Anda di halaman 1dari 65

25

BAB II
TINJAUAN UMUM TENTANG WANITA KARIR
A. Pengertian Wanita Karir dan Dasar Hukum
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1988), Karir berasal
dari kata karier (Belanda) yang berarti pertama, perkembangan dan kemajuan dalam
kehidupan, pekerjaan dan jabatan. Kedua, pekerjaan yang memberikan harapan untuk
maju.1 Selain itu kata karir selalu dihubungkan dengan tingkat atau jenis pekerjaan
seseorang. Wanita karir berarti wanita yang berkecimpung dalam kegiatan profesi
(usaha dan perusahaan).2
Beberapa ciri wanita karir:
1. Wanita yang aktif melakukan kegiatan-kegiatan untuk mencapai suatu kemajuan.
2. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan itu merupakan kegiatan-kegiatan profesional
sesuai dengan bidang yang ditekuninya, baik di bidang politik, ekonomi,
pemerintahan, ilmu pengetahuan, ketentaraan, sosial, budaya pendidikan, maupun
di bidang-bidang lainnya.
3. Bidang pekerjaan yang ditekuni oleh wanita karir adalah pekerjaan yang sesuai
dengan keahliannya dan dapat mendatangkan kemajuan dalam kehidupan,
pekerjaan, atau jabatan.

S.C.Utami Munandar, Wanita Karir Tantangan dan Peluang,Wanita dalam Masyarakat


Indonesia Akses, Pemberdayaan dan Kesempatan(Yogyakarta: Sunan Kalijaga Press,2001), hlm. 301.
2

Peter Salim dan Yeni Salim, Kamus Besar Bahasa Indonesia Kontemporer (Jakarta,English
Press,1991), hlm. 1125.

26

Dengan demikian dapat dirumuskan bahwa wanita karir adalah wanita yang
menekuni sesuatu atau beberapa pekerjaan yang dilandasi oleh keahlian tertentu yang
dimilikinya untuk mencapai suatu kemajuan dalam hidup, pekerjaan, atau jabatan.
Pengertian wanita karir sebagaimana dirumuskan diatas, nampaknya tidak
identik dengan wanita bekarja. Menurut Omas Ihromi, wanita pekerja adalah
mereka yang hasil karyanya akan mendapat imbalan uang3. Meskipun imbalan
tersebut tidak langsung diterimanya. Ciri-ciri dari wanita pekerja inilah ditekankan
pada hasil berupa imbalan keuangan, pekerjaannya tidak harus ikut dengan orang lain
ia bisa bekerja sendiri yang terpenting dari hasil pekerjaannya menghasilkan uang dan
kedudukannya bisa lebih tinggi dan lebih rendah dari wanita karir, seperti wanita
yang terlibat dalam perdagangan.
Sedangkan wanita yang biasa disebut dengan Tenaga Kerja Wanita (TKW)
adalah wanita yang mampu melakukan pekerjaan di dalam maupun di luar hubungan
kerja guna menghasilkan jasa atau barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Ciri dari wanita ini adalah kemampuan melakukan pekerjaan untuk menghasilkan
jasa atau barang, berpenghasilan lebih tinggi bahkan punya kedudukan yang tinggi
yang berpenghasilan besar dan tidak identik dengan babu atau pembantu rumah
tangga, dokter, para ahli wanita dan sejenisnya sebagian tenaga kerja wanita masuk
dalam kategori ini.

Omas Ihromi, Wanita Bekerja dan Masalah-Masalahnya dalam Toety Hearty Nurhdi dan
Aida Fitalaya s. Hubeis (editor), Dinamika Wanita Indonesia seri 01: Multidimensional, (Jakarta: Pusat
Pengembangan Sumberdaya Wanita 1990), hlm. 38.

27

Meskipun ada perbedaan antara wanita karir, wanita pekerja dan tenaga kerja
wanita namun tidak berarti mereka terpisah secara diametral. Bisa saja wanita karir
justru dari TKW atau dari wanita bekerja. Seorang tenaga kerja wanita yang bekerja
di sebuah perusahaan bisa saja pada mulanya ia hanya pesuruh kemudian meningkat
menjadi manager. Maka peningkatan tersebut juga merupakan karir dari TKW.4
Demikian pula wanita bekerja yang karena ia giat dan gigih serta tekun dalm
pekerjaannya sehingga ia meningkat terus menjadi professional dalam bidangnya,
maka peningkatannya ini juga merupakan peningkatan karir.yang jelas ketiga ciri
wanita di atas memiliki kesamaan yaitu mereka giat dan gigih bekerja untuk
memperoleh kemajuan.
Peran wanita karir adalah bagian yang dimainkan dan cara bertingkah laku
wanita di dalam pekerjaan untuk memajukan dirinya sendiri. Wanita karir memiliki
peran rangkap, yaitu peran yang melekat pada kodrat dirinya yang berkaitan dengan
rumah tangga dan hakikat keibuan serta pekerjaannya di luar rumah. Dengan
demikian seorang wanita karir harus memenuhi berbagai persyaratan dan tidak
mungkin dimiliki oleh setiap wanita.5

Tenaga Kerja Wanita Indonesia, Kerja sama Kantor Mentri Muda Urusan Peranan Wanita
dengan Pusat Dokumentasi Ilmiah Nasional Lembaga Pengetahuan Indonesia, (Jakarta,1982) hlm 3.
5

Ray sitoresmin prabuningrat, Sosok Wanita Muslimah Pandangan Seorang Artis,


(Yogyakarta: Tiara Wacana,1993), hlm . 56.

28

Syarat-syarat menjadi wanita karir meliputi6:


1. Memiliki kesiapan mental:
a.

Wawasan yang memadai tentang bidang yang digelutinya beserta


kaitannya dengan aspek-aspek yang lain.

b.

Keberanian memikul tanggung jawab dan tidak bergantung pada orang


lain.

2. Kesiapan jasmani, seperti kesehatan jasmani serta stamina yang memadai


untuk menekuni bidang pekerjaan tertentu.
3. Kesiapan sosial.
a. Mampu mengembangkan keharmonisan hubungan antara karir dan
kegiatan rumah tangga.
b. Mampu menumbuhkan saling pengertian dengan keluarga dekat dan
tetangga.
c. Memiliki pergaulan yang luas tetapi dapat menjaga martabat diri sehingga
terhindar dari fitnah dan gossip.
d. Kemampuan beradaptasi dengan lingkungan yang terkait.
4. Memiliki kemampuan untuk selalu meningkatkan prestasi kerja demi
kelangsungan karir di masa depan.
5. Menggunakkan peluang dan kesempatan dengan baik.
6. Mempunyai pendamping yang mendukung dengan gagasan baru.
Motivasi yang mendorong wanita terjun ke Dunia Karir antara lain:
6

Ibid.

29

1. Pendidikan. Pendidikan dapat melahirkan wanita karir dalam berbagai


lapangan kerja.
2. Terpaksa oleh keadaan dan kebutuhan yang mendesak, karena keadaan
keuangan tidak menentu atau pendapatan suami tidak memadai/mencukupi
kebutuhan, atau karena suami telah meninggal dan tidak meninggalkan harta
untuk kebutuhan anak-anak dan rumah tangga.
3. Untuk ekonomis, agar tidak tergantung kepada suami, walaupun suami
mampu memenuhi segala kebutuhan rumah tangga, karena sifat wanita,
adalah selagi ada kemampuan sendiri, tidak ingin selalu meminta kepada
suami.
4. Untuk mencari kekayaan sebanyak-banyaknya.
5. Untuk mengisi waktu lowong.
6. Untuk mencari ketenangan dan hiburan.
7. Untuk mengembangkan bakat7
B. Macam-macam Wanita Karir
Setelah mempelajari pengertian wanita karir dan membandingkannya dengan
wanita bekerja dan tenaga kerja wanita, maka untuk membahas wanita karir perlu
dilihat terlebih dahulu tipe-tipe wanita karir karena inti wanita karir tersebut adalah
wanita yang berkecimpung dalam kegiatan profesi. Wanita karir dapat dibedakan
kepada beberapa macam, yaitu:

Huzaemah T.Yanggo, Fiqih Perempuan Kontemporer, (Yogyakarta: Almawardiprima,2001),

hlm . 94.

30

a. Wanita yang perlu berpenampilan menarik atau tidak


Dalam kenyataannya ada wanita karir yang memang perlu tampil dengan pakaian
indah, baik dan menarik, sehingga ia dapat menjalin relasi yang banyak dan
meningkatkan karirnya, seperti misalnya wanita yang menjadi pimpinan dalam
perusahaan, wanita yang mengandalkan penampilan dalam karirnya seperti
penari, penyanyi dan peragawati.
b. Wanita karir yang berhubungan langsung dengan orang lain dan tidak dalam
mengembangkan dan menigkatkan karir, ada wanita yang harus berhubungan
langsung dengan orang lain seperti misalnya dosen, dokter, peneliti lapangan,
adapula wanita karir yang tidak berhubungan langsung dalam membina karirnya,
seperti misalnya penulis buku, desainer, pelukis.
c. Wanita karir yang bisa membina karirnya di dalam rumah dan di ruangan tertentu
dan tidak.
Wanita yang dapat membina karirnya di tempat tertentu, seperti di rumah atau di
ruangan tertentu tanpa harus keluar.8
Untuk memperjelas kedudukan wanita karir adanya pengklasifikasian9
keberadaan wanita karir yang dibedakan menjadi dua bentuk:
1. Wanita karir yang tidak terikat dengan tali pernikahan maksudnya adalah
wanita yang belum pernah menikah atau wanita yang pernah menikah tetapi
8
9

Ibid., 27

Flanders(1994) membedakan kategori wanita karir yaitu: wanita tunggal dan tidak
mempunyai anak, wanita yang menikah tanpa anak, wanita menikah dan yang mempunyai anak.(
S.C.Utami Munandar, Wanita Karir Tantangan dan Peluang,Wanita dalam Masyarakat Indonesia
Akses, Pemberdayaan dan Kesempatan,Yogyakarta: Sunan Kalijaga Press,2001 hlm.302.)

31

telah terjadi proses perceraian/talak yang aktif dalam bekerja pada bidang
pekerjaan tertentu sesuai dengan keahlian dan ketrampilan yang dimilikinya.
Karena tidak ada ikatan pernikahan, maka wanita yang tergolong dalam
golongan ini dapat bekerja dengan bebas tanpa adanya keterikatan dan
tanggung jawab kepada siapapun.
2. Wanita karir yang terikat dengan tali pernikahan maksudnya adalah wanita
yang telah melangsungkan pernikahan dengan seorang pria yang ditandai
dengan adanya proses akad nikah yang di dalamnya terjadi sebuah ikatan
lahir batin antara si wanita dan si pria. Dari inilah lahirlah pasangan suami
isteri yang mempunyai hak dan kewajiban masing-masing. Karena telah
menjadi pasangan suami isteri, maka keduanya mempunyai keterikatan.
Terutama keterikatan dalam hal penyeimbangan pemenuhan hak dan
kewajiban di antara keduanya.10
C. Dampak Positif dan Negatif dari Wanita Karir
Terjunnya wanita dalam dunia karir , banyak membawa pengaruh terhadap
segala aspek kehidupan, baik kehidupan pribadi dan keluarga, maupun kehidupan
masyarakat sekitarnya. Hal ini menimbulkan dampak positif dan negatif.
Adapun pengaruh positif dengan adanya wanita karir antara lain11:

10

Baunai, Wanita Karir dalam Prespektif Hukum Islam Jurnal Keislaman dan Keilmuan
KARSA, Vol.11(Mei 2001), hlm. 99.
11

Huzaemah T.Yanggo, Fiqih Perempuan Kontemporer, (Yogyakarta: Almawardi Prima,


2001), hlm. 96.

32

1. Dengan berkarir, wanita dapat membantu meringankan beban keluarga yang


tadinya hanya dipikul oleh suami yang mungkin kurang memenuhi kebutuhan,
tetapi dengan adanya wanita ikut berkiprah dalam mencari nafkah, maka krisis
ekonomi dapat ditanggulangi.
2. Dengan berkarir, wanita dapat memberikan pengertian dan penjelasan kepada
keluarganya, utamanya kepada putra-putrinya tentang kegiatan-kegiatan yang
diikutinya, sehingga kalau ia sukses dan berhasil dalam karirnya, putara-putrinya
akan gembira dan bangga, bahkan menjadikan ibunya sebagai panutan dan suri
teladan bagi masa depannya.
3. Dalam memajukan dan mensejahterakan masyarakat dan bangsa diperlukan
partisipasi serta keikutsertaan kaum wanita, karena dengan segala potensinya
wanita mampu dalan hal ini, bahkan ada di antara pekerjaan yang tidak bisa
dilaksanakan oleh pria dapat berhasil ditangani oleh wanita, baik karena
keahloannya maupun karena bakatnya.
4. Dengan berkarir, wanita dalam mendidik anak-anaknya pada umumnya lebih
bijaksana, demokratis dan tidak otoriter, sebab dengan karirnya itu ia bisa
memiliki pola pikir yang moderat.
5. Dengan berkarir, wanita yang menghadapi kemelut dalam rumah tangganya atau
sedang mendapat gangguan jiwa, akan terhibur dan jiwanya akan menjadi sehat,
sebagaimana disebutkan oleh Zakiyah Drajat dalam bukunya Islam dan Peran
Wanita, sebagai berikut: untuk kepentingan kesehatan jiwanya, wanita itu harus
gesit

bekerja, jika seorang tidak bekerja atau diam saja, maka ia melamun,

33

berkhayal memikirkan atau mengenangkan hal-hal yang dalam kenyataan tidak


dialami atau dirasakannya. Apabila orang terbiasa berkhayal, maka hayalan itu
akan lebih mengasyikannya daripada bekerja dan berpikir secara obyektif. Orangorang yang suka menghabiskan waktunya untuk berkhayal itu akan mudah
diserang oleh gangguan dan penyakit.
Demikian anatara lain dampak positif

dari wanita karir, tetapi kalau

dipandang dari dimensi lain, sangat memprihatinkan karena membawa dampak


negatif, baik secara sosiologis maupun agamis. Ekses yang timbul bukan saja di
kalangan wanita, tetapi juga di kalangan suami dan anak-anak sebagai anggota
keluarganya, terutama bagi wanita yang mementingkan karirnya daripada
rumahtangganya, sehingga tugas utama sebagai ibu rumah tangga sering terlupakan.
Adapun dampak negatif yang timbul dengan adanya wanita karir antara lain12:
1. Terhadap anak. Wanita yang hanya mengutamakan karirnya akan berpengaruh
pada pembinaan dan pendidikan anak-anak maka tidak aneh kalau banyak terjadi
hal-hal yang tidak di harapkan. Hal ini harus diakui sekalipun tidak bersifat
menyeluruh bagi setiap individu yang berkarir.
2. Terhadap suami. Di balik kebanggaan suami yang mempunyai isteri wanita karir
yang maju, aktif dan kreatif, pandai dan dibutuhkan masyarakat tidak mustahil
menemui persolan-persoalan dengan isterinya.

