Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
I.1 LATAR BELAKANG
Pada era dimana negara yang dipandang sukses saat ini, salah
satunya karena perkembangan industrinya yang sangat pesat, menuntut
Indonesia yang berstatus sebagai negara berkembang untuk meningkatkan
pembangunan khususnya di sektor industri. Sektor ini diharapkan menjadi
ujung tombak agar dalam pembangunan mencapai titik optimal untuk
memenuhi kebutuhan dalam negeri dengan munculnya produk-produk baru
dan mendapakan devisa dari hasil ekspor. Salah satu industry yang sedang
berkembang dan dibutuhkan di Indonesia adalah industry makanan.
Masyarakat membutuhkan suatu bahan yang digunakan sebagai bahan
tambahan dalam masakan dan bahan yang dapat digunakan untuk
keperluan dalam penggorengan yang tentunya aman bagi kesehatan.
Industry margarine merupakan terobosan terbaik untuk menjawab hal
tersebut. Margarine lebih baik daripada mentega ataupun minyak goreng
dalam segi kesehatan. Selain itu menurut data BPS tahun 2015 negara
Indonesia pada bulan Agustus mengimpor mentega sebesar 213189 kg.
Perbedaan mentega dan margarin terletak pada bahan bakunya.
Mentega dibuat dari lemak hewan dan memiliki kandungan kolesterol diet
maupun lemak jenuh yang tinggi. Sedangkan margarin biasanya terbuat
dari lemak nabati dan kandungan lemak jenuhnya lebih sedikit daripada
mentega. Mentega dan margarin mengandung jumlah kalori yang kurang
lebih sama (sekitar 600 kalori per satu sendok makan). Namun, mentega
mengandung lemak jenuh dan kolesterol. Kedua elemen tersebut bisa
menyebabkan risiko penyakit jantung. Berbeda dengan margarin yang
dibuat dari minyak nabati sehingga kandungan lemak jenuhnya lebih
rendah dan (kebanyakan) tidak mengandung kolesterol. Sebenarnya lemak
trans tidak hanya terdapat pada margarin ada banyak sumber lemak trans di
sekitar kita seperti makanan yang digoreng, non-dairy krimer, dan
shortening. Meski diklaim memiliki asam lemak tak jenuh tinggi, minyak
goreng (minyak kelapa sawit) saat dipanaskan akan berubah menjadi
sumber lemak trans.
Saat perancangan pabrik margarine perlu dipertimbangkan segi
ekonomisnya, salah satunya dalam pemilihan bahan baku yang digunakan

nantinya. Kebanyakan pabrik margarine saat ini menggunakan minyak


kelapa sawit sebagai bahan bakunya. Sebenarnya akan lebih menghemat
biaya apabila digunakan bahan baku lain yang memiliki kandungan minyak
nabati dan diproses sendiri untuk menjadi minyak. Bahan tersebut harus
memiliki kandungan minyak yang cukup tinggi. Kemiri sunan memiliki
kandungan minyak 40 60%. Kadar ini termasuk tinggi. Harganya pun
sangat murah yakni 1000/kg (pada tahun 2014). Kemiri sunan banyak
ditemukan di daerah Jawa Barat. Dengan lahan 2-3 hektar dapat
menghasilkan kemiri sunan sampai 3 8 juta ton, kemudian akan
menghasilkan minyak sebesar 1,7 6 juta ton.
Diharapkan dengan berdirinya pabrik margarine dari kemiri sunan
ini menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia sebagai bahan masakan
yang aman dikonsumsi oleh asyarakat Indonesia dan semakin
meningkatkan devisa dari hasil ekspor produk margarine yang dihasilkan
nantinya.

