Anda di halaman 1dari 17

Sucker Rod Pump (Pompa Angguk)

Pompa Angguk atau Sucker Rod Pump adalah: suatu alat bantu untuk mengangkat cairan dari
formasi kepermukaan yg merupakan bagian dari pengangkatan buatan (artificial lift).
Pengoperasian Pumping Unit (Sucker Rod Pump) merupakan salah satu teknik pengangkatan
buatan yang digunakan untuk membantu mengangkat minyak dari dasar sumur ke permukaan
tanah sampai ke tanki penampungan. Metode inidigunakan karena penurunan energi alami
atau tekanan reservoir sumur tersebut sudah tidak mampu lagi mengangkat minyak ke
permukaan.
Prinsip kerja Pumping Unit yaitu mengubah gerak rotasi dari Prime Mover menjadi gerak
naik turun oleh sistem Pitman Crank Assembly, kemudian gerak ini melalui walking beam di
teruskan ke Horse Head di jadikan gerak lurus naik turun (Up Stroke dan Down Stroke)
untuk menggerakan plunger melalui rangkaian rod.
Keuntungan SRP adalah :

Tidak mudah rusak

Mudah diperbaiki di lapangan

Fleksibel terhadap laju produksi, jenis fluida dan kecepatan bisa diganti

Teknologi mudah dikuasai oleh orang lapangan

Mudah diketahui dari jauh unit mesin masih kerja/tidak.

Kelemahan :
1. Berat, dan butuh tempat luas, transportasi sulit.
2. Tidak baik untuk sumur miring/offshore

BAB I
Pendahuluan
1.1.

Latar Belakang
Pada setiap sumur minyak baru yang sudah siap untuk diproduksi, biasanya

diharapkan minyak mengalir ke permukaan dengan tenaga yang tersedia secara alami pada
reservoir sumur minyak itu sendiri.
Proses ini akan berlangsung sampai pada satu titik dimana tenaga yang tersedia akan
berkurang, sehingga kemampuan untuk mengangkat minyak ke permukaan akan terhenti.
Agar minyak yang masih dalam sumur dapat lagi mengalir ke permukaan, maka perlu
menggunakan Artificial Lift.
Artificial Lift adalah setiap metode yang diipakai untuk memproduksi minyak mentah
dari sumur setelah tekanan yang tersedia secara alami dalam sumur itu tidak mampu lagi
untuk mengangkat minyak ke permukaan.
Sembur buatan dilakukan dengan maksud untuk mempertahankan tingkat produksi
agar tetap tinggi, karena kemampuan produksi suatu sumur akan terus berkurang dengan
bertambahnya waktu. Atau kemampuan sumur yang bersangkutan untuk berproduksi sejak
awal ditemukan sangat kecil, sehingga perlu dilakukan sumur buatan.
Sesudah fluida sampai ke permukaan dan melewati choke, fluida akan melalui pipapipa (sistim) di permukaan untuk dialirjan ke fasilitas permukaan. Hal utama yang harus
diperhatikan dalam aliran pipa horizontal adalah penentuan penurunan tekanan sepanjang
aliran pipa penentuan diameter pipa yang diperlukan. Dalam memperkirakan penurunan
tekanan yang terjadi, dapat digunakan berbagai kolerasi yang telah tersedia (Horizontal Flow
Performance).
Fluida produksi dari kepala sumur dialirkan dengan pipa alir (flow line) ke tempat
pengumpulan (block station) dan fluida tersebut dapat terdiri dari minyak, air dan gas. Sesuai
dengan permintaan dari pabrik pengilangan minyak (refinery) ataupun pesyaratan yang harus
dipenuhi sebelum dikapalkan, maka antara minyak, air, dan gas harus dipisahkan. Hampir
semua perusahaan pipa minyak menghendaki agar minyak yang ditransport tidak
mengandung lebih dari 2-3% air dan padatan. Proses pemisahaan fluida produksi meliputi
berbagai cara pemmisahaan padatan-padatan dari minyak, pemisahan air dan gas dari minyak

serta pemecahan emulsi. Bebagai peralatan digunakan untuk proses pemisahan yang terdiri
dari masing-masing komponen, maupun merupakan gabungan-gabungan dari pada komponen
yang membentuk satu sistim pemisahan. Minyak yang telah dipisahkan dialirkan dan
ditampung pada yangki penimbunan (storage tank), kemudian akan dikirim ke refinery atau
ke terminal pengapalan dengan jalan mengalirkan melalui pipa salur (pipe line).

