Anda di halaman 1dari 32

Bedah Preprostetik

Tri Deasy Permata Hati


2013-11-166
Kelas C

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS PROF. DR. MOESTOPO (BERAGAMA)
JAKARTA
2015

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya lah kami dapat menyelesaikan makalah
ini sebatas pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki.
Kami sangat berharap makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang
membacanya. Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna dalam rangka
menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai Bedah Prostetikbagi kami
sendiri maupun orang yang membacanya.. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa
di dalam tugas ini terdapat kekurangan - kekurangan dan jauh dari apa yang kami
harapkan. Untuk itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan di
masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa sarana
yang membangun.

Jakarta, Desember 2015


Penulis

BEDAH PREPROSTETIK
Bedah preprostetik adalah bagian dari bedah mulut dan maksilofasial yang bertujuan
untuk membentuk jaringan keras dan jaringan lunak yang seoptimal mungkin sebagai dasar
dari suatu protesa. Meliputi teknik pencabutan sederhana dan persiapan mulut untuk
pembuatan protesa sampai dengan pencangkokan tulang dan implan alloplastik (Stephens,
1997). Tujuan utama dari operasi preprostetik adalah untuk mempersiapkan mulut untuk
menerima prostesa gigi dengan mendesain ulang dan menghaluskan tepi tulang.
Operasi pra-prostetik dilakukan untuk menyediakan lingkungan anatomi yang lebih
baik dan menciptakan struktur pendukung yang tepat untuk konstruksi gigi tiruan.[1] Tujuan
utama

harus

merawat

pasien

dengan

memulihkan

fungsi

pengunyahan

terbaik,

dikombinasikan dengan restorasi atau perbaikan gigi dan estetika wajah. Untuk mencapai
tujuan ini, pemeliharaan maksimum jaringan keras dan lunak dari dasar gigi tiruan adalah
sangat penting. Memakai gigi palsu untuk jangka waktu lama memanifestasikan perubahan
yang merugikan di area gigi tiruan-bantalannya karena perubahan dalam ukuran tulang rahang
sehingga gigi palsu tidak pas dan menyakitkan. [2,3]
Bedah preprostetik lebih ditujukan untuk modifikasi bedah pada tulang alveolar dan
jaringan sekitarnya untuk memudahkan pembuatan dental prothesa yang baik, nyaman dan
estetis. Ketika gigi geligi asli hilang, perubahan akan terjadi pada alveolus dan jaringan lunak
sekitarnya. Beberapa dari perubahan ini akan mengganggu kenyamanan pembuatan gigi
tiruan. Evaluasi intra oral jaringan lunak yang mendukung gigi tiruan secara sistematis dan
hati-hati sebaiknya dilakukan sebelum mencoba melakukan rehabilitasi pengunyahan dengan
geligi tiruan (Panchal et al, 2001).

Tujuan Bedah Preprostetik


(Matthew et al, 2001)
Tujuan dari bedah preprostetik adalah untuk menyiapkan jaringan lunak dan jaringan keras
dari rahang untuk suatu protesa yang nyaman yang akan mengembalikan fungsi oral, bentuk
wajah dan estetis.
Tujuan dari bedah preprostetik membantu untuk :

Mengembalikan fungsi rahang ( seperti fungsi pengunyahan, berbicara,

menelan)
Memelihara atau memperbaiki struktur rahang
Memperbaiki rasa kenyamanan pasien
Memperbaiki estetis wajah
Mengurangi rasa sakit dan rasa tidak menyenangkan yang timbul dari
pemasangan protesa yang menyakitkan dengan memodifikasi bedah pada

daerah yang mendukung prothesa


Memulihkan daerah yang mendukung prothesa pada pasien dimana terdapat
kehilangan tulang alveolar yang banyak.

Tahapan bedah preprostetik


Berbagai macam teknik dapat digunakan, baik sendiri atau dikombinasi, untuk
mempertahankan dan memperbaiki daerah yang akan ditempati gigi tiruan. Secara umum ada
tiga golongan dari bedah preprostetik :
1. Bedah jaringan lunak yang mengalami hiperlpasia
2. Vestibuloplasy.
3. Tahapan pembentukan tulang.
Macam bedah preprostetik

