Anda di halaman 1dari 8

ALAT MUSIK NTB

METADA

Provinsi Nusa Tenggara Barat mempunyai bermacam-macam kebudayaan, baik itu dalam
hal seni tari, kerajinan tangan, pakaian adat, rumah adat, lagu daerah, alat musik daerah,
upacara adat, makanan khas daerah sampai obyek wisata. Seni tari daerah Nusa Tenggara Barat
yaitu Tari Mpaa Lenggogo dan Tari Batu Nganga. Tari Mpaa Lenggogo merupakan sebuah tarian
untuk menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW. Sedangkan Tari Batu Nganga merupakan
sebuah tari berlatar belakang cerita rakyat. Provinsi Nusa Tenggara Barat mempunyai beragam
kerajinan tangan. Diantaranya adalah Gerabah Banyumulek dan Kain Tenun khas Nusa Tenggara
Barat yang pembuatannya masih dengan menggunakan cara klasik. Adapun upacara adat
daerah Nusa Tenggara Barat diantaranya adalah upacara Ua Pua, upacara Perang Topat, dan
upacara Bau Nyale. Lagu daerah provinsi Nusa Tenggara Barat antara lain Pai Mura Rame,
Desaku, Tutu Koda, Helele U Ala de Teang, Potong bebek, Anak Kambing Saya, O Nina Noi, Lereng
Wutun, Bole Lebo, O Re Re dan Tebe Ona Na.Provinsi ini mempunyai alat musik khas daerah
seperti provinsi yang lainnya. Alat musik tersebut dinamakan Cungklik.

PARERET

Alat musik ini terbuat dari bambu. Pareret merupakan alat musik tiup
sejenis terompet yang dimainkan dalam orkestra yang berfungsi sebagai
pembawa melodi. Alat musik ini berkembang di Lombok bagian barat dalam
subkultur Hindu yang dibawa oleh orang-orang Bali. Selain itu, pareret juga
terdapat di daerah Karangasem, Bali meskipun kini sudah jarang
keberadaanya.
Dalam membuat pareret diperlukan hari baik yaitu pada hitungan pasaran
Pahing, sedangkan harinya apa saja. Selain itu, disediakan sesajen (andangandang) terdiri dari beras, kepeng bolong (satakan), buah pinang, dan benang
kotak setukel. Andang-andang mempunyai makna perlindungan agar si
pembuat tidak leles (mata merah dan berair). Pareret dimainkan sebagai
salah satu kelengkapan upacara persembahyangan dan adalah ulang tahun
pura bagi orang Bali yang hidup di Lombok Barat.

Genggong

Alat musik ini terbuat dari bambu dan tali. Suara genggong atau harpa mulut
dihasilkan dari getaran lidah genggong akibat tarikan tangan si pemain, serta
pengaturan nafas pada rongga mulut dan sentuhan lidah pada langit-langit. Oleh
karena itu, pemain genggong yang baik terdiri dari dua jenis; yakni genggong
lanang menghasilkan nada tinggi dan genggong wadah yang menghasilkan nada
rendah. Dalam pembuatan genggong selain diperlukan andang-andang (sesaji)
berupa beras, benang, sirih pinang, dan uang kepeng juga perlu ditentukan hari

baik (hari Jumat) untuk mengambil pelepah enai atau bambu. Sajian tersebut
bertujuan untuk menghindarkan si pembuat dari hal-hal yang tidak diingginkan
dan genggong dapat menghasilkan suara yang jernih.

Gula Gending

Alat musik ini terbuat dari seng dan tekstil. Instrumen ini digunakan untuk
menjajakan gula kapas (harum manis) yang terbuat dari gula pasir. Oleh karena
itu, alat tersebut kemudian dinamakan gula gending. Tempat penyimpanan gula
dalam bahasa Sasak disebut Tongkaq juga berfungsi sebagai instrumen musik.

Dimainkan dengan cara menggendong tongkaq, kotak dipukul dengan jari tangan
kanan dan kiri sesuai gending/lagu yang dimainkan.

Palompong

Alat musik ini terbuat dari kayu dan logam. Palompong termasuk dalam jenis alat musik
silofan. Cara memainkannya pemain duduk dengan dua kaki dalam posisi lurus ke depan,
sementara palompong diletakkan di atas paha kemudian bilah dipukul dengan dua pemukul.
Rongga di antara paha dan bilah-bilah palompong berfungsi sebagai resonator.
Dahulu alat ini dimainkan secara tunggal dan biasanya dimainkan oleh laki-laki pada saat
menunggu sawah atau ladang untuk mengusir sepi. Saat ini palompang juga dimainkan oleh
wanita dan menjadi bagian dari orkestra Gong Genang yang berfungsi sebagai alat musik ritmik
untuk mengiringi tari-tarian pada saat irama cepat. Palompang merupakan alat musik khas
Kabupaten Sumbawa, namun ada juga alat musik sejenis ini di daerah Lombok dengan sebutan
"cungklik".

Knobe Khabetas

Bentuk alat musik ini sama dengan busur panah. Cara memainkannya ialah, salah satu bagian
ujung busur ditempelkan di antara bibir atas dan bibir bawah, dan kemudian udara dikeluarkan
dari kerongkongan, sementara tali busur dipetik dengan jari. Merupakan kebiasaaan masyarakat
dawan di pedesaan apabila pergi berook tanam atau mengembala hewan mereka selalu
membawa alat-alat musik seperti Leku, Heo, Knobe Kbetas, Knobe Oh, dan Feku. Sambil
mengawasi kebun atau mengawasi hewan-hewan, maka musik digunakan untuk melepas
kesepian. Selain digunakan untuk hiburan pribadi, alat musik ini digunakan juga untuk upacara
adat seperti, Napoitan Li'ana (anak umur 40), yaitu bayi yang baru dilahirkan tidak
diperkenankan untuk keluar rumah sebelum 40 hari. Untuk menyonsong bayi tersebut keluar
rumah setelah berumur 40 hari, maka diadakan pesta adat (Napoitan Li'ana)

Knobe Oh

Nama alat musik yang terbuat dari kulit bambu dengan ukuran panjang lebih kurang 12,5 cm.
ditengah-tengahnya sebagian dikerat menjadi belahan bambu yang memanjang (semacam
lidah) sedemikian halusnya, sehingga dapat berfungsi sebagai vibrator (penggetar). Apabila
pangkal ujungnya ditarik dengan untaian tali yang terkait erat pada pangkal ujung tersebut
maka timbul bunyi melalui proses rongga mulut yang berfungsi sebagai resonator.

Prere

Alat bunyi-bunyian ini terbuat dari seruas bambu kecil sekecil pensil yang panjangnya kira-kira
15 cm. Buku ruas bagian bawah dibiarkan tertutup, tetapi bagian atasnya dipotong untuk tempat
meniup. Buku ruas bagian bawah dibelah untuk menyaluirkan udara tiupan mulut dari tabung
bambu bagian atas, sekaligus bagian belahan bambu itu untuk melilit daun pandan sehingga
menyerupai orong terompet yang berfungsi memperbesar suaranya.Alat musik ini selain
digunakan untuk hiburan pribadi, juga digunakan untuk mengiringi musik gong gendang pada
permainan penak silat rakyat setempat. Nada-nada yang dihasilkan adalah do dan re, sehingga
nama alat ini.