12

Ibid., 98.

34

3. Terhadap rumah tangga. Kadang-kadang rumah tangga berantakan disebabkan


oleh kesibukan ibu rumah tangga sebagai wanita karir yang waktunya banyak
tersita oleh pekerjaannya di luar rumah.
4. Terhadap kaum laki-laki. Laki-laki banyak yang menganggur akibat adanya wanita
karir, kaum laki-laki tidak memperoleh kesempatan untuk bekerja, karena jatahnya
telah direnggut atau dirampas oleh kaum wanita.
5. Terhadap masyarakat. Wanita karir yang kurang memperdulikan segi-segi
normative dalam pergaulan dengan lain jenis dalam lingkungan pekerjaan atau
dalam kehidupan sehari-hari akan menimbulkan dampak negatif terhadap
kehidupan suatu masyarakat.
6.

Wanita lajang yang mementingkan karirnya kadang bisa menimbulkan budaya


nyeleneh nyaris meninggalkan kodratnya sebagai kaum hawa, yang pada
akhirnya mencuat budaya lesbi atau kumpul kebo.
Di zaman teknologi sekarang ini, sosok wanita karir merupakan fenomena

umum, memang tidak sedikit wanita yang berperan ganda selain menjadi wanita
karir juga ibu rumah tangga untuk itu asal dapat menyiasati waktu dengan baik maka
dampak negatif dapat ditanggulangi meskipun tidak sepenuhnya terselesaikan. Di
dalam melakukan suatu pekerjaan memang ada dampak positif dan negatif tetapi
tidak hanya wanita karir namun pria karir juga. Namun memang kebanyakan yang
lebih disorot masyarakat dalam segala aspek adalah wanita karir.

35

D. Kedudukan Wanita Karir dalam Islam


Wanita dan pria diciptakan oleh Allah SWT, sebagaimana diciptakannya
Hawa dan Adam as, untuk saling tolong-menolong dalam menempuh bahtera
kehidupan sebagai khalifah di bumi, menguasai segala yang patut dan menyingkirkan
segala yang tidak sesuai dengan ketentuan Allah SWT. Keduanya saling mencari dan
melengkapi sesuai dengan ketentuan dan aturan Allah13.
Al-Quran mengakui adanya perbedaan antara pria dan wanita, dalam konteks
ini perbedaan tersebut menantang untuk dikupas dalam struktur hak dan kewajiban
individu dan sosial. Seorang laki-laki memperoleh warisan dua kali lebih besar dari
perempuan, mengingat seorang laki-laki harus menaggung atau mencari nafkah untuk
keluarganya sendiri, serta saudara-saudaranya.
Kedudukan wanita dalam islam dijelaskan dalam surat at-Taubah ayat 71
firman Allah:


14

Ayat di atas dapat dipahami, bahwa pria dan wanita saling tolong menolong,
terutama dalam suatu rumah tangga dan mempunyai tugas dan kewajiban yang sama
untuk menjalankan amar maruf dan nahi mungkar. Namun ada perintah Allah yang

13

Juwariyah Dahlan, Wanita Karir,Jurnal IAIN Sunan Ampel Edisi XII (Surabaya ,1994).

14

At-Taubah(9) : 71.

36

ditujukan kepada masing-masing individu, yakni hubungan vertikal seperti


mengerjakan shalat, puasa dll.
Masing-masing individu mempunyai kewajiban seperti yang dijelaskan dalam
surat an-Nisa ayat 124
15


Ayat tersebut memberi petunjuk bahwa karya wanita dalam bentuk apapun

dilakukannya adalah menjadi miliknya dan bertanggung jawab atas kerjanya itu,
diantaranya adalah masalah ibadah, tidak tergantung pada pihak pria namun
bergantung pada amalnya.
Pekerjaan dan aktivitas yang dilakukan perempuan pada masa Nabi
Muhammad SAW cukup beraneka ragam, sampai-sampai mereka terlibat secara
langsung dalam peperangan, bahu-membahu bersama laki-laki, ada yang bekerja
sebagai perias pengantin, bidan dan administrasi pemerintahan. Nama-nama seperti
Ummu Salamah (istri nabi), Lailal al-Ghifariyah tokoh yang tercatat dalam
peperangan. Ummu Salam binti Malhan bekerja sebagi perias pengantin. Bidang
perdagangan, nama istri nabi yang pertama, Khadijah binti Khuwailid tercatat sebgai
seorang yang sangat sukses. Al-Syifa seorang wanita yang pandai menulis ditugaskan
khalifah Umar sebagi petugas yang menagani pasar di Madinah. Zainab binti Jahsy

15

An-Nisa(4):124.

37

istri Nabi SAW, juga aktif bekerja sanpai pada menyamak kulit binatang dan hasilnya
itu beliau sedekahkan. 16
Ada beberapa keadaan yang memperbolehkan bahkan mengharuskan wanita
bekerja, M.Qutb seperti yang dikutip oleh Quraish Shihab menjelaskan bahwa
perempuan pada zaman Nabi Muhammad SAW pun bekerja karena keadaan
menuntut mereka untuk bekerja Keadaan tersebut antara lain adalah kebutuhan
masyarkat, atau karena sangat membutuhkan pekerjaan wanita tertentu yang mana
tidak ada yang menaggung biaya hidupnya atau yang menanggung tidak mampu
mencukupi kebutuhannya.17
Skema kehidupan yang digambarkan oleh Islam terdiri atas seperangkat hak
dan kewajiban. Setiap manusia yang menerima agam dengan sendirinya terikat oleh
itu. Islam secara umum mengajarkan hak dan kewajiban yakni hak tuhan, dimana
manusia wajib memenuhinya, hak manusia sendiri, hak orang lain atas seseorang, dan
hak manusia terhadap alam sekitarnya. Dalam praktik Islam mengedepankan
keseimbangan antara hak dan kewajiban tersebut. Penekanan terhadap salah satu
aspek saja, hampir tidak ditemui dalam kerangka Islam. Jika persoalan hak
dibicarakan, selalu dalam prespektif tegaknya kewajiban.18

16

M.Quraish Sihab, Membumikan Al-Quran , (Jakarta: Mizan,1992, hlm. 275.

17

M.Quraish Sihab, Wawasan Al-Quran: Tafsir Maudhui atas Pelbagai Persoalan Umat,
Cet.VII, (Bandung: Mizan,1998), hlm. 306.
18

Abdul Salam Arief, Reintrepretasi Nas dan bias gender dalam hukum Islam., Diedit dalam
As-Syirah (Yogyakarta: IAIN Press, 2001), hlm. 35.

38

Kerja merupakan suatu kebutuhan pokok manusia, kemajuan suatu bangsa


diukur dari tingkat produktifitas kerjanya di segala lapangan kehidupan, karena itu
sepanjang sejarah peradaban manusia diketahui bahwa peradaban yang maju adalah
yang bisa menghargai kerja proporsional.19
Manusia adalah makhluk hidup yang diantara tabiatnya adalah berfikir dan
bekerja.20 Oleh karena itu Islam menganjurkan kepada pria dan wanita untuk bekerja.
Pekerjaan merupakan salah satu sarana memperoleh rizki dan sumber kehidupan yang
layak dan dapat pula bahwa bekerja adalah kewajiban dan kehidupan.21
Islam menjadikan bekerja sebagai hak dan kewajiban individu, dengan
demikian antara pria dan wanita mempunyai hak yang sama dalam bekerja. Jadi,
Islam tidak membedakan dalam pembuatan syariah (tasyri) antara pria dan wanita,
keduanya dimata Allah swt sama dalam mendapatkan pahala.
Dengan bekerja wanita dapat beramal, bersedekah baik kepada keluarganya
atau bahkan kepada suami dengan memenuhi belanja hidup keluarganya sebagaimana
siti khadijah istri Nabi Muhammad SAW, beliau membantu nabi dalam dakwah
membelanjakan hartanya untuk kepentingan umat islam sampai habis tidak tersisa.

19

Ray Sitoresmi Syukri Fadhali, Sosok Wanita Muslimah Pandangan Artis, (yogyakarta: PT.
Tiara Wacana, 1993), hlm. 53.
20

Yusuf Qordhawi, Fatwa-fatwa Kontemporer, alih bahasa Asad Yasin, (Jakarta : Gema
Insane press,1996) II:42
21

Abd. Hamid Mursi, Sumber Daya Manusia yang Produktif, Pendekatan Al-Quran dan
Sains, (Jakarta: Gema Insane Press,1996), hlm. 35.

39

Selain itu, wanita merupakan separuh dari masyarakat dan Islam tidak pernah
menggambarkan akan mengembalikkan setengah dari anggota masyarakat serta
menetapkannya beku dan lumpuh lantas dirampas kehidupannya.22
Hanya saja, wanita Islam memiliki profil sendiri yang berbeda dengan wanita
lainnya. Wanita islam bukan wanita yang biasa dan tidak dapat diukur dengan
penilaian manusia.23 Wanita Islam adalah wanita yang mampu berperan dalam
masyarakat, hal ini telah dibuktikan dalam sejarah betapa wanita Islam telah berperan
dalam masyarakat di dalam berbagai bidang.
Syekh Muhammad Al-Ghazali, salah seorang ulama kontemporer yang diakui
otoritasnya, mengemukakan empat hal dalam kaitan kerja wanita.
1. Wanita tersebut memiliki kemampuan luar biasa yang jarang dimiliki oleh
wanita dan pria.
2. Pekerjaan yang dilakukannya hendaklah yang layak bagi wanita, seperti
pendidikan dan bidan. Bahkan Muhammad al-Ghazali mengutip pakar hukum
islam, Kamaluddin Ibnu Al-Humam,suami tidak boleh melarang istrinya
untuk melakukan pekerjaan yang sifatnya fardhu kifayah yang khusus
berkaitan dengan wanita, seperti menjadi bidan, namun tentu saja ketika
keluar bekerja, wanita harus tampil dengan sikap dan pakaian terhormat.

22

Yusuf Qordhawi, Fatwa-Fatwa Kontemporer , alih bahasa Asad Yasin, (Jakarta : Gema
Insani Press,1996) II:42.
23

M.Syarawi, Wanita Harapan Tuhan, (Jakarta: Gema Insani Press,1997), hlm. 79.

40

3. Wanita bekerja untuk membantu suaminya dalam pekerjaannya. Terlihat di


pedesaan dimana istri membantu suami dalam usaha pertanian dan
semacamnya.
4. Bahwa wanita perlu bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya,
jika tidak ada yang menjamin kebutuhannya, atau kalaupun ada, namun tidak
mencukupi.24
Dengan demikian tidak ada larangan dalam Islam mengenai keluarnya wanita
untuk bekerja, asalkan memenuhi ketentuan syariat dalam pergaulan dengan
masyarakat. Pandangan ini, wanita islam dapat berperan aktif di berbagai bidang
kehidupan baik itu politik, social, budaya dan agama.
Agar wanita muslimah tidak terjerumus dengan pergaulan yang dapat
menjatuhkan harkat dan martabatnya, maka wanita harus berpedoman pada ajaran
agama tentang pergaulan, yaitu:
a. Hendaknya pekerjaan itu disyariatkan
b. Memenuhi adab wanita muslimah ketika keluar rumah dalam berpakaian,
berjalan, berbicara dan melakukan gerak-gerik.
c. Janganlah pekerjaan itu mengabaikan pekerjaan yang lain seperti kewajiban
terhadap suami dan anak-anaknya, karena itu sebagai tugas yang utama.25

24

M.Quraish Sihab, Perempuan dan Aneka Aktivitas, Perempuan dari cinta sampai seks
dari nikah mutah sampai nikah sunnah dari bias lama sampai bias baru,(Jakarta: Lantera hati,2005)
hlm.362.
25

Yusuf Qordhawi, Fatwa-Fatwa,II:432

41

Tugas utama dalam rumah tangga tidak hanya dibebankan kepada istri karena
didalam rumah tangga adanya relasi suami istri sebagai hubungan patner. Maka di
dalam menjalankan tugas rumah tangga dikerjakan bersama-sama karena suami istri
sebagai pasangan yang sejajar saling melengkapi satu dengan lain. Ketika ada
masalah dalam rumahtangga satu sama lain tidak perlu ragu ataupun takut untuk
menyampaikannya pada pasangannya.
Jadi, benarlah jika dikatakan bahwa syariat islam dalam mengatur pergaulan
umatnya sangatlah sempurna, kalaupun ada beberapa persyaratan bagi wanita
muslimah lebih berat daripada persyaratn pria muslim, baik itu dalam hal berbicara,
berprilaku dan bergerak yang menimbulkan kesulitan hendaklah dipahami oleh
wanita sebagi saran yang menunjang pada wujudnya berbagi macam kepentingan dan
kebutuhan hidup yang menuntutnya bertemu dengan kaum pria,26 karena semua itu
demi menjaga harkat dan martabat wanita itu sendiri dan membedakannya dengan
wanita non muslim. Mereka inilah yang mengalami kerusakan moral karena ajaran
agama tidak ada ketentuan mengenai etika bergaul antara wanita dan pria.