1. Alveolektomi - Alveoplasti
Menurut Archer(1) istilah-istilah tersebut dapat didefinisikan sebagai berikut:
Alveoplasti adalah suatu tindakan bedah untuk membentuk prosesus
alveolaris sehingga dapat memberikan dukungan yang baik bagi gigi
tiruan immediate maupun gigi tiruan yang akan dipasang beberapa
minggu setelah operasi dilakukan.
Indikasi
Dalam melakukan alveoloplasti ada beberapa keadaan yang harus
dipertimbangkan oleh seorang dokter gigi. Keadaan-keadaan tersebut antara
lain :

pada rahang di mana dijumpai neoplasma yang ganas, dan


untuk penanggulangannya akan dilakukan terapi radiasi(1,3)

pada prosesus alveolaris yang dijumpai adanya undercut;


cortical plate yang tajam; puncak ridge yang tidak teratur;
tuberositas tulang; dan elongasi, sehingga mengganggu dalam

proses pembuatan dan adaptasi gigi tiruan(1,10)


jika terdapat gigi yang impaksi, atau sisa akar yang terbenam
dalam

tulang;

maka

alveoloplasti

dapat

mempermudah

pengeluarannya,
pada prosesus alveolaris yang dijumpai adanya kista atau

5
6

tumor,
akan dilakukan tindakan apikoektomi (1)
jika terdapat ridge prosesus alveolaris yang tajam atau
menonjol sehingga dapat menyebabkan facial neuralgia

maupun rasa sakit setempat(1,4,10)


pada tulang interseptal yang terinfeksi; di mana tulang ini dapat

dibuang pada waktu dilakukan gingivektomi,


pada kasus prognatisme maksila, dapat juga dilakukan
alveoloplasti yang bertujuan untuk memperbaiki hubungan

antero-posterior antara maksila dan mandibula (1)


setelah tindakan pencabutan satu atau beberapa gigi, sehingga
dapat segera dilakukan pencetakan yang baik untuk pembuatan

gigi tiruan(10)
10 adanya torus palatinus (palatal osteoma) maupun torus
mandibularis yang besar(4,10)
11 untuk memperbaiki overbite dan overjet.

Kontraindikasi

Adapun kontra indikasi dilakukannya tindakan alveoloplasti adalah :

pada pasien yang masih muda, karena sifat tulangnya masih


sangat elastis maka proses resorbsi tulang lebih cepat
dibandingkan dengan pasien tua. Hal ini harus diingat karena
jangka waktu pemakaian gigi tiruan pada pasien muda lebih
lama dibandingkan pasien tua.

pada pasien wanita atau pria yang jarang melepaskan gigi


tiruannya karena rasa malu, sehingga jaringan pendukung gigi
tiruan menjadi kurang sehat, karena selalu dalam keadaan
tertekan dan jarang dibersihkan. Hal ini mengakibatkan proses

resorbsi tulang dan proliferasi jaringan terhambat.


jika bentuk prosesus alveolaris tidak rata tetapi tidak
mengganggu adaptasi gigi tiruan baik dalam hal pemasangan,
retensi maupun stabilitas. (9)

Teknik Alveoplasti

Starshak (1971) mengemukakan 5 macam teknik alveoloplasti, yaitu : t


1. Teknik Alveolar Kompresi,
Teknik Alveolar Kompresi Merupakan teknik alveoloplasti yang
paling mudah dan paling cepat. Pada teknik ini dilakukan
penekanan cortical plate bagian luar dan dalam di antara jarijari.
Teknik ini paling efektif diterapkan pada pasien muda, dan harus
dilakukan setelah semua tindakan ekstraksi, terutama pada gigi
yang bukoversi. Tujuan dilakukannya tindakan ini adalah untuk
mengurangi lebar soket dan menghilangkan tulang-tulang yang
dapat menjadi undercut.
2. Teknik Simpel Alveoloplasti,
Teknik Simpel Alveoloplasti Teknik ini dapat digunakan jika
dibutuhkan pengurangan cortical margin labial atau bukal, dan
kadang-kadang juga alveolar margin lingual atau palatal. Biasanya
digunakan flep tipe envelope, tetapi kadangkala digunakan juga
flep trapesoid dengan satu atau beberapa insisi. Pada teknik ini
pembukaan flep hanya sebatas proyeksi tulang, karena pembukaan
yang

berlebihan

pada

bagian

apikal

komplikasikomplikasi yang tidak diinginkan.

dapat

menyebabkan

3. Teknik Kortiko-Labial Alveoloplasti,


Teknik Kortiko-Labial Alveoloplasti Teknik ini merupakan teknik
alveoloplasti yang paling tua dan paling populer, di mana dilakukan
pengurangan cortical plate bagian labial. Teknik ini telah dipraktekkan
secara radikal selama bertahun-tahun, dengan hanya meninggalkan
sedikit

alveolar

ridge

yang

sempit.

Dalam

tindakan

bedah

preprostodontik teknik inilah yang paling sering digunakan, karena pada


teknik ini pembuangan tulang yang dilakukan hanya sedikit, serta
prosedur bedahnya yang sangat sederhana.

4.

Teknik Dean Alveoloplasti,


Teknik
Dean

Alveoloplasti

O.T.