1.2 DASAR TEORI


1.2.1 Sejarah Margarin
Margarin pertama kali ditemukan oleh Hyppolyte Mege
Mouries seorang kimiawan Prancis pada 1870 pada suatu sayembara yang
diadakan oleh Kaisar Napoleon III. Margarin dimaksudkan sebagai
pengganti mentega dengan rupa, bau, konsistensi rasa, dan nilai gizi yang
hampir sama dengan mentega. Disebabkan naiknya populasi penduduk kota
selama revolusi industri dan semakin berkurangnya lahan pertanian. Kata
margarine berasal dari Bahasa Yunani, yaitu Margarines yang berarti
mutiara. Margarin merupakan emulsi dengan tipe emulsi water in oil
(W/O), yaitu fase air berada dalam fase minyak atau lemak.
Margarin merupakan produk makanan berbentuk emulsi campuran
air di dalam minyak, yaitu sekitar 16% air dan minimal 80% minyak atau
lemak nabati. Fase lemak umumnya terdiri dari minyak nabati, yang
sebagian dipadatkan agar diperoleh sifat plastis.
Sejak penemuan tersebut, margarin mengalami banyak
perkembangan. Pada tahun 1873 Amerika mempatenkan penemuan Mege
Mouries dan mendirikan pabrik margarin yang beroperasi di United States.
Akhir abad ke-19, margarin dibuat dari lemak babi atau sapi dimana
ditambahkan lemak dari kacang tanah dan biji kapas untuk mempercepat
melting point pada saat pencampuran. Di awal tahun 1900, margarin baru
dibuat dari 100% minyak nabati yang biasanya diperoleh dari minyak

kelapa, minyak sawit, minyak biji kapas, minyak jagung, minyak kedelai,
minyak wijen, minyak kapuk, dan minyak gandum. Minyak nabati
umumnya berwujud cair karena mengandung asam lemak tidak jenuh,
seperti asam oleat, linoleat, dan linolenat. Pembuatan margarin dengan
proses hidrogenasi mulai diperkenalkan pada tahun 1910, tapi pembuatan
margarin dengan proses hidrogenasi dilakukan pada tahun 1930.
Hidrogenasi minyak bertujuan merubah minyak cair menjadi lemak
berwujud padat dengan konsistensi yang hamper sama dengan minyak
babi.
Pabrik margarin sudah memproduksi margarin berbentuk stick pada
awal tahun 1950. Dengan adanya perkembangan teknologi, pabrik margarin
dapat mengolah margarin menjadi soft margarine yang banyak diminati
konsumen. Pada saat itu, soft margarine yang mempunyai kandungan
lemak tinggi dikemas dalam kaleng. Pada tahun 1980 margarin diproduksi
dalam bentuk soft, stick, dan liquid dengan kandungan lemak jenuh sebesar
60%. Namun pada tahun 1990 penjualan margarin yang kandungan lemak
jenuh tinggi semakin sedikit, bahkan pada tahun 1993 dan sampai saat ini
sudah diproduksi margarin yang tidak mengandung lemak jenuh.
1.2.2 Margarin
Margarin dimaksudkan sebagai pengganti mentega dengan rupa, bau,
konsistensi dan nilai gizi yang hamper sama dengan mentega. Margarin
merupakan emulsi water in oil, yaitu fase air berada dalam fase minyak
atau lemak.
Lemak yang digunakan untuk pembuatan margarin dapat berasal dari
lemak atau lemak hewani. Margarin lebih sedikit menganduk lemak
dibandingkan dengan mentega, sehingga margarin digunakan sebagai
penggantin mentega. Lemak nabati yang digunakan adalah minyak kelapa,
minyak inti sawit, minyak kedelai, minyak biji kapas, minyak wijen,
minyak kacang tanah, minyak gandum, dan minyak jagung. Sedangkan
untuk minyak hewani yang digunakan biasanya minyak lemak babi dan
lemak sapi.
Margarin memiliki teksturnya lebih padat, berwarna kuning terang,
tidak mudah meleleh, dan dijual dalam kemasan mangkuk plastik atau
bungkus plastik. Jika dipanaskan, margarin akan mencair dan berubah
menjadi minyak berwarna kuning tua dengan sedikit endapan. Jika
dikocok, ia akan mudah sekali lembek.
Berbeda dengan mentega, mentega terbuat dari lemak susu hewan
yang diproses dengan beberapa bahan pendukung seperti air, garam, dan

