Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sebuah Rumah sakit telah didirikan pada tanggal 22 Desember 2010 di
jalan Ahmad Yani no. 77 Kabupaten Demak. Rumah sakit ini diberi nama
Rumah Sakit Umum Daerah Surya Kencana. Rumah Sakit Umum Daerah
Surya Kencana didirikan di kawasan industri rumah tangga. Saat ini RSUD
surya kencana sedang membangun manajemen rumah sakit yang bermutu.
Rumah sakit umum daerah Surya Kencana memberikan layanan yang unggul
dalam penyakit dalam. Ruang penyakit dalam RSUD surya kencana adalah
ruangan yang ditujukan untuk pasien yang mengidap penyakit organ dalam
(tanpa pembedahan).
1.2 Tujuan Penulisan
Dari penyusunan makalah ini kami mempunyai tujuan:
1.2.1 Tujuan Umum
Mahasiswa dapat memahami konsep visi, misi, filosofi dan
kepemimpinan dalam pengambilan keputusan.

1.2.2 Tujuan Khusus


1. Memahami dasar pembuatan Visi, Misi, Filosofi dan Tujuan di
Ruang Penyakit Dalam
2. Untuk mengetahui karakteristik Ruang Penyakit Dalam di Rumah
Sakit Umum Daerah Surya Kencana.
3. Untuk mengetahui pengertian dari pengambilan keputusan dalam
kepemimpinan
4. Memahami Gaya Kepemimpinan dan pengambilan keputusan
diruang Penyakit Dalam.
BAB II
1

TINJAUAN TEORI

2.1 Konsep dasar teori


2.1.1 Visi, Misi, Filosofi, Tujuan
Visi adalah perawat/ manajemen keperawatan harus mempunyai
suatu pandangan dan pandangan yang luas tentang manajemen dan proses
perubahan yang terjadi saat ini dan yang akan datang, yaitu tentang
penduduk, sosial, ekonomi, dan politik yang akan berdampak terhadap
pelayanan kesehatan. (Nursalam ,2002)
Misi adalah sebagai suatu langkah nyata dari profesi keperawatan
dalam melaksanakan visi yang telah ditetapkan, yaitu menjaga dan
mengawasi suatu proses professionalisasi keperawatan indonesia agar
terus berjalan dan berkesinambungan (tidak putus di tengah jalan).
(Nursalam, 2002)
Filosofi adalah keyakinan yang dimiliki individu atau kelompok
yang mengarahkan setiap pelaksaan kegiatan individu atau kelompok
kepada pencapaian tujuan bersama (Gillies, 1985) dalam Agus Kuntoro
(2010)
Tujuan pelayanan keperawatan ditetapkan untuk meningkatkan dan
mempertahankan kualitas pelayanan serta meningkatkan penerimaan
masyarakat tentang profesi keperawatan. (Agus Kuntoro, 2010).
Jadi Kesimpulannya , Visi adalah gambaran masa depan dan masa
sekarang rumah sakit menghimbau dengan dasar logika dan naluri secara
bersama-sama, visi mempunyai nalar dan memberi ilham, serta sekaligus
mengisyaratkan harapan dan kebanggaan jika dapat diselesaikan.
Sedangkan Misi merupakan persyaratan umum untuk organisasi rumah
sakit yang dapat menimbulkan perasaan emosional seluruh tenaga di

rumah sakit tersebut. Jadi visi dan misi ini berkaitan erat, karena
bagaimanapun baiknya suatu konsep, visi hanya akan menjadi sebuah
slogan tanpa suatu tindakan yang nyata (misi).
2.1.2 Kepemimpinan dan Pengambil Keputusan
Hersey dan Blanchand (1977) dalam Nursalam (2002) mengartikan
kepemimpinan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan melalui individu
dan kelompok untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Fleishman

