Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Genetika berasal dari kata genos yang artinya suku bangsa asal- usul atau asal mula

kejadian; dibentuk dari bahasa yunani genno yag berarti melahirkan ; adaptasi dari bahasa
inggris genetics dipinjam dari bahasa belanda genetic, ilmu genetika adalah cabang ilmu
biologi yang mempelajari seluk beluk dan mekanisme pewarisan sifat berupa sifat keturunan
atau hereditas yang diwariskan dari generasi ke generasi serta variasi yang mungkin timbul
didalamnya. Unit hereditas yang dipindahkan dari satu generasi ke generasi berikutnya
disebut gen. Gen berperan penting dalam menentukan bentuk tubuh, struktur sel dan jaringan,
dan aktivitas fisiologis. Selain oleh gen, bentuk dan sifat tubuh mahluk hidup juga
dipengaruhi oleh lingkungannya (Elvita, dkk., 2008).
Praktikum genetika adalah kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan dilaboratorium
yang bertujuan untuk menguji dan membuktikan teori teori pewarisan sifat berupa sifat
keturunan atau hereditas yang diwariskan dari generasi ke generasi serta variasi yang
mungkin timbul didalamnya.
Gen yang dipengaruhi oleh jenis kelamin adalah gen autosomal yang membedakan
antara laki-laki dan perempuan karena dipengaruhi faktor lingkungan internal yakni
perbedaan kadar hormon kelamin antara laki-laki dan perempuan (Agus, Rosana dan
Sjafaraenan, 2013).
Apabila gen itu terletak pada autosom, maka laki-laki dan perempuan dapat
diharapkan akan menerima gen itu dengan frekuensi sama, sehingga masing-masing seks
mempunyai peluang yang sama besar untuk menunjukkan diwariskannya gen tertentu. Tetapi
apabila gen itu terletak pada kromosom X, maka gen itu akan diwariskan menurut pola
bersilang. Artinya gen yang terletak pada kromosom X itu tidak mungkin diwariskan oleh
seorang ayah langsung kepada anak laki-lakinya (Suryo, 2005).

Ekspresi dari beberapa gen yang diketahui terletak di autosom dapat dibatasi atau
dipengaruhi oleh seks dari seseorang yang memilikinya. Ada banyak contoh sifat keturunan
yang ditentukan oleh gen autosomal yang ekspresinya dipengaruhi oleh seks. Sifat itu tampak
pada kedua macam seks, tetapi pada salah satu seks ekspresinya lebih besar daripada untuk
seks lainnya (Suryo, 2005).
Selain gen yang dipengaruhi oleh jenis kelamin, juga terdapat gen yang dibatasi oleh
jenis kelamin. Hypertrichosis yaitu tumbuhnya rambut pada bagian-bagian tertentu di tepi
daun telinga. Penyakit ini diwariskan melalui kromosom seks yang terangkai pada kromosom
Y. sifat keturunan yang timbul karena pengaruh gen terangkai Y ini dinamakan holandrik dan
gennya disebut gen holandrik. Karena sifat ini diwariskan pada kromosom Y, maka dapat
disimpulkan bahwa sifat keturunan ini hanya diwariskan dari seorang ayah kepada anak lakilaki saja. Jadi, anak-anak dari pasangan suami hypertrichosis dan wanita normal, akan
melahirkan anak-anak wanita normal dan anak laki-laki yang menderita hypertrichosis.
Penyakit hypertrichosis sering dijumpai pada bangsa India dan Pakistan (Miyahara, 2011).
1.2.

Tujuan Percobaan
Untuk mengetahui adanya pengaruh jenis kelamin pada gen autosomal yang
mempengaruhi panjang pendeknya jari telunjuk.
Manfaat

1.3.