susu oleh karena itu margarin mengandung lemak yang lebih tinggi
dibandingkan dengan margarin. Karena terbentuk dari lemak hewani,
aroma mentega lebih tajam. Memiliki warna kuning pucat dan mudah
meleleh. Jika dibandingkan dengan margarin. Mentega sendiri lebih
mudah tengik daripada margarin.
Syarat minyak nabati yang dapat digunakan bahan baku pembuatan
margarin :
Bilangan iod rendah
Jumlah ikatan rangkap dalam minyak ditentukan dengan mengukur
bilangan iod. Makin besar dan titik cair semakin rendah lemak yang
dimiliki bilangan iod rendah lebih tahan terhadap proses kerusakan
oksidasi.
Warna minyak
Warna yang diinginkan pada margarin yaitu warna kuning mentega
(Butter Yellow). Minyak nabati yang telah mempunyai warna kuning
misalnya minyak sawit, minyak bunga matahari jika dijadikan
margarin cukup ditambahkan karoten, sedangkan pembuatan
margarin dari minyak nabati yang berwarna pucat, harus
ditambahkan katoten dan lechitin yang lebih besar sehingga
diperoleh warna kuning mentega.
Flavor minyak yang baik
Minyak yang baik umumnya memiliki flavour yang tidak enak
sehingga flavour ini perlu dihilangkan dengan proses deodorasi
Asam lemak yang stabil
Ketidakjenuhan asam lemak berpengaruh terhadap kerusakan lemak
oleh proses oksidasi. Asam linolenat (3 ikatan rangkap) lebih mudah
teroksidasi dari pada asam linolenat (2 ikatan rangkap), sedangkan
asam linolenat lebih mudah teroksidasi daripada asam oleat (ikatan
rangkap). Untuk mempertinggi stabilitas dan titik cair lemak dapat
dilakukan dengan cara hidrogenasi.
Titik beku dan titik cair disekitar suhu kamar
Margarin sebaiknya mencair di mulut pada saat dimakan sehingga
mudah dicerna. Pada suhu kamar. Margarin harus mempunyai
konsentarsi plastis sebagai pengoles roti.
Jenis minyak yang digunakan
Jenis minyak yang digunakan harus banyak terdapat disuatu daerah.
Hal ini berhubungan erat dengan kontinuitas proses produksi dan
segi ekonomis. Jika bahan banyak terdapat disuatu daera, maka
harganya relative murah dan ongkos transportasi lebih rendah.

Contoh bahan yang sudah dibuat margarin adalah minyak dari biji
wijen. Biji wijen diperlukan untuk bahan baku industri seperti farmasi,
kosmetika, pestisida dan obat-obatan. Biji dan minyak wijen, secara
tradisional, dimanfaatkan untuk mencegah beberapa penyakit dan menjaga
kesehatan sehingga tanaman wijen sering dijuluki The queen of the
oilseed crop. Pada industri margarin, minyak wijen dapat digunakan
sebagai bahan baku (Ketaren, 1950)
Menurut Anthony Woolen, 1968 zat yang ditambahkan pada
pembuatan margarin adalah :
1. Lechitin, digunakan penstabil emulsi
2. NaCl, digunakan untuk penambah rasa asin pada margarin
3. Vitamin A dan D sebagai nutrisi
4. Natrium benzoate sebagai bahan pengawet
5. TBHQ sebagai antioksidan
6. karoten sebagai zat warna
1.2.3 Kemiri Sunan

