :
K = Kandungan sebenarnya dari sampel (ppm)
C = Konsentrasi yang didapat berdasarkan nilai absorbansi AAS (mg/l)
A = Volume sampel yang digunakan (ml)
D = Berat basah sampel (gr)

3.5. Analisis Data


Data kandungan Timbal (Pb) di perairan Bagan Deli Belawan Sumatera
Utara disajikan dalam bentuk tabel dan grafik, kemudian dianalisis secara
deskriptif. Untuk mengetahui hubungan antara kandungan Timbal (Pb) terhadap
pertambahan panjang (cm) dan berat (gr) Kerang Bulu (Anadara sp) digunakan
model regresi linier sederhana (Sudjana, 1986).
Model matematis : Y = a + bX
Dimana :
Y

: Kadar Logam (ppm)

a dan b : Konstanta
X

: Ukuran Kerang (cm atau gr)

Untuk

menentukan

hubungan

kandungan

Timbal

(Pb)

terhadap

pertambahan panjang dan berat Kerang Bulu (Anadara sp) digunakan koefisien
determinasi (R2) dan koefisien korelasi (r). Menurut Razak (1991) bahwa
koefisien nilai (r) berkisar antara 0 sampai 1, yaitu : 0,00 0,20 berarti hubungan
sangat lemah ; 0,21 0,40 hubungan lemah sekali ; 0,41 0,70 hubungan sedang;
0,71 0,90 hubungan kuat dan 0,91 1,00 berarti hubungan kuat sekali.
Penentuan hipotesis dapat diterima atau ditolak berdasarkan uji F
menurut Sudjana (1986), yaitu jika :

4
F hitung

F tabel maka H0 ditolak H 1 diterima

F hitung

F tabel maka H0 diterima H1 ditolak

3.6. Asumsi
Asumsi - asumsi yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1.

Setiap sampel yang diambil pada stasiun merupakan sampel yang telah
mewakili untuk analisis.

2.

Parameter lingkungan yang tidak diukur memberikan pengaruh yang tidak


nyata terhadap kandungan logam berat pada sampel.

3.

Ketelitian peneliti dalam pengambilan dan analisis sampel dianggap sama.

4
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Keadaan Umum Daerah Penelitian


Perairan Bagan Deli Belawan Sumatera Utara secara Geografis terletak
pada 98o 41 34 BT 3o 48 0 LU. Di bagian Utara muara ini berbatasan dengan
kawasan Pelabuhan Gabion serta instalasi pembuangan limbah Kawasan Industri
Medan (KIM). Di bagian Barat berbatasan dengan delta yang menjadi hunian
penduduk. Di bagian Selatan berbatasan dengan kawasan hutan mangrove.
Sedangkan di bagian Timur berbatasan langsung dengan Selat Malaka (Lampiran
2).
Perairan Bagan Deli Belawan Sumatera Utara ini pada bagian Tenggara
dan Timur Laut didapati tumpukan sampah organik dan anorganik yang berasal
dari buangan industri dan aktivitas penduduk di sekitar muara. Hal ini dapat
mempengaruhi kualitas air di daerah tersebut. Tumpukan sampah tersebut
semakin jelas terlihat pada waktu surut.
Wilayah perairan Bagan Deli Belawan Sumatera Utara merupakan daerah
padat akan aktivitas perindustrian. Disepanjang perairan perairan Bagan Deli
berdiri berbagai perusahaan perusahaan yang bergerak diberbagai bidang
(Lampiran 5). Perusahaan perusahaan yang bergerak tersebut diperkirakan telah
berperan dalam peningkatan kandungan logam berat yang terbesar di perairan
tersebut melalui buangan limbahnya.

4
4.2. Parameter Kualitas Perairan
Parameter kualitas perairan yang diukur selama penelitian ini meliputi :
suhu, derajat keasaman (pH), salinitas, kecepatan arus dan kecerahan dari
perairan. Dimana pengukuran kualitas perairan ini di ukur pada waktu surut, dan
hasil pengukuran parameter kualitas perairan tersebut dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Parameter Kualitas Perairan Bagan Deli Belawan Sumatera Utara
Pada Saat Pengukuran.
PAR
STASIUN
AME
TER
Suhu pH
Salinitas Kecepatan Arus
I
29
7,5
14
0,44
II
29
7,5
18
0,40
III
29
7,5
20
0,37
IV
29,5
7,5
20
0,30
V
29,5
7,5
20
0,32
VI
29,5
7,5
21
0,37
Rata-rata
29,3
7,5
18,8
0,37
Baku mutu *) alami 6-9
Alami
Ket : *) Baku Mutu Air Laut Untuk Biota Laut (Kep. No.02/MENKLH/I/1988)
Pada Tabel 2 dapat dilihat bahwa kisaran salinitas di perairan Bagan Deli
Belawan Sumatera Utara berkisar antara 29 29,3 . Salinitas suatu perairan
cenderung berubah ubah yang disebabkan oleh beberapa faktor antara lain
penguapan, pola sikulasi air, curah hujan dan aliran sungai (Nontji 1987).
Suhu merupakan parameter perairan yang sangat penting, karena dapat
mempengaruhi sifat fisika- kimia perairan maupun fisiologi hewan perairan.
Sehingga perubahan suhu air akan menyebabkan perubahan kondisi fisika kimia
peraiaran. Kenaikan suhu, penurunan pH dan salinitas perairan dapat
menyebabkan tingkat akumulasi Timbal (Pb) semakin besar. Dari hasil
pengamatan terlihat bahwa suhu perairan Bagan Deli Belawan Sumatera Utara

4
masih mendukung kehidupan organisme akuatik (Tabel 2). Hal ini didukung oleh
Hutabarat dan Evans (1985) mengemukakan bahwa kisaran suhu yang optimal
untuk mendukung kehidupan organisme adalah 25 32 oC.
Derajat keasaman (pH) pada saat penelitian adalah 7,5. Menurut
Romimohtarto (1991) mengemukaan bahwa pH 6 9 merupakan pH yang masih
dapat ditolerir oleh biota laut. Ini merupakan bahwa pH di lokasi penelitian masih
dalam keadaan wajar.
Arus merupakan salah satu aspek dinamika air yang berperan dalam
sebaran biologi, kimia, polusi serta kandungan Timbal (Pb). Dari hasil
pengukuran (Tabel 2) kecepatan arus permukaan perairan Bagan Deli Belawan
Sumatera Utara berkisar antara 0,32 0,44 cm/dt. Perbedaan kecepatan arus ini
disebabkan oleh pengaruh pasang surut. Nontji (1987) mengemukakan bahwa
untuk daerah pantai dan selat yang sempit, kecepatan arus dipengaruhi oleh
pasang surut dengan kisaran yang tinggi.
Hoshika et al., (1991) mengemukakan bahwa keberadaan logam berat
dalam air dipengaruhi oleh pola arus. Arus perairan dapat menyebabkan logam
berat yang terlarut dalam air permukaan menyebar ke segala arah.
Parameter kualitas perairan dapat mempengaruhi kadar logam berat
pada perairan. Hal ini ditegaskan oleh Soemodiharjo et al., (1987) yang
mengemukakan bahwa suhu, salinitas, kecepatan arus, pH, turbulensi dan
gelombang mempengaruhi kandungan logam berat dalam suatu perairan.