1.2.

Tujuan

Agar dapat memahami tentang tahap produksi khususnya sembur buatan (artificial lift)

1.3.

Rumusan Masalah

1. Jelaskan yang dimaksud dengan Artificial !


2. Sebutkan metode-metode artificial !
3. Jelaskan metode-metode artificial !

BAB II
Artificial Lift
Pengangkatan buatan adalah merupakan suatu usaha untuk membantu mengangkat
fluida produksi sumur ke permukaan dengan jalan memberikan energi mekanis dari luar.
Metoda pengangkatan buatan yang umum digunakan selama ini dalam metoda artificial lift
adalah dengan menggunakan jenis peralatan gas lift, pompa sucker rod, dan pompa
sentrifugal (pompa reda) yang masing-masing peralatan tersebut akan dijelaskan di bawah
ini.

2.1. Gas Lift


Gas Lift System merupakan suatu metode untuk mengngkat minyak dari dalam sumur
dengan menggunakan gas yang diinjeksikan dalam bertekanan oleh gas compressor ke

annulus. Gas Lift pada prinsipnya mencampurkan gas kedalam system agar didapat densitas
system yang lebih ringan, sehingga memberikan Pwf yang kecil agar didapat drawdown yang
besar. Gas yang digunakan bisa berasal dari sumur minyak itu sendiri atau dari gas well.
Tubing yang digunakan pada gas lift system dilengkapi dengan beberapa mandrel tempat
duduknya Gas Lift Valve.
Adapun dasar operasi gas lift untuk mengangkat minyak dari dasar sumur ke
permukaan, adalah sebagai berikut :
Pengurangan atau penurunan gradien fluida di dalam tubing.
Pengembangan gas yang diijeksikan ke dalam sumur.
Pendorongan fluida reservoir ke permukaan oleh gas injeksi bertekanan tinggi.
Ditinjau dari cara penginjeksian gas, maka gas lift dibedakan menjadi dua, yaitu :
Continuous gas lift, yaitu gas diinjeksikan secara terus menerus ke dalam annulus melalui
valve yang dipasang pada tubing, maka gas akan masuk ke dalam tubing.
Intermittent gas lift, yaitu gas diinjeksikan secara terputus-putus pada selang waktu tertentu,
sehingga dengan demikian injeksi gas merupakan suatu siklus dan diatur sesuai dengan laju
fluida yang mengalir dari formasi ke lubang sumur.

a)

Beberapa kelebihan gas lift dibandingkan dengan metode sembur buatan lain, yaitu:
Biaya peralatan awal untuk instalasi gas-lift biasanya lebih rendah, terutama sekali untuk

b)
c)
d)
e)
f)

pengangkatan sumur dalam (deep lift).


Pasir (bahan abrasif) yang ikut terproduksi tidak merusak kebanyakan instalasi gas-lift.
Gas-lift tidak tergantung/dipengaruhi oleh design sumur
Umur peralatan lebih lama
Biaya operasi biasanya lebih kecil,terutama sekali untuk deeplift
Ideal untuk sumur-sumur dengan GOR tinggi atau yang memproduksikan buih gas (gas-cut
foam).
Gas-lift dapat diterapkan hamper pada setiap lapangan asalkan ada cukup gas dan
bukan minyak-berat. Ada dua metode gas-lift yang dapat diterapkan, yaitu continuous gas lift,
dan intermittent gas lift.
Peralatan gas lift dapat dibedakan dalam dua kelompok, yaitu :