Gambar 1.1 Kemiri Sunan


Kemiri sunan (Reutalis trisperma (Blanco) Airy Shaw) merupakan
salah satu komoditas tanaman penghasil minyak nabati yang prospektif
sebagai bahan baku margarin. Disamping produktivitasnya yang tinggi,
randemen minyak kasar dapat mencapai lebih dari 50% dengan rata-rata
angka asam lemak bebasnya cukup rendah.
Potensi yang dimiliki tanaman ini cukup besar, berbentuk pohon
dengan mahkota yang sangat rindang dengan ranting banyak, perakaran
yang dalam serta dapat mencapai tinggi lebih dari 15 meter. Profil tanaman
seperti ini sangat baik untuk digunakan sebagai tanaman konservasi karena
system perakarannya mempunyau kapasitas mengikat tanah secara kuat dan
kapasitas memegang air (water holding capacity) yang tinggi. Ukuran
daunnya yang lebar dengan pertumbuhannya yang relative cepat dan
rimbun dapat mengikat karbondioksida dan menghasilkan oksigen yang
banyak serta dapat menahan percikan hujan yang besar sehingga bahaya

run off dapat dikurangi sampai seminimal mungkin. Demikian juga dengan
batangnya yang keras dan kokoh dapat menahan terpaan angin (wind
breaker) yang besar sekalipun.
Ditinjau dari potensi hasil buah dan bijinya, kemiri sunan memiliki
potensi hasil yang relative tinggi dibandingkan dengan kemiri sayur
(Aleurites moluccana). Bijinya banyak mengandung minyak dengan
randemen berkisar 40-60%. Kandungan minyaknya relatif tinggi
merupakan potensi utama dari tanaman ini. Potensi lainnya yang dimiliki
tanaman ini adalah dari kulit buah dan bungkil sisa ekstrasi yang berpotensi
sebagai sumber atau bahan dasar dalam pembuatan pupuk organik dan
pakan ternak.
1.2.4 Proses
1.2.4.1 Pre Treatment
1.2.4.1.1 Pengeringan
Biji yang telah dipisahkan dari buahnya memiliki kadar air yang
tinggi sehingga perlu dikeringkan terlebih dahulu. Kondisi kadar air yang
demikian belum dapat menghasilkan minyak kasar kemiri sunan yang
optimal dan akan berpengaruh terhadap karakter fisik yang dihasilkan.
Oleh karena itu perlu dikeringkan terlebih dahulu hingga mencapai kurang
dari 7%. Pengeringan dapat dilakukan baik terhadap biji kemiri sunan
ataupun kernelnya.
Metode pengeringan biji kemiri sunan yang digunakan untuk
mendapat minyak yang baik dapat dilakukan dengan pengeringan alami,
buatan maupun pengeringan gabungan.
Pengeringan Alami (Penjemuran)
Pengeringan alami merupakan metode penurunan kadar air suatu
bahan untuk memperoleh tingkat kadar air yang setimbang dengan
kelembaban nisbi udara atmosfir menggunakan panas matahari.
Pengeringan Buatan
Pengeringan buatan ini menggunakan bahan bakar sebagai sumber
panas (bahan bakar cair, padat, dan listrik). Ada beberapa tipe
pengeringan buatan, antara lain sistem kondensasi, konvensional,
dan vakum. Contoh alat pengeringan buatan antara lain oven, tray,
dryer, dan lain-lain.
1.2.4.1.2 Pengupasan