4
4.3. Kandungan Timbal (Pb) Pada Air dan Sedimen di Perairan Bagan Deli
Belawan Sumatera Utara pada Setiap stasiun.
Kandungan Timbal (Pb) pada air dan sedimen laut di perairan Bagan Deli
Belawan Sumatera Utara dari hasil penelitian yang dilakukan Saleh (2006)
diperoleh dimana rata rata pada setiap stasiun dapat dilihat pada tabel 3 dibawah
ini.
Tabel 3. Kandungan Timbal (Pb) Dalam Air dan Sedimen Laut di Perairan
Bagan Deli Belawan Sumatera Utara pada Setiap stasiun.
stasiun

I
II
III
IV
V
VI
Rata-rata

Kandungan Logam Berat


(ppm)
Timbal/Pb (Pada Air)
0,29
0,28
0,34
0,38
0,34
0,38
0,34

Timbal/Pb (Pada Sedimen)


25,5
24,5
28,8
28,9
33,4
35,2
29,4

Baku Mutu
*)

0,075

0,05

Ket : *) Baku Mutu Air Laut Untuk Biota Laut (Kep. No.02/MENKLH/I/1988

4.3.1. Kandungan Timbal (Pb) Pada Air


Dari tabel 3 di atas dapat dilihat bahwa kandungan Timbal (Pb) di air laut
berkisar antara 0,28 0,38 ppm, dimana konsentrasi yang tertinggi terdapat di
stasiun IV dan VI yaitu 0,38 ppm. Sedangkan konsentrasi terendah berada pada
stasiun II, dan rata rata dari kandungan Timbal (Pb) di air laut yaitu 0,34 ppm.
Perbedaan kandungan logam berat tersebut disebabkan karena terdapatnya
aktivitas yang berbeda pada masing masing stasiun, sehingga penambahan
kandungan Timbal (Pb) nya berbeda juga, perbedaan kandungan Timbal (Pb)
dalam air dapat dilihat pada gambar 1.

Gambar 2. Grafik Kandungan Timbal (Pb) Dalam Air Pada Setiap Stasiun
Penelitian

Berdasarkan hasil analisis kandungan logam berat pada perairan Bagan


Deli Belawan Sumatera Utara dapat dilihat pada tabel 3. Kandungan Timbal (Pb)
tertinggi dalam air laut terdapat pada stasiun IV dan VI. Stasiun IV merupakan
daerah pelabuhan yang banyak menghasilkan sumber pencemaran seperti air
ballast, bongkar muat barang barang yang terbuat dari baja, dan juga sisa buangan
minyak kapal sehingga memberikan andil yang cukup besar dalam peningkatan
konsentrasi logam berat di perairan sedangkan stasiun VI merupakan daerah
lalu lintas kapal kapal yang masuk ke pelabuhan Belawan Sumatera Utara, sama
halnya dengan stasiun IV aktivitas yang ada banyak dari pembuangan air ballast
kapal dan sisa buangan minyak kapal.
Konsentrasi Timbal (Pb) dalam air laut pada stasiun IV dan VI adalah
0,38 mg/L. Tingginya konsentrasi Timbal (Pb) dalam air laut pada stasiun ini juga
disebabkan karena arah arus yang cenderung ke arah timur laut yang merupakan
letak dari stasiun ini. Hoshika et al., (1991) menyatakan bahwa keberadaan logam
berat dalam perairan di pengaruhi oleh pola arus. Arus perairan dapat menebarkan
logam berat yang terlarut dalam air laut permukaan ke segala arah.
Menurut Febrizal (1995) mengatakan bahwa faktor yang menentukan
tinggi rendahnya kandungan logam berat dalam air laut adalah saat pengambilan
contoh air laut, dimana pengambilan contoh air laut pada waktu surut cenderung
lebih besar jika dibandingkan pada waktu pasang.

4
Sedangkan konsentrasi Timbal (Pb) terendah terdapat pada stasiun II pada
pelabuhan perikanan (Gabion) yaitu 0,28 mg/L. Rendahnya konsentrasi Timbal
(Pb) disebabkan karena kecepatan arus yang sangat tinggi yaitu 0,44 m/s, dengan
kecepatan arus yang cepat maka keberadaan Timbal (Pb) dalam perairan akan
terbawa mengikuti arah arus tersebut. Arah arus pada lokasi titik sampling yaitu
timur laut.
Penyebab lain tingginya kecepatan arus yaitu pada saat pengambilan
sampel pada saat penelitian dilakukan pada saat surut, yang menurut Nontji
(1987) bahwa kecepatan arus akan lebih tinggi pada saat surut dibandingkan
pada saat pasang, hal ini disebabkan karena pergerakan air tidak mengalami
perlambatan ke arah sama dengan pergerakan air laut menuju laut lepas.
Berdasarkan nilai di atas, ditemukan kecenderungan meningkatnya
kandungan Timbal (Pb) pada setiap stasiun. Kandungan Timbal (Pb) pada
Perairan Bagan Deli Belawan Sumatera Utara ini lebih tinggi dibandingkan
dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Tanjung (1998) menemukan
kandungan rata-rata logam Timbal (Pb) dalam air laut di perairan Bagan Deli
adalah 0,24 0,69 ppm.

4
4.3.2. Kandungan Timbal (Pb) Pada Sedimen
Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan pada saat penelitian
kandungan Timbal (Pb) pada sedimen dapat dilihat pada tabel 3. konsentrasi
Timbal (Pb) tertinggi berada pada stasiun VI yaitu 35,2 mg/L. dan konsentrasi
terendah Timbal (Pb) terdapat pada stasiun II yaitu 24,5 mg/L.
Perbedaan kandungan Timbal (Pb) tersebut disebabkan karena terdapatnya
aktivitas yang berbeda pada masing masing stasiun, sehingga penambahan
kandungan Timbal (Pb) nya berbeda pula, perbedaan kandungan Timbal (Pb)
dalam air dapat dilihat pada gambar 2.