Mengetahui adanya pengaruh jenis kelamin pada gen autosomal yang mempengaruhi
panjang pendeknya jari telunjuk.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Gen Gen Yang Dipengaruhi Jenis Kelamin
Telah diketahui bahwa individu itu memiliki dua macam kromosom, yaitu autosom
dan seks kromosom. Oleh karena individu betina dan jantan biasanya mempunyai autosom
yang sama, maka sifat keturunan yang ditentukan oleh gen pada autosom diwariskan dari
orang tua kepada anak-anaknya tanpa membedakan seks (Suryo, 2005).
Walaupun banyak perbedaan anatomis dan fisiologis antara perempuan dan laki-laki,
dasar kromosomal penentuan jenis kelamin cukup sederhana. Pada manusia dan mamalia
lain, ada dua macam kromosom seks, disimbolkan X dan Y. Kromosom Y jauh lebih kecil
daripada kromosom X. Seseorang yang mewarisi dua kromosom X, satu dari masing-masing
orang tua, biasanya berkembang menjadi perempuan. Laki-laki berkembang dari zigot yang
mengandung kromosom X dan satu kromosom Y (Campbell, dkk., 2008).
Penentuan seks pada makhluk hidup ditentukan oleh kromosom seksnya. Terdapat
beberapa macam cara yang digunakan untuk menentukan jenis kelamin makhluk hidup
berdasarkan kromosom seksnya. Contohnya, pada belalang menggunakan sistem X-0 (22 + X
Jantan; 22 + XX Betina), pada ayam sistem Z-W (76 + ZZ Jantan; 76 + ZW Betina), dan pada
lebah sistem haplo-diploid (haploid Jantan, diploid Betina). Sedangkan pada manusia, sistem
yang digunakan adalah X-Y. Betina normal akan dihasilkan jika kromosom seksnya XX dan
jantan normal jika kromosom seksnya XY. Tanda-tanda jenis kelamin manusia secara anatomi
baru akan mulai terlihat pada umur embrio sekitar dua bulan, karena sebelum waktu itu,
bentuk gonadnya cenderung sama dan masih bisa berubah menjadi ovarium atau testis,
terkandung pada kondisi hormon di tubuh embrio tersebut elain untuk menentukan jenis
kelamin, kromosom seks pada manusia juga memiliki banyak gen, khususnya pada
kromosom X. Cara pewarisan sifatnya sama dengan pewarisan yang lain. Namun perlu
dicatat, bahwa alel terpaut seks dari seorang ayah akan diwariskan kepada seluruh anak
perempuannya, tetapi anak laki-lakinya tidak akan memperoleh satupun dari alel tersebut.
Berbeda sekali dengan seorang ibu yang bisa mewariskan alel terpaut seksnya kepada anak
laki-laki dan perempuannya. Umumnya, penurunan sifat terpaut seks pada manusia
ditentukan oleh kromosom X, walaupun pada beberapa kasus terdapat juga pada kromosom Y
(Bohari, Mega, 2011).
3

Selain gen-gen yang terdapat pada kromosom kelamin dikenal pula gen-gen yang
dipengaruhi oleh jenis kelamin. Sifat akan tampak dikedua jenis kelamin, tetapi salah satu
jenis kelamin menampakkan ekspresi yang lebih besar dibandingkan dengan jenis kelamin
lainnya. keadaan yang demikian disebut dengan sex influence genes atau biasa disebut
dengan gen yang dipengaruhi jenis kelamin (Suryo, 2005).
Ekspresi dari beberapa gen yang diketahui terletak di autosom dapat dibatasi atau
dipengaruhi oleh seks dari seseorang yang memilikinya. Ada banyak contoh sifat keturunan
yang ditentukan oleh gen autosomal yang ekspresinya dipengaruhi oleh seks. Sifat itu tampak
pada kedua macam seks, tetapi pada salah satu seks ekspresinya lebih besar daripada untuk
seks lainnya (Suryo, 2005).
Semua jenis keturunan atau kejadian yang diterangkan di muka ditentukan oleh gen
yang terdapat pada autosom. Selain gen-gen dikenal pula gen-gen yang demikian ini disebut
gen-gen terangkai kelamin. Peristiwa dinamakan rangkai kelamin atau dalam inggrisnya
disebut Sex Lingkage. Biasanya gen dominan memperlihatkan pengaruhnya pada individu
laki-laki atau jantan maupun perempuan atau betina. Baru dalam keadaan homozigot resesif
pengaruh dominan itu tidak akan menampakkan diri dalam fenotif. Apabila kita meletakkan
tangan kanan atau kanan kiri pada suatu alas yang terdapat suatu garis mendatar sedemikian
rupa sehingga ujung jari manis menyentuh garis tersebut, maka kita dapat ketahui apakah jari
telunjuk kita akan lebih panjang atau apakah lebih pendek dari jari manis. Pada kebanyakan
orang jari telunjuk tidak akan mencapai garis tersebut yang mengidentifikasi bahwa suatu
individu-individu mungkin mempunyai kandungan gen absolute yang sama ketidakaktifan
kromosom menciptakan sub populasi dengan membedakan kandungan gen aktif (Kimball,
2005).
Apakah sebenarnya yang diberikan pada anak-anak itu sehingga merekapun
mempunyai beberapa sifat seperti orang tuanya? Yang diwariska adalah berupa gen, gen lah
yang bertanggung jawab atas turunnnya sifat-sifat tersebut. Gen-gen yang berhubungan
langsung dengan kromosom ini bisa diturunkan melalui gen autosom maupun gen gonosom
(Nio,1990).
Pada pasangan yang menyumbangkan kromoson Y diam kepada keturunannya yang
laki-laki, jadi fenotif anak laki-lakinya akan secara langsung mencerminkan konstitusi
genetik salah satu dari dua kromosom X nya. Penelitian mengenai pewarisan pautan seks

