Anda di halaman 1dari 11

1.

Tanaman Salam
Tanaman Salam merupakan tanaman berkayu yang biasanya dimanfaatkan daunnya.
Daun salam sudah dikenal sejak lama sebagai bumbu masakan, dalam perkembangannya di
bidang medis. Daun salam dapat dimanfaatkan sebagai ramuan obat tradisional. Daun salam
memiliki khasiat pengobatan yang luar biasa yang biasanya digunakan untuk terapi
hipertensi, diabetes melitus, asam urat, diare, maag, katarak, mabuk akibat alkohol, sakit
gigi, kudis dan gatal-gatal karena memiliki banyak sifat kimia yang berguna dalam bidang
medis. (taufik azhari, hal.6)
1.1.

Morfologi Daun Salam


Daun salam merupakan daun tunggal yang berbentuk lonjong sampai elips, letak

berhadapan, panjang tangkai 0,5-1 cm, ujung meruncing, pangkal runcing, tepi rata,
panjang daun 5-15 cm dengan lebar 3-8 cm, pertulangan menyirip, permukaan atas daun
licin berwarna hijau tua, dan permukaan bawah berwarna hijau muda serta daun salam
memiliki bau wangi. (taufik azhari, hal.7)

1.2.

Taksonomi Daun Salam


Secara ilmiah, daun salam bernama Eugenia polyantha wight dan memiliki nama

ilmiah lain, yaitu Syzygium polyantha wight. dan Eugenia lucidula Miq. Tanaman ini
masuk di dalam suku myrtaceae. Adapun nama yang sering digunakan dari daun salam,
di antaranya ubar serai, meselengan (Malaysia); Indonesia Bay leaf, Indonesian laurel,
Indian bay leaf (Inggris); Salamblatt (Jerman); dan Indonesische lorbeerblatt (Belanda).
Di beberapa wilayah Indonesia, daun salam dikenal sebagai salam (Sunda, Jawa,
Madura); gowok (Sunda); manting (Jawa); kastolam (kangean, Sumenep); dan
meselengan (Sumatera). (taufik azhari, hal.7)

1.3.

Kandungan Daun Salam


Beberapa penelitian disebutkan bahwa Eugenia polyantha wight memiliki

kandungan kimia seperti minyak atsiri (0,05%) yang mengandung sitral, eugenol, tannin,
dan flavonoida. Ekstrak etanol dari daun salam berfungsi sebagai zat anti jamur dan
antibakteri, sedangkan ekstrak metanolnya berkhasiat sebagai zat anti cacing. Penelitian
mengenai daun salam dilakukan oleh Agus Sumono yang menunjukkan bahwa dengan
berkumur air rebusan daun salam dapat mengurangi jumlah Streptococcus sp.

2. Larutan
2.1.
Pengertian Larutan

FI Ed III hal 32
Larutan adalah sediaan cair yang mengandung bahan kimia terlarut,
kecuali dinyatakan lain, sebagai pelarut digunakan air suling.

FI Ed IV hal 15-16
Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia
terlarut, misal : terdispersi secara molekuler dalam pelarut yang sesuai
atau campuran pelarut yang saling bercampur.

Larutan oral adalah sediaan cair yang dibuat untuk pemberian oral,
mengandung satu atau lebih zat dengan atau tanpa bahan pengaroma,
pemanis, atau pewarna yang larut dalam air atau campuran kosolven-air.
Sediaan zat padat atau campuran zat padat yang harus dilarutkan dalam pelarut
sebelum diberikan secara oral disebut . Untuk Larutan Oral, misalnya
Kalium Klorida untuk Larutan Oral.
Larutan Topikal adalah larutan yang biasanya mengandung air tetapi
seringkali mengandung pelarut lain, seperti etanol dan poliol, untuk
penggunaan topikal pada kulit / penggunaan pada permukaan mukosa
mulut. Istilah Lotio adalah larutan atau suspensi yang digunakan secara
topikal.
Larutan Otik adalah larutan yang mengandung air atau gliserin atau
pelarut lain dan bahan pendispersi, untuk pengunaan dalam telinga luar.
Spirit adalah larutan yang mengandung etanol atau hidroalkohol dari zat
mudah menguap, umumnya merupakan larutan tunggal atau campuran bahan.
Tingtur adalah larutan yang mengandung etanol atau hidroalkohol dibuat
dari bahan tumbuhan atau senyawa kimia.