Gambar 3. Grafik Kandungan Timbal (Pb) Dalam Sedimen Pada Setiap Stasiun
Penelitian

Tingginya konsentrasi Timbal (Pb) pada stasiun VI disebabkan karena


letaknya sekitar pelabuhan Belawan. Pelabuhan ini mempunyai aktivitas yang
sangat banyak sehingga masukan Timbal (Pb) ke perairan akan semakin besar.
Sumber bahan pencemar yang terdapat di stasiun ini yaitu berasal dari kapal-kapal
tangker (air ballast, sisa bahan bakar minyak), buangan baterai atau accu bekas,
aktivitas pelabuhan yang membuang limbah cair dan campuran logam yang
mengandung Timbal (Pb), dan juga berasal dari limbah industri yang berdekatan
dengan stasiun VI.
Disamping itu tingginya konsentrasi Timbal (Pb) dalam sedimen didukung
juga dengan tingginya konsentrasi Timbal (Pb) dalam air laut serta arah arus dan
kecepatannya yang tidak terlalu cepat. Penyebab lain tingginya konsentrasi
Timbal (Pb) di stasiun ini yaitu karena tipe dari sedimen pada stasiun ini terdiri

4
dari lumpur hal ini sesuai dengan Korzeniewski dan neugbaver (1991)
menyatakan bahwa tipe sedimen dapat mempengaruhi kandungan logam berat,
sesuai kisaran yang dibuatnya yaitu kandungan logam berat dalam sedimen
lumpur > lumpur berpasir > berpasir.
Tingginya konsentrasi Timbal (Pb) dalam sedimen di perairan Bagan Deli
Belawan Sumatera Utara disebabkan karena arusnya yang lemah dan letaknya
yang tidak berbatasan langsung dengan lautan samudera, namun hanya berbatasan
dengan Selat Malaka.
Keberadaan Timbal (Pb) di dalam sedimen juga dipengaruhi oleh industri
industri yang berada di sekitar perairan Bagan Deli Belawan ini beroperasi sudah
lama sehingga dari tahun ke tahun masukan dari limbah yang dikeluarkan akan
menyebabkan terakumulasinya Timbal (Pb) dalam sedimen. Hal ini berbeda
dengan kondisi

Timbal (Pb) dalam air laut, karena air laut bersifat dinamis

maka konsentrasi Timbal (Pb) dalam air dapat saja berfluktuasi sehingga tinggi
rendahnya konsentrasi Timbal (Pb) akan berbeda - beda setiap waktu. Menurut
Hoshika et al., (1991) kandungan logam berat dalam sedimen meningkat dengan
meningkatnya kandungan bahan organik yang terdapat dalam badan air dam
sedimen.
4.3.3. Hubungan Kandungan Timbal (Pb) Dalam Air Laut dan sedimen
Hasil analisis regresi antara kandungan Timbal (Pb) dalam air laut dan
kandungan Pb dalam sedimen dapat dilihat pada gambar 3. Gambar tersebut
menunjukan bahwa persamaan regresi liniearnya yaitu Y = 76,557 x + 3,736.
Nilai koefisien korelasinya (r) = 0,7742 sedangkan nilai koefisien determinasinya
(R2) = 0,5994. Hubungan antara Kandungan Timbal (Pb) dalam Air Laut dan

4
Sedimen mempunyai hubungan yang kuat.
Jika dibandingkan persamaan regresi linier antara Kandungan Timbal
(Pb) dan Tembaga (Cu) Dalam Air Laut dan sedimen diketahui bahwa nilai
koefisien regresi (b) dari persamaan linier Kandungan Timbal (Pb) dan Tembaga
(Cu) Dalam Air Laut dan sedimen yaitu + 76,557. Ini berarti setiap kenaikan
konsentrasi Timbal (Pb) dalam air laut sebesar 1% maka akan meningkatkan
konsentrasi Timbal (Pb) dalam sedimen sebesar 76,557 %.

Gambar 4. Hubungan antara Kandungan Timbal (Pb) dalam Air Laut


dan Sedimen

Berdasarkan perbandingan Kandungan Timbal (Pb) dan Tembaga (Cu)


Dalam Air Laut dan sedimen dapat disimpulkan bahwa hubungan Kandungan
Timbal (Pb) antara air laut dan sedimen menunjukkan hubungan yang positif
yaitu apabila konsentrasi Timbal (Pb) dalam air laut meningkat maka konsentrasi
logam Pb dalam sedimen juga akan meningkat.
Jika dibandingkan dengan bakumutu air laut untuk biota laut yang
dikeluarkan oleh MEN-KLH (Kep. No.02/MENKLH/I/1988), kandungan Timbal
(Pb) telah melewati baku mutu yang ditetapkan.

4.4. Kandungan Timbal (Pb) Pada Kerang Bulu (Anadara sp) berdasarkan
Letak Stasiun
Dari hasil penelitian yang dilakukan perairan Bagan Deli Belawan
Sumatera Utara diperoleh kandungan Timbal (Pb) berdasarkan letak stasiun
berkisar antara 8,0813 15,3392 ppm (lampiran 7).

4
Hutagalung (1991) mengemukakan bahwa Timbal (Pb) banyak digunakan
dalam berbagai industri, sebagai bahan peledak, pateri, cable covering, pigmen,
pestisida, cat anti karat dan pelapis logam.
Selain itu kondisi lingkungan perairan juga memberikan pengaruh
terhadap kandungan Timbal (Pb) pada Kerang Bulu (Anadara sp). Pada kondisi
kisaran perairan seperti salinitas, suhu, derajat keasaman yang masih mendukung
kehidupan organisme, akumulasi Timbal (Pb) ke dalam tubuhnya tidak terlalu
tinggi.
Vernberg et al., dalam Hutagalung (1991) mengemukakan bahwa
gabungan suhu dan salinitas dapat mempengaruhi bioakumulasi logam berat
dalam tubuh organisme air. Pada salinitas tetap dengan suhu air semakin tinggi
didapatkan tingkat bioakumulasi tinggi, sedangkan pada suhu air tetap dan
salinitas makin rendah tingkat bioakumulasi makin tinggi.

4.5. Kandungan Logam Berat Menurut Ukuran Panjang dan Berat Kerang
Bulu (Anadara sp)
Hasil analisis kandungan Timbal (Pb) dengan panjang dan berat tiap tiap
Kerang Bulu (Anadara sp) yang berasal dari perairan Bagan Deli Belawan
Sumatera Utara dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 4. Konsentrasi Rata rata Timbal (Pb) Menurut Ukuran Sampel
Kerang Bulu (Anadara sp).
Ukuran
Kecil
Sedang
Besar
Rata - rata