pada manusia telah menunjukkkan dengan melimpah bahwa pola transmisi gen pada manusia
mengikuti pola-pola yang pertama kali dikenal dengan lalat (Goodenough,1984).
Selain gen yang dipengaruhi oleh jenis kelamin, juga terdapat gen yang dibatasi oleh
jenis kelamin. Hypertrichosis yaitu tumbuhnya rambut pada bagian-bagian tertentu di tepi
daun telinga. Penyakit ini diwariskan melalui kromosom seks yang terangkai pada kromosom
Y. sifat keturunan yang timbul karena pengaruh gen terangkai Y ini dinamakan holandrik dan
gennya disebut gen holandrik. Karena sifat ini diwariskan pada kromosom Y, maka dapat
disimpulkan bahwa sifat keturunan ini hanya diwariskan dari seorang ayah kepada anak lakilaki saja. Jadi, anak-anak dari pasangan suami hypertrichosis dan wanita normal, akan
melahirkan anak-anak wanita normal dan anak laki-laki yang menderita hypertrichosis.
Penyakit hypertrichosis sering dijumpai pada bangsa India dan Pakistan (Miyahara, 2011).
Hypertrichosis adalah kondisi medis yang menyebabkan pertumbuhan eksesif rambut
di area dimana rambut tidak biasanya tumbuh. Ini mungkin hadir di seluruh tubuh atau Anda
bisa memilikinya hanya dalam satu atau lebih daerah. Beberapa individu akan lahir dengan
kondisi dan orang lain akan mengembangkannya di kemudian hari dalam kehidupan.
Hypertrichosis bawaan sangat jarang. Pada kenyataannya itu sangat jarang bahwa hanya ada
kasus diverifikasi sejak Abad Pertengahan. Hal ini terjadi karena cacat selama kehamilan.
Janin ditutupi dengan lanugo yang merupakan lapisan yang sangat halus rambut yang jatuh
selama bulan kedelapan. Dalam kasus ini itu tidak jatuh namun terus berkembang. Dalam
kasus melayani dikenal sebagai terminalis Hypertrichosis bawaan rambut menjadi berwarna
juga dan tetap ada setelah lahir (Anonim, 2012).
Meskipun tidak ada jawaban pasti untuk pertanyaan itu banyak yang percaya kondisi
menjadi gangguan genetik. Hal ini dapat dianggap warisan atau telah diketahui hanya terjadi
karena mutasi gen. Beberapa kanker terkait yang terjadi setelah individu memiliki kanker.
Beberapa orang percaya bahwa hal itu dapat disebabkan oleh obat-obatan atau gangguan
metabolisme juga (Anonim, 2012).
Hypertrichosis juga disebut Sindrom Ambras adalah jumlah yang abnormal dari
pertumbuhan rambut pada tubuh. Kasus ekstensif Hypertrichosis telah informal setelah
disebut Sindrom Werewolf. Ada dua jenis Hypertrichosis (Anonim, 2010) :
1. Hypertrichosis umum(terjadi di seluruh tubuh)
2. Hypertrichosis(terbatas pada wilayah tertentu)