A. Peralatan di Atas Permukaan


Peralatan di atas permukaan adalah semua peralatan yang diperlukan untuk proses
injeksi gas ke dalam sumur yang terletak di permukaan. Peralatan-peralatan tersebut
meliputi :
1. Wellhead dengan Christmas tree.
Rangkaian peralatan di atas permukaan untuk gas lift sama seperti peralatan wellhead dan

christmas tree pada sumur sembur alam. Untuk gas lift, christmas tree ini ditambah dengan
peralatan khusus untuk mengatur jumlah gas yang masuk ke dalam sumur serta tekanannya.
2. Stasiun kompresor.
Kompresor digunakan untuk menaikkan tekanan gas yang diijeksikan. Di dalam stasiun
kompresor terdapat beberapa buah kompresor yang dihubungkan dengan manifold. Dari
stasiun kompresor ini gas bertekanan tinggi dikirimkan ke sumur-sumur melalui stasiun
distribusi.
3. Stasiun distribusi.
Adalah fasilitas penyaluran gas injeksi dari stasiun kompresor ke sumur-sumur dengan sistem
manifold-nya. Dalam menyalurkan gas injeksi dari kompresor ke sumur terdapat beberapa
macam cara, yaitu :
Stasiun distribusi langsung. Pada sistem ini gas dari kompresor disalurkan langsung ke sumur
produksi. Sistem ini mempunyai kelemahan yaitu bila kebutuhan gas untuk masing-masing
sumur tidak sama sehingga injeksi tidak efisien.
Stasiun distribusi dengan pipa induk. Sistem ini lebih ekonomis karena panjang pipa dapat
diperpendek. Tetapi karena sumur yang satu berhubungan dengan sumur yang lain, maka bila
salah satu sumur sedang dilakukan injeksi gas, sumur lain bisa terpengaruh.

Stasiun distribusi dengan stasiun distribusi. Stasiun ini sangat efektif sehingga sering
digunakan. Gas dikirim dari stasiun pusat kompresor ke stasiun distribusi kemudian dibagi ke
sumur-sumur dengan menggunakan pipa.

4. Alat-alat kontrol
Alat-alat ini meliputi choke, regulator, time cycle control, pressure control. Choke yang
dirangkai dengan regulator berfungsi untuk mengatur (membatasi) jumlah gas yang
diinjeksikan sesuai dengan tekanan yang dibutuhkan. Sedangkan time cycle control
dipergunakan untuk mengontrol laju injeksi aliran gas dengan interval waktu yang
dikehendaki. Alat ini dipakai pada intermittent flow. Penggunaan gas lift pada sumur-sumur
minyak mempunyai keuntungan tersendiri bila dibandingkan dengan metoda pengangkatan
lainnya, keuntungan itu antara lain adalah :
Dapat dilakukan pada sumur-sumur yang mempunyai tekanan sampai 4000 psi, dan dapat
menghasilkan rate produksi sebesar 5000 BBL/hari.
Dapat dilakukan untuk sistem komplesi dengan menggunkan tubing yang kecil (macaroni),
dengan berbagai jenis valve-valve dan dioperasikan dengan wire line. Dapat digunakan untuk

operasi kick-off ataupun untuk proses pengosongan (unloading).


Digunakan pada sumur-sumur yang mempunyai problem kepasiran.
Masih mungkin digunakan pada sumur-sumur yang memilki GOR tinggi.
Umur peralatan relatif lebih lama.
Mempunyai biaya awal dan biaya operasi lebih murah untuk kondisi-kondisi seperti di atas.

B. Peralatan di Bawah Permukaan


Peralatan bawah permukaan dari gas lift tidak berbeda jauh dengan peralatan pada
sembur alam, hanya disini ditambah dengan valve-valve gas lift. Yang paling umum dipakai
pada saat ini adalah jenis pressure charge bellow valve. Dalam keadaan normal valve ini
tertutup (karena adanya tekanan di dalam bellow) dan akan bekerja berdasarkan tekanan
injeksi.
Valve-valve ini dipasang pada tubing dan berfungsi untuk :
Mengosongkan sumur dari fluida workover atau kill fluid supaya injeksi gas dapat mencapai
titik optimum di dalam tubing.
Mengatur aliran injeksi gas ke dalam tubing, baik pada proses unloading (pengosongan
sumur) maupun pada proses pengangkatan fluida.