(1973)

dalam

Nursalam

(2002)

mengartikan

kepemimpinan sebagai suatu kegiatan yang menggunakan proses


komunikasi untuk memengaruhi kegiatan seseorang atau kelompok ke
arah pencapaian tujuan dalam situasi tertentu.
LAN RI (1996) dalam S. Suarli dan Yanyan Bahtiar (2007)
mengartikan kepemimpinan ialah segala hal yang bersangkutan dengan
pemimpin dalam menggerakkan, membimbing dan mengarahkan orang
lain agar melaksanankan tugas dan mewujudkan sasaran yang ditetapkan.
Jadi kesimpulannya, Kepemimpinan adalah kemampuan memberi
inspirasi kepada orang lain untuk bekerja sama sebagai suatu kelompok,
agar dapat mencapai suatu tujuan umum sedangkan pengambil keputusan
adalah tugas terpenting dari semua tugas yang membentuk fungsi
kepemimpinan manajerial. Dapat dikatakan bahwa pembuat keputusan
adalah inti proses manajemen, karena suatu keputusan diperlukan untuk
mendorong tindakan-tindakan yang berarti baik oleh manajemen itu
sendiri maupun oleh bawahannya.
A. Gaya kepemimpinan (S. Suarli dan Yanyan Bahtiar, 2007):
1. Gaya autokratik adalah seorang pemimpin yang menganggap
bahwa semua kewajiban untuk mengambil keputusan, menjalankan
tindakan, mengarahkan, memberi motivasi dan mengawasi
bawahannya berpusat ditangannya.

2. Gaya demokratik atau pastisipatif adalah seorang pemimpin yang


menghargai karakteristik dan kemampuan seseorang
3. Gaya lasiez-faire adalah gaya mengatur atau mengkoordinasi, dan
memaksa bawahan untuk merencanakan, melakukan dan menilai
pekerjaan mereka sendiri.
B. Gaya Pengambil Keputusan (S. Suarli dan Yanyan Bahtiar, 2007) :
Gaya Pengambil keputusan menurut Vroom dan Yetton
mengindikasikan seberapa besar kemungkinan bagi bawahan untuk
dapat diikutsertakan dalam pengambilan keputusan. Penelitian dan
pengalaman praktis telah memperlihatkan bahwa peran serta bawahan
dalam pengambilan keputusan kadang-kadang sangat efektif dalam

beberapa situasi tertentu dan tidak efektif dalam situasi yang lain.
Victor H. Virrum dan Philips W. Yetton (kemudian diperbaiki oleh
Yetton dan Jago) mengembangkan suatu model dengan asumsi bahwa
salah satu diantara 5 gaya pengambilan keputusan dapat diterapkan
dalam sutu situasi tertentu. Gaya tersebut adalah :
1. Autokratik 1 (A1) adalah pemimpin mengambil keputusan sendiri
dengan

menggunakan

informasi

yang

dimilikinya,

tingkat

partisipasi bawahan tidak ada.


2. Autokratik 2 (A2) adalah pemimpin mendapatkan informasi yang
diperlukan dari bawahan, kemudian mengambil keputusan sendiri.
Bawahan bias diberitahu atau tidak diberitahu mengenai tujuan dari
pertanyaan yang diajukan kepadanya. Tingkat partisipasi bawahan
sedikit.
3. Konsultatif 1 (C1) adalah pemimpin memberitahukan masalah
kepada bawahan dan mendengarkan gagasannya secara sendirisendiri. Setelah itu pemimpin mengambil keputusan sendiri.
Keputusan ini bisa mencerminkan atau tidak mencerminkan
pandangan dari bawahan-bawahannya. Tingkat partisipasi bawahan
kurang.
4. Konsultatif 2 (C2) adalah pemimpin memberitahukan masalah
kepada

bawahan

mendengarkan

dalam

gagasan.
4

rapat
Setelah

(meeting)
itu

kelompok

pemimpin

dan

mengambil

keputusan. Keputusan ini mencerminkan atau tidak mencerminkan


pandangan dari bawahan-bawahannya. Tingkat partisipasi bawahan
sedang.
5. Partisipasi grup (GP) adalah pemimpin memberitahukan masalah
kepada bawahannya dalam rapat (meeting) kelompok, dan
memimpin serta mengarahkan rapat agar mencapai suatu keputusan
akhir yang diterima oleh semua pihak. Namun, pemimpin tidak
berusaha untuk mempengaruhi maupun memaksakan keinginan
agar menuju pada suatu keputusan tertentu. Tingkat partisipasi

bawahan tinggi.
Gaya alternatif dalam pengambilan keputusan dalam kelompok
Terdapat 6 jenis atau Tipe pengambilan keputusan sebagai berikut :
1. Pengambilan keputusan yang kurang tanggapan
Metode ini banyak digunakan, tetapi sekaligus juga merupakan
metode

yang

biasanya

kurang

diperhatikan.