Gen resesif h yang menyebabkan Hypertricosis, yaitu tumbuhnya rambut pada


bagian-bagian tertentu ditepi daun telinga. Alel dominannya H tidak menyebabkan
Hypertricosis. Oleh karena gennya terdapat kromosom Y sedangkan yang memiliki
kromosom Y hanyalah laki-laki saja, maka sifat keturunan ini hanya diwariskan kepada
keturunan laki-laki saja. Hypertricosis lebih sering dijumpai pada bangsa India dan Pakistan
(Suryo, 2005).
Apabila gen itu terletak pada atutosom, maka laki-laki dan perempuan dapat diharapkan akan
menerima gen itu dengan frekuensi yang sama., sehinga masing-masing seks mmpunyai
peluang yang sangat besar untuk menunjukkan diwariskannay gen tertenntu. Tetapi apabila
gen itu terletak pada kromosom-X maka gen tiu akan diwariskan menurut pola bersilang.
Artinya gen yagn terletak pada kromosom-X itu tidak mungkin diwariskan oleh seorang ayah
langsung kepada anak laki-laki (Suryo, 2010).
Jenis kelamin (seks) kita merupakan salah satu karakter fenotipik kita yang lebih
nyata. Meskipun perbedaan antomis dan fisiologis antara pria dan wanita banyak, dasar
kromosom seksnya sedeikit lebih sederhana. Pada manusia dan manusia lain, seperti pada
lalat buah, ada dua varietas kromosom seks, dilambangkan dengan X dan Y. Seseorang yang
mewarisi dua kromosom X, satu dari masing-masing orang tuanya, biasanya berkembang
menjadi perempuan. Seorang Pria biasanya berkembang dari sebuah zigot yang mengandung
satu kromosom X dan satu kromosom Y. Ketika meiosis terjadi di dalam testis, kromosom X
dan Y berperilaku sama seperti kromosom homolog, meskipun kromosom-kromosom tersbut
hanya homolog sebagian dan hanya mengalami sedikit pindah silang satu dengan yang
lainnya (Campbell,dkk., 1999).
Apabila kita meletakkan tangan kita pada suatu alas dimana terdapat sebuah garis
mendatar sedemikian rupa sehingga ujung jari manis menyentuh garis tersebut, maka dapat
diketahui apakah jari telunjuk lebih panjang ataukah lebih pendek daripada jari manis. Pada
kebanyakan orang ujung jari telunjuk tidak akan mencapai garis tersebut. Berarti bahwa jari
telunjuk lebih pendek dari jari manis. Jari telunjuk pendek disebabkan oleh gen yang
dominan pada orang laki-laki, tetapi resesif pada perempuan. Ekspresi gen itu sebagai berikut
(Suryo, 2010):