Dean

menyumbangkan

suatu

teknik

alveoloplasti yang sangat baik dalam mempersiapkan alveolar


ridge sehingga dapat mengadaptasi gigi tiruan dengan baik. Thoma
menggambarkan pembuangan tulang interrradicular (di antara
akar) tidak dengan istilah intraseptal (di dalam septum), tetapi
dengan istilah intercortical (di antara cortical plate). Sedangkan
ahli-ahli lain menggunakan istilah teknik crush (9).
Teknik Dean ini didasari oleh prinsipprinsip biologis sebagai
berikut : (i) mengurangi alveolar margin labial dan bukal yang
prominen, (ii) tidak mengganggu perlekatan otot, (iii) tidak
merusak periosteum, (iv) melindungi cortical plate sehingga dapat
digunakan sebagai onlay bone graft yang hidup dengan suplai
darah yang baik, (v) mempertahankan tulang kortikal sehingga

dapat memperkecil resorbsi tulang setelah operasi. McKay


memodifikasi teknik Dean ini dengan memecahkan cortical plate
ke arah labial sebelum menekannya kembali ke palatal. Modifikasi
ini menjamin onlay tulang dapat bergerak bebas dan terlepas dari
tekanan.

5. Teknik Obwegeser Alveoloplasti.


Teknik Obwegeser Alveoloplasti Pada kasus protrusi premaksilaris
yang ekstrim, teknik Dean tidak akan menghasilkan ridge anterior
berbentuk U seperti yang diinginkan, tetapi menghasilkan ridge
berbentuk V. Untuk menghindari bentuk ridge seperti ini,
Obwegeser membuat fraktur pada cortical plate labial dan palatal.
Keuntungan teknik ini adalah dapat membentuk kedua permukaan
palatal dan labial prosesus alveolaris anterior, dan sangat tepat
untuk kasus protrusi premaksilaris yang ekstrim. Operasi dengan
teknik ini harus didahului dengan proses pembuatan model gips,
kemudian splint atau gigi tiruan disusun pada model kerja gips
tersebut. Dengan dilakukannya proses ini, maka prosedur operasi
yang dilakukan di kamar praktek dokter gigi atau di ruang operasi.

Alveolektomi adalah suatu tindakan bedah untuk membuang prosesus


alveolaris, baik sebagian maupun seluruhnya. Adapun pembuangan
seluruh prosesus alveolaris yang lebih dikenal sebagai alveolektomi
diindikasikan pada rahang yang diradiasi sehubungan dengan

perawatan neoplasma yang ganas. Karena itu penggunaan istilah


alveolektomi yang biasa digunakan tidak benar, tetapi karena sering
digunakan maka istilah ini dapat diterima. Alveolektomi sebagian
bertujuan untuk mempersiapkan alveolar ridge sehingga dapat
menerima gigi tiruan. Tindakan ini meliputi pembuangan undercut atau
cortical plate yang tajam; mengurangi ketidakteraturan puncak ridge
atau elongasi; dan menghilangkan eksostosis.
Indikasi
1 Indikasi dari prosedur alveolektomi jarang dilakukan tetapi
biasanya pada dilakukan pada kasus proyeksi anterior yang
berlebih pada alveolar ridge pada maxilla(Wray et al,2003) atau
untuk pengurangan prosesus alveolaris yang mengalami
elongasi (Thoma, 1969). Area yang berlebih tersebut dapat
menimbulkan masalah dalam estetik dan stabilitas gigi tiruan.
Pembedahan ini paling banyak dilakukan pada maloklusi kelas
2

II divisi I (Wray et al,2003).


Alveolektomi juga dilakukan untuk mengeluarkan pus dari

suatu abses pada gigi.


Alveolektomi diindikasikan juga untuk preparasi rahang untuk
tujuan prostetik yaitu untuk memperkuat stabilitas dan retensi

gigi tiruan (Thoma, 1969).


Menghilangkan alveolar ridge yang runcing yang dapat
menyebabkan : neuralgia,protesa tidak stabil,protesa sakit pada

waktu dipakai.
Menghilangkan tuberositas untuk mendapatkan protesa yang

stabil dan enak dipakai


6 Untuk eksisi eksostosis (Thoma, 1969).
7 Menghilangkan interseptal bonediseas.
8 Menghilangkan undercut.
9 Mendapatan spaceintermaksilaris yang diharap.
10 Untuk keperluan perawatan ortodontik,bila pemakaian alat
ortho tidak maksimal maka dilakukan alveolektomi
11 penyakit periodontal yang parah yang mengakibatkan
kehilangan sebagian kecil tulang alveolarnya.
12 ekstraksi gigi yang traumatik maupun karena trauma eksternal.
Kontra indikasi
Sedangkan kontra indikasi alveolektomi adalah :
1 Pasien dengan penyakit sistemik