Pemisahan kernel dari kulit biji kemiri sunan dapat dilakukan dengan
manual maupun mekanis. Secara mekanis dapat dilakukan dengan
menggunakan alat pemecah
1.2.4.2 Ekstraksi
Biji kemiri sunan yang telah kering, kemudian diekstraksi untuk
mendapatkan minyak kasar kemiri sunan. Biji kemiri sunan sebaiknya
segera diekstrak karena dapat menurunkan randemen biji dan kualitas
minyak yang ditandai dengan meningkatnya nilai asam lemak bebas.
Ada beberapa metode ekstraksi, yaitu dengan metode pemanasan,
metode penekanan pengepresan hidrolik (hydrolic press), metode
pengepresan berulir (screw press), dan metode pelarutan (solvent
extractor).
Metode Pengepresan Hidrolik (hydrolic press)
Pengepresan hidrolik adalah pengepresan dengan menggunakan
tekanan. Tekanan yang digunakan dapat digunakan dapat sekitar
140.6 kg/cm3. Besarnya tekanan yang digunakan akan
mempengaruhi jumlah minyak yang dihasilkan. Metode pengepresan
merupakan metode sederhana untuk mendapatkan minyak dari buji.
Menurut Bailey (1959), metode pengepresan merupakan metode
terbaik untuk biji-bijian yang mengandung minyak sebesar 30-70%.
Keuntungan dari proses ini adalah ekonomis, mudah dioperasikan
dan dirawat, dapat diopersikan dengan tangan atau listrik, dan
operator hanya membutuhkan pelatihan minimum.
Metode Pengepresan Berulir (screw press)
Metode pengepresan berulir merupakan metode ekstraksi yang lebih
maju dan telah diterapkan di industry pengolahan minyak. Cara
ekstraksi ini paling sesuai untuk memisahkan minyak dari bahan
yang kadar minyaknya di atas 10%. Prinsip operasinya adalah bahan
mendapat tekanan dari ulir yang berupa pipa atau lempengan besi
berongga yang mempunyai celah ukuran tertentu, sedangkan
ampasnya keluar dari tempat yang lain. Tipe alat pengepres berulir
yang digunakan dapat berupa pengepres berulir tunggal (single
screw press) atau pengepres berulir ganda (twin screw pressi).
Kelebihan dari pengepresan berulir ada beberapa yaitu:
a. Kapasitas produksi menjadi lebih besar karena pengepresan dapat
dilakukan secara kontinyu.

b. Menghemat waktu proses produksi karena tidak diperlakukan


perlakukan pendahuluan, yaitu pengecilan ukuran dan pemasakan
atau pemanasan biji.
c. Randemen yang dihasilkan lebih tinggi (pada beberapa kasus
tergantung dari bentuk dan sifat bijinya)
Metode Pelarutan (solvent ektractor)
Ekstraksi dengan pelarut adalah pemisahan antar bagian dari suatu
bahan berdasarkan pada perbedaan sifat melarut dari masing-masing
bagian terhadap pelarut yang digunakan. Bahan yang akan diekstrak
dicampurkan bahan pelarut yang baru dalam jumlah sama besar
sampai tercapai suatu keseimbangan. Prinsipnya, minyak yang
bersifat non polar sehingga minyak akan ikut keluar bersama dengan
pelarut. Kemudian pelarut dan binyak dipisahakan berdasarkan
perbedaan titik didih larutan.
Apabila dibandingkan kemiri sunan yang diekstraksi dengan solvent
persen kandungan minyak yang dihasilkan adalah 12.9 % dibandingkan
dengan metode press yang dihasilkan adalah 30%. Tetapi jika biji kemiri
sunan langsung dipres diperoleh minyak kasar sekitar 30% dengan warna
cokelat kehitaman dan bungkil 70% berwarna cokelat keputihan. Namun
jika biji kemiri sunan dikupas terlebih dahulu kemudian daging buah dan
kernelnya dikeringan dengan kadar air 7% baru dilakukan pengepresan
maka akan diperoleh minyak kasar lebih baik dan lebih banyak, yaitu 53%
minyak kasar yang berwarna kuning jernih dan 47% bungkil yang
berwarna putih.
1.2.4.4 Netralisasi
Netralisasi ialah suatu proses untuk memisahkan asam lemak bebas
dari minyak atau lemak, dengan cara mereaksikan asam lemak bebas
dengan basa atau pereaksi lainnya sehingga membentuk sabun (soapstock).
Netralisasi dengan Kaustik Soda (NaOH)
Netralisasi dengan soda kaustik soda banyak dilakukan dalam skala
industri. Karena lebih effisien dan lebih murah dibandingkan dengan cara
netralisasi lainnya. Selain itu penggunakan kaustik soda, membantu dalam
mengurngi zat warna dan kotoran yang berupa getah dan lender dalam
minyak.
1.2.4.5 Bleaching