2.1.1 Continuous gas lift.

Dalam cara ini gas dengan tekanan dan volume tertentu diinjeksikan ke dalam sumur
secara terus-menerus (kontinyu) selama proses pengangkatan minyak. Cara ini sesuai untuk
sumur-sumur yang mempunyai PI tinggi dan tekanan dasar-sumur tinggi.
Gambar 3.3 memperlihatkan tipe instalasi aliran continue. Ada enam katup (valve)
didalam sumur. Empat katup bagian atas digunakan sebagai katup pengosongan sumur
(unloading valve) dari fluida workover , untuk mencapai katup operasi kelima (operating
valve). Satu katup tambahan dibawah titik injeksi (point of injection) ditambahkan untuk
kondisi keamanan atau kondisi sumur yang berubah. Karena terdapat satu katup dibawah
katup operasi, permukaan fluida pemati sumur (kill fluid) mencapai titik keseimbangan
(point of balance) antara tekanan casing dan tekanan didalam tubing. Tanpa katup ini didalam
sumur , permukaan cairan didalam casing akan tetap pada kedalaman katup-lima (operating

valve). Empat katup pengosongan fluida tetap tidak beroperasi sampai katup ini diperlukan
untuk mengosongkan sumur lagi pada kasus lain,seperti setelah penutupan sumur (shut-in).
Continuous gas-lift ini sering digunakan pada sumur-sumur yang mempunyai
kondisi :
a) Produktifitas tinggi dan tekanan static tinggi (permukaan fluida dalam sumur pada saat static
dapat mencapai 70% dari kedalaman sumur).
b) Productivity index (PI) rendah,tetapi tekanan dasar sumur tinggi
2.1.2. Intermittent gas lift.
Dalam cara ini gas diinjeksikan secara periodik. Waktu dari injeksi diatur oleh suatu
alat di permukaan yang disebut sebagai intermitter, atau oleh katup (valve) yang dipasang
pada tubing dan sensitive terhadap perbedaan tekanan antara casing dan tubing. Metode ini
lebih cocok untuk sumur-sumur dengan tekanan dasar-sumur rendah.
Pada metode ini gas diinjeksikan secara terputus yaitu gas diinjeksikan selama
beberapa saat , kemudian injeksi dihentikan selama selang waktu tertentu , dan kemudian
diinjeksikan lagi,dan seterusnya. Pengaturan frekuensi atau siklus injeksi tersebut dapat
dilakukan dengan menggunakan:
a.

Surface-controller dengan menggunakan jam (clock)

b. Choke, yang bekerja atas perubahan tekanan casing atau tubing.


Penghentian injeksi gas diperlukan untuk member kesempatan terhadap cairan masuk
dan terkumpul didalam tubing diatas titik-injeksi. Setelah terkumpul baru diinjeksikan gas
dan gas akan mendorong fluida kepermukaan dalam bentuk kolom cairan (slug). Lamanya
penghentian tergantung pada produktifitas formasi. Jika produktifitas farmasi besar, maka
lamanya penghentian injeksi kecil (singkat). Sedangkan bila produktifitas sumur kecil , maka
pernghentian injeksi memerlukan waktu yang lama
Intermittent gas-lift dapat digunakan pada dua kondisi sumur , yaitu :
a. PI tinggi ( 0,5) dengan tekanan dasar-sumur rendah , atau
b. Pi rendah dengan tekanan dasar sumur rendah
Dalam metode intermittent pada gambar 3.4 sebelum gas diinjeksikan , minyak
dibiaran dulu membentuk kolom (slug) diatas katup (gas-lift) didalam tubing. Karena gas
diinjeksikan dan tekanan naik didalam annulus,maka katup membuka pada tekanan-bukanya
yang diikuti oleh aliran gas kedalam tubing. Gas ini akan mendorong kolom minyak keatas.
Selama pendorongan ini sebagian cairan akan mengalir kembali kebawah. Pada waktu kolom
tadi mencapai permukaan,kolom berikutnya telah terbentuk karena aliran dari formasi. Gas
diinjeksikan , katup terbuka sehingga gas akan mendorong kolom minyak dan demikian
seterusnya kolom demi kolom diangkat kepermukaan.