2
3

Periostitis
Periodontitis

Klasifikasi Alveolektomi
A. Simple alvolectomy
Setelah dilakukan multiple extractions, lapisan alveolar bukal dan
tulang interseptal diperiksa untuk mengetahui adanya protuberansia
dan tepi yang tajam. Incisi dibuat melintangi interseptal crests.
Mukoperiosteum diangkat dengan hati-hati dari tulang menggunakan
Molt curet no.4 atau elevator periosteal. Kesulitan terletak pada
permulaan flap pada tepi tulang karena periosteum menempel pada
akhiran tulang, tetapi hal ini harus dilatih agar flap tidak lebih tinggi
dari dua per tiga soket yang kosong. Jika terlalu tinggi akan dapat
melepaskan perlekatan lipatan mukobukal dengan mudah, dengan
konsekuensi hilangnya ruang untuk ketinggian denture flange. Flap
diekstraksi dengan hati-hati dan tepi dari gauze diletakkan di antara
tulang dan flap. Rongeur universal diletakkan pada setengah soket
yang kosong, dan lapisan alveolar bukal atau labial direseksi dengan
ketinggian yang sama pada semua soket. Rounger diposisikan pada
sudut 45 di atas interseptal crest, satu ujung pada masing-masing
soket, dan ujung interseptal crest dihilangkan. Prosedur ini dilakukan
pada semua interseptal crests. Perdarahan tulang dikontrol dengan
merotasi curet kecil pada titik perdarahan. File ditarik secara ringan
pada satu arah pemotongan secara menyeluruh sehingga meratakan
tulang. Partikel-partikel kecil dihilangkan, gauze juga dilepaskan
sehingga awalan flap terletak pada tulang, dan jari digesek-gesekkan
(dirabakan) pada permukaan mukosa untuk memeriksa kedataran
tulang alveolus. Lapisan bukal harus dibuat kontur kurang lebih
setinggi lapisan palatal dan dibuat meluas dan datar. Undercut pada
bagian posterior atas dan anterior bawah perlu deperhatikan. Sisa
jaringan lunak dan jaringan granulasi kronis juga dihilangkan dari flap
bukal dan palatal, kemudian dijahit menutupi area interseptal tetapi
tidak menutupi soket yang terbuka. Penjahitan secara terputus atau
kontinyu dilakukan tanpa tekanan.

B. Radical alveolectomy
Pembentukan kontur tulang bagian radiks dari tulang alveolar
diindikasikan karena terdapat undercuts yang sangat menonjol, atau
dalam beberapa hal, terdapat perbedaan dalam hubungan horizontal
berkenaan dgn rahang atas dan rahang bawah yang disebabkan oleh
overjet. Beberapa pasien mungkin memerlukan pengurangan tulang
labial untuk mendapatkan keberhasilan dalam perawatan prostetik.
Dalam beberapa kasus, flap mukoperiosteal menjadi prioritas untuk
melakukan ekstraksi. Ekstraksi gigi, pertama dapat difasilitasi dengan
menghilangkan tulang labial diatas akar gigi. Penghilangan tulang ini
juga akan menjaga tulang intraradikular. Setelah itu sisa-sisa tulang
dibentuk dan dihaluskan sesuai dengan tinggi labial dan oklusal
menggunakan chisel, rongeur dan file. Sisa jaringan pada bagian flape
labial dan palatal dihaluskan, yang diperkirakan akan menganggu atau
melanjutkan kelebihan sutura pada septa (continuoussutures over the
septa).
Dalam penutupan flap, penting untuk menghilangkan jaringan pada
area premolar agar terjadi penuruan pengeluaran dari tulang labial.
Dalam pembukaan flap yang besar, harus dilakukan pemeliharaan yang
tepat untuk memelihara perlekatan dari lipatan mukobukal sebaik
mungkin, atau selain itu penghilangan kelebihan flap yang panjang
harus dilakukan pada akhirnya. Jika flap tidak didukung dengan gigi
tiruan sementara (immediate denture) dan sisa jaringan tidak
dihilangkan, tinggi dari lapisan mukobukal akan berkurang secara
drastis. (Kruger, 1984)
Prosedur Alveolektomi
Teknik untuk alveolektomi maksila dan mandibula:
1

Jika kasus salah satu dari gigi yang tersisa baru dicabut,
mukoperiosteum harus dicek untuk memastikan bahwa telah
terdapat kedalaman minimum sebesar 10mm.Dari semua tepi

gingival yang mengelilingi area yang akan dihilangkan.


Pastikan bahwa insisi telah dibuka mulai dari midpoint dari
puncak alveolar pada titik di pertengahan antara permukaan
buccal dan lingual dari gigi terakhir pada satu garis, yaitu gigi
paling distal yang akan dicabut, menuju ke lipatan mukobukal

pada sudut 450 setidaknya 15mm. tarik insisi ke area dimana


3

gigi tersebut sudah dicabut sebelumnya.


Angkat flap dengan periosteal elevator dan tahan pada posisi
tersebut dengan jari telunjuk tangan kiri atau dengan hemostat

yang ditempelkan pada tepi flap atau dengan tissue retactor.


Bebaskan tepi flap dari darah menggunakan suction apparatus,

dan jaga dari seluruh area operasi.