Genotip
TT
Tt
tt

Laki-laki
Telunjuk Pendek
Telunjuk Pendek
Telunjuk Panjang

Perempuan
Telunjuk Pendek
Telunjuk Panjang
Telunjuk Panjang

Gen terpengaruh kelamin (Sex influenced genes) ialah gen yang memperlihatkan
perbdaan ekspresi antara individu jantan dan betina akibat pengaruh hormon kelamin. sebagai
contoh gen yang terpengaruh kelamin adalah gen autosomal B yang mengatur kebotakan
pada manusia. Gen B dominan pada pria tetapi resesif pada wanita. Sebaliknya gen b
dominan pada wanita tetati resesif pada pria. Akibatnya pria heterozigot akan mengalami
kebotakan, sedang wanita heterozigot akan normal. Untuk dapat mengalami kebotakan
seorang wanita harus mempunyai gen B dalam keadaan homozigot. Selain mempengaruhi
perbedaan ekspresi gen diantara jenis kelamin jug adapt membatasi ekspresi gen pada salah
satu jenis kelamin. gen yang hanya bias diekspresikan pada salah satu jenis kelamin
dinamakan gen yang terbatasi kelamin (sex limited genes) (Susanto, 2011).
Di samping peranannya dalam menentukan jenis kelamin, kromosom seks, terutama
kromosom X, memiliki gen-gen untuk banyak karakter yang tidak berkaitan dengan seks.
Pada manusia, istilah terpaut seks biasanya menunjuk pada karakter-karakter yang terpaut
kromosom X. Jika suatu sifat terpaut seks disebabkan oleh alel resesif, maka seorang anak
perempuan akan memperlihatkan fenotipenya hanya jika dia merupakan homozigot. Karena
anak laki-laki hanya memiliki satu lokus, istilah homozigot dan heterozigot tidak memiliki
arti untuk menggambarkan gen-gen terpaut seks (Campbell,dkk., 1999).
Genotip adalah sifat dasar pada individu yang tidak tampak dan tidak berubah-ubah
karena HiasHi lingkungan (misalnya gen kepala botak genotipnya adalah BB atau Bb).
Fenotip adalah sifat keturunan yang dapat dilihat warna, bentuk dan ukurannya (misalnya
seorang laki-laki dengan genotip Bb & BB memiliki fenotip kepala botak). Alel adalah
anggota dari sepasang gen yang membawa sifat berlawanan. Misalnya alel B (huruf besar)
memiliki pengaruh kepala botak, sedangkan alel b (huruf kecil) membawa sifat kepala
normal. Maka B dan b adalah sepasang alel (Suryo, 2008):
Genotof dan Fenotif Kepala Botak
Genoti
f

Fenoti
f pada

Fenotif
pada

Laki-laki

Perempuan

BB

Botak

Botak

Bb

Botak

Normal

bb

Norm
al

Normal

Gen kepala botak dipengaruhi oleh jenis kelamin. Seorang laki-laki yang memiliki
pasangan gen BB dan Bb akan berkepala botak. Namun seorang perempuan baru akan botak
bila memiliki pasangan gen BB. Jadi gen kepala botak (B) bersifat dominan pada laki-laki,
sedangkan pada perempuan bersifat resesif (kalah dominan daripada gen b) (Suryo, 2008).
Seorang laki-laki botak dengan genotip Bb bila kawin dengan perempuan normal
dengan genotip bb akan memiliki anak dengan peluang genotip Bb (50%) dan bb (50%),
sehingga peluang anak laki-laki untuk botak adalah 50% dan anak perempuan botak 0 %.
Peluang untuk kebotakan karena HiasHi HiasHic lebih besar pada laki-laki HiasHicHio pada
perempuan (Suryo, 2008).
2.2. Kelainan Kelainan Akibat Pewarisan Gen Autosomal
Pewarisan gen autosomal dominan, hadirnya sebuah gen dominan didalam genotip
sesorang sudah menyebabkan sifat itu tampak padanya, banyak contoh kelainan akibat
pewarisan gen autosomal dominan ini yaitu (Suryo, 2010):
a. Polidaktili (Jari Lebih), adalah suatu kelainan yang diwariskan oleh gen autosomal
dominan P sehingga orang mempunyai tambahan jari pada satu atau kedua tangan
dan/atau pada kakinya. Tempat jari tambahan itu berbeda - beda , ada yang terdapat dekat
ibu jari dan ada pula yang terdapat di dekat jari kelingking. Orang normal adalah
homozigotik resesif pp. Pada individu heterozigotik Pp derajat ekspresi gen dominan itu
dapat bereda-beda, sehingga lokasi tambahan jari dapat bervariasi.
b. Kemampuan Mengecap PTC ( ias ic iocarbamide). Orang yang mampu mengecap rasa
pahit PTC disebut taster sedangkan yang tidak disebut non taster. Gen penentu taster
adalah TT atau Tt. Diagram pewarisannya mirip dengan polidaktili.
c. Thalassemia, Thalassemia merupakan penyakit darah bawaan yang menyebabkan sel
darah merah pecah atau hemolisis. Thalasemia sering disebut juga sebagai Cooleys
anemia serta sering menyerang bayi dan anak-anak. Penyakit ini banyak menyerang di
8

