Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

PENGETAHUAN BAHAN TEKNIK (TEP 203)


BESI COR (CAST IRON)

Disusun oleh:
Kelompok 1
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Ahmad Azis Ritonga


M. Irfan Baharuddin
Dinanti Tri Restio Putri
Anindya Sekar Putri
Aprina Elisa Haloho
Kornelius Roberto

(F44090001)
(F44090018)
(F44090029)
(F44090032)
(F44090046)
(F44090063)

Dosen :
Dr. Ir. Desrial M.Eng

DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010

KATA PENGANTAR
Assalamu alaikum Wr. Wb
Puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah SWT karena dengan rahmat
dan hidayahnya penulis dapat menyelesaikan makalah berjudul BESI COR.
Pembuatan makalah ini selain bertujuan untuk memenuhi penugasan mata
kuliah Pengetahuan Bahan Teknik juga bertujuan untuk menambah wawasan dan
pengetahuan penulis khususnya dan pembaca pada umumnya tentang bahan
teknik Besi cor.
Tim Penulis menyadari pada pelaksanaan dan pembuatan makalah ini
terdapat kesalahan dan kekurangan. Dengan tidak mengurangi rasa hormat tim
penulis memohon saran dan kritik yang membangun untuk kesempurnaan dan
kelengkapan penulisan dalam pembuatan makalah selanjutnya. Harapannya
dengan pembuatan makalah bahan teknik ini akan memberikan manfaat yang
berguna bagi pembaca maupun masyarakat kedepannya.
Wassalamu alaikum Wr. Wb
Bogor, 7 Desember 2010

Tim Penyusun

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Besi Cor tau besi tuang merupakan salah satu jenis bahan teknik berjenis
logam yang umum digunakan dalam dunia keteknikan. Pada awalnya, besi cor
pertama kali ditemukan di Cina dan dituangkan ke dalam cetakan untuk membuat
senjata dan patung-patung. Secara historis, awal penggunaannya diawali dengan
pembuatan meriam.
Pada tahun 1700an Henry VIII memprakarsai pengecoran meriam di
Inggris disebabkan karena biaya pembuatannya yang lebih murah. Penggunaan
besi tuang untuk tujuan struktural juga telah dimulai pada 1770-an, ketika
Abraham Darby III membangun Jembatan Besi dan diikuti serta dipatenkan oleh
Thomas Paine. Pada perkembangannya besi cor memegang kendali utama dalam
pembuatan struktur utama bangunan saat Revolusi Industri Inggris hingga
sekarang.
Pengetahuan secara mendalam mengenai besi cor sangat penting bagi
mahasiswa dan lulusan dari Teknik Sipil karena bahan ini berhubungan erat
dengan bidang Struktur dan Infrastruktur dalam suatu bangunan.
Pengetahuan tersebut meliputi jenis bahan, sifat-sifat, karakteristik, proses
pembuatan dan penggunaannya secara fisik di lapangan. Dalam dunia teknik
khususnya Teknik Sipil dan Lingkungan biasanya sifat-sifat mekanik memegang
peranan penting, di samping sifat fisik, sifat termal, dan sifat kimia terutama sifat
tahan korosi.
Tujuan
Pembuatan makalah mengenai Besi Cor ini bertujuan untuk :
1. Melaksanakan penugasan makalah berkelompok dengan judul Besi Cor
2. Mengetahui dan memahami mengenai sifat, karakteristik dan pemanfaatan
dari besi cor di bidang keteknikan khususnya Teknik Sipil dan Lingkungan
3. Memaparkan pengetahuan bahan teknik secara lugas dan lengkap kepada
pembaca dan masyarakat khususnya mengenai Besi Cor
4. Memaparkan mengenai aplikasi secara umum dalam penggunaan bahan
teknik besi cor