Letakkan bone shear atau single edge bone-cutting rongeur
dengan satu blade pada puncak alveolar dan blade lainnya
dibawah undercut yang akan dibuang, dimulai pada regio
insisivus sentral atas atau bawah dan berlanjut ke bagian paling

distal dari alveolar ridge pada sisi yang terbuka.


Bebaskan mukoperiosteal membrane dari puncak alveolar dan
angkat menuju lingual, sehingga plate bagian lingual dapat
terlihat. Prosedur ini akan memperlihatkan banyak tulang

interseptal yang tajam.


Hilangkan penonjolan tulang interseptal yang tajam tersebut

dengan end-cutting rongeurs.


Haluskan permukaan bukal dan labial dari alveolar ridge
dengan bone file. Tahan bone file pada posisi yang sama
sebagai straight operative chisel , pada posisi jari yang sama,

dan file area tersebut pada dengan gerakan mendorong.


Susuri soket dengan small bowl currete dan buang tiap spikula
kecil tulang atau struktur gigi atau material tumpatan yang
masuk ke dalam soket. Ulangi prosedur ini pada sisi kiri atas

dan lanjutkan ke tahap berikutnya.


10 Kembalikan flap pada posisi semula, kurang lebih pada tepi
jaringan lunak, dan ratakan pada posisi tersebut dengan jari
telunjuk yang lembab.
11 Catat jumlah jaringan yang overlapping, yang notabene bahwa
tulang

dibawahnya

telah

dikurangi,

yang

akhirnya

meninggalkan tulang yang lebih sedikit dilapisi oleh jaringan


lunak.
12 Dengan gunting, hilangkan sejumlah mukoperiosteum yang
sebelumnya terlihat overlap.
13 Ratakan jaringan lunak tersebut

kembali

ketempatnya

menggunakan jari telunjuk yang lembab, perkirakan tepi dari

mukoperiosteum, lalu catat apakah ada penonjolan tajam yang


tersisa pada alveolar ridge. Operator dapat merasakannya
dengan jari telunjuk.
14 Jika masih terdapat penonjolan dari tulang yang tersisa,
hilangkan dengan bone fie.
15 Jahit mukoperiosteum kembali ketempatnya. Disarankan
menggunakan benang jahitan sutra hitam kontinyu nomor 000.
Walaupun demikian, jahitan interrupted juga dapat digunakan
jika diinginkan
Alveolotomi adalah suatu tindakan membuka prosesus alveolaris yang
bertujuan untuk mempermudah pengambilan gigi impaksi atau sisa
akar yang terbenam, kista atau tumor, atau untuk melakukan tindakan
apikoektomi.

2. Torektomi
Torektomi merupakan prosedur bedah yang dilakukan untuk menghilangkan
satu atau lebih tonjolan tulang (torus) baik pada rahang atas maupun rahang
bawah. Dilakukan apabila torus mengganggu prosedur pemasangan gigi
tiruan.
Torus Palatinus
Teknik bedah. Untuk menghilangkannya, lesi pembedahan sebuah insisi dibuat
di sepanjang garis tengah langit-langit, yang terdiri dari dua anterior dan
posterior sayatan miring (Gambar. 10,42). Sayatan ini dirancang untuk
menghindari melukai cabang arteri palatine, tetapi sehingga juga ada
visualisasi yang memadai dari, dan akses ke, bidang bedah tanpa ketegangan
dan manipulasi yang merugikan selama prosedur. Setelah refleksi, flaps yang
ditarik dengan bantuan jahitan atau elevator periosteal lebar. Setelah
pembukaan lesi selesai, torus dipotong dengan bur fissure dan segmen secara
individual diangkat dengan menggunakan mono bevel chisel (Gambar. 10.43,
10.44). Lebih khususnya, chisel diposisikan di dasar exostosis dengan bevel
kontak dengan tulang palatum dan, setelah itu, setiap segmen lesi dihilangkan
setelah pukulan sedikit dengan mallet (Gbr. 10.45). Setelah menghaluskan
permukaan tulang, jaringan lunak berlebih dipotong dan, setelah irigasi

berlebihan dengan larutan saline, flaps direposisi dan dijahit dengan jahitan
terputus (Gambar. 10,46-10,48).
Jika torus palatinus dalam ukuran kecil, sayatan untuk membuat flap dibuat
lagi pada sepanjang garis pertengahan, tetapi dengan sayatan miring pada
anterior. Prosedur ini kemudian dilakukan dengan cara yang persis sama
seperti yang sudah disebutkan.

Torus Mandibularis

Sayatan dibuat di puncak alveolar ridge untuk operasi pengangkatan


exostoses, dan, setelah refleksi luas flap lingual, lesi dihilangkan
menggunakan pahat, bone file, atau bur (Gambar. 10,50-10,54). Luka
kemudian diairi dengan banyak larutan saline dan dijahit dengan jahitan
terputus (Gambar. 10,55).