HiasHi-negara sekitar laut Tengah, Timur Tengah dan khatulistiwa. Kelainan HiasHic ini
ditandai dengan berkurangnya atau bahkan tidak adanya sintesis hemoglobin (Hb)dan
bentuk eritrosit yang tidak teratur sehingga tidak Hias mengikat O2 secara optimal.
Thalassemia dibedakan menjadi 3, yaitu Thalassemia , dan F ().
d. Dentinogenesis Imperfecta, Merupakan kelainan pada gigi manusia berupa dentin putih
seperti susu (opalesen). Penyebabnya adalah gen dominan D. Pada hasil rontgen, email
tampak normal. Namun, ruang-ruang pulpa dan saluran akar gigi terhapus dengan dentin
abnormal. Ada penambahan perbatasan pada hubungan antara mahkota dengan akar gigi
molar.
e. Anonychia, Berupa kelainan jari tangan dan atau kaki yang pertumbuhannya tidak bagus.
Biasanya kuku tidak ada pada jari telunjuk atau jari tengah. Penyebabnya adalah gen
dominan An (resesifnya adalah an).
f. Retinal Aplasia, Merupakan kelainan pada mata yang menyebabkan kebutaan sejak lahir.
Penyebabnya adalah gen dominan Ra. Penyakit ini ditemukan 10% dari kasus kebutaan.
g. Katarak, Katarak juga merupakan kelainan pada mata yang memiliki resiko
menimbulkan kebutaan. Gen yang berpengaruh dalam penyakit ini adalah gen dominan
K.
h. Lekuk pipi, lekuk dagu, tumbuhnya rambut yang tebal pada dada, lengan, tangan, serta
dapat membengkokkan ibu jari dengan sudut yang tajam.
i. Daun telinga yang bebas dan melekat.
j. Warna rambut hitam.

BAB III
PELAKSANAAN PERCOBAAN
3.1. Waktu Pelaksanaan

Adapun waktu dan tempat praktikum Genetika ini dilaksanakan pada :


Percobaan Gen Gen Yang Dipengaruhi Jenis Kelamin
9

Hari/Tanggal : Kamis, 26 November 2015


Pukul

: 11.20 13.00 WIB

Tempat

: Laboratorium Biologi FMIPA UNIMED

3.2. Bahan Dan Alat


GEN GEN YANG DIPENGARUHI JENIS KELAMIN
a. Alat

No.

Nama Alat

Jumlah

1.

Pulpen

1 buah

2.

Penggaris

1 buah

3.

Kertas HVS

3 buah

4.

Meja

1 buah

b. Bahan

No.

Nama Bahan

Jumlah

1.

Tangan Kanan dan Kiri

2 buah

3.3. Prosedur Percobaan


A. Pengamatan Gen Gen Yang Dipengaruhi Jenis Kelamin
No.

Prosedur Kerja

10

Meletakkan tangan pada kertas yang sudah diberi garis horizontal, sehingga
1.

jari manis menyinggung garis horizontal tersebut. Perhatikan jari telunjuk,


berada dibawah garis horizontal (yang berarti telunjuk lebih pendek) atau
melewati garis horizontal (yang berarti jari telunjuk lebih panjang).

2.

Menggambar hasil pengamatan pada kertas HVS.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Pengamatan Gen Gen Yang Dipengaruhi Jenis Kelamin
4.1.1. Data Hasil Kelompok

11

No.

Nama

Genotipe

1.

Syadiah

TT

2.

Nurwenny Ratna Dewi

TT

3.

Mawi Melina Sihotang

TT

4.

Diva Triana Mora

TT

5.

Sondang Sitinjak

TT

4.1.2. Data Hasil Kelas


No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.