PEMBAHASAN
Besi cor adalah bahan teknik yang umum digunakan dalam dunia struktur
dan infrastruktur. Jenis besi ini merupakan paduan besi dan karbon dengan
kandungan karbon (C) antara 2% sampai 4%. Atom yang terkandung dalam besi
cor adalah karbon sebesar 3%-4%, silicon 1%-3%, mangan 0,5%-1%, belerang
<0,1%,dan fosfor <1% sisanya berupa besi (Fe).
Kandungan karbon dalam besi cor dapat berupa ledeburit, perlit, grafit
eutektik,dan lain-lain, namun biasanya berupa sementit (Fe3C) atau biasa yang
disebut sebagai karbon bebas. Kandungan fosfor dan sulfur dari material ini
sangat tinggi apabila dibandingkan dengan baja. Besi cor juga memiliki selang
temperatur cair yang lebih rendah dari baja dan relatif lebih encer apabila dalam
bentuk cair.
Secara umum bentuk struktur mikro besi cor terbagi menjadi lima
berdasarkan bentuk grafitnya, yaitu struktur grafit dengan panjang yang
sembarang, struktur graft seperti bunga ros, struktur grafit yang mengkristal kasar,
struktur grafit yang lebih halus dan struktur grafit yang timbul akibat kurangnya
kadar karbon.

Bahan baku untuk pembuatan besi cor adalah bijih besi. Bijih besi ini
dicampur dengan kokas dan batu kapur dimasukkan dalam tanur tinggi (tungku
pembakar) dan dipanaskan dengan suhu yang tinggi. Pada suhu ini, bijih besi
beserta batuan yang terkandung didalamnya akan meleleh ke dasar tanur. Batuan
yang meleleh akan menjadi terak tanur tinggi dan akan digunakan sebagai bahan
bangunan jalan.
Besi cair yang terdapat didalam tanur bernama besi kasar dan mengandung
karbon hingga 4%. Setelah melalui proses pendinginan besi kasar ini akan
mengalami pencemaran yang menyebabkan besi ini menjadi rapuh dan tidak

cocok untuk ditempa. Sebagian besi cair akan diolah menjadi baja dan sebagian
lagi akan dimasukkan ke mesin cor untuk dibuat menjadi besi cor.
Teknologi yang terkenal dalam pembuatan besi tuang ialah Teknologi
Blast Furnace yakni teknologi mengolah biji besi menjadi besi kasar direduksi
secara tidak langsung. Umumnya bahan yang diperlukan ialah Biji besi Fe203
(Iron Ore), udara panas, coke(batubara), kalsium karbonat CaCO3 (Limestone).

Gambar Proses Teknologi Blast Furnace


Bahan yang digunakan dalam proses dapur tinggi untuk menghasilkan besi
kasar dari dapur tinggi diperlukan bahan-bahan antara lain:

Iron ore : hematite umumnya, merupakan besi oksida Fe2O3


Bijih besi didapat dari tambang setelah melalui proses pendahuluan. Bijih
besi merupakan bahan pokok dari blast furnace.

Limestone : berupa kalsium karbonat, CaCO3


Batu kapur digunakan untluk mengikat bahan-bahan yang ikut campur
dalam cairan besi untuk menjadikan terak. Proses pengikatan bahan yang
ikut dalam cairan besi antara lain dapat dilihat pada reaksi kimia sebagai
berikut :
CaCO3 ====> CaO + CO2

(terak)

FeS + CaO + C =====> Fe + CaS + CO (terak)


Dengan adanya terak yang terletak di permukaan cairan-besi ini, terjadinya
oksidasi oleh udara dapat dihindari. Selain menggunakan batu kapur
(CaCO3) murni, dapat juga menggunakan dolomit yang merupakan
campuran dari CaCO3 dan MgCO3.

