Anda di halaman 1dari 28

Strabismus

Pembimbing: dr. Juniati V.P., Sp.M.

FK UKRIDA
Chatrine Sutandi
11-2013-063

Pendahuluan
Kelainan yang menggangu fungsi mata salah satunya adalah
strabismus.
Strabismus atau mata juling adalah suatu kondisi dimana kedua
mata tampak tidak searah atau memandang pada dua titik yang
berbeda.
Strabismus terjadi pada kira-kira 2% anak-anak usia di bawah 3
tahun dan sekitar 3% remaja dan dewasa muda.

Anatomi Mata

Eva PR, Whitcher JP. Oftalmologi Umum. Edisi ke-17. Jakarta: EGC; 2009.

Eva PR, Whitcher JP. Oftalmologi Umum. Edisi ke-17. Jakarta: EGC; 2009.

Otot-Otot Bola Mata

Eva PR, Whitcher JP. Oftalmologi Umum. Edisi ke-17. Jakarta: EGC; 2009.

Strabismus
Suatu keadaan dimana kedudukan kedua bola mata tidak ke satu
arah. Satu mata bisa terfokus pada satu objek sedangkan mata yang
lain dapat bergulir ke dalam, ke luar, ke atas, atau ke bawah.
Strabismus biasanya disebabkan oleh:
Kelumpuhan pada 1 atau beberapa otot penggerak mata
(strabismus paralitik).
Tarikan yang tidak sama pada 1 atau beberapa otot yang
menggerakan mata (strabismus non-paralitik).

Patofisiologi
Gangguan Faal Otot Penggerak Bola Mata
Apabila terdapat satu atau lebih otot penggerak bola mata yang tidak
dapat mengimbangi gerak otot-otot lainnya,maka terjadilah gangguan
keseimbangan gerak antara kedua mata, sehingga sumbu penglihatan
menyilang pada tempat diluar letak benda yang menjadi perhatiannya dan
disebut juling (crossed eyes).

Anisometropia
Keadaan dimana kedua mata terdapat perbedaan kekuatan refraksi
Aniseikonia
Apabila kita melihat ke suatu benda yang berjarak antara satu dan
dua meter dihadapan kita, kemudian menutup satu mata berganti,
maka kita akan mengetahui bahwa terdapat perbedaan bentuk,
tempat maupun besarnya benda yang kita perhatikan

Klasifikasi
Menurut manifestasinya
Heterotropia : strabismus manifes (sudah terlihat)
Suatu keadaan penyimpangan sumbu bola mata yang nyata
Heteroforia : strabismus laten (belum terlihat jelas)
Penyimpangan sumbu penglihatan yang tersembunyi yang
masih dapat diatasi dengan reflek fusi.

Loebis R. Strabismus atau Mata Juling pada Anak. Diunduh dari:


http://rsudrsoetomo.jatimprov.go.id/id/index.php/berita/artikel/381-strabismus-atau-mata-juling-pada-anak?format=pdf. Diakses tanggal: 11 November 2015.

Menurut jenis deviasi


Horizontal : esodeviasi atau eksodeviasi
Vertikal

: hiperdeviasi atau hipodeviasi

Torsional : insiklodeviasi atau eksiklodeviasi


Kombinasi: horizontal, vertikal dan atau torsional
Menurut kemampuan fiksasi mata: monokular dan alternan
Menurut usia terjadinya : kongenital dan didapat
Menurut sudut deviasi
Inkomitan (paralitik)
Komitan (nonparalitik)

Manifestasi Klinis
Mata lelah
Sakit kepala
Penglihatan kabur
Mata juling (bersilangan)
Mata tidak mengarah ke arah yang sama
Gerakan mata yang tidak terkoordinasi
Penglihatan ganda.

Diagnosis dan Pemeriksaan


Anamnesis
Riwayat keluarga
Umur pada saat timbulnya strabismus
Timbulnya strabismus : mendadak, bertahap, atau berhubungan
dengan penyakit sistemik.
Jenis deviasi
Fiksasi : apakah selalu berdeviasi satu mata atau bergantian?

Pemeriksaan
Inspeksi
Dengan inspeksi sudah dapat ditentukan apakah strabismusnya
konstan atau hilang timbul (intermitten), berganti-ganti (alternan)
atau menetap (nonalternan),dan berubah-ubah (variable) atau tetap
(konstan).
Pemeriksaan Ketajaman Penglihatan
Tajam penglihatannya harus diperiksa walaupun secara kasar untuk
membandingkan tajam penglihatan kedua mata.

Pemeriksaan
Pemeriksaan Kelainan Refraksi
Memeriksa kelainan refraksi dengan retinoskop memakai
sikloplegik adalah sangat penting. Obat baku yang digunakan agar
sikloplegia sempurna adalah atropine. Bisa diberikan dalam bentuk
tetes mata atau salep mata 0,5 % atau 1 % beberapa kali sehari
selama beberapa hari.

Pemeriksaan
Menentukan Besar Sudut Deviasi

Sudut deviasi dapat diukur dengan melokalisir reflex cahaya


(metode Hirschberg) atau netralisasi dengan suatu prisma yang
dipegang di depan mata berfiksasi dengan meletakkan reflex cahaya
di sentral pada mata yang tidak berfiksasi (uji Krimsky).