Air aromatik adalah larutan jernih dan jenuh dalam air, dari minyak mudah
menguap / senyawa aromatik/ bahan mudah menguap lain ; yang dibuat
secara destilasi atau dari larutan senyawa aromatik dengan / tanpa
menggunakan bahan pendispersi.

3. Obat Kumur
Obat kumur merupakan larutan atau cairan yang digunakan untuk membilas rongga
mulut dengan sejumlah tujuan antara lain untuk menyingkirkan bakteri perusak, bekerja
sebagai penciut, untuk menghilangkan bau tak sedap, mempunyai efek terapi dan
menghilangkan infeksi atau mencegah karies gigi.
Obat kumur dikemas dalam dua bentuk yakni dalam bentuk kumur dan spray. Untuk
hampir semua individu obat kumur merupakan metode yang simpel dan dapat diterima
untuk pengobatan secara topikal dalam rongga mulut.
3.1.

Komposisi yang terkandung dalam obat kumur


Hampir semua obat kumur mengandung lebih dari satu bahan aktif dan hampir

semua dipromosikan dengan beberapa keuntungan bagi pengguna. Masing-masing obat


kumur merupakan kombinasi unik dari senyawa-senyawa yang dirancang untuk
mendukung higiena rongga mulut. Beberapa bahan-bahan aktif beserta fungsinya secara
umum dapat dijumpai dalam obat kumur, antara lain:
a) Bahan antibakteri dan antijamur, mengurangi jumlah mikroorganisme dalam rongga
mulut, contoh: hexylresorcinol, chlorhexidine, thymol, benzethonium, cetylpyridinium
chloride, boric acid, benzoic acid, hexetidine, hypochlorous acid
b) Bahan oksigenasi, secara aktif menyerang bakteri anaerob dalam rongga mulut dan
busanya membantu menyingkirkan jaringan yang tidak sehat, contoh: hidrogen
peroksida, perborate
c) Astringents (zat penciut), menyebabkan pembuluh darah lokal berkontraksi dengan
demikian dapat mengurangi bengkak pada jaringan, contoh: alkohol, seng klorida,
seng asetat, aluminium, dan asam-asam organik, seperti tannic, asetic, dan asam sitrat.
d) Anodynes, meredakan nyeri dan rasa sakit, contoh: turunan fenol, minyak eukaliptol,
minyak watergreen

e) Buffer, mengurangi keasaman dalam rongga mulut yang dihasilkan dari fermentasi sisa
makanan, contoh: sodium perborate, sodium bicarbonate
f) deodorizing agents (bahan penghilang bau), menetralisir bau yang dihasilkan dari
proses penguraian sisa makanan, contoh: klorofil
g) deterjen, mengurangi tegangan permukaan dengan demikian menyebabkan bahanbahan yang terkandung menjadi lebih larut, dan juga dapat menghancurkan dinding sel
bakteri yang menyebabkan bakteri lisis. Di samping itu aksi busa dari deterjen
membantu mencuci mikroorganisme ke luar rongga mulut, contoh: sodium laurel
sulfate
Beberapa bahan inaktif juga terkandung dalam obat kumur, antara lain:
a. Air, penyusun persentasi terbesar dari volume larutan
b. Pemanis, seperti gliserol, sorbitol, karamel dan sakarin
c. Bahan pewarna
d. Flavorings agents (bahan pemberi rasa)

Praformulasi
Nama Bahan
Infusa daun salam
Asam Benzoat
Na. saccarin
Tween 80
Akuades hingga

Konsentrasi (%)
50
0,1
0,075
5
100 mL

Fungsi
Antibakteri
Pengawet antimikroba
Pemanis
Surfaktan
Pelarut

1. Infusa Daun Salam


Kumur air rebusan daun salam dapat mengurangi jumlah koloni bakteri Streptococcus sp.
Semakin tinggi konsentrasi rebusan daun salam, jumlah koloni bakteri Streptococcus sp semakin
sedikit. Pada penelitian yang telah dilakukan oleh Agus Sumono, dibuat sediaan infusa daun
salam dengan konsentrasi 50%, 75%, dan 100% sebagai antimikroba.
2. Asam Benzoat
Sinonim
Acidum benzoicum; benzenecarboxylic acid; Asam benzeneformic; carboxybenzene; Asam
dracylic; E210; Asam phenylcarboxylic; asam phenylformic.
Struktur