Hot air : pembakaran yang terjadi di bagian bawah furnace untuk


menyediakan panas dan oksigen

.Coke : berasal dari batu bara yang kadar karbonnya tinggi


Karakteristik coke dapat digolongkan menjadi dua yaitu sifat fisik dan
sifat kimia.
Sifat fisik seperti kekuatan coke, kestabilan coke dan kekuatan coke
setelah reaksi.
Sifat kimia yang paling penting adalah kandungan air, fixed carbon, abu,
sulfur, phosphor dan alkali. Spesifikasi kualitas coke dari salah satu Blast
Furnace terbesar di Amerika Utara seperti ditunjukkan pada tabel di bawah
ini:
Gambar Proses reduksi bijih besi yang berlangsung dalam blast furnace
dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Proses dalam blast furnace:

1. Bahan baku dimasukkan dalam blast furnace melalui tutup yang berbentuk
kerucut yang bersusun
2. Pemanasan cepat secara simultan di bagian bawah furnace
3. Pembakaran coke
Coke dibakar menggunakan udara panas menghasilkan karbon dioksida
dan panas.
C + O2 ====> CO2 + Heat
4. Produksi karbon monoksida (agen reduksi)
Karbon dioksida bereaksi kembali dengan coke menghasilkan karbon
monoksida.
CO2 + C ====> 2CO
5. Reduksi hematite
Karbon monoksida yang terbentuk mereduksi hematite menjadi besi
Fe2O3 + 3CO ====> 2Fe + 3CO2
6. Dekomposisi limestone
Limestone terdekomposisi dengan panas yang dihasilkan membentuk
kalsium oksida dan karbon diksida
CaCO3 ====> CaO + 3CO2
7. Pembentukkan slag
Kalsium oksida yang terbentuk bereaksi dengan pasir (impuritis asam)
membentuk kalsium silica yang disebut dengan slag
CaO + SiO2 ====> CaSiO3
Besi yang terbentuk mengendap dibagian bawah furnace dan lapisan slag
berada di atasnya sehingga melindungi besi dari oksidasi.
Besi yang diperoleh dari proses ini disebut dengan pig iron.
Dari warna patahan,besi cor dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu besi cor
putih, meliert dan besi cor kelabu. Jenis dari besi cor sangat bergantung dari
kandungan dan komposisi C dan Si serta laju pendinginannya. Apabila laju
pendinginannya tinggi,maka akan menghasilkan struktur besi cor putih sedangkan
pendinginan yang lambat akan menghasulkan besi cor kelabu. Seiring berjalannya
waktu untuk menambah sifat mekanik dari besi cor,maka dilakukan penambahan
unsur-unsur yang lain sehingga tercipta besi cor nodular.

Berikut merupakan jenis dan karakteristik dari besi cor hingga saat ini:
A. Besi Cor Putih (White Cast Iron)
Besi tuang putih (white cast iron) mengandung kadar
silikon rendah, dimana pada saat pemadatan besi carbida
membentuk grafit di dalam ikatan matriks. Dari bidang patah besi
cor ini menunjukkan warna seperti kristal putih akibat terjadinya
fraktur. Besi tuang putih (white cast iron) memiliki angka
kekerasan antara 400 hingga 600 HB dengan tegangan tariknya
270 N/mm2 dan masih dapat ditingkatkan melalui penurunan kadar
karbon sebesar 2,75 sampai 2,9 % menjadi 450 N/mm 2. Proses
machining untuk besi tuang putih ini hanya dapat dilakukan
dengan penggerindaan (grinding).
Karbon dalam besi cor ini berbentuk sementit yang keras
sehingga strukturnya
pun keras. Besi cor
ini terbentuk ketika
unsur karbon tidak
mengendap

sebagai

grafit selama proses


pembekuan,

tetapi

berkaitan dengan unsure besi (Fe), krom (Cr) atau Mobliden (Mo)
untuk membentuk karbida sepanjang karbida plat besi.
B. Besi Cor Kelabu (Grey Cast Iron)

Grey Cast Iron merupakan paduan dari unsur-unsur besi (Fe),


karbon (C) dan silicon(Si) yang mengandung karbon tak
berkaitan dalam bentuk grafit. Keberadaan grafit pada besi

cor kelabu menyebabkan material ini tidak memiliki daerah


elastis yang linier. Penambahan unsur Cu, Cr, Mo dan Ni
dilakukan untuk mengatur struktur mikro matriks dan
pembentukan grafit, serta untuk meningkatkan ketahanan
korosi besi cor kelabu
Besi tuang kelabu dapat diberi perlakuan panas (heat treatment)
untuk menghilangkan tegangan dalam setelah proses pengecoran
yakni dengan stress reliefing (dengan memberikan pemanasan
lambat antara 500oC hingga 5750C dan pendinginan secara
perlahan-lahan). Besi cor kelabu dapat dikeraskan dengan proses
quenching dan temperature sekitar 1600F (menjadi getas).