Nama
Syadiah
Nurwenny Ratna Dewi
Mawi Melina Sihotang
Diva Triana Mora
Sondang Sintinjak
Azrul Bahri Hutabarat
Nurul Azmi
Fatimah Dian Sari
Putri Wulan Sari P. Keliat
Ayu Puspita Budi Putrid
Semeon Silalahi
Githa Indriana
Sri Winata Nababan
Namira Nadratul Alvia
Maya Rebecca Manic
Nada Fitriani Nasution
Gepi Diannisa Dalimunthe
Sheila Septriayanti Rangkuti
Raihan Nur Asdi
Intan Sari Siregar
Sopan Sopian
Jesaya Surbakti
Yessica Sipayung
Maria Anjelina
Bella Donna Ariesta
Angga Simatupang
Monica Sri Ulina
Coki Brimo Sinambela
Anita Cristy Simatupang
Septia Armayanti
Nur Aisyah Putri Rambe
Indi Miranda
Nuri Andriani
Lanny E Pasaribu
Lusiana Wati

Genotipe
TT
TT
TT
TT
TT
TT
TT
TT
TT
TT
TT
TT
TT
TT
TT
TT
TT
TT
TT
TT
TT
TT
TT
TT
TT
TT
TT
TT
TT
TT
TT
TT
TT
TT
TT
12

36.
37.
38.
39.
40.
41.
42.

Lola Zeramenda Br Tarigan


Susiana Siahaan
Ridha Novilia
Etti U Silitonga
Daniaty Siregar
Tiffany
Fauziah Hanif

TT
TT
TT
TT
TT
TT
TT

4.2. Pembahasan
Pengamatan dilakukan dengan cara meletakkan tangan kanan atau kiri kita pada suatu
kertas dimana terdapat sebuah garis mendatar yang sedemikian rupa sehingga ujung jari
manis menyentuh garis tersebut, agar dapat kita ketahui apakah jari telunjuk kita akan lebih
panjang atau lebih pendek dari jari manis.
Adapun genotip untuk percobaan kali ini adalah sebagai berikut :

Genotip

laki laki

Perempuan

TT

telunjuk pendek

telunjuk pendek

Tt

telunjuk pendek

telunjuk panjang.

Tt

telunjuk panjang.

telunjuk panjang.

Pada umumnya, ujung jari telunjuk tidak akan mencapai garis itu, berarati bahwa jari
telunjuk lebih pendek dari jari manis. jari telunjuk pendek disebabkan oleh gen yang dominan
pada laki laki dan resesif pada perempuan .
Dari percobaan yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa seluruh mahasiswa
pendidikan Biologi Ekstensi B 2013 memilki gen bertelunjuk pendek (TT dan Tt). Dengan
persentase frekuensi fenotif untuk laki-laki bertelunjuk pendek (TT dan Tt) adalah 100%, dan
untuk perempuan bertelunjuk pendek (TT) persentasenya adalah 100%. Sedangkan frekuensi

13

fenotif untuk laki-laki bertelunjuk panjang (tt) adalah 0%, dan untuk perempuan bertelunjuk
panjang (Tt dan tt) adalah 0%.
Dari data di atas, dapat dikatakan bahwa pada mahasiswa pendidikan Biologi
Ekstensi B 2013 ini memiliki genotip yang lazim ditemukan di masyarakat, Hal ini sesuai
dengan teori yang dikemukakan oleh Suryo (2004), bahwa biasanya gen dominan
memperlihatkan pengaruhnya pada individu laki-laki maupun perempuan dalam keadaan
homozigot resesif, pengaruh dominan tersebut tidak di tampakkan dalam keadaan fenotip.
Adanya perbedaan genotip pada setiap orang, dan adanya peranan gen seks pada
percobaan kali ini memberikan gambaran pada kita bahwa tidak hanya gen yang terdapat
pada genosom. Hal ini terjadi sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Gun, G (2006),
bahwa terjadi aliran informasi genetika yang terdapat dalam setiap sel makhluk hidup yang
dikemas dalam suatu bentuk materi genetik yang dikenal sebagai asam deoksiribunukleat
(DNA). Kode genetik yang ada di dalam DNA menentukan bagaimana protein disusun.
Proses ekspresi gen merupakan aspek yang fundamental dalam setiap organisme.
Pernyataan diatas dikuatkan oleh teori Stansfield (1991), bahwa gen-gen yang
mengatur berbagi sifat yang dipengaruhi seks, dapat terletak pada autosom mana saja atau
pada bagian homolog dari kromosom seks. Ekspresi dominasi atau resesif oleh alel, lokus
lokus yang dipengaruhi perbedaan lingkungan internal yang disebabkan oleh hormone seks.
Berikut adalah bentuk fenotipe dari jari telunjuk yang pendek dan yang panjang :

14

Keterangan :
A. Jari telunjuk lebih pendek dari jari manis.
B. Jari telunjuk lebih penjang dari jari manis.
C. Jari telunjuk sama penjang dari jari manis.