Tujuan utama dari bleaching adalah untuk menghilangkan material


dengan warna gelap sehingga warnanya memudar. Proses dekolorisasi pada
minyak prinsipnya meggunakan adsorben. Bleaching juga digunakan untuk
membersihkan sisa-sisa sabun dan senyawa fosfat yang tertinggal setelah
proses netralisasi dan pembilasan dengan air untuk proses pemurnian.
Selain itu pentingnya proses bleaching ini dalam pemurnian adalah untuk
menghilangkan senyawa peroksida dan produk sekunder oksidasi,
Biasanya metode dari proses ini dengan mengadsorpsi pigmen warna
dengan bleaching earth atau karbon aktif. Pada proses ini adsorben
ditambahkan ke minyak dalam tangki dengan pengaduk, dalam kondisi
tekanan atmospheric at6au di bawah vakum. Minyak dipanaskan pada
temperature bleaching dan tertahan agar membiarkan waktu kontak dengan
adsorben. Setelah adsorben mengikat pigment warna, sabun, senyawa
fosfat, menjadi zat impurities dalam minyak sehingga haris dihilangkan
dengan cara filtrasi.
1.2.4.6 Hidrogenasi
Proses hidrogenasi merupakan proses yang penting dalam
pemrosesan minyak dan lemak. Dengan hidrogenasi, minyak bisa
dikonversi menjadi senyawa yang lebih plastis. Ada dua alasan untuk
mereaksikan hydrogen dengan minyak atau lemak. Pertama untuk
mengubah bentuk fisik untuk peningkatan kegunaan produk, kedua untuk
menambah stabilitas terhadap oksidasi. Hidrogenasi melibatkan
penambahan zat kimia hydrogen pada ikatan rangkap dalam asam lemak
tak jenuh. Reaksi terjadi dengan mencampurkan minyak yang dipanaskan
dan gas hydrogen dengan penambahan katalis. Setelah titik akhir
hidrogenasi tercapai, minyak terpadatkan didinginkan dan difiltrasi untuk
menghilangkan katalis nikel.
1.2.4.7 Deodorasi
Deodorisasi adalah proses yang digunakan untuk meningkatkan rasa,
bau, stabilitas dan keamanan pangan pada minyak dan lemak dengan
menghilangkan substansi tak terlihat. Di proses ini produk lemak dan
minyak dihembuskan dengan uap dibawah tekanan vakum. Objek yang
akan dihilangkan yakni zat impurities yang mudah menguap yang memiliki
bau dan rasa. Sehingga deodorisasi sangat penting bagi aspek keamanan
pangan.
Substansi yang berbau dalam lemak dan minyak umumnya berubah
mnejadi asam lemak bebas, senyawa peroksida, aldehid, keton, alcohol dan