C. Besi Cor Mampu Tempa (Malleable Cast Iron)

Besi Cor ini berasal dari besi cor putih dengan komposisi
karbon dan silikon yang rendah. Distribusi dari karbon yang merata
menyebabkan besi cor ini mudah dibentuk. Proses pembuatannya
adalah besi cor putih dipanaskan hingga suhu 1700 oF kemudian
ditahan, diamkan,dan dinginkan selama beberapa jam didalam
tungku. Proses tersebut menyebabkan terlarutnya unsur karbon
dalam austenit, mengendap, dan membentuk grafit bulat tak
beraturan yang disebut karbon temper. Selanjutnya proses ini
akan menghasilkan malleable cast iron dengan matriks ferit.
Besi cor mampu tempa ini dapat digolongkan menjadi besi
cor mampu tempa perapian putih dan besi cor mampu tempa

perapian hitam. Besi cor mampu tempa perapian putih mempunyai


kandungan silikon rendah dan

belerang yang tinggi. Cara

pembuatannya pun dengan penghilangan karbon pada besi cor


putih sehingga kulitnya berubah menjadi ferrit dan struktur
dalamnya terdiri dari matriks perlit dengan karbon bulat.
Sedangkan besi mampu tempa perapian hitam mempunyai
kandungan silikon yang tinggai dan belerang yang rendah. Cara
pembuatannya dengan melunakkan besi cor putih tetapi sementit
teurai menjadi ferit dan grafit sehingga patahannya terlihat hitam.
Besi cor mampu tempa ini mempunya tiga bentuk, yaitu
Whitehearth, Blackhearth, dan Pearlitic nama-nama ini merupakan
istilah sesuai dengan bentuk microstruktur dari besi tuang tersebut.
D. Besi Cor Nodular (Nodular Cast Iron, Spheriodal Graphite
Cast Iron)
Grafit pada besi cor nodular menempati 10 15% dari volume
total material serta tersebar merata didalam struktur dasar (matriks)
yang mirip dengan baja karbon. Oleh karena itu sifat-sifat mekanik
dari besi cor nodular dapat dihubungkan secara langsung dengan
mampu tarik dan keuletan dari matriks yang dimilikinya
sebagaimana halnya dengan baja karbon.Namun karena didalam
struktur besi cor nodular juga terdapat grafit, maka mampu tarik,
modulus elastisitas maupun ketahanan impak secara proporsional
akan lebih rendah dari baja karbon dengan matriks yang serupa.
Besi cor nodular memiliki komposisi yang sama dengan
besi cor kelabu yaitu karbon dan silicon, namun bentuk grafit dari
kedua besi cor ini berbeda. Bentuk grafit pada besi cor nodular ini
berbentuk bulat atau bola kecil karena ditambahkan unsur
magnesium atau cerium. Tuangan spheriodal graphite cast iron
dipanaskan pada temperatur 9000C selama beberapa jam, unsur
karbon akan memecah diri, proses pendinginan akan mengubah
sebagian besar bentuk struktur logam menjadi ferritic spheriodal
graphite cast iron. Spheriodal graphite cast iron memiliki sifat
mekanik antara besi tuang kelabu (grey cast iron) dengan baja. Hal