BAB V
PENUTUP
Kesimpulan
Pada umumnya, ujung jari telunjuk tidak akan mencapai garis itu, berarati bahwa jari
telunjuk lebih pendek dari jari manis. jari telunjuk pendek disebabkan oleh gen yang dominan
pada laki laki dan resesif pada perempuan .
Dari percobaan yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa seluruh mahasiswa
pendidikan Biologi Ekstensi B 2013 memilki gen bertelunjuk pendek (TT dan Tt). Dengan
persentase frekuensi fenotif untuk laki-laki bertelunjuk pendek (TT dan Tt) adalah 100%, dan
untuk perempuan bertelunjuk pendek (TT) persentasenya adalah 100%. Sedangkan frekuensi
fenotif untuk laki-laki bertelunjuk panjang (tt) adalah 0%, dan untuk perempuan bertelunjuk
panjang (Tt dan tt) adalah 0%.
Dari percobaan diatas, dapat dikatakan bahwa pada mahasiswa pendidikan Biologi
Ekstensi B 2013 ini memiliki genotip yang lazim ditemukan di masyarakat, Hal ini sesuai
dengan teori yang dikemukakan oleh Suryo (2004), bahwa biasanya gen dominan
memperlihatkan pengaruhnya pada individu laki-laki maupun perempuan dalam keadaan
homozigot resesif, pengaruh dominan tersebut tidak di tampakkan dalam keadaan fenotip.

Saran
Saran saya sebagai praktikan sebaiknya alat alat yang digunakan dalam praktikum
genetika harus lengkap, agar tidak mengganggu jalannya praktikum dan Pada praktikum
15

selanjutnya sebaiknya praktikan lebih memperhatikan lagi pada saat praktikum dilaksanakan,
agar tidak terjadi kesalahan-kesalahan yang bisa mempengaruhi hasil yang diperoleh.

DAFTAR PUSTAKA
Campbell, Neil A. Reece, Jane B. dan Can Mitchell, 2010, Biologi Jilid I Edisi Kedelapan,
Erlangga : Jakarta.
Didjosepoetro.1974. Pengantar Genetika. DeptDikBud : Jakarta.
Elvita, asmi., dkk.2008. Genetika dasar. http:/ yayanakyar. files. wordpres.com /2009/01
/genetika-dasar files-of drsmed.pdf. diakses pada tanggal 7 Oktober 2015, Pukul
20.15 WIB, Medan.
Endista, Amiyella. 2008. Uji Chi-Square. http:/berandakami. file. wordpress.com /2008 /
11/uji-chi-square baru.pdf. diakses pada tanggal 7 Oktober 2015, Pukul 20.15 WIB,
Medan.
Hardjosubroto, W. 1998. Pengantar Genetika Hewan dan Tumbuhan. Yogyakarta : Gadjah
Mada University Press.
Kusdiarti, lilik. 1986. Genetika Tumbuhan. UGM Press :Yogyakarta.
Nio, Tjan Kwiauw.1990. Genetika Dasar. ITB Press : Bandung.
Sofro, Abdul Salam.1992. Keanekaragaman Genetik. Andiofsel :Yogyakarta.

16

Sumastri. 2005. Genetika. http:/yayanakyar. files .wordpres. com / 2009/01/genetika files -ofdrsmed. pdf. diakses pada tanggal 7 Oktober 2015, Pukul 20.15 WIB, Medan.
Suryo. 1984. Genetika. UGM Press : Yogyakarta.
Susanto, Hery Agus. 2011. Genetika. Graham Ilmu : Yogyakarta.

17