Seseorang

mengetengahkan suatu saran sebelum diskusi dimulai, orang lain


mengusulkan gagasan lain, prosesnya berulang sendiri sehingga
akhirnya kelompok memperoleh gagasan. Semua gagasan telah
menjadi keputusan bersama, tanpa pertimbangan dan tanpa tertulis.
Sering terjadi dalam konferensi dimana terdapat saran atau gagasan
yang tidak pernah dipertimbangkan atau didiskusikan.
2. Pengambilan keputusan dengan cara otomatis
Metode ini efesien jika pimpinan siding atau rapat mendengarkan
secara seksama gagasan para anggotanya. Gagasan dikemukakan,
didiskusikan, dan setelah pimpinan mendengarkan dengan cukup, ia
telah memiliki informasi yang berguna untuk membuat suatu
keputusan bijaksan dengan segera. Walaupun demikian, metode ini
sering dianggap sebagai metode yang mempunyai partisipasi
anggota kelompok yang kurang dan keinginan untuk melaksanakan
keputusan yang kurang pula.
3. Pengambilan keputusan minoritas
Hal ini jika satu atau dua anggota kelompk dapat mengatasi
anggota kelompok yang lain. Penyebabnya adalah baik pengetahuan

ataupun keahlian lebih menonjol atau karena orang tersebut dalam


situasi otoritas.
4. Keputusan mayoritas
Ini merupakan metode yang dikenal banyak orang. Pemungutan
suara diadakan dari suara mayoritas yang menentukannya.
Kelemahan metode ini adalah bahwa pemungutan suara cenderung
mengarang pada pembentukan koalisi, sehingga dapat timbul
adanya minoritas yang dikalahkan, walaupun gagasan mereka
kadang-kadang lebih baik yang dimiliki mayoritas.
5. Pengambilan keputusan dengan consensus
Metode ini paling efetif tetapi menyita paling banyak waktu karena
keputusannya

tidak

dibuat

dengan

suara

bulat,

melainkan

memberikan kesempatan pada semua anggota kelompok untuk


menyumbangkan gagasannya terhadap keputusan yang akan
diambil.
6. Pengambil keputusan dengan suara bulat
Bentuk yang paling ideal, tetapi paling sulit diperoleh. Keputusan
terjadi jika semua anggota kelompok setuju dengan keputusan yang
telah dipilih.

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Karakteristik Ruang Penyakit Dalam


Rumah sakit Surya Kencana merupakan rumah sakit umum daerah di
tingkat kabupaten tepatnya di kabupaten demak yang dibangun pada tahun 2010.

Rumah sakit umum daerah surya kencana memberikan pelayanan yang unggul
perawatan penyakit dalam pada penyakit degeneratif.
Karakteristik Rungan Penyakit Dalam :

Ruang Penyakit Dalam : Ruangan yang ditujukan untuk pasien yang


mengidap penyakit organ dalam (tanpa pembedahan) dalam suatu rumah

sakit.
Klasifikasi ruang penyakit dalam :
Umum : pernafasan, pencernaan, perkemihan, jantung dengan masa

pemulihan
Harapan :
1. Meminimalisir terjadinya komplikasi yang disebabkan oleh
penyakit degeneratif
2. Mengefektifkan waktu perawatan dengan LOS (length of stay)
sedikit, BOR (bad occupary rate) tinggi, dan TOI(turn of interval)
rendah serta terampil dalam ruang lingkup penyait dalam
khususnya degeneratif.
3. Memberikan pelayanan yang kuratif, preventif, rehabilitatif, dan
promotif.
4. Mempunyai sumber daya manusia yang berilmu, bermutu, dan
terampil dalam ruang lingkup penyakit dalam khususnya
degeneratif.
Visi dan Misi Rumah Sakit
Surya Kencana
Visi
Memberikan upaya pelayanan kesehatan yang efektif (kuratif, preventif,
rehabilitative dan promotif) melalui SDM yang berilmu, bermutu dan
terampil pada bidang penyakit dalam ditahun 2015.
Misi

1
2

Meningkatkan kerjasama antar profesi


Meningkatkan SDM baik dalam kualitas dan kuantitas melalui

3
4

pelatihan
Melayani dan menyediakan fasilitas kesehatan
Memberikan asuhan keperawatan yang bermutu sesuai dengan ilmu
keperawatan dan kode etik