ini dikarenakan besi lebih rendah kadar karbonnya dari pada besi
tuang kelabu (grey cast iron) oleh karena itu perubahan partikel
kedalam bentuk dari graphite akan memberikan penguatan
terhadap sifat dari spheriodal graphite.
Besi cor kelabu merupakan material yang sering digunakan saat ini karena
mampu menerima beban yang berfluktuasi,namun beban tersebut tidak boleh
beban dinamis, jika terdapat beban dinamis maka besarnya tidak boleh lebih dari
25%. Angka kekerasan dari besi cor ini adalah antara 155 HB sampai 320 HB
tergantung tingkatannya. besi cor kelabu (grey cast iron) digunakan dalam
pembuatan crankcases, machine tool bed, brake drums, cylinder head dan lainlain.
Gambar. Tabel sifat Mekanik dari Besi Cor dan Jenisnya
Ketebalan
Jenis

logam
(mm)

Kekerasan
Brinell

Beban
lentur
(kg)

Defleksi
(mm)

Kekuatan
tarik
(kgf/mm2)

Besi cor kelabu:


AISI Kelas 20

25

130-180

2000-

2.5-3.8

12.7-18.3

AISI Kelas 40

25

180-217

3000
3800-

7.7-9.7

28.8-31.6

212-248

4500
5200-

8.9-12.7

42.2-45

7-8.5

35.0

AISI Kelas 60

25

6200
Besi cor

1400-

kekuatan tinggi 22

217

(A.F. Meehan)
Besi cor

114-140

35.0

201-269

60.0

120-190

40.0

230-350

70.0

Maleabel
Inti kelabu
Inti
kelabu
(perlit)
Besi cor nodular

1600

Nama

Tabel Perbandingan Kualitas dan Sifat Mekanik Besi Cor


Menghasil
Nominal
Perpanjan
kan
Kekua
Kekera
komposisi Bentuk
gan
kekuatan tan
san Penggun
[%
dan
[%
[ ksi
tarik
[ Brinel aan
menurut kondisi
(dalam 2
(0.2%
[ksi]
l skala ]
beratnya]
inci)]
offset)]
Mesin
silinder

Kelabu
besi
tuang (
ASTM

blok, roda
C 3.4, 1.8 Melemp
Si, Mn 0,5 arkan

25

0.5

180

tuang
putih

bagian

C 3.4, 0.7 sebagai


Si, Mn 0,6 cor

dasar
Bearing
-

25 25

00

450 450 permukaa


n
Gandar

Lunak
besi

bantalan,
C 2,5, 1,0 Cor(anne

(ASTM Si, Mn 0,55 aled)

33

52

12

130

A47)

Ulet atau
nodular
besi

gigi ,
mesin

A48)

Besi

gaya ,

roda lagu,
otomotif
crankshaf

3.4 C, P
0,1, 0,4
Mn, Ni 1.0,
Mg 0,06

Nodular( -

ts
Roda
Cast

gigi,

Melemp 53

70

18

arkan
Cor

170

camshaft ,
crankshaf

108 108

135

55

ts
310 310 -

ASTM

135

A339)
C 2.7, Mn
Ni-keras Si 0,6, 0,5, Pasirtipe 2

4,5 Ni, Cr cast

Kekuatan
-

55

550

aplikasi

2.0
Ni-resist C 3.0, Mn
type 2 Ni- Si 2.0, 1.0,
resist tipe Ni 20,0, Cr
2

2,5

Tinggi

Ketahana
Cast
Melemp -

n
27

22

140

arkan

terhadap
panas dan
korosi

Besi cor yang kandungan karbonnya 2.5% 4% akan mempunyai sifat


mampu las (weldability) rendah. Faktor-faktor yang mempengaruhi sifat mampu
las (weldability) pada besi cor adalah :
1. Ketegangan saat pendinginan
Secara teori pengelasan (welding) material las (logam las/weld metal)
akan berkontraksi selama pendinginan. Karena kerapuhan dari besi
tuang inilah kontraksi cast iron mempunyai kemampuan yang lebih
rendah dibandingkan baja.
2. Bentuk yang tidak beraturan
Umumnya besi tuang ini dibuat dalam bentuk yang tidak beraturan
atau dapat dikatakan artistik. Dengan bentuk yang seperti ini, besi
tuang sedikit banyak mempunyai ketebalan yang tidak seragam, hal ini
akan mempengaruhi kontraksi tegangan yang terjadi pada material
tersebut dan mudah terjadi retak. Yang melatarbelakangi ini adalah
sifatnya yang mempunyai daya lentur yang sangat rendah.
3. Pengikatan karbon dari base metal
Akibat pengelasan besi tuang yang tercampur dengan base metal akan
menyebabkan terjadinya pengikatan karbon pada weld metal sehingga