Konsentrasi Timbal/Pb
(ppm)
12,4157
13,4755
14,2782
13,3898

Ukuran Panjang
(cm)
3,71 - 4,73
4,92 - 5,61
5,92 - 6,71
3,47

Ukuran Berat
(gr)
17,01 - 25,62
24,57 - 28,53
32,88 - 49,67
22,23

4
Pada tabel 4 dapat dilihat, bahwa kisaran panjang (cm) Kerang Bulu
(Anadara sp) yang dianalisis berkisar 3,71 6,71 cm dengan berat (gr) Kerang
Bulu (Anadara sp) dari ukuran yang terkecil sampai ukuran yang terbesar adalah
17,01 49,67 gr, didapatkan konsentrasi Timbal (Pb) 8,0813 15,3392 ppm.
Keseluruhan Kerang Bulu (Anadara sp) yang dianalisis didapatkan rata rata
konsentrasi Timbal (Pb) sebesar 13,3898 ppm. Dapat disimpulkan bahwa semakin
besar sampel Kerang Bulu (Anadara sp) yang dianalisis maka akan semakin besar
kandungan Timbal (Pb) yang diakumulasinya.
Adanya perbedaan atau penurunan konsentrasi Timbal (Pb) dari ukuran
panjang berat terkecil sampai ukuran panjang berat terbesar diduga karena
sifat dari Timbal (Pb) tersebut bersifat esensial, sehingga konsentrasi yang
terdapat pada Kerang Bulu (Anadara sp) semakin meningkat. Hal ini sesuai
dengan pendapat Ismail et al., (dalam Anonimus, 1997) bahwa konsentrasi logam
berat pada bivalva dibedakan menurut ukurannya. Semakin besar ukuran bivalva
maka akan mengakumulasi logam berat dalam konsentrasi yang lebih tinggi.
Renauld, Wong dan Smith (dalam Anonimus, 1997) menambahkan bahwa
umumnya

konsentrasi

yang

lebih

tinggi

pada

mollusca

mengikuti

ketidakmampuannya mengatur logam dengan umurnya. Dan ditambahkan oleh


Sanusi et al., (1984) mengemukakan bahwa variasi konsentrasi logam berat
bergantung pada lokasi perairan, musim, arus, kedalaman dan jarak atau dekatnya
dari pantai.

4.6. Hubungan Timbal (Pb) Dengan Panjang (cm) dan Berat (gr) Kerang
Bulu (Anadara sp)

4
4.6.1. Hubungan Timbal (Pb) Dengan Panjang (cm) Pada Kerang Bulu
(Anadara sp)
Hasil analisis kadar Timbal (Pb) dalam Kerang Bulu (Anadara sp) yang
dihubungkan dengan panjang (cm) didapatkan rata rata konsentrasi yang
semakin meningkat ( Gambar 2). Rata rata konsentrasi terbesar terdapat pada
Kerang Bulu (Anadara sp) dengan ukuran besar (5,92 6,71 cm), sedangkan pada
Kerang Bulu (Anadara sp) dengan ukuran sedang ( 4,92 5,61 cm) didapatkan
kisaran konsentrasi yang lebih rendah, walaupun pada ukuran ini terdapat
konsentrasi Timbal (Pb) yang tertinggi. Konsentrasi terendah terdapat pada
kelompok Kerang Bulu (Anadara sp) ukuran yang lebih kecil (3,71 4,73 cm).
Konsentrasi yang terbesar rata rata terdapat pada kelompok Kerang
Bulu (Anadara sp) yang berukuran besar disebabkan karena Kerang Bulu
(Anadara sp) yang berukuran besar lebih peka terhadap Timbal (Pb) dan juga
proses metabolisme yang dilakukannya lebih tinggi atau dari pada Kerang Bulu
(Anadara sp) yang berukuran lebih kecil. Jadi kestabilan konsentrasi Timbal (Pb)
oleh Kerang Bulu (Anadara sp) dengan bertambahnya panjang (cm) semakin
bertambah.
Hasil uji regresi linier sederhana antara kadar Timbal (Pb) dengan panjang
Kerang Bulu (Anadara sp),

diperoleh persamaan matematis Y = 8,9597 +

0,8413x dengan nilai koefisien determinasi (R2) = 0,2184 dan nilai koefisien
korelasi (r) = 0,4673 nilai r menunjukkan hubungan positif. Ini berarti pengaruh
yang diberikan oleh pertambahan panjang Kerang Bulu (Anadara sp), terhadap
kadar Timbal (Pb) adalah positif, yaitu dengan semakin bertambahnya panjang
(cm) akan meningkatkan kadar Timbal (Pb) di dalam tubuh Kerang Bulu

4
(Anadara sp). Pada tingkat kepercayaan 95 % rata rata pengaruh yang diberikan
oleh panjang terhadap Timbal (Pb) adalah 21,84 %. Hubungan panjang (cm)
terhadap Kerang Bulu (Anadara sp) terhadap kandungan Timbal (Pb) mempunyai
hubungan yang sedang (Gambar 2).

Gambar 5. Grafik hubungan antara konsentrasi Timbal (Pb) dengan panjang (cm)
Kerang Bulu (Anadara sp)

4
4.6.2. Hubungan Timbal (Pb) Menurut Ukuran Berat (gr) Kerang Bulu
(Anadara sp)
Hasil analisis kadar Timbal (Pb) dalam Kerang Bulu (Anadara sp) yang
dihubungkan dengan panjang (cm) didapatkan rata rata konsentrasi yang
semakin meningkat (Lampiran 7). Rata rata konsentrasi terbesar terdapat pada
Kerang Bulu (Anadara sp) dengan ukuran besar (32,88 49,67 gr), sedangkan
pada Kerang Bulu (Anadara sp) dengan ukuran sedang ( 24,57 28,53 gr)
didapatkan kisaran konsentrasi yang lebih rendah, walaupun pada ukuran ini
terdapat konsentrasi Timbal (Pb) yang tertinggi. Konsentrasi terendah terdapat
pada kelompok Kerang Bulu (Anadara sp) ukuran yang lebih kecil (17,01 25,62
gr).
Uji regresi linier sederhana antara kadar Timbal (Pb) dengan berat Kerang
Bulu (Anadara sp), diperoleh persamaan matematis Y = 11,249 + 0,0713x,
dengan nilai koefisien determinasi (R2) = 0,212 dan nilai koefisien korelasi
(r) = 0,4604. Dari persamaan ini juga didapatkan hubungan positif juga. Ini
berarti pengaruh yang diberikan oleh peningkatan berat (gr) pada Kerang Bulu
(Anadara sp), terhadap kadar Timbal (Pb) adalah positif, yaitu dengan terjadinya
peningkatan kadar Timbal (Pb) terhadap berat (gr) pada Kerang Bulu (Anadara
sp). Rata rata pengaruh yang diberikan dari peningkatan berat (gr) terhadap
kadar Timbal (Pb) adalah 21,2 %. Hubungan berat (gr) terhadap Kerang Bulu
(Anadara sp) terhadap kandungan Timbal (Pb) mempunyai hubungan yang
sedang (Gambar 3).

Gambar 6. Grafik hubungan antara konsentrasi Timbal (Pb) dengan berat (gr)
Kerang Bulu (Anadara sp).