senyawa organic lainnya. Pengalaman menunjukkan korelasi antara


pengurangan rasa dan bau, dengan pengurangan kadar asam lemak bebas.
1.2.4.8 Emulsifikasi
Proses Emulsifikasi ini bertujuan untuk mengemulsikan minyak
dengan cara penambahan emulsifier fase cair dan fase minyak pada suhu
80oC dengan tekanan 1 atm. Terdapat dua tahap pada proses
Emulsifikasi yaitu:
a. Proses pencampuran emulsifier fase minyak
Emulsifier fase minyak merupakan bahan tambahan yang dapat larut
dalam minyak yang berguna untuk menghindari terpisahnya air
dari emulsi air minyak terutama dalam penyimpanan. Emulsifier ini
contohnya Lechitin sedangkan penambahan b- karoten pada margarine
sebagai zat warna serta vitamin A dan D untuk menambah gizi.
b. Proses pencampuran emulsifier fase cair
Emulsifier fase cair merupakan bahan tambahan yang tidak larut
dalam minyak. Bahan tambahan ini dicampurkan ke dalam air yang akan
dipakai untuk membuat emulsi dengan minyak. Emulsifier fase cair ini
adalah : garam untuk memberikan rasa asin, TBHQ sebagai bahan anti
oksidan yang mencegah teroksidasinya minyak yang mengakibatkan
minyak menjadi rusak dan berbau tengik, Natrium Benzoat sebagai bahan
pengawet, Vitamin A dan D akan bertambah dalam minyak. Selain itu
minyak akan berbentuk emulsi dengan air dan membentuk margarin.
Beberapa bahan tambahan seperti garam, anti oksidan dan Natrium benzoat
juga akan teremulsi dalam margarin dalam bentuk emulsifier fase cair.
(Baileys,1950).
1.2.4.9 Plasticization
Plastisisasi melibatkan pendinginan cepat dan homogenisasi.
Kebanyakan didinginkan dalam dinding heat exchanger dengan kran
ekstrusi untuk menghasilkanproduk dengan tekstur yang homogeny dan
halus yang dikemas pada tekanan 17 hingga 27 atm. Nitrogen diinjeksikan
pada 13 1% ke dalam produk untuk meningkatkan kegunaan produk dan
menghasilkan warna yang lebih putih dan tampilan yang lebih krim.
1.3 KEGUNAAN
Margarin banyak digunakan dalam pabrik roti dan rumah tangga.
Untuk kebutuhan rumah tangga margarin digunakan sebesar 4922.14
ton/tahun

1.4 SIFAT FISIK DAN KIMIA BAHAN


1.4.1 Sifat fisik dan kimia
Kemiri Sunan
Komposisi Kemiri Sunan
Analisa
Kadar Air
Kadar Minyak
Kadar Serat
Kadar Protein
Kadar Abu
Kadar Karbohidrat

Nilai rata-rata
10.23
51.34
7.29
17.06
3.30
10.78

1.4.2 Sifat fisik dan kimia bahan bantu


1. NaOH
Bentuk
: Padatan
Warna
: Putih
Sifat Kristal
: Higroskopis (mudah mencair)
Berat Molekul
: 40 gr/mol
Spesifik Gravity : 2.13
Titik Lebur
: 318.40C
Titik Didih
: 13900C
Kelarutan dalam setiap 100 bag
Air Dingin (00C) : 42
Air Panas (1000C) : 347
Larut dalam
: Alkohol (95%) etanol, etil eter, glycerol
Densitas
: 1.40775 gr/cm3
2. Hidrogen
Bentuk
: Gas
Berat Molekul
: 2.016 gr/mol
0
3
3
P pada 0 C (ml/cm ) . 10 : 0.446
Compressibility Factor
: 1.00042

Adiabatic Compressibility
: 7.03
Coefficient of Vol Expansion : 0.00333
Cp pada 00C
: 28.59 j/mol.K
Cv pada 00C
: 20.53 j/mol.K
0
Entrophy pada 0 C
: 139.58 j/mol.K
Spesifik Gravity
: 0.06948
0
Viskositas (68 F, 1 atm)
: 0.0093 Cp
Titik Lebur
: -259.10C
Titik Didih
: -252.780C
Kelarutan dalam setiap 100 bag
Air Dingin (00C) : 2.1
Air Panas (1000C) : 0.85
Enthalphy pada 00C
: 7749.2
0
Internal Enthalphy pada 0 C : 5477.1
3. Air (250C)
Densitas
Viskositas
Heat Capacity
Heat Capacity Critical