akan terjadi peningkatan kandungan sulfur dan phosphor dalam weld


metal tersebut.
4. Penyerapan minyak pada besi tuang
Karena bentuk karakteristik material ini rata-rata berpori, maka
kemungkinan terjadinya peresapan minyak dalam graphite akan
menyebabkan porositas pada logam las. Biasanya sering dialami oleh
temen praktisi welding, repair pada saat maintenance.
Pada besi cor ketahanan korosi bahan didapatkan dari percampuran asam
yang di padu dengan 10% atau lebih Si. Bahan besi ini akan lebih tahan terhadap
kondisi lingkungan yang terjadi dan tahan lama. Daya tahan panas, daya kekuatan
dan daya terhadap korosi juga dapat dilakukan dengan penambahan Cr, Mo, Si, Al
dan Ni pada besi cor paduan agar kualitas besi cor terjaga dengan baik.
Pada umumnya penggunaan dan aplikasi dari bahan besi cor di bidang
keteknikan khususnya Teknik Sipil dan Lingkungan terdapat pada penopang
(pondasi) pada dinding rumah, pagar rumah, uliran pada lampu ataupun sebagai
pegangan pada tangga. Pada proses pembuatannya diperlukan ketelitian dalam
proses pembuatan dan pengetahuan mengenai sifat serta kemampuan las dari besi
cor itu sendiri. Hal ini diperlukan agar dalam pembentukannya menjadi bahan lain
tidak mengalami kegagalan dan ketidaktelitian.

Gambar. Aplikasi Besi cor


Berdasarkan survey yang telah dilakukan di Perusahaan Bangunan (PB)
Ali di daerah Dramaga, Bogor diketahui harga dan spesifikasi besi cor pada
pondasi penulangan dinding bangunan dalam bentuk tabel sebagai berikut:
Tabel Harga besi Rangka Bangunan di Pasaran
Nama

Ukuran Lebar(mm)

Harga Biasa (Rp)

Harga SNI (Rp)

Besi Rangka Bangunan

12

40.000

Besi Rangka Bangunan


Besi Rangka Bangunan
Besi Batangan
Besi Batangan

10
8
6
8

30.000
20.000
17.500
26.000

32.000

Besi Batangan
Besi Batangan

10
12

39.000
61.000

48.500
69.000

Gambar Hasil Survey di PB Ali, Dramaga : Besi cor pada penulangan bangunan
Dalam pengkodean berbagai macam Besi cor salah satunya dilakukan oleh
Durham Foundry yakni ISO Standar 185 (2005) yang merupakan revisi terbaru.
Penggolongan yang dilakukan berdasarkan kekuatan tarik pada bahan. Klasifikasi

yang dilakukan ini sangat membantu teknisi dalam mengetahui kualitas dan
penggunaan secara benar bahan besi cor pada pembangunan yang akan dilakukan.
Tabel Standarisasi ISO 185
Material

Tensile Strength

Designation

N/mm

ISO 185/JL/100

100

ISO 185/JL/150

150

ISO 185/JL/200

200

ISO 185/JL/225

225

ISO 185/JL/250

250

ISO 185/JL/275

275

ISO 185/JL/300

300

ISO 185/JL/350

350

Standarisasi dan pengkodean besi cor banyak dilakukan oleh berbagai


macam lembaga,contohnya ada SNI (Standar Nasional Indonesia) dan ASME
(American Society of Mechanical Engineers). Berikut merupakan contoh dari
pengkodean dan standarisasi dari SNI dan ASME:

SNI 07-0948-1989 : besi tuang untuk tromol rem kendaraan roda empat

SNI 07-1071-1989 : besi kelabu untuk pompa untuk lumpur dan pasir

SNI 07-0374-1989 : baja tuang karbon kekuatan rendah dan menengah

SNI 07-0356-1989 : besi cor meleabel hitam .