Filosofi
Kami percaya bahwa kualitas kesehtan perlu ditunjang oleh pendidikan
dan pengalaman yang memadai, agar asuhan keperawatan yang diberikan
sesuai dengan kebutuhan pasien.
Tujuan
Memberikan asuhan keperawatan terhadap individu dan keluarga dalam
kondisi fisiologis maupun patologis.
Perhitungan tenaga kerja kesehatan Rumah Sakit menurut Thailand
dan Filipine di hitung dari setiap ruangan :
A x 52 x 7 (TT x BOR)
+25
41 mggx 40 jam

- Ruang penyakit dalam

: 60 TT x 50% = 30 TT yang terisi

3,4 x 52 x 7 (30 )
+25 =23 orang
41 mggx 40 jam

3.2 Kepemimpinan dan Pengambil Keputusan di Rumah Sakit


3.2.1 Gaya kepemimpinan

Partisipatif
Demokratif
Mengapa kami mengambil gaya kepemimpinan seperti yang diatas, karena

kami mempunyai salah satu misi yaitu meningkatkan kerja sama antar profesi.
Selain itu kami juga ingin mendorong para staf agar meningkatkan
kemampuan mengendalikan diri dan menerima tanggung jawab yang lebih
luas.
1.2.2

Pengambilan Keputusan
Menurut Vroom dan Yetton, pengambilan dengan cara Partisipasi Grup

karena kita harus menerapkan bahwa pemimpin memberitahukan masalah


masalah kepada bawahannya dalam rapat (meeting) kelompok, dan
memimpin serta mengarahkan rapat agar mencapai suatu keputusan akhir
yang diterima oleh semua pihak. Namun, pemimpin tidak berusaha untuk
mempengaruhi maupun memaksakan keinginan agar menuju pada suatu
keputusan tertentu Jadi, tingkat partisipasi bawahan tinggi. Karena kami
ingin meningkatkan sumber daya manusia baik dalam kualitas dan
kuantitas sehingga para perawat mempunyai prospektif kerja yang baik
dalam implikasi keperawatan.

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Untuk membangun suatu rumah sakit perlu dipertimbangkan
tempat yang strategis, serta mempunyai visi yang jelas dan
diwujudkan melalui misi dan dilandasi dengan filosofi yang kokoh.
Sumber daya manusia yang dibutuhkan harus sesuai dengan
kebutuhan rumah sakit dan setiap individu harus memiliki visi yang
sama dengan rumah sakit untuk mencapai tujuan rumah sakit yang

dicita-citakannya dan tujuan Rumah Sakit Mutiara Bunda pada tahun


2015 untuk meningkatkan BOR ruangan penyakit dalam sebesar
80% dari BOR awal 50%.
4.2 Saran
Seorang pemimpin keperawatan pada level manapun harus
mampu mengidentifikasi kebutuhan tenaga keperawatan pada
unitnya,dengan menetapkan jumlah dan kategori parawat yang
dibutuhkan, sesuai dengan beban kerja unit yang bersangkutan.
Jumlah ditetapkan melalui berbagai teknik dan disesuaikan dengan
metode yang dipilih serta kebutuhan unit tersebut.
Agar jumlah tenaga yang ada dapat didayagunakan secara
efektif dan efisien maka perlu disusun jadwal sesuai dengan
komposisi dan jumlah tenaga yang ada. Selain itu,diselaraskan pula
antara kebutuhan unit kerja dan kebutuhan staf dan pada akhirnya
dapat meningkatkan produktifitas kerja.

DAFTAR PUSTAKA
Russel C. Swanburg. 2000. Kepemimpinan & Manajemen Keperawatan.Jakarta:
EGC
S. Suarli dan Yanyan Bahtiar. 2009. Manajemen Keperawatan. Jakarta: Salemba
Medika
Gillies, D.A. 1989. Manajemen Keperawatan : suatu pendekatan sistem. Jakarta
Nursalam. 2002. Manajemen Keperawatan : penerapan dalam praktik
keperawatan profesional. Jakarta : Salemba Medika
Kuntoro,Agus.2010.Buku Ajar Manajemen Keeperawatan. Yogyakarta:Muha

10

Medika

11