2.2. Hidraulic Oil Well Pumping

Hydraulic Pump System adalah salah satu bentuk metode lain yang dipakai untuk
memompakan minyak mentah dari dalam sumur bila tenaga reservoir yang tersedia tidak
mampu lagi untuk mengangkat minyak mentah kepermukaan. Hydralic Pump terdiri dari
surface components dan subsurface components.
Prinsipnya adalah power fluid dengan bantuan fluida tersebut dapat menggerakkan
piston dan piston menggerakkan pompa, system ini disebut juga Hydraulic Piston Pump.
Bula power fluid tersebut dipakai untuk mempercepat produksi dengan system nozzle,
disebut Jet Pumping.
Pada hydraulic pumping system, minyak mentah atau air diambil dari storage tank
dan masuk ke Triplex / Multiplex pump. Fluida dengan tekanan rendah dipompakan dengan
triplex pump dikontrol dengan keran-keran di stasiun pengontrol dan didistribusi kesatu atau
wellhead dan langsung ke pompa didalam sumur.
Dalam piston pump, fluida menggerakkan engine serta pompa. Fluida pendorong ini
kembali ke pemrukaan dengan minyak terproduksi dan dialirkan ke storage tank.

Beberapa criteria dari penggunaan Hydraulic Pumping sebagai berikut:

Biasanya dioperasikan dengan power oil, kadang-kadang air


Cocok untuk sumur ber-volume relative tinggi
Tepat untuk sumur yang dalam dan casing yang kecil
Tidak cocok untuk sumur yang terproduksi pasir

2.3. Beam Type Pumping Unit (BPU)


Sekitar 80-90% dari semua sumur sembur buatan diproduksikan dengan pemompaan
sucker-rod,yang paling umum adalah sistim pemompaan beam. Walaupun sistim sucker-rod
beam secara mekanis sederhana dan telah terbukti berumur lama (awet) dan ekonomis dalam
operasi , banyak faktor yang harus dipertimbangkandalam perencanaan sistim yang tepat.
Design engineer harus mengetahui sepenuhnya fungsi dan segi rumit tiap bagian dari sistim

keseluruhan jika kinerja optimum yang diharapkan. Walaupun kelihatan sederhana,kelakuan


sistim beam dan sucker-rod kompleks sekali didalam praktek lapangan.
Metode pemompaan sumur-minyak dapat dibagi kedalam dua kelompok utama , yaitu
:
a)

Sistim rod , dimana gerakkan peralatan pemompaan bawah-permukaan berasal dari

b)

permukaan dan ditransmisikan kepompa dengan memakai rangkaian-rod (rod string).


Sistim tanpa rod , dimana gerakan pemompaan dari pompa bawah permukaan dihasilkan
dengan menggunakan selain sucker-rod.
Dari dua kelompok diatas yang pertama diwakili sistim pemompaan beam , dan kedua
diwakili sistim pemompaan hidrolik dan sentrifugal.
Sistim pemompaan terdiri dari lima bagian yaitu :

1) Pemompa penggerak sucker rod dibawah permukaan


2) Rangkaian sucker rod yang mentransmisikan gerakan pemompaan dipermukaan dan tenaga
untuk pompa bawah permukaan (subsurface pump). Juga termasuk rangkaian tubing atau
casing yang diperlukan didalam mana sucker rod beroperasi dan menyalurkan fluida yang
3)

dipompakan dari pompa kepermukaan.


Peralatan pemompaan dipermukaan yang merubah geraan rotasi dan penggerak utama

(prime mover) menjadi gerakkan osilasi linier.


4) Unit tranmisi tenaga atau speed reducer
5) Prime mover yang menyediakan tenaga yang diperlukan kepada sistim.
Gambar 3.5 memperlihatkan berbagai komponen suatu sisitim lengkap pemompaan beam.
Butir (3) dan (4) diatas menunjukkan unit pemompaan beam.
Gambar 3.6 memperlihatkan susunan peralatan dipermukaan (surface equipment) untuk tipe
konvensional.
Gerakan rotasi dari crank arm dirubah jadi gerakan osilasi (naik turun) dengan
menggunakan walking beam. Crank arm dihubungkan ke walking beam dengan
menggunakan pitman arm dan walking beam disangga oleh Sampson post dan saddle
bearing.
Horse head dan bridle (susunan kabel penggantung) digunakan untuk
memastikan bahwa pemasangan sucker rod string (rangkaian sucker rod) adalah vertical
sepanjang waktu sehingga tidak ada momen lengkung yang digunakan terhadapa bagian
tersebut dari rangkaian sucker rod diatas stuffing box. Kombinasi polished rod dan
stuffing-box digunakan untuk mempertahankan sekat (seal) cairan yang baik untuk
permukaan.