4
4.6.3. Hubungan Timbal (Pb) Dengan Biomassa (gr) Kerang Bulu (Anadara
sp)
Hasil analisis kadar Timbal (Pb) dalam Kerang Bulu (Anadara sp) yang
dihubungkan dengan biomassa (gr) didapatkan rata rata konsentrasi yang
semakin meningkat (Lampiran 7). Rata rata biomassa (gr) terbesar terdapat
pada Kerang Bulu (Anadara sp) dengan ukuran besar (12,240 13,365 gr),
sedangkan pada Kerang Bulu (Anadara sp)

dengan ukuran sedang (7,612

10,016 gr) didapatkan kisaran biomassa (gr) yang lebih rendah, walaupun pada
ukuran ini terdapat konsentrasi Timbal (Pb) yang tertinggi. Biomassa (gr)
terendah terdapat pada kelompok Kerang Bulu (Anadara sp) ukuran yang lebih
kecil (5,201 9,021 gr).
Uji regresi linier sederhana antara kadar Timbal (Pb) dengan biomassa
(gr) Kerang Bulu (Anadara sp), diperoleh persamaan matematis Y = 11,504
+ 0,1939x, dengan nilai koefisien determinasi (R2) = 0,2278 dan nilai koefisien
korelasi (r) = 0,4773 Dari persamaan ini juga didapatkan hubungan positif
juga. Ini berarti pengaruh yang diberikan oleh peningkatan biomassa (gr) pada
Kerang Bulu (Anadara sp), terhadap kadar Timbal (Pb) adalah positif, yaitu
dengan terjadinya peningkatan kadar Timbal (Pb) terhadap biomassa (gr) pada
Kerang Bulu (Anadara sp). Rata rata pengaruh yang diberikan dari peningkatan
biomassa (gr) terhadap kadar Timbal (Pb) adalah 22,78 %. Hubungan berat (gr)
terhadap Kerang Bulu (Anadara sp) terhadap kandungan Timbal (Pb) mempunyai
hubungan yang sedang (Gambar 4).

Gambar 7. Grafik hubungan antara konsentrasi Timbal (Pb) dengan biomassa (gr)
Kerang Bulu (Anadara sp)

4
Dari hasil perbandingan di atas didapatkan hasil bahwa ada hubungan
nyata yang positif antara panjang (cm), berat (gr), biomassa (gr) dengan
kandungan Timbal (Pb) pada Kerang Bulu (Anadara sp). Ini berarti dengan
pertambahan panjang (cm), berat (gr), dan biomassa (gr) konsentrasi Timbal
(Pb) pada Kerang Bulu (Anadara sp) akan meningkat. Hasil penelitian terhadap
kandungan Timbal (Pb) dengan peningkatan panjang (cm), berat (gr) dan
biomassa (gr) menunjukkan korelasi yang positif. Jika dibandingkan persamaan
regresi linier antara panjang (cm), berat (gr) dan biomassa (gr) dengan kandungan
Timbal (Pb) pada Kerang Bulu (Anadara sp) bahwa nilai koefisien regresi (b) dari
persamaan linier panjang (cm) terhadap konsentrasi Timbal (Pb) lebih besar dari
pada persamaan linier berat (gr) terhadap konsentrasi Timbal (Pb) yaitu + 0,8413.
Ini berarti setiap kenaikan panjang (cm) sebesar 1% maka akan meningkatkan
konsentrasi Timbal (Pb) pada Kerang Bulu (Anadara sp) sebesar 0,8413 %, atau
tingkat akumulasi Timbal (Pb) terhadap peningkatan panjang (cm) lebih cepat
daripada berat dan biomassa (gr) dari Kerang Bulu (Anadara sp).

4.7. Hubungan Antara Panjang (cm) dan Berat (gr) Dengan Biomassa
Kerang Bulu (Anadara sp).
4.7.1. Hubungan Panjang (cm) Dengan Biomassa (gr) Pada Kerang Bulu
(Anadara sp)
Hasil analisis hubungan panjang (cm) dengan biomassa (gr) Kerang Bulu
(Anadara sp) didapatkan rata rata biomassa (cm) yang semakin meningkat
(Lampiran 7). Rata rata biomassa (gr) terbesar terdapat pada Kerang Bulu
(Anadara sp) dengan ukuran besar (5,92 6,71 cm), sedangkan pada Kerang
Bulu (Anadara sp) dengan ukuran sedang ( 4,92 5,61 cm) didapatkan kisaran

4
biomassa (gr) yang lebih rendah, walaupun pada ukuran ini terdapat konsentrasi
Timbal (Pb) yang tertinggi. Biomassa (gr) terendah terdapat pada kelompok
Kerang Bulu (Anadara sp) ukuran yang lebih kecil (3,71 4,73 cm).
Hasil uji regresi linier sederhana antara panjang (cm) dengan biomassa
(gr) Kerang Bulu (Anadara sp), diperoleh persamaan matematis Y = 3,323 + 0,2x
dengan nilai koefisien determinasi (R2) = 0,7854 dan nilai koefisien korelasi (r) =
0,8862. Nilai r menunjukkan hubungan positif. Ini berarti pengaruh peningkatan
biomassa (gr) terhadap panjang (cm) pada Kerang Bulu (Anadara sp) adalah
positif, yaitu dengan semakin bertambahnya panjang (cm) akan meningkatkan
biomassa (gr) dalam tubuh Kerang Bulu (Anadara sp). Pada tingkat kepercayaan
95 % rata rata pengaruh yang diberikan oleh panjang (cm) terhadap biomassa
(gr) Kerang Bulu (Anadara sp) adalah 78,54 %. Hubungan berat (gr) terhadap
Kerang Bulu (Anadara sp) terhadap kandungan Timbal (Pb) mempunyai
hubungan yang kuat (Gambar 5).

Gambar 8. Grafik hubungan antara panjang (cm) dengan biomassa (gr) Kerang
Bulu (Anadara sp)

4.7.2. Hubungan Berat (gr) Dengan Biomassa (gr) Pada Kerang Bulu
(Anadara sp)
Perubahan ini juga terjadi pada hubungan berat (gr) dengan biomassa (gr)
pada Kerang Bulu (Anadara sp) (Lampiran 7). Rata rata biomassa (gr) terbesar
didapatkan pada Kerang Bulu (Anadara sp) dengan ukuran terbesar (32,88
49,67 gr), Kemudian disusul Kerang Bulu (Anadara sp) dengan ukuran sedang
(24,57 28,53 gr), walaupun pada ukuran ini terdapat biomassa (gr) Timbal (Pb)

4
yang tertinggi. Kelompok Kerang Bulu (Anadara sp) yang berukuran paling kecil
( 17,01 25,62 gr) didapatkan nilai biomassa (gr) yang kecil.
Uji regresi linier sederhana antara ukuran berat (gr) dengan biomassa
(gr) Kerang Bulu (Anadara sp), diperoleh persamaan matematis Y = 6,2207+
2,4497x, dengan nilai koefisien determinasi (R2) = 0,8715 dan nilai koefisien
korelasi (r) = 0,93358. Dari persamaan ini juga didapatkan hubungan positif
juga. Ini berarti pengaruh yang diberikan oleh peningkatan berat (gr) terhadap
biomassa (gr) Kerang Bulu (Anadara sp) adalah positif, yaitu dengan terjadinya
peningkatan biomassa (gr) terhadap berat (gr) pada Kerang Bulu (Anadara sp).
Rata rata pengaruh yang diberikan dari peningkatan biomassa (gr) terhadap
berat (gr) pada Kerang Bulu (Anadara sp) adalah 87,15 %. Hubungan berat (gr)
terhadap Kerang Bulu (Anadara sp) terhadap kandungan Timbal (Pb) mempunyai
hubungan yang kuat (Gambar 6).