26

Ibid., hlm 98.

42

Hak-hak yang dimiliki wanita anatara lain27:


a. Hak pribadi
Islam menjaga hak-hak pribadi wanita. Hak pribadi ialah hak yang dimiliki
wanita sendiri tanpa campur tangan dari pihak lain atau orang lain tidak ikut
menentukannya, diantaranya adalah:
1) Hak hidup
2) Hak memperoleh pendidikan
3) Hak waris
4) Hak memperoleh balasan dari perbuatan
b. Hak dalam pernikahan
Hak perkawinan menjadi unsur yang penting dalam masyarkat , karena
menyangkut hak pribadi yang berhubungan dengan masyarkat. Kebanyakan
masyarakat dan sistem keagamaan memandang wanita tidak punya hak manidiri
dalam perkawinan.
1) Hak memilih pasangan
2) Hak mendapat maskawin
3) Menjadi istri
4) Mendidik dan memelihara anak
5) Talak
6) Masa iddah
27

Istibsyaraoh, Hak-hak Perempuan Relasi Gender menurut Tafsir Al-Syarawi, (Jakarta:


Teraju,2004), hlm. 77.

43

c. Hak sosial
Hak sosial adalah hak yang berhubungan dengan prilaku di masyarakat.
1) Hak kemanusiaan
2) Hak bekerja di luar rumah
3) Hak sebagai saksi
d. Hak politik
1) Hak ikut berjihad
2) Hak memangku jabatan
Pendapat ulama mengenai wanita karir ada dua golongan yaitu:
Kelompok ulama misalnya Abbas Mahmud al-Aqqad, Mustafa as Sibai,
Muhammad al Bahi, dsb. Berpendapat, bahwa wanita yang bekerja meninggalkan
rumah itu segi mudharatnya lebih besar daripada manfaatnya, dengan alasan bahwa
wanita harus tinggal di rumah untuk menjaga anak dan rumah tangga, agar pada saat
suami datang dari kerja istri sudah tetap cantik. Namun syaratnya suami harus sudah
dapat mencukupi segala kebutuhan rumah tangga, bahkan kecantikan istri tidak boleh
terusik atau terkurangi sedikitpun karena kerja dan lelah.28
Kelompok kedua (moderat), misalnya Mahmad al Bandari, Muhammad
Rifaah Rafiat Thahtawi, Qasim Amin, Mumtaz Ali, Ahmad Syauqi, Hafiz Ibrahim,
M.Quraisy Sihab, Zakiah Drajat, as-Sakhawi, Athiyah al Abrasyi,dsb, mengatakan,
bahwa wanita yang berkarir, lebih baik dan bermanfaat daripada tidak berkarir dan
28

hlm. 51.

Juwariyah Dahlan, Wanita Karir,Jurnal IAIN Sunan Ampel Edisi XII (Surabaya ,1994),

44

menganggur. Lain yang dikemukakan oleh Zakiah Derajat: wanita mengangur


mengakibatkan menghayal hal yang tidak realitas menyebabkan sakit jiwanya, oleh
sebab itu bekerja lebih baik daripada menjadi penghayal dan peminta-minta. Alasan
M.Quraish Sihab, Rifaah Rafi at-Tahtawi, Jamaluddin Muhammad Mahmud,
Ahmad Syauqi ialah wanita boleh bekerja jika dituntut oleh masyarkat atau pekerjaan
itu membutuhkan wanita bekerja asalkan wanita dapat menjaga diri dan lingkungan.29
Dua pandangan diatas menunjukkan bagaimana dalam masyarakat terdapat
perbedaan pendapat dalam memandang persoalan tentang wanita karir pendapat
pertama memberikan sedikit kebebasan terhadap wanita dan otoritas suami terhadap
Islam sangat besar. Sedangkan pendapat kedua tidak terlalu otoriter dan memberikan
kebebasan bagi wanita untuk berkarir karena fenomena saat ini wanita karir telah
banyak memainkan peranannya dalam pembangunan dalam segala aspek yang
dibutuhkan masyarakat. mengabaikan wanita dan tidak melibatkannya

dalam

kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat, berarti menyiakan paling tidak setengah
dari potensi masyarakat.

29

Ibid.

45

BAB III
BIOGRAFI DAN PEMIKIRAN GENDER K.H.HUSEIN MUHAMMAD
TENTANG WANITA KARIR
A. Biografi K.H. Husein Muhammad
K.H. Husein Muhammad adalah seorang ulama yang berasal dari
Arjawinangun Cirebon Jawa Barat. Lahir di Arjawinangun pada 9 Mei 1953. Ia
dibesarkan dikeluarga pesantren, ibunya bernama Ummu Salma Syatori, anak pendiri
pesantren Dar At-Tauhid Arjuwinangun K.H. Syatori, sedangkan bapaknya bernama
Muhammad Asyrofuddin dari keluarga biasa yang berpendidikan pesantren.1
Husein menikah dengan seorang gadis yang bernama Lilik Nihayah Fuady
Amin. Dari hasil pernikahanya dikarunia 5 orang anak yakni: Hilya Aulia (1991),
Layali Hilwa (1992), Muhammad Fayyaz Mumtaz (1994), Najla Hammadah (2002)
dan Fazla Muhammad (2003).2
Pondok pesantren Dar At-Tauhid tempat lahir dan besarnya Husein
Muhammad, dibandingkan dengan pesantren-pesantren lainnya di Cirebon, menurut
Husein memiliki perkembangan yang berbeda, alsannya karena pendiri pesantren
K.H. Syatori sudah berpikir dan bersikap sangat modern pada masa itu. Di antaranya

M.Nuruzzaman, Kiai Husein Membela Perempuan, (Yogyakarta: Pustaka Pesantren,2005),

hlm.110.
2

Staf, http://Rahima.or.id. Akses 10 Maret 2009.

46

ditunjukkan dengan kelas dan bangku sebagai sarana pembelajaran, padahal di


pesantren lain hal itu masih dianggap terlarang.3
Husein Muhammad belajar agama sejak kecil di pesantren. Ia pertama kali
belajar Al-Quran pada Kyai.Mahmud Toha dan pada kakeknya sendiri K.H.Syatori,
di samping belajar di Madrasah Diniyah (sekolah agama) pesantren, Husein juga
belajar di SD dan selesai tahun 1966, kemudian melanjutkan di SMPN Arjawinangun
dan selesai tahun 1969, di SMPN inilah ia mulai aktif dalam organisasi sekolah
bersama rekan sealmamater. Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan pesantren
Husein telah memberikan ruang yang kondusif untuk kemajuan dengan
membolehkan anak-anak kiai menempuh pendidikan umum yang pada masa itu hal
tersebut sangat dilarang para kiai di pesantren. Usai menamatkan SMPN, kiai
nyentrik4 ini melanjutkan belajar di Pondok Pesantren (PONPES) Lirboyo, Kediri,
sampai pada tahun 1973.5
Tiga tahun nyantri di Lirboyo, Husein melanjutkan pendidikannya
keperguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) tahun 1975 di Jakarta. Perguruan tinggi
ini mengkhususkan kajian tentang al-Quran dan mewajibkan mahasiswanya untuk
hafal Al-Quran . di PTIQ ini, Husein sekolah selama lima tahun sampai pada tahun
3

M.Nuruzzaman, Kiai Husein Membela Perempuan, (Yogyakarta: Pustaka Pesantren,2005),

hlm. 111
4

Kiai inyentrik ini diambil dari kata pengantar redaksi dalam buku M.Nuruzzaman, kiai
husein membela perempuan, yang menggambarkan bahwa beberapa pemikiran husein Muhammad
kadang agak nakal dan berbeda dengan pandangan ulama pesantren pada umumnya, hlm v.
5

hlm. 112

M.Nuruzzaman, Kiai Husein Membela Perempuan, (Yogyakarta: Pustaka Pesantren,2005),

47

1980. Selain itu, Husein sangat aktif dalam kegiatan-kegiatan mahasiswa baik ekstra
maupun intra kampus, Husein bersama rekannya yang kemudian mempelopori
adanya majalah dinding di kampus itu dalam bentuk tulisan reportase, keakraban
husein dengan jurnalistik ini karena ia pernah mengikuti pendidikan jurnalistik
dengan Mustafa Hilmy, orang yang pernah menjadi redaktur Tempo. Husein bersama
teman-temannya juga mendirikan PMII Kebayoran Lama.6
Husein Muhammad selesai kuliah tahun 1979 akan tetapi ia diwisuda pada
tahun 1980. Setelah itu, ia berangkat ke Mesir untuk melanjutkan studinya di
Universitas Al-Azhar Mesir. Namun karena ijazah sarjananya belum disamakan,
terpaksa ia tidak bisa menjadi mahasiswa pasca sarjana di Universitas terbesar di
Timur Tengah tersebut. Sekalipun begitu, niatnya untuk menuntut ilmu tidak surut.
Akhirnya ia belajar pada sejumlah Syeikh (guru besar)7 secara privat di Majma AlBuhus Al-Islamiyah milik Al-Azhar. Secara formal di Al-Azhar ia belajar di Dirasah
Khasasah (Arabic Special Studies)8.
Husein Muhammad mengambil ilmu tafsir sesuai dengan saran gurunya di
PTIQ yaitu Prof. Ibrahim Husen karena Mesir lebih terbuka dalam bidang tafsir
dibandingkan dengan Negara Timur Tengah lainnya. Selama di Kairo, Husein
6

Ibid., 113

Syeih (guru besar) ialah sebuah panggilan untuk seorang figur agamawan yang dihormati
dan merupakan ahli hukum. Charles. J. Adams (ed). The Encyclopedia of Religion, vol.13 (Newyork:
Macmillan Publishing Companya,t.t), hlm. 229.
8

M.Nuruzzaman, Kiai Husein Membela Perempuan, (Yogyakarta: Pustaka Pesantren,2005),

hlm. 114.

48

Muhammad tidak menyiakan kesempatan untuk membaca kitab-kitab yang tidak ia


jumpai di Indonesia seperti karya Qasim Amin, Ahmad Amin dan juga buku-buku
filsafat karya pemikir Negara barat seperti karya Nietche, Sartre dan lain-lain. Husein
belajar di Mesir selama tiga tahun dan tahun 1983 pulang ke Indonesia9.
Setibanya di tanah air, Husein ditawari mengajar di PTIQ, namun ia
menolaknya dan memilih ke pesantren untuk mengembangkan pesantren kakeknya
yaitu Dar At-Tauhid. Di pesantren ini, Husein memimpin Madrasah Aliyah (SMA)
yang pada saat itu dalam keadaan kurang baik bahkan hampir dibubarkan dan Husein
berusaha memperbaikinya.10
Sejak kecil Husein Muhammad sudah akrab dengan dunia ilmiah, mulai dari
pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam yang mengkaji Wacanawacana Fiqh, Tauhid, Tasawuf dan lain-lain.(walaupun dalam kerangka tradisional)
sampai dengan ketika Husein harus hidup di Mesir untuk mencari ilmu.11
B. Karya Karya dan Aktivitas K.H.Husein Muhammad
Sebagai intelektual muda yang memiliki kemampuan dalam bidang jurnalistik
dan mumpuni dalam berbahasa arab, maka ia telah membuat dan menerbitkan
beberapa buku serta menerjemahkan buku-buku ke dalam bahasa Indonesia. Dengan

9
10
11

Ibid.
Ibid., 115
Ibid.

49

kemampuannya itu, ia cukup produktif dalam menulis maupun menerjemahkan buku.


Secara umum karya-karya husein dibagi menjadi dua bagian yaitu:
1) Karya Terjemahan:
a. Khutbah al-Jumuah Wa Al-Idain, Lajnah Min Kibar Ulama, Al-Azhar (wasiat
taqwa ulama-ulama besar), (Kairo: Bulan Bintang,1985).
b. Asy-syariah Al-Islamiyyah bain Al-Mujaddidin wa Al-Muhadditsin, (hukum islam
antara modernis dan tradisionalis), karya Dr. Faruq Abu Zaid, (Jakarta:
P3m,1986).
c. Mawathin al-ijtihad fi Asy-Syariah al-Islamiyyah karangan Syaikh Muhammad
al-Madani; At-Taqlid wa At-Talfiq fi Al-Fiqh al-Islami karangan Sayyid Muin addin; al-Ijtihad wa at-Taqlid Baina adh-Dhawabith asy-Syariyyah wa al-Hayah alMuashirah (dasar-dasar pemikiran hukum Islam) karangan Dr. Yusuf Qardhawi
(Jakarta: Pustaka Firdaus,1987).
d. Kasyifah As-Saja, (Bandung: 1992).
e. Thabaqat al-Ushuliyyin (Pakar-pakar Fiqh Sepanjang Sejarah) karangan Syaikh
Mustafa Al-Maraghi (Yogyakarta: LKPSM, 2001).
f. Wajah baru kitab Syarh Uqud al-Lujjayn, karya bersama forum kajian kitab
kuning Jakarta, (Yogyakarta: LKiS,2001).12
2) Karya Tulis Ilmiah:
a.