Gambar 3.7 adalah salah satu instalasi pompa bawah-permukaan (subsurface pump)
tipe tubing-pump, yang terdiri dari empat elemen dasar:
a)
b)
c)
d)

Working barrel
Plunger
Katup hisap/masuk (standing valve)
Katup buang/keluar (traveling valve)
Gambar diatas memperlihatkan lokasi standing valve dan traveling valve pada saat langkah
naik (upstroke), sebelah kiri; dan langkah turun (downstroke), sebelah kanan.

2.4. Electric Submergible Pump (ESP)


Electric Submergible Pump (ESP) merupakan pompa jenis sentrifugal yang
sigerakkan oleh tenaga motor listrik. Pompa ini disebut pompa submergible karena dalam
operasinya pompa dan motor berada di bawah fluid level atau tercelup di dalam fluida.
Pada mulanya pompa ini dikembangkan terutama untuk memompa air ditambang,
atau pada kapal. Perkembangan selanjutnya, pompa ESP memungkinkan digunakan pada
sumur dalam dan memberikan laju produksi yang besar. Selain untuk sumur produksi, pompa
ESP digunakan pada proyek-proyek water-flooding dan pressure maintenance dimana
dipasang pada sumur-sumur injeksi. Selain itu dapat digunakan pada sumur yang dikomplesi
tidak menggunakan tubing (tubingless completion) dan produksi dilakukan melalui casing.
System pompa ESP atau pompa listrik sentrifugal terdiri dari tujuh elemen dasar, yaitu:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Motor listrik
Protector
Separator gas
Pompa sentrifugal bertingkat banyak (multistage)
Kabel listrik
Switchboard
Transformer
Pada pemakaian normal, pompa ESP atau sentrifugal dimasukkan ke dalam tubing
dan dicelupkan ke dalam fluida sumur. Instalasi ini dapat dipakai pada lubang bengkok
(crooked hole) atau sumua-sumur yang dibor secara berarah (directional).
Keuntungan pompa ESP adalah biaya perawatan rendah, demikian juga biaya
pemasangan, terutama untuk lokasi yang jauh di pedalaman dan pada operasi lepas pantai.
Gambar 3.8 mempelihatkan unit pompa listrik sentrifugal secara keseluruhan.
Prinsip kerja Electric submersible pump adalah berdasarkan pada prinsip kerja pompa
sentrifugal dengan sumbu putarnya tegak lurus. Pompa sentrifugal adalah motor hidrolik
dengan jalan memutar cairan yang melalui impeller pompa, cairan masuk ke dalam impeller
pompa menuju poros pompa, dikumpulkan oleh diffuser kemudian akan dilempar ke luar.

Oleh impeller tenaga mekanis motor dirubah menjadi tenaga hidrolik. Impeller terdiri dari
dua piringan yang didalamnya terdapat sudu-sudu, pada saat impeller diputar dengan
kecepatan sudut , cairan dalam impeller dilemparkan keluar dengan tenaga potensial dan
kinetik tertentu. Cairan yang ditampung dalam rumah pompa kemudian dievaluasikan
melalui diffuser, sebagian tenaga kinetik dirubah menjadi tenaga potensial berupa tekanan.
Karena cairan dilempar ke luar maka terjadi proses penghisapan.
Pada dasarnya pompa ESP adalah pompa setrifugal bertingkat banyak, dimana poros
pompa sentrifugal dihubungkan langsung dengan motor penggerak. Motor penggerak
menggunakan tenaga listrik yang disuplai dari permukaan dengan perantaraan kabel listrik
dan sumber listrik diambil dari pembangkit tenaga listrik (power plant) setiap lapangan

minyak.
Sistim peralatan pompa ESP dibagi menjadi dua, yaitu:
Peralatan bawah permukaan
Peralatan permukaan