C7H6O2

Fungsi
Pengawet antimikroba

Aplikasi di Farmasi Formulasi atau teknologi


Asam benzoat secara luas digunakan dalam kosmetik, makanan, dan obat-obat, sebagai
pengawet antimikroba. Aktivitas terlihat pada nilai pH antara 2,5 - 4,5.
Kegunaan
Penggunaan
Injeksi IM dan IV
Larutan oral
Suspense oral
Sirup
Sediaan topical
Sediaan vaginal

Konsentrasi (%)
0,17
0,01-0,1
0,1
0,15
0,1-0,2
0,1-0,2

Properti khas
PH keasaman / kebasaan pH= 2,8 (larutan jenuh pada 25oC)
Aktivitas antimikroba

asam terurai menunjukkan sifat

antimikroba; aktivitasnya

tergantung pada pH. Aktivitas optimum terjadi pada pH di bawah 4,5; dinilai di atas pH
5, asam benzoat hampir tidak aktif. Aktivitas antimikroba meningkat dengan penambahan
dari protamine, protein dasar.
Sifat peledak suhu 570oC
Titik didih 249.2oC
Massa jenis 1,311 g / cm3 untuk solid di 24oC; 1,075 g / cm3 untuk cair pada 130oC

3. Na.Sakarin
Sinonim
1,2-Benzisothiazolin-3-satu 1,1-dioksida, natrium garam; Crystallose; E954;
Gendorf 450; saccharinum natricum; natrium o-benzosulfimide; gluside larut;
sakarin larut; natrium sucaryl.
Struktur

Fungsi
Sebagai agen pemanis
Aplikasi di Farmasi Formulasi atau teknologi
Sakarin natrium merupakan agen pemanis yang digunakan dalam minuman,
produk makanan, dan formulasi farmasi seperti tablet, serbuk, gel, suspensi,
cairan, dan obat kumur. Ini juga digunakan dalam sediaan vitamin. Sakarin
natrium jauh lebih larut dalam air dibandingkan sakarin, dan lebih sering
digunakan dalam formulasi farmasi. Daya pemanis adalah sekitar 300-600
kali dari sukrosa. Natrium sakarin meningkatkan sistem rasa dan dapat
digunakan untuk menutupi beberapa karakteristik rasa tidak enak.
Konsentrasi Penggunaan

Properti khas
Kecuali dinyatakan, data mengacu ke 76% atau 84% natrium sakarin.
PH keasaman / kebasaan = 6,6 (10% b / v larutan)
Density (bulk) 0,8-1,1 g / cm3 (76% natrium sakarin); 0.86 g / cm3 (84% natrium
sakarin).
Density (partikel) 1,70 g / cm3 (84% sakarin natrium)
Density (mengetuk) 0,9-1,2 g / cm3 (76% natrium sakarin); 0,96 g / cm3 (84% natrium
sakarin).
4. Tween 80
Surfaktan Tween 80 diperlukan untuk mendispersikan minyak cengkeh ke dalam air.
Digunakan surfaktan nonionik Tween 80, karena tidak terionisasi di dalam larutan dan
tidak bereaksi secara kimia dengan bahan lain. Tween 80 menentukan stabilitas fisika
sediaan, karena dengan adanya solubilisasi dari Tween 80 akan terbentuk larutan miselar,
larutan yang homogen. Tween 80 pada konsentrasi 1-10% dalam sediaan obat kumur

adalah sebagai solubilizing agent (White, 1964; Dittert, 1974; Kibbe, 2000). Digunakan
Tween 80 konsentrasi 5%, 6% dan 7% karena berdasarkan hasil orientasi sediaan yang
tepat jernih diperoleh pada penambahan Tween 880 dengan konsentrasi 5%.

Evaluasi Sediaan Mouthwash


1. Organoleptik
Evaluasi meliputi uji kejernihan, bau, rasa dan warna.
2. Kejernihan Larutan <881> (FI IV hal 998)
Lakukan penetapan menggunakan tabung reaksi alas datar diameter 15 mm hingga 25
mm, tidak berwarna, transparan dan terbuat dari kaca netral. Masukkan ke dalam dua
tabung reaksi masing-masing larutan zat uji dan

Suspensi Padanan

yang sesuai

secukupnya, yang dibuat segar dengan cara seperti yang tertera di bawah sehingga
volume larutan di dalam tabung reaksi terisi setinggi tepat 40 mm. Bandingkan kedua isi
tabung setelah 5 menit pembuatan suspensi padanan, dengan latar belakang hitam.
Pengamatan dilakukan di bawah cahaya yang terdifusi, tegak lurus ke arah bawah tabung.
Difusi cahaya harus sedemikian rupa sehingga suspensi padanan I

dapat langsung

dibedakan dari air dan dari suspensi padanan II.