Fiqh Perempuan, Refleksi Kiai Atas Wacana Agama dan Gender,


(Yogyakarta: LKiS,2001).
12

Ibid., 121.

50

b.

Taliq wa Takhrij Syarah Uqud al-Lujjjayn, bersama Forum Kajian Kitab


Kuning Jakarta, (Yogyakarta: LKiS,2001).

c.

Sejumlah makalah seminar/diskusi, antara lain: Islam dan Negara


Bangsa, Pesantren dan Civil Society; dan Islam dan Hak-Hak
Reproduksi.

d.

Sejumlah tulisan dalam buku-buku kumpulan tulisan, antara lain:


Kelemahan dan Fitnah Perempuan, pengantar dalam buku Tubuh,
Seksualitas dan Kedaulatan Perempuan; dan Kebudayaan yang Timpang,
sebuah epilog dalam buku panduan pengajaran Fikih Perempuan13.

e. Pesantren Masa Depan, Pustaka Hidayah ,Bandung 1999.

f. Gender di Pesantren (Pesantren and The Issue of Gender Relation), dalam


majalah Kultur (The Indonesian Journal forMuslim Cultures), Center for
Languages and Cultures, UIN syarif Hidayatullah, Jakarta, 2002.
g. Tradisi Istinbath Hukum NU: Sebuah Kritik dalam M. Imaduddin Rahmat
Kritik Nalar Fiqh NU
h. Transformasi Paradigma Bahtsul Masail LAKPESDAM, Jakarta, 2002.
i. Kembang Setaman Perkawinan: Analisis Kritis Kitab Uqud al-Lujjayn, FK-3
bekerjasama dengan KOMPAS Jakarta 2005.
j. Pemikir Fiqh yang Arif dalam KH. MA. Sahal Mahfudh, Wajah Baru Fiqh
Pesantren, Citra Pustaka, Jakarta 2004.

13

Ibid.,120.

51

k. Potret Penindasan atas Nama Hasrat dalam Soffa Ihsan, In the Name of Sex:
Santri, Dunia Kelamin,dan Kitab Kuning, JP Books, Surabaya, 2004.
l. Counter Legal Draft: Merespon Realitas Sosial Baru dalam Ridwan, M.Ag,
Kontroversi Counter Legal.
m. Draft: Ikhtiar Pembaruan Hukum Keluarga Islam, PSW Purwokerto
kerjasama dengan Unggun Religi, Yogyakarta 2005.
n. Islam Progressif:

Refleksi

Kritis

Kiai

Pesantren

terhadap

Wacana

Kemanusiaan, Pustaka Rihlah Group, Yogyakarta14.


Selain menulis dan menerjemahkan, Husein juga memiliki pengalaman
organisasi dan aktivitas yang sangat panjang, mulai dari aktivis kampus ketika ia
masih menjadi mahasiswa di PTIQ Jakarta (Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran),
sampai menjadi direktur di beberapa LSM Perempuan, Kepala Sekolah, dan juga
Aktivis Partai Politik. Ia juga salah satu wakil Ketua DPRD Kabupaten Cirebon.
Di antara aktivitas organisasi K.H. Husein Muhammad bisa disebutkan:
1. Ketua I Dewan Mahasiswa PTIQ Tahun 1978-1979.
2. Ketua I keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama, Kairo Mesir, 1982-1983.
3. Sekertaris Perhimpunan Pelajar dan Mahasiswa, Kairo, Mesir, 1982-1983.
4. Pendiri Fahmina Institute, Cirebon.
5. Pengasuh Ponpes Dar At-Tauhid yang ada di daerah Arjawinangun, Cirebon.
6. Anggota Dewan Syuro DPP PKB 2001-2005.
7. Ketua Dewan Tanfiz PKB Kabupaten Cirebon, 1999-sekarang.
14

Staf, http://Rahima.or.id. Akses 10 Maret 2009

52

8. Wakil Ketua DPRD Kabupaten Cirebon, 1999-sekarang.


9. Ketua Umum Yayasan Wali Sanga, 1996-sekarang.
10. Ketua I Yayasan Pesantren Dar At-Tauhid, 1984-sekarang.
11. Wakil Rais Syuriyah NU Cabang Kab. Cirebon, 1989-2001.
12. Sekjen RMI (asosiasi pondok pesantren) Jawa Barat, 1994-1999.
13. Pengurus PP RMI 1989-1999.
14. Wakil Ketua Pengurus Yayasan Puan Amal Hayati, Jakarta, 1999-sekarang.
15. Direktur Pengembangan Wacana LSM Rahima, Jakarta, 2000-sekarang.
16. Ketua Umum DKM Masjid Jami Fadhlullah, Arjawinangun, 1998-sekarang.
17. Kepala Madrasah Aliyah Nusantara Berlokasi di Arjawinangun, 1989-sekarang.
18. Kepala SMU Maarif, Arjawinangun, 2001.
19. Ketua Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI), Arjawinangun, 1996-sekarang.
20. Ketua Kopontren Dar At-Tauhid, 1994-sekarang.
21. Ketua Departemen Kajian Filsafat dan Pemikiran ICMI Orsat Kabupaten
Cirebon, 1994-2000.
22. Ketua I Badan Koordinasi TKA-TKP Wilayah III Cirebon, 1992-sekarang.
23. Pemimpin umum/ penanggung jawab Dwibulanan Swara Rahima, Jakarta,
2001.
24. Dewan Redaksi Jurnal Dwi Bulanan Puan Amal Hayati, Jakarta, 2001.
25. Konsultan Yayasan Balqis untuk hak-hak perempuan, Cirebon, 2002.
26. Konsultan/ staf ahli Kajian Fiqh Siyasah dan Perempuan.
27. Pendiri LSM Puan Amal Hayati Cirebon.

53

28. Anggota Nasional Broad of International Center for Islam and Pluralism, Jakarta,
2003.
29. Tim pakar Indonesian Forum of Parlementarians On Population and
Development,2003.
30. Dewan Penasihat dan Pendiri KPPI (Koalisi Perempuan Partai Politik Indonesia)
di Kabupaten Cirebon, 2004.15
Dengan aktivitasnya yang begitu penting di berbagai organisasi maka tidak
sedikit kegiatannya di seminar yang bersekala nasional maupun internasional.
Adapun keterlibatannya dalam beberapa konferensi dan seminar internasional:
a. Mengikuti konferensi internasional tentang Al-Quran dan IPTEK, yang
diselenggarakan rabithah alam islami makah di bandung pada tahun 1996.
b. Peserta konferensi internasional tentang kependudukan dan kesehatan
reproduksi, di Kairo Mesir tahun 1998.
c. Peserta seminar internasional tentang aids dikuala lumpur Malaysia 1999.
d. Mengikuti studi banding di Turki, 6-13 juli 2002 tentang aborsi aman.
e. Fellowship pada Institute Studi Islam Modern (ISIM) Universitas Leiden, Belanda
November 2002.
f. Nara sumber dan lokakarya Internasional: Islam dan Gender, di Colombo,
Srilanka, 2003.16

15

hlm.122.

M.Nuruzzaman, Kiai Husein Membela Perempuan, (Yogyakarta: Pustaka Pesantren,2005),

54

Gagasan Islam dan gender merupakan isu utama yang diusungnya selama ini.
Dan disamping itu juga tema-tema liberalisme pemikiran yang berpijak pada tradisi
klasik Islam. Kuatnya nuansa tradisi klasik dalam berbagai pemikirannya telah
menjadikan sosok kiai nyentrik ini dikagumi oleh berbagai kalangan baik akademisi
maupun aktivis social.
Selain memimpin pondok pesantren Dar At-Tauhid Arjawinangun, Cirebon,
sampai sekarang, Husein juga aktif dalam berbagai diskusi seminar keislaman
terutama dalam seminar-seminar yang memperbincangkan seputar agama dan gender
serta isu-isu lainnya. Husein juga menjadi direktur pengembangan wacana di LSM
Rahima dan juga aktif di Puan Amal Hayati bersama teman-temannya di Cirebon
mendirikan klub kajian building.
C. Pemikiran Gender K.H.Husein Muhammad
Keterlibatan Husein pertama kali dalam pengembangan pemikiran yang
progresif termasuk berkenalan dengan wacana gender dimulai dengan ajakan Masdar
F.Masudi. Masdar selalu mengundang Husein untuk mengikuti seminar atau
halaqah. Pada tahun 1993 Husein diundang dalam seminar tentang Perempuan
dalam pandangan agama-agama, sejak saat itu Husein mengetahui ada masalah besar
menegenai perempuan, dalam kurun waktu yang panjang kaum perempuan
mengalami penindasan dan eksploitasi. Dari seminar ini, Husein di perkenlkan
dengan gerakan feminisme, gerakan yang berusaha memperjuangkan martabat

16

Ibid., 125.

55

kemanusiaan dan kesetaraan social(jender). Dari seminar ini juga, menurut Husein ia
merasa disadarkan ternyata ada peran para ahli agama (agamawan) bukan saja Islam
tetapi dari seluruh agama yang turut memperkuat posisi subordinasi perempuan, ia
kaget dan bertanya dalam hati bagaimana mungkin agama bisa menjustifikasi
ketidakadilan, sesuatu yang bertentangan dengan hakikat dan misi luhur
diturunkannya agama ada manusia, setelah itu Husein mulai menganalisis persoalan
ini dari sudut basis keilmuan yang diterimanya dari pesantren. Basis pemikiran
Husein adalah demokrasi dan penghargaan terhadap hak asasi manusia17.
Husein adalah salah satu dari ulama yang sedang ikut melakukan
pembaharuan dengan mengusung isu wacana kesetaraan dan keadilan gender dengan
paradigma feminisme Islam (fiqh/hukum Islam). Kosentrasi Husein pada feminisme
adalah pengaruh agama terhadap wanita. Pemahaman agama terhadap wanita, bagi
Husein masih sangat bias, masih menomorduakan, serta memarginalkan. Agama
disini memanifestasikan dalam penafsiran terhadap teks, banyak orang menganggap
bahwa teks itu sama dengan agama, yang memiliki sakralitas dan keabadian. Husein
memilih untuk menganalisa agama dan wanita karena dia punya keyakinan bahwa
agama tidak mungkin melakukan penindasan, marginalisasi dan kekerasan terhadap
siapapun termasuk wanita.18

17

M.Nuruzzaman, Kiai Husein Membela Perempuan, (Yogyakarta: Pustaka Pesantren,2005),

hlm. 115.
18

Husein Muhammad, Islam Agama Ramah Perempuan Pembelaan Kiai Pesantren,


(Yogyakarta: LKiS,2004), hlm. XXXVI.

56

Kajian Husein dalam melakukan pembelaan terhadap hak wanita ditujukan


pada fiqh (hukum Islam) sebagai pegangan utama masyarakat Islam pesantren yang
banyak melakukan diskriminasi terhadap wanita.

Karena, menurut Husein, sulit

untuk bisa ditolak bahwa dalam waktu yang sangat panjang fiqh telah memainkan
peranan yang sangat penting bagi pembentukan kebudayaan masyarakat muslim.19
Kekhasan yang dimiliki oleh gagasan Husein dalam mengusung wacana Islam
dan gender adalah kedalaman akan literatur klasik Islam dalam melakukan analisis
atau argumen tandingan terhadap ketimpangan gender di masyarakat yang sangat
jarang dimiliki oleh feminis Islam yang lain. Pada umumnya wacana feminisme
Islam yang diusung oleh beberapa pemikir lebih merujuk pada literatur-literatur
modern yang dalam beberapa hal masih susah untuk diterima oleh masyarakat
tradisional.20
Gagasan Husein susah untuk diletakkan masuk ke dalam aliran feminisme
arus utama karena yang diusung lebih mengarah pada wilayang teks atau ajaran
agama. Metodologi yang dibangun hanya menawarkan reintrepretasi terhadap teks
agama yang bias terhadap wanita. Husein melandasi teks dengan nilai dasar agama
seperti keadilan dan kesetaraan. Apabila teks-teks agama bertentangan dengan nilainilai tersebut maka dianggap bukan agama yang tidak benar. Husein kemudian
mencarikan rujukan pembelaannya dari khazanah keilmuan Islam klasik.

19
20

Ibid.
Ibid., XLI.

57

Dalam kaitannya dengan persoalan relasi pria dan wanita, prinsip dasar alQuran sesungguhnya memperlihatkan pandangan yang egaliter21. Sejumlah ayat alQuran yang mengungkapkan prinsip ini misalnya:

22

23

24

25

21

Husein Muhammad, Fiqh Perempuan Refleksi Kiai atas Wacana Agama dan Gender,
(Yogyakarta: LKiS,2001), hlm. 20.
Al-Hujurat (49) :13.

22

An-Nahl (16): 97.

23

At-Taubah (9): 71.