2.5. Progressing Cavity Pump (PCP)

PCP merupakan suatu metode dari artificial lift system yang digunakan untuk
memompa minyak kepermukaan dengan memanfaatkan ulir dari pompa. Keuntungan
penggunaan PCP, yakni:
1. PCP hanya memerlukan daya sebesar 30 % daya yang diperlukan oleh ESP untuk sumur
yang sama.
2. Biaya perawatan sumur yang murah. Karena pekerjaan ulang (service) cukup menggunakan
crane yang berkapasitas 15 ton untuk mengangkat peralatan bawah permukaan jika terjadi

kerusakan atas untuk penggantian. Sedangkan peralatan dipermukaan kecil kemungkinan


3.
4.
5.
6.

untuk rusak.
Efisiensi volumetris pompa ulir tersebut tidak berpengaruh oleh tekanan pipa alir.
Laju alir dari pompa ulir tersebut tidak terpengaruh oleh tekanan pipa alir.
Dapat mengangkat fluida yang berpasir.
Bagian penggerak utama, termasuk motor terdapat di permukaan, sehingga kemungkinan
rusak karena kondisi sumur sangat kecil. Untuk perbaikan pada rangkaian ini, perangkat

perawat sumur tidak diperlukan.


7. Dapat melakukan sirkulasi melalui pipa produksi setelah rotor diangkat dari stator.
8. Jumlah suku cadang lebih sedikit.
Kelemahan penggunaan PCP :
1.
2.
3.
4.
5.

Sumur produksi sebaiknya vertical well


Kedalaman sumur maksimal 4000 ft
Kapasitas produksi maksimum 2000 BFPD
Usia stator dapat mencapai 2 tahun
Tidak dapat dipergunakan untuk sumur yang aromatic dan mengandung H2S yang tinggi.

BAB III
Penutup
3.1. Kesimpulan
Sembur buatan dilakukan dengan maksud untuk mempertahankan tingkat produksi
agar tetap tinggi, karena kemampuan produksi suatu sumur akan terus berkurang dengan
bertambahnya waktu. Atau kemampuan sumur yang bersangkutan untuk berproduksi sejak
awal ditemukan sangat kecil, sehingga perlu dilakukan sumur buatan.
Sesudah fluida sampai ke permukaan dan melewati choke, fluida akan melalui pipapipa (sistim) di permukaan untuk dialirkan ke fasilitas permukaan. Hal utama yang harus
diperhatikan dalam aliran pipa horizontal adalah penentuan penurunan tekanan sepanjang
aliran pipa penentuan diameter pipa yang diperlukan. Dalam memperkirakan penurunan
tekanan yang terjadi, dapat digunakan berbagai kolerasi yang telah tersedia (Horizontal Flow
Performance).

3.2. Kritik dan Saran


Dalam makalah ini penulis mengharapkan apa yang bermanfaat dalam makalah ini
hendaknya pembaca bisa mengambil ilmu sebagai penambahan wawasan tentang artificial.

Sucker Rod Pump adalah adalah salah satu dari alat Artificialift untuk membantu dalam
proses pengambilan Minyak Bumi disamping ESP, PCP pump, Jet Pump dll.
kali ini saya akan memposting mengenai Keriteria Pengunaan Sucker Rod Pump (SRP),
untuk lebih jelasnya silahkan anda baca postingan dibawah ini yang akan menjelaskan
keriteria, keuntungan dan kerugian dari penggunaan Sucker Rod Pump.
A. Kriteria Penggunaan Sucker Rod Pump (SRP)
1. Produktivitas sumur, Q antara : 100 2000 BPD
2. Tekanan reservoir (Pr), dimana Pr sebanding dengan tinggi kolom cairan dalam
tubing dimana, minimal 1/3 dari kedalaman perforasi.
3. Kedalaman sumur antara : 8000 12000 ft.
4. Tidak dapat digunakan untuk Sumur Directional.
5. Kemampuan SRP untuk mengatasi problem :
Pasir
Parafin
Scale
Korosi
GOR
Emulsi

: sedang
: buruk
: baik
: baik
: sedang
: baik

6. SRP fleksibel untuk mengubah laju produksi dan mudah pengoperasiannya.


B. Keuntungan dan Kerugian SRP
Keuntungan SRP :
1. Tidak mudah rusak dan mudah diperbaiki di lapangan
2. Mudah dioperasikan dan lebih ekonomis untuk penggunaan jangka panjang