3. Penetapan bobot jenis <981> (FI IV hal 1030)


Digunakan piknometer bersih, kering dan telah dikalibrasi dengan menetapkan bobot
piknometer dan bobot air yang baru dididihkan, pada suhu 25 o. atur hingga suhu zat uji
kurang 20o, masukkan ke dalam piknometer. Atur suhu piknometer yang telah diisi
hingga suhu 25o, buang kelebihan zat uji dan timbang. Kurangkan bobot piknometer
kosong dari bobot piknometer yang telah diisi. Bobot jenis suatu zat adalah hasil yang
diperoleh dengan membagi bobot zat dengan bobot air, dalam piknometer. Kecuali
dinyatakan lain dalam monografi, keduanya ditetapkan pada suhu 25o.

4. Penetapan pH <1071> ( FI IV hal 1039 )


Alat yang digunakan adalah alat potensiometrik (pH meter). Alat harus mampu
menunjukkan potensial dari pasangan electrode dan untuk pembakuan pH menggunakan
potensial yang dapat diatur ke sirkuit dengan menggunakan pembakuan, nol,
asimetri, atau kalibrasi dan harus mampu mengontrol perubahan dalam millivolt per
perubahan unit pada pembacaan pH melalui kendali suhu dan atau kemiringan.
Pengukuran dilakukan pada suhu 25o 2o, kecuali dinyatakan lain dalam masing-masing
monografi. Skala pH ditetapkan dengan persamaan sebagai berikut:
pH = pHs +

(EEs)
k

E dan Es berturut-turut adalah potensial terukur dengan sel galvanic berisi larutan uji,
dinyatakan sebagai pH dan larutan dapar untuk pembakuan yang tepat, dinyatakan
sebagai pHs. Harga adalah perubahan dalam potensial per perubahan unit dalam pH, dan
secara teoritis sebesar [0,05916 + 0,000198 ( t 25o )] volt pada suhu t.
5. Volume terpindahkan <1261> (FI IV, hal 1089)
Uji berikut dirancang sebagai jaminan bahwa larutan oral dan suspensi yang
dikemas dalam wadah dosis ganda. Dengan volume yang tertera dalam etiket tidak
lebih dari 250 mL, yang tersedia dalam bentuk sediaan cair atau sediaan cair yang
dikonstitusi dari bentuk padat dengan penambahan bahan pembawa tertentu dengan
volume yang ditentukan, jika dipindahkan dari wadah asli, akan memberikan volume
sediaan seperti yang tertera pada etiket.
Untuk penetapan volume terpindahkan, pilih tidak kurang dari 30 wadah, dan selanjutnya
ikuti prosedur berikut untuk bentuk sediaan tersebut.
Larutan oral, suspensi oral, dan sirup dalam wadah dosis ganda, kocok isi 10 wadah satu
persatu.
Serbuk dalam wadah dosis ganda yang mencantumkan penandaan volume untuk larutan
oral atau suspensi oral yang dihasilkan dikonstitusi dengan sejumlah pembawa seperti
tertera pada etiket, konstitusi 10 wadah dengan volume pembawa seperti tertera pada

etiket diukur secara seksama dan dicampur.


Prosedur. Tuang isi perlahan-lahan dari tiap wadah ke dalam gelas ukur kering terpisah
dengan kapasitas gelas ukur tidak lebih dari dua setengah kali volume yang diukur dan
telah dikalibrasi, secara hati-hati untuk menghindarkan pembentukan gelembung udara
pada waktu penuangan dan diamkan selama tidak lebih 30 menit. Jika telah bebas dari
gelembung udara, ukur volume dari tiap campuran : volume rata-rata larutan, suspensi,
atau sirup yang diperoleh dari 10 wadah tidak kurang dari 100% dan tidak satupun
volume wadah yang kurang dari 95% dari volume yang dinyatakan pada etiket. Jika A
adalah volume rata-rata kurang dari 100% dari yang tertera pada etiket akan tetapi tidak
ada satu wadah pun volumenya kurang dari 95%, dari volume yang tertera pada etiket
dari volume yang tertera pada etiket, lakukan pengujian terhadap 20 wadah tambahan.
Volume rata-rata larutan, suspensi, atau sirup yang diperoleh 30 wadah tidak kurang dari
100% dari volume yang tertera pada etiket, dan tidak lebih dari 30 wadah volume kurang
dari 95%, tetapi tidak kurang dari 90% seperti yang tertera pada etiket.