24

58

Nabi Saw. Juga menyatakan tentang kesetaraan ini dalam sabdanya:26

.
Turunnya ayat-ayat al-Quran dan lahirnya pernyataan Nabi saw. Diatas dapat
dipandang sebagai langkah yang spektakuler dan revolusioner. Ia tidak saja
mengubah tatanan masyarkat Arab pada waktu itu, tetapi juga mendekonstruksi pilarpilar peradaban, kebudayaan, dan tradisi yang diskriminatif dan misoginis, yang telah
sekian lama dipraktikkan oleh masyarakat sebelumnya. Pada masa pra Islam, harga
wanita sangat rendah. Mereka dianggap barang atau benda yang dapat diperlakukan
apa saja, bahkan seringkali orang menganggap melahirkan wanita sebagai sesuatu
yang memalukan dan tolerir jika anak wanita tersebut dibunuh hidup-hidup. Dalam
banyak praktik hukum, harga perempuan adalah separo dari harga pria. Perlakuan
hukum terhadap wanita sangat diskriminatif. Oleh Islam, pandangan dan praktikpraktik yang misoginis dan diskriminatif itu lalu diubah dan diganti dengan
pandangan yang adil dan manusiawi. Islam secara bertahap mengembalikkan lagi
otonomi wanita sebagai manusia merdeka. 27
Kurun waktu yang sangat panjang dirasakan benar bahwa kenyataan social
dan budaya memperlihatkan hubungan pria dab wanita yang timpang. Kaum wanita
diskriminasi. Ini dapat dilihat peran-peran mereka, baik dalam sektor domestik

25

Al-Azhab (33): 35.

26

Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, I:164, (Beirut: Dar al-Fikr),.

27

Ibid., 23.

59

(rumah tangga) maupun publik. Para pemikir feminis mengemukakan bahwa posisiposisi wanita demikian itu disamping karena faktor-faktor ideology dan budaya yang
memihak kaum pria, keadaan tmpang tersebut boleh jadi juga dijustifikasi oleh
pemikiran agamawan. Hal ini terlihat, misalnya pada penafsiran mereka atas Q.S.AnNisa: 34



28

Para ahli tafsir menyatakan bahwa qawwam dalam ayat tersebut berarti
pemimpin, penanggung jawab, pengatur dan pendidik. Kategori-kategori ini
sebenarnya tidaklah menjadi persolan yang serius sepanjang ditempatkan secara adil
dan didasari oleh pandangan diskriminatif. Akan tetapi, secara umum para ahli tafsir
berpendapat bahwa superioritas pria ini adalah mutlak. Superioritas ini diciptakan
tuhan tidak akan pernah berubah.29
Akan tetapi, semua superioritas pria tersebut, dewasa ini tidak dapat lagi
dipertahankan sebagai sesuatu yang berlaku umum dan mutlak. Artinya, tidak setiap
pria pasti bisa lebih berkualitas daripada wanita. Hal ini bukan saja karena dipandang
sebagai bentuk diskriminasi yang tidak sejalan dengan dasar-dasar kemanusiaan
28
29

An-Nisa(4):34.

Husein Muhammad, Fiqh Perempuan Refleksi Kiai atas Wacana Agama dan Gender,
(Yogyakarta: LKiS,2001) hlm.25.

60

universal, melainkan juga karena fakta-fakta sosial sendiri telah membantahnya. Ini
merupakan keniscayaan yang tidak bisa diingkari oleh siapapun. Zaman telah
berubah. Sekarang telah semakin banyak kaum wanita yang memiliki potensi dan
bisa melakukan peran-peran yang selama ini dipandang hanya dan harus menjadi
milik pria. Banyak wanita di berbagai ruang kehidupan yang mampu tampil dalam
peran kepemimpinan domestik maupun publik dalam bidang politik, ekonomi, dan
social. 30
D. Pemikiran Wanita Karir K.H.Husein Muhammad
Wanita karir dalam pandangan Husein Muhammad adalah wanita yang
mandiri, bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri serta untuk mengaktualisasikan
dirinya baik dalam ruang publik maupun domestik. Budaya patriarkhi yang
berkembang selama ini, menempatkan wanita dalam rumah tangga hanya melayani
suami dan anak-anak. Sehingga seorang wanita yang menjadi ibu rumah tangga
dianggap tidak dapat menghasilkan sesuatu atau berproduksi, sedang pria yang
bekerja di luar rumah dianggap berproduksi, karena dapat menghasilkan uang untuk
memenuhi kebutuhan keluarga. Secara tidak langsung, ukuran dari seseorang
dianggap berkarir adalah ketika orang tersebut menghasilkan dalam aspek ekonomi
maupun memperoleh suatu jabatan dalam ranah publik.
Ciri wanita karir adalah kegiatan yang dilakukan merupakan kegiatan yang
professional sesuai dengan bidang yang ditekuninya. Tingkat keprofesionalan selalu
diukur dengan hal-hal yang masuk dalam kategori ranah publik, sehingga merawat
30

Ibid.

61

anak, mengatur keuangan keluarga, mengurus keperluan keluarga bukanlah dianggap


suatu keahlian tetapi merupakan kodratnya sebagai seorang wanita.
Husein melihat sesungguhnya Islam tidak pernah menekankan wanita dalam
bidang pekerjaan. Baik pekerjaan di rumah maupun di luar rumah. Islam memandang
perempuan bukan sebagai makhluk domestik (rumahan) yang tidak diperkenankan
merambah wilayah publik (umum). Sebagai makhluk Allah SWT. Wanita setara
dengan yang lain. Laki-laki atau perempuan sama-sama berhak berkiprah disegala
bidang, baik sosial, pendidikan, politik, maupun lainnya. Termasuk hak untuk
berkarier dalam bidang ekonomi. Perempuan dan laki-laki mempunyai hak yang sama
untuk bekerja, sekaligus menikmati hasil jerih payahnya. Karena bekerja adalah hak
setiap orang. Allah SWT berfirman:


31

Biasanya masyarakat umum beranggapan, bagi perempuan yang belum


berkeluarga, bekerja tidaklah jadi masalah. Sebab perempuan itu belum memiliki
tanggungan pengasuhan anak. ketika perempuan menikah dan masih tetap ingin
bekerja, itu jadi masalah. Pada dasarnya Islam tidak melarang perempuan yang ingin
bekerja di luar rumah.
Variasi pandangan ulama hanya muncul pada kasus seorang istri yang bekerja
tanpa restu suaminya. Jika seorang istri yang bekerja tanpa restu suami dianggap

31

An-Nisa(4): 32

62

melanggar agama. sesungguhnya tidak bisa dijawab dari sudut agama saja, melainkan
harus memperhatikan hal-hal yang melatarinya. Jawaban dari sisi agama, biasanya
tidak sepenuhnya menengahi permasalahan. Sebab persoalan suami tidak
mengijinkan istri bekerja, biasanya lebih karena alasan pribadi, bukan karena alasan
agama. Misalnya, karena si suam ikhawatir istri tidak bisa lagi memperhatikan anak
dan keluarga apabila bekerja. Alasan seperti ini sangat membuka perdebatan. Sebab
realitas di masyarakat banyak pula perempuan bekerja dan tetap bisa menjalankan
kewajiban sebagai seorang ibu dan pendamping bagi suami. Memang di sini
dibutuhkan penafsiran ulang terhadap fatwa-fatwa agama yang kurang ramah
terhadap hak perempuan untuk bekerja
Kalau lebih jauh menelusuri lembaran-lembaran literatur fiqh, dalam
pandangan banyak ulama fiqh, suami juga tidak berhak sama sekali untuk melarang
istri bekerja mencari nafkah, apabila nyata-nyata dia tidak bisa bekerja mencari
nafkah, baik karena sakit, miskin atau karena yang lain. Lebih tegas lagi dalam fiqh
Hambali, seorang lelaki yang pada awalnya sudah menegtahui dan menerima calon
istrinya sebagai pekerja yang setelah perkawinan juga terus bekerja di luar rumah,
suami tidak boleh kemudian melarang istrinya bekerja atas alasan apapun. kemudian
Imam Syafii berpendapat dalam kondisi yang aman perempuan boleh melakukan
perjalanan untuk bekerja ataupun lainnya (atau mencari ilmu yangbermanfaat bagi
dirinya).
Pada zaman Nabi SAW sendiri banyak riwayat menyebutkan, beberapa
perempuan bekerja di dalam dan di luar rumah, baik untuk kepentingan sosial

63

maupun memenuhi kebutuhan keluarga. Misalnya, Asma binti Abi Bakar,istri sahabat
Zubair bin Awwam. Ia bekerja bercocok tanam, dan terkadang juga melakukan
perjalanan. Dalam literatur fiqh (jurisprudensi Islam), secara umum juga tidak
ditemukan larangan perempuan bekerja selama ada jaminan keamanan dan
keselamatan.
Fiqh membenarkan suami dan istri, keduanya bekerja di luar rumah dengan
prasyarat-prasyarat tertentu. Yang berarti fiqh tidak memandang bahwa kewajiban
seorang lelaki (misalnya suami) untuk mencari nafkah menjadi penghalang bagi
wanita untuk bekerja di luar rumah juga untuk mencari nafkah.32Pekerjaan rumah
tangga adalah pekerjaan yang sesunggunhya untuk wanita dan pria. Jadi pendifinisian
bahwa pekerjaan di luar rumah adalah tugas pria dan pekerjaan di dalam rumah
adalah pekerjaan wanita adalah hasil penafsiran terhadap teks secara sempit.
Jadi, agama Islam memang tidak melarang perempuan beraktifitas di luar
rumah. Selama situasi aman dan terkendali tidak ada kewajiban pula seorang
perempuan harus ditemani atau diawasi ketika bekerja di luar rumah. Tampaknya
memang butuh sikap bijak dari seorang suami merelakan istri bekerja untuk
mengembangkan karunia Allah SWT. Berupa kemampuan, potensi dan kecerdasan
yang samadengan laki-laki. Selain itu, juga dibutuhkan sikap saling amanah di antara
keduanya. Dengan demikian, laki-laki maupun perempuan, keduanya akan dapat

32

Husein Muhammad, Perempuan Bekerja Dilema tak Berujung, Swara Rahima, No.12
Th.IV (September, 2004), hlm. 3.

64

bekerja mengembangkan potensi masing-masing, demi kehidupan yang lebih


maslahah.
Wanita bekerja atau tidak bekerja memang pilihan yang sama-sama baiknya.
Akan tetapi jangan sampai ketika perempuan bekerja, cenderung dipermasalahkan
atau dilarang. Tapi ketika mereka bekerja, sudah semestinya pemerintah dan seluruh
elemen masyarakat maupun pengusaha memperlakukan perempuan dengan sebaikbaiknya, dengan memenuhi hak-haknya.
Apalagi jika perempuan itu bekerja karena tidak punya pilihan lain demi
menyelamatkan perekonomi keluarga. Memang di tempat-tempat perempuan bekerja,
masih banyak terjadi pelanggaran hak-hak dasar bagi mereka. Misalnya hal-hal
kodrati perempuan, seperti menstruasi, melahirkan dan menyusui, acap kali
berdampak pada penghargaan yang diskriminatif atas kinerja perempuan di tempat
kerja. Diskriminasi itu misalnya berupa pengupahan yang lebih rendah dari pekerja
laki-laki, karena asumsi perempuana dalah pencari nafkah tambahan. Selain itu, juga
adanya stereotip bahwa hanya jenis-jenis pekerjaan tertentulah yang dianggap mampu
dikerjakan perempuan. Tak jarang perempuan juga dipandang kurang produktif,
karena terhalang oleh adanya cuti menstruasi, cuti hamil dan melahirkan.
Sementara faktor eksternal bagi perempuan pekerja adalah seperti dukungan
suami, kehadiran anak, masalah pekerjaan, dan relasi dalam keluarga. Hal-hal
tersebut juga memiliki pengaruh bagi perempuan dalam menjalankan tugasnya. Sebab
ketikatidak ada dukungan penuh bagi perempuan dalam bekerja, faktor eksternal ini
dapat menimbulkan tekanan bagipekerja perempuan. Peran ganda sebagai istri, ibu,

65

dan seorang pekerja akan menimbulkan permasalahan apabila perempuan tidak


mampu mengaturnya dengan baik. Sehingga konsep peran ganda ini justru akan
berubah menjadi beban ganda bagi mereka. Tampaknya, sudah saatnya kita tak lagi
memandang sebelah mata terhadap perempuan yang bekerja. Semua jenis pekerjaan
baik itu reproduktif, produktif, maupun sosial,semuanya adalah amal kebajikan bagi
mereka.

66

BAB IV
ANALISIS PANDANGAN K.H. HUSEIN MUHAMMAD
TENTANG WANITA KARIR
A. Analisis Terhadap Pandangan K.H. Husein Muhammad tentang
Wanita Karir
Kemitraan mengandung arti jalinan kerja sama. Pria dan wanita dapat menjadi
mitra sejajar yang harmonis apabila keduanya memiliki persamaan tingkat, derajat,
hak dan kewajiban, kedudukan, peranan dan kesempatan dalam berbagai bidang.
Dalam kehidupan sehari-hari, kesejajaran seperti itu belum sepenuhnya terwujud
karena berbagai faktor penyebab kesenjangan antara pria dan wanita dalam
mewujudkan kemitrasejajaran1.
Kemitrasejajaran yang harmonis antara pria dan wanita adalah kondisi
dinamis, apabila pria dan wanita memiliki kesamaan hak, kewajiban dan kedudukan,
peranan dan kesempatan yang dilandasi sikap dan perilaku saling menghormati,
saling menghargai, saling membantu dan saling mengisi dalam berbagi bidang.
Dengan demikian kemitarasejajaran tidak dilandasi oleh keinginan untuk
menciptakan persaingan antara pria dan wanita. Dalam Islam, pada hakikatnya Allah
SWT mencipatakan pria dan wanita untuk saling menghormati, saling membantu
sesuai dengan kodrat masing-masing. Apabila dalam kehidupan riil antara pria dan
wanita, khususnya dalam kehidupan rumah tangga suami dan istri menjadi mitra
sejajar yang harmonis, potensi sumber daya keduanya secara maksimal dapat
1

Zaitunah Subhan, Tafsir Kebencian Studi Bias Gender dalam Tafsir Quran,(Yogyakarta:
LKiS,1999), hlm. 92.