3. Fleksibel terhadap laju produksi, jenis fluida dan kecepatan bisa diganti
4. Monitoring dari jauh dapat dilakukan bila pompa mati
5. Harga relative murah (+/- $ 40.000 untuk 3000 ft)
Kerugian SRP :
1. Berat dan butuh tempat luas, transportasi sulit.
2. Tidak baik untuk sumur miring/Offshore
3. Untuk sumur dalam butuh unit besar karena laju produksi besar.
C. Standard API Tipe Sucker Rod Pump, C 160 D 173 64
Artinya :
C
= Conventional Unit, M=Mark II, A=Air Balance, & B=Beam Pump
D
= Double reduction gear reducer
160
= Peak torque rating, ribuan in-lb
173
64
48)

= Poplished Rod Load rating, ratusan lb


= Panjang langkah stroke maksimum, in (dalam praktek dapat dirubah ke 54 atau

D. Prosedur Pembuatan Kurva IPR Tiga Fasa Metoda Pujo Sukarno

Mempersiapkan data : Ps, Pwf, qt dan WC

Menghitung harga WC @ Pwf Ps dengan menghitung P1 dan P2, kemudian


menghitung harga WC pada harga Pwf Ps

Berdasarkan harga WC pada langkah 2, hitung konstanta A0, A1 dan A2

Berdasarkan hasil uji produksi, tentukan laju produksi total maksimum (qt max)

Menentukan harga qo, qw, dan qt

Plot antara berbagai harga laju produksi minyak dari langkah 5 terhadap Pwf

E. Data yang diperlukan dalam optimasi Pompa Sucker Rod

Tipe Pumping Unit

Serfice Faktor (SF)

Crank Pitman Ratio (C/P)

Tensile Strength Minimum (T)

Diameter Rod

Diameter Plunger

Diameter Tubing

Working Fluid Level (D)

SG Fluida

F. Prosedur Perhitungan Optimasi Pompa Sucker Rod


1. Mencari besarnya harga Ap, Ar, At, K, dan M
2. Menghitung setting depth pompa yang baru
3. Menentukan beban sucker rod (Wr)
4. Menghitung beban fluida (Wf)
5. Menentukan konstanta a, b dan c untuk mencari harga Intake Pressure S dan N :
* Persamaan Intake Pressure untuk N: Pi = a + bq 2
* Persamaan Intake Pressure untuk S: Pi = a + cq2
6. Menentukan satu harga N dan mengasumsikan beberapa harga q, untuk memperoleh
harga Pi, kemudian mengeplot pasangan data (q , Pi) untuk satu harga N pada kurva
IPR
sumur, begitu pula untuk harga S.
7. Memasukkan hasil perhitungan Intake Pressure untuk berbagai macam harga N dan q,
serta S dan q ke dalam tabel.
8. Dari perpotongan kedua kurva Intake Pressure dengan kurva IPR sumur diperoleh
pasangan data (N , q) dan (S , q) adalah hasil optimasi yang diperoleh dari perpotongan
hasil plotting data-data (N , q) dan (S , q) pada skala yang sesuai.
9. Menentukan Peak Polished Road Load (PPRL) dan Minimum Polished Rod Load
(MPRL)
10. Menentukan Stress maksimum (Smax) dan Stress minimum (Smin)
11. Memeriksa apakah desain sudah cukup aman untuk menahan stress maksimum yang
terjadi (SA Smax)
12. Menentukan Counter Balance Effect Ideal (Ci)
13. Menentukan Torsi Maksimum
14. Menentukan Efisiensi volumetris hasil optimasi
15. Menentukan Horse Power

G. Faktor Faktor yang Memperngaruhi Efisiensi Volumeteris Pompa Sucker Rod


1. Karakteristik Fluida :

Viskositas

Temperatur

2. Kondisi Operasi :

Kedalaman pompa

Kecepatan pompa

3. Karakteristik Sumur:

Productivity Index (PI)

Temperatur reservoir

4. Pengaruh Gas :

Gas pound

Gas Lock