ASME / ANSI B16.1 1998 : Cast Iron Pipe Fittings flensa dan flens

ASME / ANSI B16.12 - 1998 : Cast Iron Threaded Drainage Fittings

ASME / ANSI B16 - Standar Pipes and Fittings


Yang ASME B16 Standar mencakup pipa dan alat kelengkapan dalam besi

cor, perunggu, tembaga dan besi tempa


The ASME - American Society of Mechanical Engineers - ASME / ANSI
B16 Standar mencakup pipa dan alat kelengkapan dalam besi cor,
perunggu, tembaga dan baja tempa.

ASME / ANSI B16.1 - 1998 - Cast Iron Pipe Fittings flensa dan flens
Standar ini untuk Kelas 25, 125, dan 250 Cast Iron Pipe Fittings flensa dan
flens meliputi:
(a) tekanan-suhu peringkat,
(b) ukuran dan metode mengurangi bukaan menunjuk fitting,
(c) tanda,
(d) persyaratan minimum untuk bahan,
(e) dimensi dan toleransi,
(f) baut, mur, dan paking dimensi dan
(g) tes.

ASME / ANSI B16.3 - 1998 - Besi lunak Threaded Fittings


Standar ini threaded fitting besi lunak Kelas 150, dan 300 menyediakan
persyaratan sebagai berikut:
(a) tekanan-suhu pemberian peringkat
(b) ukuran dan metode mengurangi bukaan menunjuk fitting
(c) menandai
(d) bahan
(e) dimensi dan toleransi
(f) threading
(g) lapisan

ASME / ANSI B16.4 - 1998 - Cast Iron Fittings Threaded


Standar ini threaded fitting besi abu-abu, Kelas 125 dan 250 meliputi:
(a) tekanan-suhu pemberian peringkat
(b) ukuran dan metode mengurangi bukaan menunjuk fitting
(c) menandai

(d) bahan
(e) dimensi dan toleransi
(f) threading, dan
(g) lapisan

ASME / ANSI B16.10 - 2000 - Face-to-Face dan End-to-End Dimensions


of Valves
Standar ini meliputi tatap muka dan end-to-end segera dimensi katup, dan
pusat-untuk menghadapi dan pusat-to-end sudut dimensi katup. Tujuannya
adalah untuk memastikan instalasi interchangeability untuk katup dari
bahan tertentu, jenis ukuran, rating kelas, dan mengakhiri sambungan

ASME / ANSI B16.11 - 2001 - Forged Steel Fittings, Socket-Welding dan


Threaded
Standar ini meliputi penilaian, dimensi, toleransi, menandai dan material
alat kelengkapan persyaratan untuk dipalsukan, baik soket-pengelasan dan
benang.

ASME / ANSI B16.12 - 1998 - Cast Iron Threaded Drainage Fittings


Standar ini untuk cast iron threaded fitting drainase meliputi:
(a) ukuran dan metode dalam mengurangi bukaan menunjuk alat
kelengkapan
(b) tanda
(c) bahan
(d) dimensi dan toleransi
(e) threading
(f) rusuk
(g) lapisan
(h) wajah bevel pengosongan nozel, input shaft, pangkal piring, dan dasar
lubang baut (lihat Tabel 1 dan 2).

ASME / ANSI B16.14 - 1991 - Ferrous Pipe Plugs, Bushings dan


Locknuts dengan Pipa Threads
Standar ini Ferrous Pipe Plugs, Bushings, dan Pipa Threads Locknuts
dengan meliputi:
(a) tekanan-suhu rating:
(b) ukuran;
(c) tanda;
(d) bahan;
(e) dimensi dan toleransi;
(f) threading; dan
(g) pola lancip.