67

bermanfaat. Itulah tujuan ajaran Islam, sebagaimana tujuan Tuhan mencipatkan


manusia yang terdiri dari pria dan wanita.
Bekerja dalam pandangan agama adalah keniscayaan. Allah yang
menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu (manusia), siapa yang di antara
kamu yang lebih baik amalnya, yakni pekerjaannya. Bekerja adalah menggunakan
daya yang dimiliki, daya fisik, daya fikir, daya kalbu, dan daya hidup.
Kerja merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Kemajuan suatu
bangsa diukur dari tingkat produktivitas kerjanya di lapangan kehidupan. Kerja selalu
digunakan dalam arti melaksanakan suatu tugas pada waktu dan tempat tertentu
dengan diberi imbalan tertentu. Makin maju suatu masyarakat hubungan kontraktual
dengan imbalan materi makin tampak di dalam kehidupan sehari-hari. Pada
prinsipnya tidak ada perbedaan lapangan kerja antara pria dan wanita.namun
kenyataannya hampir seluruh sistem membedakannya secara tajam. Dijelaskan alQuran bahwa dalam Islam tidak ada perbedaan hak mendapatkan pekerjaan bagi
pria dan wanita, tanpa terikat satu tempat (di dalam atau di luar rumah). Peranan
wanita karir adalah bagian yang dimainkan dan cara bertingkah laku wanita di dalam
pekerjaan untuk memajukan dirinya sendiri.
Persoalan yang muncul dalam fiqh ketika seorang isteri harus bekerja di luar
rumah dan meninggalkan keluarganya. Para ahli fiqh sepakat bahwa apabila itu
terjadi, istri haruslah mendapat izin dari suaminya. Istri tidak boleh meninggalkan

68

suaminya begitu saja. Pelanggaran atas kewajiban ini (izin) dapat dipandang sebagai
Nusyuz (tidak taat/tidak setia).2
Menurut Husein Muhammad Nusyuz dapat mengakibatkan hilangnya hak
nafkah bagi istri, kecuali jika nafkah yang diberikan oleh suami benar-benar tidak
mencukupi kebutuhannya. Para ahli fiqh juga berpendapat bahwa hak nafkah bagi
istri menjadi hilang apabila istri keluar dari rumah (untuk bekerja) tanpa izin
suaminya, meskipun suami semula sudah menyatakan kesediaannya menerima wanita
yang bekerja

itu menjadi isterinya.

Pandangan ini berbeda dengan keputusan

pengadilan Mesir yang menyatakan bahwa istri tetap berhak atas nafkahnya. Menurut
keputusan pengadilan Mesir, ini adalah akibat logis dari kesediannya mengawini
wanita yang pekerja.3
Menurut para ahli fiqh klasik, seorang istri diperbolehkan meninggalkan
rumah, meskipun tanpa izin suaminya, jika keadaan benar-benar darurat (memaksa).
Ibn Hajar al-Haitani ketika diminta fatwanya mengenai istri yang ingin belajar,
bekerja, dan sebaginya, apakah istri boleh keluar tanpa izin suaminya. Ibnu hajar
alhitami mengatakan ya, dia boleh keluar rumah tanpa izin suaminya untuk kondisi
yang daruratsperti rumahnya roboh, tenggelam ,kebaran dan mencari nafkah karena
suami tidak memberikan cuku dan keperluan keagamaan. Sejalan dengan pandangan
ini adalah catatan Zainuddin al-Malabari dalam kitabnya yang cukup populer Fath al2

Husein Muhammad, Fiqh Perempuan Refleksi Kiai Atas Wacana Agama dan Gender,
(Yogyakarta:LKIS,2001), hlm. 171.
3

Ibid.

69

Muin. Ia mengatakan bahwa seorang istri diperbolehkan keluar dari ruamahnya tanpa
dicap sebagi istri yang nusyuz untuk hal-hal sebagai berikut: jika rumahnya akan
roboh, jiwa atau hartanya terancam oleh penjahat atau maling, mengurus hak-haknya
di pengadilan,. Belajar ilmu-ilmu fardhu ain, untuk keperluan istifta (meminta
fatwa) karena suaminya bodoh, untuk mencari nafkah, seperti berdagang atau
mencari sedekah kepada orang lain, atau untuk bekerja selama suaminya tidak bisa
menafkahinya.
Bahkan untuk kondisi-kondisi tertentu, dia (istri) justru diwajibkan bekerja.
Misalnya karena kewajiban menanggumng biaya hidupnya sendiri beserta
keluarganya karena tidak ada lagi orang yang membiayai atau menafkahinya. Jabir
bin Abdullah pernah menceritakan bahwa bibinya telah bercerai dengan suaminya.
Suatu hari

dia bermaksud memetik buah kurma. Tiba-tiba seorang pria

menghardiknya dan melarang keluar rumah. Wanita ini kemudian datang kepada
Rasulullah untuk menanyakan kasusnya itu. Beliau lalu menjawab: petiklah buah
kurma itu, barangkali kamu mau bersedekah atau mau berbuat baik. Riwayat Imam
Muslim.4
Apabila ternyata yang mampu memberikan nafkah adalah istrinya karena
karena dia kaya, sedangkan suaminya miskin. Para ahli fiqh

dalam hal ini

berpendapat bahwa istri boleh menafkahi suaminya, dengan catatan bahwa biaya
yang telah dikeluarkan tetap dianggap sebagai utang suami. Dia wajib membayarnya
apabila sudah mampu. Apabila istri dengan rela memberikannya, tanpa dianggap
4

Ibid.

70

utang maka hal itu lebih baik dan dia akan mendapatkan pahala ganda; pahala karena
hubungan persahabatan dan pahala karena dia telah bersedekah. Akan tetapi,
pendapat ini tidak disetujui oleh Ibn Hazm az-Zhahiri. Ia mengatakan bahwa istri
kaya wajib menafkahi suaminya yang miskin tanpa harus dianggap sebagai utang,
meski di kemudian hari suami menjadi kaya.
Dikemukakan dengan jelas dalam Q.S.An-Nisa4:34 bahwa kepemimpinan
pria di dalam rumah tangga selain karena kelebihan yang di miliki, juga karena pria
yang berkewajiaban memberi nafkah. Pandangan ini meski tengah digugat sementara
kaum feminis masih tampak dominan dalam masyarakat. Pandangan yang mendasari
pria (suami) berkewajiban memberikan nafkah keluarga.
Terdapat dua pandangan ulama fiqh mengenai masalah ini. Pandangn pertama
dikemukakan oleh para ulama hanafiyah. Mereka berpendapat bahwa nafkah
diwajibkan atas suami karena dia mempunyai hak menahan istrinya. Pandangan ini
didasarkan atas hadis Nabi SAW. Yang menyatakan


5
()
Pandangan kedua berasal dari jumhur (mayoritas) ulama. Mereka mengatakan
bahwa kewajiban untuk mencari nafkah yang dibebankan kepada suami karena
adanya hubungan perkawinan, yakni bahwa kemampuan itu menjadi istrinya. Atas

Ath-Tirmizi, Sunan At-Tirmidhi, Juz III, no hadis: 1163, hlm. 467.

71

dasar ini mereka tetap mewajibkan kepada suami memberi nafkah untuk istri yang
dicerai Raji (cerai yang bisa dirujuk).
Kedua pandangan di atas sama-sama dimaksudkan agar suami dapat sewaktuwaktu menikamti tubuh istrinya. Penikmatan atas tubuh istri adalah tujuan utama
(primer) dari sebuah perkawinan. Akan tetapi, penikmatan ini tidaklah cuma-cuma. Ia
harus diimbangi dengan nafkah. Dengan kata lain, pemberian nafkah oleh suami
karena penikamatnnya atas tubuh istri.
Berkaitan relasi seksual posisi suami sangat kuat dan dominan sedangkan
untuk hal-hal yang berkaitan dengan nafkah, istri mempunyai kekuasaan yang
dominan. Dengan kata lain, suami berkuasa penuh atas akses nafkah. Istri
berkewajiban memenuhi kebutuhan seks suami, dan suami berkewajiban memenuhi
tuntutan nafkah istri.
Akibanya istri yang bekerja di luar rumah, baik pada siang maupun malam
hari, hak nafkahnya sangat tergantung pada pertimbangan kedua belah pihak. Apabila
suami membolehkan atau merelakannya istrinya bekerja maka nafkah tetap menjadi
hak istri. Dengan demikian, suami juga harus rela jika akses seksnya menjadi hilang.
Ini adalah resiko logis dari sikapnya itu. Sebaliknya, jika istri tetap saja keluar rumah
untuk bekerja meskipun suami tidak mengizinkannya maka dia harus menerima pula
jika hak atas nafkahnya menjadi hilang. Konsekuensi ini adalah logis dan juga
legitimate.
Pada sisi lain, relasi dan pembagian peran seperti ini menimbulkan
ketergantungan satu atas yang lain. Dengan otoritas nafkah di tangan suami, istri

72

menjadi sangat tergantung secara ekonomi kepada suami. Ketika ini terjadi maka
sebenarnya dalam konsep fiqh, istri tidak lagi diberikan beban-beban ganda, baik di
dalam maupun di luar ruamahnya. Seluruh pekerjaan di dalam rumah, seperti
mencuci, memasak, dan membersihkan rumah seharusnya menjadi tanggung jawab
suami. Sementara itu, dengan otoritas seks di tangan istri, hal itu menjadikan suami
sangat tergantung secara seksual kepada istri.
Menurut Husein Muhammad Wanita karir adalah wanita yang mandiri,
bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri serta untuk mengaktualisasikan dirinya baik
dalam ruang publik maupun domestik. Budaya patriarkhi yang berkembang selama
ini, menempatkan perempuan dalam rumah tangga hanya melayani suami dan anakanak. Sehingga seorang wanita yang menjadi ibu rumah tangga tidak dianggap
sebagai wanita karir. Hal ini dikarenakan seorang ibu rumah tangga dianggap tidak
dapat menghasilkan sesuatu atau berproduksi, sedang laki-laki yang bekerja di luar
rumah dianggap berproduksi, karena dapat menghasilkan uang untuk memenuhi
kebutuhan keluarga. Secara tidak langsung, ukuran dari seseorang dianggap berkarir
adalah ketika orang tersebut mampu menghasilkan dalam aspek ekonomi maupun
memperoleh suatu jabatan dalam ranah publik.6
Dalam bab III, disebutkan ciri-ciri wanita karir Kegiatan-kegiatan yang
dilakukan itu merupakan kegiatan-kegiatan professional sesuai dengan bidang yang
ditekuninya, baik di bidang politik, ekonomi, pemerintahan, ilmu pengetahuan,

Hasil wawancara dengan Husein Muhammad di Cirebon 16 April 2009.

73

ketentaraan, social, budaya pendidikan, maupun di bidang-bidang lainnya. Tingkat


keprofesionalan seseorang selalu diukur dengan hal-hal yang masuk dalam kategori
ranah publik, sehingga merawat anak, mengatur keuangan keluarga, mengurus
keperluan keluarga bukanlah dianggap sebagai suatu keahlian tetapi merupakan
kodratnya sebagai seorang wanita.7
Persoalan dalam rumah tangga tidak bisa terlepas dari peran kepala keluarga.
Selama ini, kepala keluarga merupakan jabatan laki-laki yang tidak mungkin
digantikan oleh perempuan karena anggapan bahwa laki-laki lebih kuat dibanding
perempuan. Teks agama dan tradisi memberikan pengaruh sangat besar terhadap
pandangan yang berkembang dalam masyarakat. Sehingga masyarakat menganggap
bahwa kodrat laki-laki berperan sebagai kepala keluarga, untuk menetapkan siapa
yang menjadi kepala keluarga maka diperlukan adanya kontrak antara suami-istri.
Tidak menjadi persoalan apakah yang menjadi kepala keluarga adalah seorang istri
ataukah seorang suami, karena seorang kepala rumah tangga bukanlah sebagai
penguasa ataukah pemegang otoritas tetapi sebagai fasilitator dalam keluarga
tersebut.8
Perempuan sebagai kepala keluarga, bukan menjadi persoalan kerena peran
tersebut bukanlah kodrat laki-laki sehingga siapa pun dapat menjadi kepala keluarga.
Ayat al-Quran arrijalu qawwamuna ala an- nisa yang sering digunakan untuk

Hasil wawancara dengan Husein Muhammad di Cirebon 16 April 2009.