Multiple Exostoses
Setelah pemberian anestesi lokal, sayatan dibuat flap trapesium. Mucoperiosteum ini
kemudian direfleksikan dengan hati-hati, yang cukup sulit karena ukuran besar dan
presentasi nodular dari exostoses (Gambar. 10,58). Selama refleksi, jari telunjuk
tangan non dominan diposisikan di atas flap yang dibuat, untuk memfasilitasi refleksi
sekaligus melindungi integritas dalam kasus slip disengaja lift periosteal, yang tidak
akan mengakibatkan perforasi. exostoses dikeluarkan dengan rongeur atau bur
khusus, di bawah aliran larutan saline, untuk menghindari overheating dari tulang
(Gambar. 10,59). Luka tulang kemudian dihaluskan dengan bone file dan diperiksa
untuk memastikan kehalusan alveolar ridge (Gambar. 10,60). Setelah prosedur ini,
bidang bedah diirigasi dengan larutan saline dan kelebihan jaringan lunak dipotong,
terutama papila interdental gingiva. Ini bertujuan pendekatan yang lebih tepat dan
imobilisasi flap selama menjahit dengan jahitan terputus (Gambar. 10,61).

3. Eksisi hypermobile tissue


Hypermobile Tissue adalah salah satu tindakan bedah yaitu membuang jaringan
(tumor) dengan cara memotong. Tindakan ini dilakukan untuk berbagai tujuan salah
satunya untuk memperbaiki penampilan secara kosmetis.

Ada beberapa teknik eksisi, antara lain:


1) Eksisi Elips (fusiform) : merupakan bentuk eksisi dasar, dengan arah yang
sejajar dengan garis danlipatan kulit. Perbandingan panjang dan lebar
minimal 3:1 dengan sudut 30 derajat. Irisan tegak lurus atau lebih meluas
ke dalam sampai dengan subkutis. Bila perlu dapat dilakukan undermining
yang kalau dimuka tepat di bawah dermis dan kalau di scalp di daerah
subgaleal.
2) Eksisi wedge : untuk lesi yang terletak pada area bebas seperti bibir, sudut
mata, cuping hidung dan telinga.
3) Eksisi sirkular : pada kulit wajah yang terletak diatas jaringan kartilago
seperti batang hidung atau permukaan anterior telinga, lesi-lesi dapat
dieksisi dengan bentuk sirkular dan defek ditutup dengan skin graft full
thickness.

4) Eksisi multiple : diperlukan untuk lesi-lesi yang luas seperti congenital


naevi. Tehnik ini memungkinkan luka ditutup dengan skar yang lebih
pendek dibanding dengan elips satu langkah.
4. Frenektomi
Frenektomi adalah tindakan bedah mulut yang ditujukan untuk memotong dan
menghilangkan masalah yang disebabkan oleh lokasi perlekatan abnormal
frenulum atau ukuran & bentuk abnormal dari frenulum itu sendiri.
Maxillary Labial Frenectomy
Metode yang biasanya digunakan adalah eksisi menggunakan dua hemostat.
Dalam hal ini, prosedur yang digunakan adalah sebagai berikut. Setelah
anestesi lokal, bibir ditarik ke atas, dan frenum yang digenggam menggunakan
dua hemostat melengkung, yang diposisikan di superior dan inferior margin
(Gambar. 10,74, 10,75).
Ara. 10.73. Ankyloglossia sebagai akibat dari frenulum pendek
Bibir tersebut kemudian ditarik lebih jauh dan pisau scalpel tipis menyayat
jaringan di belakang hemostat, pertama di belakang hemostat bawah dan
kemudian balik hemostat atas (Gambar. 10,76-10,78).
jika frenum adalah hipertrofi dan ada ruang besar antara insisivus sentral,
jaringan ditemukan antara dan di belakang gigi seri sentral juga dihilangkan
(Gbr. 10.79). Jahitan terputus ditempatkan di sepanjang margin lateral luka
dalam arah linier, setelah mukosa dari margin luka dirusak menggunakan
gunting (Gambar. 10,80-10,82)

Lingual Frenectomy
Teknik Menggunakan hemostat. Setelah anestesi lokal, lidah ditarik ke atas dan
posterior dengan jahitan traksi yang melewati ujung lidah. Frenulum tersebut
kemudian dipegang sekitar tengah panjang vertikal dengan hemostat lurus, yang
sejajar dengan dasar mulut (Gambar. 10,83). Menggunakan pisau bedah bagian
jaringan yang dipegang dipotong, pertama di atas hemostat dan kemudian di bawah
(Gambar. 10,84, 10,85). Tepi luka kemudian terputus dengan gunting dan jahitan
terputus ditempatkan (Gambar. 10,86-10,88).