ASME / ANSI B16.15 - 1985 (R1994) - Pemain Bronze Threaded Fittings


Standar ini berkaitan terutama untuk melemparkan Kelas Kelas 125and
threaded 250 perunggu pipa fitting. Syarat tertentu juga berhubungan
dengan tempa atau buanglah plugs, Bushings, kopling, dan topi. Standar
ini meliputi:
(a) tekanan-suhu pemberian peringkat;
(b) ukuran dan metode menunjuk mengurangi bukaan pipa fitting;
(c) tanda;
(d) persyaratan minimum untuk kualitas pengecoran dan bahan;
(e) dimensi dan toleransi di AS adat dan metrik (SI) unit;
(f) threading.

ASME / ANSI B16.18 - 1984 (R1994) - Pemain Copper Alloy Solder Joint
Pressure Fittings
Standar ini untuk cor paduan tembaga tekanan bersama fitting solder
dirancang untuk digunakan dengan tabung air tembaga, menetapkan
persyaratan untuk:
(a) Tekanan-suhu pemberian peringkat;
(b) Singkatan untuk mengakhiri sambungan;
(c) Ukuran dan metode bukaan menunjuk fitting;

(d) Pemberian tanda;


(e) Material;
(f) Dimensi dan toleransi; dan
(g) Tes.

PENUTUP
Kesimpulan
Besi tuang atau besi cor merupakan salah satu bahan teknik yang
diperlukan di bidang keteknikan struktur dan infrastruktur khususnya penulangan
bangunan beton dan dinding rumah. Terdapat beberapa jenis besi cor yakni: Besi
Cor Putih (White Cas Iron), besi cor kelabu (Grey Cast iron), besi cor mampu
tempa (Malleable Cast Iron), dan besi cor nodular (Nodular Cast Iron). Dari data
ada besi cor kelabu mendapat peringkat satu dalam pengaplikasian dan
penggunaan pada penulangan pondasi bangunan dan perumahan.
Besi Tuang menjadi contoh yang nyata bahwa rekayasa yang dilakukan
pada suatu bahan akan menimbulkan perubahan bahan menjadi bahan yang

berguna untuk kebutuhan manusia, khususnya pengaplikasian besi cor pada


bidang struktur dan infrastruktur. Penambahan logam lainnya selain besi juga
akan menambah daya dan kualitas dari besi cor itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA
Surdia, Tata dan Saito, Shinroku.1999.Pengetahuan Bahan Teknik. Jakarta :
Pradnya Paramita.
Anonim.2008. Besi Tuang[terhubung berkala]
http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|
id&u=http://en.wikipedia.org/wiki/Cast_iron . [28 Nov 2010]
Hapli.2008.Besi Cor.[terhubung berkala]
http://hapli.wordpress.com/forum-ferro/besi-cor/ [24 Nov 2010]
Hapli.2008.Besi Cor Nodular.[terhubung berkala]
http://hapli.wordpress.com/forum-ferro/besi-cor-nodular/ [26 Nov 2010]
Ryugaze.2010.Pengecoran.[terhubung berkala]
http://ryugaze.wordpress.com/2010/03/05/pengecoran/ [ 24 Nov 2010]
Sonjaya.2010.Besi Cor.[terhubung berkala].
http://sonjaya45.wordpress.com/2010/03/13/besi-cor/ [24 Nov 2010]
Vanadium.2010.Besi Cor.[terhubung berkala] http://gnxputuarjo.blogspot.com/2010/02/besi-cor.html [25 Nov 2010]
http://www.castironcastings.com/index.html [terhubung berkala]
Anonim.2009.Teknologi Blast Furnace
http://212788.blogspot.com/2010/07/teknologi-blast-furnace-dalampembuatan.html[terhubung berkala] [25 Nov 2010]

Durham Foundry dkk.2010. Pengkodean Besi cor.


http://www.castironcastings.com/ISO185_BSEN1561_BS1452.html
[terhubung berkala] [25 November 2010]