Hasil wawancara dengan Husein Muhammad di Cirebon 16 April 2009

74

menghalangi perempuan menjadi pemimpin bukanlah ayat normative serta ayat yang
membakukan tetapi ayat informative. Ayat tersebut menjelaskan bangsa Arab saat itu,
pada saat itu laki-laki merupakan qowwam (pemimpin, penguasa, pangayom), hal ini
menunjukkan otoritas dan bukan subjek. Laki-laki merupakan superior, pernyataan
tersebut bukanlah menunjukkan bahwa semua laki-laki memiliki otoritas tetapi
sebagian laki-laki yang memiliki komampuan untuk menjadi pemimpin. Sehingga
perempuan yang memiliki kemampuan berhak untuk menjadi pemimpin, dalam
sejarah Islam, banyak ditemukan perempuan yang memiliki kemampuan menjadi
pemimpin seperti Siti Khodijah, istri Nabi dan juga merupakan saudagar perempuan
sukses pada masanya, Siti Aisyah menjadi pemimpin perang. Kelebihan yang
digunakan dalam memilih seorang pemimpin bukanlah diartikan dalam jenis kelamin
tetapi lebih pada kelebihan akal (intelektual).9
Tradisi yang berkembang selama ini pekerjaan rumah tangga merupakan
kewajiban dan wewenang perempuan sehingga jika ada perempuan yang bekerja
masih tetap harus mengurusi pekerjaan rumah tangga. Jika dia meninggalkan urusan
rumah tangga dan lebih sibuk bekerja maka akan dianggap menyalahi kodratnya atau
dianggap lari dari tanggungjawab. Hal ini mengakibatkan terjadi double burden,
walaupun dari akibat tersebut menunjukkan betapa tangguh dan kuatnya perempuan
sehingga mampu meruntuhkan pandangan bahwa perempuan merupakan mahluk
lemah yang tidak mampu berdiri tanpa laki-laki. Tetapi keadaan tersebut merupakan
kebiasaan dan menunjukkan relasi yang tidak sehat antara laki-laki dan perempuan.
9

Hasil wawancara dengan Husein Muhammad di Cirebon 16 April 2009

75

Maka perlu adanya bargaining position sehingga melahirkan relasi yang sehat antara
laki-laki dan perempuan.10
Merubah tradisi bukanlah sesutau yang mudah, dan memerlukan proses yang
panjang. Agama merupakan sesuatu yang penting bagi manusia, jika tidak mampu
menjawab persoalan yang ada di sekililing manusia maka agama akan kehilangan
salah satu fungsinya dan pada akhirnya akan di tinggalakan manusia. Perjuangan
kesetaraan yang diusung Husein Muhammad bukan untuk perempuan saja tetapi
untuk membangun relasi kemanusiaan yang adil. Karena jika hanya akan
memperjuangkan perempuan, suatu saat jika perempuan sudah dalam keadaan
superior pada akhirnya kembali akan melahirkan ketertindasan dan laki-laki yang
menjadi obyeknya.11
Jadi soal wanita bekerja atau berkarier sebenarnya tidak bermasalah, sama
seperti tidak bermasalahnya pria yang bekerja atau berkarier. Kendala selalu ada pada
siapapun yang bekerja. Yang diperlukan adalah sikap saling menghormati dan bekerja
sama untuk saling menghidupi guna mensejahterakan.
B. Relevansi Pandangan K.H. Husein Muhammad tentang Wanita Karir
dengan Konteks Perkembangan Masyarakat di Indonesia
Perjuangan emansipasi wanita yang dilakukan berbagai pihak, terutama oleh
kaum wanita sendiri, kini sudah menampakkan hasil yang gemilang. Di penghujung

10

Hasil wawancara dengan Husein Muhammad di Cirebon 16 April 2009.

11

Hasil wawancara dengan Husein Muhammad di Cirebon 16 April 2009.

76

abad ke-20 banyak kaum wanita yang memegang peranan penting dalam berbagai
aspek kehidupan.
Husein Muhammad memandang wanita Indonesia mengalami kemajuan
besar, meski masih ada sejumlah paradigma sosial yang belum clear soal posisi
wanita. Wanita Indonesia sudah menemukan ruang sosial, publik dan politik yang
cukup terbuka lebar. Mereka bisa berkarier di semua bidang publik yang semula
hanya diperuntukkan bagi laki-laki.12
Seiring perkembangan zaman, tingkat modernisasi dan globalisasi informasi
sikap wanita kemudian mulai berubah. Kaum wanita tidak lagi berperan sebagi ibu
rumah tangga yang menjalankan fungsi reproduksi, mengurus anak dan suami, atau
pekerjaan domestik lainnya. Mereka mulai memasuki berbagai macam peranan baik
di bidang sosial, ekonomi maupun politik.
Semakin

besarnya

peranan

wanita

dikemukakan

Marthatilaar

yang

menunjukkan angka partisipasi wanita dalam bidang pekerjaan di beberapa Negara


industri maju. Dalam data itu tercatat bahwa pada tahun 1985 sebanyak 55% wanita
Amerika Serikat adalah pekerja, sedangkan di Jepang berjumlah 4% (1985), di
Kanada 52% (1981), Inggris 47% (1987), Australia 46%(1981), dan Itali 33%
(1981)13. Sedangkan di Indonesia, angka wanita karir pun kian meningkat. Pada
sensus ekonomi tahun 1987 melihat prosentase wanita di kalangan eksekutif
12
13

Hasil Wawancara dengan Husein Muhammad di Cirebon 16 April 2009.

Martaha Tilaar, citra wanita Indonesia tahun2000 kemandirian dalam menjawab


pembangunan, dalam Melly g Tan, Perempuan Indonesia Perempuan Masa Depan, (Jakarta: Pustaka
Sinar Harapan,1991), hlm. 67.

77

mencapai 10% dan ini tergolong mencapai puncak karir, jumlah ini belum ditambah
dengan kelompok yang sedang menggapai posisi puncak, kelompok madya, dan yang
berstatus karyawan.14
Dalam perkembangan selanjutnya telah terjadi pergeseran peran wanita yang
tidak lagi terbatas pada temapat dinding rumah tangga. Tiga dasawarsa terakhhir,
proses modernisasi yang berlangsung di Indonesia menunjukkan bahwa partisipasi
wanita di sektor publik tercatat mengalami penigkatan yang sangat menakjubkan,
sekaligus mencemaskan. Menakjubkan dalam arti bahwa sektor pendidikan telah
mampu meruntuhkan mitos-mitos tentang sosok wanita yang memiliki 1% akal dan
selebihnya adalah emosi dan perasaannya yang tidak memungkinkannya mencapai
derajat kemanusiaan sama dengan pria. Tingkat pendidikan yang tinggi telah mampu
memberikan kesadaran akan pentingnya aktualisasi diri, dan bekerja di luar rumah
merupakann salah satu alternatifnya. Partisipasi wanita masih bersifat kuantitatif yang
tidak selamanya berbasis pada kapasitas intelektualnya.15
Padahal peran ekonomi wanita tidak perlu diragukan lagi. Wanita
menyumbang di dalam ekonomi negara. Di dalam statistik resmi suatu Negara,
sumbangan ekonomi warga Negara di catat di dalam tabel pekerkjaan-pekerjaan yang
menghasilkan nilai ekonomi pasar, yaitu yang dapat di nilai dengan uang berupa
upah.

14
15

Ibnu Ahmad Dahri, Peran Ganda Wanita Modern, (Jakarta: al-Kausar, 1992). hlm. 24-26.

Siti Ruhaini Dzuhayati, Fiqh dan Permasalahan Kontemporer Rekonstruksi Fiqh


Perempuan(Yogyakarta: Teraju), hlm. 74.

78

Di luar angka statistik formal itu, sebetulnya wanita juga melakukan


pekerjaan-pekerjaan yang memberi sumbangan bernilai ekonomi secara tidak
langsung, yaitu pekerjaan-pekerjaan di lingkup domestik seperti pekerjaan-pekerjaan
yang berhubungan dengan pekerjaan rumah tangga: memasak, mengurus rumah,
mengurus anak, mengurus suami. Juga di dalam pekerjaan sebagai petani subsisten,
seperti pekerjaan mengurus kebun atau ladang yang hasilnya adalah untuk kebutuhan
rumah tangga sendiri, bukan untuk di jual ke pasar. Pekerjaan-pekerjaan seperti ini
tidak tercatat dalam statistik sebagai pekerjaan yang member nilai ekonomi, sehingga
pekerjaan-pekerjaan wanita seolah-olah tidak tercatat.
Tidak tercatatnya pekerjaan-pekerjaan domestik wanita dan pekerjaan
subsisten lain yang dikerjakan wanita menyebabkan peran wanita tidak terlihat di
dalam pembangunan suatu negara dan bahkan di dalam rumah tangga. Akibatnya,
pekerjaan wanita sering dianggap tidak bernilai atau kalah nilainya dengan pekerjaan
yang dilakukan pria.
Ada beberapa contoh yang menunjukkan bagaimana tidak tampaknya peran
ekonomi wanita. Data BPS (2002) dalam profil wanita Indonesia. Hasil survei sosial
ekonomi nasional 2002 menunjukkan, dilihat dari status pekerjaan pada penduduk
berumur 15 tahun ke atas yang bekerja sebagian besar wanita berstatus pekerja tidak
dibayar (36,1%) sementara pria dengan status sama hanya 7%16.

16

Nunik Mardiana Pambudy, Mengubah Perspektif Keliru Mengenai Peran Ekonomi


Perempuan Perempuan dan Hukum
Menuju hukum yang berspektif kesetaraan dan
keadilan,(Jakarta: Yayasan Obor Indonesia,2006), hlm. 543.

79

Laporan Indonesion Human Development Report 2004, The Economics of


Democracy, Financing Human Development in Indonesia, memperlihatkan
ketimpangan di dalam sumbangan ekonomi pasar (dinilai dengan uang). Di dalam
penilaian gender Development Index misalnya, proporsi pendapatan yang diperoleh
melalui kerja (Share of Earned Income) wanita hanya 28,9% dan sisanya oleh pria.
Ketimpangan lain yang diperlihatkan oleh laporan ini adalah dalam rata-rata upah
untuk pekerjaan di luar pertanian. Di setiap propinsi upah rata-rata yang diterima
wanita lebih rendah sekitar 30% dibandingkan dengan upah pria.17
Survei proyek bantuan teknis Asian Development Bank Technical Assistance
(ADB-TA) untuk pengembangan UKM tahun 2001 menyebutkan bahwa meskipun
data badan statistic tahun1998 menyebutkan terdapat 12% saja perusahaan yang
terdaftar atas nama wanita, tetapi sebenarnya angka itu terlalu kecil. Juta
berninghausen, melaporkan bahwa hasil sirvei ADB TA UKM terhadap 432 UKM di
Semarang dan Medan (85 UKM diantaranya secara resmi terdaftar sebagai milik pria)
menunjukkan ternyata wanita istri terlibat di dalam manajemen, administrasi, dan
pembuatan keputusan strategis pada 22% UKM yang dimiliki pria. Fakta ini
memperlihatkan bahwa sebetulnya peran ekonomi wanita lebih besar dibandingkan
dari yang tercatat secara resmi.18

17

Ibid., 544.

18

Ibid.

80

Contoh tentang tidak terlihatnya peran ekonomi wanita juga tamapak dari
tidak perlunya seorang wanita istri memiliki nomor pokok wajib pajak (NPWP)
sendiri, melainkan cukup mengikuti

NPWP suami. Di dalam daftar surat

pemberitahuan pajak terutang yang merupakan pelaporan penghasilan terkena pajak


sebuah rumah tangga, yang dicantumkan adalah nomor wajib pajak suami. Di dalam
surat pemberitahuan itu istri tidak perlu memiliki NPWP sendiri dan penghasilannya
akan dimasukkan sebagi tambahan penghasilan suami. Selain itu, di dalam pengisian
daftar penghasilan istri tidak pernah dihitung sebagai memiliki tanggungan anak
melainkan selalu dianggap lajang.19
Bangsa yang maju mengakui perlunya perbaikan kualitas, status, dan peran
wanita dalam pembangunan untuk meningkatkan keadilan sosial dan memenuhi hakhak asasi manusia yang setara antara pria dan wanita. Peningkatan kualitas wanita
menjadi dasar untuk menciptakan pembangunan berkelanjutan bagi suatu bangsa.
Analisis ekonomi ini memberikan bukti bahwa rendahnya pendidikan dan
ketrampilan wanita, derajat kesehatan dan gizi yang rendah, serta terbatasnya akses
terhadap sumber daya pembangunan akan membatasi produktivitas bangsa,
membatasi pertumbuhan ekonomi, dan mengurangi efisiensi pembangunan secara
keseluruhan. Dengan demikian upaya peningkatan kualitas wanita dilakukan dalam
rangka menciptakan keserasian hak-hak asasi dan keadilan social bagi wanita dan
pria, serta alas an efisiensi ekonomi dalam pembangunan berkelanjutan.

19

Ibid.,545.

81

Sementara pembangunan nasional yang didesain sebagai upaya peningkatan


kualitas manusia dan masyarakat Indonesia yang dilakukan secara berkelanjutan,
berlandaskan

kemampuan

nasional,

dengan

memanfaatkan

kemajuan

ilmu

pengetahuan dan teknologi serta memperhatikan tantangan perkembangan global.