Gambar 9. Grafik hubungan antara berat (gr) dengan biomassa Kerang Bulu
(Anadara sp)

Dari hasil perbandingan di atas didapatkan hasil bahwa ada hubungan


nyata yang positif antara panjang (cm) dan berat (gr) dengan biomassa (gr) dari
Kerang Bulu (Anadara sp). Ini berarti dengan peningkatan panjang (cm) dan
berat (gr), biomassa (gr) pada Kerang Bulu (Anadara sp) akan bertambah. Hasil
penelitian terhadap pertambahan ukuran panjang (cm) dan berat (gr) terhadap
biomassa (gr) menunjukkan korelasi yang positif.
Jika dibandingkan persamaan regresi linier antara panjang (cm) dan
berat (gr) dengan dan biomassa (gr) pada Kerang Bulu (Anadara sp) bahwa

4
nilai koefisien regresi (b) dari persamaan linier berat (gr) terhadap biomassa
(gr) lebih besar dari pada persamaan linier panjang (cm) terhadap biomassa (gr)
yaitu + 2,4497. Ini berarti setiap kenaikan biomassa (gr) sebesar 1% maka akan
meningkatkan berat (gr) pada Kerang Bulu (Anadara sp) sebesar 2,4497 %, atau
peningkatan berat (gr) lebih besar daripada peningkatan panjang (cm) dari Kerang
Bulu (Anadara sp).

4.8. Hubungan antara ukuran (cm) dengan Berat Daging + cangkang (gr)
Kerang Bulu (Anadara sp).
Hasil analisis hubungan ukuran (cm) dengan berat daging + cangkang (gr)
Kerang Bulu (Anadara sp) didapatkan rata rata berat daging + cangkang (gr)
yang semakin meningkat ( Lampiran 7). Rata rata berat daging + cangkang (gr)
terbesar terdapat pada Kerang Bulu (Anadara sp) dengan ukuran besar (5,92
6,71 cm), sedangkan pada Kerang Bulu (Anadara sp) dengan ukuran sedang (
4,92 5,61 cm) didapatkan kisaran berat daging + cangkang (gr) yang lebih
rendah, walaupun pada ukuran ini terdapat konsentrasi Timbal (Pb) yang
tertinggi. berat daging + cangkang (gr) terendah terdapat pada kelompok Kerang
Bulu (Anadara sp) ukuran yang lebih kecil (3,71 4,73 cm).
Hasil uji regresi linier sederhana antara ukuran (cm) dengan berat daging
+ cangkang (gr) pada Kerang Bulu (Anadara sp), diperoleh persamaan matematis
Y = 2,8157 + 0,0816x dengan nilai koefisien determinasi (R2) = 0,7854 dan
nilai koefisien korelasi (r) = 0,8863 nilai r menunjukkan hubungan positif. Ini
berarti pengaruh yang diberikan oleh peningkatan ukuran (cm) pada Kerang Bulu
(Anadara sp) terhadap berat daging + cangkang (gr) adalah postif, yaitu dengan

4
semakin bertambahnya ukuran akan meningkatkan berat daging + cangkang (gr)
Kerang Bulu (Anadara sp). Pada tingkat kepercayaan 95 % rata rata pengaruh
yang diberikan oleh panjang terhadap Timbal (Pb) adalah 78,54 %. Hubungan
berat (gr) terhadap Kerang Bulu (Anadara sp) terhadap kandungan Timbal (Pb)
mempunyai hubungan yang kuat (Gambar 7).

Gambar 10. Grafik hubungan antara ukuran (cm) dengan berat daging + cangkang
(gr) Kerang Bulu (Anadara sp)

Dari hasil persamaan linier di atas didapatkan hasil bahwa ada hubungan
nyata yang positif antara ukuran (cm) dengan berat daging + cangkang (gr)
dari Kerang Bulu (Anadara sp). Ini berarti dengan peningkatan berat daging +
cangkang (gr) maka ukuran (cm) Kerang Bulu (Anadara sp) akan meningkat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan ukuran (cm) dengan berat
daging + cangkang (gr) Kerang Bulu (Anadara sp) menunjukkan korelasi yang
positif. Dari persamaan linier ukuran (cm) dengan berat daging + cangkang (gr)
Kerang Bulu (Anadara sp) bahwa nilai koefisien regresi (b) yaitu + 0,0816. Ini
berarti setiap kenaikan berat daging + cangkang (gr) sebesar 1% maka akan
meningkatkan ukuran (cm) pada Kerang Bulu (Anadara sp) sebesar 0,0816 %.

4
4.9. Perbandingan Dengan Beberapa Penelitian Timbal (Pb) Pada Bivalva.
Kandungan rata rata Timbal (Pb) pada Kerang Bulu (Anadara sp) jika
dibandingkan dengan kandungan rata rata Timbal (Pb) organisme lainnya dapat
dilihat pada tabel 5.
Tabel 5. Rata rata Perbandingan Dengan Beberapa Penelitian Timbal
(Pb) pada beberapa organisme di Perairan Bagan Deli Belawan
Sumatera Utara.
No
Biota
Konsentrasi Pb (ppm)
1
Udang
0,1625
2
Kerang Bulu
0,1377
3
Cumi cumi
0,0093
4
Ikan
0,1624
5
Gulamah
0,1886
6
Ikan Kepe - kepe
0,2738
7
Kerang darah
0,1374
Sumber : Siagian, L.T.I. (2004)
Hasil analisis kandungan Timbal (Pb) pada Kerang Bulu (Anadara sp)
yang hidup di perairan Bagan Deli Belawan Sumatera Utara jika dibandingkan
dengan hasil penelitian Siagian (2004), yaitu pada tabel 4 di atas lebih tinggi
dimana kandungan Timbal (Pb) yang dijumpai berkisar antara 8,0813 15,3392
ppm dengan kandungan rata rata satu sampel adalah 4,4632 ppm.
Kerang Bulu (Anadara sp) dari perairan Bagan Deli Belawan Sumatera
Utara ini sangat berbahaya bila dikonsumsi oleh manusia, hal ini mengingat
kandungan Timbal (Pb) yang terdapat pada Kerang Bulu (Anadara sp) di perairan
Bagan Deli Belawan Sumatera Utara sudah di atas ambang batas yang telah
ditetapkan oleh EPA (1973) yaitu sebesar 2,0 ppm untuk Timbal (Pb).