Frezzing point
Boiling point
Rumus Molekul
Berat Molekul

: 0.99707 mg/m3
: 0.89 mPa.s (liquid)
: 9.35 Pa.s (gas)
: 4.186 kJ/kg.K
: 4.216 kJ/kg.K (liquid)
: 2.042 kJ/kg.K (gas)
: 00C
: 1000C
: H2O
: 18.02 gr/grmol

4. Karbon Aktif
Berwarna hitam kebiruan
Mampu mengadsorpsi 95-97% zat warna yang terdapat dalam
minyak
Daya adsorpsi tinggi untuk macam-macam liquid, gas, dan
padatan serta koloid
Inert, tidak bereaksi dengan larutan

5. Katalisator Ni

Warna
Berat molekul
Spesifik gravity
Melting point
Boiling point

: Silver
: 58.69 gr/mol
: 8.9
: 14520C
: 29000C

`Sumber: Perry, 1984


6. Lechitin
Bahan pengemulsi yang digunakan dalam proses pembuatan
margarin ini adalah lechitin. Lechitin berfungsi untuk mendispersikan
molekul-molekul air ke dalam minyak atau lemak sehingga terbentuklah
suatu emulsi air dalam minyak yang berbentuk gel.
Sifat-sifat dari lechitin :
Nama kimia
: Phosphatidylcholine
Sinonim
: Lechitin
Rumus Molekul
: C5H13N
Berat Molekul
: 87.17
Kenampakan
: Berbentuk powder, berwarna
kuning
7. Vitamin A
Nama Kimia
Sinonim
Rumus Molekul
Berat Molekul
Densitas
Titik Lebur
Kenampakan
Kelarutan

: All Trans Retinol


: Vitamin A
: C22H32O2
: 286.4432
: 1.2081 kg/l
: 62-64 0C
: Kristal berwarna kuning pucat
: Larut dalam lemak

8. Garam Dapur (NaCl)


Nama Kimia
Sinonim
Rumus Molekul
Berat Molekul
Densitas
Titik Lebur

: Natrium Klorida
: Garam Dapur
: NaCl
: 58.443
: 2.165 gr/ml
: 801 0C

Titik Didih
Kelarutan
Struktur
Kenampakan
Cp (liquid)

9. Karoten
Nama Kimia
Sinonim
Rumus Molekul
Berat Molekul
Densitas
Titik Lebur
Kelarutan
Kenampakan
10. Natrium Benzoat
Rumus Molekul
Berat Molekul
Kenampakan
Densitas
Titik Lebur
Kelarutan
Cp

: 1413 0C
: Larut dalam air, methanol, dan gliserol
: Berbentuk kubus
: Butiran kristal putih atau powder
: 12.07 kal/mol 0K

: karoten
: Provitamin A dan Kuning alami
: C40H56
: 536.87
: 1.0 kg/l
: 180-182 0C
: Larut dalam lemak dan tidak larut dalam
air
: Butiran Kristal merah gelap (coklat)

: Na2CO3
: 105.99
: Butiran Kristal putih atau powder
: 2.54 gr/ml
: 851 0C
: Larut dalam air dan tidak larut dalam
etanol
: 26.84 kal/mol 0K

11. Tertiary Butyl Hidroquinone (TBHQ)


Nama Kimia
: Tertiary Butyl Hidroquinone
Rumus Molekul :

Berat Molekul
Densitas
Titik Uap
Titik Didih
Cp
Kelarutan
Kenampakan
Fungsi

: 166.20
: 1.0338 kg/l
: 3000C
: 126.5 128.5 0C
: 257.20 kJ/kmol 0K
: Larut dalam lemak
: Kristal putih kecoklatan
: Sebagai antioksidan sintetik

1.4.3 Sifat Kimia dan Fisika Produk

Bentuk
Warna
Spesifik gravity
Melting point
Kandungan FFA
Bersifat plastis

: Padat
: Kuning Mentega
: 0.64
: 42 0C
: 0.3% max