Sejalan dengan kepedulian global tentang peningkatan pemberdayaan wanita
dalam pembangunan, kepedulian bangsa Indonesia diwujudkan dalam bentuk
komitmen pemerintah terhadap perjanjian antar Negara yang disetujui, juga
dilaksanakan di Indonesia yaitu:
1. Perjanjian tentang persamaan pemberdayaan upah atau gaji bagi wanita dan pria
untuk pekerjaan yang sama. Perjanjian ini dilakukan di Jenewa dan disetujui oleh
pemerintah Indonesia dengan UU Nomor 68 Tahun 1957.
2. Perjanjian tentang hak politik untuk wanita. Perjanjian ini dilakukan di New York
dan disetujui oleh pemerintah Indonesia dengan UU Nomor 68 Tahun 1958.
3. Perjanjian tentang penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap wanita
perjanjian ini disetujui oleh pemerintah Indonesia dengan UU No 7 tahun 1984.
4. Pendatanganan Protokol penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap wanita
pada Februari 2000.20
Keterlibatan wanita Indonesia dalam kehidupan perjuangan bangsa Indonesia
dapat diselurusi dari masa kerajaan Hindu, masa kolonialisme, masa pemjajahan

20

Khofifah Indra Parawansa, Mengukur Pardigama Menembus Tradisi Pemikiran tentang


Keserasian Gender,(Jakarta: LP3ES,2006), hlm. 14.

82

jepang dan masa kemerdekaan. Uraian ringkas keterlibatan wanita dalam kehidupan
bangsa menurut kurun waktu tersebut sebagai berikut:
1. Sejak zaman kerajaan Hindu, bangsa Indonesia telah mengenal dan memiliki
wanita-wanita penguasa (pemimpin) wanita seperti Dewi Suhita dan Tribhuwana
Tunggadewi.
2. Pada masa kolonialisme banyak wanita yang berjuang melawan dan menentang
kekuasaan penjajahan dari belanda seperti Cut Nyak Dien dalam peperangan di
Aceh pada tahun 1873-1904, Martha Cristina Tiahahu dalam peperangan di
Maluku pada tahun 1817-1819, Nyi Ageng Serang dalam peperangan Diponegoro
pada 1925-1830, dan Cut Meutia dalam peperngan di Aceh pada tahun 1905-1910.
Selain kontribusi fisik, tokoh-tokoh wanita yang mengkontribusikan tenaga dan
pikirannya untuk meningkatkan harkat dan martabat kaum wanita melalui kegiatan
pendidikan dan kegiatan sosial pada masa kolonial tersebut di antaranya ialah
Maria Wolanda Maramis pada tahun 1827-1924,Dewi Sartika pada tahun 1884Nyi Achmad Dahlan pada tahun 1912-1945, dan Rasuna Said pada tahun 19101965.
3. Pada masa penjajahan Jepang, melalui departemen wanita dan kebaktian rakyat
jawa Madura (fujinkai), banyak wanita Indonesia yang berperan serta secara aktif
dalam mengembangkan sikap cinta tanah air dan bangsa, mengembangkan
kebiasaan hidup sederhana dan menguasai berbagai ketrampilan untuk
memperoleh kehidupan ekonomi

seperti pengolahan lahan pekarangan untuk

ditanami tanaman-tanaman yang bergizi.

83

4. Pada masa revolusi fisik banyak pejuang wanita yang berjuang bahu-membahu
dengan pria di dalam melawan penjajahan, baik dalam bentuk keterlibatan fisik di
garis belakang, seperti aktif mengurus dapur umum atau menolong pejuang
(korban perang kemerdekaan) yang sakit dan luka-luka di barak-barak palang
merah.21
Periode gerakan wanita Islam Indonesia susah dipetakan antara lain dibagi menjadi
tujuh:
1. Angkatan Srikandi
Pada periode ini gerakan perempuan difokuskan pada perlawanan terhadap
penjajahan Belanda. Seluruh potensi bangsa Indonesia pada waktu itu tersita untuk
memperjuangkan bangsa agar terbebas dari penindasan kaum penjajah.Isu-isu tentang
perempuan ketika itu belum menjadi prioritas.Tokoh gerakan perempuan pada
periode in adalah semua pahlawan wanita Indonesia yang secara fisik turut berjuang
di Medan pertempuran melawan Belanda, diantaranya:
a. Nyai Ageng Serang (1752-1828).
b. Cut Nya' Dien (1850-1908)
c. Cut Mutia (1870-1910)
2. Angkatan Kartini (feminis sosial gelombang pertama)
Masa angkatan Kartini merupakan awal dari perjuangan perempuan yang telah
dipengaruhi oleh gerakan perempuan di Barat. Ide-ide emansipasi wanita yang
diperjuangkan perempuan di Eropah dengan model feminisme liberal yang
21

Ibid., hlm.15.

84

menekankan pada akses dan partisipasi perempuan yang sama dengan laki-lak idi
wilayah publik, peran produktif dan isu-isu perempuan tentang pendidikan,
perlindungan hukum, dan budaya. Tokoh perempuan muslimah pada angkatan ini
adalah:
a. RA.Kartini
b. Dewi Sartika
3. Angkatan Perintis Kemerdekaan (1945-1949)
Titik balik perjuangan perempuan terjadi pada tahun 1928, ketika
diselenggarakannya Konggres Perempuan pertama di Yogyakarta. Setelah Sukarno
menjadi pesiden, ia menegaskan bahwa masalah krusial bangsa ini adalah perjuangan
kemerdekaan melawan penindasan Belanda. Pergerakan perempuan pada angkatan ini
berkonsentrasi pada perjuangan kemerdekaan RI melalui organisasi-organisasi dan
kelompok-kelompok perempuan. Pergerakan perempuan telah terorganisir dalam
sebuah wadah, baik yang menjadi bagian dari organisasi yang dominan laki-laki
maupun secara individu masuk dalam organisasi atau lembaga di mana menjadi
bagian dari pengambil keputusan. Tokoh wanita muslimah pada angkatan ini antara
lain:
1. Nyai Ahmad Dahlan (187231Mei1946).
2.Haj Rasuna Said (14September1910-2Oktober1965).
3.Rahmah El Yunusiyah (10 Juli 1901 26 Februari 1969).

85

1. Angkatan Prokalamasi /Penegak Kemerdekaan (1945-1949)


Pada periode keempat ini gerakan perempuan dilakukan secara mandiri
maupun kelompok. Isu yang diusung masih diseputar bagaimana perempuan
menghadapi awal kemerdekaan, di mana secara umum bangsa Indinesia sedang
dihadapkan pada mempertahankan kemerdekaan yang baru diraih dengan segala
daya.Sebagaimana periode sebelumnya bahwa konsentrasi gerakan perempuan belum
menyentuh substansi yang diperlukan spesifikisi perempuan. Presiden Sukarno lebih
menekankan bahwa problem perempuan akan berhasil jika kemerdekaan ini telah
dicapai. Sejumlah tokoh perempuan berbasis pesantren (ibu nyai) aktif mengasuh
santri putri, namun kurang dikenal kiprahnya, karena penulis lebih tertarik pada tokoh
laki-laki.
2. Angkatan Konsilidasi Kemerdekaan (1950-1965)
Sebagaimana angkatan sebelumnya, angkatan ini gerakan perempuan
nasionalis semakin maju, sejumlah tokoh perempuan aktif sebagai tenaga profesional
yang bekerja pada ranah publik dan juga sebagai pengambil keputusan. Kelompokkelompok perempuan mendirikan organisasi baik berbasis profesi, politik, sosial,
maupun daerah yang

tumbuh sangat banyak.Pergerakan perempuan Islam telah

terwadahi dalam organisasi wanita,seperti Aisyiyah,Wanita Islam, Muslimat NU dan


gerakan perempuan berbasis pesantren, namun akses dan peran sosial tertentu masih
terbatas.

86

3. Angkatan Pembangunan Orde Baru


Women in Development (WID) yang diperkenalkan oleh Pusat Studi dan
LSM perempuan tahun 70an dan diimplementasikan tahun 80an, turut mempengaruhi
corak gerakan perempuan Islam di Indonesia. WID merupakan pendekatan
pembangunan

dengan

mengintegrasikan

perempuan

dalam

sebuah

sistem

pembangunan nasional yang ditandai dengan prinsip effisiensi, dan mengatasi


ketertinggalan perempuan dalam pembangunan. Salah satu strategi WID adalah
memberikan akses pada perempuan untuk berpartisipasi dalam pembangunan di
bidang-bidang yangmasih beraroma stereotype gender tanpa diikuti penyadaran bagi
laki-laki, melahirkan peran ganda perempuan yang berdampak pada beban berlipat
bagi perempuan. Perempuan lebih banyak mendukung keberhasilan pembangunan,
tetapi bukan sebagai penikmat hasil pembangunan.
Organisasi wanita yang lahir pada era ini merupakan organisasi subordinat
laki-laki, sehingga kurang memiliki kemandirian dalam mengelola organisasi.
Pergerakan perempuan Islam berbasis organisasi keagamaan tidak lepas pula dari
pendekatan WID ini. Keberadaan Aisyiyah Muslimat NU, Al-Hidayah dan organisasi
perempuan berbasis pesantren yang telah eksis sejak angkatan sebelum ini,
merupakan

underbow

dari

organisasi

induknya

di

mana

laki-laki

mendominasi posisi dan peran tanggung jawab dalam organisasi induk sehingga
intervensi laki-laki atas keputusan penting masih sangat besar.

87

4. Gerakan wanita Islam Era Reformasi


WID belum cukup efektif menjadi sebuah pendekatan pembangunan.
kemudian

adanya

pembahsan

GAD

(gender

and

development)

untuk

mengimplementasikan diperlukan strategi melalui jalur kebijakan yang mempunyai


kekuatan dalam mengintegrasikan kesetaraan dan keadilan gender ke dalam
pembangunan yang dikenal dengan strategi gender mainstreaming (pengarustamaan
gender).22
Semua bentuk keterlibatan dan pelibatan wanita Indonesia di dalam
keseluruhan kehidupan perjuangan bangsa dan negara merupakan petunjuk bahwa
kaum wanita di Indonesia pada dasarnya sejak dulu sudah merupakan bagian dan
pembangunan nasional tidak dapat dipisahkan dari keberadaan wanita sebagai asset
pembangunan dan eksistensinya sebagi manusia yang memiliki keluhuran harkat dan
martabat seperti halnya pria.
Husein Muhammad memandang wanita sudah memperlihatkan kapabilitas
dan prestasinya dalam banyak bidang. Terbukanya ruang publik bagi wanita akan
memberikan sumbangan yang berharga bagi kemajuan masyarakat. Produktifitas
mereka tidak kalah dengan laki-laki, bahkan untuk sebagian justru lebih baik. apalagi
jika semakin banyak wanita berkarir untuk ilmu pengetahuan, ekonomi dan politik.

22

Gender http://www.wahidinstitute.org/indonesia/content/view/651/52/1/2/, akses tanggal 4


februari 2009.

88

Semakin banyak wanita yang sukses dalam karir ini, masyarakat dan negara akan
semakin maju.23
Wanita

memang

harus

mandiri,

tidak

tergantung

pada

laki-laki.

Ketergantungan sering menciptakan perendahan dan kekerasan. Hal yang harus


menjadi basis relasi adalah relasi yang saling menghormati antara laki-laki dan wanita
dan menghormati dirinya sendiri. Jika ini yang menjadi basis, maka pelecehan dan
kekerasan akan bisa dihindari.24
Reposisi peran dan fungsi wanita sebagai substansi pembangunan menuju
Baldatun Thoyyibatun wa Rabbun Ghafur, mengingat perkembangan kemajuan dan
perubahan yang sangat cepat dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara baik terjadi di tingkat nasional dan internasional. Wanita
dalam strutktur demografi Indonesia menempati proporsi jumlah yang cukup besar
bahkan melebihi kaum pria. Dengan jumlah yang besar tersebut, idealnya wanita
lebih berposisi sebagai kelompok penentu dalam pengambilan keputusan. Namun
demikian, hal tersebut saat ini belum dapat terwujud karena masih adanya persepsi
yang kurang mendukung. Persepsi sebagian besar masyarakat terhadap peran wanita
yang masih terbatas peran tradisional menjadi posisi dan peran wanita Indonesia
ditingkatan marginal. Pembangunan peran wanita telah dilaksanakan lebih dari 21
tahun dan sudah banyak hasil yang dicapai misalnya peningkatan ragam peran yang

23

Hasil Wawancara dengan Husein Muhammad di Cirebon 16 April 2009.

24

Hasil Wawancara dengan Husein Muhammad di Cirebon 16 April 2009.

89

dimainkan wanita. Upaya mereposisi peran dan fungsi wanita pada era millinium
ketiga sangatlah tepat untuk lebih memacu perwujudan cita-cita kesetaraan gender
dalam kehidupan keluarga, masyarakat, berbangsa dan bernegara.
Penduduk wanita Indonesia, mempunyai posisi yang strategis mengingat
mayoritas penduduk Indonesia adalah wanita. Di dalam Islam, antara pria dan wanita
mempunyai tugas dan kewajiban yang sama. Selain keduanya dibebani tugas-tugas
ibadah dan mentaati hukum-hukum agama tanpa ada perbedaan, keduanya baik pria
dan wanita dibebani kewajiban mengakkan Amr Maruf Nahy Munkar.
Secara sosiologi, manusia merupakan makhluk bermasyarakat. Untuk itu, pria
dan wanita keduanya merupakan makhluk masyarakat untuk membangun negeri yang
damai dan diampuni Allah. Kewajiban sosial yang diwajibkan bagi pria maupun
wanita adalah memelihara kemanusiaan. Seluruh tanggung jawab sosial pria dan
wanita adalah merupakan manifestasi sebagi pembawa amanah Allah SWT. Oleh
karenanya tanggung jawab sosial tidak boleh hanya terpusat pada kaum pria saja
namun kaum wanita juga memepunyai tanggung jawab sosial yang seimbang.
Dengan kesetaraan tugas dan kewajiban yang diperankan tersebut maka dalam
menghadapi tantangan global wanita Indonesia harus memerankan peran domestik
dan publik yang seimbang.