5. Augmentasi dengan Hidroksi Apatit


Pada keadaan resorbsi tulang yang hebat, maka diperlukan tindakan
bedah yang lebih sulit dengan tujuan : menambah besar dan lebar tulang
rahang, menambah kekuatan rahang, memperbaiki jaringan pendukung gigi
tiruan.
Penambahan dengan Hidroksi apatit yaitu suatu bahan alloplastik yang
bersifat biocompatible yang dapat digunakan untuk menambah ketinggian
tulang alveolar.

6. Bone Graft

Bone graft adalah tulang yang ditransplantasikan dari satu area di


skeletal ke area lainnya untuk membantu penyembuhan, penguatan, dan
perbaikan fungsi.
Bone grafting adalah suatu prosedur pembedahan penempatan tulang
baru ke ruang di sekitar tulang yang patah atau di antara lubang dan defek
tulang. Tulang baru tersebut dapat diambil dari tulang sehat pasien sendiri
(autograft) atau tulang donor yang telah dibekukan (allograft).
Bone graft adalah pilihan yang banyak digunakan untuk memperbaiki
kerusakan tulang periodontal. Tujuan dari bone grafting adalah mengurangi
kedalaman poket periodontal, peningkatan perlekatan secara klinik, pengisian
tulang di daerah defek dan regenerasi tulang baru, sementum, ligament
periodontal dengan demikian akar gigi diharapkan dapat terdukung lebih baik.
Prosedur bone graft :
1. Anestesi local di area yang akan diakukan bone graft
2. Memisahkan gingiva dari akar gigi dan tulang
3. Lakukan root planning untuk menghilangkan kalkulus subgingiva
dan membersihkan seluruh bakteri dari area tersebut
4. Bentuk tulang menjadi bentuk yang diinginkan
5. Letakkan bone graft material pada tulang yang sudah dibentuk
6. Letakkan selapis membrane special di atas situs bone graft untuk
mencegah jaringan yang tidak diinginkan di situs bone graft dan
merangsang pertumbuhan tulang yang normal
7. Gingiva direposisi menutup situs bone graft
8. Gingiva dijahit

7. Eksisi Fibrous Hiperplasia


Eksisi fibrous hipoplasia adalah tindakan bedah mulut yang ditujukan untuk
memotong dan menghilangkan pertumbuhan jaringan ikat fibrosa yang
berlebihan di daerah mukosa yang berkontak dengan tepi gigi tiruan yang
biasanya terlalu cekat dan menekan mukosa yang disebut Epulis fissuratum
juga sering disebut inflammatory fibrous hyperplasia, atau denture epulis

yaitu. Pertumbuhan jaringan ikat tersebut disebabkan oleh iritasi kronik karena
pemakaian gigi tiruan, di mana tepi gigi tiruan menekan daerah gusi yang
berbatasan dengan pipi bagian dalam (alveolar vestibular mucosa). Penekanan
tersebut menyebabkan tulang daerah tersebut terus menerus berubah karena
kehilangan tulang, akibatnya dukungan tulang untuk basis gigi tiruan menjadi
tidak stabil. Hal ini lama kelamaan mengarah kepada terjadinya penonjolan
yaitu epulis fissuratum.

8. Vestibuloplasty

Vestibuloplasti merupakan suatu tindakan bedah yang bertujuan untuk


meninggikan sulkus vestibular dengan cara melakukan reposisi mukosa ,
ikatan otot dan otot yang melekat pada tulang yang dapat dilakukan baik pada
maksila maupun pada mandibula dan akan menghasilkan sulkus vestibular
yang dalam untuk menambah stabilisasi dan retensi protesa.
Macam-macam tehnik vestibuloplasti :

a. Vestibuloplati submukosa
b. Vestibuloplasti dengan cangkok kulit pada bagian bukal
c. Vestibuloplasti dengan cangkok mukosa yang dapat diperoleh
dari mukusa bukal atau palatal

9. Segmentalosteotomis

Segmentalosteotomis didefinisikan sebagai pemotongan tulang yang


membagi lengkung dari maksila atau mandibula menjadi tiga atau lebih bagian
. Menggabungkan besar-segmen bedah ortognatik dan unitooth atau
pembedahan kecil-segment merupakan pendekatan yang efektif untuk
menangani berbagai kelainan dentofacial dengan masalah oklusal.
Indikasi untuk osteotomy multi-segmen pada kelainan dentofacial dan
maloklusi yang memerlukan koreksi stabil dalam jangka waktu pengobatan
jangka pendek secara keseluruhan. Jenis osteotomi dilakukan adalah Le Fort I,
anterior segmental osteotomi dari maksila atau mandibula, palatal split,
segmen posterior, dan segmen unitooth atau double-gigi. Perawatan dilakukan
antara 6 bulan sampai 7 tahun; Stabilitas terlihat dalam gerakan, dengan hanya
tiga komplikasi (satu kerugian gingiva parsial dan dua parestesia mental yang
lebih rendah). Tidak ada segmen osteotomized hilang. Rata-rata waktu
perawatan secara keseluruhan adalah sekitar 15 bulan, termasuk 3 sampai 6
bulan pra operasi dan 9 sampai 12 bulan perawatan ortodontik pasca operasi.
Hal ini setidaknya 6 bulan lebih pendek daripada operasi tradisional
ortognatik.