4
V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Hasil analisis kandungan Timbal (Pb) pada Kerang Bulu (Anadara sp) di
Perairan Bagan Deli Belawan Sumatera Utara berkisar 8,0813 15,3392 ppm,
Semakin besar sampel Kerang Bulu (Anadara sp) yang dianalisis maka akan
semakin besar kandungan Timbal (Pb) yang diakumulasinya.
Kandungan Timbal (Pb) pada Kerang Bulu (Anadara sp) di Perairan
tersebut menurut ketentuan EPA (1973) sebesar 2,0 ppm telah melewati ambang
batas untuk dikonsumsi oleh masyarakat Bagan Deli Belawan Sumatera Utara
lebih dari dua kali lipat. Berdasarkan hasil uji regresi linier diketahui bahwa
hubungan konsentrasi Timbal (Pb) dengan panjang (cm) lebih tinggi daripada
konsentrasi Timbal (Pb) dengan berat dan biomassa (gr). Sedangkan hubungan
antar biomassa (gr) berat lebih besar daripada hubungan biomassa (gr) dengan
panjang (cm). Kemudian hubungan berat daging + cangkang (gr) akan meningkat
seiring dengan bertambahnya ukuran (cm) pada Kerang Bulu (Anadara sp).

5.2. Saran
Dari hasil uji regresi didapatkan gambaran hubungan kandungan Timbal
(Pb) pada Kerang Bulu (Anadara sp) dengan ukuran yang berbeda dalam satu
stasiun saja. Disarankan bagi peneliti selanjutnya untuk meneliti kandungan
Timbal (Pb) pada Kerang Bulu (Anadara sp) dengan ukuran yang berbeda dengan
beberapa stasiun di perairan Bagan Deli Belawan Sumatera Utara.

4
DAFTAR PUSTAKA

Amrizal, 1991. Analisa Kandungan Logam Berat Pb, Cd, Cu, Zn dan Oil
Content Di Sekitar Pembuangan Limbah Industri Kilang Minyak Sei
Pakning, Kabupaten Bengkalis. Skripsi, Sarjana Fakultas Matematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Riau, Pekanbaru. 86 hal (tidak
diterbitkan).
Anonimus, 1997. Abstrack Book Trace Metal in The Aquatic Environmental.
Fourth International Conference, 19 23 May 1997. University Putra
Malaysia, University Kebangsaan Malaysia, University Malaysia, Kuala
Lumpur. 121 pp.
Bewers, J.M., R.A. Duce, T.D. Jicklelis, P.S. Lies, J.M. Miller, A.L. Windom,
and R. Wollast. 1990. Land to Ocean Transport of Contamination :
Comparisson of River and Atmospheric Fluxes. UNEP Regional Seas
Reports and Studies No. 114, 2 : 417-446.
Bryan, G.W. 1984. Pollution due to Heavy metals and Their Compounds, in O.
Kinne (ed), Marine Ecology. Vol. 5. Jhon Willey and Sons Ltd, London.
1289 1431 pp.
Butar butar, N.R. 2000. Kandungan Logam Berat Pb, Cd, dan Zn Pada Teritip
(Balanus sp) di Perairan Muara Sungai Deli Belawan Sumatera Utara.
Skripsi, Fakultas Perikanan Universitas Riau, Pekanbaru. 52 hal (tidak
diterbitkan).
Dahuri, R. J. Rais, S.P Ginting dan M.J Sitepu. 1996. Pengelolaan Sumberdaya
Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Pradnya Paramita. Jakarta.
305 hal.
Darmono, 2001. Lingkungan Hidup dan Pencemaran, Hubungan Dengan
Toksikologi Senyawa Logam. Universitas Indonesia Press, Jakarta. 167
hal.
Defrianus, A. 2006. Analisis Kandungan Timbal (Pb) Pada Sedimen dan
Rajungan (Portunus pelagicus) di Perairan Pantai Dumai Barat Riau.
Skripsi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas
Riau, Pekanbaru. 36 hal (tidak diterbitkan).
Denton,

G.R.W. dan Burdon Jones C. 1981 Influence on


Bioaccumulation of an Essentian Trace Element (Zn) and Pollutant
Metal (Cd) in Larvae of Prawn Palaemon serratus. Marine Biol. 86 :
139 143.

4
EPA (Environmental Protection Agency),1973. Water Quality Criteria Ecologycal
Research Seriea, Washington. 595 pp.
Febrizal, 1995. Kandungan Logam Berat (Cd, Pb dan Zn) pada Lokan (Geliona
coaxans) di Perairan Sungai Pakning Kabupaten Bengkalis Riau.
Skripsi, Fakultas Perikanan Universitas Riau, Pekanbaru. 59 hal (tidak
diterbitkan).
Gesamp (Join Group of Expert on The Scientific Aspect of Marine Pollution),
1985. Marine Pollution Implication of Ocean Energy Development.
Report and Studies, Rome. 43 p.
Hoshika, A. T. Shiozawa. K. Kawana and T. Tanimoto, 1991. Heavy Metal
Pollution in Sediment from the Seto Island, Japan. Marine Pollution.
Bull. 23 : 101 105.
Hutagalung, H.P. dan H. Razak, 1981. Kandungan Logam Berat Dalam Beberapa
Perairan Indonesia. Jurnal Penelitian Pemantauan Kualitas Air Laut.
XXV (14) : 223 - 346.
Hutagalung, H.P. 1984. Logam Berat di Lingkungan Laut. Pewarta Oseana. 9 (1) :
1-8.
Hutabarat, S. dan S. M. Evans, 1985. Pengantar Oseanografi. Edisi 2. Universitas
Indonesia Press, Jakarta. 159 hal.
Hutagalung, 1991. Pencemaran Laut oleh Logam Berat. Puslitbang OseanologyLIPI, Jakarta. Hal 49 - 50.
Hutagalung, H.P. 1993. Pencemaran Logam Berat dan Analisa Logam Berat.
Kerjasama antara UNESCO/UNDP, P3OLIPI dan Universitas Riau,
Puslit UNRI, Pekanbaru. 15 hal.
Hutagalung, H.P. 1994. Kandungan Logam Berat Dalam Perairan Teluk Jakarta.
Pustlibang Oseanology LIPI, Jakarta, 13 hal.
Kennis, M.J. 1992. Ecology of Estuaries : Anthropoligenic Effect. CRC Press,
Inc, Florida. 494 p.
Korzeniewski, K. And E. Newgebauer., 1991. Heavy Metals Contamination in
The Polish Zone of Southern Baltic. Marine Pollution Bulletin. 23 : 687689.
Lukistyowati, I. 1993. Penuntun Praktikum Ichtyology. Fakultas Perikanan
Universitas Riau, Pekanbaru. 76 hal. (tidak dipublikasikan).
Menteri Negara Kependudikan dan Lingkungan Hidup, 1988. Surat Keputusan
Nomor : Kep 02/MENKLH/I/1988, Tentang Pedoman Penetapan
Baku Mutu Lingkungan. Sekretariat Menteri Negara Kependudukan dan

