Anda di halaman 1dari 4

Cara penghentian aset tetap dan pencatatannya di dalam jurnal dan buku besar:

1. Dibuang/dihapuskan (discarded)
2. Dijual (sold)
3. Ditukar dengan aktiva lain (exchange)
Aset tetap berupa sumber daya alam dan aset tidak berwujud:
1. Karakteristik aset tetap berupa sumber daya alam
2. Harga perolehan aset tetap berupa sumber daya alam
3. Metode pencatatan beban deplesi serta penyajian dalam laporan laba-rugi.
Aset tetap berupa aset tidak berwujud:
1. Pengertian dan karakteristik aset tidak berwujud
2. Jenis-jenis aset tidak berwujud
3. Harga perolehan aset tidak berwujud
4. Metode dan pencatatan amortisasi
5. serta penyajian dalam laporan laba-rugi.

Utang jangka panjang (utang wesel jangka panjang):


1. Karakteristik dan pengertian utang wesel jangka panjang
2. Pencatatan utang wesel jangka panjang
Penerbitan wesel pada nilai pari dan tidak pada nilai pari
Perhitungan amortisasi diskon dan biaya bunga
Pelunasan utang
Utang jangka panjang (Utang Obligasi):
1. Karakteristik dan pengertian utang obligasi.
2. Penerbitan surat utang obligasi.
3. Jenis utang obligasi.
4. Harga pasar obligasi.
5. Pencatatan proses utang obligasi
Pencatatan pada saat pengeluaran obligasi
Pencatatan pada saat peredaran obligasi
Pencatatan pada saat pelunasan obligasi

Pembentukan dan usaha persekutuan:


1. Pengertian dan karakteristik persekutuan
2. Bentuk-bentuk persekutuan
3. Perjanjian persekutuan
4. Penyertaan modal
5. Akuntansi usaha persekutuan

Pembubaran karena perubahan pemilik persekutuan:


1. Pengertian pembubaran persekutuan
2. Keadaan yang menyebabkan pembubaran persekutuan
3. Masuknya anggota baru
4. Pengunduran diri/kematian anggota
5. Penyatuan atau peleburan persekutuan

Sewa guna usaha (leasing)


1. Pengertian sewa guna usaha
Pengertian sewa guna usaha menurut Keputusan Menteri Keuangan No.
1169/KMK.01/1991 tanggal 21 Nopember 1991 tentang Kegiatan Sewa Guna Usaha:
Sewa guna usaha adalah kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang
modal baik secara guna usaha dengan hak opsi (finance lease) maupun sewa guna
usaha tanpa hak opsi (operating lease), untuk digunakan oleh lessee selama jangka
waktu tertentu berdasarkan pembayaran secara berkala
2. Keunggulan sewa guna
3. Kriteria dan prosedur kapitalisasi dalam sewa guna usaha
4. Membedakan lease modal dan lease operasi
5. Pencatatan lease oleh penyewa guna usaha (leasee)
6. Pencatatan lease oleh pihak perusahaan sewa guna usaha (lessor).

Penjualan angsuran:
1. Pengertian penjualan angsuran
Penjualan angsuran adalah penjualan yang pembayarannya tidak diterima
sekaligus (tidak langsung lunas), tetapi pembayarannya diterima melalui
lebih dari 2 (dua) tahap. Istilah penjualan angsuran dengan penjualan kredit
hampir sama, tetapi penjualan kredit yang dibayar hanya 2 X pembayaran
bukan merupakan penjualan angsuran.
Penjualan Angsuran untuk Barang Tidak Bergerak dan Barang Bergerak
Dalam praktik penjualan angsuran dapat dipakai baik untuk barang bergerak
maupun barang tidak bergerak. Dalam penjualan angsuran pada umumnya laba
kotor diakui secara proporsional dengan penerimaan kas. Hal ini disebabkan ada
kemungkinan terjadi pembatalan penjualan angsuran. Dengan metode ini bila
terjadi pembatalan penjualan angsuran di catatan perusahaan tidak timbul rugi,
367
tetapi mencatat keuntungan. Tetapi untuk penjualan angsuran barang-barang
tidak bergerak tetap ada yang mengakui laba kotor pada periode penjualan.
Metode pencatatan untuk penjualan barang tidak bergerak berbeda dengan
metode pencatatan untuk penjualan barang bergerak. Pada penjualan barang
tidak bergerak, saat penjualan, nama barang yang bersangkutan langsung
dikredit sebesar beban pokok penjualan. Selisih antara harga jual dan beban
pokok penjualan langsung diakui sebagai laba kotor belum direalisasi.
Pada penjualan barang bergerak, laba kotor yang belum direalisasi belum
diakui pada saat terjadi transaksi penjualan. Laba kotor yang belum direalisasi
baru dihitung pada akhir periode.
2. Penyajian informasi penjualan angsuran di dalam laporan keuangan

Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa di samping menjual secara reguler,


perusahaan menjual secara angsuran dengan tujuan untuk meningkatkan omzet
penjualan. Apabila hal ini terjadi, maka dalam neraca harus dijelaskan secara
rinci:
a. saldo piutang penjualan angsuran dari masing-masing periode penjualan
angsuran,
b. saldo dari laba kotor belum direalisasi dari masing-masing periode penjualan
angsuran.
Dalam laporan laba atau rugi harus dipisahkan antara penjualan, biaya dan
laba atau rugi dari penjualan reguler dan dari penjualan angsuran. Sedangkan
laba atau rugi yang dicantumkan dalam laporan laba atau rugi adalah laba/rugi
yang direalisasi selama satu periode tersebut (termasuk laba yang direalisasi
dari penjualan angsuran periode-periode sebelumnya).
Di bawah ini diberikan ilustrasi Laporan Keuangan apabila perusahaan di
samping menjual secara reguler juga menjual secara angsuran.

Penjualan konsinyasi:
1. Pengertian

Penjualan Konsinyasi didefinisikan oleh IFRS (IAS 2)


sebagai situasi yang pihak pemegang barang persediaan
bertindak sebagai agen bagi pemilik sebenarnya (Wiley,
2007:179). Penjualan konsinyasi dalam pengertian
sehari-hari dikenal dengan sebutan penjualan dengan
cara penitipan.
2.
3.
4.
5.

Perjanjian konsinyasi
Pencatatan untuk komisioner
Pencatatan untuk pengamanat
Laporan perhitungan laba-rugi