IMPLANT

Sejarah
Dental implanology berkembang parallel dengan perkembangan metoda operasi patah
tulang dan endoprotesa. Pada awal tahun 1960 telah terbentuk sebuah tim kerja
osteosintesa yang dipelopori oleh Dr. Fritz Straumann dan Prof. Andre Schoeder, yang
mempelopori inplan dental. Mereka pertamakali mencoba implan metal pada kera.
Hasilnya terbukti biokompatibel dan oseointegrasi implan gigi terjadi pada rahang
yang sama pada tulang panjang. Untuk mengkoordinasi tim kerja osteosintesa maka
terbentuk grup khusus yang menangani implan denta yaitu grup ITI (Foitzk, 1994)
yang merupakan singkatan dari International Team For Oral Implanology . Saat ini
ITI mempunyai anggota lebih dari 200 orang dari seluruh dunia dan kelompok ini
terbentuk pada tahun 1980 (Schroeder, dkk, 1996). Tim ini terdiri atas 4 dokter gigi,
ahli bedah mulut dan maksilofasial, ahli teknik, ahli anatomi, ahli fisika. Ahli metal,
dental tekniker dan ahli-ahli lainnya, yang berdedikasi untuk mengembangkan lebih
lanjut oral implanology. Tim ini murni berorientasi keilmuan yang bekerja tanpa
pemikiran mencari untung (Straumann, 1995). Prinsip-prinsip yang mendasari sistim
ITI mulai dikembangkan pada awal tahun l970 an oleh Conservation Dentistry
Departement dari University of Berne Switzerland. Prinsip-prinsip ini telah diterapkan
dengan sukses dan didokumentasikan secara klinis sejak tahun 1974. Kemudian kerja
sama dilakukan dengan tim internasional untuk oral implanologi yang telah
menghasilkan sistim implan endosteal yang kita kenal saat ini. Sistim ini telah
terbukti baik dan masih dikembangkan lebih lanjut (Straumann, 1955).

Macam Macam Implant

Berdasarkan letak implan ditanamkan, maka jenis implan dapat dibagi dalam:

1. Implan Subperiosteal Implan jenis ini diletakkan diatas linggir tulang dan
berada dibawah perioteum. Sering dipergunakan pada rahang yang sudah tak
bergigi baik untuk rahang atas maupun rahang bawah.
2. Implan Transosseus Implan jenis ini diletakkan menembus tulang rahang
bawah dan penggunaanya terbatas untuk rahang bawah saja
3. Implan Intramukosal atau Submukosal Implan ini ditanam pada mukosa
palatum dan bentuknya menyerupai kancing, oleh karena itu disebut button
insert . Penggunaanya hanya terbatas pada rahang atas yang sudah tidak
bergigi.
4. Implan Endodontik Endosteal 7 Merupakan suatu implan yang diletakkan
kedalam tulang melalui saluran akar gigi yang sebelumnya telah dipesiapkan
untuk pengisian saluran akar gigi. Tujuannya untuk menambah stabilitas gigi
yang memiliki akar pendek, misalnya setelah dilakukan apikoektomi atau
dapat juga dipakai pada gigi yang goyang.
5. Implan Endosseus atau Endosteal Implan jenis ini ditanam kedalam tulang
melalui gusi dan periosteum. Jenis ini merupakan jenis yang paling banyak
dipakai dan ditolerir oleh para praktisi, pabrik maupun pakar yang mendalami
secara Scientific & Clinical Forndation, yang pada dasarnya menanam
implan pada alveolar dan basal bone . Bentuk bisa berupa root form atau blade
form. Keuntungan yang didapat dari penggunaan implan endosseus ialah
bahwa jenis ini dapat dilaksanakan pada pasien tidak bergigi dengan semua
tingkatan abrosbsi, bahkan pada keadaan resorbsi yang ekstrim dengan
bantuan grafting. Juga dapat digunakan pada pasien tidak bergigi sebagian,
dari kehilangan satu gigi sampai keseluruhan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Archer, W. H. Oral and Maxillofacial Surgery. 5th ed. Vol. I. Philadelphia:


Saunders, 1975: 135, 179-187.
2. Indresano, A. T. and Laskin, D. M. Procedures to Improve the Bony Alveolar
Ridge. In: Laskin, D. M., editor. Oral and Maxillofacial Surgery. St. Louis:
Mosby, 1985: 293-305.
3. McGowan, D. A. An Atlas of Minor Oral Surgery. 1st ed.. London: Martin
Dunitz, 1989: 75, 87-91.
4. D. Fragiskos, Fragiskos DDS, PhDAssociate Professor, Oral and Maxillofacial
Surgery. School of DentistryUniversity of AthensGreece, 2007