4
Lingkungan Hidup, Jakarta. 51 hal.
Nontji, A. 1987. Laut Nusantara. Djambatan, Jakarta. 368 hal.
Nybakken, J.W. 1988. Biologi Laut : Suatu Pendekatan Ekologis Diterjemahkan
Oleh M. Eidman, Koesbiono, D. G. Bengen, M. Hutomo dan S.
Sukardjo. Gramedia, Jakarta. 402 hal.
Palar, H. 1994. Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat. Rineka Cipta, Jakarta.
50 hal.
Palar, H. 2004. Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat. Rineka Cipta, Jakarta.
ed II. Jakarta. 152 hal.
Plasket, D and G. Potter. 1979. Heavy Metals Consentration in The Muscle Tissue
of 12 Spesies of Teleost Froom Cocburn Sound. Western Australia.
Australia. J. Mar. Freshhw. Res. 30 (5) : 607 616.
Pramaribo, C.M.G. 1997. Program Pantai Pesisir. Program Pengendalian dan
Kerusakan di Lingkungan Pesisir dan Laut. Makalah pada Pelatihan
dan Pengendalian Dampak Lingkungan Perairan. Fakultas Perikanan
dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. 22 - 24 Desember 1997.
BAPEDALWIL 1, Pekanbaru. 7 Hal.
Razak, A. 1991. Statistika Bidang Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Universitas Riau, Pekanbaru. 98 hal.
Romimohtarto, K. 1991. Pengantar Pemantauan Pencemaran Laut, hal 1 13.
dalam D.H. Kunarso dan Ruyitno (eds). Status Pencemaran Laut di
Indonesia dan Tekhnik Pemantauannya. Puslitbang Oseanologi-LIPI,
Jakarta.
Tanjung, S. 1998. Distribusi Logam Berat Pb dan Cu di perairan Bagan Deli
Belawan Medan, Sumatera Utara. Skripsi, Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan Universitas Riau, Pekanbaru. 40 hal (tidak diterbitkan).
Saleh, C. 2006. Kandungan Logam Berat Timbal (Pb) Dan Tembaga (Cu) Di
Perairan Bagan Deli Belawan Medan Sumatera Utara. Skripsi, Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau, Pekanbaru. 54 hal (tidak
diterbitkan).
Sanusi, H.S., H.P. Hutagalung dan H. Razak, 1984. Hubungan Antara Umur,
Kadar Air Raksa (Hg) dan Kadmium (Cd) Yang Terakumulasi Oleh
Kerang Hijau (Mystylus viridis L) Yang Dibudidayakan di Perairan Teluk
Jakarta. Fakultas Perikanan Institut Pertanian Bogor, Bogor. 70 hal (tidak
diterbitkan).

4
Siagian, L.T.I. 2004. Pengaruh Pencemaran Logam Berat Pb, Cd, Cr Terhadap
Biota Laut dan Konsumennya di Kelurahan Bagan Deli Belawan.
Program Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, Medan. 89 hal (tidak
diterbitkan).
Sastrawijaya, A.R. 1991. Pencemaran Lingkungan. Rineka Cipta, Jakarta. 274 hal.
Soemodihardjo, S., S. Birowo dan K. Romimohtarto, 1987. Teluk Ambon II.
Balai Penelitian Sumberdaya Laut. PPPO LIPI Ambon.125 hal.
Sudjana, M.A. 1986. Metoda Statistik. Tarsito. Bandung. 508 hal.
Surjadi, H. 1993. Kompas Edisi 24 Oktober. 7 : 16 hal.
Thoha, H. 1991. Pencemaran Laut dan Dampaknya Terhadap Lingkungan.
Amerta VI (2) : 10-13.
Ubbe, U. 1992. Analisis LimbahLogam Berat yang Terdistribusi di Muara Sungai
Tallo Ujung Pandang. Lembaga Penelitian Universitas Hasanuddin,
Ujung Pandang. 45 hal (tidak diterbitkan).
Unep (United Nation Environment Program), 1982. Survey of Tar Oil.
Chlorinated Hidrcarbon and Trace Metal Pollution in Coastal Water of
The Sultanate of Oman. UNEP Regional Seas Report and Studies. No.5,
45 p.
Waldichuk, M. 1974. Some Biological Concentration in Metals Pollution. 492
p. In W. Vernberg and D. Venberg (eds). Pollution and Physiology of
Organism. Ann Arbor. Michigan.
Whitfield, M. D.A Turner. and A.G. Dickson, 1981. Speciation of Dissolved
Contituents in Estuaries. P 132-151. In : L.A. ABBOT (eds.) River Input
to Ocean Systems, Proccedings Review Workshop, FAO, 26-30 March
1979. UNEP-UNESCO. Rome.
Wilber, C. 1971. The Biological Aspects of Water Pollution from Land - Based
Sources. Mar. Pollut. Bull. 25:32-36.
Windom, H.L. 1992. Contamination of Marine Environment from Land-Based
Sources. Mar. Pollut. Bull., 25 :32 36.
Wood, J.M. 1980. Lead in the Marine Environment : Some Biological
Considerations. P 292-303. In : M. Branica and Z. Konrad (eds). Lead in
The Marine Environment, Pergamon Press. Oxford.

4
Yudha, N. S., 1993. Pemantauan Logam Hg, Pb, Cd di Teluk Jakarta Sebagai
Tolok Ukur Pencemaran. Laporan Praktek Lapangan. Program Studi
Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan Institut Pertanian
Bogor, Bogor. 60 Hal (tidak diterbitkan).
Zulfitri, 1990. Analisa Logam Berat (Cu, Pb, Hg, As), Kesadahan Total dan
Kandungan Garam (NaCl) dari Air Laut Sekitar Desa Mantang Besar
Kabupaten Kepulauan Riau Sebagai Bahan Baku Garam Rakyat. Skripsi,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Riau,
Pekanbaru. 77 hal (tidak diterbitkan).
Zulkifli, 1994. Kandungan Logam Berat (Pb, Cd, Cu dan Zn) Dalam Air Laut
Permukaan dan Sedimen di Perairan Dumai, Riau. Skripsi, Fakultas
Perikanan Universitas Riau, Pekanbaru. 65 hal (tidak diterbitkan).