Uji Hirschberg, reflek kornea


Adanya juling ditentukan dengan menggunakan
sentolop dan melihat reflek sinar pada kornea. Pada
uji ini mata disinari dengan sentolop dan akan
terlihat reflek sinar pada permukaan kornea.

Noorden GK. Atlas of Strabismus. 4th edition. St Louis:


MosbyYear Book; 1983.

Uji krimsky
Dengan uji krimsky prisma dengan kekuatan yang sesuai
dengan beratnya juling dipegang di depan mata berfiksasi
dan reflek cahaya diobservasi agar dipusatkan pada pupil
mata yang nirfiksasi. Sudut deviasi dan arah dibaca
langsung dari prisma.

Noorden GK. Atlas of Strabismus. 4th edition. St Louis:


MosbyYear Book; 1983.

Uji tutup mata (cover test)


Bila telah terjadi fiksasi kedua mata maka
mata kiri ditutup dengan lempeng penutup.
Di dalam keadaan ini mungkin akan terjadi:
Mata kanan bergerak berarti mata tersebut
mempunyai kejulingan yang manifest

Noorden GK. Atlas of Strabismus. 4th edition. St Louis:


MosbyYear Book; 1983.

Uji tutup buka mata (uncover test)

Uji ini sama dengan uji tutup mata, dimana


yang dilihat adalah mata yang ditutup. Mata
yang ditutup dan diganggu fusinya sehingga
mata yang berbakat menjadi juling akan
menggulir.

Noorden GK. Atlas of Strabismus. 4th edition. St Louis:


MosbyYear Book; 1983.

Uji tutup mata berganti (alternate


cover test)
Bila satu mata ditutup dan kemudian mata yang lain maka bila
kedua mata berfiksasi normal maka mata yang dibuka tidak
bergerak. Bila terjadi pergerakan pada mata yang baru dibuka
berarti terdapat foria atau tropia.

Uji Worths Four Dot


Bila fusi baik: 4 titik
Bila terdapat supresi: 2 merah bila mata
kanan dominan atau 3 hijau bila mata kiri
yang dominan.
Bila terlihat 5 titik, 3 merah dan 2 hijau
yang bersilangan (eksotropia) dan bila
tidak bersilangan (esotropia).

Noorden GK. Atlas of Strabismus. 4th edition. St Louis:


MosbyYear Book; 1983.

Penatalaksanaan
Memperbaiki visus kedua mata dengan terapi oklusi
Memperbaiki posisi kedua bola mata agar menjadi ortoforia.
Melatih fusi kedua bayangan dari retina kedua mata agar
mendapatkan penglihatan binokuler sebagai tujuan akhir yang
hasilnya tergantung dari hasil operasi, pemberian lensa koreksi dan
latihan ortoptik.

Komplikasi
Supresi
Ambliopia
Defek otot
Adaptasi posisi kepala

Prognosis
Prognosis pada strabismus ini baik bila segera ditangani lebih lanjut,
sehingga tidak sampai menimbulkan komplikasi yang menetap.

KESIMPULAN
Strabismus adalah suatu keadaan dimana kedudukan kedua bola
mata tidak ke satu arah. Hal ini dapat terjadi karena adanya
penyimpangan penjajaran okular yang sempurna.
Klasifikasi dapat terbagi berdasarkan manifestasinaya, jenis deviasi,
kemampuan fiksasi mata, usia terjadinya, dan sudut deviasinya.
Diagnosis dapat ditegakan dengan anamnesa dan pemeriksaan yang
teliti. Tujuan dari penatalaksanaan adalah mengembalikan
penglihatan binokular yang normal dan alasan kosmetik.

Daftar Pustaka
Guyton, Arthur C, John E. Fisiologi Kedokteran. Edisi ke-11.
Jakarta : EGC; 2008.
Ilyas HS, Yulianti SR. Ilmu Penyakit Mata. Edisi ke-5. Jakarta:
Penerbit FKUI; 2015.
Eva PR, Whitcher JP. Oftalmologi Umum. Edisi ke-17. Jakarta:
EGC; 2009.
Ilyas S, Mailangkay HE. Ilmu Penyakit Mata. Edisi ke-2. Jakarta:
Sagung Seto; 2007.

Daftar Pustaka
Loebis R. Strabismus atau Mata Juling pada Anak. Diunduh dari:
http://rsudrsoetomo.jatimprov.go.id/id/index.php/berita/artikel/38
1-strabismus-atau-mata-juling-pada-anak?format=pdf
. Diakses tanggal: 11 November 2015.
Richard S. Anatomi Klinik. Edisi ke-6. Jakarta : EGC; 2006.
Rusdianto. Diagnosis dan Manajemen Mikrostrabismus. The 4th
Sumatera Ophthalmology Meeting. Padang; 2006.

Noorden GK. Atlas of Strabismus. 4th edition. St Louis: Mosby


Year Book; 1983.

James B. Oftalmologi. Edisi ke-9. Jakarta : Erlangga; 2006.

THANK YOU